cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Menenun Makna, Menjaga Kesucian: Strategi Kontekstualisasi Injil atas Pernikahan Adat Ma’parampo Toraja Jerry F. Tiwa
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.448

Abstract

This research examines the challenges missionaries and pastors face in delivering the gospel amid the diversity of cultures and customs in Indonesia, particularly among the Toraja tribe. The concept of marriage in Torajan culture, such as the rampanan kapa' and ma'parampo customs, has a sacred meaning and is different from the understanding of marriage in Christian teachings, which requires contextualization for the gospel to be relevant and accepted. Using a descriptive qualitative method, this study concludes that contextualizing the gospel in Torajan culture, particularly in relation to ma'parampo traditional marriage, demands a thoughtful understanding of how to connect biblical teachings with local traditions. The traditional marriage of Ma'parampo is legally recognized under Torajan customary law, and this study argues that contextualization should not deny that recognition but rather weave the biblical meaning of marital sanctity into it, guiding couples toward the fuller consecration of a church blessing rather than treating the two as opposed. Therefore, churches need to be present from the outset of the ma'parampo process and provide concrete, sustained pastoral accompaniment so that adat legitimacy and biblical sanctity are held together rather than set against each other.Abstrak Penelitian ini berfokus pada tantangan yang dihadapi misionaris dan pendeta dalam menyampaikan Injil di tengah keberagaman budaya dan adat istiadat di Indonesia, khususnya di kalangan suku Toraja. Konsep pernikahan dalam budaya Toraja, seperti adat rampanan kapa’ dan ma’parampo, memiliki makna sakral dan berbeda dari pemahaman tentang pernikahan dalam ajaran Kristen. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi strategi kontekstualisasi dalam penyampaian ajaran Kristen terkait pernikahan kepada masyarakat Toraja, dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya mereka. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa kontekstualisasi Injil dalam budaya Toraja, khususnya terkait pernikahan adat Ma'parampo, menuntut pemahaman yang bijaksana tentang bagaimana menghubungkan ajaran Alkitab dengan tradisi lokal. Pernikahan adat ma’parampo sah menurut hukum adat Toraja, dan kajian ini berargumen bahwa kontekstualisasi bukan berarti menyangkal keabsahan itu, melainkan menenun makna kesucian pernikahan menurut Alkitab ke dalamnya, sehingga pasangan didampingi menuju peneguhan dan pemberkatan gerejawi yang lebih utuh, bukan diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Oleh karena itu, gereja perlu hadir sejak proses ma’parampo berlangsung dan memberikan pendampingan pastoral yang konkret dan berkelanjutan, agar keabsahan adat dan kesucian menurut Alkitab dapat dijaga bersama-sama.
Teologi Ekologi Kristen Menggugat Pandangan Antroposentris dalam Upaya Mencegah Perubahan Iklim Global Albert sahala; Fandi Prasetyo Kusuma; Herman Syahtie; Yohanes Twin Agus Indratno
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 10 No 1: Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v10i1.577

Abstract

Global climate change is a multidimensional crisis rooted not only in technological and economic factors but also in how humans interpret their relationship with nature as creation. The anthropocentric view within Christian theology, placing humans as the absolute center and ruler of the earth, has legitimized massive and systemic environmental exploitation and deepened ecological damage. This study challenges that paradigm by developing a Christian ecological theology framework that positions creation as an integral part of God's redemptive work. Using a qualitative approach through critical theological literature study, the research finds that theological anthropocentrism is the primary root of the ecological crisis through human domination over creation. Reconstructing creation theology calls for a shift from domination toward relationality that honors the interconnectedness of all beings. Cosmic redeemtion theology affirms the church's ecological responsibility as part of its mission to save the world, while ecological spirituality emerges as a new paradigm guiding faithful practice and ethical action amid climate change, emphasizing harmony among humans, nature, and God.   Abstrak Perubahan iklim global merupakan krisis multidimensional yang bersumber bukan hanya dari faktor teknologis dan ekonomis, melainkan juga dari cara manusia memaknai relasinya dengan alam sebagai ciptaan. Pandangan antroposentris dalam tradisi teologi Kristen, yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa mutlak atas bumi, telah melegitimasi eksploitasi lingkungan yang masif dan sistemik serta memperdalam kerusakan ekologis. Penelitian ini bertujuan menggugat paradigma antroposentris tersebut melalui pengembangan kerangka teologi ekologi Kristen yang menempatkan ciptaan sebagai bagian integral dari karya penebusan Allah. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka teologis kritis, penelitian ini menemukan bahwa antroposentrisme teologis menjadi akar utama krisis ekologis melalui dominasi manusia atas ciptaan. Rekonstruksi teologi ciptaan mendorong pergeseran dari sikap penguasaan menuju relasionalitas yang menghargai keterkaitan seluruh makhluk. Teologi penebusan kosmik menegaskan tanggung jawab ekologis gereja sebagai bagian dari misi penyelamatan dunia, sementara spiritualitas ekologis muncul sebagai paradigma baru yang membimbing praksis iman dan tindakan etis dalam menghadapi perubahan iklim, dengan menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Allah.
Sicut in Caelo et in Terra: Dialektika Transendensi-Imanensi Ilahi sebagai Model Pedagogis Pendidikan Moderasi Beragama di Indonesia Hasudungan Sidabutar
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 10 No 1: Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v10i1.592

Abstract

The phrase sicut in caelo et in terra, drawn from the Lord's Prayer, expresses a dialectical relationship between divine transcendence and immanence. This article examines the theological and exegetical meaning of the phrase and develops it into a pedagogical model for religious moderation education in Indonesia's plural society. Using a qualitative library research method, the study drew on Indonesian and international theology and religious education journals, selected for their relevance to transcendence-immanence theology, the Lord's Prayer, and religious moderation. The study finds that transcendence grounds epistemic humility toward religious truth claims, while immanence grounds ethical responsibility for enacting divine values in social life. Building on this dialectic, the article proposes three interrelated pedagogical principles for Christian religious education: epistemic humility, practical engagement, and liturgical-ethical integration, each linked to concrete classroom practices. The article concludes that this model offers Christian religious educators a theologically grounded and practically actionable framework for cultivating tolerance and social harmony within Indonesia's multicultural context.   Abstrak Frasa "sicut in caelo et in terra", yang berasal dari Doa Bapa Kami, mengungkapkan relasi dialektis antara transendensi dan imanen Allah. Artikel ini mengkaji makna teologis dan eksegetis frasa tersebut serta mengembangkannya menjadi model pedagogis bagi pendidikan moderasi beragama di masyarakat plural Indonesia. Dengan metode kualitatif studi pustaka, sumber dihimpun dari jurnal teologi dan pendidikan agama, baik Indonesia maupun internasional, yang relevan dengan teologi transendensi-imanensi, Doa Bapa Kami, dan moderasi beragama. Kajian ini menemukan bahwa transendensi melandasi kerendahan hati epistemik terhadap klaim kebenaran agama, sedangkan imanensi melandasi tanggung jawab etis untuk mewujudkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan sosial. Berdasarkan dialektika ini, artikel mengusulkan tiga prinsip pedagogis yang saling terkait bagi pendidikan agama Kristen, yaitu kerendahan hati epistemik, keterlibatan praksis, dan integrasi liturgis-etis, yang masing-masing dikaitkan dengan praktik pembelajaran yang konkret. Artikel ini menyimpulkan bahwa model tersebut menawarkan kerangka kerja yang berlandaskan teologis sekaligus dapat diterapkan secara praktis oleh pendidik agama Kristen untuk membangun toleransi dan harmoni sosial dalam konteks multikultural di Indonesia.
Kepemimpinan Hamba sebagai Paradigma Transformatif Guru Pendidikan Agama Kristen: Nilai Inti, Implementasi, dan Strategi Penguatan di Lingkungan Sekolah Michael On Ponakuli
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 10 No 1: Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v10i1.594

Abstract

Leadership among Christian Religious Education (CRE) teachers in Indonesia still tends toward authoritarian and dominance-oriented practice, leaving a gap between the ideal of the teacher as spiritual guide and character former and the classroom reality of relationships weakly grounded in empathy and service. This study formulates servant leadership as a leadership paradigm for CRE teachers through qualitative library research, using content analysis of primary and secondary literature validated through triangulation across theological, pedagogical, and empirical sources. Unlike prior studies that examine servant leadership only through biblical exegesis or that center on principal rather than classroom leadership, this study integrates conceptual, pedagogical, and critical dimensions specific to CRE teachers. The findings identify three interlocking dimensions of servant leadership, namely exemplary integrity, active empathy, and responsible love, and translate them into concrete pedagogical and institutional strategies. The study further identifies structural tensions between service-oriented leadership and the disciplinary authority teachers must retain and between this model's egalitarian ethos and the hierarchical culture of Indonesian schools, tensions left largely unexamined in the existing literature.   Abstrak Kepemimpinan guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Indonesia masih cenderung otoritatif dan berorientasi pada dominasi, sehingga muncul jarak antara idealitas guru sebagai pembimbing iman dan pembentuk karakter dengan realitas relasi kelas yang lemah berbasis empati dan pelayanan. Penelitian ini merumuskan kepemimpinan hamba sebagai paradigma kepemimpinan guru PAK melalui metode kualitatif studi kepustakaan, dengan analisis isi terhadap sumber primer dan sekunder yang divalidasi melalui triangulasi lintas sumber teologis, pedagogis, dan empiris. Berbeda dari penelitian terdahulu yang mengkaji kepemimpinan hamba semata-mata melalui eksegesis biblika atau yang berfokus pada kepemimpinan kepala sekolah, penelitian ini mengintegrasikan dimensi konseptual, pedagogis, dan kritis yang spesifik bagi guru PAK. Hasil kajian mengidentifikasi tiga dimensi kepemimpinan hamba yang saling terkait, yaitu keteladanan berintegritas, empati aktif, dan kasih yang bertanggung jawab, serta menerjemahkannya menjadi strategi konkret di kelas dan di institusi. Penelitian ini juga mengidentifikasi ketegangan struktural antara kepemimpinan berorientasi pelayanan dan otoritas disipliner yang tetap harus dipegang guru, serta antara etos egaliter dalam model ini dan budaya hierarkis di sekolah-sekolah di Indonesia, ketegangan yang sejauh ini belum banyak dibahas dalam literatur.
Internalisasi Nilai Keteladanan Yesus dalam Injil Matius 5–7 sebagai Dasar Pengembangan Pembelajaran Kreatif Guru Pendidikan Agama Kristen Priskila Yan Poncowati; Kondang Sri Tatanegara
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 10 No 1: Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v10i1.601

Abstract

Abstract. This study is motivated by the tendency of Christian Religious Education (CRE) to emphasize cognitive and memorization aspects, thus neglecting students’ affective and spiritual dimensions. In contrast, Jesus’ teaching in Matthew 5–7 demonstrates a creative, contextual, and transformative pedagogical model. This study aims to analyze the internalization of Jesus’ exemplary values as a foundation for developing creative learning among CRE teachers. A qualitative descriptive approach was employed. Data were collected through in-depth interviews with three CRE teachers, supported by documentation and literature review. The findings indicate that teachers possess a sound understanding of Jesus’ exemplary values; however, their implementation in classroom practice remains unsystematic. Value internalization is reflected in teachers’ personal lives and pedagogical relationships, yet it has not been fully integrated into instructional design. This study proposes the Reflection–Internalization–Praxis (RIP) model as a framework for developing integrative and transformative CRE learning.   Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang masih berorientasi pada aspek kognitif dan hafalan, sehingga kurang menyentuh dimensi afektif dan spiritual pada peserta didik. Padahal, pengajaran Yesus dalam Matius 5–7 menunjukkan pola pedagogis yang kreatif, kontekstual, dan transformatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis internalisasi nilai keteladanan Yesus sebagai dasar pengembangan pembelajaran kreatif bagi guru PAK. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga guru PAK dan didukung oleh studi dokumentasi serta kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki pemahaman yang baik terhadap nilai keteladanan Yesus, namun implementasinya dalam pembelajaran masih belum sistematis. Internalisasi nilai tampak dalam kehidupan dan relasi pedagogis guru, tetapi belum terintegrasi dalam desain pembelajaran. Penelitian ini menawarkan model Refleksi–Internalisasi–Praksis (RIP) sebagai kerangka pembelajaran PAK yang integratif dan transformatif.
Teologi Suara: Manifestasi Kehadiran Allah melalui Konseling Pastoral di Media Radio Evans Yunior; Riko Silaen
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 10 No 1: Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v10i1.602

Abstract

This study explores the concept of the theology of voice as a manifestation of God's presence through pastoral counseling on radio broadcasting media, responding to the dominance of visual culture in contemporary theology. Using a qualitative literature review and a practical theological approach, this study synthesizes historical church documents on media, the philosophy of acoustemology, and empirical findings on remote counseling. The analysis reveals that the radio medium facilitates an acoustic theophany, where the counselor's voice intonation and the "voice of silence" function as channels of divine empathy that echo the grace of healing. This auditory accompaniment practice proves to be highly strategic and crucial in creating a public safe space without face-to-face interaction for victims of domestic violence, as well as addressing the anxiety crisis and existential paradox experienced by Generation Z amidst the visual fatigue of the digital era. It is concluded that radio pastoral counseling is not merely the transmission of secular psychological information but a sacramental act that transcends physical spatial boundaries, thus demanding theological education institutions to immediately integrate clinical broadcasting competencies into their curricula.     Abstrak. Penelitian ini mengeksplorasi konsep Teologi Suara sebagai manifestasi kehadiran Allah melalui bimbingan pastoral di media penyiaran radio, yang merespons dominasi budaya visual dalam teologi kontemporer. Melalui metode kualitatif berupa studi kepustakaan dan pendekatan teologi praktis, kajian ini menyintesis dokumen historis gereja terkait media, filsafat akustemologi, serta temuan empiris mengenai konseling jarak jauh. Hasil analisis menunjukkan bahwa medium radio memfasilitasi teofani akustik, di mana intonasi suara dan "suara keheningan" (the voice of silence) dari konselor berfungsi sebagai saluran empati ilahi yang menggemakan anugerah pemulihan. Praktik pendampingan secara auditori ini terbukti sangat strategis dan krusial dalam menciptakan ruang aman (safe space) publik tanpa tatap muka bagi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta menjawab krisis kecemasan dan paradoks eksistensial yang dialami Gen Z di tengah kelelahan visual pada era digital. Disimpulkan bahwa konseling pastoral via radio bukanlah sekadar transmisi informasi psikologis sekuler, melainkan tindakan sakramental yang melampaui batasan ruang fisik, sehingga menuntut institusi pendidikan teologis untuk segera mengintegrasikan kompetensi klinis dalam penyiaran ke dalam kurikulum mereka.