cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
DINAMIKA PENGGUNAAN BANTENG DALAM LAMBANG PARTAI-PARTAI POLITIK (1955-1999): KAJIAN SEJARAH VISUAL Reiza D. Dienaputra
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.196 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.138

Abstract

AbstrakKajian ini bertujuan untuk merekonstruksi penggunaan banteng sebagai elemen visual dalam lambang partai-partai politik yang berhasil meraih kursi DPR dalam Pemilu 1955 hingga Pemilu 1999. Berbagai permasalahan berkaitan dengan keberadaan banteng dalam lambang partai-partai politik diungkap, seperti dinamika visualisasi banteng, eksplanasi sejarah dan budaya, serta pengaruh sistem politik terhadap visualisasi banteng dalam lambang. Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan metode sejarah, yang di dalamnya meliputi tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sebagai sebuah kajian sejarah visual, sumber utama yang digunakan adalah lambang partai-partai politik. Selanjutnya, untuk menganalisispenggunaan banteng dalam lambang partai-partai politik digunakan pendekatan seni dan disain, pendekatan politik dan pendekatan kebudayaan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengunaaan banteng sebagai elemen visual dalam lambang memiliki akar sejarah yang panjang. Secara budaya banteng pun merupakan binatang yang akrab dzengan banyak suku bangsa di tanah air. Sebagai elemen visual, penggunaan banteng dalam lambang partai politik  pada umumnya hanya digunakan oleh partai-partai politik beraliran nasionalis. Namun demikian, representasi visual banteng dalam lambang mengalami dinamika yang menarik, tidak hanya karena kebutuhan partai politik tetapi juga disebabkan pengaruh sistem politik yang berlaku. AbstractThis study aims to reconstruct the use of bulls as visual element in the symbols of political parties that were voted in the legislative (DPR) during 1955-1999 general election. The author reveals many dynamic use of bulls in political parties, including its visualization, historical and cultural explanation, and political system that influenced bull visualization on the symbols. The author conducts history method, covering critique, interpretation, and historiography. As a study of visual history, the research objects are the symbols of political parties. We approach the problem from many angles, including art and design, as well as political and cultural ones. The result finds that the use of bull as visual element in the symbol of political parties has a long root in the history of this country. Culturally, bulls are very familiar to many ethnic group in Indonesia, and generally they are used by nationalist parties. Nevertheless, visual representation of bulls has experienced an interesting dynamics: using bulls as symbol is not only for the benefit of certain political parties but it is also influenced by the political system applied at a certain time.
MORFOLOGI KOTA-KOTA DI PRIANGAN TIMUR PADA ABAD XX – XXI; Studi Kasus Kota Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya Miftahul Falah; Nina Herlina Lubis; Kunto Sofianto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.076 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.342

Abstract

Tulisan ini akan mengkaji perubahan Morfologi Kota-Kota di Priangan Timur pada Abad XX-XXI dengan memfokuskan pada Kota Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya. Untuk mencapai tujuan itu, dalam penelitian ini digunakan metode sejarah yang meliputi empat tahap yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan morfologi kota dengan mengkaji tata ruang dan infrastruktur kota, simbol kota, bangunan, dan ruang terbuka di Kota Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Pada awalnya, struktur dan pola kota ketiganya menunjukkan kecenderungan yang sama karena mendapat pengaruh struktur kota tradisional. Akan tetapi, dalam perkembangannya menunjukkan perbedaan yang terlihat dari struktur dan pola kota Tasikmalaya yang cenderung mengabaikan struktur dan pola kota tradisional. Unsur-unsur kota kolonial di ketiga kota tersebut cukup nampak sehingga terjadi perpaduan antara kota tradisional dan kota kolonial yang salah satunya terlihat dari bangunan yang mendapat pengaruh budaya indis. This paper examines the morphology changes of Cities in East Priangan in the 20th and 21st  century by focusing on the city of Garut, Ciamis and Tasikmalaya. To achieve that goal, this study uses historical method which includes four stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results showed that the growth of the city by studying morphology and spatial infrastructure of the city, a symbol of the city, buildings and open spaces in the city of Garut, Ciamis and Tasikmalaya shows a different trend. At first, the structure and pattern of the three cities showed the same tendency as under the influence of traditional city structures. However, in its development shows the differences seen from the structure and pattern of Tasikmalaya which tends to undermine the structure and pattern of traditional town. The elements of the colonial city in the three cities are quite visible, causing a blend of traditional and colonial city. One of which is visible from the building that received cultural influences of Indies.
TAKHAYUL SEPUTAR KEHAMILAN DAN KELAHIRAN DALAM PANDANGAN ORANG LABUAN BAJO: TINJAUAN ANTROPOLOGI SASTRA Uniawati Uniawati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.797 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.120

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilandasi oleh pemikiran bahwa takhayul merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun modern. Salah satu kelompok masyarakat yang hingga kini masih kuat terpengaruh dengan pola pemikiran lama adalah kelompok masyarakat Labuan Bajo. Masyarakat Labuan Bajo adalah salah satu kelompok masyarakat tradisional yang di dalamnya subur dengan kepercayaan yang bersifat takhayul. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua permasalahan, yaitu mengungkapkan bentuk dan isi takhayul yang terdapat di lingkungan masyarakat Labuan Bajo serta mendeskripsikan aspek-aspek budaya masyarakat tersebut berdasarkan takhayul yang terdapat di lingkungan mereka. Untuk menjawab kedua permasalah tersebut, digunakan pendekatan Antropologi Sastra. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh secara lisan di lapangan berupa ungkapan tentang kepercayaan terhadap sesuatu yang bersifat takhayul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Labuan Bajo pada dasarnya masih mengakui keberadaan takhayul hingga sekarang, namun tingkat kepercayaannya sudah berkurang dibandingkan dengan kepercayaan yang dimiliki oleh para pendahulunya. Para pendahulu (nenek moyang) orang Labuan Bajo memandang takhayul sebagai suatu bentuk kepercayaan yang akan menimbulkan bahaya atau bencana apabila dilanggar, sedangkan orang Labuan Bajo sekarang sebagian besar memandang takhayul sebagai sarana menyampaikan pendidikan akhlak, etika, dan budi pekerti dalam lingkungannya agar masyarakat hidup lebih beradab dan berbudaya. Untuk itu, beberapa takhayul masih dipelihara dalam komunitas masyarakat tersebut. Abstract This research was based on the fact that superstitions are a kind of oral tradition that is inherent in the social life of a society, either in modern or traditional ones. The aims of the research are, firstly, to reveal forms and contents of superstitions that live among Labuan Bajo people and secondly, to describe cultural aspects of the people based on their superstitions. The author approaches the problems by using literary anthropology. The result shows that superstitions still exist among Labuan Bajo people but in a lower degree. Contrary to their ancestors who thought of superstitions as harmful if they were broken, today the Labuan Bajo people consider superstitions as a means to convey messages of morals and ethics to the young. Therefore, they tend to maintain some superstitions stories in the society.
KIAT PENJUAL MAKANAN TRADISIONAL DALAM MENEMBUS PASAR Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.933 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i2.202

Abstract

AbstrakMemasuki zaman globalisasi dapat dikatakan segalanya serba modern. Tidak heran kalau kemudian orang mulai meninggalkan hal-hal yang berbau tradisional. Fenomena yang cukup menonjol terjadi pada makanan. Makanan dengan nama-nama asing booming hingga menomorduakan makanan tradisional. Itu dulu. Belakangan, beberapa makanan tradisional kembali bangkit dan bahkan booming di kalangan anak muda khususnya. Makanan yang dimaksud adalah seblak.  Penelitian tentang fenomena ini sangat penting untuk mengetahui kiat-kiat apa yang dilakukan pegiat makanan tradisional hingga makanan yang diproduksinya dapat diterima kembali di era sekarang ini. Dari kiat-kiat tersebut bukan tidak mungkin dapat dijadikan model untuk membangkitkan kembali jenis makanan tradisional lainnya dari keterpurukannya. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional, dalam hal ini  seblak, dapat diterima  kembali kehadirannya di tengah-tengah makanan modern. Keberterimaan tersebut tidak lain karena pelaku usaha mau terus belajar, membuat inovasi, dan melihat budaya sebagai sesuatu yang dinamis. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan sebuah aktivitas, merupakan sebuah  produk dan ide, sekaligus proses belajar.  AbstractEntering the era of globalization can be said of everything modern department. No wonder then people started leaving things that related to the traditional thing. The phenomenon is quite prevalent in the food. Foods with foreign names booming until subordinated the traditional food. That was then. Later, some of the traditional foods arise and even boom among young people in particular. The food in question is seblak. Research on this phenomenon is very important to know what tips do traditional food producer to produced acceptable food in this era. From the tips it is not possible that the models could be used to revive other types of traditional food. This is a descriptive study with a qualitative approach. The results showed that the traditional food, in this case seblak, be welcomed back its presence in the midst of modern food. Acceptance is not because businesses want to continue to learn, to innovate, and to see culture as something dynamic. This suggests that culture is an activity, is a product and ideas, as well as the process of learning.
NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM PERIBAHASA SUNDA: KAJIAN SEMIOTIKA Siti Kodariah dan Gugun Gunardi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.621 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.88

Abstract

AbstrakPenelitian ini menganalisis nilai-nilai kearifan yang terdapat dalam peribahasa Sunda. Penelitian dilakukan untuk menginventarisasi karakter dan falsafah masyarakat Sunda yang termuat dalam peribahasa Sunda agar nilai-nilai luhur yang terdapat dalam peribahasa Sunda tidak dilupakan dan tetap diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sumber data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari buku kumpulan Babasan jeung Paribasa Sunda. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai kearifan apa saja yang terdapat dalam peribahasa Sunda. Penganalisasan dilakukan dengan cara pembagian nilai peribahasa berdasarkan nilai kearifan universal. Hasil analisis menunjukkan bahwa peribahasa Sunda mengandung unsur-unsur kearifan universal. Nilai-nilai tersebut meliputi: (1) berhubungan dengan Tuhan; (2) tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian; (3) kejujuran; (4) hemat dan sopan santun; (5) kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama; (6) percaya diri, kerja keras, kreatif, dan pantang menyerah; (7) keadilan dan kepemimpinan; (8) baik dan rendah hati; (9) toleransi, cinta damai, dan persatuan. AbstractThis study analyzed the wisdom values contained in the Sundanese proverb. The study was conducted to inventory the character and philosophy of sundanese community which contained in the Sundanese proverb, in order to be not forgotten and still applied in everyday life. The source of the data that collected in this study is derived from a book of Babasan Jeung Paribasa Sunda. The method used in this study is a qualitative method with semiotic analysisapproach of Roland Barthes. The purpose of this study is to determine the values of any wisdom contained in the Sundanese proverbs. Analyzing the data by the division of the proverbs value based on universal moral values. The analysis showed that the proverb Sundamese contains elements of universal wisdom. Those values are: (1) relates to the God; (2) responsibility, discipline and self-reliance; (3) honesty; (4) saving and manners; (5) compassion, concern, and cooperation; (6) confident, hard working, creative, and never give up; (7) fairness and leadership; (8) good and humble; (9) tolerance, love peace, and unity.
Eksistensi Seni Pencak Silat di Kabupaten Purwakarta (Kajian tentang Strategi Adaptasi) Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.673 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.254

Abstract

AbstrakPencak Silat merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan.Perkembangan Pencak Silat belakangan ini dapat dikatakan masih berada pada tarafseadanya. Terlihat dari gaung Pencak Silat di Provinsi Jawa Barat yang masih kurangmampu menembus jenis-jenis olahraga ternama seperti sepak bola atau badminton.Sementara dilihat dari segi kesenian juga masih kurang menarik dibandingkan denganjenis kesenian seperti Wayang Golek ataupun Jaipongan. Walaupun demikian, tidaksemua wilayah pasif terhadap upaya pelestarian Pencak Silat. Kabupaten Purwakartasebagai contoh, merupakan kabupaten terkecil dari Provinsi Jawa Barat yang ternyatamemiliki semangat cukup tinggi untuk melestarikan Pencak Silat baik dari segiolahraga ataupun sebagai kesenian tradisional.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategiadaptasi Pencak Silat untuk tetap eksis dan berkembang sebagai bagian dari cabangolahraga maupun sebagai kesenian tradisional di Kabupaten Purwakarta. Metodepenelitian yang digunakan adalah deskripsi analisis. Data diperoleh dengan carapencarian data primer dan sekunder.AbstractPencak Silat is a kind of Indonesian traditional martial art that has to bepreserved because its progress has been poorly gained proper attentions. As an art itis less popular than Wayang Golek or Jaipongan, and as a kind of sport its popularityis not as much as soccer nor badminton. Kabupaten Purwakarta has very high passionto preserve Pencak Silat.This research tries to describe and analyze the adaptation strategy inmaintaining the existence of Pencak Silat in Kabupaten Purwakarta. The authorconducted descriptive analytical method, and data were obtained through primaryand secondary sources.
SAWER PANGANTEN TUNTUNAN HIDUP BERUMAH TANGGA DI KABUPATEN BANDUNG Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.099 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.111

Abstract

AbstrakSuku bangsa Sunda menghuni hampir seluruh daerah Jawa Barat, satu suku bangsa yang jumlahnya besar. Sebagai satu suku bangsa yang jumlahnya besar, suku bangsa Sunda mempunyai tata cara hidup, adat kebiasaan, dan budaya. Memang terdapat akulturasi dan integrasi dengan kebudayaan lain yang datang dari luar, tetapi masih terdapat hal-hal asli seperti yang kita dapatkan dalam berbagai upacara adat. Upacara adat pernikahan misalnya, upacara ini merupakan warisan adat budaya lama yang masih dilaksanakan di berbagai tempat di Jawa Barat. Sawer (nyawer) adalah salah satu adat kebiasaan pada orang Sunda, yang termasuk ke dalam tata cara upacara adat pernikahan. Kata-kata dalam sawer  umumnya mempergunakan bahasa yang sudah biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari, sehingga isi, tema dan amanat mudah dipahami. Sawer perlu diteliti, selain karena merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai kerohanian,  juga karena puisi sawer merupakan bagian dari khasanah sastra Sunda, yang salah satunya dapat berfungsi sebagai alat pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, yakni mendeskripsikan data dan menganalisis data yang dikumpulkan. Hasil pengumpulan data disusun, dianalisis, ditafsirkan, dan dideskripsikan. AbstractSundanese ethnic groups inhabit almost the entire area of West Java, a large number of ethnic groups. As a large number of ethnic groups, Sunda has the way of life, customs, and culture. Indeed, there are acculturation and integration with other cultures that come from outside, but there are original things like we get from various ceremonies. Customary marriage ceremony, for example, this ceremony is a legacy of the old cultural customs that are still held in various places in West Java. Sawer (nyawer) is one of the customs of the Sundanese people, who belong to the procedures for wedding ceremonies. The words used insawer generally use theterms that are already commonly used in everyday life, so the contents, themes and messages are easy to understand. Sawer need to be investigated, as well as a cultural heritage that has spiritual value, as well as Sawerpoetryis a part of the repertoire of Sundaliterary, one of which can serve as an educational tool. This research uses descriptive method of analysis which describes the data and analyze the collected data. The results of data collectionare compiled, analyzed, interpreted and described.
MAKNA DAN SIMBOL DALAM UPACARA ADAT PERKAWINAN SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG Enden Irma Rachmawaty
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.141 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.277

Abstract

AbstrakMasyarakat Sunda memiliki budaya tradisional yang beragam. Walaupun keberadaannya tidak sama, apabila kita lihat nilai filosofinya, semua memiliki nilai filosofi yang cukup tingggi. Salah satunya ialah upacara adat perkawinan. Setiap acara dalam adat perkawinan tersebut memiliki simbol dan makna sebagai lambang kehidupan kebudayaan masyarakat pemiliknya. Penelitian ini bertujuan mengungkap Upacara Adat Perkawinan Sunda yang sampai saat ini masih tetap lestari. Penelitian upacara adat ini bersifat deskriptif dengan metode kualitatif. Upacara adat ini terdiri atas kegiatan sebelum pernikahan, saat pelaksanaan pernikahan dan setelah pernikahan. Dalam kegiatan sebelum pernikahan ada beberapa upacara di antaranya neundeun omong, ngalamar (minang), nyangcang (mengikat calon pengantin), narikan (menentukan kepastian), dan seserahan. Saat pelaksanaan pernikahan terdiri atas akad nikah dan sungkem. Setelah pelaksanaan pernikahan terdapat upacara sawer, nincak endog dan huap lingkung. Semua rangkaian upacara tersebut memiliki simbol dan makna tersendiri. AbstractThe Sundanese society has various traditional cultures. All of them have veryhigh philosophical values, although some differences exist. Wedding ceremony is one of them. Every steps in Sundanese wedding ceremony has meanings and symbols of their cultural life. This research is a descriptive study concerning Sundanese wedding ceremony using qualitative method. The ceremony consists of activities that are implented before, during, and after the wedding. Before the wedding there are neundeun omong (a kind of promise given by a man to the family of the bride-to-be that he would marry a woman of their family), ngalamar (to propose), nyangcang (to engage), narikan (to confirm), and seserahan (gifts from the bridegroom to the bride symbolizing his responsibility as husband in their marriage). During the wedding there are akad nikah (the wedding pledge) and sungkem (giving tribute to the parents and the elders). Lastly, after the wedding they have sawer (pouring rice and coins to the bride and the bridegroom symbolizing their fortune in the future), nincak endog and huap lingkung.
KEDUDUKAN ELIT PRIBUMI DALAM PEMERINTAHAN DI JAWA BARAT (1925-1942) Ani Ismarini
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.364 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i2.193

Abstract

AbstrakTerbentuknya Province West-Java lebih karena munculnya tuntutan dari masyarakat Hindia Belanda saat itu yang memang sudah mengalami dinamisasi, perkembangan, dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Tuntutan yang mereka ajukan adalah otonomi yang lebih besar yang berkait aspek-aspek politik. Di samping itu, penduduk pun menuntut makin meningkatnya pelayanan pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan yang mereka butuhkan. Guna menjawab tuntutan itu dibentuklah pemerintahan Province West-Java. Dalam rangka menjalankan roda pemerintahan diangkatlah sejumlah pejabat yang kebanyakan berasal dari penduduk bumi putera. Momentum ini merupakan kesempatan awal bagi elit pribumi terlibat dalam birokrasi pemerintahan modern. Selanjutnya pengalaman ini menjadi bekal mereka dalam mengelola pemerintahan pada masa-masa berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. AbstractWest-Java Province is formed because emerging demands of Nederland-Indie society at that time who had dynamic, growth, and progress in various aspects of life. Their conspicuous demand was greater autonomy related to political aspects. Besides, the people also demanded better government service in many aspects of life. Therefore, West-Java Province government formed. To run the government, some officials who mostly come from native citizen appointed. This momentum is early oppurtunity for the indigenous elite to get involved in the bureaucracy of modern government. In addition, this experience into their stock in managing the government in the sequent periods. This research uses historical method includes four phases, that are heuristic, criticism, interpretation, and historiography. 
PERKAWINAN POLITIK DAN INTEGRASI DI SULAWESI SELATAN ABAD XVII-XVIII Risma widiawati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.756 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.79

Abstract

AbstrakPasca perjanjian Bungaya 1667, perkawinan politik digunakan sebagai salah satu strategi dalam membangun kekuatan. Strategi ini bukanlah hal baru dalam sejarah panjang Sulawesi Selatan. Sejak dahulu strategi ini juga dilakukan, oleh para bangsawan Bugis-Makassar yang berhasil menanamkan kekuasaan di wilayah lain. Namun demikian, perkawinan politik yang terjadi pasca Perjanjian Bungaya adalah perkawinan politik yang dilakukan antara kerajaan yang bertujuan membina ikatan kekerabatan yang luas untuk akhirnya membangun kebersamaan dalam rangka membangun kekuatan. Perkawinan politik tidak saja terjadi antara dua insan dari keluarga jauh, tetapi juga dilakukan antara dua insan yang masih memiliki hubungan keluarga dekat, yaitu sepupu satu kali, dua kali dan sepupu tiga kali.Strategi ini ditempuh karena perkawinan bagi orang Bugis-Makassar, bermakna saling mengambil satu sama lain. Perkawinan tidak melibatkan laki-laki dan perempuan yang kawin saja, melainkan kerabat kedua belah pihak dengan tujuan memperbaharui dan memperkuat hubungan keduanya. Perkawinan politik akhirnya membuahkan hasil dengan terjadinya integrasi di Sulawesi Selatan.Tulisan ini disajikan secara deskriptif analitis dengan menggunakan 4 (empat) tahap penelitian yang lazim digunakan dalam penelitian sejarah pada umumnya. AbstractAfter the Treaty of Bongaya in 1667, political marriage used as strategic to build power. This strategy is not new in the long history of South Sulawesi. Political Marriage has been done long ago by the Bugis-Makasar nobles. This strategy made the nobles succeed to instill power in other areas. However, political marriages, which occurred after the Treaty of Bongaya, were marriages that carried out by two kingdoms. The purpose of those marriages is to build extensive kinship and power. Political marriage does not just happen between two people from different family, but also done by two people from the same kinship. This strategy adopted because in Bugis-Makasar perspective, marriage means taking each other. Marriage does not just involve men and women who marry, but also involve relatives both sides with purpose to renew and strengthen their relationship. Through a political marriage, South Sulawesi can be unified. This research used historical method, which consist of four phases: heuristics, critics, interpretation, and historiography.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue