cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20890117     EISSN : 25805932     DOI : -
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA diterbitkan sejak 1 April 2011 oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) dengan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Cabang Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Daerah Banjarmasin.
Arjuna Subject : -
Articles 295 Documents
ISTILAH BIDANG OTOMOTIF PADA TABLOID OTOMOTIF, MOTORPLUS, DAN OTOPLUS (TINJAUAN MORFOLOGI DAN SEMANTIK) (THE TERM AUTOMOTIVE FIELD ON OTOMOTIF, MOTORPLUS, AND OTOPLUS TABLOIDS IS MORPHOLOGICALLY AND SEMANTIC VIEWED Jamiatul Hamidah
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.039 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v7i1.3773

Abstract

Istilah Bidang Otomotif pada Tabloid Otomotif, Motorplus, dan Otoplus (Tinjauan Morfologi danSemantis).Bahasa dan teknologi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Perkembangan teknologisalah satu sarananya adalah melalui bahasa, terutama bahasa tulisan.Tabloid merupakan salah satumedia cetak yang memberikan informasi mengenai perkembangan suatu hal yang menggunakanbahasa tulis sebagai pengantarnya.Tabloid otomotif sering mengemukakan kata-kata atau istilah-istiahbaru dalam bidang otomotif. Penelitian ini penting dilakukan mengingat teknologi di bidang otomotifyang terus berkembang dan cenderung memunculkan istilah-istilah yang baru.Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif.Sumber data adalah dari Tabloid Otomotif,Motorplus, dan Otoplus edisi April-Mei 2016. Kesimpulannya adalah bahwa istilah Bidang Otomotifpada Tabloid Otomotif, Motorplus, dan Otoplus, ditinjau secara morfologi terbentuk dari afiksasi,reduplikasi, komposisi, dan pemendekan/singkatan. Istilah tersebut ada yang merupakan kata dasaryang umumnya diserap dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Di samping itu, ditinjau secara139semantik, istilah yang berupa kata dasar memiliki makna leksikal atau sesuai dengan kamus, namunistilah yang mengalami proses morfologi dan yang berupa frasa, mengalami perubahan makna.Kata-kata kunci: istilah, otomotif, morfologi, semantik
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA (LEARNING REGIONAL LANGUAGE AND LITERATURE AS A MEANS OF EDUCATION OF NATIONAL CHARACTER) A. Syukur Ghazali
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 1 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v3i1.4482

Abstract

AbstractLearning Regional Language and Literature as a Means of Education of NationalCharacter. Learning the language and literature to be a vehicle for cultural educationand the nation’s character is based on the view that language and literature has thepotential to become an institution that gives hope for people to talk about the ultimatereality of life. An imaginative literary works offer a rich selection of possibilities aboutthe structure of complex life. Michael Novak (Lickona, 1991: 50) states that the elementsforming the moral attitude can be traced to religious traditions, literature-based storiesof local culture (indegeneous), policy advice (sage), and a view of life that flows figureshereditary historically through discourse language and literature. More than that, themight of the local language as the medium of education has been proved empirically byIndia and Thailand who use writing as writing Hindi and Thai official. Even Singh(2010), an international seminar on retention native language, India explains that thestate establish a political idea, not a linguistically formulated Hindi language. Thisdesignation aims to make the “mother tongue Becomes a rallying point for groups ofpeople to unite and express their solidarity more as a political entity.” Therefore, theintention of the government to establish policies and conduct conservation programs inthe local language of each province, as well as through literature, is key to theimplementation of this idea.Keywords: literature as forming the moral stance, regional literature, governmentgoodwillAbstrakPembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah sebagai Wahana Pendidikan KarakterBangsa. Pembelajaran bahasa dan sastra untuk menjadi wahana pendidikan budayadan karakter bangsa didasarkan pada pandangan bahwa bahasa dan sastra berpotensiuntuk menjadi institusi yang memberi harapan bagi manusia untuk berbicara tentangrealitas kehidupan yang hakiki. Karya sastra merupakan tawaran imajinatif yang kayadengan pilihan kemungkinan tentang struktur kehidupan yang kompleks. Michael Novak(Lickona, 1991: 50) menyatakan bahwa unsur pembentuk sikap moral bisa dilacakdari tradisi keagamaan, cerita sastra berbasis kebudayaan lokal (indegeneous), nasihatkebijakan (sage), dan pandangan hidup tokoh yang mengalir secara turun-temurunsecara historis melalui wacana bahasa dan sastra. Lebih dari itu, keperkasaan bahasadaerah sebagai medium pendidikan telah dibuktikan secara empirik oleh India danThailand yang menggunakan tulisan Hindi dan Thai sebagai tulisan resmi negara.Bahkan Singh (2010), dalam seminar internasional tentang pemertahanan bahasa ibu,menjelaskan bahwa negara India menetapkan gagasan politis, bukan merumuskanbahasa Hindi secara linguistik. Penetapan ini bertujuan untuk menjadikan “mother20tongue becomes a rallying point for group of people to unite and express their solidaritymore as a political entity”. Oleh karena itu, niat baik pemerintah untuk menetapkankebijakan dan melakukan program pelestarian bahasa daerah di wilayah propinsimasing-masing, juga melalui sastra, merupakan kunci bagi terlaksananya gagasanini.Kata-kata kunci: sastra sebagai pembentuk sikap moral, sastra daerah, niat baikpemerintah
EKSISTENSI PEREMPUAN DALAM NOVEL AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN KARYA IHSAN ABDUL QUDDUS: TINJAUAN KRITIK SASTRA FEMINIS (WOMAN EXISTENCE IN THE NOVEL OF AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN BY IHSAN ABDUL QUDDUS: AN OVERVIEW OF FEMINISM LITERARY CRITICISM) Indah Ika Ratnawati
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.908 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v3i2.4556

Abstract

AbstractWoman Existence in The Novel of Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan by Ihsan AbdulQuddus: An Overview of Feminism Literary Criticism. Feminisme fight for two thingthat have not owned the women in general, i.e their equality with men and autonomousto decide what is good for themselves. Similary with Ihsan Abdul Quddus, raised thetheme of women who tries to break the tradition. The method used in this research isdescriptive quality by interpreting the text analysis contained in the novel of I ForgetThat I Am Woman. Starting with collection of words, written or spoken sentences relatedto the character of pro feminisme and contra feminisme. Used to find any characterthat agree with feminisme and character that against feminisme this chain of events thatled to the spirit eme of emrgence of existentialisme of feminisme. From the analysisabove that the character of contra feminisme are not only men but there also womencharacthers. Most of the characters are men who oppose Suad, but there are alsoyoung people who contra feminisme. In the novel of I Forget That I Am Woman, thecharacter into the self. From the analysis of existentialisme conducted by Suad characterhave awareness of being a high self. Suad is a woman who has always been a subjectamong the people around her and managed to be a woman who free tobe the selfwholly.Keywords: profeminisme, contrafeminisme, existentialism of feminismeAbstrakEksistensi Perempuan dalam Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan karya IhsanAbdul Quddus: Tinjauan Kritik Sastra Feminis. Feminisme memperjuangkan dua halyang selama ini tidak dimiliki kaum perempuan pada umumnya, yaitu persamaan derajatmereka dengan laki-laki dan otonom untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya.Sama halnya dengan Ihsan Abdul Quddus mengangkat tema perempuan yang mencobamendobrak tradisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatifdeskriptif dengan cara menafsirkan analisis teks yang terdapat dalam novel Aku LupaBahwa Aku Perempuan. Dimulai dengan pendataan kata-kata, kalimat tertulis ataulisan yang berkaitan dengan tokoh profeminisme dan tokoh kontrafeminisme. Digunakanmenemukan tokoh-tokoh mana saja yang setuju adanya feminism dan tokoh tidak setujuadanya feminisme rangkaian peristiwa ini yang menyebabkan munculnya semangateksistensialisme feminisme. Dari analisis di atas bahwa tokoh kontrafeminisme tidakhanya laki-laki tetapi ada juga tokoh perempuan. Kebanyakan tokohnya adalah lakilakiyang menentang Suad, tetapi ada juga tokoh anak muda yang kontrafeminisme.Dalam novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan, tokoh yang profeminisme kebanyakanlaki-laki dibanding tokoh perempuan yang menerima perempuan menjadi sang Diri.237Dari analisis eksistensialisme yang dilakukan oleh tokoh Suad memiliki kesadaranakan menjadi Diri yang sangat tinggi. Suad adalah perempuan yang selalu menjadisubjek di antara orang-orang di sekitarnya dan berhasil menjadi perempuan yangbebas untuk menjadi sang Diri seutuhnya.Kata-kata kunci: profeminisme, kontrafeminisme, eksistensialisme feminisme
REPRESENTASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KELUARGA DALAM UNGKAPAN BAHASA BANJAR (THE REPRESENTATION OF FAMILY EDUCATION VALUES IN BANJARESE IDIOM) Bahdiah Bahdiah
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 1 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.965 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v4i1.3788

Abstract

Representasi Nilai-Nilai Pendidikan Keluarga dalam Ungkapan Bahasa Banjar. Hasilpenelitian menunjukkan nilai-nilai pendidikan keluarga dalam ungkapan bahasa Banjar banyakberhubungan dengan tuntunan memilih jodoh, perkawinan dan keturunan, keharusan berbaktikepada orang tua, tata cara pergaulan sosial dan hidup merantau, kehati-hatian dalam mengelolaekonomi rumah tangga, sikap hidup realistik dan apa adanya serta perlunya sanksi hukum bagiwarga yang bersalah. Ungkapan bahasa itu merupakan cara orang Banjar untuk mempersingkatmaksud komunikasi dan untuk menyampaikan sesuatu kritik secara tidak langsng, berfungsimemberikan pendidikan bagi anak-anak, generasi muda dan warga masyarakat, memberikan kritikdan kontrol sosial, serta sebagai pedoman dan penuntun berperilaku yang baik di tengah masyarakat.Nilai-nilai pendidikan keluarga dalam ungkapan bahasa Banjar itu pada umumnya sejalan dengannilai pendidikan Islam atau ajaran Islam, dalam arti apa yang dikehendaki oleh ungkapan bahasaBanjar juga disuruh dalam Islam dan apa yang dilarang dalam ungkapan bahasa Banjar juga dilarangoleh ajaran Islam.Kata-kata kunci : nilai-nilai, pendidikan keluarga, idiom
NILAI BUDAYA DALAM TRADISI LISAN PERNIKAHAN ADAT DAYAK MAANYAN DI KALIMANTAN TENGAH (CULTURAL VALUE IN ORAL TRADITION OF DAYAK MAANYAN CUSTOMARY MARRIAGE IN CENTRAL KALIMANTAN Lelay Nangkai Puji
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.306 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v8i1.4815

Abstract

AbstractCultural Value in Oral Tradition of Dayak Maanyan Customary Marriage in Central Kalimantan.The aim of this study is to describe the implementation and the cultural values of Dayak Maanyancustomary marriage which is one of the oral tradition form of heritage in a complete processionway. This research uses descriptive qualitative method. The interactive model analysis is carriedout from the data collection, data reduction, and data verification. The research sites are located inPalangka Raya and Buntok. This research is conducted by collecting information about customarymarriage either directly or indirectly from other documents. The research data is extracted from;Interviews with three speakers who are traditional leaders in their area, with supervision, observation,and documentation. The implementation of Dayak Maanyan customary marriage consists of (1) NatasBanjang, (2) The customary law fulfillment, (3) I Wurung Jue, (4) I Gunung Pirak, and (5) Turus Tajak.The cultural value in Natas Banjang is about the relation between human and God, nature, other people,and human itself. The cultural value in customary law fulfillment is about human relation to societyand others. The cultural value in I Wurung Jue is about human relation with nature, human itself andother people. The cultural value in I Gunung Pirak is about human relation with God, nature, societyand human itself. The cultural value in Turus Tajak is about human relation with God, society and otherpeople.Key words: cultural value, oral tradition, customary marriage, dayak maanyanAbstrakNilai Budaya dalam Tradisi Lisan Pernikahan Adat Dayak Maanyan di Kalimantan Tengah.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pernikahan dan mengungkapkan nilaibudaya dalam perkawinan adat Dayak Maanyan yang merupakan salah satu bentuk tradisi lisanwarisan leluhur dengan secara lengkap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.Analisis model interaktif dilaksanakan mulai dari tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajiandata, penyimpulan data, dan verifikasi data. Lokasi penelitian berada di Palangka Raya dan Buntok.Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan informasi tentang pernikahan adat baik secara langsung102maupun tidak langsung dari dokumen yang lain. Data penelitian digali dari wawancara dengan tigaorang narasumber yang merupakan tokoh adat di wilayahnya, melalui pengamatan, observasi, dandokumentasi. Pelaksanaan perkawinan adat Dayak Maanyan terdiri dari prosesi (1) Natas Banjang,(2) Pemenuhan hukum adat, (3) I Wurung Jue, (4) I Gunung Pirak, dan (5) Turus Tajak. Adapunnilai budaya yang terkandung dalam natas banjang, yaitu tentang hubungan manusia: dengan Tuhan,dengan alam, dengan manusia, dan dengan diri sendiri, dalam pemenuhan hukum adat, yaitu tentanghubungan manusia: dengan masyarakat, dengan manusia, dan dengan diri sendiri, dalam I wurungjue, yaitu tentang hubungan manusia: dengan alam, dengan masyarakat, dan dengan manusia, dalamI gunung pirak, yaitu tentang hubungan manusia: dengan Tuhan dan dengan diri sendiri, dan dalamturus tajak, yaitu tentang hubungan manusia dengan manusia.Kata-kata kunci: nilai budaya, tradisi lisan, pernikahan adat, dayak maanyan
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERCAKAPAN PADA PERTUNJUKAN MAMANDA (CHARACTER EDUCATION VALUES IN CONVERSATION OF MAMANDA SHOW) Noor Indah Wulandari Sarbaini
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.478 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v4i2.3702

Abstract

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Percakapan pada Pertunjukan Mamanda.Penelitian ini berkenaan dengan nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam percakapan padapertunjukan mamanda.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wujud nilai pendidikankarakter dalam percakapan pada pertunjukan mamanda. Rancangan penelitian ini menggunakanmetode penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah sosiologi sastra. Adapundata, diperoleh melalui rekaman menggunakan handycame pada saat pertunjukan mamanda olehKPU kota Banjarbaru bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru pada Rabu, 2 April2014. Teknik pengumpulan data: (1) teknik perekaman berupa audiovisual, (2) pemotretan, (3)pencatatan, (4) wawancara dengan pelakon mamanda dan sutradara mamanda, (5) studi kepustakaandan analisis dokumentasi. Teknik Analisis data menggunakan metode content analysis. Temuandari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan karakter dalam mamanda terdapat13 nilai pendidikan karakter, diantaranya adalah: (1) nilai religius, (2) nilai jujur, (3) nilai disiplin,(4) nilai kreatif, (5) nilai demokrasi, (6) nilai rasa ingin tahu, (7) nilai semangat, (8) nilai cintatanah air, (9) nilai menghargai prestasi, (10) nilai bersahabat/komunikasi, (11) nilai pedulilingkungan, (12) nilai peduli sosial, dan (13) nilai tanggung jawab. Nilai karakter yang palingdominan adalah nilai tanggung jawab yang terdiri dari 8 kutipan pada seluruh adegan atau babakdalam mamanda yang berjudul Pemilihan Raya di Buana Persada Alam.Kata-kata kunci: nilai, pendidikan karakter, mamanda
SIMBOL DALAM UPACARA ADAT DAYAK NGAJU (SYMBOLS IN RITUAL TRIBE OF DAYAK NGAJU) Kuenna Kuenna
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.998 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v5i2.3724

Abstract

Simbol dalam Upacara Adat Dayak Ngaju. Upacara adat adalah bentuk kebaktian masyarakat DayakNgaju terhadap Ranying Hatalla (Tuhan), dewa-dewa, roh nenek moyang atau mahluk halus lainnya,dan dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan mahluk gaib lainnya untuk memperolehkehidupan yang sejahtera. Penelitian ini penting diteliti guna melestarikan budaya masyarakat DayakNgaju sebelum budaya itu sendiri mengalami kepunahan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan180wujud, makna, dan fungsi simbol dalam upacara adat Dayak Ngaju. Pendekatan penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif.Metodepenelitian upacara-upacara adat Dayak Ngaju ini akanmenggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu suatu model penelitian yang akan berusaha membuatgambaran secara cermat dan mendalam tentang penggunaan simbol dalam pelaksanaan upacara adatyang berlangsung. Penelitian ini berpusat pada bahasa verbal dan nonverbal yang mengandung simboldalam upacara adat Dayak Ngaju. Objek penelitian dilakukan di Kabupaten Kapuas. Berdasarkan hasilpenelitian menunjukkan bahwa upacara adat masyarakat Dayak Ngaju adalah jalan yang dilakukanuntuk berkomunikasi dengan Ranying Hatalla (Tuhan). Dari sepuluh upacara adat Dayak Ngajuterdapat beberapa simbol, yaitu 1) upacara tiwah terdapat 18 simbol, yaitu 14 nonverbal, dan 4 simbolverbal; 2) upacara perkawinan terdapat 47 simbol, yaitu 44 simbol nonverbal, dan 3 simbol verbal; 3)upacara manajah antangterdapat 12 simbol, yaitu 10 simbol nonverbal, dan 2 simbol verbal; 4) upacarakematian terdapat 9 simbol, yaitu tujuh simbol nonverbal, dan2 simbol verbal; 5) upacara mapalasterdapat 11 simbol, yaitu 10 simbol nonverbal, dan satu simbol verbal; 6) upacara kehamilan terdapatlima simbol nonverbal; 7) upacara sangiang terdapat 11 simbol, yaitu 7 simbol verbal, dan 4 simbolnonverbal, 8) upacara manetek pantan terdapat 6 simbol, 5 nonverbal dan 1 simbol verbal; 9) upacaramamapas lewu terdapat 7 simbol yang terdiri dari 5 simbol nonverbal dan 2 simbol verbal; 10) upacaralaluhan terdapat 6 simbol yang terdiri dari 5 simbol nonverbal dan 1 simbol verbal. Dalam upacararitual masyarakat Dayak Ngaju, ekspresi malahap(o lo lo lo kiuuu),behas (beras), meto(hewan) dantelur, ada dalam upacara apapun baik dalam upacara tiwah,upacara perkawinan, upacara mapalas/pengobatan, upacara manajah antang, upacara kehamilan, upacara sangiang dan bentuk-bentukupacara lain berdasarkan adat Dayak Ngaju. Malahap merupakan simbol ekspresi yang diucapkansebagai penyemangat bagi suku Dayak Ngaju. Beras dan hewan ini tidak hanya sebagai pelengkapmakanan pokok namun mempunyai makna lain.Behas (beras) merupakan simbol media komunikasiyang sangat efektif antara manusia dengan Ranying Hatalla (Tuhan). Adapun darah hewan yangbiasanya digunakan, yaitu babi, kerbau, dan ayam. Darah binatang ini biasanya digunakan untukmamalas atau menetralisir hal-hal yang berbau tidak baik. Darah ini melambangkan hubungan antarmakhluk, antarmanusia dan fungsinya untuk mendinginkan atau menetralisir, sedangkan telur dalamsetiap upacara adat adalah lambang hubungan antarmakhluk juga sebagai simbol kedamaian danketentraman.Kata-kata kunci: simbol, upacara adat
POLIGAMI DAN PERUBAHAN PSIKOLOGIS TOKOH ARINI DALAM NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN KARYA ASMA NADIA (POLYGAMY AND PSYCHOLOGICAL CHANGES OF ARINI IN THE NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN BY ASMA NADIA) Hernina Hernina
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 1 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4758.566 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v6i1.3735

Abstract

Poligami Dan Perubahan Psikologis Tokoh Arini Dalam Novel Surga Yang Tak Dirindukan Karya Asma Nadia. Poligami merupakan sistem perkawinan yang salah satu pihaknya (suami) memiliki beberapa pasangan dalam waktu yang bersamaan. Permasalahan mengenai poligami dapat menimbulkan dampak-dampak maupun konflik-konflik yang berkaitan langsung dengan psikologis wanita yang mengalaminya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan bentuk perubahan psikologis tokoh Arini, (2) memaparkan konflik yang dialami tokoh Arini dengan tokoh lain, dan (3) menjelaskan pandangan tokoh Arini terhadap poligami di dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sumber data yang digunakan berasal dari teks novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia setebal 308 halaman. Data dalam penelitian ini adalah data yang berwujud keseluruhan teks yang terdapat dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah penulis sendiri. Namun peneliti membuat kisi-kisi sebagai bentuk instrumen yang menunjang kelancaran kerga peneliti dan untuk menjaga objektivitas data. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode heuristik dan hermeneutik. Hasil penelitian ini adalah berdasarkan analisis bentuk perubahan psikologis tokoh Arini dibagi menjadi id, ego, dan super ego. Bentuk id meliputi (1) sosok Arini yang menyesali perubahan bentuk fisik yang terjadi pada dirinya, bentuk super ego meliputi (1) sosok Arini yang terpuruk ketika mengetahui dirinya telah dipoligami dan (2) sosok Arini yang bangkit dari keterpurukan akibat dipoligami, sedangkan bentuk ego meliputi (1) sosok Arini yang tegar saat mengambil keputusan akhir mengenai rumah tangganya. Berdasarkan hasil analisis konflik tokoh Arini dengan dengan tokoh lain, yaitu konflik ketika Arini mengetahui Pras menikah lagi (konflik batin), konflik ketika Arini setelah bertemu dengan Pras (konflik langsung), konflik ketika Arini sebelum bertemu Mei Rose (konflik batin), dan konflik Arini setelah bertemu dengan Mei Rose (konflik langsung). Berdasarkan hasil analisis mengenai pandangan tokoh Arini mengenai poligami, dapat disimpulkan bahwa Arini bukan tokoh yang menentang poligami asalkan ia memang memiliki kekurangan yang bisa dijadikan sebab bagi suaminya untuk berpoligami.Kata-kata kunci: poligami, id, ego, super ego, konflik batin
KESANTUNAN DIREKTIF DALAM TETRALOGI LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA (DIRECTIVE POLITENESS IN LASKAR PELANGI TETRALOGY BY ANDREA HIRATA) Candra Purnomo
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 2 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.362 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v6i2.3752

Abstract

Kesantunan Direktif dalam Tetralogi Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Kesantunan merupakanaturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehinggakesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Selain itu, kesantunanjuga diperlukan dalam tindak tutur direktif agar terhindar dari konflik-konflik. Dalam penelitian inibertujuan untuk mendeskripsikan 1) wujud kesantunan direktif, 2) strategi kesantunan direktif, dan3) fungsi kesantunan direktif dalam tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Pendekatan yangdigunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah deskriptif200kualitatif. Sumber data dari penelitian ini berasal dari teks novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi,Edensor, dan Maryamah Karpov karya Andrea Hirata. Data-data tuturan kesantunan direktif diperolehdari studi pustaka dan wawancara. Teknik data yang digunakan adalah analisis isi.Tahap analisisdata, yakni (a) pengumpulan data, (b) reduksi data, (c) penyajian data, (d) penyimpulan/verifikasi.Peneliti menjadi instrumen utama dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukanwujud kesantunan direktif dalam tetralogi Laskar Pelangi meliputi tiga kaidah yaitu kaidah formalitas,kaidah ketidaktegasan, kaidah persamaan atau kesekawanan. Kemudian ada 6 strategi kesantunandirektif dalam tetralogi Laskar Pelangi yang muncul antara lain: strategi imperatif, strategi pernyataankeharusan, strategi sindiran, strategi pertanyaan, strategi isyarat halus, dan strategi permintaan. Fungsikesantunan direktif dalam tetralogi Laskar Pelangi yaitu:1) fungsi pernyataan, 2) fungsi pertanyaan,3) fungsi memerintah, 4) fungsi meminta maaf, dan 5) fungsi mengkritik. Saran untuk penelitianselanjutnya, diharapkan hasil dari penelitian ini dapat membantu membina kesantunan yang berlakudi masyarakat secara umum. Hasil penelitian ini bisa menjadi salah satu acuan dalam penelitiankesantunan selanjutnya. Serta, hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembelajaran sastra disekolah.Kata-kata kunci: kesantunan direktif, wujud, strategi, fungsi
EKSPRESI NILAI FILOSOFIS “ABANTAL OMBAK ASAPO’ ANGIN” DALAM SASTRA MADURA (KAJIAN ANALISIS SEMANTIK KOMPONENSIAL RUTH KEMPSON) (THE EXPRESSION OF PHILOSOPHICAL VALUES “ABANTAL OMBAK ASAPO’ ANGIN” IN MADURA LITERATURE (THE STUDY OF RUTH KEMPSON COMPONENTIAL SEMANTICS ANALYSIS) Moh Fatah Yasin
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v7i1.3768

Abstract

Ekspresi Nilai Filosofis “Abantal Ombak Asapo’ Angin dalam Sastra Madura (Kajian AnalisisSemantik Komponensial Ruth Kempson). Tempaan-tempaan hidup menyebabkan masyarakatMadura mempunyai nilai filosofis tersendiri tentang hubungannya dengan hakikat hidup. Bagi ManusiaMadura hidup adalah sulit, tetapi manusia dapat mengusahakan menjadikan hidup ini sebagai suatuhal yang baik dan menggembirakan.Kata-kata kunci: pandangan hidup, sastra madura modern

Page 9 of 30 | Total Record : 295


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 1 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 2 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 1 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 1 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 2 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 2 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 2 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 1 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 1 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 1 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) More Issue