cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
H.M. ARIEF MAHYA: ULAMA, PEJUANG, DAN TOKOH PENDIDIKAN LAMPUNG (1926-Sekarang) Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.58

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengungkap kiprah dan pemikiran dari salah seorang ulama terkemuka yang berasal dari Lampung, yaitu H.M. Arief Mahya. Ulama Lampung kelahiran Gedungasin Liwa 6 Juni 1926 ini adalah saksi dari peralihan kolonialisme ke zaman revolusi kemerdekaan, terus berlanjut ke masa pembangunan dan reformasi. Penelitian ini mempergunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitianmemperlihatkan bahwa H.M. Arief Mahya bukan hanya ulama yang mengembangkan dakwah di kalangan umat, namun juga pendidik yang telah melahirkan generasiLampung berikutnya. Selain itu, ia turut berjuang dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Ia pernah menjadi pimpinan Hizbullah melawan kolonialisme yang hendak merebut kemerdekaan. Selain berjuang secara fisik, ia juga mencurahkan pemikiran melalui media publik, seperti surat kabar. Ciri pokok dari tokoh Lampung ini adalah konsistensinya untuk terus berjuang di jalan yang diyakininya. Betapapun dunia sudah berubah dan terjadi krisis nilai, ia terus istiqomah melanjutkan kiprahnya mendidik umat. AbstractThis study aims to reveal the gait and the thought of one of the leading scholars from Lampung, namely KH M. Arief Mahya. Theologian Lampung who was born at Gedungasin Liwa on June 6, 1926 is the witness of the transition era of colonialism to independence revolution and continues to the development and reformation era. This study uses historical method consists of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results showed that KH M. Arief Mahya was not only a scholar who developed the message among the people, but also an educator who had bridged to the next generation of Lampung. In addition, he participated in the effort tomaintain the independence struggle. He was once the leader of Hizbullah against colonialism who want to snatch the independence. Besides physically struggling, he also devoted ideas through public media, such as newspapers. The main characteristic of this Lampung figure was the consistency to keep fighting in the way he believed. No matter how the world has changed and there was a crisis of value, he persistently continued to educate people.
KONFLIK, KEKERASAN, DAN MEDIASI SOSIAL DI PEDESAAN LAMPUNG 1988-2001 Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.07 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.224

Abstract

AbstrakKonflik dan integrasi merupakan dua unsur yang inheren dalam kehidupan masyarakat. Dalam kondisi itu terjadi dialektika yang mengakibatkan kehidupan menjadi dinamis. Konflik menjadi jalan ke arah terbentuknya integrasi baru. Dalam masyarakat yang terintegrasikan sedemikian rupa, konflik dapat tumbuh dan berkembang.Lampung sebagai wilayah yang multietnik memiliki potensi konflik yang tinggi. Fakta sejarah menunjukkan sejumlah konflik terjadi di daerah tersebut. Tahun 2000, misalnya, konflik sosial berlangsung dalam intensitas yang tinggi. Ditinjau dari perspektif sejarah, konflik dan integrasi merupakan dua komponen yang berjalin kelindan dalam sejarah masyarakat. Penelitian ini memokuskan perhatian terhadap sebab-sebab dan mediasi  konflik. AbstractConflict and integration represent two element which inherent in life of society. Between both taking place dialectict resulting life become is dynamic. Conflict can become road at formed its of new integration. On the contrary, in integrated society in such a manner conflict can grow and expand. Lampung as region which multietnic society have high conflict potency. History fact showing a number of conflict happened. Evaluated in perspective of history, integration and conflict represent two component interweaving in its society history. This research of its attention focus in conflict mediation and causes.
KEBERADAAN KAMPUNG SENI JELEKONG DALAM MENUNJANG KEBUTUHAN EKONOMI RUMAH TANGGA Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.105 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.140

Abstract

ABSTRAKKampung Seni Jelekong telah lama menapakkan kiprahnya dalam bidang industri kreatif berbasis kebudayaan. Hasil yang dicapai adalah ketenaran Jelekong hingga ke mancanegara sebagai kelurahan di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang memproduksi lukisan dan kerajinan wayang golek. Berdasarkan pengalaman tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung memberikan predikat Desa Wisata melalui SK Nomor 556.42/Kop.71 – Dispopar/2011. Pengalaman yang telah dicapai sebagai kampung seni tentunya harus melalui proses yang cukup panjang. Di samping itu juga ada kiat-kiat tertentu yang menjadi pedoman mereka untuk tetap menekuni industri berbasis kebudayaan tersebut. Kiat-kiat yang tentunya harus memperhatikan unsur hobi, kemahiran, dan sektor pendapatan yang mereka terima selama bekerja sebagai seniman di Kelurahan Jelekong. Penelitian yang menggunakan metode deskripsi dengan pendekatan kualitatif ini menemukan adanya aspek ketekunan, strategi pemasaran, dan pola pembagian kerja yang bervariasi. Aspek ketekunan dicapai oleh para pelopor seni yang secara intensif mengajarkan pada warga Jelekong untuk berkecimpung dan mencari nafkah melalui pemberdayaan produk seni. Strategi pemasaran menuntut kreativitas mereka semaksimal mungkin baik melalui modifikasi karya seni maupun memperbanyak relasi mulai dari strategi door to door hingga membuka galeri seni. Pola pembagian kerja yang fleksibel, yaitu segi kualitas dan kuantitas seniman menjadi tolak ukur besaran pendapatan yang mereka terima untuk nantinya digunakan mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.  AbstractJelekong has been famous for its creativity in culture-based industry, especially in producing wayang golek paintings and handicrafts. It was awarded Desa Wisata (Village of Tourism) by the government of Regency of Bandung in 2011. This village has certain tips that guide them running the business, tips that combine many elements like hobby, skill, and income that  they receive during they are working as artists in the village. By conducting descriptive method and qualitative approach, the author finds that combination of persistence, marketing strategy and division of work are indirect factors for the artists to rely on art as their main income.
PRANATA PENDIDIKAN PADA UPACARA NGEUYEUK SEUREUH, UPACARA MASA KEHAMILAN, DAN NGASUH BUDAK Nandang Rusnandar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.626 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.344

Abstract

Dalam pranata pendidikan dibahas mengenai pendidikann informal dalam keluarga di masyarakat Sunda. Tuloisan ini menguraikan tentang bagaimana pendidikan informal diterapkan dalama sebuah keluarga dan mensosialisasikan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak mulai dari  masa kana-kanak melalui kegiatan ngasuh budak,  memasuki masa perkawinan melalui ngeuyeuk seureuh, dalam rangka mempersiapkan anak menjadi pasangan suami istri, dan pada masa kehamilan dengan serangkaian upacara adat kehamilannya, sehingga susmi istri siap dalam menghadapi masa kehamilan dan menjadi orang tua. Dalam perjalanan waktu, pendidikan informal pada keluarga mengalami perubahan seiring dengan perubahan struktur keluarga dan cara pandang terhadap pranata pendidikan.Hal itu dipangaruhi oleh tumbuhnya pranata sosial pendidikan sejenis pada masa kini, baik pada lingkup nasional maupun global.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara utuh dan mendalam tentang pranata pendidikan di masyarakat Sunda. Metode penelitian adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa pranata sosial merupakan himpunan norma yang mengatur kehidupan manusia secara bersama, tentunya dalam budaya Sunda memiliki beberapa pranata.        In educational institutions it is discussed about informal education in the family of in Sundanese society. This paper describes on how informal education is are implemented in a family and how to socialize the values of life to children ranging from infancy through ngasuh budak/childbearing, entering a period of marriage through ngeuyeuk seureuh, in order to prepare children to become husband and wife, and during pregnancy with a series of pregnancy ceremonies, so that husband and wife are ready to face the pregnancy and parenthood. In the course of time, the informal education on family changes along with the changes in family structure and the perspective of the educational institutions. It is influenced by the growth of similar social education institutions at the present time, both national and global. The purpose of this study is to get a full and depth picture of educational institutions in the Sundanese society community.The research method is qualitative method with descriptive approach. The data are collected through direct observation and interviews The result shows that the social order is a set of norms that govern human life together, and Sundanese culture has several institutions that govern human life in their society. 
ANGKLUNG: DARI ANGKLUNG TRADISIONAL KE ANGKLUNG MODERN Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.505 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v4i1.122

Abstract

AbstrakAngklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan. Sebelum menjadi sebuah kesenian yang adiluhung seperti sekarang ini, kesenian Angklung telah mengalami perjalanan sejarah yang amat panjang. Berbagai perubahan telah dilaluinya mulai dari perubahan bentuk, fungsi, sampai pada perubahan nada. Demikian pula berbagai situasi telah dilaluinya, bahkan kesenian ini sempat mengalami keterpurukan pada awal abad ke-20. Angklung sebagai salah satu jenis kesenian yang berangkat dari kesenian tradisional, mengalami nasib yang tidak terlalu tragis dibandingkan dengan beberapa jenis kesenian tradisional lainnya. Kesenian ini hingga kini masih tetap bertahan,  bahkan berkembang, dan sudah “mendunia” kendatipun dengan jenis irama dan nada yang berbeda dari nada semula. Kalau semula nada dasar kesenian Angklung adalah tangga nada pentatonis, kini telah berubah menjadi tangga nada diatonis yang memiliki solmisasi. Boleh dibilang, kesenian Angklung merupakan salah satu jenis kesenian tradisional yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sehingga ia mampu bertahan di tengah terjangan arus modernisasi. Bahkan kesenian Angklung ini telah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Angklung sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia yang dideklarasikan pada 16 Januari 2011.  Abstract Angklung is a Sundanese musical instrument made of bamboo. We have to shake it to get the tune. Angklung has been through long period of times in history before it become a masterpiece of one of Sundanese artistry. It has been through many changes, beginning from its form, functions and tune itself. Angklung experienced its downturn at the beginning of 20th century. But it survived. Angklung can suit itself to this changing modern world by adjusting its musical scale from pentatonic to diatonic. UNESCO has granted angklung the Representative List of Intangible Heritage of Humanity on January 16, 2011.
FENOMENA PENGGUNAAN MAGI PADA KALANGAN SINDEN DI KABUPATEN SUBANG – JAWA BARAT (STUDI TENTANG SISTEM RELIGI) Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.564 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.90

Abstract

AbstrakDi lingkungan masyarakat Sunda, khususnya pada kalangan seniman Sunda, daerah Subang dikenal sebagai ‘lumbung” sinden yang telah mengorbitkan dan mengantarkan beberapa nama sinden ke puncak popularitasnya. Kondisi ini tidak luput dari lingkungan sosial budaya masyarakat Subang itu sendiri yang gemar berkesenian, baik sebagai seniman praktisi, pemerhati, maupun penikmat karya seni tradisional. Di samping itu, masyarakat Subang yang dalam kehidupan religinya masih kuat memegang adat istiadat, juga turut memengaruhi perkembangan seni sinden. Kepercayaan masyarakat setempat terhadap dunia gaib dan kekuatan-kekuatan gaib, turut pula mewarnai perkembangan dunia pesinden di daerah ini. Tidak sedikit para sinden di daerah Subang yang memanfaatkan tenaga-tenaga magis yang diperoleh melalui ritual-ritual tertentu ataupun melalui jasa paranormal, seperti dukun dan kuncen. Tulisan ini berupayamenggali penggunaan magi pada kalangan sinden yang telah lama menggejala di daerah Subang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif serta menggunakan metode deskriptif dengan teknik memaparkan berbagai fenomena yang didapati di lapangan terkait dengan penggunaan magi oleh sinden, selanjutnya dianalisis menggunakan teori-teori kebudayaan. AbstractIn Sundanese community, especially in sundanese artist, Subang area well known as ‘the centre’ of sinden (women singer) that has bring a popularity for several singer. This condition are related to the social and cultural of Subang society that love arts, even though as practitioner, observer, or devotee/spectator of traditional arts. Meanwhile, the life of their beliefs still hold the customs, and it’s also influenced the developing of sinden arts. Believe in superstition also enriching the sinden worlds in this area. A lot of sinden who utilize magical power through rituals or paranormal services. This paper are try to dig deeper about the use of magical power in sinden of Subang area. This research is qualitative research, and use descriptive method, with roll out several of phenomena in the field that related to the use of magical power by sinden. The next step is analysis by using the theory of culture.
SEJARAH LAMPUNG UTARA (PERIODE PEMBANGUNAN MASA ORDE BARU) M. Halwi Dahlan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.849 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i3.256

Abstract

AbstrakPerkembangan suatu daerah bisa dikaji dari hasil yang nampak dari proses pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan. Perkembangan tersebut diperoleh dari pemanfaatan potensi-potensi yang ada. Lampung Utara yang secara geopolitik menjadi batas pulau Sumatera di bagian Utara dan secara geografis memiliki potensi alam yang kaya, dapat diolah menjadi sumber pendapatan asli daerah. Secara demografis, penduduk Lampung Utara adalah sumber daya manusia yang signifikan untuk melaksanakan pembangunan serta menjadi kekuatan untuk mewujudkan tujuan jangka panjang tersebut karena kerukunan mereka yang multietnik. AbstractDevelopment of an area can be studied from result seems to be from development process which has and is being executed and of course has purpose of long-range towards prosperity of all the area public. The development obtained from exploiting of the potencys. Lampung Utara that is in geopolitics becomes Sumatra island boundary in upstate and geographically has rich nature potency, changeable become source of earnings of area original. Demographically, resident Lampung Utara is human resource which signifikan to execute development and becomes strength to realize purpose of the long-range because reconciliation they which multiethnic.
ARSITEKTUR TRADISIONAL DI KASEPUHAN SINAR RESMI KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT Nandang Rusnandar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.018 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i3.172

Abstract

AbstrakKetertarikan pada penelitian ini didasarkan pada adanya kesinambungan bentuk arsitektur tradisional  di Tatar Sunda yang memiliki kesamaan dalam  segi arsitektural, namun memiliki ciri-ciri mandiri yang disesuaikan dengan tata aturan dan adat istiadat setempat. Kampung Kasepuhan Sinar Resmi, merupakan salah satu kampung adat di wilayah Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Salah satu karya yang dihasilkan oleh komunitas ini  adalah bentuk arsitektur yang merupakan cerminan kuat dari latarbelakang budaya yang melingkupinya. Simbol-simbol yang mengandung tata nilai menjadi acuan mereka dalam bergerak hidup, sehingga nilai-nilai itulah yang dapat mempertahankan keutuhan arsitektur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara utuh dan mendalam tentang arsitektur serta mengungkap simbol dan nilai  filosofis masyarakatnya. Metode penelitian adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung dan wawancara. Arsitektur, merupakan buah karya yang tak lepas dari simbol dan nilai yang melekat pada masyarakat pendukungnya, sehingga tata cara pembangunan tidak ditinggalkan walaupun perubahan terus melanda. Keteguhan dalam mempertahankan adat ini menjadi ciri mandiri dalam menghasilkan bentuk arsitektur yang ada di Sinar Resmi. Abstract The interest in this research based on the relations between traditional architecture in Sudanese which have similarity in the shape of architecture, but they have a specific character adapted with the custom rules that they lived.  Kasepuhan Sinar Resmi village is one of the traditional village in Cisolok sub-district, Sukabumi district.  One of the works that they have made is the shape of architecture, it symbolize strong Sudanese character. The symbol which have values become a reference in facing their life, so that the values that can maintain the integrity of the architecture.  The purposes of this research is to get the full picture and the depth of the architecture as well as revealing the symbol and the value of the philosophical community.  The method of this research is qualitative, with direct observation and interview as a technique in collecting the data.  Architecture as a masterpiece cannot separated from symbol and values in the society, so the procedures are not left even the changes continue to plague. Firmness in maintaining this custom became self-sufficient in generating characteristic architecture of Sinar Resmi village.
SISTEM EKONOMI PENGRAJIN KELOM GEULIS DI GOBRAS, KOTA TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT Ria Andayani Somantri
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.57 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.113

Abstract

AbstrakPenelitian Sistem Ekonomi Pengrajin Kelom Geulis di Gobras, Kota Tasikmalaya, Provinsi  Jawa Barat dilaksanakan  untuk menjawab masalah  penelitian, yakni bagaimana pola produksi, distribusi, dan konsumsi pengrajin kelom geulis, serta aspek   budaya di dalamnya. Kelom geulis diteliti karena merupakan salah satu kerajinan tradisional dari Kota Tasikmalaya yang masih bertahan dengan segala kekhasannya. Penelitian tersebut menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, observasi, dan wawancara kepada sejumlah informan.  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa pola produksi para pengrajin dapat dibedakan menjadi empat. Pertama, pengrajin  fokus pada pembuatan kelom geulis bodasan; kedua, pengrajin fokus pada proses mengolah   kelom geulis bodasan menjadi kelom geulis satengah jadi; ketiga, pengrajin fokus pada proses ngasakeun; dan keempat, pengrajin yang mengerjakan proses pembuatan kelom geulis dari awal sampai dengan selesai. Adapun pola distribusinya: pertama, hasil produksi dari pengrajin kelom geulis bodasan didistribusikan ke pengrajin kelom geulis setengah jadi; kedua, hasil produksi dari pengrajin kelom geulis satengah jadi didistribusikan ke pengrajin yang menangani proses finishing atau ngasakeun; ketiga, hasil produksi dari pengrajin yang mengerjakan kelom geulis secara utuh langsung dipasarkan ke konsumen. Sementara itu, pola konsumsi para pengrajin kelom geulis lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan primer. Bila pendapatan mereka berlebih, baru dilakukan upaya investasi. AbstractThis study of Kelom Geulis Craftsmen Economic System in Gobras, Tasikmalaya, West Java Province was conducted to answer the research problem; What is the production patterns, distribution, and consumption of KelomGeulis craftsmen, as well as cultural aspects in it. Kelom geulis was studied because it is one of the craftsmen from Tasikmalaya which still surviving with all its uniqueness.  The study uses descriptive qualitative research methods. Data collection techniquethat is used was literature study, observation, and interviewto a number of informants. The results showed that the pattern of production of the craftsmen can be divided into four patterns. First is artisan. Artisans focus on making Kelom Geulis bodasan; second, craftsmen focus on the process of taking Kelom Geulis Bodasan being into Kelom Geulis Satengah; Third they focus on the process of ngasakeun craftsmen; and fourth, the artist who makes the process of making Kelom Geulis from start to the completion.  The distribution pattern: first, the production of craftsmen ofkelom geulis bodasan distributed to artisans kelom geulis semi-finished; secondly, the production of craftsmen kelom geulis satengah is distributed to artisans who deal with the finishing process or ngasakeun; Third, the production of the craftsmen who worked full for kelom geulis directly marketed to consumers. Meanwhile, the consumption patterns craftsmen of kelom geulis more emphasis on meeting the primary needs. If the excess of their income increase, the new investment will be done.
KAJIAN NILAI BUDAYA TENTANG MITOS DAN PELESTARIAAN LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT BANCEUY KABUPATEN SUBANG Endang Supriatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.129 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.279

Abstract

AbstrakKampung Banceuy terletak di Desa Sanca, Kecamatan Jalancagak, KabupatenSubang. Masyarakat yang tinggal di Kampung Banceuy memiliki ciri kehidupan yang unik. Ciri khas masyarakat Banceuy di antaranya: mereka memiliki tokoh adat yang memimpin dan mengendalikan perilaku kepercayaan masyarakat setempat. Serta mereka masih memelihara nilai-nilai luhur dan tradisi upacara. Begitu banyak upacara yang masih mereka laksanakan, baik yang berkaitan dengan pertanian, daur hidup manusia, dan sistem religi. Banyak hal yang bisa dipetik dari pelaksanaan upacaraupacara tersebut, antara lain, nilai-nilai mitos dan ritual mendorong mereka menjalin hubungan timbal balik dengan lingkungan alam sekitar. AbstractThe village of Banceuy lies in Desa (larger village) Sanca, Kecamatan (district) Jalancagak, Kabupaten (regency) Subang. The people there has a unique life, e.g. they have a chief who responsible as leader in controlling the behavior of thecommunity member either in rituals or high-valued ancestral traditions. The rituals they have are, among others, ones that have something to do with agriculture, human life cycle and religious system. Those rituals make them maintain a good relationship with mother nature in term of preserving and conserving the environment.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue