cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
SENSOR FILM DI INDONESIA DAN PERMASALAHANNYA Dalam Perspektif Sejarah (1945 – 2009) Heru Erwantoro
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.054 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.283

Abstract

AbstrakBanyak persoalan di dunia perfilman Indonesia, antara lain masalahpenyensoran, khususnya periode 1945 – 2009. Penelitian masalah tersebut dengan menggunakan metode sejarah menunjukkan, bahwa penyensoran film yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia didasarkan atas kepentingan politik dan kekuasaan pemerintah. Dalam praktik penyensoran, film masih dilihat sebagai sesuatu yang dapat mengganggu dan merugikan masyarakat dan negara. Film belum dilihat sebagai karya seni budaya, akibatnya, dunia perfilman nasional tidak pernah mengalami kemajuan. Hal itu berarti penyensoran film yang dilakukan pada periode tersebut, pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan masa kolonial Belanda. Pada masa kolonial Belanda, sensor merupakan manifestasi kehendak pemerintah untuk menjaga kredibilitas pemerintah dan masyarakat Eropa di mata masyarakat pribumi. Begitu juga sensor pada periode 1945 – 2009, sensor pun lagi-lagi menjadi ajang perwujudan politik pemerintah, tanpa mau memahami film dari persfektif para sineas. Kondisi itu masih ditambah lagi dengan mudahnya pelarangan-pelarangan penayangan film yangdilakukan oleh berbagai kalangan. Bagi para sineas, sensor fim hanya menjadi mimpi buruk yang menakutkan. AbstractThere are many issues in Indonesia’s movie industry. One of them is censorship,especially in the period of 1945-2009. This researh, supported by method inhistory, shows that censorship done by the government was based on political and governmental interests. The government thought that films could harm the society and the state as well. They do not think films as products of art and culture, ending up in the stagnancy in Indonesia’s movie industry. This situation more or less is similar to what happened in the time of Dutch colonialism. During that time censorship was manifestation of government policy in showing the credibility of European government and society before native Indonesians. During 1945-2009 censorship was also manifestation of government’s political policy without understanding films from the filmmaker’s point of view. Not to mention the movement to easily ban films by various group in the society. Censorship is a nightmare for filmmakers. 
PASAR TRADISIONAL: STUDI KASUS PASAR WISATA 46 DAN PASAR WISATA CIBIRU, KELURAHAN CIPADUNG, KECAMATAN CIBIRU Ali Gufron
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.286 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i2.199

Abstract

AbstrakDi Kelurahan Cipadung ada dua pasar tradisional, yaitu Pasar Wisata 46 dan Pasar Wisata Cibiru. Pasar Wisata Cibiru didirikan untuk menampung para pedagang Pasar Wisata 46. Namun, yang menarik adalah para pedagang Pasar Wisata 46 sebagian besar enggan beralih ke Pasar Wisata Cibiru, sehingga perlu dilakukan penelitian dengan pokok masalah mengapa mereka sebagian besar tetap berjualan di Pasar Wisata 46. Padahal, secara fisik bangunan Pasar Wisata Cibiru lebih permanen, lebih bersih, dan fasilitasnya lebih lengkap daripada Pasar Wisata 46. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Adapun teknik yang digunakan untuk menjaring data dan informasi adalah wawancara dan observasi. Hasilnya ada beberapa faktor yang membuat sebagian besar para pedagang Pasar Wisata 46 enggan pindah ke Pasar Wisata Cibiru, yaitu: lokasi pasar dinilai kurang strategis, kios relatif kecil, biaya sewa relatif mahal, retribusi juga relatif mahal, status pedagang termasuk dalam kategori sektor informal, dan sebagian pedagang menganggap bahwa berjualan di Pasar Wisata 46 hanya merupakan pekerjaan sambilan dan atau sebagai uji coba untuk merintis usaha baru.  AbstractIn Cipadung regency established two traditional markets. There are Pasar Wisata 46 and Pasar Wisata Cibiru.  The reason of building up Pasar Wisata Cibiru is to intercept seller from Pasar Wisata 46.  The interesting one is most of the seller in Pasar Wisata 46 unwilling to move to Pasar Wisata Cibiru, so it needs to do a research to find out the reason behind it.Whereas, the building material and other facilities better than the Pasar Wisata 46.  The method used in this research is qualitative method.  The technique in collecting the data and other information are interview and observation.  The result, why they won’t move to Pasar Wisata Cibiru is because of the location seem not in the strategic area, the size of the kiosk is too small, the rent and retributions payment is more expensive, the status of the seller is in the informal category and they feel what that they sell in Pasar Wisata 46 only part-time activity or as a trial.
FEODALISME DALAM NOVEL PIPISAHAN KARYA RAF Resti Nurfaidah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.245 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.85

Abstract

AbstrakFeodalisme muncul pada abad pertengahan sebagai dampak dari implementasi sistem vassal. Feodalisme tidak pernah hilang bahkan setelah era imperialisme telah berakhir. Sistem politik dan sosial yang sangat membanggakan hirarki manusia tersebut selalu hadir dalam kehidupan manusia, terutama di tempat tempat yang masih mengadopsi sistem tuan tanah. Dampak terbesar dari feodalisme adalah penghancuran nilai-nilai kemanusiaan dengan timbulnya diskriminasi yang tidak didasarkan pada prestasi seseorang, tetapi pada posisi dan kekuasaan seseorang. Kajian ini mendapati bahwa dalam novel berjudul Pipisahan, feodalisme menjadi pencetus timbulnya kelompok marginal dalam kehidupan masyarakat, terutama di lingkungan terkecil seperti keluarga. Dalam kajian tersebut, feodalisme terdapat dalam korpus berupa tuturan dan perilaku tokoh bapak mertua terhadap anak dan menantunya. Korpus tersebut dikaji berdasarkan pada konsep feodalisme berikut, antara lain, feodalisme Simorangkir, Reeser, dan Connell. Sementara itu, sisi maskulinitas dikaji berdasarkan konsep Humm sementara konsep tentang meme dilandasi pandangan Dawskins. AbstractFeudalism emerged in the middle ages as a result of the implementation of vassal system. Feudalism never disappear even after the era of imperialism has ended. Political and social system which is very proud of the human hierarchy is present in human life, especially in places that are still adopting the landlord system. The biggest impact of feudalism is destruction of human values with the incidence of discrimination which is not based on individual achievement, but on one's position and power. This study found that in the novel entitled Pipisahan, feudalism trigger the onset of marginalized groups in public life, especially in the smallest environments like family. In this study, feudalism contained in the corpus in the form of speech and behavior of the father figures of children and daughter-in-law. The corpus studied based on the concept of feudalism as follow; feudalism Simorangkir, Reeser, and Connell. Meanwhile, the concept of masculinity assessed based Humm, while the concept of the meme is based on Dawskins.
SEJARAH SOSIAL EKONOMI MAJALENGKA PADA MASA PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA (1819-1942) Miftahul Falah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1803.327 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.251

Abstract

AbstrakTulisan ini menggambarkan sejarah sosial-ekonomi Kabupaten Majalengkapada masa Pemerintahan Hindia Belanda yang mencakup aspek demografis, pertanian,perkebunan, perdagangan, industri, dan prasarana transportasi. Untuk merekonstruksiitu digunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik,interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhanpenduduk Kabupaten Majalengka mengalami penurunan yakni dari 2,29% per tahunpada akhir abad ke-19 menjadi 1,68% pada awal abad ke-20. Meskipun demikian,kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya tumbuh cukup dinamis. Pertanianmerupakan sektor perekonomian terpenting di Kabupaten Majalengka. Pesawahanhampir dikenal di setiap wilayah di Kabupaten Majalengka. Sektor perkebunanjuga tumbuh cukup dinamis sehingga Kabupaten Majalengka menjadi penghasilkopi terbesar di Karesidenan Cirebon. Sektor industri pun cukup berkembang yangditandai dengan adanya upaya peningkatan produksi gula dengan membangun pabrikgula di Kadipaten serta perluasan areal penanaman tebu di wilayah Jatiwangi.AbstractThis paper describes a socio-economical history of Kabupaten (regency)Majalengka in Dutch colonial era, covering issues on demography, agriculture,plantation, commerce, industry and transportation infrastructure. In reconstructingsuch kinds of issues the author applied methods that are used in history: heuristic,critique, interpretation, and historiography. The result shows that in the end of 19thcentury there was a decrease in population in Kabupaten Majalengka from 2.29% to1.68% in the beginning of 20th century. Socio-economically, however, the people faceda dynamic growth. The most important economical sector then was agriculture. Onthe other hand, plantations also grew dynamically, making Kabupaten Majalengkathe biggest coffee producer in Karesidenan Cirebon. Not to mention industrial sector, marked by the efforts to increase sugar production by building a sugar factory inKadipaten as well as expanding sugarcane plantation di Jatiwangi.
LEGENDA-LEGENDA KERAMAT DI KAWASAN SANCANG KABUPATEN GARUT (Studi tentang Kearifan Lokal) Rosyadi .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.41 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.167

Abstract

AbstrakDalam studi-studi kebudayaan, legenda menempati posisi yang cukup penting mengingat fungsi dan peranannya yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Melalui pengkajian terhadap legenda, akan diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kondisi sosial budaya suatu masyarakat, terkait sikap dan pandangan, serta perilaku ritualnya. Hutan Sancang yang berada di kawasan Garut Selatan, menyimpan banyak misteri legenda yang mempengaruhi sikap hidup masyarakat di sekitarnya. Pandangan-pandangan sakral mereka tentang hutan Sancang serta kebesaran leluhur mereka, Prabu siliwangi, telah melahirkan sikap yang memuliakan alam. Berbagai tabu atau pantangan adat lahir dari sikap dan pandangan sakral terhadap hutan dan karuhun. Penelitian ini mencoba mengkaji beberapa legenda yang hidup di kalangan masyarakat di kawasan hutan Sancang, terkait dengan legenda leluhur orang Sunda, Prabu Siliwangi, yang telah melahirkan kearifan lokal masyarakat setempat dalam menyikapi dan melestarikan lingkungan alamnya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Melalui pendekatan ini, setiap fenomena sosial dan budaya yang didapati di lapangan dideskripsikan untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan teori-teori yang sudah ada. AbstractIn cultural studies, legends have very important position considering the importance of their roles and functions in the life of a society. By studying legends we can gain a comprehensive description of socio-cultural condition of a society in relation to their ritual attitudes, views and behaviours. The forest of Sancang, which is located in southern Garut, has many mystery legends that influence people of the surroundingareas. Their belief in the sanctity of Sancang and the majesty of their ancestor, Prabu (King) Siliwangi, has resulted in glorifying Mother Nature. It is reflected in various taboos that were formed on the basis of attitude towards the sanctity of forest and ancestors. This research tries to study some legends that live among the people living around the forest of Sancang, especially the ones that have something to do with the ancestor of the Sundanese, Prabu Siliwangi). The legends have guided the people to create their local wisdom in facing and preserving Mother Nature around them. The author conducted qualitative method with descriptive analytical approach, through which every socio-cultural phenomenon is described and analyzed.
WISATA ALAM DI KERESIDENAN PRIANGAN PADA PERIODE AKHIR KOLONIAL (1830-1942) Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.727 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.108

Abstract

AbstrakBumi Priangan telah sejak lama dikenal dengan pesona alam yang dimilikinya. Pesona alam Priangan sejak masa kolonial Belanda telah menarik para pelancong untuk mengunjungi wilayah ini. Kajian ini membahas faktor-faktor yang membuat alam Priangan mampu menarik kunjungan para turis pada periode akhir kolonial. Kajian ini menggunakan konsep terbentuknya suatu wilayah hingga mampu menjadi suatu destinasi wisata berdasarkan kajian Stephan Wearing, serta melihat pengaruh pemahaman orientalisme abad ke-19 dan ke-20 yang melatarbelakangi kunjungan para wisatawan terutama ke wilayah-wilayah jajahan. Berdasarkan arah kajian ini maka faktor-faktor yang menjadi dasar mengapa Priangan mampu menarik kunjungan para pelancong antara lain, 1) pesona dan keindahan alamnya; 2) sarana dan fasilitas pendukung wisata; 3) harmonis dan nyamannya kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya; serta 4) pesona keindahan dataran tinggi dan gunung berapi di sekitar Priangan. Melalui kajian ini diharapkan mampu membuka ruang diskusi lain terkait perkembangan pariwisata di Hindia Belanda, dan Priangan pada khususnya. AbstractPriangan has been known for its natural charm. The natural charm of Priangan, since the Dutch colonial period, has attracted travelers to visit this region. This study discusses the factors that generate Priangan nature attractive for the tourists at the end of the colonial period.It uses the concept of a region formation in becoming a tourist destination by Stephan Wearing studies, as well as the influence of Orientalism understanding of the 19th and 20thcentury behind the touristsvisits, especially to the colonies. Under the direction of this study, the factors which form the basis on why Priangan is capable of attracting the travelersare:  1) the charm and natural beauty; 2) the aids and tourist support facilities; 3) the harmony and  the comfort of social and cultural life; and 4) the beauty of the highlands and volcanoes around Priangan. Through this study, it is expected to open up the space of discussions related to the development of tourism in the East Indies, especially in Priangan.
NILAI BUDAYA PADA DOLANAN DERMAYON Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4436.108 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.274

Abstract

AbstrakZaman yang serba tek (baca: teknologi) membuat ruang gerak hal-hal yang berbau tradisional menjadi tidak leluasa. Bisa dikatakan nyaris semua sektor budaya terkena imbasnya. Termasuk juga permainan anak-anak. Fenomena itu menggerakkan dilakukannya penelitian terhadap permainan tradisional anak-anak. Tujuannya tidak lain untuk menggali permainan tradisional yang ada di suatu daerah, dalam hal ini Indramayu. Indramayu adalah kota kabupaten yang juga sudah tersentuh teknologi dengan Balongan sebagai ikonnya. Kenyataan menunjukkan bahwa dari sejumlah permainan yang pernah ada, tidak semuanya masih dilakukan. Ada permainan yang sudah tidak dilakukan  tetapi masih dikenal namanya, ada pula yang sudah tidak dikenal sama sekali. Hal yang cukup menarik adalah dalam lingkup satu kabupaten terdapat permainan yang jenisnya sama namun namanya berbeda. Hal ini bisa dipahami terutama oleh karena adanya dua kultur di sana, pantai dan pertanian. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.   AbstractDuring this era of modern technology, traditional things became fade away. The impacts are reflected on almost every cultural sectors, including children’s games. This phenomenon has made the author conduct a research on it, and the object was traditional children’s game in Indramayu. Indramayu has witnessed many modern technologies, and Balongan is the icon. The author finds that there are many traditional games that are not played any more, some are still played, and the rest are only names that left. The author also finds an interesting fact: in the same regency there are different kinds of games that have same name. It probably because Indramayu has two subcultures: maritime and agriculture. Descriptive method and qualitative approach were applied to the research.
TARI MELINTING: SENI TARI TRADISIONAL LAMPUNG TIMUR T. Dibyo Harsono
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.003 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.190

Abstract

AbstrakSalah satu kelengkapan dalam pelaksanaan tata cara adat, upacara adat yang ada pada masyarakat melinting adalah adanya sebuah tarian adat melinting. Pada awalnya tarian ini memang merupakan sebuah tarian sakral, namun dalam perkembangannya tarian ini banyak mengalami perubahan dan perkembangan, baik dalam segi gerak, kostum, maupun kesakralannya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan mengungkap tari melinting beserta filosofi yang mendasarinya. Pengumpulan data dilakukan dengan melaksanakan wawancara mendalam, pengamatan (observasi), dan studi kepustakaan. Ternyata tari melinting memiliki makna yang mendalam, tidak hanya gerakan tarinya yang indah, namun juga filosofi yang ada di balik tarian tersebut, seperti tentang kearifan tradisional masyarakat, falsafah hidup, serta dinamika kehidupan masyarakat Melinting khususnya dan masyarakat Lampung Timur pada umumnya. Kata melinting mempunyai makna yang sangat luas, merupakan nama daerah (kecamatan), nama jenis tumbuhan, nama tarian, dan juga nama dari sebuah wilayah adat dari Keratuan Melinting yang meliputi daerah Labuhan Maringgai, Gunung Pelindung, Wana. Di masa lalu wilayah adat melinting mencakup daerah yang lebih luas lagi, ke utara sampai dengan pantai di Labuhan Maringgai dan ke selatan sampai ke daerah Tegineneng. AbstractOne of the complement during the ceremonial customs in Melinting society is Melinting dance.  In the beginning, this dance is sacred, however during the time their movement, customs, or sacred has changed and developed.  This research has a purpose to describe and reveal of Melinting dance with their philosophy.  The procedure for collecting the data with an in depth interview, observation, and library research.  In result, Melinting dance has a deep meaning. It is not only about beautiful dance movement, but also the philosophy of wisdom, life, also talking about the dynamics of melinting and East Lampung society.  Word of Melinting has a broader meaning, such as name of an area (district), plantation, dancing, and the territory of Melinting crown including Labuan Maringgai, Gunung Pelindung, Wana.  In the past, the melintingregion included a wider area, to the north reach Labuan Maringgau beach, and to the south  reach Tegineneng area.
TINJAUAN AWAL ASPEK TIPOLOGI DAN DATA INSKRIPSI BATU NISAN DI HOLLANDISCHE KERK BANDA NEIRA Syahruddin Mansyur
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.826 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.76

Abstract

AbstrakKepulauan Banda dikenal sebagai wilayah yang memiliki pengaruh kolonial yang kuat. Salah satu tinggalan arkeologi yang banyak ditemui di wilayah ini adalah batu nisan. Sebagai salah satu budaya materi, batu nisan memiliki beragam informasi yang terdapat pada batu nisan itu sendiri mulai dari bentuk, bahan, dan ragam hias. Penelitian ini merupakan tinjauan awal untuk mengetahui tipologi dan beragam informasi yang dapat diungkap dari inskripsi yang termuat pada batu nisan. Melalui tahapan penelitian arkeologi dengan melakukan analisis terhadap keragaman jenis artefak dan analisis terhadap data inskripsi, penelitian ini mengungkap bahwa tipologi batu nisan memiliki kekayaan ragam hias berupa lambang heraldik, iluminasi, dan inskripsi. Aspek lain pada data inskripsi adalah informasi tentang orang-orang yang dimakamkan memiliki status sosial tinggi, di antaranya; para pejabat pemerintahan, pejabat militer, pejabat perdagangan, pejabat keagamaan, para perkenier, beserta para keluarganya. Aspek lain yang berhasil diungkap bahwa kehidupan sosial masyarakat Eropa saat itu menganggap bahwa batu nisan adalah salah satu simbol kemewahan. AbstractBanda Islands are known as the region that has a strong colonial influence. One of the archaeological remains found in the region is the tombstone. As one of the material culture, the tombstone has a variety of information contained on a tombstone itself from the shape, material, and ornaments. This study is a preliminary review to determine the typology and variety of information that can be revealed from inscriptions contained in the tombstone. Through the stages of archaeological research by analysing the diversity of artefacts and analysis inscriptions data, this study revealed that the typology of the tombstone has a wealth of ornamentation in the form of heraldic emblem, illumination, and inscriptions. Another aspect from the inscription data is information about people who are buried has a high social status. They are from government officials, military officials, trade officials, religious officials, the perkenier (landlord), along with his family. Another aspect that can be revealed is the social life of Europe in that time considered that the tombstone is one of the symbols of luxury.
KERAJAAN TRADISIONAL CIREBON ABAD XV – XIX Adeng Adeng
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v1i2.242

Abstract

AbstrakKerajaan Tradisional Cirebon atau lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Islam Cirebon dan akhirnya menjadi Kesultanan Cirebon mencapai puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Kepemimpinan Sunan Gunung Jati misi utamanya adalah pengembangan agama Islam di Tatar Sunda (sek. Jawa Barat), bukan masalah politik atau pemerintahan. Oleh karena itu, perkembangan Islam di Tatar Sunda sangat pesat.   Abstract Traditional Empire of Cirebon or more knowledgeable with the title Empire of Islam Cirebon and finally becomes Sultanate of Cirebon tired its the feather in one's cap top when led by Syekh Syarif Hidayatullah or more knowledgeable by the name of Sunan Gunung Jati. Leadership of Sunan Gunung Jati mission is expansion of Islam in Tatar Sunda (West Java), no matter political or goverment. Therefore, development of Islam in Tatar Sunda very fast.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue