cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 174 Documents
Paradoks Keutamaan Kristus menurut Kolose 1:15-19 dan Peran Leluhur Memberi Berkah dalam Konteks Budaya Toraja Hardianus Bela
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.388

Abstract

This article describes the supremacy of Christ, a theological foundation built by Paul in Colossians 1:15-19 which became the basis of teaching for believers in Colossae who were growing in faith in Christ. Various false teachings shake the congregation's faith, affecting their belief in Christ. The presence of Paul's letter is an answer to the problems faced. Inspired by Paul's efforts to counter the influence of heresy in the Colossian church, the author explains the theological foundation of the supremacy of Christ in this paper. What was built by Paul is also a solid basis to counter the influence of animism, which still animates Christian believers in living life as a Toraja tribal community. Paul's theological foundation can also be a solid foundation for the existence of other local churches in Indonesia, which are often confronted with the animism that local people in Indonesia have lived.AbstrakArtikel ini memaparkan mengenai keutamaan Kristus, sebuah landasan teologi yang dibangun oleh Paulus di dalam Kolose 1:15-19 yang menjadi dasar pengajaran bagi orang-orang percaya di Kolose yang baru bertumbuh di dalam iman kepada Kristus.Konteks kehidupan yang heterogen di Kolose memicu timbulnya beragam ajaran sesat yang menggoyahkan iman jemaat sehingga berpengaruh pada kepercayaan mereka terhadap Kristus. Kehadiran surat Paulus ini adalah jawaban atas persoalan yang dihadapi.Terinspirasi dari upaya Paulus mengonter pengaruh pengajaran sesat di dalam jemaat Kolose, di dalam tulisan ini penulis memaparkan bahwa landasan teologi mengenai keutamaan Kristus yang dibangun oleh Paulus juga adalah sebuah dasar yang kokoh untuk mengonter pengaruh animisme yang masih menjiwai orang percaya Kristen di dalam menjalani kehidupan sebagai masyarakat suku Toraja. Landasan teologi dari Paulus ini juga dapat menjadi dasar yang kokoh bagi keberadaan gereja lokal lainnya di Indonesia yang seringkali diperhadapkan pada paham animisme yang pernah dihidupi oleh masyarakat lokal di Indonesia.
Menuju Teologi Sungai: Kajian Ekoteologi terhadap Pencemaran Sungai Sa’dan di Toraja Tenny Tenny; Johana Ruadjanna Tangirerung; Stephanus Ammai Bungaran; Yonathan Mangolo; Agustinus Karurukan Sampeasang
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.392

Abstract

Humans and all creatures need rivers as a source of life and prosperity. However, many rivers have been polluted, such as the Sa'dan river. This paper aims to rediscover Christians' vocation in viewing and preserving rivers that focus on God. By using the theory of Theocentrism and To Sangserekan mythology in treating the river as a sangserekan that needs to be guarded and maintained. The author uses a descriptive qualitative method to achieve this goal with the help of field studies and literature. Field studies through open interviews with respondents have been determined according to the needs of the instrument and literature study using the perspective of Theocentrism and To Sangserekan mythology which emphasizes that humans and rivers are both created. The results of the study said that the causes of the pollution of the Sa'dan river were: (1) there was a mistake in understanding the river, which had no connection with the issue of Christian faith; (2) an environmentally unfriendly lifestyle has become a habit that continues to be forced; (3) the lack of sermons on environmental issues, especially rivers. For this reason, a theological response is needed to answer the problem of pollution of the Sa'dan river, namely towards river theology.AbstrakManusia dan seluruh mahluk memerlukan sungai sebagai sumber kehidupan dan kesejahteraan. Namun banyak sungai yang sudah tercemar, seperti sungai Sa’dan. Tujuan tulisan ini adalah menemukan kembali panggilan umat Kristen dalam memandang dan melestarikan sungai yang berfokus kepada Allah. Dengan menggunakan teori Teosentrisme dan mitologi To Sangserekan dalam memperlakukan sungai sebagai sangserekan yang perlu dijaga dan dipelihara. Metode yang penulis gunakan untuk mencapai tujuan tersebut ialah metode kualitatif deskriptif dengan bantuan studi lapangan dan kepustakaan. Studi lapangan dilaksanakan melalui wawancara terbuka kepada responden yang telah ditentukan sesuai kebutuhan instrument dan studi kepustakaan berfokus kepada prinsip-prinsip dalam ekoteologi yang terkait dengan pelestarian sungai. Hasil penelitian mengatakan bahwa penyebab pencemaran sungai Sa’dan, ialah: (1) adanya kekeliruan dalam memahami sungai yang tidak memiliki kaitan dengan persoalan iman kristen; (2) gaya hidup tidak ramah lingkungan sudah menjadi kebiasaan yang terus dipaksakan; (3) minimnya khotbah-khotbah mengenai isu lingkungan khususnya sungai. Untuk itu, perlu sebuah respons teologis untuk menjawab masalah pencemaran sungai Sa’dan yaitu menuju teologi sungai.
Revitalisasi Kristen: Tinjauan Historis Konsep Kelahiran Kembali dan Signifikansinya bagi Orang Kristen Robby Indarjono; Megawati Silaban
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.83

Abstract

Born again or born anew is not a new term for Christians. Almost every church encourages the congregation to experience being born again or born anew. But, is their understanding of born again or born anew correct as the Bible implies? In John 3, Jesus taught this to Nicodemus, a Pharisee, a Jewish religious leader. Even Jesus had to repeat his explanation in order for Nicodemus to truly understand that spiritually born again or born anew is something that is absolutely necessary for a person to enter the kingdom of God (John 3:3, 5-7). It is ironic that the understanding of many Christians, both congregations and clergies, regarding the term born again or born anew is often not quite as accurate as Nicodemus. This concern has prompted the author to take library research regarding Christian revitalization, using a historical review of the concept of born again, with the aim that clergies and congregations have a correct understanding of the doctrine of being born again according to the Bible.AbstrakKelahiran kembaliatau kelahiran baru bukan istilah asing bagi orang Kristen. Hampir setiap gereja mendorong jemaat untuk mengalami kelahiran kembali atau kelahiran baru. Tetapi, apakah pemahaman mereka tentang kelahiran kembali atau kelahiran baru sudah benar seperti yang Alkitab maksud-kan? Dalam Yohanes 3:1-21, Yesus mengajarkan hal ini kepada Nikodemus, seo-rang Farisi, pemimpin agama Yahudi. Bahkan Yesus harus mengulang penjelasan-nya agar benar-benar dipahami oleh Nikodemus bahwa kelahiran kembali atau kelahiran baru secara rohani adalah hal yang mutlak dialami seseorang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:3, 5-7). Sungguh ironis jika pemahaman banyak orang Kristen, baik jemaat maupun hamba Tuhan, tentang istilah kelahiran kembali atau kelahiran baru ini seringkali kurang tepat seperti halnya Nikodemus. Keresahan ini telah mendorong penulis melakukan penelitian pus-taka tentang revitalisasi Kristen, dengan melakukan tinjauan historis konsep kela-hiran kembali, dengan harapan agar hamba Tuhan dan jemaat memiliki pemaha-man yang benar tentang doktrin kelahiran kembali menurut Alkitab.
Penglihatan Binokular Pneumatologi: Kajian Socio-Historis Perspektif Mesopotamia dan Ibrani Kuno Elia Singkoh; Milton Thorman Pardosi; Alvyn Cesarianto Hendriks
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.377

Abstract

The Hebrew scriptures contain rich material on pneumatology. Cultural context greatly influenced the construction of dogmatics in biblical times, but the study of pneumatology from a social and historical point of view received less attention. This study aims to explore the social context of the meaning of spirits in the ancient Mesopotamian and Hebrew eras. Through a socio-historical approach, the pneumatology construction plot of the ancient Hebrews can be known, where its development also influences the construction of New Testament theology and can be used as a reference for the development of dogmatics at the end of time. Methods This research uses a qualitative descriptive approach. The mingling of the ancient Hebrews with the Mesopotamians influenced the ancient Hebrews' presuppositions for the articulation of pneumatology and its everyday use. The widespread and transcendental use of pneumatology occurred as a result of the initial conceptual fragility and articulation that developed from the Mesopotamians, thus influencing the perspective of ancient Hebrew pneumatology on daily implementation. The diversity of pneumatological articulations in ancient Hebrew literature is not a contradiction but a multiplicity of words that emerges from the socio-historical aspect.AbstrakKitab suci Ibrani berisi materi yang kaya tentang pneumatologi. Konteks budaya sangat mempengaruhi konstruksi dogmatika di zaman Alkitab, namun kajian pneumatologi dari sudut pandang sosial dan sejarah kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konteks sosial pemaknaan roh di era Mesopotamia dan Ibrani kuno. Melalui pendekatan socio-historis, alur konstruksi pneumatologi bangsa Ibrani kuno dapat diketahui, di mana perkembangannya turut mempengaruhi konstruksi teologi Perjanjian Baru dan dapat dijadikan acuan pengembangan dogmatika di akhir zaman. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Berbaurnya bangsa Ibrani kuno dengan bangsa Mesopotamia mempengaruhi presuposisi orang Ibrani kuno terhadap artikulasi pneumatologi serta penggunaannya sehari-hari. Penggunaan pneumatologi yang luas dan transcendental terjadi akibat rempuhan konseptual awal serta artikulasi yang berkembang dari bangsa Mesopotamia sehingga mempengaruhi perspektif pneumatologi orang Ibrani kuno terhadap implementasi sehari-hari. Diversitas artikulasi pneumatologi dalam literatur Ibrani kuno bukan merupakan kontradiksi melainkan multiplisitas kata yang mencuat dari aspek socio-historis.
Agama dan Nilai-nilai Kemanusiaan dalam Ajaran Yesus Billy Steven Kaitjily; Ani Mulyani
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.398

Abstract

Religion should reflect human values. However, in practice, religion often becomes a tool to advance the interests of certain groups, as happened in the phenomenon of identity politics some time ago, which often neglects human values. This article aims to show that as a religion, Christianity teaches and highly upholds human values; this is expressed in the law of love: loving God and others. By using the thematic descriptive method and literature analysis on sacred texts, narratives are obtained that affirm religious attitudes that uphold human values. In conclusion, Christianity is rooted in the teachings of Jesus that emphasize human values.AbstrakAgama sejatinya harus merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, pada praktiknya seringkali agama menjadi alat untuk meloloskan kepentingan kelompok tertentu, seperti halnya yang terjadi dalam fenomena politik identitas beberapa waktu lalu, sehingga tidak jarang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa sebagai sebuah agama, Kekristenan mengajarkan dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan; hal tersebut diekspresikan dalam hukum kasih: mengasihi Allah dan sesama. Dengan menggunakan metode deskriptif tematik dan analisis literatur pada teks-teks kitab suci, diperoleh narasi-narasi yang menegaskan sikap beragama dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai simpulan, Kekristenan berakar pada ajaran Yesus yang menegaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Penolakan Kurban dalam Amos 5:21-27 dan Relevansinya dengan Sila Kelima Pancasila Helda Sriwijayati; Timothy Uriel Pelmar; Sandro Hasoloan L Tobing
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.399

Abstract

Amos 5:21-27 shows the Israelite sacrifice being rejected by God, even though the sacrifice fulfilled the ritual requirements. The people of Israel in the time of Amos were required by God to do justice and righteousness, but they did not do so, and the Lord sentenced them. Some scholars also argue about this rejection, and they fall into two groups. The first group concludes that God rejected the sacrifice because He did not need it. The second group believes that sacrifice is needed but must be followed by people living based on justice and righteousness. The Israelite people during Amos's time ignored justice; corruption, economic inequality, and poverty were rampant. Even though its people are religious, Indonesia also has serious social injustice problems. The poverty rate is high, economic inequality is wide, and corruption is easy to find. The interpretation of Amos 5:21-27 about justice is relevant to Pancasila, especially the fifth principle, "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia".AbstrakAmos 5:21-27 menampilkan kurban orang Israel ditolak oleh TUHAN, meskipun kurban telah memenuhi syarat ritual. Orang Israel pada masa Amos dituntut oleh TUHAN untuk melakukan keadilan dan kebenaran, namun mereka tidak melakukannya dan TUHAN menjatuhkan hukuman. Beberapa ahli pun berargumen tentang penolakan itu dan mereka terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama menyimpulkan TUHAN menolak kurban karena tidak membutuhkannya. Kelompok kedua berpendapat kurban tetap dibutuhkan tetapi harus diikuti kehidupan umat yang berlandaskan keadilan dan kebenaran. Mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesa maka didapa kesimpulan bahwa, kehidupan orang Israel pada masa Amos mengabaikan keadilan, sehingga korupsi, ketimpangan ekonomi dan kemiskinan pun merajalela. Indonesia, meski rakyatnya beragama juga memiliki masalah serius yakni ketidakadilan sosial. Angka kemiskinan tinggi; ketimpangan ekonomi lebar; korupsi mudah ditemukan. Hasil tafsir menghasilkan pertama teologi kurban yang direlevansikan untuk memaknai persembahan dan kedua keadilan Amos relevan dengan Pancasila, khususnya sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.
Kesetiaan Kristus Sebagai Model Spiritualitas Kepemimpinan Jemaat: Kajian Teologis 2 Tesalonika 3:1-7 Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi; Carolina Etnasari Anjaya
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.382

Abstract

In the current era, Indonesia's leadership crisis is increasingly concerning. The increasing number of law violations and societal norms by leaders evidences this. From these various facts, the leaders involved were Christians, even church leaders. This study aims to explore the concept of the faithfulness of the Lord Jesus according to 2 Thessalonians 3:1-7 to find principles that can be used as a basis for church leaders in carrying out their duties. This study uses a narrative approach with a descriptive qualitative method of the text of 2 Thessalonians 3:1-7. The study's results concluded that the principle of loyalty was found in the Bible text as the key to the success of Christian leadership according to the model that the Lord Jesus gave. The Apostle Paul explained that the basic principles for building loyalty in leadership are unconditional commitment, responsibility, and love. Loyalty will be reflected in how church leaders live life and strength as an example.AbstrakDi era saat ini, krisis kepemimpinan Indonesia semakin memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya kasus pelanggaran hukum dan norma masyarakat yang dilakukan para pemimpin. Dari pelbagai fakta tersebut, para pemimpin yang terlibat terdapat orang-orang Kristen, bahkan pemimpin jemaat. Penelitian ini bertujuan memberikan tawaran konsep kesetiaan Tuhan Yesus sesuai 2 Tesalonika 3:1-7 sebagai prinsip yang dapat dijadikan landasan bagi para pemimpin jemaat dalam menunaikan tugasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratif dengan metode kualitatif deskriptif terhadap teks 2 Tesalonika 3:1-7. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada teks Alkitab tersebut ditemukan prinsip kesetiaan sebagai kunci keberhasilan kepemimpinan Kristen sesuai model yang Tuhan Yesus berikan. Rasul Paulus menjelaskan bahwa prinsip dasar untuk membangun kesetiaan dalam kepemimpinan adalah komitmen tanpa syarat, tanggung jawab dan kasih. Kesetiaan akan tercermin dari bagaimana cara para pemimpin jemaat menjalani hidup dan kekuatan sebagai teladan.
Orang tua dalam Pembentukan Karakter Kristiani Anak Generasi Alfa Monica Santosa
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.384

Abstract

Generation Alpha is a generation that is very dependent on digital devices. The formation of Christian characters for the Alpha generation is not easy when compared to the formation of Christian characters for previous generations. Based on this, the role of parents in the formation of the Christian character of Alpha generation children is very important. The purpose of this research is to increase the role of parents in forming the Christian character of Alpha generation children, namely as educators, mentors, encouragement, supervisors, and friends so that parents of this generation can play an active role in the formation of their Christian character. Parents can pay more attention to their children's growth and development, especially in forming Christian characters based on the word of God. The method used in this study is a descriptive qualitative approach with a literature review. The results of this study by observing and interviewing parents who have children born in 2010 to date show that most parents are not aware of their role as educators, mentors, encouragers, supervisors, and friends, so parents are confused about carrying out their roles towards the formation of a child's Christian character.AbstrakGenerasi Alpha adalah generasi yang sangat bergantung terhadap perangkat digital. Pembentukan karakter Kristen bagi generasi Alpha tidaklah mudah jika dibandingkan dengan pembentukan karakter Kristen generasi sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, peran orang tua dalam pembentukan karakter Kristen anak generasi Alpha sangatlah penting. Tujuan penelitian ini adalah supaya peran orang tua ditingkatkan dalam pembentukkan karakter Kristen anak generasi Alpha, yaitu sebagai pendidik, peembimbing, penyemangat, pengawas, dan sahabat sehingga orangtua dari generasi tersebut bisa berperan aktif dalam pembentukan karakter Kristen mereka. Orang tua dapat lebih memperhatikan mengenai tumbuh kembang anak terutama dalam hal pembentukan karakter kristen yang berdasar pada firman Tuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan kajian literatur. Hasil dari penelitian ini dengan melakukan observasi dan wawancara kepada orangtua yang memiliki anak yang lahir pada tahun 2010 hingga saat ini adalah sebagian besar orang tua belum menyadari perannya sebagai pendidik, pembimbing, penyemangat, pengawas, dan sahabat, sehingga orang tua kebingungan dalam melakukan perannya terhadap pembentukan karakter kristen anak.
Pandangan Martin Luther tentang Pembenaran oleh Iman dalam Yakobus 2:14-26 Maria Payer; Antonius Missa; Bobby Kurnia Putrawan
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.252

Abstract

In this paper, the authors explain that the views of a reforming theologian named Martin Luther once stated that the letter of James "mangles the Scripture and thereby opposes Paul and all Scripture" and called this letter an epistle of straw. ' (straw letter). Luther's statement was prompted by his doubts about the letter of James, which emphasizes good works more than faith. Although James himself did not mean it that way, Luther's view has prompted many theologians who interpret James' teaching on faith and works specifically discussed in chapter 2 to contradict Paul's teaching of justification by faith alone in Christ (Rom 3:24,28). Here the authors discuss the reflection on Martin Luther's views with James 2:14-26 regarding justification by faith.AbstrakDalam tulisan ini, para penulis menjelaskan bahwa pandangan seorang teolog reformasi yang bernama Martin Luther pernah menyatakan bahwa surat Yakobus ini adalah ’’mangles the Scripture and there by opposes Paul and all Scripture’’ dan menyebut surat ini sebagai ’’an epistle of straw’’ (surat jerami). Pernyataan Luther ini didorong oleh keraguannya kepada surat Yakobus yang lebih menekankan perbuatan baik daripada iman. Meskipun Yakobus sendiri tidak bermaksud demikian, namun pandangan Luther ini  telah mendorong banyak teolog yang menafsirkan ajaran Yakobus mengenai iman dan perbuatan yang dibahas khusus dalam pasal 2 ini bertentangan dengan ajaran Paulus mengenai pembenaran hanya oleh iman kepada Kristus (Rm. 3:24,28). Disini  para penulis membahas refleksi pandangan Martin Luther dengan Yakobus 2:14-26 mengenai pembenaran oleh iman.
Refleksi Kehidupan Gereja Perdana dalam Praktik Gereja Virtual Jimmy Lizardo
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.390

Abstract

. The virtual church is a future church design that allows all human spiritual activities, such as worship, cell communities, prayer services, counseling, sacraments, evangelism, and so on, to enter soon a new era where the role of human beings is becoming increasingly insignificant and replaced with a touch of internet-based technology. The development of technology, with all its sophistication, has shifted the definition of the church. There is a characteristic of the true church, which is that 'koinonia' (communion) cannot be implemented virtually. This study aims to conduct a biblical study of the true meaning of digital ecclesiology to find whether the virtual church violates the rules of God's word or not. As well as looking for biblical patterns of spiritual life in building a virtual church. Using qualitative methods with a literature study approach through the source of books and literature as a research reference. The conclusion of this study is that the practice of virtual churches does not violate the rules of God's word; however, virtual churches need to build strong relationships between members (koinonia/communion), as the early congregations did in Acts 2:42-47, becoming a pattern (patron) of building virtual churches in today's era.AbstrakGereja virtual adalah rancangan gereja masa depan yang memungkinkan semua aktivitas rohani manusia seperti ibadah, komunitas sel, pelayanan doa, konseling, sakramen, penginjilan dan sebagainya akan segera memasuki era baru, di mana peran manusia menjadi semakin tidak signifikan dan tergantikan dengan sentuhan teknologi berbasis internet. Perkembangan teknologi dengan segala kecanggihannya membuat definisi gereja mengalami pergeseran. Ada karakteristik gereja sejati, yaitu koinonia (persekutuan) yang tidak mampu diterapkan secara virtual. Penelitian ini bertujuan melakukan kajian biblis makna eklesiologi digital yang sesungguhnya, untuk menemukan apakah gereja virtual menyalahi kaidah firman Tuhan atau tidak? Serta mencari pola kehidupan rohani yang Alkitabiah dalam membangun gereja virtual. Menggunakan metodekualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui sumber buku-buku dan literatur sebagai acuanpenelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah praktik gereja virtual tidak menya-lahi kaidah firman Tuhan, namun demikian, gereja virtual perlu membangun relasi yang kuat antar-anggota (koinonia/persekutuan), seperti yang dilakukan jemaatmula-mula dalamKisah Para Rasul2:42-47, menjadi sebuah pola (patron) membangun gereja virtual di era sekarang ini.

Page 11 of 18 | Total Record : 174