cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
BATIK GARUT: Studi Tentang Sistem Produksi dan Pemasaran Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.538 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.236

Abstract

AbstrakBatik Garut atau yang lebih dikenal dengan nama batik Garutan, saat ini sudah menampakkan kiprahnya dalam kancah dunia perbatikan Indonesia. Upaya untuk berkiprah ini tidak luput dari beberapa persiapan yang harus dilakukan, terutama dalam sistem produksi dan sistem pemasaran agar dapat bersaing baik dengan motif batik dari daerah lain, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, penelitian yang menggunakan metode deskripsi dengan pendekatan kualitatif ini ingin mengungkapkan dua hal tersebut di atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski masih menggunakan sistem manajemen keluarga namun dalam hal sistem produksi yang dilakukan mulai menunjukkan adanya unsur teknologi modern di samping teknologi tradisional yang digunakan untuk mendukung pesanan dalam jumlah banyak. Sistem pemasaran juga sudah mulai menampakkan perubahan dari sistem lama yang hanya menggunakan keahlian berkomunikasi, kini telah mengalami peningkatan terutama dari segi promosi baik dengan menggunakan media elektronik (promosi dengan menggunakan internet) ataupun keikutsertaan dalam berbagai macam pameran dan pergelaran busana. AbstractBatik Garut, or popularly called batik garutan is becoming a more significant asset in the world of batin in Indonesia nowadays. Efforts such as production and marketing system should be into consideration in order to make batik garutan worth competing with batiks of other regions in Indonesia, especially in terms of quality and quantity. These issues were examined in this research, and the author conducted a descriptive method as well as qualitative approach.The result indicates that, although the industries are still applying family management system, modern technology has been adopted without leaving the old and traditional one. In fulfilling great amount of market demands, old marketing system is improved by implementing an online marketing tekchnique as well as participating in fashion shows and other exhibiton events.
TOLERANSI MASYARAKAT MULTI ETNIS DAN MULTIAGAMA DALAM ORGANISASI SUBAK DI BALI Gusti Ayu Armini
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.531 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.152

Abstract

AbstrakSubak merupakan organisasi pertanian di Bali, yang identik dengan masyarakat Bali yang beragama Hindu. Hal ini tidak sepenuhnya benar, sebab organisasi subak di Bali bersifat multietnis dan multiagama. Masyarakat anggota subak bukan hanya masyarakat etnis Bali yang beragama Hindu, tetapi masyarakat etnis lain yang beragama Islam, Budha, Protestan, maupun Katolik. Perbedaan etnis dan agama yang dianut anggota subak mengharuskan adanya sikap toleransi masing-masing etnis dan agama anggota pendukung organisasi subak. Proses toleransi berjalan dengan baik dalam aktivitas subak, sehingga keberadaan lembaga subak tetap ajeg sampai saat ini. Secara khusus, kajian ini bertujuan mendeskripsikan kehidupan multietnis dan multiagama dalam kegiatan subak di Bali. Lebih lanjut, kajian ini diharapkan bermanfaat sebagai sumber informasi bentuk-bentuk adaptasi dan toleransi yang diterapkan pada tataran organisasi yang berbeda etnis dan agama. Dengan harapan, proses toleransi demikian dapat digunakan sebagai salah satu rujukan dalam menata kehidupan masyarakat multikultur di Indonesia. Kajian tentang toleransi menerapkan metode kualitatif dipadukan dengan analisis interpretatif. AbstractSubak is an agricultural organization in Bali, which is identical to the Balinese with its Hindu religion. This is not entirely true, because subak organization is multiethnic and multi-religious. Community members of subak are not only Balinese ethnic with Hindus religion but other ethnic people such as Muslim, Buddhist, Protestant, and Catholic. Ethnic and religious affiliations of members of the subak organitation require tolerance attitude each ethnic and religious members of subak organitation. The process of tolerance goes well in subak activities, so the extention of subak institutions remain until now. This research aims to describe the tolerance of multiethnics and multireligions society in subak organitation. And then, this research expected use to information sources of tolerance forms in multiethnic and multireligion organitation. The process of tolerance had used for reference to life system for multicultural society in Indonesia. This research conducted by qualitative and interpretative analysis approach.
MODERNISASI DAN TERBENTUKNYA GAYA HIDUP ELIT EROPA DI BRAGAWEG (1894-1949) Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.455 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.8

Abstract

This study describes the Bragaweg changes from 1894 to 1949. In addition, this study describes the form of European-style activity in Braga Street that represents the modern nuances of the colonial period. The historical method is used to construct the Braga story. To support the analysis of this study, the author uses the concept of modernization of Lawrence V. Stockman.  He stated that modernization does not create something new but accept something new from another nation or other developed country. At first the European elite tried to adapt, then seek the formation of a typical European life in the colony. Bragaweg is a picture of the success of the European elit. The Bragaweg transformation represents economic growth in the region; From the emergence of staple stores to the rise of luxury and industrial goods stores. Modern impression is seen from the lifestyle practiced by the European elite and the full range of facilities and technology in the Bragaweg region. In the war of independence, the sparkling atmosphere of Europe was dimmed and replaced by the atmosphere of war.Keywords: Bragaweg, modern, life style, European elite.
PENGARUH AKULTURASI BUDAYA TERHADAP DUALISME SISTEM EKONOMI MASYARAKAT KAMPUNG TUA DI KECAMATAN ABUNG TIMUR, KABUPATEN LAMPUNG UTARA Lia Nuralia; Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1272.109 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.347

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengungkap sejarah dan budaya masyarakat adat Kampung Tua di Lampung. Sumber tulisan merupakan hasil penelitian dengan menggunakan metode survey, dan teknik pengumpulan data melalui studi literatur, observasi langsung, dan wawancara. Kajian dilakukan dengan menerapkan konsep-konsep ilmu sosial, yaitu konsep akulturasi budaya dan sistem ekonomi dualistis (tradisional dan modern), menghasilkan sistem nilai yang unik dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kampung Tua. Akulturasi budaya tampak pada gaya bangunan rumah tinggal dan dua sistem adat lama (pepadun dan sebatin), beserta benda-benda upacara adat Begawi, sedangkan sistem ekonomi dualistis dengan keberadaan umbulan dan kuwayan. Tata nilai yang berlangsung mengalami perubahan dalam berbagai segi kehidupan, tetapi tetap berpedoman pada nilai-nilai kehidupan lama yang masih bertahan sampai sekarang. Perekonomian tradisional di wilayah umbulan dan kuwayan tergantikan dengan masuknya perekonomian modern. This paper aims to reveal the history and culture of indigenous people in Kampung Tua of Lampung. The writing source is the result of research by using survey method, and the data is collected through the study of literature, direct observation, and interviews. The study is conducted by applying the concepts of social sciences, acculturation, and dualistic economic systems (traditional and modern), it produces a unique value system and guide people's daily lives of Kampung Tua. Acculturation can be seen from the style of houses and two old custom system (pepadun and sebatin), along with the customary ceremonial objects of Begawi. Meanwhile, the dualistic economic system can be seen from the existence of umbulan and kuwayan. The lasting value changes in various aspects of life, but remain guided by the values of the old life until now. Traditional economy in the region of kuwayan and umbulan is replaced by the entry of modern economy.
KESENIAN TOPENG MASYARAKAT KASEPUHAN GURADOG LEBAK BANTEN Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.865 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.227

Abstract

AbstrakKesenian merupakan bagian penting dan salah satu unsur dari kebudayaan. Selain aspek seni, kesenian juga dapat dilihat dari sudut pandang latar belakang kebudayaannya yang akan mampu mengungkap simbol-simbol dan nilai budaya. Kesenian Topeng adalah kesenian tradisional yang merupakan refleksi keindahan, simbolisme dan nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya. Di samping menampilkan keindahan gerak dan suara, juga para pelaku yang menyajikan topik-topik yang hidup di masyarakatnya. Kesenian Topeng yang tumbuh dan berkembang di Kampung Guradog Lebak Banten, perkembangannya lamban. Kesenian Topeng ini menampilkan dua bentuk seni yaitu Jaipongan dan seni drama. Bentuk cerita yang ditampilkan meliputi cerita babad dan roman. Cerita babad diambil dari cerita klasik yang mengandung unsur kesejarahan dan kepercayaan, sedangkan cerita roman mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari.   AbstractArt is an important part and unavoidable things from human culture. Besaide artistic aspect, art can also viewed from the background culture which able to reveal symbolic meaning from that art and the values.Topeng art is a traditional art which reflect asthetic, symbolic and moral values for who supported it. Besides showing beautifulness of gesture and sounds, it also performs an actors and useful topics for his community.Topeng art which grows and develop at Guradog Lebak Village, Banten, was late in development. This Topeng art shows two forms of art, which is Jaipongan and drama. Form of stories that shown includes babad and roman story. Babad story taken from classic story that have part of history and beliefs, while roman story tells about daily lives.
ARSITEKTUR MASJID MERAH PANJUNAN KOTA CIREBON Hermana Hermana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.001 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.143

Abstract

AbstrakPerkembangan ajaran agama ditandai dengan adanya pembangunan tempat peribatannya. Cirebon yang terkenal dengan sebutan “kota wali” merupakan salah satu tongggak berkembangnya ajaran Islam di pantai utara wilayah Kerajaan Pajajaran. Pembangunan Masjid Merah yang diprakasai oleh Syekh Syarif Abdurrahman dibangun pada tahun 1480 Masehi. Bangunan Masjid Merah tidak terlepas dari seni arsitektur dengan segala ornamennya berbentuk piring porselin yang dipasang di dinding tembok dan juga terbuat dari susunan bata merah sehingga mesjid ini dinamakan Masjid Merah, serta didukung oleh tiga unsur kebudayaan besar. Saat ini Masjid Merah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Pemerintah Kota Cirebon. Sebagai benda cagar budaya perlu adanya pemeliharaan berkesinambungan yang diharapkan dapat dijadikan sebagai objek wisata sejarah dan budaya atau sebagai pembelajaran bagi generasi muda untuk menghormati karya leluhurnya.  Penelitian ini bertujuan untuk memberikan data dan informasi di bidang kebudayaaan mengenai seni arsitektur Masjid Merah Panjunan di Cirebon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. AbstractThe development of religion is characterized by the construction of its place of worship. Cirebon which is known as the "city of wali" is a milestone in the development of Islam in the north coast area of the Kingdom of Pajajaran. The construction of Masjid Merah (the Red Mosque) was initiated by Syekh Syarif Abdurrahman in 1480 CE. The mosque was made of red bricks and has plates mounted on the walls as its ornament depicting harmony of three cultures which make it considered cultural heritage by local government. As the object of cultural heritage the mosque needs to be conserved for the benefit of historical and cultural tourism attraction or as learning experience for younger generation in respecting the work of their predecessors. This study aims to giving data and information in cultural area, especially architecture of the Red Mosque of Panjunan in Cirebon. The author conducts a descriptive-analytical method, and datat are obtained through primary and secondary sources.
PENGOBATAN TRADISIONAL DI DESA LEMAHABANG KULON, KEC. LEMAHABANG, KAB. CIREBON Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.606 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.323

Abstract

Pengobatan Modern dan pengobatan tradisional merupakan dua jenis pengobatan yang kerap dipakai untuk mengatasi sakit yang diderita. Masing-masing jenis pengobatan memiliki keampuhan dan peminatnya. Indonesia sudah mensahkan obat tradisional sebagai media alternatif untuk mengobati masyarakat. Obat tradisional merupakan sebuah kearifan lokal dari generasi terdahulu yang didapat melalui berbagai proses untuk membuktikan keampuhannya. Penelitian yang menggunakan metode deskripsi kualitatif ini bertujuan untuk menggali sumber pengetahuan dan jenis pengobatan tradisional di lokasi penelitian. Diperoleh hasil bahwa garis keturunan dan keingintahuan menjadi latar belakang penyembuh dalam memeroleh pengetahuan pengobatan tradisional. Rasa percaya terhadap cara pengobatan, ikhlas, dan memasrahkan diri pada Sang Pencipta menjadi unsur utama yang harus dimiliki pasien dan penyembuh untuk mengobati penyakit yang sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat. Modern and traditional medicine are two types of treatment that are often used to overcome illness. Each type of treatment has the power and also the followers. Indonesia has legalized traditional medicine as an alternative media. Traditional medicine is a local wisdom of previous generations that gained through various processes to prove its ability. The research uses qualitative description method to explore and find the type of traditional medicine in the research location. The result is obtained that the lineage and curiosity become the background of the healer in obtaining knowledge of traditional medicine. Belief in the way of treatment, sincerity, and surrender to the Creator becomes the main element that must be possessed by the patient and the healer to treat the disease according to local socio-cultural conditions.
EKS TAPOL PKI DAN KONTROL PEMERINTAH: Studi pada Komunitas Tapol PKI Moncongloe Sulawesi Selatan (1979-2003) Taufik Ahmad
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.93

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menjelaskan kontrol pemerintah dan politik resistensi tahanan politik Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca pembebasan dengan mengambil kasus pada komunitas tahanan politik Moncongloe di Sulawesi Selatan. Metode yang dipergunakan adalah metode sejarah, dengan tahap; pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber mencakup kritik eksteren yang menyangkut otentisitas atau keabsahan sumber dan kritik interen yang menyangkut kredibilitas atau bisa tidaknya sumber dipercaya, interpretasi atau penafsiran atas data, dan yang terakhir adalah penyajian kisah sejarah atau historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasca pembebasan, persoalan komunitas tahanan politik Moncongloe tidak berakhir. Mereka dihadapkan pada kontrol pemerintah melalui perangkat konstitusi dan penjurusan negatif pada diri tahanan politik sebagai orang “tidak bersih lingkungan”. Akibatnya, melahirkan sebuah komunitas yang terpinggirkan dalam bidang sosial, politik dan ekonomi. Setelah reformasi, ruang perjuangan eks tahanan politik mulai terbuka lebar dengan berdirinya berbagai organisasi-organisasi yang memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini diabaikan oleh pemerintah.AbstractThis study aims to explain the control of the government and political resistance performed by post-released prisoners of Partai Komunis Indonesia (PKI). This is a case study of the Moncongloe community of political prisoners in South Sulawesi. The author conducted history method, covering heuristics (collecting sources), source criticism (including external criticism concerning the authenticity or validity of sources as well as internal criticism regarding the credibility of the sources, and interpretation of the data), and historiography (the presentation the story). The results showed that the issue of Moncongloe political prisoners has not come to an end even though they have already been released. The post-released prisoners are facing the government control through the constitution and negative image on political prisoners as not having "clean environment". As a result, they are socially, politically and economically marginalized. After the reform, they had a wide opportunity to struggle because there were many organizations established to fight for the rights of those who have been ignored by the government.
CILEGON: DARI KOTA ADMINISTRATIF SAMPAI KOTA (1986-2005) Herry Wiryono
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.788 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i3.259

Abstract

AbstrakKota Cilegon yang terletak di ujung barat Pulau Jawa memiliki kawasan pesisir yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pengembangan investasi yang dinilai layak, antara lain sektor industri, pariwisata, pelabuhan, pergudangan, instalasi, dan kawasan komersial. Dengan segala potensi yang ada diharapkan masyarakat, terutama pihak swasta dan para investor dapat mengambil bagian dalam pembangunan Kota Cilegon ke depan.  AbstractCilegon town which located in tip of west Pulau Jawa has a real coastal area area potency to be developed. Expansion of invesment assessed is competent for example industrial sector, tourism, port, warehousing, installation, and commercial area. With all the potencies is expected by public, especially the side of private sector and the investors can take a hand in development of Cilegon town forwards.
ARSITEKTUR RUMAH BETANG (RADAKNG) KAMPUNG SAHAPM Poltak Johansen
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.89 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i3.175

Abstract

AbstrakArsitektur dari suatu bangsa, pada suatu masa sering berbeda-beda, baik dalam hal bentuk maupun konsep-konsep yang melandasinya. Hal ini tentu disebabkan adanya perbedaan kebudayaan dari suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Setiap suku bangsa biasanya akan menunjukkan identitas budayanya melalui benda-benda budaya yang mereka buat. Demikian halnya masyarakat Dayak Kanayatn memiliki ciri tersendiri dalam bentuk arsitektur bangunan khususnya bangunan rumah tinggal. Bentuk arsitektur masyarakat Dayak Kanayat’n yang tinggal di Desa Sahapm tercermin dalam bentuk Rumah Betang atau Rumah Panjang dan hingga kini masih dijaga dan dihuni oleh masyarakat. Bentuk rumah Betang juga menunjukkan hidup kebersamaan bagi penghuninya. Dalam  Rumah panjang atau Rumah Betang mereka berinteraksi antara bilik yang satu dengan bilik yang lainnya. Tujuan penulisan untuk mendeskripsikan bentuk arsitektur Rumah Betang dan keberadaannya pada saat ini, selain itu penelitian ini juga  mendeskripsikan kehidupan masyarakat di Rumah Betang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan tehnik pengamatan dan wawancara dalam menggali data di lapangan serta studi kepustakaan sebagai menggali bahan untuk menulis. AbstractThe nation has a diverse architecture, both in terms of form as well as the underlying concepts. The diversity of architecture due to differences in the culture of a society. Each tribe will usually show its cultural identity through cultural objects that they create. Similarly with Kanayatn Dayak community has its own characteristics in the architecture, especially residential buildings. Architectural form of the Dayak people who live in the village Dayak Kanayat'n reflected in the form of Rumah Betang or Rumah Panjang and is still maintained and inhabited by people. Betang shapes also showed live together or togetherness. The people who lived in Rumah Panjang interact with each other in one room to other room. The main purposes of this study is to describe the architectural form and its existence today. In addition, this study describe betang people's lives at home. The method used is descriptive-qualitative method using the techniques of observation and interviews to collect data in the field and library research.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue