cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20890117     EISSN : 25805932     DOI : -
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA diterbitkan sejak 1 April 2011 oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) dengan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Cabang Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Daerah Banjarmasin.
Arjuna Subject : -
Articles 295 Documents
PELANGGARAN PRINSIP KERJASAMA DAN PRINSIP KESANTUNAN SERTA IMPLIKATURNYA DALAM NOVEL KOMEDI MANUSIA SETENGAH SALMON KARYA RADITYA DIKA (VIOLATION OF CONVERSATION PRINCIPLE AND MODESTY PRINCIPLE AND IMPLICATURE IN THE NOVEL COMEDY OF MANUSIA SETENGAH SALMON BY RADITYA DIKA) Kamariah Kamariah
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.6 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v5i2.3723

Abstract

Pelanggaran Prinsip Kerjasama dan Prinsip Kesantunan serta Implikaturnya dalam Novel KomediManusia Setengah Salmon Karya Raditya Dika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentukpelanggaran prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan serta implikaturnya dalam buku Manusia159Setengah Salmon karya Raditya Dika. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik dengan jenispenelitian kualitatif dan analisis wacana. Dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan tabelpenjaring data. Adapun model teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model aliryang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pelanggaranprinsip kerjasama dan prinsip kesantunan. Pelanggaran prinsip kerjasama paling banyak dilanggarpada novel komedi ini. Pelanggaran paling banyak ialah terhadap maksim cara, kemudian maksimkuantitas, maksim relevansi dan maksim kualitas. Pelanggaran prinsip kesantunan meliputi semuamaksimnya. Pelanggaran paling banyak pada prinsip kesantunan ialah terhadap maksim penghargaan,kemudian maksim kemufakatan, maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim simpatidan maksim kesederhanaan. Implikatur yang berfungsi menunjang pengungkapan humor di dalamnovel komedi Manusia Setengah Salmon ini adalah, menyarankan, mengkhawatirkan, menyuruh,menasehati, meminta, mengingatkan, keheranan, keingintahuan, menyinggung, mengganggu, melucu,menginformasikan, perbedaan budaya, ketakutan, berpendapat, minta dihargai, perhatikan situasilawan bicara, merendahkan, jangan melakukan hal yang tidak mungkin, melawak, mencegah putuscinta, lihatlah situasi hati lawan bicara, mengenang, menjebak, mengajarkan pelit, ketidaktahuan,meragukan, berkenalan, tidak tega, keresahan, kegagalan, keraguan, memaksa, minta naik gajih,menanyakan, menyatakan, humor, memikirkan, bercanda, menghubungkan, kepanikan, menahanmalu, perbedaan selera, mengajak, memuaskan, perbedaan kebiasaan, kesalahpahaman, pembicaraan,pentingnya perhatian seorang ibu, pengakuan, susah bergerak, meminta saran, kekecewaan, keengganan,mengeluh, membohongi, mengikuti prosedur, kekecewaan, mengikuti saran, ingin adanya pengakuan,menakut-nakuti, menenangkan diri, mengakui kelemahan, salah mengartikan, tidak terbiasa bangunpagi, berolah raga, kebiasaan, jangan pernah berpikir jelek sebelum melihat langsung, berbicaralahsesuai fakta, perbedaan pendapat, dan memikirkan.Kata-kata kunci: prinsip kerjasama, prinsip kesantunan, implikatur
WUJUD KESANTUNAN DAN KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA PEDAGANG DI PASAR SENTRA ANTASARI BANJARMASIN (A FORM OF POLITENES AND NOT POLITENESS SPEAK AT MARKET TRADERS SENTRA ANTASARI BANJARMASIN) Yustina Jumadi
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.583 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v5i2.3734

Abstract

Wujud Kesantunan dan Ketidaksantunan Berbahasa Pedagang di Pasar Sentra AntasariBanjarmasin. Kesantunan berbahasa sebagai wujud kesopanan memegang kendali yang sangat pokok293dalam komunikasi, agar tujuan yang diharapkan dalam komunikasi tesebut terwujud. Kesalahandalam memilih cara berbicara atau bahkan salah dalam memilih kata akan menimbulkan kemarahanatau ketidaksenangan bagi mitra tutur. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji Bagaimanawujud kesantunan berbahasa pedagang di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin? Bagaimana wujudketidaksantunan berbahasa pedagang di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin? Pendekatan yangdigunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif Pendekatan kualitatif dipilih karenapermasalahan bersifat holistik, kompleks, dinamis, dan penuh makna sehingga tidak mungkin datapada situasi sosial tersebut dijaring dengan metode penelitian kuantitatif. Selain itu, peneliti bermaksudmemahami situasi sosial secara mendalam. Data tuturan dalam transaksi jual beli di Pasar SentraAntasari Banjarmasin diperoleh dari hasil perekaman antara pedagang dan pembeli, terutama saatterjadi penawaran di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin tersebut dalam interaksi jual beli antarapedagang dan pembeli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai budaya tentang hubunganmanusia Kesantuanan berbahasa pedagang di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin ditemukan dalamkepatuhan-kepatuhan terhadap maksim, yaitu (a) kepatuhan terhadap maksim kebijaksanaan, (b)kepatuhan terhadap maksim kedermawanan, (c) kepatuhan terhadap maksim penghargaan, (d)kepatuhan terhadap maksim kesederhanaan, dan (e) kepatuhan terhadap maksim kemufakatan.Ketidaksantuanan berbahasa pedagang di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin ditemukan dalampelanggaran-pelanggaran terhadap maksim, yaitu (a) pelanggaran terhadap maksim kebijaksanaan,(b) pelanggaran terhadap maksim kedermawanan, (c) pelanggaran terhadap maksim penghargaan, (d)pelanggaran terhadap maksim kesederhanaan, (e) pelanggaran terhadap maksim kemufakatan, dan (f)pelanggaran terhadap maksim kesimpatian. Saran yang ditawarkan adalah kepada peneliti selanjutnyatentang bahasa pedagang perlu diteliti lebih mendalam melalui berbagai teori lain yang membahasdari sudut pandang yang berbeda. Penelitian terhadap kesantunan dan ketidaksantunan berbahasapedagang dapat dikaji dari pusat-pusat perbelanjaan lain guna mengatahui tingkat kesantunanberbahasa pada saat transaksi jual-beli.Kata-kata kunci: kesantunan berbahasa, ketidaksantunan berbahasa, maksim
STRUKTUR TEKS DAN MAKNA PEMENTASAN KESENIAN TRADISIONAL DEDER KALIMANTAN TENGAH (THE STRUCTURE OF TEXT AND MEANING OF DEDER TRADITIONAL ART PERFORMANCE IN CENTRAL KALIMANTAN) Briand Cheary Taveaanhu
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 2 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.157 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v6i2.3751

Abstract

Struktur Teks dan Makna Pementasan Kesenian Tradisional Deder Kalimantan Tengah.Deder adalah syair yang dilantunkan serta berisikan nasehat, sindiran, atau petuah yang dapatdiiringi oleh nyanyian. Deder dilakukan berpasangan, laki-laki dan perempuan secara bergantian.Saat penampilannya, deder diiringi oleh alat musik kecapi, gong, suling, dan gendang. Penelitianini menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memberikan tujuanpenelitian secara objektif karena menggunakan dokumen karya sastra, yaitu kesenian deder yangditampilkan oleh pededer yang selanjutnya ditranskripsikan menjadi bentuk tulis untuk diteliti. Sumberdata diperoleh dari beberapa orang yang latar belakangnya adalah sebagai seniman sastra lisan dederdan juga rekaman video penampilan deder. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut. (1)Struktur teks deder terdiri atas pembukaan, isi, danpenutup. Pembukaan berisi tentang pengucapansalam kepada hadirin dan kepada seluruh pihak. Penyampaian isi berisi tentang penyampaian maksuddan tujuan dari bededer. Penutup berisi salam perpisahan kepada hadirin dan kepada seluruh pihak.(2). Teks deder pada umumnya, seperti deder Dampak Sosial Asep memiliki rima berangkai namunada beberapa bait yang tidak sempurna. Terjadi pengecualian pada deder karya Bilton yaitu tidaksemua baitnya memiliki rima karena hamper tiap baitnya, terdapat pengulangan bunyi akhir katalarik pertama dengan kata awal larik kedua. Hal tersebut terjadi karena pemenggalan kata akhir larikpertama yang kemudian disebutkan secara utuh pada kata awal larik kedua. Selain itu teks dedermemiliki asonansi atau pengulangan bunyi huruf vocal dan aliterasi atau pengulangan bunyi hurufkonsonan. (3).Pola irama teks deder dalam pelantunannya terdapat penekanan pada beberapa katatiap baitnya. Letak penekanannya tidak teratur tergantung kesesuain kata dengan nada yang ingindilantunkan. Teks Deder terdiri atas kata yang tidak sama jumlahnya pada tiap baitnya.4.Penyajiandeder ditampilkan dengan menghadirkan unsure penyaji, penonton, music setting, dan interaksi denganpenonton. Penyaji pada deder ditampilkan dengan berpasangan, biasanya laki-laki dengan perempuan.Pededer secara bergantian melantunkan teks deder antara bait satu ke bait selanjutnya hingga selesai.Penonton yang menyaksikan berasal dari berbagai kalangan. Alat musik yang digunakan dalampenyajian deder adalah gong,gendang, kecapi dan suling yang merupakan khas Kalimantan tengah.Pada deder karya Bilton, Setting yang ditampilkan adalah taman wisata kum-kum dan juga tempatwisata huma betang. Kum-kum menggambarkan panorama hutan di Kalimantan sedangkan wisataHuma betang menggambarkan rumah yang digunakan suku dayak pada zaman dulu. Sedangkan, padadeder dampak sosial asep, setting bertempat di studio RRI KalimantanTengah.Kata-kata kunci: deder, struktur teks, pementasan
KESANTUNAN DIREKTIF DAN EKSPRESIF DALAM WACANA FILM KARTUN ADIT SOPO JARWO (DIRECTIVE AND EXPRESSIVE POLITENESS IN THE DISCOURSE OF THE CARTOON FILM OF ADIT SOPO JARWO) Maulida Astuti
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.149 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v7i1.3767

Abstract

Kesantunan Direktif dan Ekspressif dalam Film Kartun Adit Sopo Jarwo. Kesantunan pada zamansekarang semakin berkurang, hal ini dapat disebabkan zaman yang semakin modern, kesantunanberhubungan dengan budaya dimasyarakat tersebut. Film kartun dapat digunakan sebagai media61pembelajaran untuk pendidikan karakter anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud,strategi, dan fungsi kesantunan direktif dan ekspresif dalam wacana film kartun Adit Sopo Jarwo.Penelitian ini termasuk jenis penelitian pragmatik dengan menggunakan pendekatan kualitatif danmenggunakan metode deskriptif. Data penelitian adalah tuturan jenis direktif dan ekspresif dan sumberdatanya adalah wacana film kartun Adit Sopo Jarwo. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasidan ditranskripsi. Data yang terkumpul dianalisis melalui empat tahap, yakni mengklasifikasikan data,reduksi data, penyajian data dan penyimpulan. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan databerupa tabel yang telah dirancang peneliti untuk mengklasifikasikan data sesuai dengan jenis tuturandan berdasarkan wujud, strategi, dan fungsinya. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapatdisimpulkan bahwa dalam menilai santun tidaknya suatu tuturan dapat dilihat dari konteks tuturanitu berlangsung. Kesantunan dapat dikaitkan dengan usia, kekuasaan, dan derajat kekerabatan.Berdasarkan hasil penelitian wujud kesantunan direktif dalam wacana film kartun Adit Sopo Jarwomeliputi, direktif permintaan, direktif pertanyaan, direktif perintah, direktif larangan dan direktifpersilaan atau pengizinan; sedangkan wujud kesantunan ekspresif meliputi, ekspresif mengucapkanterima kasih, ekspresif menyesalkan, ekspresif permintaan maaf, dan ekspresif mengecam. Adapunstrategi kesantunan direktif dan ekspresif adalah strategi kesantunan negatif (strategi penghormatan)dan strategi kesantunan positif (strategi kesetiakawanan). Serta fungsi kesantunan direktif dan ekspresifyakni, fungsi menyatakan, fungsi menanyakan, dan fungsi memerintah.Kata-kata kunci: kesantunan direktif, kesantunan ekspresif, wujud kesantunan, strategi kesantunan,fungsi kesantunan
HUMOR DAN PESAN MORAL TEKS ANEKDOT PADA BUKU AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X SMA KURIKULUM 2013 (HUMOR AND MORAL MESSAGE OF ANECDOTAL TEXTS IN INDONESIAN LANGUAGE TEACHING MATERIALS FOR THE TENTH GRADE OF 2013 CURRICULUM SENIOR HIGH SCHOOL) Sri Wahyuni
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.748 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v7i2.4425

Abstract

Humor dan Pesan Moral Teks Anekdot pada Buku Ajar Bahasa Indonesia Kelas X SMA Kurikulum2013. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud humor dan pesan moral yang terdapatdalam teks anekdot pada buku ajar bahasa Indonesia kelas X SMA K13. Pendekatan dalam penelitianini menggunakan pendekatan pragmatis dan pendekatan moral. Untuk mengungkapkan humor padateks anekdot tersebut penulis menggunakan teknik analisis wacana berdasarkan teori konflik, teorikeganjilan, teori tak diharapkan/salah paham, dan teori konfigurasi. Data penelitian ini adalah teksanekdot, maka penulis menggunakan metode analisis isi. Berdasarkan hasil pembahasan wujud humoryang terdapat dalam teks anekdot tersebut, yaitu humor kritik, humor meringankan beban pesan, danhumor semata-mata pesan. Pesan moral yang terdapat dalam teks tersebut, yaitu jangan takut kehilangan246jabatan, selalu ada cara dan solusi dalam segala hal, jadilah orang jujur dan tidak korupsi; hasil bumikita tidak perlu diekspor harus hati-hati melaporkan suatu kejadian; lihatlah apa isi yang disampaikanseseorang; jangan melakukan penyuapan; jangan selalu menganggap orang lain salah, manfaatkankekayaaan dengan baik; jadilah orang yang teguh pendirian dan jangan tergoda hawa nafsu; janganasal menuduh seseorang tanpa ada bukti; berilah pertolongan kepada orang yang mengalami musibahatau kesulitan; memperlakukan orang tua dengan baik; jangan membedakan status sosial; akan adajalan keluar sebuah masalah; hati-hati dengan wujud penyuapan yang berupa kemewahan.Kata-kata kunci: humor, pesan moral, teks anekdot
PEMEROLEHAN MORFEM ANAK USIA 2 TAHUN SAMPAI 2 TAHUN 6 BULAN (THE MORPHEME ACQUISITION OF 2 UP TO 2 YEARS OLD AND A HALF KIDS) Sri Mauliani Zulkifli
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 1 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.78 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v3i1.4492

Abstract

AbstractThe Morpheme Acquisition of 2 Up to 2 Years Old and a Half Kids. The study waslimited in the scope of his language skills, especially in the morpheme children at age 2years to 2 years 6 months. In addition, some parents are still many do not keep up withher well-spoken language development in behavior and development. This study useda qualitative descriptive method. The study was done in order to determine the form ofmorphemes the child, the child form of words that are strung together in a sentence oneword to two word sentences at age 2 years to 2 years 6 months. The research data is amorpheme; free and bound. Techniques used in data collection is provocation, tapping,see the good involved, records and technical notes. The data generated is 150 childrenand 15 free morpheme bound morpheme. Obtained free morphemes more children thanthe bound morpheme. (1) being acquired morpheme children at age 2 years to 2 years6 months, a free morpheme and bound morpheme, (2) form morpheme obtained free ofchildren at age 2 years to 2 years 6 months, (3) form bound morpheme obtained bychildren at age 2 years to 2 years 6 months, and (4) morpheme form obtained from thespeech one word or two-word utterances. Children’s ability to obtain the child’s morphemeto be assembled into one-word utterances and the utterances of two words, even capableof using morpheme as child speech in everyday language.Keywords: free morphemes, bound morphemes, speech.AbstrakPemerolehan Morfem Anak Usia 2 Tahun sampai 2 Tahun 6 Bulan. Penelitian inidibatasi pada ruang lingkup keterampilan berbahasa anaknya khususnya pada morfemanak yang pada usia 2 tahun sampai 2 tahun 6 bulan. Selain itu, masih banyak sebagianorang tua tidak mengikuti perkembangan anaknya baik perkembangan bahasanyadalam bertutur dan perkembangan tingkah lakunya. Penelitian ini menggunakan metodedeskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui wujudmorfem anak, wujud kata yang dirangkai anak pada kalimat satu kata menjadi kalimatdua kata pada usia 2 tahun sampai 2 tahun 6 bulan. Data penelitian ini berupa morfem;bebas dan terikat. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah pancingan,sadap, simak libat cakap, rekam dan teknik catat. Data yang dihasilkan anak adalah150 morfem bebas dan 15 morfem terikat. Morfem bebas lebih banyak diperoleh anakdaripada morfem terikat. (1) wujud morfem yang diperoleh anak pada usia 2 tahunsampai 2 tahun 6 bulan, berupa morfem bebas dan morfem terikat; (2) wujud morfembebas yang diperoleh anak pada usia 2 tahun sampai 2 tahun 6 bulan; (3) wujudmorfem terikat yang diperoleh anak pada usia 2 tahun sampai 2 tahun 6 bulan; dan(4) wujud morfem yang diperoleh dari ujaran satu kata atau ujaran dua kata.Kemampuan anak dalam memperoleh morfem bebas dan morfem terikat dari ujaran164satu kata dan ujaran dua kata, bahkan mampu menggunakan morfem sebagai ujarananak dalam bahasanya sehari-hari.Kata-kata kunci: morfem bebas, morfem terika
MENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INGGRIS MENGGUNAKAN METODE GAME “HANGMAN” PADA SISWA KELAS VIIIB SMP NEGERI 4 TAMIANG LAYANG TAHUN AJARAN 2013-2014 (IMPROVING ENGLISH VOCABULARY MASTERY BY USING HANGMAN GAME METHOD TO STUDENTS OF CLASS VIIIB IN SMPN 4 TAMIANG LAYANG IN ACADEMIC YEAR 2013-2014) Winda Meidianty
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 1 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1375.857 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v4i1.3794

Abstract

Meningkatkan Penguasaan Kosakata Bahasa Inggris menggunakan Metode Game “Hangman”pada Siswa Kelas VIIIB SMPN 4 Tamiang Layang Tahun Ajaran 2013-2014. Penelitianini adalah sebuah penelitian di bidang pendidikan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas tentangpenerapan game tebak kata Hangman di Sekolah Menengah Pertama (SMPN 4) Tamiang Layang.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kosakata bahasa inggris siswa kelas VIIIBSMPN 4 Tamiang Layang tahun ajaran 2013-2014 dengan menggunakan metode game hangman.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Masing-masingsiklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjekpenelitian adalah siswa kelas VIIIB SMP Negeri 4 Tamiang Layang, tahun pelajaran 2013-2014yang berjumlah 28 siswa. Instrumen penelitian berupa lembar observasi aktivitas guru dan siswa,test kosakata, dan questionnaire. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan kosakatameningkat sebesar 3,5% dan persentase ketuntasan belajar mencapai persentase maksimal padakriteria ketuntasan untuk nilai di atas 61. (2) kualitas keaktifan guru meningkat sebesar 7%. (3)110keaktifan belajar siswa pada kriteria sangat aktif meningkat 9% dan untuk kriteria aktif meningkat1%.Kata-kata kunci : penguasaan kosakata, hangman, kosakata bahasa inggris
ARGUMENTASI DALAM WACANA SURAT GUGAT CERAI DI PENGADILAN AGAMA KOTA PALANGKA RAYA (THE ARGUMENTATION ON DISCOURSE OF DIVORCE ACCUSATION PAPER IN RELIGIOUS COURT AT PALANGKA RAYA) Vera Noviana
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.705 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v8i1.4809

Abstract

AbstractThe Argumentation on Discourse of Divorce Accusation Paper in Religious Court at PalangkaRaya. Divorce paper or divorce accusation paper contains arguments that serve as an excuse to convincethe head of Religious Court in applying for or suing a divorce. Therefore, this study examines (1) theform of argumentation structure, (2) the argumentation method, and (3) the argumentation content ondiscourse of divorce accusation paper based on gender perspective. This study uses descriptive qualitativeapproach. The data source of this study is taken from 16 pieces of divorce accusation papers which consistof 8 divorce papers and 8 divorce accusation papers which are collected since May till December 2016.The results obtained are as follows. First, the argumentation structures on discourse of divorce accusationpaper consist of (1) statement, (2) reason, (3) justification, (4) supporter, and (5) modal. Secondly, theargumentation method on discourse of divorce accusation paper consist of two main parts, namely (1)the argumentation composition/component and (2) topic development method. The argumentationcomposition paper consists of three main parts, namely (a) introduction, (b) argumentation body and(c) conclusion. While the component of divorce accusation paper also consists of three main parts; theyare (a) the identity of the parties, (b) posita and (c) petitum. Third, the argumentation content based ongender perspective contains about (1) functional structural gender concerning in position and role thatcontrary to the state, and (2) argumentation style.Key words: argumentation, divorce accusation paperAbstrakArgumentasi dalam Wacana Surat Gugat Cerai di Pengadilan Agama Kota Palangka Raya. Suratcerai talak maupun surat cerai gugat mengandung argumentasi yang dijadikan alasan untuk meyakinkanketua Pengadilan Agama dalam mengajukan permohonan atau gugatan perceraian. Oleh karena itu,penelitian ini mengkaji tentang (1) wujud struktur argumentasi, (2) metode argumentasi, dan (3) isiargumentasi wacana surat gugat cerai berdasarkan perspektif gender. Penelitian ini menggunakanpendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini mengambil 16 buah surat gugat cerai yangterdiri dari 8 buah surat cerai talak dan 8 buah surat gugat cerai yang diambil dari bulan Mei sampai16bulan Desember 2016. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut. Pertama, strukturargumentasi dalam wacana surat gugat cerai terdiri atas (1) pernyataan, (2) alasan, (3) pembenaran,(4) pendukung dan (5) modal. Kedua, metode argumentasi dalam wacana surat gugat cerai terdiriatas dua bagian utama, yaitu (1) komposisi/komponen argumentasi dan (2) metode pengembangantopik. Komposisi argumentasi surat terdiri dari tiga bagian utama, yaitu (a) pendahuluan, (b) tubuhargumentasi dan (c) kesimpulan. Sementara itu, komponen surat gugatan juga terdiri dari tiga bagianutama, yaitu (a) identitas para pihak, (b) posita dan (c) petitum. Ketiga, isi argumentasi berdasarkanperspektif gender berisi tentang (1) gender struktural fungsional mengenai kedudukan dan peran yangbertolak belakang dengan keadaan, dan (2) gaya argumentasi.Kata-kata kunci: argumentasi, surat gugat cerai
TINJAUAN INTRINSIK DRAMA BILA MALAM BERTAMBAH MALAM DAN EDAN KARYA PUTU WIJAYA (INTRINSIC REVIEW OF BILA MALAM BERTAMBAH MALAM AND EDAN DRAMA BY PUTU WIJAYA) Dapy Fajar Raharjo
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.703 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v4i2.3696

Abstract

Tinjauan Intrinsik Drama Bila Malam Bertambah Malam dan Edan karya Putu Wijaya.Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pembaharuan yang dilakukan Putu Wijaya dalam menulislakon drama. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi struktur intrinsik yang membangunlakon konvensional Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya; 2) mengidentifikasi sturkturintrinsik yang membangun lakon inkonvensional Edan karya Putu Wijaya; 3) mendeskripsikankonsep plot, dialog, dan tokoh pada lakon Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya; 4)mendeskripsikan konsep plot, dialog, dan tokoh pada lakon Edan karya Putu Wijaya; dan 5)menjelaskan bentuk perubahan penulisan lakon Putu Wijaya dari lakon yang berbentuk konvensionalmenjadi lakon yang berbentuk inkonvensional dalam drama mutakhir Indonesia. Penelitian inimenggunakan rancangan deskriptif-kualitatif dan data yang diperoleh akan dianalisis melalui analisis244struktural. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul danpengolah data secara penuh. Data penelitian ini adalah pembaharuan yang dilakukan Putu Wijayadalam menulis lakon melalui analisis intertekstual terhadap konsep plot, dialog, dan penokohan.Dalam pengumpulan data melalui studi pustaka, peneliti menggunakan dua lakon Putu Wijaya,yaitu Bila Malam Bertambah Malam dan Edan sebagai bahan analisis. Dalam penelitian ini sumberdata, data, teori dan metodologi diterapkan untuk mengecek keabsahan data.Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Putu Wijaya telah melakukan pembaharuan dalam menulis lakon drama,yaitu dari bentuk konvensional menuju bentuk inkonvensional. Pembaharuan yang dilakukan olehPutu Wijaya dalam penulisan lakonnya dapat diidentifikasi yaitu 1) plot/alur lakon konvensionalpada umumnya bersifat linier dan rapat, sedangkan plot/alur lakon inkonvensional beralur acakatau beralur longgar; 2) plot/alur lakon konvensional sangat tergantung pada perkembangan masalahdan konflik, sedangkan pada plot/alur lakon inkonvensional menjadikan masalah hanya munculkemudian menghilang sehingga masalah tidak terselesaikan; 3) dialog lakon konvensionaldiperbaharui dari dialog sebagai sarana pengungkapan karakter tokoh yang bersifat individualmenjadi dialog yang mengekspresikan karakter kelompok; 4) tokoh individu pada lakon konvensionalmengekspresikan karakter individu tertentu, sedangkan pada lakon inkonvensional penokohanmerupakan ekspresi kelompok tertentu; 5) tokoh lakon konvensional memiliki identitas yang jelasdan menunjukkan karakter tertentu, sedangkan pada lakon inkonvensional tokoh hanya diketahuiidentitas sosiologis dan psikologisnya; dan 6) karakter tokoh pada lakon konvensional sangatmempengaruhi keindahan struktur lakon, sedangkan pada lakon inkonvensional karakter tokohtidak dapat berkembang mengikuti plot lakon.Kata-kata kunci: tinjauan intrinsik, lakon drama, konvensional, inkonvensional
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA KURIKULUM 2013 DI SMAN 6 DAN SMA SMAN 7 BANJARMASIN (THE PROBLEMATICS OF LEARNING INDONESIAN IN CURRICULUM 2013 IN SMA NEGERI 6 AND SMA NEGERI 7 BANJARMASIN) Mundofir Mundofir
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.583 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v5i1.3715

Abstract

Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013 di SMA Negeri 6 danSMA Negeri 7 Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui beberapa problematika101pembelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 yang baru dilaksanakan pada sekolah-sekolahpiloting. Ada lima SMA negeri di Banjarmasin yang ditunjuk pemerintah untuk menjadi sekolah pilotyang di dalamnya termasuk SMAN 6 dan SMAN 7. Adapun kendala yang peneliti temui di dua SMAtersebut tidak jauh berbeda, sesuai dengan kondisi yang ditemukan, dan sesuai dengan situasi perubahanpembelajaran Bahasa Indonesia SMA yang menerapkan kuriklulum 2013 ini. Pada dasarnya keduasekolah yang yang diteliti tersebut dalam penerapan kurikulum 2013 telah memenuhi kesiapan saranadan prasarana sekolah, dan intake siswa tidak ada kendala. Siswa yang masuk belajar pada kedua SMAini termasuk siswa rata-rata bagus dan sarana pembelajarannya memiliki kelengkapan yang memadaiuntuk menerapkan kurikulum 2013. Yang menjadi kendala pada kedua SMA tersebut adalah faktorSDM guru yang mengajar, karena rata-rata guru dari kedua SMA tersebut belum memiliki kesiapandalam melaksanakan proses pemebelajaran yang diinginkan oleh kurikulum 2013. Tidak semua guruyang mengajar diberikan pelatihan secara khusus mengenai proses pembelajaran pada kurikulum 2013sehingga dengan kondisi ini kendala-kendala yang ditemui di lapangan sebagai berikut (1) guru dalammelaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia masih menggunakan pola KTSP, guru lebih banyakberceramah, sehingga timbul kesan guru aktif dan siswa tidak aktif (2) siswa kesulitan memahamiteks yang ada dalam buku siswa karena materinya terintegrasi dengan ilmu-ilmu seperti IPA dan IPS.apabila siswa tidak banyak membaca dan menggali lebih banyak pengetahuan umum siswa mengalamikendala dalam melaksanakan pembebelajaran Bahasa Indonesia, demikian juga gurunya, apabilaguru tidak banyak menguasai materi maka akan mengalami kendala dalam membimbing dan melatihsiswa dalam belajar bahasa Indonesia (3)faktor lain, guru masih belum mampu menerapkan penilaianotentik secara penuh, ini terjadi karena kendala waktu, sehingga penilaian yang dilakukan oleh guruhanya sebatas penilaian yang mengarah pada nilai kognitif, penilaian yang secara rinci dan lengkap(pengetahuan, keterampilan dan sikap) belum bisa dilaksanakan (4)guru masih cenderung banyakmenggunakan pola ceramah, belum menguasai strategi, pendekatan, dan model-model pembelajaranyang diinginkan.Kata-kata kunci: problematika, belajar-mengajar, bahasa indonesia, curriculum 2013

Page 7 of 30 | Total Record : 295


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 1 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 2 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 1 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 1 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 2 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 2 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 2 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 1 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 1 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 1 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) More Issue