cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Lansia dalam Pandangan Lansia: Kajian Sosio-Teologis Relevansi Pelayanan Gereja di Jemaat GMIT Efata, Soe Sintha Armus Allu
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.138

Abstract

Penelitian ini hendak mengemukakan dua hal pokok yaitu pemahaman jemaat lanjut usia di jemaat GMIT Efata Soe atas dirinya sendiri di masa lanjut usia serta pokok pikiran yang relevan bagi pelayanan jemaat lanjut usia berdasarkan keberadaan jemaat lansia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini didapatkan dengan metode observasi, pustaka, dan wawancara. Metode Purposive Sampling merupakan metode yang digunakan dalam memperoleh sampel penelitian. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa jemaat lansia di GMIT Efata Soe memiliki pemahaman pribadi atas dirinya di masa lanjut usia dan mengharapkan pelayanan yang lebih luas dan mendalam secara khusus dari pelayan di GMIT Efata Soe. GMIT Efata Soe termasuk di dalamnya para pelayan merasa bertanggung jawab atas pelayanan kepada jemaat lansia dan masih selalu mengusahakan pelayanan yang lebih baik kepada jemaat lansia.
Tinjauan Teologis tentang Tanah Menurut Kehidupan Atoni Pah Meto Ezra Tari
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.300

Abstract

The land crisis has begun amid rampant deforestation. The condition of the soil began to be arid and did not produce maximum results. The land is seen as an area that must be controlled and utilized as much as possible for prosperity. The land is often a source of dispute between humans. However, humans ignore environmental sustainability. The purpose of writing is to describe Atoni Pah Meto's life attitude, preserving nature by respecting local wisdom. The purpose of this research is to explore the meaning of land according to the life of Atoin Pah Meto. The method used is qualitative. The research approach is a literature review. Atoin Pah Meto is very concerned about everyday life. The values built are a brotherhood, love for the environment, and care. Second, the farming method is how Atoni Pah Meto behaves. Third: personality emerges from challenging working conditions. Personality strives well to achieve a decent life.
Pendidikan Teologi sebagai Peta Jalan Pembaharuan Kehidupan: Sebuah Refleksi Teologi Transformatif: Bakhoh Jatmiko
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.310

Abstract

 This research is motivated by the disparity of developmental dimensions of theological students. It is often found that the learning process in theological education gives more portion to the content rather than the other developmental dimensions. Theological education should be a transformative experience that covers cognition development, spiritual formation, character maturation, competencies enrichment, and relational engagement with the faith communities. Therefore, this research was conducted to find a form of theological education that can convey a transformative experience for the participants. In order to achieve this, the study used a qualitative research method with a descriptive approach. Data collection techniques were carried out by literature review related to the topics discussed. This study found a theological framework of transformative theology in the Bible. This research also presented the idea of transformative theological education style, namely theological education that emphasizes on balance in concepts and practices in the learning experience. Some of the integrative learning models that can be implemented are the holistic target of changes, a variety of learning approaches, determinative learning strategies, and authentic learning evaluation.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan dimensi perkembangan peserta didik dalam belajar teologi. Sering dijumpai proses pembelajaran dalam pendidikan teologi memberikan porsi lebih banyak pada konten daripada dimensi yang lain. Pendidikan teologi seharusnya menjadi pengalaman transformatif yang meliputi pengembangan kognisi, pembentukan kerohanian, pembangunan karakter, penajaman kompetensi, dan penguatan relasi sosial dengan komunitas iman. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari bentuk pendidikan teologi yang mampu menghadirkan pengalaman transformatif bagi peserta belajarnya. Dalam rangka mencapainya, kajian di dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka terkait dengan topik yang dibahas. Penelitian ini menemukan kerangka berpikir teologis tentang teologi transformatif di dalam Alkitab. Penelitian ini juga menghadirkan pemikiran corak pendidikan teologi transformatif yaitu pendidikan teologi yang menekankan keseimbangan dalam konsep dan praktik di dalam pengalaman belajar. Beberapa model pembelajaran integratif yang dapat dilakukan adalah: Sasaran perubahan yang Holistik, Ragam pendekatan Pembelajaran yang Variatif, Strategi Pembelajaran yang determinatif, dan Evaluasi Pembelajaran yang Autentik.
Model Pendidikan Kristiani bagi Kaum Lanjut Usia di Era Pandemi Covid-19 Esra Nopita Purba
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.292

Abstract

Artikel ini membahas tentang pergumulan para lansia yang tidak dapat mengikuti kegiatan-kegiatan gerejawi secara langsung selama masa pandemi COVID-19. Pembatasan perjumpaan secara langsung menjadi tantangan tersendiri bagi gereja, secara khusus dalam melayani kaum lansia. Untuk mengatasi persolan tersebut, maka desain pendidikan Kristiani kepada kaum lansia harus memerhatikan kebutuhan utama kaum lansia di masa pandemi ini. Gereja harus memikirkan model pendidikan Kristiani yang tepat untuk membina kaum lansia. Gereja harus memberikan perhatian dan kepedulian yang dikemas dengan cara-cara yang kreatif dengan mempertimbangkan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat membantu kaum lansia untuk tetap bisa mengembangkan potensi dirinya. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research) untuk menggali apa yang menjadi kebutuhan kaum lansia untuk mendapatkan pendidikan Kristiani di tengah keterbatasan mereka di era pandemi COVID-19. Penulis mempertimbangkan tawaran Gentzler tentang desain pendidikan Kristiani bagi kaum lansia yang disebut dengan model pelayanan SENIORS, yaitu Spirituality, Education, Nutritition and Health, Intergenerational Opportunities, Outreach, Recreation, dan Social Activities. Tujuh bidang ini harus diperhatikan dalam melakukan pendidikan Kristiani bagi kaum lansia, sehingga mereka tidak menjadi terabaikan selama pandemi.
Pargodungan dan Pembangunan Jemaat HKBP yang Transformatif: Sebuah Kajian Eklesiologis-Historis Franciska Marcia J Silaen
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.295

Abstract

Sejak tahun 2020 pandemi COVID-19 menyebar begitu cepat di seluruh dunia dan menghantam aspek penting dalam kehidupan jemaat (masyarakat). Berangkat dari hal tersebut penulis memandang bahwa dengan menghidupkan kembali fungsi pargodungan sebagai pusat transformasi jemaat melalui rekonstuksi imajinatif pargodungan, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dapat terus melakukan pembangunan jemaat pada masa krisis dan paska krisis. Rekonstuksi imajinatif pargodungan menggunakan lensa eklesiologi historis yang menjadi alat ukur untuk menelisik sekaligus mengkaji ulang teologi dan misi pargodungan pada masa lalu. Pargodungan adalah kompleks gereja yang menjadi pusat (pangkalan) pekabar Injil untuk melakukan berbagai upaya menghadirkan transformasi bagi masyarakat Batak melalui berbagai pelayanan di dalam gereja, sekolah, dan rumah sakit. Bertolak dari hal tersebut penulis menawarkan model pargodungan yang kembali melaksanakan fungsinya sebagai ruang bersama bagi pembangunan jemaat melalui peningkatan ekonomi, pendamping pendidikan di sekolah, dan penyedia ruang isolasi mandiri bagi warga jemat penderita virus COVID-19.  
Pendidikan Kristiani Intergenerasi sebagai Upaya Memulihkan Kehidupan Bergereja Merensiana Hale
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.301

Abstract

Pelayanan dalam gereja yang cenderung memisahkan jemaat berdasarkan usia dan generasi dapat memperlebar gap generasi bahkan berdampak pada perpecahan jemaat. Gap generasi merusak relasi persekutuan dalam gereja. Tulisan ini bertujuan menawarkan konsep pendidikan kristiani intergenerasi sebagai upaya pemulihan kehidupan bergereja. Hasil yang dicapai melalui penelitian studi kepustakaan yang relevan adalah konsep pendidikan kristiani intergenerasi di gereja. Pendidikan intergenerasi dalam gereja dimaknai sebagai upaya pemulihan kehidupan bergereja. Pendidikan kristiani intergenerasi dapat memperkuat persekutuan dan meminimalisir peselisihan akibat kesenjangan generasi.
Pola Asuh Orang tua Berdasarkan Perkembangan Usia Anak Menurut Pemikiran Erik Erikson di Persekutuan Doa CEB Ministry Matheis Picauly
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.312

Abstract

Mendidik dan mengasuh anak merupakan tugas mulia setiap orangtua. Cara orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak sangat memengaruhi perkembangan anaknya. Namun, acapkali ditemukan orangtua mengalami kesulitan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan tahap perkembangan anaknya. Persoalan ini terjadi karena orangtua sendiri tidak memiliki pengetahuan mengenai tahap perkembangan anak. Tujuan dari penelitian ini adalah agar orangtua dapat memilih pola asuh yang tepat dan mampu menganalisa kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pola asuh yang tepat berdasarkan tahap perkembangan anak berdampak positif dalam perkembangan dan kehidupan anak. Dengan kata lain, pola asuh berdasarkan tahap perkembangan anak menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan baik, orangtua senang, keluarga Bahagia.
Kontras Pandangan Yesus dan Orang Muda yang Kaya: Analisis Teologis Matius 19:16-26 Juniatri Kadang
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.294

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menelisik alasan dibalik penolakan orang muda yang kaya terhadap  Yesus dan mengapa Yesus memberi kecaman kepada orang kaya dalam ajaran-Nya. Pendekatan yang dilakukan berupa interpretasi terhadap Matius 19:16-26 dan pendekatan pada konteks sosial yang terkait erat dengan Imperialisme Romawi. Berdasarkan hasil analisa maka dapat dipahami bahwa penolakan orang muda tersebut karena paham religius Yahudi yang dianutnya mengenai kekayaan dan dominansi Romawi, memperjelas prestasi sosial orang muda tersebut sehingga keputusan itu bagi dirinya dan orang sezamannya dianggap sebuah kewajaran dan ajaran Yesus justru sebuah kebaruan. Selanjutnya kecaman Yesus terhadap orang kaya, dilatari oleh ruang lingkup pelayanan Yesus pada kaum termarginalkan dan kekayaan dianggap sebagai penghalang keselamatan karena diperoleh melalui keberpihakan pada pemerintahan Romawi yang dalam  wacana apokaliptik Injil Matius, diidentikkan sebagai sekutu Setan.
Dosa Anak Lembu Emas dan Citra Diri Harun: Refleksi Kajian Biblis Keluaran 32:1-35 tentang Kepemimpinan Kristiani Andreas Joswanto; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.368

Abstract

Aaron's contribution to building the statue of the golden calf set a bad precedent for Christian leadership. Aaron had the gift of experience, opportunity, and ability to save the Israelites from mortal sin, but he did not. This article aims to explore the meaning of Harun's actions in the event of the statue of the calf, provide an analysis of it, and a reflective description of the event of Christian leadership today. The research method uses a qualitative approach through a literature study approach about Aaron's leadership and his reflection on the narrative of Exodus 32:1-35. The conclusion was found that Harun's error was caused because leadership motivation was based on self-image which led to a compromising attitude towards the truth or not having the courage to oppose untruth so that it is reflective for Christian leadership to be able to stand on the truth of God's word with full trust in God and keep away selfishness and greed and unfavorable motivations. And Christian leaders are required to clean their leadership motivation from self-image and replace it with pure motivation in all service to God and others.AbstrakKontribusi Harun dalam membangun patung tuangan anak lembu emas menjadi preseden buruk bagi kepemimpinan Kristen. Harun memiliki anugerah pengalaman, kesempatan dan kemampuan untuk menghindarkan bangsa Israel dari dosa besar, namun dia tidak melakukannya. Artikel ini bertujuan mendalami makna tindakan Harun dalam peristiwa patung tuangan anak lembu, memberi-kan analisis terhadapnya dan deskripsi reflektif peristiwa tersebut terhadap kepe-mimpinan Kristen saat ini. Metode penelitian menggunakan kualitatif melalui sebuah pendekatan studi literatur tentang kepemimpinan Harun dan refleksinya pada narasi Keluaran 32:1-35. Hasil simpulan ditemukan bahwa kesalahan Harun diakibatkan karena motivasi kepemimpinan didasarkan kepada citra diri yang berujung pada sikap kompromi terhadap kebenaran atau tidak memiliki kebera-nian dalam menentang ketidakbenaran, sehingga reflektif bagi kepemimpinann Kristen harus dapat berdiri diatas kebenaran firman Tuhan dengan penuh percaya kepada Tuhan dan menjauhkan egois dan keserakahan serta motivasi yang tidak berkenan. Dan para pemimpin Kristen disyaratkan untuk membersihkan motivasi kepemimpinannya dari citra diri dan menggantikannya dengan motivasi murni dalam segala pelayanan kepada Tuhan dan sesama.
Komunikasi Interpersonal Orang tua dan Pendampingan Pastoral dalam Perkembangan Sikap Remaja Kristen Agoeng Tjahajani Sarwono; Edi Soerjantoro; Riko Silaen
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.325

Abstract

Adolescents was a period of crisis due to feelings change  (moody, depressed, insecure) behaviour change (getting alone, stubborn); lack of environment awareness such as refused adolescent advices, refused involve family activities, and  annoyed by information technology. This study aimed was to analysed the effect of parental interpersonal communication and pastoral assistance on Adolescents' Attitudes (age 10-18 years old) GSKI Jakarta. This research used a quantitative descriptive method. Total samples are 97 respondents includes parents, church administrators, Teens or Youth mentor GSKI Jakarta. Collecting data used form of questionnaire written in google form and distributed online. Processing data using multiple regression analyzed with SPSS 25 and T test. The results showed that parental interpersonal communication variable had regression coefficient value of 0.503 (Sig.) 0.000 < 0.05. The T test showed that t count (4,901) > t table (1.67528), However, Pastoral Assistance variable had regression coefficient value of 0.276 (Sig.) 0.002 < 0.05. The T test showed that t count 3.256 > t table (1.67528). Conclusion showed that  parental interpersonal communication and pastoral assistance had positive and significant influence on adolescents’ attitudes (10-18 years) GSKI Jakarta. Masa remaja merupakan masa krisis akibat perubahan pada perasaan (moody, perasaan tertekan dan tidak aman), perubahan perilaku (ingin menyendiri dan sulit diatur), kurangnya kesadaran terhadap lingkungan, seperti menolak mendengarkan nasihat, menolak terlibat dalam urusan keluarga; sering terpengaruh oleh perubahan teknologi informasi. Penelitian ini bertujuan menelaah pengaruh komunikasi interpersonal orang tua dan pendampingan pastoral terhadap sikap remaja (10 -18 tahun) GSKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Jumlah sampel sebanyak 97 responden, terdiri dari orang tua, pengerja gereja, pembina Teens dan Youth GSKI Jakarta. Desain metodologi penelitian ini berbasis kuestioner mengenai pendampingan pastoral dan sikap remaja yang dituangkan dalam format google (google form) dan disebarkan secara daring. Hasil menunjukkan variabel Komunikasi Interpersonal Orang tua mempunyai nilai koefisien regresi 0.503, (Sig.) 0.000 < 0.05; hasil uji T memperlihatkan t hitung 4.901 > t tabel (1.67528), Sedangkan, variabel Pendampingan Pastoral mempunyai nilai koefisien regresi 0.276, (Sig.) 0.002 < 0.05; dan hasil uji T memperlihatkan t hitung 3.256 > t tabel (1.67528). Kesimpulan memperlihatkan bahwa komunikasi interpersonal orang tua dan pendampingan pastoral memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap sikap remaja (10-18 tahun) GSKI Jakarta. 

Page 9 of 17 | Total Record : 162