cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Biologi Tropis
Published by Universitas Mataram
ISSN : 14119587     EISSN : 25497863     DOI : -
Jurnal Biologi Tropis (ISSN Cetak 1411-9587 dan ISSN Online 2549-7863) diterbitkan mulai tahun 2000 dengan frekuensi 2 kali setahun oleh Program Studi Pendidikan Biologi PMIPA FKIP Universitas Mataram, berisi hasil penelitian dan ulasan Ilmiah dalam bidang Biologi Sains.
Arjuna Subject : -
Articles 2,562 Documents
PENGARUH KEPADATAN SPAT KERANG MUTIARA (PINCTADA MAXIMA) DENGAN METODE LONGLINE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP Muhammad Junaidi; Zaenal Ahmad; Baiq Hilda Astriana
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.875 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i2.1273

Abstract

Abstrak : Penelitian kepadatan spat kerang mutiara yang dipelihara di alam perlu terus dilakukan karena belum ada patokan tingkat kepadatan yang sesuai untuk usaha komersial. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh kepadatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup spat kerang mutiara (Pinctada maxima).  Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan, yakni perlakuan A (60 ind/poket), B (75 ind/poket), C (90 ind/poket), D (105 ind/poket), dan perlakuan E (120 ind/poket). Ukuran spat yang digunakan rata-rata 1 cm pada poket (keranjang pemeliharaan) 45x60 cm2. Hasil penelitian selama 45 hari menunjukan bahwa pertumbuhan pada semua perlakuan tidak berbeda nyata, namun pertumbuhan terbaik dengan nilai 0,70 cm untuk pertumbuhan mutlak dan 0,69% untuk laju pertumbuhan harian dimiliki oleh kepadatan yang rendah yakni 60 ind/poket, disusul oleh perlakuan lainnya seperti perlakuan B,C,D, dan E. Hasil uji ANOVA, SR didapatkan hasil persentase yang berbeda nyata, yakni terdapat pada perlakuan A (60 ind/poket) dengan nilai SR 90,44% dan pada perlakuan E (120 ind/poket) dengan nilai SR 74,44%. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa padat penebaran yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan spat kerang mutiara, namun berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup (SR) spat kerang mutiara (Pinctada maxima) yang dipelihara selama 45 hari.Kata kunci : Pertumbuhan, kelangsungan hidup, spat, Pinctada maximaAbstract : The study of pearl shell spat density maintained in nature needs to be continued because there is no standard level of density suitable for commercial businesses. Therefore a study was conducted with the aim of knowing the effect of density on growth and survival rate of pearl oyster spat (Pinctada maxima). The method used is Randomized Block Design (RBD) consisting of 5 treatments and 3 replications, namely treatment A (60 ind / pocket), B (75 ind / pocket), C (90 ind / pocket), D (105 ind / pocket) ), and treatment E (120 ind / pocket). The size of the spat used was 1 cm on the pocket (maintenance basket) 45x60 cm2. The results of the 45-day study showed that growth in all treatments was not significantly different, but the best growth was 0.70 cm for absolute growth and 0.69% for the daily growth rate owned by a low density of 60 ind / pocket, followed by treatment others such as treatment B, C, D, and E. The results of the SR ANOVA test showed that the percentage results were significantly different, which were found in treatment A (60 ind / pocket) with SR values of 90.44% and in treatment E (120 ind / pocket) with an SR of 74.44%. Based on the results of the study, it was concluded that the different stocking densities had no significant effect on the growth of pearl shell spat, but significantly affected the survival rate (SR) of pearl shell spat (Pinctada maxima) which was maintained for 45 days.Keywords: growth, survival rate, spat, Pinctada maxima.
POTENSI KENIKIR (COSMOS CAUDATUS) SEBAGAI LARVASIDA NYAMUK AEDES AEGYPTI INSTAR IV November Rianto Aminu; Alfon Pali; Sri Hartini
Jurnal Biologi Tropis Vol. 20 No. 1 (2020): Januari - April
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.381 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v20i1.1489

Abstract

Abstrak: Resistensi temephos (abate) sebagai larvasida telah terjadi di Jawa Tengah sejak tahun 2007 dan ditahun 2017 Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus DBD terbanyak ketiga secara nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ekstrak daun kenikir (Cosmos caudatus) sebagai larvasida pengganti temephos. Proses penelitian dimulai dengan ekstraksi fraksinasi, kemudian dilanjutkan dengan screening fitokimia dan uji larvasida menggunakan metode yang direkomendasikan oleh WHOPES dengan mengamati mortalitas larva nyamuk A. aegypti pada jam ke 24, 48 dan 72 pada berbagai konsentrasi larutan uji (600, 800, 1000, 1200, 1400, 1600, dan 1800 ppm). Data mortalitas larva dianalisis dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) subsampling. Perbandingan antar perlakuan diuji dengan uji Beda nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kebermaknaan 5%. Analisa probit pada data mortalitas menghasilkan nilai dosis efektif LC50. Hasil penelitian menunjukan diantara ketiga fraksi, ekstrak kenikir fraksi heksan memiliki efek larvasida terbaik (mortalitas 71,67%) dengan LC50 sebesar 1762 ppm pada waktu paparan 72 jam. Golongan senyawa kimia yang menyebabkan efek larvasida ini adalah alkaloid, terpenoid, dan flavonoid. Walaupun ekstrak fraksi heksan tanaman ini memiliki efek larvasida, potensi pengembangan tanaman ini sebagai pengganti temepos kecil dikarenakan nilai LC50 yang tinggi pada waktu paparan yang lama.Kata kunci: Larvasida; temephos; resistensi; Cosmos caudatus; potensiAbstract: Temephos resistance as larvicide has occurred in Central Java since 2007 and in 2017 Central Java was recorded as the 3rd highest dengue cases in Indonesia. Hence, this study attempts to use extract of Cosmos caudatus as temephos substitute. The study start with fraction extraction of dried C. caudatus leaf followed by phytochemical screening of the extract and larvicide assay was carried out using method recommended by WHOPES by observing the mortality of A. aegypti larvae at 24, 48, and 72 hours on various extract concentration (600, 800, 1000, 1200, 1400, 1600, and 1800 ppm). The mortality data was analyzed using Randomized Block Design (RBD) subsampling (P<0,05). Probit analysis on mortality data result in the LC50. The result showed the most effective fraction is hexane fraction (mortality 71,67%) with LC50 ­1762 ppm at 72 hours exposure time. The active compound in the hexane fraction were alkaloid, terpenoids, and flavonoids. Even though the hexane fraction extract has the most larvicidal effect, this extract has low potential to developed as replacement to temephos because the LC50 was high and longtime exposure  Keywords: Larvicide; temephos; resistance; Cosmos caudatus; potential
STRUKTUR KOMUNITAS KARANG KERAS (SCLERACTINIA) DI ZONA INTERTIDAL PANTAI MANDALIKA LOMBOK TENGAH Siti Nurhaliza; Muhlis Muhlis; Imam Bachtiar; Didik Santoso
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v19i2.1390

Abstract

Abstrak: Zona intertidal merupakan daerah pantai yang terletak antara pasang tertinggi dan surut terendah. Salah satu ekosistem yang terdapat di kawasan intertidal adalah ekosistem terumbu karang. Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan bagi berbagai biota laut sehingga keberadaannya sangat penting, baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Pantai Mandalika memiliki ekosistem terumbu karang dengan zona intertidal yang cukup luas. Pesatnya perkembangan wisata di Pantai Mandalika secara tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan terumbu karang. Penelitian ini dilakukan untuk menyediakan data dan informasi terkini mengenai kondisi keanekaragaman karang keras di zona intertidal Pantai Mandalika yang mencakup komposisi spesies, famili dan bentuk pertumbuhan, serta indeks ekologi (indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi spesies). Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2019 selama periode surut terendah di kawasan intertidal. Metode yang digunakan yaitu metode Underwater Photo Transect (UPT). Hasil penelitian ini menemukan 30 spesies karang keras yang termasuk dalam 8 famili di zona intertidal Pantai Mandalika. Favites paraflexuosa adalah spesies yang paling banyak ditemukan di daerah tersebut dengan persentase 22%. Famili Faviidae (79%) memiliki persentase terbesar di semua transek. Ada 5 jenis bentuk pertumbuhan karang keras di daerah yang 87% di antaranya adalah bentuk karang masif. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener adalah 2,5 dengan indeks keseragaman 0,8, dan indeks dominansi 0,1.Kata kunci: komunitas, terumbu karang, zona intertidal, keanekaragaman, Pantai Mandalika.Abstract: The intertidal zone is a coastal area located between the highest and lowest tides. One of the ecosystems in the intertidal area is the coral reef ecosystem. The coral reef is one of the marine ecosystems which is a source of life for various marine biota so that its existence is very important, both in ecological and economic terms. Mandalika Beach has a coral reef ecosystem with a fairly extensive intertidal zone. The rapid development of tourism in Mandalika Beach will indirectly affect the life of coral reefs. This research to provide data for the existing condition of hard corals diversity in the area for better understanding of future research. This research covers the species, family and life form composition, and ecologycal indices (diversity, species equitability, and dominance indices). The research was conducted on June 2019 during the lowest tide period and carried out with a Underwater Photo Transect (UPT) method. The results revealed that Mandalika’s Intertidal Zone had 30 species of hard corals that belongs to 8 families. Favites paraflexuosa was the most abundant coral in the area with 22% of community composition. The Faviidae family (79%) had the largest percentage in all transects. There were 5 type life forms of hard corals in the area which 92% of them were coral massive type. The Shannon-Wiener diversity index score was 2.5 with equitability index 0.8, and dominance index is 0.1. Keywords: community coral reef, intertidal zone, diversity, Mandalika Beach.
KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN BIOLOGI REPRODUKSI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus, Cuvier 1829) DI PERAIRAN SELAT SUNDA Lindawati Lindawati; Achmad Fahrudin; Mennofatria Boer
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v19i2.1293

Abstract

Abstrak : Ikan kuniran termasuk jenis ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis. Tingginya permintaan terhadap ikan kuniran akan menyebabkan intensitas penangkapan terhadap ikan tersebut semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek pertumbuhan dan biologi reproduksi ikan kuniran.  Pengambilan sampel dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten dan dilakukan pada bulan Mei-Oktober 2018.  Metode pengumpulan sampel dilakukan melalui pendekatan penarikan contoh acak sederhana.  Total ikan contoh yang diperoleh selama penelitian berjumlah 620 ekor yang terdiri dari 297 ekor ikan jantan dan 323 ekor ikan betina.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan kuniran bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,9109 dan panjang berkisar antara 71-188 mm.   Hasil analisis nisbah kelamin menunjukkan bahwa ikan jantan dan betina dalam kondisi yang tidak seimbang (dengan nilai perbandingan 1:1,09) atau didominasi ikan betina. Musim pemijahan diduga terjadi selama periode pengamatan dengan puncak pemijahan terjadi pada bulan Juli dan Oktober. Tipe pemijahan ikan kuniran adalah total spawner.  Ikan kuniran diduga pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 130,35 mm untuk ikan jantan dan 138,69 mm untuk ikan betina.  Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk merumuskan pengelolaan sumber daya ikan kuniran yang tepat dan berkelanjutan.Kata Kunci : Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus), Pertumbuhan, Reproduksi, Selat Sunda Abstract : Sulphur goatfish is considered a demersal fish with economic value. The high demand for sulphur goatfish will increase the fishing intensity for this fish. This study aims to analyze growth and reproductive biology aspects of sulphur goatfish. Sampling was carried out at the Coastal Fishing Port (PPP) at Labuan, Banten in May-October 2018. Sample collection was done through a simple random sampling approach. Total fish samples collected during the study are 620, consisted of 297 males and 323 females. Results showed that the growth patterns of sulphur goatfish were negative allometric with b value of 2,9109 and lengths ranging from 71-188 mm. Sex ratio analysis showed that male and female were in an unbalanced condition (with a ratio of 1: 1.09), dominated by female fish. The spawning season is suspected to occur during the observation period with spawning peaks occurring in July and October. The spawning type of sulphur goatfish is total spawner. Sulphur goatfish was suspected to reach first gonads maturity at a length of 130.35 mm for male fish and 138.69 mm for female fish. The results of this study could be considered to formulate appropriate and sustainable management of sulphur goatfish resources.Keywords : Sulphur Goatfish (Upeneus sulphureus), Growth, Reproduction, Sunda Strait
BIOLOGI REPRODKSI IKAN KEMBUNG (RASTRELLIGER BRACHYSOMA BLEEKER, 1851) DI TELUK STARING, SULAWESI TENGGARA Sudarno Sudarno; La Anadi La Anadi; Asriyana Asriyana
Jurnal Biologi Tropis Vol. 20 No. 1 (2020): Januari - April
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.832 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v20i1.1676

Abstract

Abstrak: Biologi reproduksi suatu organisme merupakan salah satu informasi penting dalam upaya pengelolaan sumberdaya perairan. Penelitian biologi reproduksi ikan kembung (Rastrelliger brachysoma) di Teluk Staring, Sulawesi Tenggara dilakukan dari bulan Maret sampai Juli 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biologi reproduksi ikan kembung yang meliputi tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), dan ukuran pertama kali matang gonad. Koleksi ikan menggunakan alat tangkap jaring insang permukaan bermata jaring 2 dan 2 ¼ inci. Kematangan gonad ikan diamati berdasarkan morfologi gonad yaitu bentuk, warna, dan bobot gonad. Sebanyak 215 individu ikan kembung tertangkap dengan kisaran panjang 206-297 mm dan bobot 110,0-366,0 g. IKG ikan jantan dan betina tertinggi ditemukan saat bulan Maret (1,80 dan 2,22) dan Mei (1,77 dan 1,91). Ukuran pertama kali matang gonad ikan jantan dan betina terjadi saat berukuran panjang 247 mm dan 239 mm. Penelitian ini mengindikasikan bahwa puncak pemijahan ikan kembung (R. brachysoma) di perairan Teluk Staring terjadi saat bulan Maret dan Mei.Kata kunci: Reproduksi, kembung, musim pemijahan, Teluk Staring, Sulawesi TenggaraAbstract: Reproduction biology of organism is one of information for aquatic resources management. Research on the biology of short mackerel reproduction (Rastrelliger brachysoma) in Gulf of Staring, Southeast Sulawesi was conducted from March to July 2018. The objective of this research was to describe aspects of the reproductive biology of short mackerel such as gonadal maturation, gonadosomatic index, and length at first maturity (Lm50). Fish collection was done using gillnets (with mesh sizes of 2 and 2¼ inches). The gonadal maturation of fish was determined morphologically by comparing the shape, size, color, and gonad weight. A total of 215 individual fish were caught with ranging 206-297 mm in length and 110.0-366.0 g in weight. The gonadosomatic index of male and female were found in March (1.80 and 2.22) and May (1.77 and 1.91), while length at first maturity (Lm50) of male and female were 239 mm and 247 mm, respectively. This research indicates that the peak of short mackerel spawning in Gulf of Staring waters occurred during March and May.Keywords: Reproduction; short mackerel; spawning season; Gulf of Staring, Southeast Sulawesi
KOMPARASI KELIMPAHAN SERANGGA DI KAWASAN RAWA YANG DIKONVERSI DI JALAN SOEKARNO HATTA PALEMBANG Novin Teristiandi
Jurnal Biologi Tropis Vol. 20 No. 1 (2020): Januari - April
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.564 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v20i1.1557

Abstract

Abstrak: Kegiatan alih fungsi lahan basah banyak terjadi di kecamatan Ilir barat I sekitar jalan soekarno hatta Palembang. Aktivitas alih fungsi lahan ini dapat menghilangkan dan merusak habitat bagi biodiversitas khususnya serangga di area tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman dan kelimpahan serangga yang ada di kawasan jalan Soekarno Hatta Palembang. Penelitian ini menggunakan metode survei, yaitu penyelidikan yang dilakukan untuk memperoleh sata dari kondisi yang ada dan mencari keterangan secara faktual dari suatu daerah. Hasil penelitian ini ditemukan 109 spesies, 56 famili dan 10 ordo. Berdasarkan jumlah spesies dari masing-masing lokasi/stasiun survei menunjukan bahwa di ST 1 (rawa alami) ditemukan 77 spesies, ST 2 (rawa yang telah ditimbun) ditemukan 53 spesies, ST 3 (rawa yang telah dijadikan pemukiman) ditemukan 50 spesies, dan ST 4 (rawa yang telah dibangun perukoan) ditemukan 57 spesies serangga. Rawa alami memiliki keanekaragaman dan kelimpahan serangga tertinggi, sedangkan lahan rawa yang telah di konversi menjadi pemukiman memiliki keanekaragaman dan kelimpahan terendah. Hasil penelitian membuktikan bahwa alih fungsi lahan rawa mempengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan serangga di kawasan jalan Soekarno Hatta Palembang.Kata kunci: keanekaragaman, kelimpahan, serangga, sumatera, rawaAbstract: Wetland conversion activities occur mostly in Ilir Barat I sub-district around the Soekarno Hatta Road in Palembang. This land conversion activity can eliminate and destroy habitat for biodiversity, especially insects in the area. This research was conducted to study the diversity and abundance of insects in the Soekarno Hatta Palembang road area. The research method used in this study is a survey method, which is an investigation carried out to obtain data from the area. The results of this study found 109 species, 56 families and 10 orders. Based on the number of species from each survey location / station, it was found that in ST 1 (natural swamp) was found 77 species, ST 2 (stockpiled swamp) was found 53 species, ST 3 (swamp which had been made a settlement) was found 50 species, and ST 4 (swamps that have been built by shop houses) was found 57 species. ST1 have the highest diversity and abundance of insects, while ST3 have the lowest diversity and abundance. The results of the study prove that the conversion of swamp land has an effect on diversity and abundance of insects in Soekarno Hatta road, Palembang.Keywords:  diversity, abundance, insects, Sumatera, swamps
DAYA RAMBAN (GRAZING) IKAN BARONANG (SIGANUS GUTTATUS) YANG DIPELIHARA DENGAN RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS ALVAREZII DI PERAIRAN TANJUNG TIRAM, KABUPATEN KONAWE SELATAN Rezki Amalyah; Ma'ruf Kasim; Muhammad Idris
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.401 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i2.1075

Abstract

Abstrak: Serangan Hama dan penyakit merupakan penyebab terganggunya pertumbuhan rumput laut sehingga menyebabkan menurunnya produksi rumput laut. Salah satu hama dalam rumput laut adalah ikan baronang (Siganus guttatus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat perambanan S. guttatus terhadap rumput laut K. alvarezii dengan kepadatan berbeda. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2018 di areal budidaya rumput laut perairan Desa Tanjung Tiram, Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode rakit jaring apung sebanyak 3 buah dengan ukuran 440 x 100 x 50 cm. Rakit dibagi menjadi empat petak serta diberi label. Dalam masing-masing petak dibudidayakan rumput laut K. alvarezii dengan berat awal 100 g per rumpun dimana masing-masing unit percobaan dibedakan berdasarkan padat tebar 600 g/m2, 900 g/m2 dan 1200 g/m2. Pada setiap pengambilan data grazing (daya ramban)  ikan baronang dalam wadah rakit apung ditebar 1 ekor ikan baronang dengan bobot sama sebesar 135 g. Selama 21 hari penelitian, grazing ikan baronang tertinggi berada pada kepadatan 1200 g/m2  sebesar  -23,58% dan yang terendah pada kepadatan 600 g/m2sebesar -12,4%.Kata Kunci : Grazing, Ikan Baronang, Rumput laut, Rakit Jaring ApungAbstract: Pest and disease attacks are a cause of disruption of seaweed growth, which causes a decrease in seaweed production. One pest in seaweed is baronang fish (Siganus guttatus). The aim of this study is to determine grazing rate of S. guttatus on K. alvarezii seaweed with different densities. The study was conducted in January 2018 in the area of seaweed cultivation in the waters of Tanjung Tiram village, South Konawe Regency. The total of plots in one unit of floating cage was three plots pieces measuring 440 x 100 x 50 cm. Raft is divided into four plots and labeled. In each plot cultivated K. alvarezii seaweed with an initial weight of 100 g per clump where each experimental unit is differentiated based on stocking density of 600 g / m2, 900 g / m2 and 1200 g / m2. At each grazing data collection (drilling power) Baronang fish in floating raft containers were stocked with one Baronang fish with the same weight of 135 g. During maintenance, Baronang fish is given commercial feed as much as 5% of body weight. As for the 21 days of research, the highest Baronang fish grazing is at a density of 1200 g / m2 at -23.58% and the lowest at a density of 600 g / m2 at -12.4%.Keywords: Grazing, Baronang fish, seaweed, floating cage 
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA MINYAK ASIRI DAGING BUAH DAN FULI BERDASARKAN UMUR BUAH PALA (MYRISTICA FRAGRANS HOUTT) Angreni B. Liunokas; Ferry F. Karwur
Jurnal Biologi Tropis Vol. 20 No. 1 (2020): Januari - April
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.907 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v20i1.1651

Abstract

Abstrak: Pala (Myristica fragrans Houtt) sebagai bioreaktor hayati menghasilkan produk utama minyak asiri bernilai ekonomi tinggi yang tersebar pada bagian-bagian buahnya. Minyak asiri pala tersusun oleh kelompok besar terpenoid dan fenilpropanoid yang memiliki konsentrasi terkecil namun sebagai indikator mutu minyak pala. Penelitian tentang isolasi dan identifikasi komponen kimia minyak asiri daging buah dan fuli pala, telah dilaksanakan di Laboratorium CARC UKSW Salatiga dan Laboratorium Terpadu UII Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen kimia minyak asiri daging buah dan fuli pala berdasarkan tahapan perkembangan buah dan isolasi miristisin sebagai indikator dari kualitas minyak pala. Minyak asiri diperoleh dengan metode ekstraksi kemudian di analisis komponennya menggunakan Kromatografi Gas Spektrometri Massa (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen kimia terbesar dari minyak asiri daging buah pala secara berturut-turut yaitu tahap pertama miristisin 36.05% pada retensi 11.57 menit, tahap kedua dan keempat α-pinen 39.16%; 34.64% retensi 3.53 menit, tahap ketiga sabinen 33.88% pada retensi 3.99 menit. Sedangkan pada minyak fuli tahap pertama hingga keempat yaitu sabinen 38.72%; 37.51%; 36.24%; 28.93% pada waktu retensi 3.99. Berdasarkan analisis GC-MS menunjukkan bahwa komponen senyawa yang dominan pada daging buah dan fuli yaitu miristisin, sabinen, α-pinen, β-pinen yang berkontribusi bagi aroma khas pada pala. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi penting dalam menghasilkan minyak asiri dengan kualitas baik dengan kandungan miristisin terbanyak.Kata Kunci : M. fragrans Houtt; isolasi; daging buah, fuli, minyak asiriAbstract: Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) as a natural bioreactor produces the main product that is aetheric oil with a high economic value which is scattered on the parts of the fruit. Aetheric oil consists of a big group of terpenoid and phenylpropanoid which has the smallest concentration but functions as the indicator of nutmeg oil quality. The research about isolation and identification of chemical components of aetheric oil of pulp and mace has been conducted in CARC Laboratory of UKSW Salatiga and Integrated Laboratory of UII Yogyakarta. This current research aims at knowing the components of aetheric oil of nutmeg pulp and mace based on the development stages of the fruit and myristicin isolation as the indicator of the quality of nutmeg oil. Aetheric oil is formed by the extraction method. Then the components are analyzed by using Mass Spectrometry Gass Chromatography (GC-MS). The result of the research shows that respectively the biggest chemical component of aetheric oil consists of the first stage myristicin 36.05% on retention 11.57 minutes, second stage and fourth stage α-pinene 39.16%; 34.64% on retention 3.53 minutes, the third stage sabinene 33.88% on retention 3.99 minutes. Meanwhile on the mace oil, the first to the fourth stage is sabinene 38.72%; 37.51%; 36.24%; 28.93% on retention 3.99. Based on the analysis of GC-MS, it is shown that the most dominant compound components of pulp and mace are myristicin, sabinene, α-pinene, and β-pinene which contribute to the typical scent of nutmeg. The result of the research is expected to be used as an important information source in resulting in aetheric oil with good quality with the most myristicin content.Keywords: Myristica fragrans Houtt; isolation; pulp, mace, aetheric oil
EFEK KERAGAMAN TIPE HABITAT TERHADAP STRUKTUR POPULASI DAN MORFOMETRIK ABALON HALIOTIS ASININA LINNAEUS, 1758 Ermayanti Ishak; Isdradjad Setyobudiandi; Fredinan Yulianda; Mennofatria Boer; Bahtiar Bahtiar
Jurnal Biologi Tropis Vol. 20 No. 1 (2020): Januari - April
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.047 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v20i1.1484

Abstract

Abstrak:  Abalon (H.asinina) adalah kelompok gastropoda laut bernilai komersial dan tersebar di perairan Soropia Sulawesi Tenggara.  H. asinina menyukai tipe habitat khusus, seperti habitat berbatu yang ditumbuhi alga dan habitat padang lamun. Bokori dan Toronipa mewakili 2 tipe habitat khusus tersebut yang lokasinya berada di perairan Soropia. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan populasi abalon (H. asinina) pada habitat yang berbeda melalui hubungan dimensi morfometrik, faktor kondisi, dan komposisi kelompok ukuran. Data pertumbuhan dianalisis dengan persamaan regresi non linier menggunakan program data analisis dalam MS. Excel 2010. Hubungan antara L dengan Wt dan L dengan Lc di 2 lokasi menunjukkan hubungan yang positif dan kuat (R2 < 70%), sedangkan hubungan antara L dengan dimensi lainnya seperti Bc, Tc, Lc, dan Vc menunjukkan hubungan yang lemah.  Pola pertumbuhan di Bokori terdiri atas pertumbuhan isometrik dan alometrik negatif, sedangkan Toronipa, pola pertumbuhannya alometrik negatif.   Faktor kondisi rata-rata berfluktuasi setiap bulan dengan nilai tertinggi di Bokori. Perairan Bokori didominasi oleh persentase kelompok juvenil sebesar 52.22% pada kelas ukuran 27.4-49.62 mm. Toronipa didominasi oleh persentase kelompok dewasa sebesar 66.67% pada kelas ukuran 50.62-84.42 mm. Keragaman tipe habitat memengaruhi parameter pertumbuhan abalon (H.asinina). Hasil penelitian diharapkan menjadi informasi penting bagi upaya merumuskan pengelolaan sumber daya abalon yang tepat.Kata Kunci: Keragaman Habitat, Pertumbuhan, H. asinina, Morfometrik, Struktur PopulasiAbstract: Abalone (Haliotis asinina) is a marine gastropod which has commercial value. Abalone spread in the waters of Soropia, Southeast Sulawesi.  H. asinina likes special habitat types, such as rocky habitats overgrown with algae and seagrass habitats. Bokori and Toronipa represent these two special habitat types which are located in Soropia waters. The study aims to assess the growth of abalone (H. asinina) populations in different habitats through the relationship of morphometric dimensions, condition factors, and composition of size groups.  Growth data were analyzed by non-linear regression equations using data analysis programs in MS. Excel 2010.  The relationship between L with Wt and L with Lc at 2 locations shows a positive and strong relationship (R2 <70%), while the relationship between L and other dimensions such as Bc, Tc, Lc, and Vc shows a weak relationship.  Growth patterns in Bokori consist of isometric and allometric negative growths, while Toronipa, the pattern of negative allometric growth. The average condition factor fluctuates in each month of observation and the highest in Bokori.  Bokori waters are dominated by percentage of juvenile groups of 52.22%  in the size class of 27.4-49.62 mm. Toronipa is dominated by adult or broodstock abalone of 66.67% in the size class of 50.62-84.42 mm.  Toronipa is dominated by the percentage of the adult group at 66.67% in the size class of 50.62-84.42 mm. The diversity of habitat types affects the growth parameters of abalone (H.asinina).  The results of study are expected to be important information for efforts to formulate appropriate abalone resource management.Keywords: Diversity of Habitat, Growth, H. asinina, Morphometric, Population structure
KOMPONEN SARGASSUM AQUIFOLIUM SEBAGAI HORMON PEMICU TUMBUH UNTUK EUCHEUMA COTTONII Nunik Cokrowati; Nanda Diniarti
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.697 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i2.1107

Abstract

Abstrak: Sargassum aquifolium merupakan alga coklat dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas pembungkus makanan, bahan baku makanan, farmasi serta kosmetik. Tujuan artikel ini adalah untuk mengkaji komponen yang dimiliki Sargassum aquifolium dan berpotensi sebagai hormon pemicu tumbuh untuk Eucheuma cottonii. Metode yang digunakan pada penulisan artikel ini adalah studi pustaka yang berasal dari google scholar, Elsevier dan academia. Informasi yang diperoleh selanjutnya disintesis dan dibuat formulasi rumusan kesimpulan. Data kualitatif yang digunakan pada artikel ini adalah hasil analisis berbagai referensi terkait dengan review yang disusun. Hasil sintesis yang diperoleh menerangkan bahwa Sargassum aquifolium mengandung karbohidrat (59,51%), lemak (8,41%), Ca (3,34%), Fe (0,12%), P (0,18%) Fe (0,12%), Ca (3,34%), air (12,79%), abu (12,79%), N (7.22%). Komponen yang ada pada Sargassum aquifolium tersebut, berpotensi sebagai fitohormon yang dapat digunakan sebagai pemicu tumbuh pada Eucheuma cottonii.Kata kunci: ekstrak, alga coklat, fitohormon, pertumbuhan, rumput laut.  Abstract: Sargassum aquifolium is brown algae and can be used as raw material for food wrapping paper, food raw materials, pharmaceuticals, and cosmetics. The objective of this study is to review articles that study the components possessed by Sargassum aquifolium and potentially as a growth trigger hormone for Eucheuma cottonii.  The method used in writing this article is a descriptive literature study from google scholar, Elsevier, and Academia. The qualitative data used in this article is the result of the analysis of various references related to the reviews prepared. Based on the synthesis of the article study, it was explained that Sargassum aquifolium contained carbohydrates (59.51%), fat (8.41%), Ca (3.34%), Fe (0.12%), P (0.18%) Fe (0.12%), Ca (3.34%), water (12.79%), ash (12.79%), N (7.22%). The components in Sargassum aquifolium have the potential as a phytohormone which can be used as a growth trigger for Eucheuma cottonii.Keywords: extract, brown algae, phytohormone, growth, seaweed.

Page 16 of 257 | Total Record : 2562


Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret Vol. 25 No. 4a (2025): Special Issue Vol. 25 No. 4 (2025): Oktober-Desember Vol. 25 No. 4b (2025): Special Issue Vol. 25 No. 3 (2025): Juli-September Vol. 25 No. 2 (2025): April-Juni Vol. 25 No. 1 (2025): Januari - Maret Vol. 24 No. 4 (2024): Oktober - Desember Vol. 24 No. 3 (2024): July - September Vol. 24 No. 2b (2024): Special Issue Vol. 24 No. 2 (2024): April - Juni Vol. 24 No. 1 (2024): Januari - Maret Vol. 24 No. 1b (2024): Special Issue Vol. 23 No. 4 (2023): October - December Vol. 23 No. 3 (2023): July - September Vol. 23 No. 2 (2023): Special Issue Vol. 23 No. 2 (2023): April-June Vol. 23 No. 1 (2023): Special Issue Vol. 23 No. 1 (2023): January - March Vol. 22 No. 4 (2022): October - December Vol. 22 No. 3 (2022): July - September Vol. 22 No. 2 (2022): April - June Vol. 22 No. 1 (2022): January - March Vol. 21 No. 3 (2021): September - Desember Vol. 21 No. 2 (2021): Mei - Agustus Vol. 21 No. 1 (2021): Januari - April Vol. 20 No. 3 (2020): September - Desember Vol. 20 No. 2 (2020): Mei - Agustus Vol. 20 No. 1 (2020): Januari - April Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni Vol. 18 No. 2 (2018): Juli - Desember Vol. 18 No. 1 (2018): Januari - Juni Jurnal Biologi Tropis vol.17 No.2 Desember 2017 Jurnal Biologi Tropis vol.17 No.1 Juni 2017 Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No.2 Desember 2016 Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No. 1 Juni 2016 Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 no.2 Desember 2015 Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 No. 1 Juni 2015 Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 2 Desember 2014 Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 1 Juni 2014 Jurnal Biologi Tropis. Vol.13 No. 2 Desember 2013 Jurnal Biologi Tropis. Vol.13 No.1 Juni 2013 More Issue