cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 174 Documents
Peluang Perkawinan Transpuan Protestan melalui Inklusivitas Pemaknaan Hukum Kasih Stebby Julionatan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.439

Abstract

Kasih adalah ajaran utama dalam Kekristenan. Namun, ketika ajaran utama Kekristenan tersebut diperhadapkan pada hak-hak kelompok minoritas seksual, khususnya transpuan, beragam permasalahan mulai timbul. Akibat perbedaan interpretasi, kasih tak lagi bersifat inklusif kepada “sesamamu manusia”. Agama justru menjadi hambatan terbesar terhadap penerimaan pada ketubuhan dan seksualitas kelompok transpuan. Tafsir atas teks-teks Alkitab menghakimi keberadaan tubuh, seksualitas, dan ekspresi mereka yang cair. Kerasnya permintaan pada pengakuan dan persamaan hak --termasuk legalisasi perkawinan, dituding sebagai tindakan yang “sesat” dan penyebab terjadinya bencana sebagaimana negeri Sodom yang dilenyapkan Allah. Melalui studi literatur, penelitian ini hendak melihat bagaimana Gereja selama ini memaknai Kasih untuk melihat tubuh dan seksualitas transpuan. Lalu, melalui pemaknaan yang inklusi terhadap Kasih, apakah ada jalan bagi para transpuan untuk memenuhi kebutuhan kemitraan mereka hingga pada jenjang perkawinan? Dengan metode fenomenologi yang berperspektif feminis penelitian ini menemukan empat hal. Pertama, sejumlah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang tak memiliki perspektif gender adalah penelitian yang bias dan diskriminatif terhadap kelompok minoritas seksual, khususnya transpuan. Kedua, penelitian yang tidak sensitif gender tersebut cenderung menggolongkan perkawinan transpuan sebagai perkawinan sesama jenis (same-sex marriage). Ketiga, Gereja dan pendeta jamak memakai tafsir heteronormatif yang menekankan bahwa perkawinan hanya diperkenankan Allah terjadi di antara laki-laki dan perempuan cis-gender. Dan keempat, pesan “kasihilah sesamamu manusia” yang selama ini dipakai Gereja dan adalah “kasihilah sesamamu manusia” yang mengecualikan kelompok minoritas, khususnya kelompok transpuan.
Model Rekonsiliasi Kultural dan Teologis Ritus “Pihe Ihi” Kabupaten Sabu Raijua Maglon Ferdinand Banamtuan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.339

Abstract

Tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah: 1). Untuk mengetahlui bagaimana proses ritus“pihi ihi“ sebagai model rekonsiliasi  kultural dan teologis dalam kaitan dengan pelecehan seksual dan kekerasan fisik di Desa Ballu Kecamatan Raijua Kabupaten Sabu Raijua Propinsi Nusa Tenggara Timur; 2). Untuk mengetahui makna yang tekandung dalam Ritual “Pihi ihi” bagi orang Sabu. 3). Untuk mengetahui pandangan teologis Kristen terhadap model rekonsiliasi budaya “pihe ihi” bagi Orang Sabu. Penulisan ini menggunakan Metode Penelitian deskriptif Kualitatif dengan jumlah informan sebanyak 5 orang untuk mewakili reprentasi dari masyarakat Desa Ballu Kecamatan Raijua.Hasil Penelitian bahwa ritus  rekonsiliasi Kultural (ritus pihe ihi  )dan rekonsiliasi Teologis sama-sama ada korban dalam mencapai sebuah perdamaian namun dengan korban yang berbeda. Dalam rekonsiliasi kultural yang menjadi korban adalah hewan sedangkan dalam rekonsiliasi teologis yang menjadi korban adalah Yesus Kristus sendiri sebagai korban perdamaian tersebut. Sehingga model rekonsiliasi budaya dapat dipakai sebagai kontekstualisasi dari rekonsliliasi teologis. Sehingga bukan hanya dalam teologi yang memiliki rekonsiliasi tetapi budaya juga memiliki model rekonsiliasinya sendiri. Kedua rekonsiliasi di aatasl juga sama-sama memiliki tujuan yang sama yaitu akhir damai dari sebuah konflik
Ketika Mendidik Anak dengan Kekerasan Tak Lagi Efektif: Meninjau Kembali Teks-teks Corporal Punishment pada Anak dalam Kitab Amsal Menggunakan Lensa Psikologis dalam Konseling Pastoral Gernaida Krisna R. Pakpahan; Eunike Wirawan; Andreas L. Rantetampang
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.470

Abstract

Children are in the most vulnerable position to experience injustice, neglect, suffering, and violence. Corporal punishment is a form of physical discipline, such as whipping or hitting, considered acceptable as a punishment for transgressions. Many religious figures, parents, and teachers justify this form of discipline, viewing it as a right of authority, sanctioned by the Book of Proverbs. Certain verses in the Book of Proverbs (e.g., Prov. 10:13; 13:24; 14:3; 23:13-14; 26:3) appear to legitimize education through violence on children. This stance appears to contradict research findings over the decades, stating that physical punishment yields more harm than good. This article attempts to revisit the verses on child violence in the Book of Proverbs using a psychological lens in pastoral counseling studies. Employing inductive reasoning and hermeneutics, it will be shown that corporal punishment verses in the Book of Proverbs fundamentally have a cultural context of their time and should be approached with caution in contemporary application. This is also due to psychological studies indicating that violence towards children, possibly intended as a form of education, leads to negative effects on their psychological development. Thus, the research thesis statement is that texts on child violence in the Book of Proverbs, when viewed through a psychological lens in pastoral counseling, necessitate a reevaluation of how parents educate children without violence. 
Sikap Karyawan BUMN Kristen terhadap Pekerja Rumah Tangga: Sebuah Refleksi Imamat 19:13 Saul Rudy Nikson Siagian
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.389

Abstract

Pekerja Rumah Tangga (PRT) adalah salah satu pekerjaan yang jasanya sangat diperlukan oleh masyarakat, termasuk karyawan Kristen. Meningkatnya kesejahteraan dan tingginya mobilitas masyarakat membuat PRT sangat dibutuhkan. PRT meskipun sangat dibutuhkan jasanya namun belum memiliki perlindungan hukum yang cukup sehingga sering menjadi korban dan dirugikan oleh pengguna jasanya. Sekalipun belum ada perlindungan hukum, seharusnya Karyawan Kristen menerapkan tuntunan Firman Tuhan, terutama Imamat 19:13 dalam memperlakukan PRT.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap karyawan Kristen terhadap PRT sesuai Imamat 19:13.  Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif berbentuk survey dan studi literatur. Subjek penelitian ini adalah karyawan dalam sebuah BUMN yang berjumlah 24 orang. Hasil penelitian yang didapat sebagai berikut: (1) Karyawan Kristen selaku pengguna PRT belum memiliki perjanjian kerja tertulis dengan PRT. (2) Karyawan Kristen belum memberikan upah yang layak  (3) Karyawan Kristen memperhatikan kesejahteraan keluarga PRT (4) Karyawan Kristen belum memberikan  fasilitas Kesehatan PRT. (5) Karyawan Kristen memiliki sikap yang ramah terhadap PRT (6) Sebagian Karyawan Kristen sudah mau berbagi injil dengan PRT  
Spiritualitas Postmodern yang Diversitas: Sebuah Pembacaan City of God Karya Agustinus Fransina Wattimena; Yohanes Eko T; Yusuf Kurniawan E
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.468

Abstract

Human life throughout history has never been devoid of spiritual struggles, even in the current postmodern era. The postmodern era is characterized by its recognition of diverse perspectives. The very nature of this diversity makes the postmodern era inherently relative and subjective. Consequently, the postmodern era is seen as a challenge to Christianity, which emphasizes final and absolute truth. This article aims to bridge the gap between postmodernism with its diversity and Christianity with its Christian spirituality that respects various sacred authorities. The experiences of Augustine, who, on one hand, affirmed various beliefs of his time while remaining rooted in the foundational teachings of early Christianity, serve as a significant spiritual model in the postmodern era. Specifically, Augustine's work, "City of God," is employed. Using hermeneutical methods, the researcher reexamines Augustine's spirituality and attempts to implement it as a model of postmodern spirituality. The ultimate thesis of this research is that "City of God" generates a dual spirituality, one that embraces diversity while also remaining firmly rooted in its faith tradition.
Pembentukan Citra Diri Remaja Kristen Melalui Pendidikan Kristiani Sadrakh Sugiono; Yudiahline Ruthasye Sodak
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.471

Abstract

The adolescent period is a critical phase in an individual's self-image development, signifying not only a transition from childhood to adolescence. Self-image encompasses one's self-perception and evaluation, wielding influence over various facets of life, including behavior, emotional well-being, and social interactions. Factors like parental upbringing, peer relationships, and educational guidance contribute significantly to the formation of adolescent self-image. This research investigates the impact of Christian religious education on the shaping of self-image in Christian adolescents, utilizing a qualitative descriptive approach. The results highlight the pivotal role of Christian religious education, emphasizing instructional materials focused on Christology, Christian anthropology, and soteriology in molding adolescent self-image. The implications of these findings provide valuable guidance and recommendations for Christian educators, churches, and communities to develop more effective and comprehensive religious education programs. These programs will assist Christian adolescents in cultivating a robust and positive self-image firmly rooted in their faith.
Spiritualitas Inkarnatif Gereja Berbasiskan Semangat Multikulturalisme: Sebuah Kajian Femenologis dari Sudut Pandang Antropologis-Teologis Gaspar Triono Jeraman; Antonius Denny Firmanto; Nanik Wijiyati Aluwesia
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.250

Abstract

Artikel ini berfokus pada kajian tentang pembentukan Gereja Indonesia yang semakin inkarnatif berbasiskan semangat multikuturalisme. Model kajiannya dikerjakan dengan menggunakan metode fenomenologis dari sudut pandang antropologis-teologis. Dari kajian ini, saya menemukan bahwa inkarnasi Kristus sebagai manusia sebenarnya memiliki pengaruh budaya, di mana ia dibentuk dan turut serta membentuk serta mentransformasikan budaya lewat nilai-nilai keselamatan yang dibawanya kepada masyarakat di mana ia hidup dalam sejarah. Pembentukan Gereja inkarnatif di Indonesia terinspirasi dari peristiwa Inkarnasi Kristus Sendiri, di mana Gereja  sebagai anggota Kristus  sekaligus tetap memposisikan kehadiran dirinya sebagai anggota dari suatu budaya dan ia mewartakan Kristus itu pula lewat bahasa budaya yang berbeda beda dari anggota-anggotanya. Model kehadiran Gereja semacam tadi akan memberikan dampak moral, spiritual, dan politik, di mana nilai-nilai kultural dari berbagai kelompok di negara Indonesia akan diakui secara setara. pengakuan akan kesetaraan ini bertujuan untuk mengurangi tindakan radikal dan diskrimatif, yang kerap terjadi di Indonesia terhadap subkultural-subkultural minoritas. Tindakan diskrimatif yang berujung pada kekerasan telah menghancurkan martabat mereka sebagai manusia dan sebagai anak-anak Allah. Dengan menawarkan semangat humanisasi dan divinisasi yang dibawa oleh Kristus dalam inkarnasi, diharapakan dapat pula meningkatkan nilai harkat dan martabat manusia Indonesia di masa kini dan di masa yang akan datang. 
Etika Kristen dalam Platform Digital: Upaya Meningkatkan Moralitas dan Karakter Kristiani Rahayu, Yohana Fajar; Yasin, Harlin
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.326

Abstract

In the era of increasingly sophisticated social media and increasingly dominating everyday life, new challenges have emerged in implementing Christian ethics and maintaining morality and character in cyberspace. The background of this study focuses on the negative impacts of social media, such as the spread of hoaxes, hate speech, and cyberbullying, which can erode moral values ??in society. And give rise to flawed characters in the development of Christianity. The research method used is a descriptive qualitative method with a literature study approach, so it can be concluded that Christianity needs to be aware of the influence of social media on Christian values and the existence of Christian ethical principles in interacting on social media. This is due to the challenges and moral dilemmas in cyberspace. Therefore, the role of the church and Christianity is to initiate a movement in the role of the church to improve morality on social media. This contributes to enhancing morality and creating more constructive interactions in cyberspace.   Abstrak Di era media sosial yang semakin canggih dan semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, muncul tantangan baru dalam menerapkan etika Kristen serta menjaga moralitas dan karakter di dunia maya. Latar belakang penelitian ini berfokus pada dampak negatif dari media sosial, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan cyberbullying, yang dapat mengikis nilai-nilai moral dalam masyarakat. Dan menimbulkan karakter yang tidak baik dalam perkembangan agama Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, sehingga dapat disimpulkan bahwa kekristenan perlu mewaspadai pengaruh media sosial terhadap nilai-nilai kekristenan, dan juga adanya prinsip-prinsip etika kekristenan dalam berinteraksi di media sosial. Hal ini dikarenakan adanya isu tantangan dan dilema moral di dunia maya. Oleh karena itu, peran gereja dan kekristenan adalah menginisiasi sebuah gerakan dalam peran gereja untuk meningkatkan moralitas di media sosial. Hal ini berkontribusi pada peningkatan moralitas dan menciptakan interaksi yang lebih konstruktif di dunia maya.  
Kepemimpinan Kristen sebagai Katalisator dalam Pendidikan Inklusif: Implementasi Teologis Kepemimpinan Gerejawi dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 2: November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i2.338

Abstract

Inclusive education, which aims to provide equal opportunities for all children, including children with special needs, requires support from various parties, one of which is through Christian leadership based on biblical values. However, research linking Christian leadership with inclusive education, especially for children with disabilities, is limited. This research aims to actualise how inclusive principles in the church context can be applied to create a supportive and welcoming educational environment for children with disabilities. In this research, a literature study approach using a descriptive qualitative method is used.  It can be concluded that inclusive theology in church leadership encourages concrete actions to build a welcoming community for all, regardless of physical or social differences, and to fight stigma against people with disabilities. The church, with a commitment to serve with love, creates a space where every individual is valued, according to the teachings of Christ who involves and respects and values the marginalized, namely children with special needs.   Abstrak Pendidikan inklusif, yang bertujuan memberikan kesempatan yang setara bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), memerlukan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya melalui kepemimpinan Kristen yang berlandaskan nilai-nilai alkitabiah. Namun, penelitian yang menghubungkan kepemimpinan Kristen dengan pendidikan inklusif, khususnya untuk ABK, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengaktualisasi bagaimana prinsip inklusif dalam konteks gereja dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung dan ramah bagi ABK. Dalam penelitian ini, pendekatan studi pustaka dalam metode kualitatif deskritif  menjadi metode penulisan.  Dapat disimpulkan bahwa  Teologi inklusif dalam kepemimpinan gereja mendorong tindakan nyata untuk membangun komunitas yang ramah bagi semua, tanpa memandang perbedaan fisik atau sosial, serta melawan stigma terhadap penyandang disabilitas. Gereja, dengan komitmen untuk melayani dengan kasih, menciptakan ruang di mana setiap individu dihargai, sesuai ajaran Kristus yang melibatkan dan menghormati dan menghargai yang termarginalkan yaitu anak berkebutuhan khusus.
Cinta yang Berkulitas sebagai Dasar Pernikahan Kristiani yang Harmonis: Sebuah Refleksi Biblikal Sugito
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 2: November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article serves as a practical and innovative guide for Christian couples seeking a harmonious marriage. It does so by implementing four key pillars: Agape love, respect, spiritual and biological intimacy, and open communication, with a particular emphasis on the spiritual foundation compared to other aspects of love. A descriptive qualitative approach is employed through a literature review of the Bible, religious books, and scholarly journals. The author reveals the need for the importance of lifelong commitment and genuine sacrifice to achieve this type of successful marriage.   Abstrak Artikel sebagai panduan praktis dan inovatif bagi pasangan suami istri Kristen yang ingin memiliki pernikahan harmonis. Hal ini dilakukan dengan menerapkan empat pilar utama kasih Agape, penghormatan, keintiman spiritual dan biologi, dan komunikasi terbuka dengan penekanan khusus pada landasan spiritual dibandingkan dengan aspek lain dari cinta. Pendekatan kualitatif deskriptif dilaksankan melalui studi literatur dalam Alkitab, buku agama, dan jurnal ilmiah. Penulis mengungkap kebutuhan akan pentingnya komitmen seumur hidup dan pengorbanan yang tulus untuk mencapai jenis pernikahan yang berhasil.