cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING, BUILDING AND TRANSPORTATION
Published by Universitas Medan Area
ISSN : 25496379     EISSN : 25496387     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal JCEBT Program Studi Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap 6 bulan, yaitu Maret dan September. Jurnal JCEBT Program Studi Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 2017 dengan membawa misi sebagai salah satu pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal JCEBT diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 244 Documents
Penerapan Prosedur Darurat di KMP Sangke Palangga dalam Menghadapi Cuaca Buruk Rachmat Tjahjanto; Muhammad Ivan; Sulastriani; Rina Haryani; Musdalifah Ibrahim; Muh. Rifqy Rahman
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 10 No. 1 (2026): JCEBT MARET
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v10i1.16246

Abstract

Transportasi laut memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas dan distribusi di wilayah kepulauan, namun rentan terhadap risiko keselamatan akibat kondisi cuaca ekstrem. Oleh karena itu, penerapan prosedur tanggap darurat menjadi aspek krusial dalam menjamin keselamatan pelayaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan prosedur tanggap darurat pada KMP Sangke Palangga dalam menghadapi cuaca ekstrem. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola dan faktor yang memengaruhi pelaksanaan prosedur darurat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prosedur darurat masih terbatas pada tindakan teknis dasar dan bergantung pada inisiatif individu awak kapal, tanpa didukung oleh Prosedur Operasi Standar (SOP) yang tertulis dan terdokumentasi secara khusus untuk kondisi cuaca ekstrem. Pelatihan darurat memang dilakukan secara rutin, namun belum disertai evaluasi sistematis atau tinjauan pascakejadian. Selain itu, kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan komunikasi radio, yang berpotensi menghambat koordinasi saat kondisi darurat. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesiapsiagaan darurat KMP Sangke Palangga masih belum optimal dalam menghadapi kompleksitas cuaca ekstrem. Oleh karena itu, direkomendasikan penyusunan SOP yang komprehensif, penerapan mekanisme evaluasi yang terstruktur, serta peningkatan sistem komunikasi untuk mendukung respons darurat yang lebih efektif, konsisten, dan terkoordinasi.
Identifikasi Limbah Pembongkaran (Demolition waste) pada Proyek Konstruksi di Kota Ambon Dian Ayu Sabila; Felix Taihuttu; S Fauzan A Sangadji
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 10 No. 1 (2026): JCEBT MARET
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v10i1.16578

Abstract

Pertumbuhan pembangunan konstruksi yang pesat berdampak pada meningkatnya volume limbah pembongkaran (Demolition waste), khususnya limbah beton yang belum dimanfaatkan secara optimal di Kota Ambon. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis limbah pembongkaran yang dominan serta menentukan strategi pengelolaannya berdasarkan persepsi pemangku kepentingan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui penyebaran kuesioner dua tahap dan wawancara kepada kontraktor, konsultan, dan instansi pemerintah. Tahap pertama bertujuan mengidentifikasi jenis limbah dominan, sedangkan tahap kedua digunakan untuk menilai dan memeringkat alternatif pengelolaan limbah beton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah beton merupakan jenis limbah paling dominan dengan persentase tertinggi (100%) yang berasal dari pembongkaran struktur bangunan. Strategi pengelolaan yang paling banyak dipilih adalah Reuse, seperti pemanfaatan sebagai material timbunan, batu pijakan, Gabion, dan pelindung pantai, karena lebih praktis dan ekonomis dibandingkan Recycle. Namun, implementasi pengelolaan limbah masih menghadapi kendala berupa kondisi geografis, akses lokasi, dan keterbatasan peralatan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kebijakan pengelolaan limbah konstruksi berbasis Reuse serta peningkatan fasilitas pengolahan limbah untuk mendukung praktik Recycle. Implikasinya, pengelolaan limbah yang tepat dapat meningkatkan efisiensi material, mengurangi dampak lingkungan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah pesisir seperti Kota Ambon.
Analisis Sambungan Kolom–Balok Terprakualifikasi pada Struktur Baja Berbasis BIM (Studi Kasus Gedung Fakultas Teknik Universitas Pamulang) Khoirul Soleh; Budiono; Wiratna Tri Nugraha
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 10 No. 1 (2026): JCEBT MARET
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v10i1.17011

Abstract

Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan gempa yang tinggi sehingga perencanaan struktur baja memerlukan sambungan kolom–balok yang memenuhi kriteria ketahanan seismik. Pada Gedung Fakultas Teknik Universitas Pamulang digunakan sambungan Haunch Bolted Extended End-Plate (HBEEP) yang belum termasuk dalam kategori sambungan terprakualifikasi menurut SNI 7972-2020. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja sambungan HBEEP terhadap persyaratan prakualifikasi berdasarkan SNI 7860-2020. Metode penelitian meliputi analisis struktur, pengecekan konsep Strong Column Weak Beam (SCWB), serta pengujian numerik menggunakan ABAQUS dengan pembebanan siklik. Selain itu, dilakukan pemodelan berbasis Building Information Modeling (BIM) menggunakan Autodesk Revit untuk visualisasi sambungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas momen maksimum pada kedua spesimen melebihi 0,8Mp, sehingga memenuhi persyaratan kekuatan. Namun, kapasitas rotasi yang dihasilkan belum mencapai 0,04 rad, sehingga belum memenuhi kriteria deformasi yang disyaratkan. Hal ini menunjukkan bahwa sambungan HBEEP memiliki kinerja yang baik dari segi kekuatan, tetapi terbatas dalam daktilitas. Dengan demikian, sambungan ini belum sepenuhnya memenuhi kriteria sebagai sambungan terprakualifikasi. Direkomendasikan dilakukan modifikasi desain atau optimasi dimensi sambungan untuk meningkatkan kapasitas rotasi agar memenuhi persyaratan seismik secara menyeluruh.
Evaluasi Implementasi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) pada Bangunan Gedung Milik Daerah di Kabupaten Karawang Asep Supriatna; Tsalsa Khadidza Lael
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 10 No. 1 (2026): JCEBT MARET
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v10i1.17423

Abstract

Bangunan gedung milik daerah wajib memenuhi aspek legalitas melalui Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sebagai bagian dari tertib penyelenggaraan bangunan gedung. Namun, implementasi kedua regulasi tersebut di daerah masih menghadapi berbagai kendala, baik dari sisi kelembagaan maupun teknis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan PBG dan SLF pada bangunan gedung milik daerah di Kabupaten Karawang serta mengidentifikasi faktor penghambatnya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui kuesioner kepada 40 responden, dilengkapi data sekunder dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman dan sosialisasi internal masih belum optimal, sementara monitoring dan evaluasi belum berjalan efektif dan belum terstruktur. Selain itu, koordinasi antar instansi serta keterbatasan dukungan anggaran menjadi kendala utama dalam proses pengurusan perizinan. Secara umum, implementasi PBG dan SLF belum terlaksana secara maksimal pada bangunan milik daerah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan sosialisasi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan sistem monitoring dan evaluasi yang terintegrasi, serta koordinasi lintas instansi yang lebih efektif. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya perbaikan tata kelola perizinan bangunan gedung guna mendukung tertib administrasi, kepatuhan regulasi, dan keberlanjutan pembangunan daerah.
Evaluasi Kualitas dan Optimasi Standar Pelayanan Minimum Angkutan Kota Trayek Bitung–Manado untuk Mendukung Transportasi Berkelanjutan Adi Saputra; Ulul Hidayah
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 10 No. 1 (2026): JCEBT MARET
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v10i1.17485

Abstract

Penurunan jumlah penumpang Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) trayek Bitung–Manado pada 2022–2023, yakni 9.591 penumpang kedatangan dan 9.972 penumpang keberangkatan, menunjukkan masalah mendasar dalam kualitas pelayanan angkutan umum. Penelitian ini, dilakukan Januari–Maret 2026 di Terminal Tipe A Tangkoko, Kota Bitung, bertujuan menilai kualitas pelayanan berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Permenhub No. 98 Tahun 2013 dan merumuskan strategi optimalisasi layanan. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner 30 penumpang acak dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta Importance-Performance Analysis (IPA). Dari 50 atribut pelayanan, 8 masuk Kuadran A (prioritas perbaikan) seperti alat pemecah kaca, APAR, fasilitas P3K, pintu darurat, pintu penumpang/pengemudi, speedometer, dan persyaratan laik jalan; 25 atribut di Kuadran B (dipertahankan), 14 di Kuadran C (prioritas rendah), dan 3 di Kuadran D (berlebihan). Rata-rata kepentingan (4,4) melebihi rata-rata kinerja (3,7), menandakan kesenjangan pelayanan. Layanan AKDP trayek Bitung–Manado cukup baik, namun optimalisasi diperlukan, khususnya atribut keselamatan di Kuadran A. Operator bus perlu melengkapi kendaraan dengan perlengkapan keselamatan, dan pengelola terminal memperkuat inspeksi laik jalan. Kuadran B dipertahankan, Kuadran C ditingkatkan bertahap, dan Kuadran D dievaluasi efisiensinya. Hasil penelitian memberikan acuan bagi Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Utara dalam merumuskan kebijakan transportasi berkelanjutan dan meningkatkan daya saing angkutan umum.
Evaluasi Kinerja Operasional Transportasi Sungai di Pelabuhan Sungai Putussibau pada Kabupaten Kapuas Hulu Wisnu Handoko; Fany Rahmasari; Ade Irfan Efendi; M. Adil Wanadi
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 10 No. 1 (2026): JCEBT MARET
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v10i1.17621

Abstract

Transportasi sungai merupakan moda utama di Kabupaten Kapuas Hulu, khususnya pada wilayah pesisir Sungai Kapuas yang memiliki keterbatasan infrastruktur darat. Pelabuhan Sungai Putussibau sebagai simpul transportasi utama masih menghadapi berbagai permasalahan operasional, seperti rendahnya kinerja layanan, ketidakterpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM), serta belum adanya pengaturan tarif dan penjadwalan yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja operasional transportasi sungai dan merumuskan rekomendasi peningkatan layanan. Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran (kuantitatif dan kualitatif) dengan analisis kinerja operasional, SPM menggunakan Importance Performance Analysis (IPA), analisis biaya operasional kapal (BOK), Ability to Pay (ATP), Willingness to Pay (WTP), serta analisis penjadwalan kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja operasional belum efisien dengan load factor di bawah 70% dan utilitas armada rendah. Tingkat kesesuaian SPM prasarana sebesar 57,6% dan sarana sebesar 15%, dengan prioritas perbaikan pada fasilitas keselamatan, kesehatan, aksesibilitas, dan kenyamanan. Tarif berdasarkan BOK sebesar Rp97.790, ATP Rp72.512, dan WTP Rp100.031, sehingga diusulkan tarif ideal Rp108.000 per penumpang. Analisis penjadwalan menunjukkan kebutuhan 6 trip per hari dengan 3 kapal untuk optimalisasi layanan. Disimpulkan bahwa peningkatan kinerja memerlukan perbaikan fasilitas, penetapan tarif yang adil, dan sistem penjadwalan yang terstruktur. Rekomendasi meliputi peningkatan prasarana dan sarana, penetapan tarif berbasis BOK-ATP-WTP dengan skema subsidi, serta penguatan pengawasan dan evaluasi berkala oleh pemerintah daerah.
Analisis Komparatif Gaya Batang dan Reaksi Tumpuan pada Rangka Batang Sederhana Menggunakan Metode Matriks Kekakuan dan Aplikasi Android SW Truss Santa Fidelia Br Ginting; Fredy Kurniawan
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 9 No. 2 (2025): JCEBT SEPTEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v9i2.17626

Abstract

Analisis struktur rangka batang mengalami perkembangan pesat seiring penggunaan metode komputasi berbasis Finite Element Method (FEM). Namun, pemanfaatan aplikasi berbasis Android seperti SW Truss memerlukan validasi terhadap metode teoritis untuk memastikan keakuratan hasil. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan gaya batang dan reaksi tumpuan pada struktur rangka batang sederhana menggunakan metode matriks kekakuan dan aplikasi SW Truss. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif komparatif dengan pemodelan struktur yang sama pada kedua pendekatan, meliputi geometri, material, kondisi batas, dan pembebanan. Analisis manual dilakukan menggunakan metode matriks kekakuan, sedangkan analisis numerik dilakukan melalui aplikasi SW Truss. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada batang 1–3 dan 2–3, kedua metode menghasilkan nilai gaya aksial yang sangat mendekati dengan selisih sekitar 0,004 kN (0,07%), dengan perbedaan hanya pada konvensi tanda tarik dan tekan. Namun demikian, pada batang 1–2 terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara hasil manual (6,670 kN) dan SW Truss (3,333 kN) yang diduga disebabkan oleh perbedaan orientasi elemen, asumsi pemodelan, atau algoritma numerik aplikasi. Sementara itu, reaksi tumpuan menunjukkan hasil yang identik sebesar 5,0 kN pada kedua metode yang menandakan keseimbangan global struktur telah terpenuhi. Secara keseluruhan, aplikasi SW Truss terbukti cukup andal untuk analisis rangka batang sederhana, terutama dalam menentukan reaksi tumpuan dan gaya utama batang. Kesimpulannya, aplikasi berbasis mobile dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran dan analisis, namun tetap diperlukan pemahaman teori yang kuat serta ketelitian dalam pemodelan. Disarankan agar pengguna melakukan validasi hasil dengan metode konvensional untuk menghindari kesalahan interpretasi, khususnya pada analisis struktur yang lebih kompleks.
Studi Komparatif Rumus Empiris Penentuan Kedalaman Erosi Terhadap Pengaruh Geometri dan Hidraulika pada Tikungan Sungai Surya Budi Lesmana; Ferriawan Yudhanto; Taufiq Ilham Maulana
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 9 No. 2 (2025): JCEBT SEPTEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v9i2.17631

Abstract

Kestabilan morfologi pada tikungan sungai sangat bergantung pada interaksi kompleks antara hidrolika, geometri, geoteknik, dan faktor ekologis. Meskipun pemodelan komputasi terus berkembang pesat, pendekatan empiris tetap dibutuhkan untuk asesmen awal (preliminary assessment) yang cepat tanpa memerlukan sumber daya komputasi yang besar. Namun, terdapat celah krusial dalam mengevaluasi seberapa akurat berbagai rumus empiris klasik ketika diterapkan pada morfologi sungai alami yang beragam. Ketidakpastian mengenai rumus empiris mana yang paling relevan untuk berbagai kondisi sungai masih menjadi masalah utama dalam desain teknik sungai. Penelitian ini menggunakan metode studi komparatif secara komputasional dengan menguji 9 rumus empiris dari kategori Teori Rezim dan Hidrolika Tikungan terhadap tiga spesimen sungai berskala berbeda: Sungai Citarum (urban), Brantas (sub-urban), dan Bernam (rural). Hasil analisis menunjukkan bahwa rumus Teori Rezim (seperti Blench dan Inglis) cenderung memberikan prediksi kedalaman gerusan yang overestimate (sangat berlebihan) karena awalnya didesain untuk saluran irigasi buatan yang aman. Sebaliknya, rumus Hidrolika Tikungan (seperti Thorne) terbukti jauh lebih sensitif terhadap rasio kelengkungan geometri dan kedalaman awal, sehingga menghasilkan proyeksi yang lebih proporsional untuk sungai alami. Pemilihan rumus empiris yang tepat sangat vital sebagai referensi awal sebelum pemodelan komputasi yang mendalam.
Optimalisasi Kinerja Simpang Bersinyal Berdasarkan PKJI 2023 pada Simpang Empat Patung Pangeran Diponegoro Semarang Siti Khadijah Koto; Rahmad Arzaharah Arsyad Anzal; Aan Sunandar; Veronica
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 9 No. 2 (2025): JCEBT SEPTEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v9i2.17633

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permasalahan lalu lintas di kawasan perkotaan, khususnya pada persimpangan yang memiliki peran penting dalam kelancaran arus kendaraan. Simpang Empat Patung Pangeran Diponegoro di Kota Semarang merupakan salah satu simpang bersinyal yang mengalami penurunan kinerja akibat tingginya volume lalu lintas dan pengaturan sinyal yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja simpang berdasarkan parameter derajat kejenuhan, panjang antrian, tundaan, serta mengkaji konflik lalu lintas dan merumuskan alternatif penanganan yang optimal. Metode yang digunakan adalah pendekatan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI 2023) dengan analisis data hasil survei lapangan berupa volume lalu lintas, geometrik simpang, dan pengaturan sinyal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting memiliki derajat kejenuhan tinggi (DJ > 1 pada pendekat timur), tundaan sebesar 41,13 detik/smp (LOS E), serta panjang antrian yang besar. Selain itu, ditemukan konflik lalu lintas berpotongan yang meningkatkan risiko kecelakaan. Skenario optimalisasi menunjukkan bahwa pengaturan waktu siklus 90 detik memberikan hasil terbaik dengan tundaan 37,96 detik/smp (LOS D). Penerapan sistem satu arah pada pendekat barat juga efektif dalam mengurangi konflik. Disimpulkan bahwa kombinasi optimasi sinyal dan rekayasa lalu lintas merupakan solusi terbaik. Direkomendasikan penerapan waktu siklus optimal dan sistem one way untuk meningkatkan kinerja dan keselamatan simpang.
Analisis Daya Dukung Aksial Pondasi Bore Pile Tunggal Menggunakan Metode Analitis dan Metode Elemen Hingga terhadap Nilai Uji PDA Rudianto Surbakti; Nurhaliza; Muhammad Mabrur
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 9 No. 2 (2025): JCEBT SEPTEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v9i2.15941

Abstract

Pondasi merupakan elemen struktur bawah yang berfungsi menyalurkan beban bangunan ke lapisan tanah pendukung. Pada kondisi tanah berlapis, ketidakseragaman sifat tanah dapat memengaruhi kapasitas daya dukung dan kinerja pondasi bore pile. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan analisis yang mampu merepresentasikan kondisi lapangan secara lebih akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung aksial pondasi bore pile tunggal menggunakan metode analitis Meyerhof dan Reese & O’Neill serta metode elemen hingga (FEM) dengan Plaxis 2D, kemudian membandingkannya dengan hasil uji lapangan Pile Driving Analyzer (PDA). Metode penelitian meliputi analisis data SPT, parameter tanah laboratorium, pemodelan numerik FEM, serta perhitungan daya dukung secara analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung ultimit metode Meyerhof sebesar 2.675,04 kN, metode Reese & O’Neill sebesar 1.536,62 kN, dan metode FEM sebesar 1.858,50 kN, sedangkan hasil PDA test sebesar 1.864,60 kN. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode elemen hingga memberikan nilai yang paling mendekati kondisi aktual lapangan dengan selisih yang sangat kecil. Kesimpulannya, metode FEM lebih representatif dalam memodelkan perilaku interaksi tanah–pondasi pada kondisi tanah berlapis dibandingkan metode analitis konvensional. Rekomendasi penelitian ini adalah penggunaan metode elemen hingga sebagai alternatif dalam desain pondasi dalam dengan dukungan data tanah yang lengkap. Implikasinya, pendekatan FEM dapat meningkatkan akurasi perencanaan pondasi serta mengurangi ketidakpastian desain pada proyek konstruksi geoteknik.