cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 180 Documents
Amanat Agung dalam Bayang-bayang Disinformasi: Strategi Gereja Menghadirkan Kebenaran Injil di Era Post-Truth Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.561

Abstract

In the post-truth era, the abundance of conflicting news and hoaxes often overshadows objective truth, as personal opinions and subjective values predominate. Even relativity determines truth, leading to widespread disinformation in digital and social spaces. The Church, as the recipient of the Great Commission, currently faces challenges in communicating the Gospel in its pure form. This challenge is due to the presence of biased and manipulative information that distorts the truth. The inability of some Christians to distinguish between theological truth and false narratives has weakened the Church's witness. The purpose of this study is to formulate theological and practical strategies for the Church in communicating the Great Commission authentically amid the truth crisis. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that an understanding of the essence of the Great Commission in theology, as well as knowledge of the post-truth crisis and the church's challenges in proclaiming the truth, are crucial. It is hoped that the results will not hinder the actualization of the Great Commission as a mandate to proclaim truth amid the post-truth crisis and that the church will develop strategies to address disinformation in its mission to proclaim truth in a world darkened by disinformation.   Abstrak Banyaknya berita simpang siur dan hoak di era post-truth, kebenaran objektif sering kali tersingkir oleh opini dan nilai subjektif pribadi manusia.  Bahkan adanya relativitas juga menentukan kebenaran sehingga menimbulkan disinformasi yang meluas dalam ruang digital dan sosial. Gereja sebagai penerima mandat dari Amanat Agung dewasa ini menghadapi problem dalam menyampaikan Injil secara murni. Sebab adanya informasi yang bias dan manipulatif terkait kebenaran yang dinarasikan. Ketidakmampuan sebagian umat Kristen dalam membedakan antara kebenaran teologis dan narasi palsu telah melemahkan daya kesaksian gereja. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan strategi teologis dan praktis bagi gereja dalam mengkomunikasikan Amanat Agung secara otentik di tengah krisis kebenaran. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa peran pemahaman akan hakikat Amanat Agung dalam teologis dan juga pengetahuan akan Krisis di era post-truth dan tantangan gereja dalam mewartakan kebenaran. Diharapkan tidak menghalangi untuk mengaktualisasikan mandat Amanat Agung sebagai mandat pewartaan kebenaran di tengah krisis post-truth dan juga adanya strategi gereja menghadapi disinformasi dalam misi pewartaan dalam dunia yang gelap oleh disinformasi.    
Dari Laut ke Salib: Narasi Kehidupan Iman Orang Bajau Laut Kristen di Sabah Malaysia dalam Perspektif Misiologi Pastoral Widyastuti, Zohra; Rotty, Ryo Feens; Mauso, Grace Missela Julia; Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.572

Abstract

This article examines the faith life of the Christian Bajau Laut community in Sabah through a descriptive, narrative, qualitative approach to understand religious, social, and pastoral dynamics within the context of marginalization and statelessness. The purpose of this study is to interpret the community's experiences theologically and pastorally and to identify challenges and opportunities for the development of relevant and contextual pastoral missiology. The research methodology involved field observations in the context of ministry and a targeted literature review of academic sources. The results indicate that the Bajau Laut's faith life is shaped by fragile socio-economic conditions, maritime mobility, limited access to education and health care, and a legacy of local beliefs that influence daily religious practices. Field observations reveal tensions between cultural identity and Christian identity, particularly in situations of eviction, administrative discrimination, and minimal church support. This emphasizes the importance of an incarnational, dialogical, and advocacy-based model of pastoral care that not only focuses on spiritual nurturing but also seeks access to education, health, and social protection.     Abstrak Artikel ini mengkaji kehidupan iman komunitas Bajau Laut Kristen di Sabah melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan naratif untuk memahami dinamika religius, sosial, dan pastoral dalam konteks kemarginalan dan ketidakberkewarganegaraan. Tujuan penelitian ini adalah menafsirkan pengalaman komunitas secara teologis-pastoral serta mengidentifikasi tantangan dan peluang bagi pengembangan misiologi pastoral yang relevan dan kontekstual. Metodologi penelitian melibatkan observasi lapangan dalam konteks pelayanan dan kajian pustaka terarah atas literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan iman Bajau Laut dibentuk oleh kondisi sosial-ekonomi yang rapuh, mobilitas maritim, keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan, serta warisan kepercayaan lokal yang berdampak pada praktik religius sehari-hari. Observasi lapangan mengungkap ketegangan antara identitas budaya dan identitas kristiani, khususnya dalam situasi penggusuran, diskriminasi administratif, dan minimnya pendampingan gereja. sehingga hal ini dapat menegaskan pentingnya model penggembalaan yang inkarnasional, dialogis, dan advokatif, yang tidak hanya berfokus pada pembinaan rohani tetapi juga mengupayakan akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Analisis Semantik kata "koimomenon" dalam 1 Tesalonika 4:13 dan Kontribusinya terhadap Pengharapan Eskatologis Sinaga, Santono; Telaumbanua, Agus Arda Setiawan; Sinaga, Samuel Natalius; Ina, Rosita Tamu
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.573

Abstract

Eschatological hope is an important foundation of the Christian faith, but in practice it is often distorted when congregations are confronted with the reality of death. Greco-Roman religious and philosophical views also influenced the Thessalonian congregation, causing them to experience excessive grief. This article analyzes the term "koimomenon" in 1 Thessalonians 4:13 and its contribution to the formation of believers' eschatological hope. This study employs a qualitative literature review method with an exegetical-semantic approach, including lexical, grammatical, historical, and theological analyses of the Greek text of the New Testament (NA27). The results indicate that Paul uses the term "koimomenon" as a theological metaphor to emphasize the transience of believers' deaths and the continuity of their relationship with Christ.   Abstrak Pengharapan eskatologis merupakan fondasi penting iman Kristen, namun dalam praktiknya sering mengalami distorsi ketika jemaat berhadapan dengan realitas kematian. Kondisi ini juga dialami jemaat Tesalonika yang menunjukkan dukacita berlebihan akibat pengaruh pandangan religius dan filosofis Greko-Roma. Artikel ini bertujuan menganalisis secara semantik kata "koimomenon" dalam 1 Tesalonika 4:13 serta kontribusinya terhadap pembentukan pengharapan eskatologis orang percaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi pustaka dengan pendekatan eksegetis-semantik, meliputi analisis leksikal, gramatikal, historikal, dan teologis terhadap teks Yunani Perjanjian Baru NA27. Hasil kajian menunjukkan bahwa istilah "koimomenon" digunakan Paulus sebagai metafora teologis untuk menegaskan sifat sementara kematian orang percaya dan kesinambungan relasi mereka dengan Kristus.
Media Pembelajaran Visual Interaktif Berbasis Aplikasi Desain Digital untuk Sekolah Minggu GPM Sekewael, Olivia; Tamaela, Marceline I.
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.574

Abstract

The development of digital technology has opened new opportunities for learning media at various levels of education, including Church Formal Education (PFG). This study aims to explore the opportunities and challenges of utilizing interactive visual learning media based on digital design applications in the context of the Maluku Protestant Church (GPM) Sunday School. Using a descriptive qualitative approach through participatory observation, interviews, and literature study, this research found that digital design applications offer ease of access, flexibility in content creation, and visual appeal that can improve learning effectiveness. However, challenges such as limited technological infrastructure, accessibility gaps, and low digital skills among caregivers remain significant obstacles. This study recommends collaborative strategies among curriculum development teams, mentors, and caregivers, as well as the use of offline features to overcome limitations in internet access. The implications of this study are expected to enrich learning methods and strengthen the GPM PFG curriculum in responding to the challenges of the digital era.   Abstrak Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang baru dalam pengembangan media pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan, termasuk Pendidikan Formal Gereja (PFG). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peluang dan tantangan pemanfaatan media pembelajaran visual interaktif berbasis aplikasi desain digital dalam konteks Sekolah Minggu Gereja Protestan Maluku (GPM). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teknik observasi partisipatif, wawancara, dan studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa aplikasi desain digital menawarkan kemudahan akses, fleksibilitas dalam pembuatan konten, serta daya tarik visual yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, kesenjangan aksesibilitas, dan rendahnya keterampilan digital pengasuh masih menjadi hambatan signifikan. Penelitian ini merekomendasikan strategi kolaboratif antara tim pengembang kurikulum, pembimbing, dan pengasuh, serta pemanfaatan fitur offline untuk mengatasi keterbatasan akses internet. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat memperkaya metode pembelajaran dan memperkuat kurikulum PFG GPM dalam menjawab tantangan era digital.    
Melampaui Transfer Pengetahuan: Model Keguruan Transformatif Yesus dalam Injil Matius sebagai Paradigma Pendidikan Agama Kristen Sucipto, David Sarju
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.287

Abstract

Christian religious education often limits the teacher’s role to the transfer of knowledge, without fully considering the dimension of character transformation. This article analyzes the portrayal of Jesus as a transformative teacher in the Gospel of Matthew and explores its implications for Christian religious education. The study employs a non-participatory qualitative approach, using a descriptive-experimental method to analyze the Gospel of Matthew. The research findings indicate that, first, Jesus prioritizes internal transformation that transcends outward change, as evident in His teachings on the law, forgiveness, and a transformed heart; second, Jesus imparts divine values originating from God as the core of His pedagogical curriculum; and third, Jesus instilled the responsibility to serve God and others as the ultimate goal of shaping the disciples’ character. It is concluded that Jesus’ teaching model in the Gospel of Matthew offers a relevant, transformative paradigm for shaping Christian teachers who do not merely transfer knowledge but educate holistically toward change in students' hearts and character.   Abstrak Pendidikan Agama Kristen kerap membatasi peran guru pada transfer pengetahuan, tanpa mempertimbangkan dimensi transformasi karakter secara utuh. Artikel ini bertujuan menganalisis gambaran Yesus sebagai guru transformatif dalam Injil Matius dan mengeksplorasi implikasinya bagi pendidikan agama Kristen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif noninteraktif dengan metode deskriptif-eksegetik terhadap teks-teks Injil Matius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Yesus memprioritaskan transformasi internal yang melampaui perubahan lahiriah, sebagaimana tampak dalam pengajaran-Nya tentang hukum, pengampunan, dan hati yang diubahkan; kedua, Yesus mewariskan nilai-nilai Ilahi yang bersumber dari Allah sebagai inti kurikulum pedagogis-Nya; dan ketiga, Yesus menanamkan tanggung jawab melayani Allah dan sesama sebagai tujuan akhir pembentukan karakter murid. Disimpulkan bahwa model keguruan Yesus dalam Injil Matius menawarkan paradigma transformatif yang relevan untuk membentuk guru Kristen yang tidak sekadar mentransfer ilmu, melainkan mendidik secara holistik menuju perubahan hati dan karakter peserta didik.
Ekonomi Solidaritas sebagai Praktik Resiliensi: Pembacaan Kisah Para Rasul 2:44-47 dalam Membangun Ketahanan Umat di tengah Krisis Napitupulu, Musa Pardamean
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.317

Abstract

The multidimensional crisis from the post-COVID-19 pandemic to contemporary global economic uncertainty leaves Indonesian Christians in a vulnerable position, calling for a constructive theological-practical response. This research reconstructs the meaning of "solidarity economy" in Acts 2:44-47 as a resilience practice that builds communal resilience amid contemporary economic and social crises. The study employs qualitative research methods, including social-historical exegesis of the Lukan text, integrated with theological-phenomenological analysis of the contemporary Indonesian crisis context. Findings indicate that the early church’s koinonia was not merely incidental charity but an alternative economic structure grounded in trust, equity, and participation rooted in the eschatology of God’s kingdom and the Pentecostal pneumatic experience. This practice yields three interconnected resilience dimensions: spiritual resilience through fellowship, economic-communal resilience through distribution, and missiological resilience through public witness. The study offers a solidarity-economy theological framework relevant for reconstructing ecclesial praxis in Indonesia, implying the church must shift from charitable diakonia toward transformative diakonia grounded in the solidarity economy as faithfulness to the koinonia calling.   Abstrak Krisis multidimensional yang berlangsung pasca-pandemi Covid-19 hingga ketidakpastian ekonomi global kontemporer menempatkan umat Kristen Indonesia pada posisi rentan yang menuntut respons teologis-praktis yang konstruktif. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi makna ekonomi solidaritas dalam Kisah Para Rasul 2:44-47 sebagai praktik resiliensi yang dapat membangun ketahanan umat di tengah krisis ekonomi maupun sosial. Riset menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan eksegesis sosial-historis terhadap teks Lukan, dipadukan dengan analisis fenomenologi teologis atas konteks krisis kontemporer Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik koinonia jemaat mula-mula bukan sekadar tindakan karitatif insidental, melainkan struktur ekonomi alternatif berbasis kepercayaan, ekuitas, dan partisipasi yang mengakar pada eskatologi Kerajaan Allah serta pengalaman pneumatik Pentakosta. Praktik tersebut menghasilkan tiga dimensi resiliensi yang saling terkait: resiliensi spiritual berbasis persekutuan, resiliensi ekonomis-komunal melalui distribusi, dan resiliensi misologis melalui kesaksian publik. Penelitian ini menawarkan kontribusi berupa kerangka teologis ekonomi solidaritas yang relevan bagi rekonstruksi praksis eklesial di Indonesia. Implikasinya, gereja perlu menggeser paradigma diakonia karitatif menuju diakonia transformatif berbasis ekonomi solidaritas sebagai bentuk kesetiaan terhadap panggilan koinonia.
Gereja, Gawai, dan Generasi Z: Pemuridan Iman sebagai Solusi Pencegahan Pornografi pada Remaja Kristen Purba, Novia Cristina
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.356

Abstract

Generation Z, as digital natives, faces serious challenges from massive exposure to pornography through digital spaces, which has destructive impacts on the psychological, relational, and spiritual dimensions of Christian adolescents. Previous studies have tended to address pornography, digital discipleship, and Gen Z spirituality separately, resulting in the absence of a holistic, integrative framework. This article aims to formulate a conceptual framework of faith discipleship relevant to Christian Gen Z adolescents as a preventive strategy against pornography involvement. This research employs a literature review method with a theological-practical approach. The findings reveal three main points: first, understanding the digital spirituality landscape of Gen Z serves as an essential foundation; second, pornography must be read as a spiritual crisis, not merely a moral issue; third, the reconstruction of faith discipleship based on relationships, accountability, and the integration of Christian sexuality education becomes a strategic solution. Church, family, and Christian schools must synergize in building a holistic digital discipleship ecosystem so that gadgets become a means of Christ's presence for Generation Z.   Abstrak Generasi Z sebagai digital natives menghadapi tantangan serius berupa paparan pornografi yang masif melalui ruang digital, yang berdampak destruktif terhadap dimensi psikologis, relasional, dan spiritual remaja Kristen. Penelitian-penelitian terdahulu cenderung membahas isu pornografi, pemuridan digital, dan spiritualitas Gen Z secara terpisah, sehingga belum tersedia kerangka integratif yang holistik. Artikel ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual pemuridan iman yang relevan bagi remaja Kristen Gen Z sebagai strategi pencegahan keterlibatan dalam pornografi. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan teologis-praktis. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: pertama, pemahaman terhadap lanskap spiritualitas digital Gen Z menjadi fondasi penting; kedua, pornografi harus dibaca sebagai krisis spiritualitas, bukan sekadar isu moral; ketiga, rekonstruksi pemuridan iman berbasis relasi, akuntabilitas, dan integrasi pendidikan seksualitas Kristen menjadi solusi strategis. Gereja, keluarga, dan sekolah Kristen perlu bersinergi membangun ekosistem pemuridan digital yang holistik agar gawai menjadi sarana kehadiran Kristus bagi Generasi Z.
Dari Hafalan ke Habitus: Pierre Bourdieu dan Reformasi Metode Pendidikan Kristiani Sekolah Minggu di Indonesia Laura, Cindy
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.453

Abstract

Sunday School education in Indonesia remains dominated by a cognitivist-transmissive approach that treats Bible verse memorization as the primary indicator of children's faith formation. This article employs library research with a conceptual analysis approach to critique that model, arguing that genuine faith formation is not primarily determined by what children know but by the habitus gradually shaped through repeated communal participation. Drawing on Pierre Bourdieu's concept of habitus as a system of durable dispositions formed through repeated social practice and James K. A. Smith's cultural liturgies, the article argues that children are formed not chiefly through verbal instruction but through what they repeatedly do and inhabit within the faith community. This integration yields a practice-centered formation model characterized by four qualities: participatory, repetitive and consistent, contextual, and incarnational-relational. The article addresses three implementation challenges: cognitive-cultural resistance within church communities, the limited pedagogical capacity of Sunday School teachers, and the diversity of denominational contexts across Indonesia. The evaluative question posed is: "What habitus is actually being formed through our Sunday School practices?"   Abstrak Pendidikan Sekolah Minggu di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan kognitif-transmisif yang menjadikan hafalan ayat Alkitab sebagai indikator utama keberhasilan formasi iman anak. Artikel ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan analisis konseptual untuk mengkritisi model tersebut dan berargumen bahwa formasi iman yang sejati bukan terutama ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki anak, melainkan oleh habitus yang terbentuk melalui keterlibatan berulang dalam praktik-praktik komunal gereja. Bertolak dari konsep habitus Pierre Bourdieu sebagai sistem disposisi yang terbentuk melalui praktik sosial berulang serta gagasan cultural liturgies James K. A. Smith, artikel ini berargumen bahwa anak-anak tidak terbentuk terutama melalui instruksi verbal, melainkan melalui apa yang mereka lakukan dan hidupi secara berulang dalam komunitas iman. Integrasi kedua kerangka ini menghasilkan model practice-centered formation yang bercirikan partisipatif, berulang dan konsisten, kontekstual, serta inkarnasional-relasional. Artikel ini juga mendiskusikan tiga tantangan implementasi: resistensi budaya kognitif, keterbatasan kapasitas pedagogis guru Sekolah Minggu, dan keragaman konteks denominasional di Indonesia. Pertanyaan evaluatif yang ditawarkan adalah: habitus seperti apakah yang sesungguhnya sedang dibentuk melalui praktik Sekolah Minggu kita?
Paideia Kristiani sebagai Ontologi Pendidikan Agama Kristen: Formasi Spiritualitas dan Etika Generasi Muda dalam Terang Alkitab Rosianna Purba
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.459

Abstract

Christian paideia, as the ontological foundation of Bible-based Christian education, affirms that education is not merely a vehicle for transmitting knowledge but a formative process that shapes the very essence of human existence before God. This study examines Christian paideia as a paradigm that integrates faith, knowledge, and ethical praxis to form the younger generation. Employing a qualitative method grounded in a literature study and informed by hermeneutical and pedagogical approaches, this research engages Scripture as a normative source in dialogue with contemporary literature on the theology of education. The findings reveal that Christian paideia operates across four intertwined dimensions: first, as an ontology and existential formation that shapes the whole person as imago Dei; second, as a space integrating faith, spirituality, and ethics, manifested in honesty, justice, and love; third, as a contextual paradigm responding to moral crises in the digital and global era while serving as a moral-spiritual filter; and fourth, as the basis for communal, theological, and pedagogical implications for Christian education. Christian paideia thus emerges as an educational paradigm that transcends cognitive acquisition, forming faithful and ethical persons who contribute meaningfully to communal life. Abstrak Paideia Kristiani sebagai fondasi ontologis pendidikan Agama Kristen berbasis Alkitab menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar sarana transfer pengetahuan, melainkan proses formasi eksistensial yang menyentuh inti keberadaan manusia di hadapan Allah. Artikel ini menelaah paideia Kristiani sebagai paradigma yang mengintegrasikan iman, pengetahuan, dan praktik etis dalam pembentukan generasi muda. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur dan pendekatan hermeneutik-pedagogis, kajian ini menempatkan Alkitab sebagai sumber normatif dalam dialog dengan literatur teologi pendidikan kontemporer. Hasilnya menunjukkan bahwa paideia Kristiani beroperasi pada empat dimensi yang saling berkelindan: pertama, sebagai ontologi dan formasi eksistensial yang membentuk manusia seutuhnya sebagai imago Dei; kedua, sebagai ruang integrasi iman, spiritualitas, dan etika yang termanifestasi dalam kejujuran, keadilan, dan kasih; ketiga, sebagai paradigma kontekstual yang menjawab krisis moral di era digital dan globalisasi, sekaligus berfungsi sebagai filter moral dan spiritual; dan keempat, sebagai dasar implikasi komunitarian, teologis, serta pedagogis bagi pendidikan Kristiani. Dengan demikian, paideia Kristiani tampil sebagai paradigma pendidikan yang melampaui dimensi kognisi semata dan membentuk pribadi yang beriman, beretika, serta berkontribusi bagi kehidupan bersama.
Rekonstruksi Teologi Moderasi Beragama: Telaah Hermeneutis atas Narasi Perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-42 Johannis Siahaya; Nunuk Rinukti; Munatar Kause
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.473

Abstract

This study aims to reconstruct a theology of religious moderation by exploring the narrative of Jesus' encounter with the Samaritan woman in John 4:1-42. The discourse of religious moderation in Indonesia is often dominated by sociological and political approaches, while its biblical foundation remains underdeveloped. Using a hermeneutical method with narrative criticism and socio-rhetorical analysis, this research finds that Jesus' encounter transcends ethnic, gender, and theological boundaries through hospitality, equal dialogue, and recognition of the other's dignity. The findings affirm that this narrative provides a theological basis for religious moderation rooted in respect for humanity and openness to differences. This reconstruction is relevant to Indonesia's pluralistic context.   Abstrak Penelitian ini bertujuan merekonstruksi teologi moderasi beragama dengan menggali narasi perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-42. Wacana moderasi beragama di Indonesia kerap didominasi oleh pendekatan sosiologis dan politis, sementara fondasi biblikalnya belum tergali secara optimal. Melalui metode hermeneutis dengan pendekatan kritik naratif dan analisis sosio-retoris, penelitian ini menemukan bahwa perjumpaan Yesus menembus batas etnis, gender, dan teologis melalui hospitalitas, dialog setara, serta pengakuan martabat liyan. Hasil penelitian menegaskan bahwa narasi tersebut menyediakan dasar teologis bagi moderasi beragama yang berakar pada penghargaan terhadap kemanusiaan dan keterbukaan terhadap perbedaan. Rekonstruksi ini relevan dalam konteks kemajemukan di Indonesia