cover
Contact Name
Hijrah Fahrian
Contact Email
penelitian.poltekkes@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
peneleitian.poltekkes@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL CITRA KEPERAWATAN
ISSN : 23016035     EISSN : 25023454     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 222 Documents
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KONSUMSI MINUMAN BERALKOHOL PADA REMAJA DI KELURAHAN LANDASAN ULIN TIMUR ramadhan, m.hayy; syarniah, syarniah; mahdalena, mahdalena
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.556 KB)

Abstract

Stres bisa memicu remaja untuk melakukan tindakan-tindakan mengonsumsi minuman beralkohol. Saat stres tubuh  bereaksi terhadap stres dengan melepaskan hormon kortisol, karena alkohol merupakan depresan sistem saraf pusat, dengan meminum alkohol remaja dapat merasakan sedasi-eufopori dan menghilangkan stres secara sesaat yang dialami remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan konsumsi minuman beralkohol pada remaja. Desain penelitian ini kuantitatif, dengan jenis penelitian correlative study. Populasi penelitian ini adalah remaja laki-laki yang tinggal di Kelurahan Landasan Ulin. Teknik sampling menggunakan simple random sampling. Jumlah 92 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data  menggunakan uji Kendall’s tau. Hasil penelitian ditemukan tingkat stres pada remaja di Kelurahan Landasan Ulin Timur paling banyak adalah stres berat berjumlah 30 responden (32,6%) bahkan ada stres sangat berat berjumlah 6 responden (6,5%), dan konsumsi minuman beralkohol pada remaja yang paling banyak adalah konsumsi minuman beralkohol dengan kategori peminum sedang sebanyak 20 responden (21,7%) bahkan ada ditemukan konsumsi minuman beralkohol dengan kategori peminum berat sebanyak 13 responden (14,1%). Ada hubungan yang sangat kuat antara tingkat stres dengan konsumsi minuman beralkohol pada remaja di Kelurahan Landasan Ulin Timur. P= 0,000; α
LOYALITAS PERAWAT DITINJAU DARI SEGI BUDAYA ORGANISASI DAN KEPUASAN KERJA Wilotono, Nasrullah
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 2, No 1 (2014): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.937 KB)

Abstract

Perawat merupakan salah satu provider dalam sebuah Rumah Sakit, disamping provider lain seperti dokter,  analis kesehatan, ahli gizi dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan  tenaga provider tersebut,  pihak manajemen Rumah Sakit harus membuat perencanaan sumber daya manusia (Human Resource Planning). Hal ini sejalan dengan pendapat Sabarguna (2003) yang menyatakan bahwa pelayanan Rumah Sakit memerlukan sumber daya manusia yang handal, karena proses pelayanan dan keberhasilan pelayanan terhadap pasien berada ditangan mereka.  Kurangnya jumlah perawat akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas, efesiensi, efektivitas dan kompetensi pelayanan asuhan keperawatan serta komitmen perawat terhadap organisasi tempat mereka bekerja (Al-Smadi, 2007)Rumah Sakit sejatinya adalah sebuah organisasi, yang mana setiap organisasi sangat  membutuhkan anggota atau karyawan yang memiliki loyalitas tinggi.  Loyalitas akan membentuk kesadaran untuk mengabdikan diri kepada organisasi (RS/Perusahaan/Institusi)  yang akan selalu menyokong peran serta karyawan dalam organisasi tersebut. Flippo (1996) menyatakan bahwa loyalitas kerja merupakan tekad  dan kesanggupan untuk mentaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara loyalitas dengan kinerja anggota/karyawan/perawat sehingga berdampak pada terbentuknya komitmen dan kesetiaan  anggota terhadap organisasinya Salah satu faktor yang berperan dalam terbentuknya loyalitas terhadap organisasi adalah budaya organisasi. Robbins (2008) menyatakan bahwa  pola perilaku anggota organisasi dapat dipengaruhi oleh budaya perusahan. Ketika seorang karyawan bekerja pada sebuah perusahaan atau organisasi yang mempunyai  budaya organisasi yang kuat, maka karyawan tersebut akan berusaha untuk menanamkan pada dirinya dan  memegang teguh  nilai-nilai atau falsafah yang berlaku pada organisasi tersebut.  Selanjutnya budaya organisasi yang kuat ini akan membentuk kohesivitas, loyalitas dan komitmen terhadap organisasi.Selain budaya organisasi,  faktor lain yang berperan dalam terbentuknya loyaklitas adalah kepuasan kerja. Kepuasan kerja akan berdampak pada beberapa faktor seperti produktivitas dan absensi serta keluarnya anggota organisasi (Azhar, 2001). Robbins (2008) menyebutkan beberapa respon yang dapat muncul akibat ketidakpuasan seperti Exit (keluar), Voice (menyuarakan), Neglect (mengabaikan) dan Loyalty (setia).  Loyaltydisini maksudnya adalah bahwa muncul suatu ungkapan dan atau perilaku yang dilakukan untuk menunggu sampai kondisi berangsur-angsur menjadi lebih baik.Berbagai persoalan  yang berhubungan dengan loyalitas antara lain adalah keluarnya anggota dari organisasi, kurangnya ketaatan terhadap perintah atasan dan  tidak mengamalkan falsafah atau nilai-nilai yang dianut serta kinerja yang lemah. Persoalan ini dapat juga terjadi pada sebuah Rumah Sakit, dimana ada anggotanya atau karyawannya (sebut saja perawat) yang menyatakan untuk keluar, pindah kerja dan atau berhenti bekerja sebagai perawat.
TANTANGAN PROFESI KEPERAWATAN MENYONGSONG DUNIA KERJA BERTEPATAN DENGAN “ERA OF ASEAN ECONOMIC COMMUNITY Ilmi, Bahrul
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 2, No 1 (2014): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keperawatan sebagai profesi mengharuskan pelayanan keperawatan diberikan secara profesional oleh perawat dengan kompetensi yang memenuhi standar dan memperhatikan kaidah etik dan moral  sehingga masyarakat akan memperoleh pelayanan yang bermutu. Dalam memasuki dunia kerja tentu  dilakukan uji kompetensi dan registrasi, sehingga dapat bersaing di dunia kerja. Perawat saat ini berbenah diri baik untuk peningkatan mutu dan profesi keperawatan di rumah sendiri di Indonesia ataupun dapat bersaing di pasar global Asean, karena sebentar lagi perawat Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 atau  Era of Asean Economic Community 2015, yang merupakan tantangan bagi profesi keperawatan. tantangan yang dihadapi berupa ancaman ataupun peluang yang harus diambil dan dihadapi, mau tidak mau atau suka tidak suka sebentar lagi dalam hitungan minggu, hari kita sudah memasuki MEA 2015, sehingga apa yang harus dilakukan dan apa tantangan yang yang dihadapi profesi keperawatan dalam menyongsong Dunia Kerja yang bertepatan dengan Era of Asean Economic Community 2015. Kata Kunci : Profesi Keperawatan, MEA 2015.
MODEL COACHING GROW UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DIRUMAH SAKIT SULTAN AGUNG SEMARANG Lestari, Mimin
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 3, No 1 (2015): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.21 KB)

Abstract

Latar Belakang : Masalah kinerja perawat pada dasarnya menangani dua hal, yaitu bagaimana memperbaiki dan meningkatkan kinerja perawat. Kemampuan melakukan bimbingan merupakan bagian dari tugas seorang manajer dalam melaksanakan fungsi manajemen, yaitu fungsi pengarahan. ModelcoachingGROW diharapkan merupakan cara yang efektif untuk menangani dua hal tersebut yaitu memperbaiki kinerja yang bermasalah, dan mendorong untuk meningkatkan kinerja yang lebihbaik.Metoda Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian“ pra experiment“ dengan metode pendekatan before and afterstudy.  Sampel dalam penelitian ini adalah perawat pelaksana yang berjumlah 123 orang di ruang rawat inap. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Metode analisa yang dilakukan adalah Paired Samples T-Test.Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan rerata skor kinerja perawat pelaksana sebelum diberikan intervensi sebesar 285,7 dansetelah diberikan intervensi sebesar 307,7 sehingga terjadi peningkatan skor rerata kinerja perawat yaitu sebesar 23,8. Hasil uji Paired t-test didapatkan ada perbedaan yang bermakna rerata skor kinerja perawat pelaksana before dan after intervensi dengan nilai p value sebesar 0,00. Hasil  korelasi analisa menunjukkan bahwa ada hubungan model coaching GROW terhadap peningkatan kinerja perawat (r = 0,510).Simpulan :Model coaching GROWdapat meningkatkan kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit secara signifikan.Saran :Perlu penelitian tentang analisa faktor – faktor lainnya selain yang dapat meningkatkan kinerja perawat pelaksana. Kata Kunci     : Model Coaching GROW, Kinerja, Perawat Pelaksana
TINJAUAN SOCIAL SUPPORT DAN SOCIAL NETWORK TERHADAP KONSEP DIRI PENGHUNI LAPAS KASUS NARKOBA DI LP ANAK II A MARTAPURA firdaus, syamsul; spn, endang
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 4, No 1 (2016): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyalahgunaan narkoba,hasil survei BNN dengan UI menyatakan penggunaan narkoba tahun 2015 akan mencapai   5,8 - 6 juta jiwa yang menggunakan narkoba.Perasaan negative dalam dirinyaakanmengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya serta merasa kurang mampu dalam berinteraksi dengan orang-orang lain. Menurut Hawari (2007), Afiatin (2010)rendahnya harga diri, kurangnya kemampuan hubungan sosial dengan orang lain berperan dalam penyalahgunaan narkoba remaja. Penelitian Viny A (2013) menyatakan  remaja di LP sebanyak 51,7% konsep diri remaja negatif .Tujuan penelitian untuk mengetahui keterkaitan antara social support dan social network terhadap konsep diri penghuni Lapas kasus narkoba.Desain dalam penelitian adalah deskritif Korelasi, dengan populasi penghuni Lapas dengan jumlah sampel 78 penghuni dilakukan secara acak. Variabel independen : Social network, social support dengan variabel dependen : Konsep Diri (harga diri, Ideal diri, Identitas diri, Peran, Gambaran diri) dengan uji spearman rho.Hasi penelitian Sebagian besar responden dukungan Social Support secara internal dan eksternal 55penghuni Lapas  (70,5 %) mendapat dukungan  yang baik.Sebagian besar responden dukungan Social Network secara internal  55penghuni Lapas  (70,5 %) mendapat dukungan  yang baik, sedangkan secara eksternal 56 penghuni (71.8%) dukungan yang baik. Kondisi konsep diri sebagian besar penghuni Lapas dalam kategori baik yaitu sebanyak73 responden (93,6 %). Tidak terdapat hubungan antara Social Support  dengan konsep diri penghuni Lapas, sedangkan Social Network baik secara internal maupun secara eksternal  terdapat hubungan dengan konsep diri di lembaga pemasyarakatan dengan kasus narkoba.Saran bagi penghuni Lapas dan petugas LP agar senantiasa membuka ruang berinteraksi lebih luas dan ada waktu berinteraksi secara terjadwal dengan petugas profesional sedangkan secar eksternal membuat program support oleh keluarga maupun perkumpulan sosial untuk membantu mengembangkan sisi positif yang dimiliki oleh penghuni LP dengan kasus narkoba.
GAMBARAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OLAHRAGA BERDASARKAN KARAKTERISTIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS SUNGAI BESAR BANJARBARU marisa, marisa; SPN, endang; suroto, suroto
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.958 KB)

Abstract

Aktivitas fisik atau olahraga sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor resiko kardiovaskuler. Olahraga juga bisa memperbaiki resistensi insulin, sehingga kemampuan gula untuk memasuki sel tubuh akan membaik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran pemenuhan kebutuhan olahraga berdasarkan karateristik pasien diabetes mellitus di Puskesmas Sungai Besar Banjarbaru.Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif karena menggambarkan pemenuhan kebutuhan olahraga berdasarkan karakteristik pada pasien diabetes mellitus. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 54 orang. Sampling yang digunakan adalah probability sampling dengan teknik simple random sampling. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden kebutuhan olahraga terpenuhi yaitu 64,8% dan kebutuhan olahraga tidak terpenuhi yaitu 35,2%. Sebagian besar responden dengan pendidikan tinggi pemenuhan kebutuhan olahraga terpenuhi 84,6%.  Sebagian besar responden yang mempunyai riwayat keluarga dengan diabetes mellitus kebutuhan olahraga terpenuhi 68,8%, sedangkan responden dengan lama waktu menderita diabetes >10 tahun sebagian besar kebutuhan olahraga tidak terpenuhi yaitu 54,1%.Kepada pihak Puskesmas Sungai Besar diharapkan dapat melaksanakan program-program yang dapat meningkatkan motivasi pasien dalam melaksanakan terapi penatalaksanaan diabetes mellitus, khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan olahraga pasien
FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP MOTIVASI POLISI LALU LINTAS DALAM MENOLONG KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS DI WILAYAH POLRES BANJARMASIN Hasan Basri, Ahmad
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 2, No 2 (2014): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.332 KB)

Abstract

Pemberian pertolongan pre-hospital care secara tepat dapat menurunkan resiko kematian akibat trauma. Pemberian pertolongan pertama terhadap korban kecelakaan lalu lintas di wilayah Polres Banjarmasin sering tidak dilakukan oleh petugas medis atau orang disekitar lokasi kejadian sebagai first helper yang berkompeten. Fenomena yang dapat diamati di masyarakat ketika sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi, maka yang memberikan pertolongan pertama (first helper) adalah polisi lalu lintas.Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor – faktor yang berkontribusi terhadap motivasi  polisi lalu lintas sebagai first helper dalam menolong korban kecelakaan lalu lintas di wilayah Polres Banjarmasin.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi korelatif dengan jumlah sampel 86 orang, dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Menggunakan analisis bivariat dengan uji chi square dan analisis multivariat dengan uji regresi logistikHasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas motivasi baik (96,51%), sebagian besar kompensasi rendah (54,8%), lebih dari 50% kondisi kerja mendukung (52,4%), mayoritas menyatakan kebijaksanaan baik (95,3%), mayoritas supervisi adalah baik (98,8%), mayoritas pekerjaan itu sendiri mendukung (97,7%), mayoritas tanggung jawab responden tinggi (100%).Berdasarkan hasil analisis bivariat di dapatkan ada hubungan antara kompensasi, kebijaksanaan, supervisi, pekerjaan itu sendiri dan tanggung jawab dengan motivasi polisi lalu lintas dan variabel yang tidak ada hubungan adalah kondisi kerja. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik multivariat menunjukkan ada pengaruh tanggung jawab terhadap motivasi polisi lalu lintas dalam menolong korban kecelakaan lalu lintas. Untuk tanggung jawab dihasilkan p-value = 0,000 dan nilai Exp B: 313,66 Kata kunci       : Motivasi Polisi lalu LintasKepustakaan   : 27 (2002-2013)
GAMBARAN FAKTOR EKSTERNAL TERHADAP PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA PENGHUNI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK KLAS IIA MARTAPURA bahriansyah, bahriansyah; Firdaus, syamsul; Rizani, Khairir
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 4, No 2 (2016): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.875 KB)

Abstract

Penyalahgunaan narkoba menjadi masalah yang serius bagi masyarakat, karena dapat mempengaruhi siapa saja tanpa mengenal status, golongan dan tingkat ekonomi. Di Indonesia saat ini diperkirakan 5,8 juta penduduk menjadi penyalahguna narkoba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar faktor eksternal mendukung terhadap penyalahgunaan narkoba di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Martapura. Penelitian ini dengan metode penelitian analisis deskriptif persentasi. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 82 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor eksternal mendukung terjadinya penyalahgunaan narkoba, meliputi faktor lingkungan terdiri dari faktor komunikasi  sebanyak 32 orang (39%), faktor pengawasan sebanyak 33 orang (40%), faktor harmonis sebanyak 32 orang (39%), serta faktor disiplin sebanyak 32 orang (39%). Faktor pergaulan terdiri dari faktor solidaritas sebanyak 40 orang (49%), faktor persaingan sebanyak 38 orang (46%). Faktor ketersediaan barang narkoba terdiri dari faktor kemudahan sebanyak 31 orang (38%), faktor harga sebanyak 30 orang (37%). Kesimpulan bahwa faktor pergaulan tidak sehat seperti solidaritas serta persaingan lebih dominan dalam mendukung terjadinya penyalahgunaan narkoba. Diharapkan kepada pengguna narkoba terendah tidak berkelanjutan menjadi tingkat pengguna yang lebih tinggi dan sebaliknya tingkat pengguna tertinggi dapat dikurangi dengan cara pengguna narkoba melakukan hal-hal positif seperti mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di lapas sehingga mengalihkan hal-hal negatif ke hal-hal positif. Pengguna narkoba juga diharapkan membentuk kelompok diskusi atau keagamaan dengan penghuni lainnya
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI Rg. ANAK BLUD RS H. HASAN BASRY KANDANGAN Rizani, Akhmad; Tunggal, Tri; Shafa, Hidayuatun
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 2, No 1 (2014): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.836 KB)

Abstract

Visi pembangunan kesehatan yaitu Indonesia Sehat 2010 dan visi perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010, masyarakat yang bersikap proaktif untuk memelihara  dan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2002)Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. di negara berkembang pada tahun 2003 diperkirakan 1,87 juta anak balita meninggal karena diare, 8 dari 10 kematian tersebut pada umur < 2 tahun. Rata-rata anak usia< 3 tahun di negara berkembang mengalami episode diare 3 kali dalam setahun, di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Berdasarkan laporan Data Kesehatan Indonesia tahun 2011 sekitar 9.739.163 kasus diare dan angka kematian pada penduduk umum mencapai 23,57 per 1.000 penduduk dan angka kejadian diare di Kalimantan Selatan terdapat sebanyak 146.139 kasus (Soepardi, 2011).Pembangunan di bidang kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan kesehatan, salah satu sendi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan keterkaitan erat dengan upaya untuk mewujudkan pola hidup bersih dan sehat. Faktor lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang amat besar pengaruhnya terhadap kesehatan, kedua faktor ini banyak disebabkan oleh berbagai pihak di luar sektor kesehatan, oleh karena itu masalah kesehatan tidak hanya ditanggulangi bersama oleh berbagai pihak dan segenap masyarakat termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi Masyarakat (Depkes RI, 2000).
GAMBARAN PERAN PERAWAT DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA PASIEN STROKE DI RSUD ULIN BANJARMASIN Mahdalena, Mahdalena; Zulkipli Asy’ari, Muhammad Andi; Zaenab, Zaenab
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 3, No 1 (2015): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan spiritual sangat penting bagi pasien stroke karena mereka memerlukan dukungan moril agar kesembuhan mereka dapat lebih cepat dari pada selalu meminum obat.. Pada kenyataannya bahwa tidak semua pasien stroke seperti terjadi demikian dan hal ini kebanyakan mereka kurang mendekatkan diri kepada Tuhan pada akhirnya mereka merasa down dan tidak ada tenaga lagi. Maka berdasarkan penjelasan tersebut penelitian ini berhubungan dengan Gambaran peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pada pasien stroke di RSUD Ulin BanjarmasinPenelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di ruangan Seruni RSUD Ulin Banjarmasin. Teknik sampel jenuh atau semua perawat dan sempel yaitu 14 orang perawat. Instrumen yang digunakan adalah observasi. Analisa data yang digunakan adalah data yang diperoleh dan disajikan secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa  Perawat menyediakan bahan baca tentang spiritual kepada pasien, perawat sangat kurang sekali dan malahan tidak ada yang melakukannya. Perawat memfasilitasi pemuka agama untuk pasien, tidak satupun perawat yang melaksanakannya kepada pasien stroke. Perawat memfasilitasi pasien dalam meditasi, berdo’a dan ritual keagamaan lainnya, hal ini ditemukan tidak ada seorangpun perawat yang melaksanakannya.Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disarankan bahwa pihak perawat hendaknya menyampaikan keluhan mereka teradap proses pelaksanaan dari cara memberikan pelayanan spiritual kepada pihak rumah sakit agar dapat terpenuhi kebutuhan spiritual pasien. Kata Kunci       : pemenuhan kebutuhan spiritual, pasien stroke.Kepustakaan    : 56 (1999 - 2011)

Page 2 of 23 | Total Record : 222