cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 174 Documents
Dari Laut ke Salib: Narasi Kehidupan Iman Orang Bajau Laut Kristen di Sabah Malaysia dalam Perspektif Misiologi Pastoral Widyastuti, Zohra; Rotty, Ryo Feens; Mauso, Grace Missela Julia; Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.572

Abstract

This article examines the faith life of the Christian Bajau Laut community in Sabah through a descriptive, narrative, qualitative approach to understand religious, social, and pastoral dynamics within the context of marginalization and statelessness. The purpose of this study is to interpret the community's experiences theologically and pastorally and to identify challenges and opportunities for the development of relevant and contextual pastoral missiology. The research methodology involved field observations in the context of ministry and a targeted literature review of academic sources. The results indicate that the Bajau Laut's faith life is shaped by fragile socio-economic conditions, maritime mobility, limited access to education and health care, and a legacy of local beliefs that influence daily religious practices. Field observations reveal tensions between cultural identity and Christian identity, particularly in situations of eviction, administrative discrimination, and minimal church support. This emphasizes the importance of an incarnational, dialogical, and advocacy-based model of pastoral care that not only focuses on spiritual nurturing but also seeks access to education, health, and social protection.     Abstrak Artikel ini mengkaji kehidupan iman komunitas Bajau Laut Kristen di Sabah melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan naratif untuk memahami dinamika religius, sosial, dan pastoral dalam konteks kemarginalan dan ketidakberkewarganegaraan. Tujuan penelitian ini adalah menafsirkan pengalaman komunitas secara teologis-pastoral serta mengidentifikasi tantangan dan peluang bagi pengembangan misiologi pastoral yang relevan dan kontekstual. Metodologi penelitian melibatkan observasi lapangan dalam konteks pelayanan dan kajian pustaka terarah atas literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan iman Bajau Laut dibentuk oleh kondisi sosial-ekonomi yang rapuh, mobilitas maritim, keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan, serta warisan kepercayaan lokal yang berdampak pada praktik religius sehari-hari. Observasi lapangan mengungkap ketegangan antara identitas budaya dan identitas kristiani, khususnya dalam situasi penggusuran, diskriminasi administratif, dan minimnya pendampingan gereja. sehingga hal ini dapat menegaskan pentingnya model penggembalaan yang inkarnasional, dialogis, dan advokatif, yang tidak hanya berfokus pada pembinaan rohani tetapi juga mengupayakan akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Analisis Semantik kata "koimomenon" dalam 1 Tesalonika 4:13 dan Kontribusinya terhadap Pengharapan Eskatologis Sinaga, Santono; Telaumbanua, Agus Arda Setiawan; Sinaga, Samuel Natalius; Ina, Rosita Tamu
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.573

Abstract

Eschatological hope is an important foundation of the Christian faith, but in practice it is often distorted when congregations are confronted with the reality of death. Greco-Roman religious and philosophical views also influenced the Thessalonian congregation, causing them to experience excessive grief. This article analyzes the term "koimomenon" in 1 Thessalonians 4:13 and its contribution to the formation of believers' eschatological hope. This study employs a qualitative literature review method with an exegetical-semantic approach, including lexical, grammatical, historical, and theological analyses of the Greek text of the New Testament (NA27). The results indicate that Paul uses the term "koimomenon" as a theological metaphor to emphasize the transience of believers' deaths and the continuity of their relationship with Christ.   Abstrak Pengharapan eskatologis merupakan fondasi penting iman Kristen, namun dalam praktiknya sering mengalami distorsi ketika jemaat berhadapan dengan realitas kematian. Kondisi ini juga dialami jemaat Tesalonika yang menunjukkan dukacita berlebihan akibat pengaruh pandangan religius dan filosofis Greko-Roma. Artikel ini bertujuan menganalisis secara semantik kata "koimomenon" dalam 1 Tesalonika 4:13 serta kontribusinya terhadap pembentukan pengharapan eskatologis orang percaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi pustaka dengan pendekatan eksegetis-semantik, meliputi analisis leksikal, gramatikal, historikal, dan teologis terhadap teks Yunani Perjanjian Baru NA27. Hasil kajian menunjukkan bahwa istilah "koimomenon" digunakan Paulus sebagai metafora teologis untuk menegaskan sifat sementara kematian orang percaya dan kesinambungan relasi mereka dengan Kristus.
Media Pembelajaran Visual Interaktif Berbasis Aplikasi Desain Digital untuk Sekolah Minggu GPM Sekewael, Olivia; Tamaela, Marceline I.
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.574

Abstract

The development of digital technology has opened new opportunities for learning media at various levels of education, including Church Formal Education (PFG). This study aims to explore the opportunities and challenges of utilizing interactive visual learning media based on digital design applications in the context of the Maluku Protestant Church (GPM) Sunday School. Using a descriptive qualitative approach through participatory observation, interviews, and literature study, this research found that digital design applications offer ease of access, flexibility in content creation, and visual appeal that can improve learning effectiveness. However, challenges such as limited technological infrastructure, accessibility gaps, and low digital skills among caregivers remain significant obstacles. This study recommends collaborative strategies among curriculum development teams, mentors, and caregivers, as well as the use of offline features to overcome limitations in internet access. The implications of this study are expected to enrich learning methods and strengthen the GPM PFG curriculum in responding to the challenges of the digital era.   Abstrak Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang baru dalam pengembangan media pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan, termasuk Pendidikan Formal Gereja (PFG). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peluang dan tantangan pemanfaatan media pembelajaran visual interaktif berbasis aplikasi desain digital dalam konteks Sekolah Minggu Gereja Protestan Maluku (GPM). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teknik observasi partisipatif, wawancara, dan studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa aplikasi desain digital menawarkan kemudahan akses, fleksibilitas dalam pembuatan konten, serta daya tarik visual yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, kesenjangan aksesibilitas, dan rendahnya keterampilan digital pengasuh masih menjadi hambatan signifikan. Penelitian ini merekomendasikan strategi kolaboratif antara tim pengembang kurikulum, pembimbing, dan pengasuh, serta pemanfaatan fitur offline untuk mengatasi keterbatasan akses internet. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat memperkaya metode pembelajaran dan memperkuat kurikulum PFG GPM dalam menjawab tantangan era digital.    
Melampaui Transfer Pengetahuan: Model Keguruan Transformatif Yesus dalam Injil Matius sebagai Paradigma Pendidikan Agama Kristen Sucipto, David Sarju
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.287

Abstract

Christian religious education often limits the teacher’s role to the transfer of knowledge, without fully considering the dimension of character transformation. This article analyzes the portrayal of Jesus as a transformative teacher in the Gospel of Matthew and explores its implications for Christian religious education. The study employs a non-participatory qualitative approach, using a descriptive-experimental method to analyze the Gospel of Matthew. The research findings indicate that, first, Jesus prioritizes internal transformation that transcends outward change, as evident in His teachings on the law, forgiveness, and a transformed heart; second, Jesus imparts divine values originating from God as the core of His pedagogical curriculum; and third, Jesus instilled the responsibility to serve God and others as the ultimate goal of shaping the disciples’ character. It is concluded that Jesus’ teaching model in the Gospel of Matthew offers a relevant, transformative paradigm for shaping Christian teachers who do not merely transfer knowledge but educate holistically toward change in students' hearts and character.   Abstrak Pendidikan Agama Kristen kerap membatasi peran guru pada transfer pengetahuan, tanpa mempertimbangkan dimensi transformasi karakter secara utuh. Artikel ini bertujuan menganalisis gambaran Yesus sebagai guru transformatif dalam Injil Matius dan mengeksplorasi implikasinya bagi pendidikan agama Kristen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif noninteraktif dengan metode deskriptif-eksegetik terhadap teks-teks Injil Matius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Yesus memprioritaskan transformasi internal yang melampaui perubahan lahiriah, sebagaimana tampak dalam pengajaran-Nya tentang hukum, pengampunan, dan hati yang diubahkan; kedua, Yesus mewariskan nilai-nilai Ilahi yang bersumber dari Allah sebagai inti kurikulum pedagogis-Nya; dan ketiga, Yesus menanamkan tanggung jawab melayani Allah dan sesama sebagai tujuan akhir pembentukan karakter murid. Disimpulkan bahwa model keguruan Yesus dalam Injil Matius menawarkan paradigma transformatif yang relevan untuk membentuk guru Kristen yang tidak sekadar mentransfer ilmu, melainkan mendidik secara holistik menuju perubahan hati dan karakter peserta didik.