DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Articles
34 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8, No 2 (2024): April 2024"
:
34 Documents
clear
Keterbukaan Sebagai Bentuk Keramahtamahan Dalam Konteks Keragaman Orientasi Seksual
Lay Lukas Christian
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1001
Abstract. The fact that there is diversity in sexual orientation is often unacceptable, especially by heterosexual groups. This then triggered acts of violence against people with homosexual orientation. Researcher believe that violence will not occur if each people promotes hospitality. The aim of this research is to find a model of hospitality that is relevant in the context of sexual orientation diversity. This research was conducted through Focus Group Discussion (FGD) with three gay individuals from three different religions. Next, the results of the FGD were put into dialogue with various theological understandings about hospitality. In the end, this research showed that stigmatization, which is the root of acts of violence, can be suppressed if there is an openness to accept the others, in this case people with different sexual orientations.Abstrak. Kenyataan adanya keberagaman orientasi seksual seringkali tidak dapat diterima terutama oleh kelompok heteroseksual. Hal itu kemudian memicu terjadinya tindak kekerasan terhadap orang-orang dengan orientasi homoseksual. Peneliti meyakini bahwa kekerasan tersebut tidak akan terjadi apabila masing-masing pihak mengembangkan sikap keramahtamahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan model keramahtamahan yang relevan dalam konteks keragaman orientasi seksual. Penelitian ini dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) kepada tiga orang individu gay dari tiga agama yang berbeda. Selanjutnya, hasil FGD didialogkan dengan berbagai pemahaman teologis tentang keramahtamahan. Pada akhirnya penelitian ini menunjukkan bahwa stigmatisasi, yang menjadi akar tindak kekerasan, dapat ditekan apabila ada sikap keterbukaan untuk menerima sang liyan, dalam hal ini orang-orang dengan orientasi seksual yang berbeda.
Pela dan Perjamuan Kudus dalam Lensa Teologi Sakramental Susan Ross
Michael Bryan;
Hendra Gunawan Simatupang
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1205
Abstract. This article discussed the differences of pela as a Moluccan cultural rite and Holly Supper as a Christian rites in the reality of Islam-Christian reconciliation in Maluku based on sacramental theology view of Susan Ross. In Maluku, both Islam and Christian community attack each other due to the distrust that arise from a conflict that happened in 1999. Both Holly Supper, as a Christian rite, and pela, as a Moluccan sacred cultural rite, offeres the uniqueness of the reconciliation process. Using Susan Ross’ perspective on sacramental theology, pela and the Holly Supper could be developed to a new sacred rite that embraces both Christian and Islam community to maintain the reconciliation in Maluku without eliminating the theological perspective on how God works in Moluccan society.Abstrak. Artikel ini mendiskusikan perbedaan pela sebagai ritus budaya Maluku dan Perjamuan Kudus sebagai ritus Kristen dalam rekonsiliasi Islam-Kristen di Maluku melalui lensa teologi sakramental Susan Ross. Di Maluku, kelompok Islam dan Kristen saling menyerang sebagai akibat dari adanya konflik 1999. Baik Perjamuan Kudus maupun pela menawarkan keunikan proses rekonsiliasi. Dengan menelisik cara berpikir sakramental Susan Ross, pela dan Perjamuan Kudus dapat dikembangkan menjadi ritus baru dapat merangkul komunitas Kristen dan Islam dalam menjaga stabilitas rekonsiliasi tanpa mengurangi perspektif teologi bagaimana Allah bekerja dalam komunitas Maluku.
Keutamaan Kristus dalam Karya Pemulihan-Nya: Pembacaan Kolose 1:20 Melalui Apokatastasis Balthasar dan Ware
Rommi Matheos
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1218
Abstract. This article seeks to show God's work of restoration of all things in order to restore all creation to the order of creation. Using Hans Urs von Balthasar and Kallistos Ware's thoughts on apocatastasis as a lens through which I read Colossians 1:20, I argue that this restoration of all things demonstrates God's Christocentric and comprehensive redemptive work. In Christ, this comprehensive redemption brings a memory to the goodness and beauty of God's creation and has a dimension of hope for all creatures, to be restored to become new creations.Abstrak. Artikel ini berupaya memperlihatkan karya pemulihan Allah atas segala sesuatu yang bertujuan untuk mengembalikan seluruh ciptaan kepada tatanan penciptaan. Dengan menggunakan pemikiran Hans Urs von Balthasar dan Kallistos Ware tentang apokatastasis (konsep pemulihan segala sesuatu) sebagai lensa dalam membaca teks Kolose 1:20, saya beragumen bahwa pemulihan segala sesuatu ini memperlihatkan karya penebusan Allah yang Kristosentris dan bersifat menyeluruh. Di dalam Kristus penebusan yang bersifat menyeluruh ini menghadirkan ingatan kepada kebaikan dan keindahan ciptaan Allah dan berdimensi pengharapan bagi seluruh makhluk, yaitu dipulihkan untuk menjadi ciptaan baru.
Silaturahmi dan Gandong: Rekonstruksi Eklesiologi melalui Perspektif Teologi Rahim C.S. Song
Michael Bryan;
Justitia Vox Dei Hattu
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1137
Abstract. This article is an effort to reconstruct ecclesiology by discussing the value of silaturahmi from an Islamic perspective and the Gandong system in Maluku culture with the help of Choan Seng Song's womb theology as the theological lens. This effort was motivated by the 1999 conflict on Haruku Island which began with the conflict on Ambon Island which had damaged the fraternal relations between Christians and Muslims on Haruku Island. Meanwhile, traditional ecclesiology, because it emphasizes the superiority of the church, often makes conflicts even sharper. The results of this study show that both silaturahmi and Gandong emphasize fraternarly love which is addressed both internally and externally. These two elements are also conceived in Jesus' messianic movement, thus making it to be a relevant ecclesiology for the solution to the conflict that occurred.Abstrak. Artikel ini merupakan suatu upaya untuk merekonstruksi eklesiologi dengan mendialogkan nilai silaturahmi dari perspektif Islam dan sistem Gandong dalam kebudayaan Maluku dengan bantuan teologi rahim dari Choan Seng Song sebagai lensa teologisnya. Upaya ini dilatarbelakangi oleh adanya konflik tahun 1999 di Pulau Haruku yang berawal dari konflik di Pulau Ambon yang telah merusak relasi persaudaraan umat Kristen dan umat Islam di Pulau Haruku. Sementara itu, eklesiologi tradisional oleh karena lebih menekankan pada superioritas gereja seringkali justru menjadikan konflik semakin tajam. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa baik silaturahmi maupun Gandong menekankan kasih persaudaraan yang ditujukan baik secara internal maupun eksternal. Kedua unsur ini juga terkandung dalam gerakan mesianik Yesus sehingga menjadikannya sebagai eklesiologi yang relevan bagi solusi atas konflik yang terjadi.
Evaluasi Program Sekolah Minggu Dengan Menggunakan Model Evaluasi CSE-UCLA
Desi Sianipar;
Wellem Sairwona;
Esti Regina Boiliu
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1073
Abstract. As a form of non-formal education, Sunday School should also undergo evaluation procedures like educational programs in general. The results of this evaluation are very useful as information and a basis for developing the program in the future. Currently, there are many program evaluation models that can be utilized by program managers. One of them is the CSE-UCLA model. Therefore, the aim of this research is to see the effectiveness of using the CSE-UCLA model evaluation approach to evaluate the Sunday School program. The research method used in this research is a qualitative method. The result of the research showed that the CSE-UCLA evaluation model can be effectively used to evaluate educational programs, including education that has a religious spiritual atmosphere.Abstrak. Sebagai satu bentuk pendidikan nonformal, Sekolah Minggu semestinya juga menjalani prosedur evaluasi sebagaimana program pendidikan pada umumnya. Hasil evaluasi tersebut sangat berguna sebagai informasi dan pijakan dalam pengembangan program tersebut di masa yang akan datang. Pada masa kini ada banyak model evaluasi program yang dapat dimanfaatkan oleh pengelola program. Salah satu di antaranya adalah model CSE-UCLA. Karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas penggunakan pendekatan evaluasi model CSE-UCLA untuk mengevaluasi program Sekolah Minggu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model evaluasi CSE-UCLA dapat secara efektif digunakan untuk mengevaluasi program pendidikan, termasuk pendidikan yang bernafaskan spiritual keagamaan.
Dunia yang Lestari: Eko-Eskatologi Gereja Toraja Berdasarkan Eskatologi Jürgen Moltmann
Tangirerung, Johana Ruadjanna;
Pasassa, Julianto;
Bungaran, Stepanus Ammai;
Anggui, Alfred Y R
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1339
Abstract. The Toraja Church in its confession also discusses eschatology but does not adequately explain the concept of a sustainable world. With these issues in mind, the aim of this research is to enrich the Toraja Church Confession's conversation regarding the world and the end times from Jürgen Moltmann's eschatological perspective. This research was conducted by library research approach. The result of the research showed that the concept of a sustainable world must be understood in the cosmic escatology dimension, namely a new heaven and earth in quality. There, the Church plays an active role today as an eschatological response to ecology.Abstrak. Gereja Toraja dalam pengakuan imannya juga membahas eskatologi, namun belum menjelaskan secara memadai mengenai konsep dunia yang lestari. Dengan persoalan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk memperkaya percakapan Pengakuan Gereja Toraja mengenai dunia dan zaman akhir dari perspektif eskatologi Jürgen Moltmann. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep dunia yang lestari harus dipahami dalam dimensi eskatologi kosmik, yaitu langit dan bumi yang baru secara kualitas. Di situ peran aktif Gereja adalah sebagai respons eskatologis terhadap lingkungan hidup.
Kerajaan Allah dan Transformasi Sosial: Dialetika Kedatangan Kerajaan Allah dan Implikasi Masa Kini
Thomas Ly
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1051
Abstract. Discourses concerning the dialectical coming of the Kingdom of God in Christian theology are debatbale, including its time and relationship to the present. This study focuses to find a connection between the dialectic of the Kingdom of God and social transformation, and its implications to the present. In reaching that goal, the Indicative-Imperative method in bibilical ethics is applied. It means that the works and the will of God become the indicative, and the God’s commands or men’s responsibilities become the the imperative. Based on this research, Christian ethics is performed not only as hope and anticipation to the coming of the Kingdom but also as respond and participaton to the Kingdom’s mission. There is a close connection between the Kingdom of God and social transformation. Therefore, the church can perform the Kingdom’s mission in the world as an agent of social transformation.Abstrak. Wacana tentang dialektika kedatangan Kerajaan Allah dalam teologi Kristen mengandung perdebatan, baik terkait waktu kedatangan maupun kaitannya dengan kehidupan saat ini. Fokus tulisan ini adalah meneliti kaitan antara dialektika Kerajaan Allah dan transformasi sosial dan implikasinya bagi kehidupan masa kini. Dalam rangka itu penulis menggunakan pendekatan Indikatif-Imperatif dalam etika Alkitab. Pendekatan ini menjadikan tindakan dan kehendak Allah sebagai indikatif, dan perintah Allah atau tanggung jawab manusia sebagai imperatifnya. Kajian ini menunjukkan bahwa etika Kristen dilakukan bukan hanya sebagai harapan dan antisipasi terhadap datangnya Kerajaan Allah, melainkan juga sebagai respons dan partisipasi terhadap misi Kerajaan Allah. Ada kaitan erat antara Kerajaan Allah dan transformasi sosial. Oleh karena itu, gereja dapat menjalankan misi Kerajaan Allah di dunia sebagai agen transformasi sosial.
Paradigma Misi dalam Konteks Kemajemukan Agama: Analisis Matius 5:13-16 sebagai Teks Misi
Sensius Amon Karlau
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1053
Abstract. The former mission paradigm often displays an arrogant, triumphalistic and imperialist face. Such missions often trigger disharmony in a society characterized by religious pluralism. Therefore, this paper intended to propose a new paradigm in missions by starting from the text Matthew 5:13-16 as a mission text, and not from the text Matthew 28:18-20 which is usually used as a paradigmatic text in missions. The method used in this study was context and literary analysis of Matthew 5:13-16. The result is that the mission should aim public glory for God, and not for the main aim of increasing the number of the religion adherent, through living production that is able to salt and light the public space.Abstrak. Paradigma misi lama seringkali menampilkan wajah yang arogan, triumfalistik, dan imperialis. Misi yang demikian sering kali memantik ketidakharmonisan dalam masyarakat dengan ciri kemajemukan agama. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud untuk mengusulkan paradigma baru dalam misi dengan berangkat dari teks Matius 5:13-16 sebagai teks misi, dan bukan dari teks Matius 28:18-20 yang biasanya dijadikan sebagai teks paradigmatik dalam misi. Metode yang digunakan dalam kanjian ini adalah analisis konteks dan literer Matius 5:13-16. Hasilnya, bahwa misi sudah seharusnya bertujuan untuk menghasilkan kemuliaan bagi Allah, dan bukan untuk tujuan utama menambah jumlah pengikut, melalui karya hidup yang mampu menggarami dan menerangi ruang publik.
Efektivitas Bimbingan Pranikah untuk Mengantisipasi Stunting
Irene Gwindoline Hakh;
Desi Sianipar
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v8i2.1295
Abstract. Since 2019, a premarital counseling program, as a form of Christian religious education at the Evangelical Christian Church in Timor (GMIT), has been implemented, specifically to provide an understanding of reproduction health and the first thousand days of life regarding stunting. This research aimed to evaluate the effectiveness of premarital counseling in anticipating stunting at GMIT Sion Kuli, Rote Ndao Regency, East Nusa Tenggara (NTT). The research method used is a qualitative method. The research result showed that the premarital counseling program has not been effective in anticipating stunting because it has not focused on anticipating stunting. Thus, it can be concluded that the church has not paid serious attention to anticipate the danger of stunting.Abstrak. Sejak tahun 2019, program bimbingan pranikah, sebagai salah satu bentuk Pendidikan Agama Kristen di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) telah dilaksanakan, khususnya untuk memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan periode seribu hari pertama kehidupan yang menyangkut stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas bimbingan pranikah dalam mengantisipasi stunting di GMIT Sion Kuli Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program bimbingan pranikah belum efektif dalam mengantisipasi stunting karena belum berfokus pada antisipasi stunting. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gereja belum memberikan perhatian serius dalam antisipasi bahaya stunting.