cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
PERKEMBANGAN WAYANG GANTUNG SINGKAWANG DAN UPAYA BERTAHAN DARI ANCAMAN KEPUNAHAN Benedikta Juliatri Widi Wulandari
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.517 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.245

Abstract

AbstrakTulisan ini merupakan hasil penelitian tentang seni pewayangan yang dikembangkan oleh masyarakat Tionghoa di Singkawang Kalimantan Barat, yang dikenal dengan nama Wayang Gantung Singkawang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perkembangan Wayang Gantung Singkawang sejak awal kedatangannya hingga saat ini, serta perubahan-perubahan yang dilakukan oleh para pelaku seni Wayang Gantung Singkawang sebagai strategi untuk mempertahankan eksistensinya. Pendekatan kualitatif diterapkan dalam penelitian ini. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan terlibat dan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Wayang Gantung Singkawang telah mengalami kemunduran yang cukup pesat, disebabkan adanya kebijakan pemerintah Orde Baru yang membatasi penyelenggaraan adat istiadat masyarakat Tionghoa, perkembangan budaya pop dan media hiburan, serta permasalahan dalam proses regenerasi. Para pelaku seni wayang telah melakukan beberapa perubahan dalam cerita, tokoh dan durasi waktu pertunjukan, sehingga bersesuaian dengan permintaan penonton. AbstractThis paper ia the result of research on a Chinese puppet show called wayang gantung Singkawang, developed by the Chinese community of Singkawang (West Kalimantan). The author tries to describe the ups-and-downs of wayang gantung Singkawang beginning from its arrival to the modifications enabled by the puppeteers in order to preserve its existence. A qualitative method was applied on the research, and data collecting was conducted by means of participants observations and in-depth interviews. The author finds that there is no progress in wayang gantung Singkawang due to the government policies during the New Order Regime (Rezim Orde Baru) which restricted any kinds of performaces related to the Chinese traditions. Meanwhile, the development of popular culture and some problems concerning regeneration make these things worst. The puppeteers have to make some modifications either by changing the plot of the story, the characters of the puppets, or making the showtime shorter.
Dinamika Industri Kopi Bubuk di Lampung (1907-2011) Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.264 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.161

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul “Dinamika Industri Kopi Bubuk di Lampung (1907-2011)”. Kopi merupakan salah satu sumber daya unggulan di Lampung. Keberadaan industri kopi di Lampung ditopang oleh banyaknya perkebunan rakyat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dalam penelitian ini digunakan konsep industri. Industri adalah kegiatan manufaktur yang di dalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Awal mula budidaya kopi di Lampung dilatarbelakangi oleh perpindahan penduduk dari Jawa ke Lampung yang telah berlangsung sejak 1905. Para kolonis datang ke Lampung untuk membuka lahan dan menanam berbagai komoditas, salah satunya adalah kopi. Proses perpindahan terus berlangsung dalam beberapa periode; 1905-1941 (Hindia-Belanda) dan pada 1950-1986 (masa kemerdekaan). Selama proses tersebut, pembukaan lahan-lahan perkebunan kopi terus dilakukan di berbagai daerah. Industri kopi bubuk yang pertama berdiri adalah Kopi Njit Sin Hoo (Rajawali) yang sudah ada sejak 1907. Njit Sin Hoo kemudian berganti nama menjadi Kopi Sinar Baru Cap Bola Dunia pada 1950. Industri kopi bubuk berkembang pesat pada 1980 dengan bermunculannya beragam merk kopi bubuk. Memasuki tahun 2007 hingga 2010 dikenal kopi luwak yang memiliki kualitas istimewa dan dikenal di dalam dan luar negeri.  AbstractCoffee is one of major resources in Lampung. It is supported by many people’s plantations. The author conducted methods in history: heuristic, critique, interpretation, and historiography. The concept that is used in this study is “industry”. Industry is manufacture activities involving productivity in processing raw material into half-finished or finished goods. Coffee cultivation in Lampung was motivated by migrations from Jawa to Lampung that took place in 1905. The colonists opened and cultivated land with many commodities, including coffee. There are two phases of migration: during the Dutch colonialism (1905-1941) and after the Independence (1950-1986), and in those periods many coffee plantations were opened in many areas. The first coffee powder industry Njit Sin Hoo (Rajawali) was established in 1907. In 1950 it changed the name into Kopi Sinar Baru Cap Bola Dunia. Coffee industry made its big progress in 1980 along with the introduction of many new brands. By 2007 until 2010 kopi luwak, which has special quality, was introduced.
MITOLOGI SAEDAH SAENIH: CERITA RAKYAT DARI INDRAMAYU Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.655 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i3.13

Abstract

Indramayu community still believe with the customs of his ancestors. In some areas, we can found the traditional arts, beliefs, ceremonies, games and story. On this occasion, the writers wanted to examine folklore mythology Saedah Saenih. The existences of Saenih Saedah story is very attached to some people in Indramayu, as if the story is real.  The story is famous, and it appeared in the drama, lyrics, and even once made into a movie. The problems outlined in the form of questions, the myth of what is contained in the story Saedah Saenih? How far the myth Saedah Saenih for the community? what moral values that is contain in the story Saedah Saenih? This study aims are to get a complete and clear picture of the mythology in Saedah Saenih folklore. This study used a qualitative approach with descriptive method. The study begins literature, data collection, classification, analysis and reporting. In conclusion, the mythical story Saenih Saedah very attached to the people of Indramayu. The contents are considered real story is characterized by the belief that the existence Saenih still in the river Sewo in white crocodile manifestation. Compliance form of throw money, as it passes through the bridge Sewo to avoid disaster. They also believe Sarkawi transformed into a floating bale, Maemunah be pring ori, and Saedah into a tree on the river bank Sewo.
PELABUHAN PENYEBERANGAN MERAK (1957-2004) M. Halwi Dahlan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.092 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.212

Abstract

AbstrakIndonesia yang dianugerahi lautan demikian luas membuat negeri ini mendapat julukan negeri bahari. Di atas permukaan laut terdapat gugusan pulau-pulau yang terhubung oleh sarana transportasi perairan dari kapal kecil sampai kapal-kapal besar. Hal ini menyebabkan dibutuhkannya pelabuhan untuk tempat sandar kapal-kapal tersebut yang disebut Pelabuhan Penyeberangan. Dari beberapa pelabuhan penyeberangan tersebut salah satu di antaranya adalah Pelabuhan Penyeberangan Merak. Pelabuhan Merak adalah perintis pelabuhan penyeberangan yang dibangun pada tahun 1912 oleh pemerintah Hindia Belanda. Pelabuhan yang memiliki tujuan politis kolonial ketika dibangun, kemudian menjadi aset bangsa Indonesia setelah merdeka. Bagi Propinsi Banten yang memiliki arah kebijakan angkutan laut dengan visi dan misi sebagai "Propinsi Pelabuhan Terkemuka di Indonesia”, kehadiran pelabuhan ini menjadi aset ekonomi strategis. AbstractIndonesia is blessed with wide ocean makes this country gets maritime country epithet. Above sea level, there are clusters of islands are connected by means of water transportation from small boats to large ships. This causes the port needed to place these ships relied called Harbour Crossing. Of the several ferry ports are one of them is The Port of Merak Crossing Merak port is the pioneer that was built in 1912 by the Dutch East Indies government. Port, which has a colonial political purposes when it was built, later became a national asset for Indonesia after independence. For Banten Province who have marine transportation policy direction with the vision and mission as "Provincial Leading Port in Indonesia", the presence of this port becomes a strategic economic asset.
MITOLOGI PEREMPUAN SUNDA Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.98 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.129

Abstract

Abstrak Perempuan dalam dunia mitologi Sunda berada pada kedudukan yang  terhormat. Kedudukan, harkat, dan martabatnya tidak berada di bawah kekuasaan laki-laki, bahkan dalam hal-hal tertentu menduduki tempat strategis dalam kerangka melahirkan seorang manusia yang berkualitas.  Pengungkapan tokoh mitologi perempuan Sunda itu dilakukan melalui penggunaan metode deskripsi. Setiap tokoh diungkap dan hasil akhir yang diharapkan adalah memahami sosok perempuan Sunda dari segi spiritualitasnya. Penelusuran atas mitologi Sunda yang berkaitan dengan keperempuanan mengarahkan pada pengungkapan tipikal sosok perempuan Sunda yang terdapat pada tokoh-tokoh mitologinya. Tokoh mitologi itu di antaranya adalah   Dayang Sumbi, Sunan Ambu, dan Sri Pohaci. Ketiga tokoh ini kemudian menjadi kekuatan spiritual, bukan saja untuk kaum perempuan Sunda sendiri, melainkan pula untuk orang Sunda secara keseluruhan dalam bertindak dan berperilaku.  Abstract  In Sundanese mythology women have a very respectable status. They are not subordinate to men. They even have much more strategic position then men are due to their capability of giving birth to persons of good quality. The author conducted descriptive method in order to reveal typical Sundanese women based on mythological characters. The author finds that three mythological Sundanese women (Dayang Sumbi, Sunan Ambu, and Sri Pohaci) have been spiritual strength for Sundanese women as well as for all Sundanese in their lives.
PERGULATAN PEMIKIRAN KIAI NAHDLATUL ULAMA DENGAN KAUM MODERNIS ISLAM DI JAWA BARAT (1930-1937) Agung Purnama; Nina Herlina Lubis; Widyonugrahanto Widyonugrahanto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.627 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.34

Abstract

Nahdlatul Ulama adalah organisasi bercorak Islam tradisional yang dibentuk pada tahun 1926 di Surabaya Jawa Timur. Selanjutnnya NU menyebar luas ke wilayah lain di Pulau Jawa. Sementara itu, Jawa Barat adalah sebuah wilayah yang pada dekade 1920-1930-an merupakan lahan subur tempat tumbuh dan berkembangnya organisasi Islam bercorak modernis Di sana banyak bermunculan tokoh-tokoh pembaharu yang “agresif” dalam berdakwah menentang amaliah-amaliah keagamaan masyarakat Islam tradisional. Oleh karena itu, ketika NU masuk ke Jawa Barat, sangat mungkin akan disertai “gesekan” dengan organisasi Islam modernis setempat. Dalam mengkaji permasalahan ini penulis menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahap; heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Jawa Barat kerap terjadi pergulatan pemikiran dalam masalah sumber penetapan hukum agama. Bagi para kiai NU taqlid kepada hasil ijma’ para ulama mazhab hukumnya boleh, tetapi bagi kaum modernis perilaku bermazhab adalah haram. Umat Islam wajib kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber hukum utama. Selain itu, yang menjadi topik perdebatan adalah permasalahan bid’ah atau sunnah-nya tradisi-tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat sejak lama.Kata kunci: kiai NU, kaum modernis, pegulatan pemikiran, perdebatan, Jawa Barat.
KEARIFAN LOKAL ORANG SUNDA DALAM UNGKAPAN TRADISIONAL DI KAMPUNG KUTA KABUPATEN CIAMIS Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.691 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.102

Abstract

Abstrak Masyarakat Sunda termasuk salah satu etnis yang sangat bangga dengan bahasa dan budayanya. Dalam Bahasa Sunda dikenal babasan dan paribasa yang merupakan ungkapan tradisional atau idiom suku Sunda. Isi dari babasan dan paribasa merupakan nilai-nilai dan kearifan lokal orang Sunda pada umumnya. Dalam babasan dan paribasa banyak sekali kearifan lokal yang terkandung didalamnya. Nilai dan kearifan lokal ini yang harus tetap dijaga dan dijadikan falsafah hidup orang Sunda. Kearifan lokal mengandung nilai, kepercayaan, dan sistem religi yang dianut masyarakat setempat.Kearifan lokal pada intinya kegiatan yang melindungi dan melestarikan alam dan lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji dan melestarikan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat. Penelitian  kearifan lokal dilakukan pada masyarakat adat Kuta di Kabupaten Ciamis yang berfokus pada babasan dan paribasa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dalam bentuk kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipasi/pengamatan, wawancara mendalam dengan beberapa informan dan pengunjung, serta studi pustaka. Data yang dianalisis meliputi: Makna yang terkandung dalam kearifan lokal babasan dan paribasa, terutama yang mengatur tentang manusia sebagai pribadi, hubungan manusia dengan lingkungan masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan Tuhan. AbstractSundanese people is one ofanethnic which is extremely proud of their language and culture. In Sundanese, it is known babasan and paribasa which is a traditional expressions or idioms of Sundanese tribe. The content of babasan and paribasais the values and local wisdom of Sundanese people in general. In babasan and paribasa, there are a lot of local knowledge contain there. Values and local wisdoms must be kept and used as a philosophy of Sundanese life. Local wisdom contain values, beliefs, and religious system which is adopted by local communities.  Local wisdom on its core activities protect and preserve the natural and environment. Therefore, it is important to study and preserve the local wisdom that flourished in our society.The research of local wisdom was performed at Kuta indigenous people in Ciamis district that focuses on babasan and paribasa. The method used was descriptive method in the form of qualitative data collection techniques such as participatory observation / observation, in-depth interviews with informants and visitors, as well as literature. The data analyzed include the meaning in the local wisdom of babasan and paribasa, especially the regulation of the human as a person, human relationships with the community, the human relationship with nature, and man’s relationship with God.
MAKNA SEJARAH DAN BUDAYA DALAM SITUS JATIGEDE SUMEDANG Dade Mahzuni
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.362 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.268

Abstract

AbstrakRencana pemerintah untuk membangun bendungan atau Waduk Jatigedetentunya akan membawa manfaat bagi masyarakat Sumedang khususnya dan JawaBarat pada umumnya. Akan tetapi di balik manfaat dan keuntungan yang akandidapatkan dari pembangunan Waduk Jatigede tersebut, terdapat pula dampaknegatifnya, yaitu berkaitan dengan keberadaan situs-situs sejarah yang terdapatdi daerah setempat. Secara historis, situs-situs yang berada di daerah Jatigede dansekitarnya, yang berjumlah sekitar 25 situs, merupakan peninggalan masa prasejarah(megalitikum) dan masa Kerajaan Tembong Agung atau Sumedang Larang. Olehkarena itu, keberadaan situs-situs tersebut memiliki arti dan nilai yang penting untukpendalaman pengkajian sejarah kuno Jawa Barat.Informasi arkeologis dan kesejarahan yang dikandung dalam situs-situstersebut, baik secara tersurat mapun tersirat, mengandung makna bahwa masyarakatJatigede dan sekitarnya, sejak awal keberadaannya sudah memiliki budaya yangmapan: masyarakat sudah hidup dengan pola menetap, memiliki pengetahuan danpengalaman bercocok tanam dan membuat barang-barang keperluan rumah tanggadan keperluan hidup lainnya, mereka juga sudah memiliki kepercayaan animisme dandinamisme. Selain itu, melihat arah dan posisi makam-makam pada sejumlah situs,menunjukkan makam Islam, tetapi dengan struktur makam berupa punden berundak.Hal ini menunjukkan telah terjadinya akulturasi budaya. Makna budaya pada situsjuga tercermin dari cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan situs, yang di dalamnyamengandung nilai-nilai budaya dan sastra.Apabila seluruh atau sebagian situs-situs yang berada di daerah Jatigede dansekitarnya ditenggelamkan atau direlokasi ke tempat lain sejalan dengan pembangunanwaduk Jatigede, maka makna dan nilai sejarah dan budayanya akan turut hilang atauberkurang. Hal ini disebabkan karena kesejarahan dan kebudayaan selalu berkaitandengan tempat (site) dan benda-benda.AbstractThe government plans to build a dam in Jatigede. This dam will be beneficialto the people of West Java, especially Sumedangians. On the other hand, the dam willhave negative impacts on historical sites in the area. Jatigede has approximately25 historical sites than spans from prehistoric period (megalithicum) to the time ofTembong Agung Kingdom or Sumedang Larang. These sites are very important to thestudy of ancient history of West Java.From the historical and archaeological point of view, those sites inform usthat the people of Jatigede developed a quite complex culture at that time: they livedsedentarily, and already had techniques and knowledge for cultivating lands. Theyalso made household apparatus and any other equipments as well as developingbeliefs in animism and dynamism. Their cemeteries show that there was acculturation between Islam (the orientation) and local beliefs (pyramidal structure). The folktalesof the sites contain cultural and literary values.If all the sites have to be drowned due to the construction of the dam, thehistorical meaning and values of them will be vanished forever.
KERATON KANOMAN DI CIREBON (Sejarah dan Perkembangannya) Lasmiyati .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.913 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.184

Abstract

AbstrakKeraton merupakan tempat kediaman raja, yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan. Di dalam keraton, sultan melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin segala kegiatan politik dan sosial budaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sejarah terbentuknya Keraton Kanoman di Cirebon dan bagaimana perkembangannya. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh informasi bahwa Keraton Kanoman didirikan tahun 1510 Saka atau 1588 M oleh Pangeran Muhamad Badrudin Kartawidjaja atau Sultan Anom. Mereka menempati bangunan Witana yaitu bangunan yang pertama kali ditempati oleh Pangeran Cakrabuana ketika berada di Tegal Alang-alang. Pangeran Cakrabuana bekerja sebagai penumbuk rebon. Alat yang digunakan adalah lumpang alu dan pencetak terasi. Kedua alat tersebut disimpan di sebuah cungkup. Keraton Kanoman seperti kota tradisional, yang di dalamnya terdapat alun-alun dengan waringin kurung di tengahnya, pasar, masjid agung dan bangunan lainnya. Keraton Kanoman bukan hanya digambarkan sebagai kota tradisional melainkan juga tempat penyelenggaraan upacara Maulid Nabi, yaitu sebuah upacara yang dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhamad SAW.AbstractKeraton (palace), in which a king lives, comprises several buildings. The Sultan administers every political and cultural activities inside keraton. This research aims to study the history of the establishment of Keraton Kanoman and its development. The methods covered heuristic, critique, interpretation, and historiography. The informant said that the Keraton was established in 1510 Çaka or 1588 AD by Pangeran (Prince) Muhamad Badrudin Kartawidjaja or Sultan Anom. They occupied Witana building which was first occupied by Pangeran Cakrabuana when he was in Tegal Alang-alang. Like other traditional cities, Keraton Kanoman has a plaza inside with a banyan tree in themiddle, market, great mosque, and other buildings. The Keraton is not only a traditional city, but it functions as a place to carry out ceremony commemorating the birth of Prophet Muhammad.
UPACARA MUNAR LEMBUR PADA KOMUNITAS ADAT KASEPUHAN CISUNGSANG KABUPATEN LEBAK BANTEN Yudi Putu Satriadi dan Ria Andayani Somantri
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.322 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.70

Abstract

AbstrakPenelitian Upacara Munar Lembur pada Komunitas Adat Kasepuhan Cisungsang, Kabupaten Lebak, Banten dilakukan untuk menjawab masalah pokok yang dibahas dalam penelitian, yakni tentang bentuk upacara munar lembur dan fungsi upacara munar lembur. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi yang terfokus pada Upacara Munar Lembur pada Komunitas Adat Kasepuhan Cisungsang, Kabupaten Lebak, Banten. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, observasi atau pengamatan, dan wawancara kepada sejumlah informan. Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh data yang menggambarkan legenda kasepuhan dan bentuk upacara munar lembur yang meliputi nama, asal-usul, pelaksana, tujuan, tempat, waktu, tahapan, dan jalannya upacara munar lembur. Tampak sekali sistem religi komunitas adat Kasepuhan Cisungsang begitu mewarnai upacara tersebut. Melalui upacara munar lembur terlihat adanya fungsi sosial dan fungsi edukasi dalam rangka penanaman nilainilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kesimpulannya, upacara tersebut merupakan harapan agar wilayah tempat tinggal mereka diberi kekuatan dalam menghadapi berbagai kejadian yang baik maupun yang buruk; juga sebagai penolak bala. AbstractThis research is made to answer the form of Munar ceremony and its functions on Indigenous Communities of Cisungsang, Lebak district, Banten. Ethnography method is used in this research since it’s only focused only on the ceremony. The technique of data collection that used are library research, observation, and interviews to several informants. Based on the research, it is found the data which describe the legend of kasepuhan and the forms of Munar ceremony that includes the name, origin, executor, destinations, places, times, and the stages of Munar ceremony. It can be seen the religious system of indigenous communities of Cisungsang have been coloring the ceremony. Through the ceremony we can see their social function and the function of education in the context of value investment from one generation to the next. In conclusion, the ceremony is an expectation that their geographical area is given the strength in the face of events both good and bad; as well as a repellent reinforcement.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue