cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
ARSITEKTUR RUMAH ADAT KAMPUNG KEPUTIHAN Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.648 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.216

Abstract

AbstrakKampung Keputihan merupakan kampung adat yang berlokasi di wilayah Sumber, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Sebagai masyarakat adat dalam kehidupan sehari-harinya masih menjaga dan memelihara adat istiadat leluhurnya termasuk arsitektur rumah. Sementara itu, di masyarakat khususnya generasi muda banyak yang tidak mengetahui produk budaya daerah termasuk di dalamnya arsitektur rumah tradisional. Penelitian arsitektur rumah tradisional di Kampung Keputihan meliputi struktur, teknik membangun, persiapan dan pelaksana, serta upacara tradisional yang menyertainya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskripsi analisis. Arsitektur rumah tradisional di Kampung Keputihan masih mengikuti kaidah-kaidah yang diwariskan dari leluhurnya, namun sebagian sudah mengalami pergeseran-pergeseran misalnya lantai yang sudah ditembok dan genting sudah menggunakan asbes dan seng, serta sudah tidak memiliki lagi lumbung padi dan bale musyawarah. AbstractKampung (village) Keputihan is a traditional village located in the region of Sumber, Kecamatan (district) Weru, Kabupaten (regency) Cirebon, West Java Province. The people of Kampung Keputihan preserve their traditional way of life, including traditional architecture. But this knowledge is not common in young generation. In building their houses the community of Kampung Keputihan follow principles that were passed on for generations. Of course, there are some modifications. Some elements such as lumbung padi (rice storage) and bale musyawarah (a place where the community meeting take place) are no longer available in the kampung. Techniques in building the houses, the building structure, as well as traditional ceremony following it, are the foci of this research. The methods of analysis are qualitative and descriptive.
INDUSTRI KERAMIK TRADISIONAL CINA DI SAKKOK, SINGKAWANG 1933-2000 Any Rahmayani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.878 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.133

Abstract

AbstrakPenelitian ini menyajikan tentang dinamika industri keramik tradisional Cina di Sakkok, sebuah wilayah di Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat sepanjang abad ke-20. Latar belakang penelitian ini adalah keberadaan industri keramik tradisional Cina di Sakkok yang sedang digarap sebagai aset ekonomi dan pariwisata bagi Singkawang. Permasalahan pokok yang dibahas adalah dinamika industri keramik tradisional Cina di Sakkok, Singkawang dalam perspektif sejarah. Tujuan dari kajian ini yaitu menggambarkan tentang tradisi pembuatan keramik tradisional Cina di Sakkok, menguraikan perintisan industri keramik tradisional Cina pada awal abad ke-20 dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi industri ini. Metode yang digunakan metode heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciri tradisional keramik Cina yang terlihat pada bahan bakunya, peralatan proses proses pembentukan, penglasiran,dan pembakaran, motif dan desain, serta alat pembakaran yang disebut tungku naga. Perubahan yang terkait dengan ketersediaan bahan baku, bahan penunjang dan teknik pembakaran serta kondisi sosial politik membawa dampak bagi keberlangsungan industri keramik tradisional Cina dari Singkawang ini.AbstractThis study presents the dynamics of traditional Chinese ceramics industry in Sakkok, Singkawang, in the Province of West Kalimantan during the 20th century. The background of this research is the existence of traditional Chinese ceramics industry in Sakkok which is being worked on as an economic and tourism asset for Singkawang. The main problem for this study is the historical perspective of the dynamics of traditional Chinese ceramics industry in Sakkok. The purpose of this study is describing the tradition of producing traditionalChinese ceramics in Sakkok, outlining pioneering in the industry in the early 20th century, and explaining the factors affecting it. The author used heuristic, criticism, interpretation and historiography. The results showed that the characteristics of traditional Chinese ceramics are depicted in the raw materials, equipment, processes of formation, glazing, and burning, motifs and designs, as well as burning tool called dragon furnace. Changes related to the availability of raw and auxiliary materials, burning techniques as well as the social and political conditions have impact on the sustainability of traditional Chinese ceramic industry in Singkawang.
WÈWÈKAS DAN IPAT-IPAT SUNAN GUNUNG JATI BESERTA KESESUAIANNYA DENGAN AL-QUR’AN Eva Nur Arovah; Nina Herlina Lubis; Reiza Dienaputra; Widyo Nugrahanto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.197 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.309

Abstract

Tidak ada yang menyangsikan peran Sunan Gunung Jati sebagai salah satu sosok penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa khususnya. Pun, tidak ada yang menyangsikan kehebatannya dalam kancah politik tradisional, karena berhasil membawa Cirebon “merdeka” dari Kerajaan Sunda dan mendirikan Kerajaan Islam Cirebon. Dari sini Sunan Gunung Jati hadir sebagai raja dan sebagai wali, yang menguasai sebagian wilayah (yang sekarang) Jawa Barat sekaligus mengajak dan menyemangati sisi spiritual warganya dalam memeluk Islam. Salah satu wujud ajakan Sunan Gunung Jati tersebut tertuangkan dalam bentuk wèwèkas dan ipat-ipat (perintah dan larangan) atau nasehat yang berhubungan dengan persoalan agama, maupun persoalan sosial-kemanusiaan. Penelitian ini berusaha mengkaji bagian Pangkur naskah Cirebon yang berjudul Sejarah Peteng (Sejarah Rante Martabat Tembung Wali Tembung Carang Satus-Sejarah Ampel Rembesing Madu Pastika Padane) di mana didalamnya terdapat gambaran tentang wèwèkas dan ipat-ipat Sunan Gunung Jati serta mencari kesesuiannya dengan Al-Qur’an dan nilai-nilai kemanusiaan. Kata Kunci: wèwèkas, ipat-ipat, Sunan Gunung Jati, Al-Qur’an, Kemanusiaan
MAKNA SIMBOLIS TRADISI MAPPAOLI BANUA PADA MASYARAKAT BANUA KAIYANG MOSSO PROVINSI SULAWESI BARAT Raodah Raodah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.939 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.106

Abstract

AbstrakMappaoli banua  merupakan  tradisi ritual pada masyarakat  Banua Kaiyang Mosso di Kabupaten Polman, Provinsi Sulawesi Barat. Mappaoli banua  bertujuan untuk mengobati dan menyucikan kampung, agar terhindar dari bencana alam dan wabah penyakit. Sampai sekarang tradisi  ritual itu tetap bertahan dan  menjadi agenda tahunan masyarakat Banua Kaiyang Mosso. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui dan mendiskripsikan prosesi pelaksanaan tradisi ritual mappaoli banua dan makna simbolis yang terkandung dalam tradisi ritual tersebut. Tradisi ritual mappaoli banua, mencerminkan karakter dan jati diri masyarakat Banua Kaiyang Mosso sehingga perlu dikaji dalam upaya melestarikan  budaya lokal, sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara dan dokumentasi.  Dari hasil penelitian diketahui bahwa, pelaksanaan tradisi ritual mappaoli banua terdiri atas beberapa tahap, yaitu: tahap persiapan, mapparawung sossorang (penurunan  benda pusaka), mamminnai tedzong (pengolesan minyak pada kerbau), pangngereang tedzong (penyembelihan kerbau), massamaya (ziarah ke makam leluhur), dan mattanang uwae (memasang air untuk pengobatan). Setiap tahapan dalam ritual tersebut melambangkan simbol yang mengandung makna. Simbol mapparawung sossorang  bermakna penghormatan kepada benda pusaka peninggalan leluhur, simbol mamminnai tedzong bermakna pembersihan pada hewan persembahan, simbol pangngereang tedzong bermakna hewan persembahan yang tertinggi kepada leluhur, simbol massamaya dimaknai sebagai wujud cinta dan bakti kepada leluhur dan ajang silaturrahmi masyarakat Banua Kaiyang Mosso. Simbol mattanang uwae bermakna sebagai pengobatan, keselamatan dan keberkahan manusia dan alam  negeri Banua Kaiyang Mosso. Abstract         Mappaoli Banua is a ritual tradition in the community of Banua Kaiyang Mosso in Polman regency, West Sulawesi. Mappaoli Banua aims to treat and purify the village, in order to avoid natural disasters and disease outbreaks. Until now this ritual traditions survive and become an annual event of Banua Kaiyang Mosso community. This research is focused to identify and describe the ritual procession implementation of Mappaoli Banua tradition and the symbolic meaning contained in the ritual tradition. Mappaoli Banua ritual tradition reflects the character and identity of the Kaiyang Mosso people that need to be examined in an effort to preserve local culture, as part of the cultural wealth of the nation. This study used a qualitative method with descriptive approach. The technique of collecting data were through observation, interviews and documentation. The results revealed that the implementation of the tradition of ritual Mappaoli Banua consists of several stages: preparation, mapparawung sossorang (decrease heirlooms), mamminnaitedzong, (anointing on buffalo), pangngereang tedzong (slaughtering buffalo), massamaya (pilgrimage to ancestral graves) and mattanang uwae (install water treatment). Each stage in the ritual symbolizes the meaning implies. Symbol of mapparawung sossorang is meaningful homage to the ancestral heirlooms, symbols of tedzongmamminnai means cleaning animal offerings, tedzong pangngereang is a symbol of the highest animal sacrifice to the ancestors, massamaya symbols as a manifestation of love and devotion to the ancestors and the public arena of Banua Kaiyang Mosso. Mattanang Uwae symbol for the treatment, safety and human and natural land blessing of Banua Kaiyang Mosso.
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM PUISI SISINDIRAN BAHASA SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3554.527 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.272

Abstract

Abstrak Sindiran adalah salah satu bentuk puisi Sunda lama yang terdiri atas sampiran dan isi. Namun demikian kepuisiannya terbatas pada rima dan irama, bukan pada diksi dan imajinasi seperti halnya puisi modern (sajak). Bahasanya mudah dipahami seperti bahasa sehari-hari. Dalam sastra Indonesia bisa disebut pantun. Sisindiran “pantun” merupakan puisi rakyat yang sangat digemari masyarakat. Sisindiran dapat mengungkapkan atau mencerminkan perasaan, keadaan lingkungan, dan situasi masyarakat desa, petani, dan lain sebagainya. Biasanya dituturkan dalam suasana santai, berkelakar, berbincang-bincang, dan suasana formal, misalnya dalam upacara adat perkawinan, melamar, dan sebagainya. Dalam perkembangannya, sangat luwes, mudah memasuki berbagai gendre sastra lainnya, seperti cerita pantun, wawacan, novel, cerpen, novelet bahkan kadang-kadang muncul juga pada puisi modern. Dilihat dari pembentukannya, kata sisindiran berasal dari bentuk dasar sindir ‘sindir’. Dengan demikian sisindiran merupakan bentuk kata jadian yang diperoleh dengan cara dwipurwa (pengulangan awal) disertai akhiran-an. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yaitu seluruh data yang diperoleh dari lapangan dikumpulkan, kemudian dianalisis dengan cara dikaji dan diklasifikasikan menurut struktur, isi, dan fungsi yang dikandungnya. Adapun tujuan  dari penelitian ini adalah (1) Adanya sisndiran dalam bentuk tertulis merupakan dokumentasi pengawetan   karya sastra agar tidak mengalami kepunahan, (2) Menunjang kemudahan untuk menyusun sejarah sastra, serta pengembangan teori sastra, khususnya sastra lisan Sunda,.(3) Hasil pendokumentasian ini akan sangat bermanfaat untuk perbendaharaan bahasa, sastra, dan budaya daerah.  Hasil akhir dari penelitian ini  ungkapan-ungkapan dalam sisindiran diharapkan menjadi bahan bacaan yang dapat menuntun generasi berikut ke jalan kebaikan melalui ungkapan yang disampaikan secara langsung atau tidak langsung (menyindir). AbstractSisindiran is a type of old Sundanese poem. It consists of sampiran and content. Sampiran is the first two rows that have nothing to do with the content but functions as rhyme to the sentence of the content. Unlike modern poems, sisindiran is practically limited to rhyme and rhythm, excluding diction and imagination. The language used in sisindiran is everyday and easy-to-understand one. Indonesian literature call it pantun. As a pantun, sisindiran is very popular amongst Sundanese people as it reflects feelings, village environment (the peasants and the village itself). Sisindiran is usually used either in formal and informal settings because it is very flexible, in terms of it is easily fitted to other genres such as carita pantun, wawacan, novels, short stories, even modern poems. Etymologically, sisindiran derives from the word sindir that has been duplicated and suffixed. This research has conducted a descriptive-analytical method. Data were collected then analysed by studying and classifying the structure, content and function they contain. The purpose of the research are: 1) to preserve literature arts by providing their written documents, 2) to make it easier to arrange literature history and developing theory of literature, especially for Sundanese oral literature, and 3) to enrich the treasures of regional languages, literatures, and cultures. Hopefully, the expressions used in sisindirann can be a guidance for young generations in order to make them take the good path in their future lives, either directly or indirectly (through allusions).
DARI RONGGENG GUNUNG KE RONGGENG KALER: PERUBAHAN NILAI DAN FUNGSI Risa Nopianti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.822 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.188

Abstract

AbstrakRonggeng gunung sebagai sebuah kesenian yang terlahir dari catatan penuturan sejarah yang panjang, merupakan kesenian khas yang menggambarkan kondisi dan identitas masyarakat di Kabupaten Ciamis, khususnya masyarakat yang berada di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari. Terjadinya perubahan zaman yang mendorong terjadinya perubahan budaya masyarakat, khususnya perubahan pada cara pandang dan berpikir masyarakat mengenai konsep hidup kekinian, merupakan latar belakang lahirnya konsep penelitian ini. Ronggeng gunung sebagai produk budaya dirasakan masyarakat pendukungnya sudah tidak dapat merepresentasikan keinginan masyarakat terhadap kebutuhan mereka akan hiburan. Maka dari itu terciptalah kesenian ronggeng kaler, yang dianggap mampu memenuhi hasrat masyarakat akan sebuah konsep hiburan yang benar-benar menghibur. Sekalipun pada praktiknya kesenian ini sedikit berbeda dengan kesenian ronggeng gunung yang telah ada sebelumnya, namun masyarakat setempat tetap percaya bahwa kesenian ronggeng gunung merupakan cikal bakal dari lahirnya kesenian ronggeng kaler. Kemunculan ronggeng kaler yang diadaptasi dari ronggeng gunung ini memungkinkan terjadinya perubahan fungsi dan nilai yang ada pada kesenian tersebut. Dari sakral ke profan, dari ritual ke hiburan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penulisan deskriptif analitik. AbstractRonggeng gunung as an art was born from long narrative history, it describes about the condition and identity of society in Ciamis regency, particularyCiulu village, Banjarsari district.  As time as goes by, the culture also changed, especially the alteration of the society viewpoint and thought nowadays, and it become the background of this research.  Ronggeng gunung as a cultural product can’t represent the will of the society in full filling the need for entertainment.  For that reason, come into being ronggeng kaler that can fill the passion of the society about entertainment that can amusing.  Even tough, this kind of art is a bit different from the original one.  The society believes ronggeng gunung is a pioneer of ronggeng kaler. The emergence of ronggeng kaler might also effect the alteration of function and values; from sacred to profane, ritual to entertain.  This research uses qualitative approach, and descriptive analytic method.
LEUIT SI JIMAT: WUJUD SOLIDARITAS SOSIAL MASYARAKAT DI KASEPUHAN SINARRESMI Risa Nopianti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.709 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.74

Abstract

AbstrakPenelitian ini melihat hubungan antara solidaritas sosial yang terjadi pada masyarakat Kasepuhan Sinarresmi dalam memfungsikan leuit si jimat sebagai lumbung padi sosial, dengan kewenangan pimpinan adat dalam menjaga aturan adat. Aturan terkait pertanian tradisional maupun hasil dari pertanian padi beserta lumbungnya, tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Merujuk pada penelitian sebelumnya yang membahas fungsi leuit pada masyarakat adat, penelitian ini mencoba membahas pada sisi lain, sehingga salah satu fungsi leuit si jimat sebagai lumbung padi komunal dapat lebih terjabarkan. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa terjadinya solidaritas sosial pada masyarakat di Kasepuhan Sinarresmi, tidak hanya muncul sebagai wujud kesetiakawanan dari persamaan status sosial dan keterikatan sebagai warga kasepuhan, tetapi juga didorong oleh adanya sistem kekuasaan pemimpin adat di Kasepuhan Sinarresmi yang bertugas menjaga kelangsungan tradisi dalam leuit si jimat sebagai wujud kongkrit solidaritas sosial. AbstractResearch is trying to see how between solidarity social relations that occur in society of Kasepuhan leuit Sinarresmi in functioning of leuit si jimat (talisman rice container) as social granary, with the authorize of traditional leaders in maintaining the customary rules. The rules related to traditional agriculture in general, and the results of that rice farming and their barn, cannot be separated between each other. Refer to previous studies that are still common in discussed the functions of leuit of the indigenous peoples in particular on Indigenous Unity of south Banten. By using qualitative methods got found that the social solidarity in society in Kasepuhan Sinarresmi in functioning leuit si jimat, not only appears as a manifest of solidarity of the equation social status and engagement as citizens kasepuhan, but also driven by the power system which in this case was conducted by traditional leaders in Kasepuhan Sinarresmi in charge of maintaining the continuity of tradition into leuit si jimat as the concrete manifestation of social solidarity.
EKSISTENSI KERATON DI CIREBON Kajian Persepsi Masyarakat terhadap Keraton-Keraton di Cirebon Toto Sucipto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.6 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.240

Abstract

AbstrakKarya tulis yang merupakan resume hasil penelitian ini mengungkapkan gambaran mendalam mengenai eksistensi keraton di tengah peradaban masa kini dengan fokus telaah pada persepsi masyarakat terhadap keraton. Penelitian berangkat dari anggapan bahwa keraton semakin menempati posisi marginal belakangan ini. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh perubahan sikap dan pandangan masyarakat terhadap keraton akibat derasnya arus kebudayaan dunia dan lingkungan global. Keraton kini hanya dianggap sebagai pusat kebudayaan bagi masyarakat setempat, bukan lagi merupakan sebuah wilayah kekuasaan politik yang independen. Meskipun demikian, masyarakat masih mengenangnya sebagai salah satu lumbung budaya daerah yang potensial. Untuk mengupas permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan datanya adalah studi literatur, observasi dan wawancara. Setelah dikaji, penulis mencoba merumuskan beberapa usulan kebijakan mengenai langkah-langkah revitalisasi keraton dalam mengantisipasi era globalisasi, yaitu mewujudkan dan memantapkan identitas kepribadian bangsa yang dikemas dengan model masa kini tanpa harus tercerabut dari akarnya. AbstractThe paper is a resumé of a research concerning depth description of the existence of keraton (karatuan = royal palace) in the middle of modern society focusing on the peoples’s perception on keraton. Today people think keraton merely a cultural centre for local people, not as a domain of an independently political power. Changes in world culture and global environment might be responsible for this point of view.To analyse the problem the author conducted a descriptive research method with qualitative approach. Data were collected from bibliographical study, observation, dan interviews. Some suggestions are proposed, such as the policies that should be taken by keraton in anticipating globalization. Revitalization should be made possible in maintaining the recent national identity without having to abandon old traditional values.
DAMPAK MANISAN TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT DI KABUPATEN CIANJUR Enden Irma Rachmawaty
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.573 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.156

Abstract

AbstrakDi setiap daerah pasti mempunyai menu makanan khas sendiri, menu makanan khas ini timbul dari lingkungannya sendiri, dan dapat dipastikan tidak diketahui asal mula pembuatnya, yang pasti pembuatan menu makanan tersebut merupakan warisan yang turun temurun, begitu juga dengan pengrajin makanan khas Cianjur. Pengrajin makanan khas Cianjur bukan hanya buah-buahan sebagai bahan pokok pembuatan manisan, tetapi bisa juga dari bahan pokok sayuran. Ada beberapa yang termasuk kedalam makanan khas Cianjur, di antaranya adalah Manisan Sayuran Sawi. Manisan Kedondong, Manisan Canar, Manisan Salak, Manisan Rumput Laut, Manisan Jambu Biji, Manisan Pala, dan lain-lain. Pada awalnya semua jenis makanan khas Cianjur merupakan konsumsi masyarakat dengan status sosial menengah kebawah, tetapi pada saat ini semua jenis makanan khas Cianjur tersebut sudah merupakan konsumsi semua lapisan masyarakat. Hal ini ditandai bukan hanya dijual di toko-toko tetapi sudah masuk ke supermarket-supermarket yang ada di Cianjur, bahkan banyak juga yang memakai sebagai menu pelengkap dalam rangka hajatan di hotel-hotel berbintang. Alasan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai upaya untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam tentang manisan Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metoda  wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa manisan Cianjur cukup mengalami perkembangan baik dari segi bahan maupun pemanfatannya. Abstract Every region has its own typical food that has been developed within its society and no one knows who made it first. The fact is that it is inherited from one generation to another. This also happens to artisan food of Cianjur who make manisan (pickles) of fruits and vegetables. Formerly the pickles were consumed by middle to lower class in the society, but it gradually becomes popular to everyone. This kind of food can be found either in small shops or supermarkets. Hotels serve them as desserts. This research seeks more detailed information about pickles of Cianjur by using descriptive method and interviews. The result shows that pickles from Cianjur have been developing very well. 
PERTEMPURAN CONVOY SUKABUMI-CIANJUR 1945-1946 Herry Wiryono
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.828 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.206

Abstract

AbstrakPertempuran Convoy Sukabumi-Cianjur merupakan pengorbanan rakyat Sukabumi dan Cianjur dalam mempertahankan dan menegakkan kedaulatan Negara Republik Indonesia. Peristiwa tersebut tidak kalah penting dari peristiwa yang lainnya dalam lintasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terutama dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah. Berbagai komponen masyarakat Sukabumi berjuang mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan. Semuanya bertekad menjaga Republik yang berusia masih sangat muda. Melalui penelitian sejarah ini, ingatan kolektif tentang peristiwa sejarah tersebut diungkap kembali. Para tokoh yang terlibat dari peristiwa itu bercerita tentang periode yang sangat krusial dalam sejarah Indonesia. Dari hasil penelitian diketahui bahwa bangsa Indonesia mampu mempertahankan kemerdekaan dengan kekuatan sendiri. Penelitian masalah tersebut dan penulisan hasilnya dilandasi oleh metode sejarah, terutama metode sejarah lisan. AbstractBattle Convoy Sukabumi-Cianjur is the sacrifice of the people of Sukabumi and Cianjur in maintaining and upholding the sovereignty of the Republic of Indonesia. This event is no less important than other events in the track history of the struggle of Indonesia, especially in maintaining the independence of Indonesia from the hands of colonialists. The various components of society struggling to maintain independence Sukabumi newly proclaimed. Everything is determined to maintain the old republic is still very young. Through this historical research, the collective memory of these historical events were revealed again. The leaders involved from the event talking about a very crucial period in Indonesian history. The survey results revealed that the Indonesian nation was able to maintain independence with their own strengths. The research problem and writing the results based on historical methods, especially methods of oral history.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue