cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Strategi Misi Orang Percaya dalam Mengaktualisasi Amanat Agung di Era New Normal Joko Sembodo; Sari Saptorini
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.240

Abstract

Church leaders and believers often focus too much on their respective churches and pay less attention to the unity of the body of Christ in winning souls. There is an understanding of the basic concept of evangelism that is not properly understood in its application as a witness of Christ. Becomes an obstacle in actualizing the mandate of the Great Commission. Through descriptive qualitative methods, it can be concluded that the essence of the Great Commission and its Challenges will lead believers to maintain the spirituality of believers because with a mature and spiritually mature spirituality they can become examples and role models so that they can actualize the Mission appropriately and in line with God's will. Furthermore, the believer has the knowledge that mission is a testimony of the believer's faith. hence this missiological concept carries the same spirit when Jesus wanted believers to be light and bring the news of salvation.AbstrakPemimpin gereja dan orang percaya tidak jarang terlalu lebih fokus pada gerejanya masing-masing dan kurang memberi perhatian pada kesatuan tubuh Kristus dalam memenangkan jiwa-jiwa. Adanya pengertian konsep dasar penginjilan yang tidak dimengerti secara benar dalam penerapannya sebagai saksi Kristus. Menjadi kendala dalam mengaktualisasi mandat Amanat Agung. Melalui metode kualitatif deskritif  dapat disimpulkan bahwa hakikat Amanat Agung  dan tantangannya akan membawa orang percaya  untuk menjaga  Spritualitas orang percaya sebab dengan kerohanian yang matang dan dewasa rohani dapat menjadi contoh dan teladan sehingga dapat mengaktualisasi Misi dengan tepat dan sejalan dengan kehendak Tuhan. Selanjutnya orang percaya memiliki pengetahuan bahwa misi sebagai kesaksian Iman orang percaya. maka konsep misiologi ini membawa semangat yang sama ketika Yesus menginginkan orang percaya menjadi terang dan membawa kabar keselamatan.
Menggagas Penggunaan Benih dalam Perayaan Paskah: Analisis Biblikal Yohanes 12:20-26 Alon Mandimpu Nainggolan; Yuni Feni Labobar
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.239

Abstract

Easter is one of the most important Christian and Catholic holidays and dates back to the church in the first century until today. The Passover holiday reminds Christians how Jesus died and was resurrected for the sake of human salvation. There are many ways Christians celebrate Easter, but the most popular of which is Easter is identified with eggs. This study aims to increase understanding of church traditions, especially easter eggs which are believed to have no biblical basis because the Lord Jesus in his ministry never used them as illustrations to explain His death and resurrection. The research method chosen is descriptive qualitative with literature study and exposition approach on the text on John 12:20-26. Celebrating Easter according to Bible standards is very significant today and in the future. That is why taking up Jesus' parable of the wheat is an offer for the church today to gain a relevant understanding of the Passover. Easter celebrations using plant seeds become a symbol of survival for oneself, family, church, environment, and government.AbstrakPaskah adalah salah satu hari raya Kristen dan Katolik yang sangat penting, dan telah dimulai sejak gereja abad pertama hingga saat ini. Hari raya Paskah mengingatkan orang Kristen bagai-mana Yesus mati dan dibangkitkan demi keselamatan manusia. Beragam cara orang Kristen da-lam merayakan hari raya paskah, namun yang paling populer paskah diidentikkan dengan telur. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai tradisi gereja, khususnya telur paskah yang diyakini tidak memiliki dasar Alkitab, karena Tuhan Yesus dalam pelayanannya tidak pernah menggunakannya sebagai ilustrasi untuk menjelaskan kematian dan kebangkitan-Nya. Metode penelitian yang dipilih adalah kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan dan pendekatan eksposisi pada teks Yohanes 12:20-26. Merayakan paskah sesuai stan-dar Alkitab adalah sangat signifikan di masa kini dan di masa mendatang. Itu sebab-nya, mengangkat perumpamaan Yesus tentang biji gandum menjadi tawaran bagi ge-reja saat ini untuk memperoleh pemahaman yang relevan tentang paskah. Perayaan paskah dengan menggunakan benih tumbuh-tumbuhan menjadi simbol keberlang-sungan hidup bagi diri sendiri, keluarga, gereja, lingkungan hidup dan pemerintah.
Iman Kristen dan Ranah Publik: Sketsa Pemikiran Abraham Kuyper David Kristanto; Tony Salurante
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.246

Abstract

Abraham Kuyper was arguably a Christian who had brought the implications of the Christian faith to the public sphere in a remarkable way. For Kuyper, the Christian faith had equally emphasized the importance of transformation of the heart and transformation of the society. Using a historical theology approach, this article attempts to present a sketch of Kuyper’s thought on the public implications of the Christian faith, which includes his concept of sphere sovereignty, visible organic church, and common grace. By elaborating on those three Kuyperian concepts, this article seeks to provide an introduction to Kuyper studies and to increase the reception of Kuyper’s theology in Indonesia.AbstrakAbraham Kuyper merupakan seorang Kristen yang dapat dikatakan cukup sukses dalam membawa implikasi iman Kristen ke ranah publik. Di mata Kuyper, iman Kristen yang memiliki penekanan kepada bagaimana hati seseorang diubah atau dilahirbarukan, harus juga menekankan, bagaimana iman tersebut diaplikasikan ter-hadap perubahan masyarakat, di mana seseorang tersebut tinggal, ke arah yang lebih baik. Melalui pendekatan teologi historika, artikel ini berupaya memberikan sebuah sketsa atas konsep-konsep pemikiran Kuyper seputar implikasi iman Kristen terhadap ranah publik, meliputi: ranah kedaulatan (sphere sovereignty), Gereja organik yang kelihatan (visible organic church), dan anugerah umum (common grace). Melalui ela-borasi atas ketiga konsep pemikiran tersebut, artikel ini diharapkan dapat menjadi pengantar kepada studi Kuyper sekaligus meningkatkan minat dan penerimaan atas teologi Kuyper di Indonesia.
Aktualisasi Kasih Allah bagi Sesama: Implementasi Pemikiran dan Praktik Pendidikan Kristiani Johann Heinrich Pestalozzi dalam Konteks Pendidikan Karakter dan Nilai Sherly Adipati; Maria Evvy Yanti
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.242

Abstract

Education is sometimes understood as an attempt to share knowledge only. Students are only prepared to achieve the future in material aspects without realizing the importance of sharing life with others through good behavior. Knowledge and skills as well as knowing and feeling God's presence in life together in the family, school, church, and community need to be paid attention to and practiced. One of the participations is related to this view by rewriting the thoughts of a Christian education expert regarding the concepts and methods of learning in the implementation of education. This article discusses the participation of Johann Heinrich Pestalozzi in Christian education learning, with the aim of preparing and developing basic theological and psychological concepts so that the nature and objectives of learning are implemented in their context. The research method is qualitative with research procedures that make use of descriptive data. After going through a critical study, the results of this article are used as a rationale in practicing Christian education learning for the lives of the people.AbstrakPendidikan terkadang dipahami sebagai usaha untuk membagikan pengetahuan saja. Peserta didik hanya dipersiapkan untuk mencapai masa depan dalam aspek materi saja tanpa kesadaran pentingnya hidup berbagi dengan sesama melalui perilaku yang baik. Pengetahuan dan keterampilan serta mengenal dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan bersama baik di keluarga, sekolah, gereja dan masyarakat perlu diperha-tikan dan dipraktikkan. Salah satu partisipasi yang dilakukan berhubungan dengan pandangan ini dengan menuliskan kembali pemikiran seorang ahli pendidikan Kristia-ni mengenai konsep dan metode pembelajaran dalam pelaksanaan pendidikan. Artikel ini untuk membahas partisipasi Johann Heinrich Pestalozzi dalam pembelajaran pen-didikan Kristiani, dengan tujuan mempersiapkan dan membangun konsep dasar teo-logis dan psikologis, sehingga hakikat dan tujuan pembelajaran terimplementasi dalam konteksnya. Metode penelitian adalah kualitatif dengan prosedur riset yang meman-faatkan data deskriptif. Setelah melalui kajian kritis, hasil dari artikel ini digunakan sebagai dasar pemikiran dalam mempraktikkan pembelajaran pendidikan Kristiani bagi kehidupan umat.
Sakralitas Burung Enggang dalam Teologi Lokal Masyarakat Dayak Kanayatn Claudya Ingrid Sahertian
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.202

Abstract

This article aims to explore the culture of the Dayak Kanayatn people regarding the rituals and sacredness of hornbills. Retrieval of data using qualitative research with the ethnography method, through interview techniques, observation, documentary studies, and literature studies. The community makes hornbills a sacred symbol. This attitude can be seen when the community carries out Karana traditional rituals as an implementation of local theology and narrates them in dances, carvings, carvings, and traditional clothing attributes. Through rituals, the community believes that the hornbill is a link between heaven (subayatn) and the world that brings people to death (pidara) into eternity. Hornbills have a significant influence on the Kanayatn Dayak indigenous people because they contain noble values. Everything related to hornbills, including their lifestyle, natural seed dispersers, forest guards, physical beauty, has become sacred to the Kanayatn Dayak community. This study concludes that the hornbill is a sacred symbol in local theology and capital of social integration for the Kanayatn Dayak community.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi budaya masyarakat Dayak Kanayatn tentang ritual dan sakralitas burung Enggang. Pengambilan data menggunakan penelitian kualitatif dengan metode ethnografi dan nethnografi, melalui teknik wawancara, observasi, studi dokumenter dan studi pustaka. Masyarakat menjadikan burung Enggang sebagai simbol sakral. Sikap tersebut terlihat ketika masyarakat melaksanakan ritual adat Karana sebagai implementasi teologi lokal, serta menarasikannya dalam tarian, ukiran, pahatan dan atribut pakaian adat. Melalui ritual  masyarakat meyakini bahwa burung Enggang sebagai penghubung  surga (subayatn) dan dunia. Burung Enggang yang membawa orang meninggal (pidara) masuk kekekalan. Burung Enggang memberi pengaruh yang signifikan bagi masyarakat adat Dayak Kanayatn karena mengandung nilai-nilai yang luhur. Segala sesuatu yang berhubungan dengan burung Enggang baik pola hidup,  pemencar biji alami, penjaga hutan, keindahan fisik, menjadi sakral bagi masyarkat Dayak Kanayatn. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Burung Enggang adalah simbol sakral dalam teologi lokal  dan modal integrasi sosial bagi masyarakat Dayak Kanayatn.
Pendidikan Kristiani Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Anak-anak Suku Moi, Distrik Klamono, Sorong, Papua Barat Tia Metanfanuan; Charliany Hetharia
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.199

Abstract

Education is currently still believed to have strategic and urgent value in shaping the character of a nation, especially in relation to its main task of building the character of students. The morality crisis is a very pressing problem in modern times. The values of life eroded slowly as the saman grew. The deterioration of character is a very serious problem in education, especially in Indonesia. The low character education makes students do things that are not reasonable. The field of study of Christian Religious Education is one of the fields of study that is relied on to build and shape the personality and faith growth of students. In this case, building character does not necessarily work. Therefore, Christian Religious Education Teachers are expected to carry out their duties seriously in accordance with the goals of education and learning, namely to form and create a generation that has noble morals, is responsible, and has the character of Christ under the guidance of the Holy Spirit as a powerful person in human life.AbstrakPendidikan saat ini masih diyakini memiliki nilai strategis dan urgen dalam pembentukan karakter suatu bangsa, terutama  berkaitan dengan tugas utamanya yakni pembentukan karakter peserta didik. Krisis moralitas merupakan masalah yang sangat mendesak pada zaman modern ini. Nilai-nilai kehidupan terkikis secara perlahan seiring perkembangan saman. Kemerosotan karakter menjadi salah satu masalah yang sangat serius dalam pendidikan khususnya di Indonesia. Rendahnya pendidikan karakter membuat siswa melakukan hal-hal yang tidak wajar.  Bidang studi Pendidikan Agama Kristen merupakan salah satu bidang studi yang diandalkan untuk membangun dan membentuk pribadi, serta pertumbuhan iman peserta didik. Dalam hal inilah, membentuk karakter tentu tidak serta merta berhasil. Oleh karena itu, Guru Pendidikan Agama Kristen diharapkan agar melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran yakni membentuk dan menciptakan generasi yang beraklak mulia, bertanggung jawab dan memiliki karakter Kristus dibawah bimbingan Roh Kudus sebagai Pribadi yang berkuasa dalam hidup manusia.
Metafora Ganda Bagi Yesus Kristus Dalam Wahyu 5:5-6: Memahami Perjanjian Baru Dalam Menggunakan Perjanjian Lama Moses Wibowo; Jonidius Illu; Oren Siregar
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.238

Abstract

The Old and New Testaments are the primary sources of understanding the identity and work of Jesus Christ. There was a consensus from commentators that the combination of the Lion and the Lamb as a double metaphor for Jesus Christ in Revelation 5:5-6 is one of the complex texts and was also crucial to being able to understand the entire book of Revelation. Restrospectively this section has presented multi-interpretation so that it also affects the theological and practical understanding of interpreters. This article will approach the metaphorical combination in Revelation 5:5-6 biblically primarily by dividing the interpretation steps in accordance with the NT use of the OT. This point in the book of Revelation is related to the identity and work of Jesus Christ in order to carry out the divine dual mission: judgment and salvation, to establish the kingdom of God on earth through love and not through violence.  
Menuju Gereja Apostolik Transformatif Gernaida K. R. Pakpahan; Frans Pantan; Epafras Djohan Handojo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.125

Abstract

Peter Wagner, as an expert on church growth, stated that the Apostolic church is a church that is experiencing rapid growth. This claim is made because many Apostolic churches have been built around the world. The church continued the spirit of the apostles at the time of the early church's birth. However, it is important to conduct an in-depth study regarding the realization in the field; whether a thriving Apostolic church is carrying out God's mission or the personal ambition of a charismatic church leader. This study analyzes how the church which is said to be an Apostolic church runs its organization so that it experiences significant growth. The research method used is descriptive qualitative. The researcher tries to explore the phenomena and data obtained through respondents about the transformative apostolic church that was developed in the ministry of the Indonesian Bethel Church of Gatot Subroto. In conclusion, GBI Gatot Subroto is a transformative apostolic church, because of several things, such as a visionary church, senior pastors or mentor pastors as apostolic leaders, divine authority and the work of the Holy Spirit have an impact, the church as a center for leadership training and discipleship across generations implements apostolic ministry followed by other gifts/services, prioritizing mission, and focusing on the Kingdom of God.AbstrakPeter Wagner, sebagai salah satu ahli pertumbuhan gereja, menyatakan bahwa gereja Apostolik adalah gereja yang mengalami pertumbuhan secara pesat. Klaim ini disampaikan karena banyak-nya terbangun gereja-gereja beraliran Apostolik di seluruh dunia. Gereja tersebut melanjutkan semangat para rasul pada masa lahirnya gereja mula-mula. Namun, penting untuk dilakukan kajian mendalam terkait realisasi di lapangan; apakah gereja Apostolik yang berkembang menja-lankan misi Allah atau ambisi pribadi dari pemimpin gereja yang berkharismatik. Penelitian ini menganalisis bagaimana gereja yang dikatakan sebagai gereja Apostolik menjalankan organisa-sinya, sehingga mengalami pertumbuhan yang signifikan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Peneliti berusaha mengeksplorasi fenomena dan data-data yang diperoleh melalui responden tentang gereja apostolik transformatif yang dikembangkan dalam pelayanan Gereja Bethel Indonesia Gatot Subroto. Kesimpu-lannya, GBI Gatot Subroto adalah gereja apostolik transformatif, karena beberapa hal, seperti: gereja yang visioner, gembala senior atau gembala pembina sebagai pemimpin kerasulan, otoritas Ilahi dan pekerjaan Roh Kudus berdampak, gereja sebagai pusat pelatihan kepemimpinan dan pemuridan lintas generasi, menerap-kan jawatan rasuli diikuti karunia-karunia/jawatan lainnya, memprioritaskan misi, dan berfokus pada Kerajaan Allah.
Merawat Harmonisasi Kehidupan Beragama dan Berbangsa Melalui Internalisasi Nilai-nilai Pancasila di Lembaga Pendidikan Teologi Andrias Kemal Bulo; Yonatan Alex Arifianto; Carolina Etnasari Anjaya
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.305

Abstract

The pace of technological progress today is able to make the world's life so beautiful and fun to live. Various living facilities form a complete,...
Strategi Musik dan Kerygma Influencer Kristen dalam Membangun Gambar Diri Native Digital Joni Manumpak Parulian Gultom; Manahan Uji Simanjuntak; Ester Lina Situmorang; Ronald Sianipar; Septerianus Waruwu
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 2: November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i2.304

Abstract

The advancement of the virtual world has shaped the millennial generation and beyond to become digital natives who are out of control, without obstacles, and connected. The global world is presented freely with negative values of life, absurd, meaningless, and seemingly without God. The emphasis is on how to rebuild this fallen, weak, and chaotic native digital self-image. The goal is that through music and kerygma strategies, these Christian influencers can become a catalyst for the digital generation to return to God with the proper self-image. So it is an essential solution because the virtual space has a vast scope, without limits and high flexibility after church services have begun to be abandoned. A research method is a qualitative approach with data collection through literature study and observation. It is hoped that through this research: (1)New Christian influencers will emerge with spiritual content, (2)The millennial generation will repent and recover, (3)So that they will return and be integrated with the church. Future research is expected to be quantitative to see how strong the influence of changes and new strategies can be as alternative solutions. 

Page 7 of 17 | Total Record : 162