EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Articles
174 Documents
Memaksimalkan Peran Gereja Menghadapi Masalah Etis dan Ketidakadilan dalam Bisnis
Sony Kristiantoro
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.355
Business people have faced problems since decades ago, and even today, it is an injustice. Business people also face a corrupt bureaucracy that will lead to ethical problems that lead to compromise rather than negotiation. This article finds that the ethical problems faced by business people in the GKI congregation in R city are issues of injustice and dishonesty related to tax issues. Business people get solutions and sources of referrals from outside the church, namely from conscience, association with business partners, and the teachings of the golden rule, which cannot be said to be the absolute property of Christianity because these teachings are also found in the Confucian religion. Only the concept of “the fear of the LORD” was a participant's only reference. The GKI Church, especially the GKI in R city, needs to maximize its role in order to be able to equip the businessmen of its church members to run their businesses properly and responsibly.AbstrakMasalah yang dihadapi oleh pebisnis sejak puluhan tahun lalu, bahkan juga masih dirasakan saat ini adalah ketidakadilan. Pebisnis juga menghadapi birokrasi yang koruptif yang akan memunculkan masalah etis yang berujung pada sikap kompromi daripada negosiasi. Artikel ini menemukan bahwa persoalan etis yang dihadapi pebisnis di jemaat GKI di kota R, adalah persoalan ketidakadilan dan ketidakjujuran berkaitan dengan masalah pajak. Para pebisnis mendapat solusi dan sumber rujukan dari luar gereja, yakni dari hati nurani, pergaulan dengan rekan bisnis, dan ajaran kaidah emas yang tidak bisa dikatakan milik mutlak Kekristenan, karena ajaran ini juga terdapat dalam agama Kong Hu Cu. Hanya konsep ”takut akan Tuhan” yang menjadi satu-satunya rujukan yang dimiliki oleh seorang partisipan. Gereja GKI, khususnya GKI di kota R perlu memaksimalkan perannya supaya mampu membekali pebisnis anggota gerejanya untuk menjalankan bisnisnya dengan baik dan bertanggung-jawab.
Konsep Sabat bagi Orang Percaya di Masa Kini: Sebuah Kritik Teks Matius 12:1-8
Periskila Netty Lintang;
Yordan Perutu;
Eirene Eunike
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.397
The Sabbath controversy arose because Jesus tried to free people from many legally binding rules. Instead, Jesus wanted to state that religious leaders had interpretations that needed to be directed to the Sabbath that detailed it with so many rules that burdened the people. The legalist attitude towards the concept of the Sabbath in the lives of the people underwent many changes that made them face various challenges. It is necessary to research to consider that time which is a gift from God, is understood to be something of his own personal possessions and pleasures. Attempts to gain an understanding of the concept of the Sabbath are made by exegesis of grammatical analysis based on the structure of Matthew 12:1-8 as a text of choice to be dig which will be unearthed both from the background context and the wording of indicators relating to the Sabbath. The result of this research analysis shows that the main essence of the application of the Sabbath is the mercy of God. Thus believers can apply the Sabbath joyfully to being merciful to themselves by resting to refresh the body, soul, mind, and compassion for those in need.AbstrakKontroversi Sabat muncul karena Yesus mencoba untuk membebaskan orang dari banyak peraturan yang mengikat secara legalis. Sebaliknya, Yesus ingin menyatakan bahwa para pemuka agama memiliki penafsiran yang perlu diarahkan tentang Sabat yang merincikannya dengan begitu banyak aturan yang memberatkan umat. Sikap yang legalis terhadap konsep Sabat dalam kehidupan umat mengalami banyak perubahan yang membuat mereka diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Hal ini perlu diteliti untuk mempertimbangkan bahwa waktu yang adalah anugerah dari Tuhan dipahami menjadi sesuatu milik pribadi dan kesenangannya sendiri. Usaha untuk mendapatkan pemahaman tentang konsep Sabat dilakukan dengan analisis kritik gramatikal berdasarkan berdasarkan struktur Matius 12:1-8 sebagai teks pilihan yang akan digali baik dari konteks latar belakang maupun kata-kata indikator yang berkaitan dengan Sabat. Hasil dari analisis penelitian ini memperlihatkan bahwa esensi utama dari penerapan Sabat yaitu belas kasihan Allah. Dengan demikian orang percaya dapat menerapkan Sabat dengan penuh sukacita karena berbelas kasihan kepada diri sendiri dengan beristirahat untuk menyegarkan tubuh, jiwa, pikiran, dan berbelas kasihan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Pengembangan Perilaku Cinta Damai melalui Biblioterapi
Sjeny Liza Souisa;
Hendrik Tuaputimain;
Denissa A. Luhulima
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.350
Gereja Protestan Maluku (GPM) Haria is one of the congregations in the Lease islands Klasis service area which continues to strive to foster and develop peace-loving behavior for children, adolescents, youth, and adults. This is done because of past experiences where there were frequent quarrels and disputes with the GPM Porto congregation, which not only impacted the loss of property but also lost lives. The conflict between GPM Haria and Porto congregations impacted not only the implementation of the learning process in schools and the congregation but the learning process was also eliminated. But there is also a feeling of insecurity and not peace in the two countries because of mutual suspicion of each other. The church has taken various steps to minimize and even prevent conflict from happening again. One of the steps used is bibliotherapy. This study aims to determine how much peace-loving behavior is developed through bibliotherapy. The results showed an increase or difference before and after the bibliotherapy treatment. So bibliotherapy effectively improves adolescents' peaceful behavior in GPM Haria Lease islands Klasis, in Saparua island.AbstrakJemaat GPM Haria adalah salah satu jemaat yang ada dalam wilayah pelayanan Klasis Pulau-Pulau Lease, yang terus berupaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan perilaku cinta damai baik bagi anak, remaja, pemuda maupun orang dewasa. Hal ini dilakukan karena pengalaman-pengalaman masa lampau di mana sering terjadi pertengkaran dan perselisihan dengan jemaat GPM Porto dan bukan hanya berdampak pada kehilangan harta benda tetapi juga kehilangan nyawa. Konflik yang terjadi antara jemaat GPM Haria dan Porto ini membawa dampak bukan hanya kepada pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah maupun di jemaat yakni proses pembelajaran ditiadakan. Tetapi juga muncul perasaan tidak aman dan tidak damai pada dua negeri, karena adanya saling curiga satu dengan yang lain. Untuk meminimalisir bahkan mencegah terjadi lagi konflik maka pihak gereja telah melakukan berbagai langkah. Salah satu langkah yang dipakai adalah melalui biblioterapi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar pengembangan perilaku cinta damai melalui biblioterapi. Hasil menunjukkan terjadi peningkatan atau ada perbedaan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan biblioterapi, sehingga biblioterapi efektif dalam meningkatkan perilaku cinta damai remaja di jemaat GPM Haria Klasis Pulau-pulau Lease, di Pulau Saparua.
Implikasi Kepemimpinan Kristen Berdasarkan Kitab Hakim-Hakim 19:1-30
Selatieli Sihura;
Agus Santoso;
Marthin Steven Lumingkewas
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.395
Leadership in the Bible is essential, and the election seems based on character and morals. This is also a fundamental problem in Judges 19:1-30 where there is a problem with the character and immorality of the Israelite leader. This article aims to explain Judges 19:1-30 and provide implications for Christian leadership. The method used is a historical criticism of the study of biblical theology analysis. The results of this study are a Christian leader who serves with a heart, recognizes the need for service, is spiritually sound, oriented to the congregation, has education for servants, and education for the congregation.AbstrakKepemimpinan dalam Alkitab sangat penting dan agaknya pemilihan itu didasarkan kepada karakter dan moral. Hal ini juga menjadi permasalahan tersirat di Hakim-Hakim 19:1-30 dimana muncul permasalahan karakter dan amoral dari pemimpin Israel. Artikel ini bertujuan menjelaskan Hakim-Hakim 19:1-30 dan memberikan implikasi pada kepemimpinan Kristen. Metode yang digunakan adalah historis kritis pada kajian analisis teologi biblika. Hasil penelitian ini adalah seorang pemimpin Kristen memiliki melayani dengan hati, mengenali kebutuhan pelayanan, spiritual yang baik, berorientasi pada jemaat, pendidikan bagi para pelayan, dan pendidikan bagi jemaat.
Pengembangan Spiritualitas Pelayan Mimbar melalui Konseling Pastoral
Franke Beni Vani Tumurang
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.167
The acceleration of the world and Christianity is so rapid that disruption, innovation, and pluralism have spread to the world of church ministers. Quantity is like a blanket that covers quality. The moral and spiritual quality of pulpit ministers is often surprising because of the shallow depth of quality. Through pastoral counseling service strategies, it is believed to be a solution to developing the moral and spiritual qualities of church ministers. The research used was non-observational, descriptive qualitative research to examine the appropriate strategy for overcoming the problem gap in pulpit ministers' moral and spiritual development. The research results found that several strategies are considered to be able to overcome the inequality problem discussed.AbstrakAkselerasi dunia dan kekristenan begitu pesat, disrupsi, inovasi dan kemaje-mukan merambah sampai ke dunia pelayan-pelayan gereja. Kuantitas seperti sebuah selimut yang menutupi kualitas. Kualitas moral dan spiritual para pelayan mimbar seringkali mengejutkan karena dangkalnya kedalaman kua-litas, lewat strategi pelayanan konseling pastoral diyakini bisa menjadi solusi untuk mengembangkan kualitas moral dan spiritual para pelayan gereja. Penelitian yang dipakai adalah penelitian kualitatif deskriptif non-observasi dengan maksud meneliti apa strategi yang tepat dalam mengatasi gap masalah pada pengembangan moral dan spiritual pelayan mimbar. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat beberapa strategi yang dianggap bisa menjadi yang mengatasi masalah kesenjangan yang dibahas.
Pentingnya Kontekstualisasi dalam Melaksanakan Misi Penginjilan
Susandi Sudarmo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.41
Contextualization is a gospel approach to touch the diversity of the world. However, an excessive emphasis approach can lead to a distortion of the content of the substance of the truth of God's Word. Wrong contextualization often gives birth to wrong meanings regarding its implications in evangelism, so a correct understanding of contextualization needs to be straightened out. The method used by the author in conducting research is a descriptive qualitative research method, namely carried out through library research. By making literature study the target in writing, the author tries to provide an understanding so that the church can apply a contextualization approach. The research results will open evangelists' understanding to practice appropriate contextualization. AbstrakKontekstualisasi merupakan pendekatan injil untuk menyentuh kemajemu-kan dunia. Namun pendekatan penekanan yang berlebihan bisa berujung pada penyelewengan isi pada substansi kebenaran Firman Tuhan. Kon-tekstualisasi yang salah banyak kali melahirkan makna yang keliru dalam implikasinya dalam penginjilan, maka pemahaman yang benar akan kon-tekstualisasi perlu diluruskan. Metode yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian adalah metode penelitian kualitatif deskriptif yakni dilakukan melalui penelitian pustaka. Dengan menjadikan studi literature sebagai sasaran dalam penulisan, dimana penulis berusaha memberikan se-buah pemahaman yang agar dapat mengaplikasikan pendekatan konteks-tualisasi oleh gereja. Hasil penelitian diharapkan membuka pemahaman pelaku injil untuk berada di praktek kontekstualisasi yang tepat.
Memandang Wajah Orang Lain: Memahami Etika Paulus dalam Roma 12:9-21 Melalui Filsafat Tanggung Jawab Levinas
Tinggi Tandi Payuk
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.443
Konflik atau perselisihan dalam kehidupan manusia adalah hal yang tidak dapat terhindarkan, seringkali dalam perjumpaan dengan yang lain menjadi sebuah ancaman. Relasi antara manusia harus di rawat, khususnya dalam konteks Kekristenan, relasi itu dapat dinampakkan dalam sebuah sikap, atau etika untuk saling mengasihi dengan yang lain. Namun seringkali manusia hanya ingin mengasihi dengan maksud dan tujuan lainnya dalam arti kasih yang tidak tulus. Kasih merupakan sebuah hal yang harus di pahami serta direfleksikan dengan benar sebagai sebuah identitas orang yang percaya kepada Kristus. Artikel ini bertujuan untuk membaca etika yang dimaksudkan Paulus dalam Rom. 12:9-21 melalui etika tanggung jawab Emmanuel Levinas, karena kasih dan tanggung jawaba terhadap yang lain adalah sebuah hal yang penting untuk menjaga relasi yang baik dengan yang lain.
Eternal Livingness in Love: Refleksi Teologi Kristen terhadap Pemikiran David Benatar mengenai Kematian dan Kekekalan
Jessica Novia Layantara
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.394
David Benatar's philosophical views on death and immortality contradict Christian theology. However, Benatar argues that if theists look closely at his views, there is no significant contradiction between the two. Based on this argument, this article aims to reflect Benatar's view of death and immortality from the point of view of Christian theology. The question to be answered in this article: Does Benatar's argument contradict Christian theology, or is it capable of making an essential contribution to Christian theology, namely providing a philosophical and logical foundation for death and immortality? Using Jürgen Moltmann's theological views on death and immortality, this article aims to prove that there is no significant contradiction between Benatar's philosophical views and Moltmann's Christian theology on death and immortality, and can contribute to one another. This conclusion also echoes that philosophy and theology can go hand in hand without contradicting each other.AbstrakPandangan filosofis David Benatar tentang kematian dan kekekalan tampaknya bertentangan dengan teologi Kristen. Namun, Benatar berpendapat bahwa jika para teis melihat lebih cermat, tidak ada kontradiksi yang signifikan di antara keduanya. Berdasarkan argumen Benatar tersebut, artikel ini bertujuan untuk merefleksikan pandangan Benatar tentang kematian dan kekekalan dari sudut pandang teologi Kristen. Pertanyaan yang dijawab dalam artikel ini adalah: Apakah pandangan filosofis Benatar bertentangan dengan teologi Kristen, atau justru mampu memberikan kontribusi penting bagi teologi Kristen, yaitu memberikan landasan rasional-filosofis untuk memandang kematian dan kekekalan? Dengan menggunakan pandangan teologis Jürgen Moltmann tentang kematian dan kekekalan, artikel ini bertujuan untuk membuktikan bahwa tidak ada pertentangan yang berarti antara pandangan filosofis Benatar dan teologi Kristen Moltmann mengenai kematian dan kekekalan, bahkan keduanya dapat berkontribusi satu sama lain. Kesimpulan ini juga menegaskan bahwa filsafat dan teologi dapat berjalan beriringan satu sama lain.
Kekhawatiran dalam Perspektif Teologis, Psikologis, dan Pendidikan Kristiani: Sebuah Tafsir Matius 6:25-34 Interdisipliner
Frans Pantan;
Onnie Lumintang;
Laura Tarulina
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.469
Worry is a common feeling that nearly every individual has faced throughout human history. Psychological research has generally shown that worry has a negative impact on both the mental and physical well-being of individuals. There is an implicit call in the belief that humans should not excessively worry about their lives, as found in the text of Matthew 6:25-34. This research seeks to reexamine worry through an interdisciplinary approach, involving its psychological aspects. The Gospel of Matthew is approached through hermeneutic analysis while simultaneously considering its psychological facets, which is referred to as 'interdisciplinary interpretation.' The culmination of this interdisciplinary meeting results in the thesis statement that the text of Matthew 6:25-34, when interpreted through an interdisciplinary lens, teaches that worry, though common to human experience, can be managed and overcome. This interpretive finding subsequently provides a proposal for the development of a Christian pastoral counseling approach to assist individuals in managing their worries.
Pengalaman Kepenuhan Roh Kudus dalam Perspektif Epistemologi Pentakostalisme
Junifrius Gultom;
David E.S. Korengkeng
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.467
The experience of the fullness of the Holy Spirit by speaking in tongues and its implementation in spiritual life activities is a matter of debate to this day. The pneumatological epistemology of Pentecostalism would be able to answer the need for dogmatic understanding in building a theological epistemology that changes every person in their life activities. The purpose of this paper is a biblical study of the fullness of the Holy Spirit explicitly speaking in tongues which will provide a philosophical and theological foundation in the Pentecostal epistemology perspective. The research method used was descriptive qualitative. The research results show that the experience of the fullness of the Holy Spirit in the Pentecostal tradition is considered a real manifestation of the divine presence. Participants in this study reported transformative experiences that included spiritual ecstasy, increased spiritual awareness, and receipt of spiritual gifts. Additionally, these experiences also influence their understanding of religious truth and lead to a deeper commitment to active religious practice. The epistemological perspective of Pentecostalism recognizes that religious knowledge is not only cognitive but also comes from deep spiritual experience. The experience of the fullness of the Holy Spirit is considered a valid source of knowledge and has the same authority as academic theology. Therefore, spiritual experience is the main basis for forming the beliefs and worldview of Pentecostal believers.