cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA
ISSN : -     EISSN : 25980165     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal ilmiah Ibnu Sina Biomedika menerima artikel ilmiah dari hasil penelitian, laporan/studi kasus, kajian/tinjauan pustaka, maupun penyegar ilmu kedokteran, yang berorientasi pada kemutakhiran ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, agar dapat menjadi sumber informasi ilmiah yang mampu memberikan kontribusi dalam mengatasi permasalahan kedokteran yang semakin kompleks.
Arjuna Subject : -
Articles 60 Documents
TRAUMA TUMPUL Parinduri, Abdul Gafar
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.753 KB) | DOI: 10.30596/isb.v1i2.1650

Abstract

Trauma tumpul merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh karena kekerasan mekanik dari benda tumpul  (benda-benda yang mempunyai permukaan tumpul/ keras/ kasar seperti : batu, kayu, martil, kepalan tangan, kuku, dll) terhadap jaringan tubuh yang mengakibatkan luka/ cedera/ trauma. Trauma tumpul menyebabkan Abration (Luka Lencet), Contution (Luka Memar), Laceration (Luka Robek), dan Fracture (Patah Tulang). Pemeriksaan luar pada suatu kasus trauma tumpul ditemukan luka lecet gores yang terjadi akibat goresan atau garukan benda berujung tajam yang bergerak secara mendatar atau miring memberikan gambaran bentuk luka yang luas pada bagian awal dibandingkan dengan bagian akhir. Diduga luka lecet gores disebabkan oleh cakaran kuku tersangka.Kata kunci: Luka tumpul, luka lecet gores
GAMBARAN INDEKS MASA TUBUH ANAK USIA 6 TAHUN YANG MENGKONSUMSI SUSU FORMULA DI SD MUHAMMADIYAH 01 KEC. MEDAN AREA, KOTA MEDAN, SUMATERA UTARA Fitri, Edriani; Sutysna, Hendra; Airlangga, Eka; Damayanty, Amelia Eka
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.118 KB) | DOI: 10.30596/isb.v2i1.1902

Abstract

Body Mass Index (BMI) is one of parameters to monitor children’s physical growth. It is  calculated of the body weight and height. Children aged 6 years is in active phase and more energy needed. Milk has rich of nutrients which affect the BMI  in children aged 6 years old. Objective: this studi aimed to obtain the description of BMI in children 6 years old who consume formula milk. Method: The study used descriptive cross-sectional design. Targeted populations were the students of Muhammadiyah Elementary School 01 in Medan Area Sub-district,  Medan City, Sumatera Utara. Children who have congenital and chronic diseases, including infectious disease from the last 3 months were excluded. Results: There were 90 children participated in the study. The students who consumed formula milk most frequently was underweight (41; 45,6%), normoweight (33; 36,7%), and overweight (16; 17,8%). Conclusion: Body Mass Index in 90 children aged 6 years who consume formula milk was described.Keywords: Body Mass Index, Formula Milk, 6-Year-Old Child. 
UJI AKTIVITAS ANTIBIOTIK EKSTRAK BUAH ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO Shasti, Helwina; Siregar, Tegar Adriansyah Putra
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.647 KB) | DOI: 10.30596/isb.v1i1.1122

Abstract

Latar belakang: Staphylococcus aureus merupakan flora normal yang diperkirakan 20-75% ditemukan pada saluran pernapasan atas, muka, tangan, rambut dan vagina. Infeksi bakteri ini dapat menimbulkan penyakit dengan tanda-tanda yang khas, yaitu peradangan dan tampak sebagai jerawat, infeksi dan inflamasi folikel rambut dan pembentukan abses. Di antara organ yang sering diserang oleh bakteri Staphylococcus aureus adalah kulit yang mengalami luka. Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) memiliki efek antibiotik terhadap bakteri gram positif. Flavonoid pada buah Andaliman diketahui dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibiotik ektrak buah Andaliman terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Teknik yang digunakan dalam mengukur aktivitas antibiotik adalah metode difusi cakram. Hasil penelitian: Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) dengan konsentrasi 8%, 6%, 4% dan 2% menghasilkan rata-rata diameter zona bening masing-masing yaitu 13.2 mm, 11.30 mm, 10.24 mm, 8,29 mm sedangkan diameter zona bening sefotaksim yaitu 27.67 mm dan akuades tidak diperoleh zona bening. Kesimpulan: Ekstrak buah Andaliman dengan konsentrasi 8% memiliki zona bening tertinggi terhadap pertumbuhan bakteri S.aureus. Efek antibiotik ekstrak buah Andaliman seluruh konsentrasi tidak berbeda nyata sedangkan sefotaksim dengan ekstrak buah Andaliman seluruh konsentrasi memiliki daya hambat yang nyata.Kata kunci: Staphylococcus aureus, Ekstrak buah Andaliman.
MANFAAT PENAMBAHAN SULBAKTAM PADA SEFOPERAZON TERHADAP METISILIN RESISTEN STAPHYLOCOCCUS AUREUS POSITIF ENZIM BETALAKTAMASE Roslina, Ance
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.536 KB) | DOI: 10.30596/isb.v2i1.1899

Abstract

Metisilin Resisten Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan salah satu bakteri patogen penyebab infeksi. Bakteri ini penting karena resistensinya terhadap antibiotik betalaktam dan kecendrungannya menjadi resisten terhadap antibiotik lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk penentuan Kadar Hambat Minimum (KHM) untuk mengetahui kadar inhibisi MRSA terhadap antibiotik Sefaperazon dan campuran Sefaperazon Sulbaktam. KHM Sefoperazon terhadap MRSA berkisar ≥50-100 %, sedang KHM Sefoperazon Sulbaktam ≥1,56-100%. Uji difusi metode Kirby Bauer dengan menggunakan konsentrasi yang sesuai dengan uji dilusi juga dengan menggunakan konsentrasi yang ada dipasaran. MRSA memberikan reaksi sensitif pada konsentrasi ≥ 6,25 %. Pada uji difusi terhadap konsentrasi obat dipasaran, Sefoperazon Sulbaktam konsentrasi 50/50 MRSA bereakai sensitif sebanyak (6,7%), konsentrasi 70/30 (33,4%), konsentrasi 60/40 (80%)  dan pada konsentrasi 80/20 (100%). Kesimpulan Sulbaktam dapat menurunkan resistensi bakteri penghasil β-laktamase.Kata kunci: Antibiotik Sefoperazon, Meticillin Resisten Staphylococcus aureus
UJI EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK EKSTRAK JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO Sentoso, Andika Budi; Siregar, Tegar Adriansyah Putra
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.218 KB) | DOI: 10.30596/isb.v1i2.1654

Abstract

Latar belakang. Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif, sering berada di dalam tubuh orang yang sehat pada kulit dan mukosa, 20-75% ditemukan pada saluran pernafasan atas, muka, tangan, rambut dan vagina. Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi nasokomial dan keracunan makanan. Jintan hitam (Nigella sativa Linn) adalah tanaman yang telah terbukti secara empiris maupun medis oleh para peneliti Timur Tengah, Afrika, Eropa, bahkan Amerika Serikat. Para peneliti di Eropa menyatakan bahwa jintan hitam (The Black Seed) bekerja sebagai antimikroba dan antimikotik. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak jintan hitam terhadap pertumbuhan S. aureus. Metode. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Hasil. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak jintan hitam (Nigella sativa Lin) dengan konsentrasi 9 mg/mL, 7 mg/mL, 5 mg/mL, 3 mg/mL dan 1 mg/mL menghasilkan rata-rata diameter zona bening masing-masing yaitu 9,94 mm, 9,59 mm, 9,47 mm dan 8,56 mm dan 8,80 mm. Sedangkan diameter zona bening sefotaksim yaitu 31,82 dan pada aquadest tidak diperoleh zona bening. Pada penelitian ini menunjukan perbedaan daya hambat yang signifikan antara sefotaksim dengan aquadest (p= 0,021) , sefotaksim dengan ekstrak konsentrasi 9 mg/mL, 7 mg/mL, 5 mg/mL, 3 mg/mL dan 1 mg/mL (p= 0,014), aquadest dengan ekstrak jintan hitam konsentrasi 9 mg/mL, 7 mg/mL, 5 mg/mL, 3 mg/mL dan 1 mg/mL (p= 0,014) sedangkan perbedaan daya hambat tidak signifikan antara seluruh konsentrasi jintan hitam (p>0,05). Kesimpulan. Ekstrak jintan hitam terbukti memiliki efek antibiotik terhadap pertumbuhan S.aureus. Esktrak jintan hitam dengan konsentrasi 9 mg/mL memiliki zona bening tertinggi pada kelompok perlakuan. Efek antibiotik ekstrak jintan hitam seluruh konsentrasi tidak berbeda nyata sedangkan sefotaksim dengan ekstrak jintan hitam seluruh konsentrasi memiliki daya hambat yang nyata.Kata kunci: Stapyhlococcus aureus, ekstrak jintan hitam  
IDENTIFIKASI ZAT PEWARNA RHODAMIN B PADA TERASI DAN GULALI KAPAS DI KOTA MEDAN Prayoko, Herdianto; Thristy, Isra
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.999 KB) | DOI: 10.30596/isb.v1i1.1117

Abstract

ABSTRAKLatar belakang : rhodamin B merupakan zat warna sintetik yang umum digunakan sebagai pewarna tekstil. Pada manusia rhodamin B dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, iritasi kulit, iritasi pada mata, iritasi pada saluran pencernaan, keracunan, dan gangguan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zat pewarna rhodamin B pada terasi dan gulali kapas yang beredar di Kota Medan. Metode : penelitian ini menggunakan metode kromatografi kertas dengan teknik purposif sampling. Pemeriksaan dilakukan di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara UPT Laboratorium Kesehatan Daerah Medan. Hasil : pada penelitian ini didapati bahwa dari jumlah 10 sampel terasi dan 10 sampel gulali kapas yang diperiksa berdasarkan harga Rf, warna visual, dan lampu UV menunjukkan hasil yang negatif. Kesimpulan : sampel terasi dan gulali kapas yang diperiksa tidak mengandung rhodamin B.Kata kunci : terasi, gulali kapas, rhodamin B, kromatografi kertas ABSTRACTBackground : rhodamin B is synthetic colour substance commonly used as a textile dye. Rhodamin B can cause irritation of the respiratory tract, skin irritation, irritation of the eyes, irritation of the digestive tract, poisoning, and liver disorders. This research aims to identify the substance dyes rhodamin B in shrimp paste and cotton candy that is circulating in the city of Medan. Methods : this research using paper chromatography and using purposive sampling technique. The examination was conducted at Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara UPT Laboratorium Kesehatan Daerah Medan (North Sumatra Health Office UPT Health Laboratory Area terrain). Results : in this study found that the number of 10 samples of shrimp paste and 10 sample of cotton candy examined showed a negative result seen based on the price of the Rf, visual color and UV light. Conclusion : shrimp paste and cotton candy samples were examined did not contain rhodamin B.Keyword : cotton candy, shrimp paste, rhodamin B, paper chromatography
PROFIL KUMAN PADA SEKRET HIDUNG PENDERITA RINOSINUSITIS KRONIS DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN Harahap, Nahda Ismi Karunia; Siregar, Siti Masliana; Nasution, Muhammad Edy Syahputra
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.871 KB) | DOI: 10.30596/isb.v2i1.1905

Abstract

Introduction: Rhinosinusitis is an inflammation of the paranasal sinus mucosa. Rhinosinusitis is a disease commonly found in daily physician pratice as well as one of the most common of health worldwide. Rhinosinusitis causes a high economic burden and a considerable decreased in quality of life, decreased productivity and also concentration in work. Chronic rhinosinusitis is a inflammatory process of the mucosa due to infection and lasted more than 3 months. Change in pattern of bacteria and fungi are thought to affect the increase the prevalence of chronic rhinosinusitis. Methods: Descriptive study was cross-sectional study of the patterns of microorganism in patients with chronic rhinosinusitis in RSU Haji Medan. Sample was taken by a funtional endoscopic sinus surgery and then cultur in medium. Results: from 26 patients, found 57,7% male, 42,3% female. Age group 0-20 years 7,7%, 21-40 years 65,4% and >40 yeras 26,9%. Type of maxillaris sinusitis 42,3%, multisinusitis 30,8% and pansinusitis 26,9%. Symptomp of nasal obstruction 50%, headache 34,6%, smelling nose 3,9% and facial pain 11,5%. The most bacterial is Staphylococcus aureus 34,6% and than Proteus sp 23,1% and the least are Staphylococcus albus and Staphylococcus sp 7,7%. The most fungal is Candida sp 42,3%. Conclusion: the mostmicroorganisms pattern in patients with chronic rhinosinusitis in RSU Haji Medan September-Desember 2017 is Staphylococcus aureus and Candida sp.Key word : bacterial, chronic,FESS, fungal,rhinosinusitis  
Petunjuk Untuk Penulis Untuk Penulis, Petunjuk
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.838 KB) | DOI: 10.30596/isb.v1i1.936

Abstract

-
GAMBARAN PEMANFAATAN FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP) PADA PESERTA PENERIMA BANTUAN IURAN (PBI) DAN Non-PENERIMA BANTUAN IURAN (Non-PBI) DI PUSKESMAS MEDAN DENAI Taufiqul, Taufiqul; Siti, Siti; Putri, Putri; Humairah, Humairah; Lestari, Lestari; Irma, Irma; Novi, Novi; Regina, Regina; Boy, Elman
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.074 KB) | DOI: 10.30596/isb.v1i2.1659

Abstract

Latar belakang. Program Jaminan Kesehatan Nasional yang diluncurkan pada 1 januari 2014 merupakan program jaminan perlindungan kesehatan secara komprehensif, meliputi layanan promotif, promotif, kuratif, serta rehabilitatif. Jenis kepesertaan BPJS sebenarnya dibagi menjadi beberapa kategori kepesertaan yaitu  peserta BPJS PBI (Penerima bantuan iuran) dan Non PBI (non penerima bantuan iuran), Peserta BPJS PBI disebut juga sebagai peserta penerima bantuan iuran dari pemerintah yang iuran bulanannya dibayarkan oleh pemerintah, sedangkan non-pbi adalah iuran dibayar masing –masing perbulanannya. Metode. Penelitian ini bersifat deskriptif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Medan Denai, jalan Medan denei, jermal XV mulai tanggal 20 s/d 28 November 2017. Hasil. Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa peserta PBI lebih banyak memanfaatkan FKTP di Puskesmas Medan Denai. Kesimpulan. Peserta BPJS terbanyak yang menggunakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) adalah jenis peserta PBI.Kata kunci : BPJS, FKTP, PBI dan Non PBI.   
Gambaran Kadar Bilirubin pada Ikterus Neonatorum Sebelum dan Pasca Fototerapi di Rumah Sakit Pertamina Cirebon Periode Januari-Agustus 2014 Pusparani, Hessty; W, Tri Ariguntar
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.722 KB) | DOI: 10.30596/isb.v1i2.1649

Abstract

Latar Belakang. Ikterus terdapat pada kira-kira 50 % dari semua bayi baru lahir di mana sekitar 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi preterm mengalami ikterus selama minggu pertama usianya. Fototerapi merupakan modalitas terapi dengan menggunakan sinar yang dapat digunakan untuk pengobatan hiperbilirubinemia pada neonatus. Fototerapi saat ini merupakan standar pengobatan untuk bayi dengan hiperbilirubiemia neonatal. Efeknya secara bertahap dapat menurunkan kadar bilirubin. Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kadar bilirubin pada ikterus neonatorum sebelum dan pasca fototerapi di Rumah Sakit Pertamina Cirebon periode Januari-Agustus 2014. Metode. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dan pendekatan cross sectional dengan waktu penelitian bulan November 2014. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari Medical Record. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria inkusi dan ekslusi sebanyak 89 pasien. Hasil. Hasil penelitian diperoleh kadar bilirubin pada pasien Ikterus Neonatorum sebelum fototerapi didapatkan hasil paling banyak pada kadar bilirubin antara 12-15 mg/dL sebanyak 31 pasien (34,8%). Setelah dilakukan fototerapi didapatkan penurunan kadar bilirubin paling banyak terjadi antara 7-10 mg/dL sebanyak 47 pasien (52,8%). Setelah ditabulasi didapatkan rerata kadar bilirubin sebelum fototerapi sebesar 16,15 mg/dL dan setelah dilakukan fototerapi sebesar 8,21. Di mana terjadi penurunan rerata kadar bilirubin sebesar 7,94 mg/dL. Kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya penurunan kadar bilirubin pada Ikterus Neonatorum setelah dilakukan fototerapi sebesar 49,16 %.Kata Kunci : Ikterus Neonatorum, Kadar Bilirubin, Fototerapi