cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
RUMAH JUNTI DI DESA JUNTIKEBON KECAMATAN JUNTINYUAT KABUPATEN INDRAMAYU Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1667.541 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.124

Abstract

AbstrakDesa Juntikebon Kecamatan Juntinyuat berada di Kabupaten Indramayu. Desa Juntikebon memiliki kekhasan dalam hal arsitektur rumah tinggal. Rumah tinggal penduduk asli Juntikebon berarsitektur tradisional. Bentuk rumahnya limasan dan srotongan dengan bahannya dari kayu dan bambu. Rumah limasan ditandai dengan bentuk atap berupa jajaran genjang, sedang rumah srotongan ditandai dengan bentuk atap segi tiga. Orang Junti (penggalan dari Juntikebon) rmenyebut rumah sejenis itu dengan rumah limasan dan srotongan. Orang di luar kecamatan  sering menyebutnya dengan rumah Junti. Rumah limasan/srotongan/Junti menggunakan bahan-bahan yang pada umumnya diambil dari kebun sendiri. Selebihnya adalah dibeli dari lingkungan sekitar. Pekerja intinya adalah tukang bangunan dan tukang anyam, selebihnya adalah bantuan tenaga dari para tetangga. Dengan kondisi tenaga kerja yang demikian, pada umumnya membangun rumah limasan/srotongan/Junti selesai dalam kisaran waktu tiga minggu. Rumah limasan/srotongan/Junti dibangun dengan beradaptasi pada alam dan iklim setempat. Segala makna yang melekat pada bangunan rumah, sejatinya menggambarkan keyakinan serta pengharapan di dalam menjalani kehidupan.     Abstract Desa/village Juntikebon, Kecamatan/district Juntinyuat (Kabupaten/regency Indramayu) has a distinctive architecture of traditional house, called limasan and srotongan. People outside the village call it rumah Junti (house of Junti). The uniqueness of this architecture is in its adaptive design to nature and weather, and every elements of the house depicts their faith and hopes in their life. Materials for building the limasan and srotongan are generally taken from their own gardens. Only some small amount are purchased from the surrounding area. The main workers are masons and artisan spesiallising in weaving bamboo wall, and the neighbours do the rest.
PERJALANAN SEORANG PENGRAJIN TEROMPET DALAM KAJIAN SISTEM EKONOMI Ria Intani Tresnasih
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.972 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.31

Abstract

Terompet identik dengan tahun baru. Kehadirannya di penghujung tahun tidak lain untuk  merayakan pergantian tahun. Fenomena ini sudah lama terjadi. Namun nyaris orang tidak tahu bagaimana kegiatan pengrajin terompet di belakang layar. Bagaimana pola produksi, pola distribusi, pola penyimpanan, dan pola konsumsi pengrajin terompet. Sehubungan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem ekonomi seorang pengrajin terompet. Metode yang digunakan dalam penelitian  adalah metode kualitatif dengan hasil penelitiannya dituangkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini,  pembuatan terompet tidak  dimonopoli oleh tukang terompet itu sendiri. Ada bagian-bagian tertentu yang dihasilkan oleh orang lain yang sebagian darinya bersifat pabrikan. Distribusi ada tiga macam, dilakukan oleh penjaja terompet eceran, oleh grosir, dan  oleh pengrajin terompet itu sendiri. Adapun pola konsumsinya bersifat primer bagi sang pengrajin. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa ada satu mata rantai dalam pembuatan terompet, yakni antara percetakan, pengepul cones, distributor lem, toko grosir mainan, dan pengrajin terompet. Kata kunci: pengrajin terompet, sistem ekonomi.
PANASNYA MATAHARI TERBIT DERITA RAKYAT SUKABUMI PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG 1942-1945 Sulasman .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.007 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.97

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan menggambarkan penderitaan rakyat Sukabumi masa Pendudukan Jepang. Untuk merekonstruksi peristiwa itu digunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada awal kedatangannya, tentara Jepang disambut dengan antusias oleh masyarakat Sukabumi. Dengan harapan mereka dapat membebaskan belenggu dari penjajahan Belanda. Banyak tokoh di Sukabumi yang membantu proses pengambilalihan kekuasaan dari tangan Belanda ke Pemerintah Pendudukan Jepang. Ternyata harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Kebijakan-kebijakannya banyak merugikan bangsa Indonesia. Kebijakannya lebih menekannkan ke arah bagaimana Bangsa Indonesia bisa membantu kepentingannya untuk menjadi imperium baru menggantikan Pemerintah Kolonial Belanda. Pemerintah Pendudukan Jepang telah menggunakan simbol-simbol agama, seperti ulama dan kiai sebagai alat propaganda untuk mendukung program ekonomi perangnya. Ulama dan kiai dididik melalui Program Pendidikan Kader Ulama. Setelah mereka mengikuti pendidikan, diwajibkan menjadi propagandis Pemerintah Pendudukan Jepang dalam program wajib serah padi dan romusha. Kebijakan Pemerintahan Pendudukan Jepang yang melibatkan tokoh tokoh ulama telah menempatkan posisi ulama dan kiai yang tadinya terhormat menjadi tidak terhormat, karena mereka dianggap terlibat dalam peristiwa yang membuat masyarakat Sukabumi mengalami penderitaan. Masyarakat Sukabumi jatuh dalam kemiskinan dan penderitaan ekonomi secara sistematis. Kehidupan masyarakat Sukabumi di bawah Pemerintahan Pendudukan Jepang mengalami penderitaan lahir dan batin. AbstractThis text aims to describe the Sukabumi’s people sufferings at the time of Japanese occupation in Indonesia. For reconstructing the event, it uses the historical method which includes Heuristics, Critics, Interpretation, and Historiography. The result of this study shows that at the beginning of its arrival, the Japanese Troops was enthusiastically welcomed by the Sukabumi’s people. They hoped that the troops can free the people from the Dutch imperialism. There were many figures from Sukabumi who helped the Japanese troops to take over the power from Dutch. In fact, that hope was not realized. The Japanese policies were disadvantageous for Indonesian people. Those policies were emphasized more on how the Indonesian people help the Japanese tobecome the new imperium which substitute the Dutch Colonial Government. The Japanese troops had used the religious symbols such as the scholars and the Kiai as a tool of propaganda to support their economic war program. The scholars and Kiai were trained through The Scholar Cadre Training Program. After trained, they should become the Japanese propagandists in order to tell and ask people to join the paddy grain sharing program and also romusha program. The Japanese policies that involved the scholar figures had replaced the scholars’ and Kiais’ position from the honoured one to become the dishonoured one. It was because they were assumed to be responsible for the Sukabumi’s people suffering. The Sukabumi’s people suffered from the poverty and also suffered from the systematically economic decreasing. The Sukabumi’s people life was physically and psychologically suffering under the Japanese occupation.
SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN Tari Topeng CIREBON ABAD XV – XX Lasmiyati .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.285 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.263

Abstract

AbstrakSunan Gunung Jati selain sebagai kepala nagari Cirebon, ia juga salah satu walisanga yang mempunyai tugas menyebarkan agama Islam. Tantangan dan hambatansebagai wali ia temui, di antaranya menghadapi Pangeran Welang. Pangeran Welangmemiliki kesaktian, karena mempunyai pusaka Curug Sewu. Ia ingin mengalahkanSunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati menanggapinya tidak dengan kekerasan,melainkan membentuk kelompok kesenian dan mengadakan pertunjukan kelilingkampung. Dalam kelompok kesenian tersebut menampilkan Nyi Mas Gandasarisebagai penari yang memakai penutup muka (kedok). Pangeran Welang terpikatdengan penampilan Nyi Mas Gandasari, ia pun meminangnya untuk dijadikan isteri.Nyi Mas Gandasari menerima pinangan tersebut dengan syarat dipinang denganpusaka Curug Sewu. Pangeran Welang menyanggupi syarat tersebut yang akhirnyakesaktian Pangeran Welang pun hilang. Ia menyerah kepada Sunan Gunung Jati danmasuk Islam. Selanjutnya Tari Topeng di samping digunakan untuk menyebarkanagama Islam juga merupakan kesenian khas istana, dan menjadi sarana hiburan yangdisukai masyarakat. Setelah Belanda menduduki Cirebon, seniman topeng merasatidak nyaman tinggal di lingkungan keraton, karena Belanda telah ikut mencampuriurusan keraton. Mereka keluar dari istana dan menyebar ke Kabupaten Cirebon,di antaranya Gegesik, Palimanan, Losari. Penelitian ini untuk mengetahui sejarahpertumbuhan dan perkembangan Tari Topeng. Metode yang digunakan metodesejarah. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Tari Topeng sudah ada sejak SunanGunung Jati sebagai kepala nagari Cirebon. Tari Topeng dijadikan sebagai mediadakwah dan persebaran ke Gegesik, Palimanan, dan Losari mempunyai karakter yangberbeda dengan pakem yang sama.AbstractTari Topeng (mask dance) is a kind of folk performing art vastly known inCirebon. The dance was a court art during the rule of Sunan Gunung Jati, functioning as a means to spread Islam. It spread outside the court when the artists left the courtfollowing the Dutch arrival in Cirebon who made the court split into three: Kasepuhan,Kanoman, and Kacirebonan. The Dutch interference in almost everything in thecourt made them unpleasant. They eventually left the court and spread to KabupatenCirebon. The aims of this research is to get knowledge of the history and developmentof Tari Topeng using history method. The result is that this dance has been existingsince the time of Sunan Gunung Jati and served as a means to spread Islam. Then itspread to Gegesik, Palimanan and Losari following the arrival of the Dutch.
ETNIS BETAWI: KAJIAN HISTORIS Heru Erwantoro
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.217 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i2.179

Abstract

AbstrakPolemik tentang asal-usul etnik Betawi muncul ketika Lance Castles mengemukakan pendapat bahwa etnik Betawi baru muncul pada abad ke-20 dengan  budak yang berasal dari etnik Bali sebagai unsur pembentuk yang dominannya. Berseberangan dengan Lance Castles, Ridwan Saidi mengatakan etnik Betawi tidaklah muncul secara tiba-tiba, tetapi sudah ada sejak zaman prasejarah yang dia sebut sebagai “Proto Betawi” dan terus berproses menjadi etnik Betawi di abad ke-17 Masehi. Berdasar dua pendapat itu, penelitian ini akan membahas  sejarah etnik Betawi. Pertanyaan tentang siapa, kapan, dan bagaimana proses terbentuknya etnik Betawi menjadi fokus dari penelitian ini. Dengan memakai metode sejarah, ditelusuri berbagai pendapat para ahli yang telah melakukan penelaahan tentang etnik Betawi. Berbagai argumen dengan bukti-bukti yang kuat dari pendapat para ahli itu menegaskan bahwa etnik Betawi terbentuk dari suatu proses akulturasi yang berkesinambungan. Proses dari “Proto Betawi” menjadi “Betawi” berlangsung selama berabad-abad. Hanya saja, ada dua aspek yang perlu untuk diberi perhatian di dalam mengatasi polemik yang terjadi, yaitu: pertama, proses pembentukan etnik dan kedua, proses pemberian atau penyebutan nama suatu etnik/masyarakat. Proses terbentuknya masyarakat berlangsung lebih dulu sedangkan pemberian nama terjadi kemudian. Dengan demikian, tidaklah tepat bila pemberian nama suatu etnis dijadikan titik awal terbentuknya sebuah masyarakat.  AbstractPolemic about the originality of Betawi ethnic appeared when Lance Castle stated that the birth of this ethnic beginning from the Balinesse slave (as dominant elements) in the 20th century.  Different with Castlers, Ridwan Saidi says that Betawi ethnic was not suddenly appeared, but their existence since prehistorically era, called “Proto Betawi” and proceed become Betawi ethnic in 17th AD. According to the two theories, so this research will discuss about the history of Betawi ethnic. The questions of who, when, and how the process of Betawi ethnic appeared? is the main focus of this research. The research uses the historical method, and discussed about several theory from the experts. Kinds of argument with strong evidence from the experts claimed that Betawi appeared from the continuous process of acculturation.  The process from “proto Betawi” to “Betawi” take place for centuries.  But, there are two aspects that must be noticed to handle out the polemic, there is: the first is the ethnic figuration process, and the second is the process of giving ethnic/society name.  The process of society figuration happened first, meanwhile the giving of the name of the society happened later.
ANTONI PENGRAJIN CETIK DARI KABUPATEN LAMPUNG BARAT; KAJIAN NILAI ETOS KERJA Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.583 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.348

Abstract

Cetik/gamolan pekhing merupakan alat musik yang berasal dari Provinsi Lampung khususnya Kabupaten Lampung Barat. Cetik terbuat dari bambu, alat musik ini hanya digunakan untuk keperluan upacara adat dan pengiring dalam penyambutan tamu, karena cetik sulit untuk dipelajari. Pengrajin cetik di Provinsi Lampung jumlahnya relatif tidak banyak, mereka tetap menggeluti pekerjaan tersebut walaupun hasilnya tidak mencukupi. Hal inilah yang menarik bagi penulis untuk meneliti tentang pengrajin cetik dan alat  musik cetik. Penulisan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang alat musik cetik dan pengrajinnya. Penulisan ini dibatasi dalam bentuk pertanyaan, apa cetik itu? Bagaimana membuatnya? Bagaimana perkembangannya? Bagaimana sosok Antoni sebagai pengrajin cetik? Apakah memiliki etos kerja? Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Kesimpulan penelitian, cetik mengalami kesulitan untuk dipelajari dan dimasyarakatkan,  setelah dimodifikasi dari pentagonis menjadi diatonis, cetik lebih mudah dipelajari. Namun, cetik asli  tetap dipertahankan dan dilestarikan. Pengrajin cetik harus begulat antara kebutuhan hidup dengan tanggung jawab sebagai penerus leluhur untuk melestarikan warisan budaya. Perjuangan hidup pengrajin cetik yang dilematis menciptakan etos kerja yang dapat diadopsi oleh generasi penerus bangsa.    Cetik / gamolan pekhing is a musical instrument that originated from province of Lampung, especially in West Lampung District. Cetik is made from bamboo; this instrument is used only for ceremonial purposes and accompanist in welcoming guests, because cetik is difficult to learn. Cetik Craftsmen in Lampung Province relatively few in number, they still wrestle the job although the results are not sufficient. This is interesting for the writer to investigate about cetik craftsmen and cetik musical instruments. This research aims to obtain clear information about cetik musical instruments and craftsmen. The writing is restricted in the following questions: What is cetik? How to make it? What about its progress? How to figure Antoni as a cetik craftsman? Does he have work ethic? This research uses descriptive method with qualitative approach. The conclusion of this research is cetik faces a problem to be studied and promoted. After it is modified from pentatonic be diatonic, cetik is easier to be learnt. However, the original cetik is still maintained and preserved. Cetik craftsmen must struggle between the necessities of life with the responsibility as a successor to the ancestors for preserving cultural heritage. Life struggle of cetik craftsmen dilemma created a work ethic that can be adopted by the next generation.
PUISI PUPUJIAN DALAM BAHASA SUNDA Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.165 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.231

Abstract

AbstrakSebagai media pendidikan, puisi pupujian mempunyai fungsi sosial. Di Tatar Sunda, umumnya puisi pupujian berbahasa Sunda dinyanyikan di mesjid-mesjid, musola-musola, pesantren-pesantren atau di tempat-tempat pengajian lain. Di mesjid dan musola, waktu pupujian biasanya berlangsung antara azan dan qomat. Di pesantren dan madrasah, pupujian dinyanyikan pada saat pelajaran berlangsung. Di tempat pengajian anak-anak atau ibu-ibu, puisi pupujian dinyanyikan sebelum atau sesudah mengaji. Abstract“Pupujian” poem is used for affecting mind, feelings, and human behaviors, beside its function to spread religions. As a learning media, “Pupujian” poem, which is containing some advice and religious lessons, were memorized. With this poem repeatedly sang, it’s hoped that kids, santri, and public will be awakened and have wished to follow the advise and the religion lessons which spreaded through the poem. “Pupujian” oftenly sang in pesantren, madrasah or moscue, langgar or any other religious spoots. “Pupujian” sang when the times comes for Shubuh, Maghrib, and Isya pray, and some after it.
KESENIAN BELUK DI DESA CIAPUS KECAMATAN BANJARAN KABUPATEN BANDUNG Suwardi Alamsyah P.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.37 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.147

Abstract

AbstrakKesenian Beluk merupakan salah satu jenis tembang Sunda yang banyak mempergunakan nada-nada tinggi. Kesenian ini biasa diselenggarakan pada waktu syukuran, terutama syukuran bayi berumur 40 hari setelah kelahiran. Beluk dipertunjukan oleh paling tidak 4 orang dan dibantu oleh seorang juru ilo “tukang baca” buku yang disebut wawacan yang ditulis dengan huruf Arab (Pegon) berbahasa Sunda, dan 17 aturan pupuh di dalamnya. Biasa dipertunjukkan pada pada malam hari sekira pukul 19.30 sampai pukul 04.00 subuh hari. Pada awalnya kesenian Beluk hidup di dalam masyarakat agraris, terutama ladang dan huma, tetapi pada saat ini kesenian Beluk ini masih dapat bisa ditemui pada perayaan-perayaan besar misalnya di perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Alasan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai upaya mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang kesenian Beluk di Desa Ciapus, Banjaran Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kesenian beluk di Desa Ciapus sepanjang perjalanan sejarahnya masih tetap bertahan dan menunjukan eksistensinya.AbstractBelukis a kind of Sundanese song which uses high tones. This kind of artis usually held at the time of celebration, especially thanks giving for the birth of an infant 40 days after the day of its birth. It is usually performed at night until the dawn (between 19.30 – 04.00) by at least 4 people assisted by an interpreter (juruilo), the man who reads a book called wawacan. Wawacan is written in Sundanese using the Arabic alphabet called pegon and it has 17 kinds of stanzas (pupuh). Formerly, beluk existed in an agrarian society, but today it can still be performed on sucha large feasts like the anniversary ofIndonesia‟s independence day. The aim of this study is to gain more comprehensive information about belukin CiapusVillage in Banjaran, the Regency of Bandung. The author conducted descriptive qualitative approach and data were collected through interviews, observations, and bibliographical study. The result of this study indicates that beluk has been survived in the course of history.
JAROG DAN KOJA, KANTONG KHAS BADUY MAMPU MENINGKATKAN EKONOMI PENGRAJINNYA Yudi Putu Satriadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.374 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.56

Abstract

AbstrakPenelitian mengenai jarog dan koja, kantong khas Baduy ini membahas tentang sistem ekonomi pengrajin jarog dan koja. Penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang proses produksi sampai dengan peran aspek budaya dalam pembuatan jarog dan koja. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode kualitatif, dengan tahapan kerja meliputi: studi pustaka, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan jarog dan koja seluruhnya masih menggunakan pola tradisional sesuai dengan yang diwariskan oleh para orang tua sebagai pendahulu pembuatan jarog dan koja. Bahan yang digunakan berupa kulit pohon teureup yang dikeringkan dan dipilin menjadi tali kecil untuk dijalin menjadi kantong. Terjadi perluasan fungsi jarog dan koja. Kini, jarog dan koja bukan sekadar kantong untuk membawa keperluan sehari-hari orang Baduy melainkan menjadi cinderamata yang memiliki nilaiekonomis karenadibeli oleh orang luar Baduy. AbstractResearch on the Jarog and Koja, typical Baduy pouch, is about the economic system of Jarog and Koja craftsmen. This research carries out to get an overview of the production process up to the role of cultural aspects in the Jarog and Koja manufacture. It is a descriptive study with qualitative methods with the phases of work includes literature review, interviews, andobservations. The results showed that the entire manufacturing process of Jarog and Koja still use the traditional pattern in accordance with ancestors’ inherit as a precursor of Koja and Jarog manufacture. The material used is dried teureup bark (Artocarpus elasticus) and twisted intosmall a rope and woven become bags. There is an expansion of Jarog and Koja function. Now, Jarog and Koja are not only a bag to carry groceries butalso souvenir of Baduy that has economic value because it was purchased by the outer of Baduy.
DARI FEDERALIS KE UNITARIS: STUDI KASUS SULAWESI SELATAN 1945-1950 Muhammad Amir
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.44 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.222

Abstract

AbstrakKajian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan latar belakang dan proses perubahan sistem ketatanegaraan dari federalis ke unitaris di Sulawesi Selatan 1945-1950. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yang menjelaskan persoalan penelitian berdasarkan perspektif sejarah. Prosedurnya meliputi empat tahapan, yaitu pencarian dan pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber (seleksi data), interpretasi (penafsiran), dan penyajian atau penulisan sejarah (historiografi). Hasil kajian menunjukkan bahwa pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) bukan semata-mata kehendak Belanda, melainkan juga keinginan sebagian masyarakat yang menghendaki negara Indonesia berbentuk federal. Negara federal diyakini tidak hanya sesuai dengan kondisi Indonesia yang terdiri atas beberapa pulau, etnis, dan budaya, tetapi juga akan memberikan kesempatan luas kepada pemerintah tiap-tiap negara bagian untuk mengelolah potensi wilayahnya masing-masing. Namun upaya untuk mempertahankan eksistensi NIT, kalah bersaing dengan semangat unitaris, sehingga melapangkan terwujudnya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia. AbstractThis study is intended to uncover and find out background and change process of governance system from federalism to unitarian in South Sulawesi 1945-1950. Method used in this research is historical method, which explainsresearch problem based on historical perspective. Its procedure includes four steps, finding and collecting data (heuristic), source critique (data selecting ), interpretation, and historiography. Result of analysis shows that the establishment of East Indonesian Nation is not merely Netherlands desire, but also the desire of certain community that intends to form federal nation of Indonesia. Federal nation is considered not only appropriate with Indonesian’s state consisting of many island, ethnics, and cultures, but also will give widely opportunity to the government of each state to manage their own potential area. Yet, the effort to preserve the existence of East Indonesian Nation is more dominitaed by unitarian spirit, then it makes esay the establishment of Republic of Indonesian Nation.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue