cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Memaknai Janji Pemulihan Yoel 2:18-27 di tengah Pandemi Covid-19 Roy Charly Sipahutar
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.244

Abstract

This article is an attempt to find the deepest meaning of the text of Joel 2:18-27 for the life of Israel in the post-exilic period and which will be implemented in the present life. Unlike the prophetic texts in general which tend to contrast religious rituals with the crisis of social awareness of the nation of Israel, the text in this passage is actually a consolation and hope for a nation that has fallen as a result of commitment to undergo a new life order. Right life and right worship. The approach used to interpret the text is the Historical-Apocalyptic Hermeneutics to get God's message in the message of Joel. God apparently did not allow the survival of life on earth to be threatened, God listened to lamentations and noticed changes in the pattern of Israel's life so that it promised a peaceful future. The same promise would certainly be the consolation and hope of God's people today in the shock of Covid-19.
Tanggung Jawab Gereja Membangun Gerakan Eco-literacy di Kaldera Toba UNESCO Global Geopark Bestian Simangunsong; Hanna Dewi Aritonang; Sandy Ariawan; Herbin Simanjuntak; Roida Harianja
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.313

Abstract

Penetapan kawasan Danau Toba menjadi Kaldera Toba UNESCO Global Geopark (Kaldera Toba UGG), tidak hanya memberikan kebanggan tersendiri, tetapi juga harapan baru dalam mewujudkan kawasan Danau Toba menjadi destinasi wisata super prioritas. Ironisnya, kerusakan ekologis di kawasan Kaldera Toba masih terus berlangsung, seperti: perambahan hutan secara massif, pencemaran air Danau melalui keramba jaring apung. Kerusakan ekologis berhubungan dengan moralitas dan praktek ketidakadilan. Gereja dipanggil melakukan diakonia transformatif secara holistik untuk menyelamatkan kawasan Kaldera Toba UGG melalui gerakan eco-literacy atau melek ekologi. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana tanggungjawab gereja sebagai komunitas ekologis untuk mewujudkan gerakan eco-literacy yang berorientasi terhadap penyelamatan Kaldera Toba UGG sebagai warisan dunia? Gereja diharapkan melakuka upaya rancang bangun transformasi ekologis (eco-transformation design) menuju eco-literacy dan mempromosikannya kepada jemaat. Adapun thesis statement penelitian adalah gereja terpanggil untuk melakukan penyelamatan bumi di kawasan Danau Toba sebagai tanggungjawab iman di tengah realitas sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Upaya gereja dalam membangun gerakan eco-literacy yang dapat berkontribusi untuk menjaga komunitas berkelanjutan di kawasan Danau Toba.
Agama dan Pelestarian Budaya: Sebuah kajian Alkitab terhadap Praktik Aluk Rambu Solo’ dalam Upacara Kematian orang Kristen Toraja Marianus Patora
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.296

Abstract

Acara Rambu Solo’ merupakan bagian dari upacara kematian Aluk Todolo atau agama para leluhur orang Toraja. Sampai saat ini pelaksanaan Rambu Solo’ masih tetap dilaksanakan dan telah menjadi identitas orang toraja pada umumnya yang sulit untuk ditinggalkan, meskipun orang Toraja itu sendiri telah memiliki keyakinan sebagai agama Kristen. Bagi orang Kristen Toraja, dalam melaksanakan upacara Rambu Solo’ mereka tidak melakukan agama Aluk Todolo melainkan hanya melaksanakan Adat Toraja dan berpartisipasi untuk melestarikan budaya. Penelitian ini mengunakan metode Kualitatif  dengan tehnik penulisan adalah melalui observasi literatur kepustakaan. Setelah meneliti dan membahasan tentang pelaksanaan acara Rambu Solo’ dalam kehidupan orang Kristen Toraja, maka dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan acara Rambu Solo’ yang dilakukan orang Kristen Toraja masih diwarnai oleh unsur Aluk Todolo. Sudah saatnya gereja hadir untuk tidak selalu bersikap kritis terhadap suatu budaya, akan tetapi memberikan solusi melalui pemberian pola-pola baru dengan makna kekristenan terhadap praktik acara rambu solo’ yang dianggap tidak sesuai dengan iman Kristen. Dengan cara inilah, maka pelestarian budaya akan dapat terus dilakukan oleh orang Kristen toraja tanpa harus mengaburkan iman kekristenan mereka.
Tarian Lego-lego sebagai Pendampingan Pastoral bagi Masyarakat Alor Inger Gloria Manimoy
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.257

Abstract

Culture is often regarded as taboo and contrary to religious values. Whereas when viewed more in culture has values that if useful to learn. Lego-lego dance is one of the dances originating from Alor regency, East Nusa Tenggara. In addition to other traditional activities this dance also has the meaning of reconciliation that can restore a relationship that has been damaged. This dance indirectly becomes a medium of conflict resolution for every conflict in Alor society. In this paper, qualitative methods are used with data collection techniques, namely observations and interviews. If this writing can be seen as a method offered in conflict resolution in Alor society.
Edukasi Seks Berbasis Pendidikan Kristiani bagi Anggota Jemaat Gereja Protestan Indonesia di Papua Ruben Rewasan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.306

Abstract

There velations about sex are often regarded as very risky, taboo, dirty and embarrassing. Similarly, in the lives of Papuans and most indonesian Protestant church members in Papua (hereinafter written GPI Papua), this action is usually done on the basis of awareness that sex is an immoral activity  and will cause new deviations, especially by teenagers. Whatever reaction arises must be realized that the problem of sex is a concrete problem,but many people can not give the appropriate answer that causes a new problem. Based on these conditions, sex education needs to be organized one of them by the church to minimize the problem of sex. In its implementation, sex education in the church must be done through the preparation of a representative educational curriculum. Sex education materials integrated in the curriculum are actual and aligned with the objectives of Christian Education. Through this paper, the author wants to  write theoretical thought as a contribution of thought taking into account aspects of the context of sex education organized by the church. The direction and purpose of the church's sex education curriculum is based on the Bible and is aimed at raising awareness of learners responsible for their lives for the glory of God. 
Dinamika Ibadah dalam Kehidupan Umat Allah hingga Gereja Masa Kini Mariani Harmadi; Tomson Lumban Tobing
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.261

Abstract

A problematic issue examined in this research, namely the vulnerability to unity and harmony in a church that consists of various members of its congregation. This condition is like bananas which differ from one another and are irregular in shape, so as to compose them requires a challenging effort and a long struggle. Lord Jesus prayed for the unity of believers, because this is essential for the expansion of the kingdom of God. As for goals, this research is to find the extent to which the effectiveness of the role of worship in the church to realize harmony among the various diversity including the differences in generations in the midst of a congregation, each of which is influenced by the style of music that develops in its day, where the phenomenon of movement of church members that occurs is caused by differences in musical tastes in worship, so as to answer this, research question is used descriptive qualitative method by examining the essence of worship, unity and diversity of historical, etymological, biblical and systematic angles. The conclusions obtained from these careful results, is that the worship that God has planned for His chosen people, including believers in the present and in the future, which contains a relationship that aims to strengthen the relationship for the realization of unity both the relationship between man and God, human and himself, as well as humans with each other in the midst of diversity towards harmony as Christian witness in the midst of the darkness of the world.
Memahami Makna Spiritual dari Pemali Masyarakat Toraja Inencia Erica Lamba
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.248

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pemaknaan secara spiritual mengenai Pemali atau pamali yang terus dihidupi dalam masyarakat Toraja dan telah dianggap sebagai salah satu kebudayaan yang ada di masyarakat. Tulisan ini berfokus pada budaya Pemali yang terus dipelihara masyarakat Toraja dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pemali yang ada dalam masyarakat Toraja telah menjadi bagian dari ide konseptual yang dimanifestasikan oleh masyarakat ke dalam wujud kebudayaan. Pemali mengandung banyak nilai, selain spiritual terdapat juga simbol dan agama yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat melalui adanya kepercayaan tentang nilai dari sesuatu yang supranatural. Data dalam tulisan ini dikumpulkan dari artikel online, buku dan wawancara via telefon kepada pihak-pihak yang menghidupi budaya Pemali sampai sekarang dalam hal ini masyarakat Toraja. Metode penelitian dilakukan secara sederhana dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Deskriptif karena penelitian ini diarahkan untuk memberikan gambaran secara holistik dan faktual tentang Pemali yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Toraja yang berhubungan dengan makna spiritual. Analitis karena data yang diperoleh merupakan hasil analisis dari faktor-faktor yang mendukung proses pemaknaan Pemali. Data yang diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan kajian agama, teori sosial kebudayaan, dan spiritualitas.
Allah dalam Ruang, Waktu, dan Bahasa Manusia: Refleksi Empati Allah Terhadap Manusia Tri Untoro
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.297

Abstract

God is an essence that cannot be limited and understood by humans because God is outside of space and time, and he understanding of human brain. Everything that God does is regardedas a mystery and difficult to understand. How can God be recognized and understood becomes something urgent in human life. By examining and comparing existing literacies, this research present that way God works in time and space. So it can be seen that God is even involved in human space, time and language in His work. God manifests his work as a form of empathy for human suffering. So that humans and the chuch must also imitate the way God works in the world.
Gagasan Teologi Konstruktif Asia bagi Model Pendidikan Agama Kristen dalam Mengentaskan Isu Kemiskinan di Indonesia Ivonne Sandra Sumual; Anggi Maringan Hasiholan; Aldi Abdillah; Naftali Untung; Amos Hosea
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.308

Abstract

Indonesia adalah negara yang melekat dengan kemiskinan yang bertumpah ruah. Berbagai macam faktor menjadi penyebab kemiskinan tersebut, mulai dari konsep ekonomi yang menindas sehingga sulit untuk mendapatkan kesempatan mengembangkan diri, faktor politik, dan religius. Fakta ini diperparah dengan adanya masalah pandemi COVID-19 yang tidak kunjung menemukan titik cerah penyelesaiannya. Permasalahan ini menjadi perhatian serius dari seluruh pihak, termasuk gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan suatu teologi konstruktif yang mengarah kepada konsep PAK di Indonesia. Peneliti menyoroti secara khusus semangat dari Agustinus yang menjadi titik awal di dalam membangun suatu bangunan teologi yang konstruktif. Peneliti juga secara khusus mengangkat realitas sosial-teologis di Indonesia yang memiliki corak kemiskinan yang begitu kuat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan teologi konstruktif. Penelitian ini diharapkan bisa mengusulkan suatu harmonisasi di dalam tataran sosial antara PAK dengan masyarakat.
Diskursus Kebersamaa Umat sebagai Wujud Hidup Menggereja Munatar Kause; Yudhi Kawangung; Desi Arisandi Laga Nguru; Vera Herawati Siahaan; Elias Modok
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.265

Abstract

 As socialized by the former Minister of Religion of the Republic of Indonesia Lukman Hakim, that there are three mantras that will become the flagship program of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, namely: Religious Moderation; Togetherness of the People; and Data Integration. Three major schemes are the main focus in moving the national development curve in the field of religious level and religious education. It is inevitable that the Indonesian nation is often hit by the issue of religious intolerance in some regions, so that it is quite draining of thought and energy and leaves a humanitarian issue that is alienated from a society that is far from harmonizing with diversity. This article aims to offer and at the same time present a breakthrough in the awareness of the mind that is surrounded by the clogged public space, in this case the isolation of social structures so that there is friction, so a simple conception is needed to unravel this. The togetherness of the people is an important key in releasing the shackles of division (segmentation) and separation (fragmentation) among the people, so that this attachment is a new form of church life. The approach method used is qualitative literature which is thoroughly explored to find the meaning behind the phenomenon.

Page 8 of 17 | Total Record : 162