cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
BATIK CIAMISAN DI IMBANAGARA KABUPATEN CIAMIS (Sebuah Kajian Nilai Budaya) Lina Herlinawati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.817 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.158

Abstract

AbstrakPerkembangan industri tekstil yang semakin maju mengakibatkan keberadaan batik tradisional kini mulai surut, termasuk yang dialami batik tulis Ciamisan. Kerajinan tersebut merupakan aset kerajinan tradisional yang perlu  dipertahankan agar tidak punah. Untuk itu dilakukan upaya pelestarian dengan melakukan penelitian perihal kajian nilai budaya pada batik tulis Ciamisan tersebut di Dusun Ciwahangan Kecamatan Imbanagara Kabupaten Ciamis, sebagai satu-satunya daerah yang masih terdapat aktivitas kerajinan batik tulis Ciamisan. Penelitian tersebut bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, dengan cara mempelajari arsip-arsip literatur yang menunjang pelaksanaan penelitian. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan, wawancara, dan pemotretan di daerah objek penelitian.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perjalanan keberadaan batik tulis Ciamisan dari awal perkembangannya hingga kini dapat dikatakan, corak batik tulis Ciamisan tidak memiliki makna filosofi perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Namun penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang, sinjang ‘kain’ bagi masyarakat. Nilai filosofi kesederhanaannya itu terlihat dalam bentuk-bentuk motif yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari. Selanjutnya teknik membuat batik berkembang, tidak hanya batik tulis saja, muncul batik cap, batik sablon, batik painting/lukis, dan batik printing. Demikian pula dengan motif batiknya, para perajin tidak hanya menghidupkan kembali motif-motif lama batik Ciamisan, juga meluncurkan  motif baru hasil inovasi. AbstractThe progress in the development of textile industry has made batik tulis or traditional batik (hand-drawn batik) less popular, including batik Ciamisan. This kind of craftsmanship actually must be preserved. Therefore, in order to do that the author conducted a research on cultural values of batik tulis Ciamisan which took place in Dusun (village) Ciwahangan, Kecamatan (district) Imbanagara, Kabupaten (regency) Ciamis. This is a descriptive analytical study with qualitative approach. Data were collected either primarily (by observation, interviews, and taking photographs) or secondarily (bibliographic studies). The result shows that motifs of batik Ciamisan do not have symbolic nor sacred values. They do not reflect certain social status as well. Even since its very beginning until its development today. The creation of motifs is simply stressed on fulfilling the need of cloth for apparel (sinjang) with simple designs inspired from the mother nature and everyday life. The technique varies from traditional (batik tulis), stamping (batik cap), painting and printing. The craftsmen also have innovated new motifs.
PROTES SOSIAL PETANI INDRAMAYU MASA PENDUDUKAN JEPANG (1942-1945) Wahyu Iryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.595 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i3.10

Abstract

The background of the emergence of social protest of peasants in Indramayu during the Japanese occupation in 1944, originated from Syuuchokan mandate that imposes of obligations on the transfer of paddy 1 April 2603 until March 31, 2604. According to data contained in the newspaper Tjahaja, Rebo 12 Itigatu 2604, 11 Tahoen III, farmers are required to submit to the Japanese rice every harvest season. This study aims to determine public reaction to the policy of handing over rice Indramayu during the Japanese occupation. The theory that i use is the theory Mariasusai Dhavamony. The method used is the method of historical research that is heuristic, criticism, interpretation, historiography. The findings from this study that Indramayu farmers protested against the transfer of liability on the part of Japan, as they have confidence that rice is something sacred, rice is also extremely valuable for sustainable livelihood.
TRADISI GOTONG-ROYONG DI DESA JUNTIKEBON KECAMATAN JUNTINYUAT, KABUPATEN INDRAMAYU Yanti Nisfiyanti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.332 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.209

Abstract

AbstrakSalah satu efek globalisasi adalah terjadinya penurunan rasa solidaritas dalam kehidupan masyarakat. Untuk membangkitkan kembali rasa solidaritas masyarakat, perlu digali kembali nilai-nilai yang berhubungan dengan kebersamaan, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan gotong-royong. Kegiatan gotong-royong tersebut dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa Barat, di antaranya Desa Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Sebagaimana diketahui Indramayu berpenduduk mayoritas petani, yang dalam kehidupannya memelihara tradisi gotong-royong. Untuk mengetahui tradisi gotong-royong di desa tersebut, maka dilakukan penelitian dengan metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa tradisi gotong-royong masih dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Juntikebon. Tradisi tersebut sarat dengan nilai-nilai luhur, seperti tolong-menolong, solidaritas sosial, dan nilai kebersamaan. Ada beberapa faktor yang membuat tradisi gotong-royong dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat Desa Juntikebon, yaitu: kesamaan jenis pekerjaan, wilayah tempat tinggal yang sama, dan kesamaan unsur kepercayaan yang dianut. AbstractOne of the effect of globalization is the decreasing sense of solidarity inside the society. To revive the society’s solidarity, certain values of togetherness needs to be re-excavated, which is contained in mutual assistance activities. Those mutual assistance activities can be found in the village’s society of West Java. One of them is in Juntikebon Village, District Juntinyuat, Indramayu sub-distric, Indramayu Regency. As we already known, most of Indramayu’s people are farmers, whch in their daily life incorporate mutual assistance activities. To know more about the mutual assistance tradition, a research with analytic-descriptive method must be conducted. From the result, it is known that the mutual assistance tradition still implemented in Juntikebon village community. These tradition full of noble values, like helping each other, social solidarity and togetherness. There are some factors that the made mutual assistance tradisition could survive in Juntikebon village society, such as: job similiarity between society member, same living area, and same religion.
KESENIAN DEBUS DI KABUPATEN SERANG Euis Thresnawaty S.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.455 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.126

Abstract

AbstrakSejarah kesenian Debus di Kabupaten Serang dapat dikatakan masih sangat gelap karena tidak ada sumber-sumber tertulis yang bisa menjelaskan atau mengungkapkan periode Debus sebelum abad 19. Umumnya sumber yang ada hanya menjelaskan bahwa debus mulai ada pada abad ke-16 atau ke-17 pada masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Periode yang mulai terang adalah ketika masa mendekati awal kemerdekaan yaitu  tahun 1938 ketika di Kabupaten Serang berdiri kelompok seni Debus di Kecamatan Walantaka,  itu pun dengan sumber sumber yang terbatas. Hal menarik dari kesenian Debus ini adalah karena pada awalnya kesenian Debus mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama Islam tetapi terjadi perubahan fungsi pada masa penjajahan Belanda yaitu pada masa pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat Banten melawan penjajah. Atas dasar itu maka dilakukan penelitian  mengenai Sejarah Kesenian Debus di Kabupaten Serang dengan tujuan untuk dapat mengungkapkan latar belakang perjalanan sejarah serta dinamika perkembangannya. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah. Saat ini permainan seni Debus dapat di katagorikan sebagai bentuk hiburan bagi masyarakat yang di dalamnya mengandung unsur zikir, silat, dan kekebalan. AbstractIt was not until the 19th century that written history of debus performing art came into light. The only thing we had was the information that debus began in 16th and 17th century during the reign of Sultan Ageng Tirtayasa. The light came to us saying that in 1938 there was a debus performing art group in Kecamatan (district) Walantaka, but the source is limited. Previously, debus functions as a means to disseminate Islam, but then it turned to be one used to fight Dutch colonialism in the reign of Sultan Ageng Tirtayasa. Today debus is a popular performing art involving zikir (rememberance of God in religous context), silat (traditional martial art), and kekebalan (make the body insensitive in order not to be conquered easily). The research aims to trace back the history of debus and its dynamic growth by conducting history methods.
PEREMPUAN PUNK: BUDAYA PERLAWANAN TERHADAP GENDER NORMATIF (Kasus di Desa Cijambe Ujung Berung) Ani Rostiyati; Aquarini Priyatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.783 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.2

Abstract

Punk merupakan sekelompok orang yang memiliki budaya tersendiri, berbeda dengan budaya yang lebih banyak dipraktikkan orang. Punk dicirikan sebagai bentuk budaya tanding yakni perlawanan terhadap budaya dominan. Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan cara perempuan punk mengidentifikasi dirinya melalui makna penampilan dan fashion yang dikenakan, sehingga terungkap ide, gagasan, dan cara pandang mereka dalam meresistensi diri dari kontruksi gender normatif. Hasil penelitian terungkap bahwa dalam estetika punk, mereka berupaya untuk menghilangkan diri dari budaya dominasi dan gender normatif yang diresepkan. Mereka keluar dari pusat patriarki dan menentang ide-ide feminitas. Penelitian ini berupa studi kasus terhadap 5 (lima) perempuan punk di Ujung berung Bandung dan dikaji secara mendalam dengan menggunakan pendekatan kualitatif utuk memperoleh data akurat, menyeluruh, dan  detail mengenai makna penampilan perempuan punk. Jenis penelitian bersifat analisis deskriptif yakni menganalisis dan menyajikan fakta sehingga lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Adapun pengambilan data melalui observasi, wawancara mendalam, foto, dan studi pustaka. Kata kunci: perempuan punk, budaya perlawanan,  gender normatif.
APLIKASI ALUR CERITA (STORYLINE) PADA TATA PAMERAN DI UPTD MUSEUM KABUPATEN SUBANG Yusep Wahyudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.264 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.99

Abstract

AbstrakArtikel ini berjudul “Aplikasi Alur Cerita (Storyline) Tata Pameran di UPTD Museum Kabupaten Subang”. Permasalahan yang diteliti adalah tentang bagaimana kondisi faktual tata pameran di UPTD Museum Daerah Kabupaten Subang? Bagaimana konsep pengembangan tata pamer berbasis Alur cerita? Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang didasarkan pada fenomena yang terjadi secara empirik (nyata) dan fakta-fakta yang ditemukan berkenaan dengan masalah yang diteliti. Data tersebut kemudian dianalisis dengan analisis SWOT. Analisis SWOT berupa analisis terhadap kekuatan, kelemahan, ancaman, dan peluang. Berdasarkan hasil penelitian, penyajian koleksi di UPTD Museum Kabupaten Subang ditemukan beberapa hal, UPTD museum Kabupaten Subang menggunakan salah satu ruangan gedung Wisma Karya (Societeit). Wisma Karya adalah bangunan cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda yang memiliki beberapa ruangan, gedung tersebut belum diupayakan untuk dikelola oleh pihak lembaga museum, sehingga museum akan memiliki ruangan untuk menyajikan koleksi. Museum belum memberikan informasi yang menjelaskan koleksi dengan dukungan unsur cerita yang utuh pada setiap aspek, yaitu aspek alam, aspek manusia, aspek sejarah, aspek aktivitas yang terkandung pada setiap penyajian koleksi. Museum belum bisa memanfaatkan pengetahuan dan teknologi yang akan mendukung penyelenggara museum untuk lebih kreatif dalam melakukan penyajian koleksi. AbstrakThis article is titled The Application of Storyline at Exhibition Layout at UPTD Museum of Subang Regency. The problem that is analyzed focusing on how is the factual condition of exhibition layout at UPTD Museum of Subang Regency, how is the development concept of exhibition layout that is based on a storyline. The Method used for the observation is qualitative method based on the empiric phenomenon happened and facts that are found concerning with the observing problem. The data are then analyzed using the SWOT analysis pointed on its strengths, weaknesses, threats and opportunities. The observation founds some findings on the way the collections at UPTD Museum of Subang Regency are exhibited. UPTD Museum of Subang Regency uses one of rooms at Gedung Wisma Karya (societeit). Gedung Wisma Karya is a cultural concervation building at Dutch Colonialism Era that has some rooms. The building has not been maintained appropriately buy the museum management to have a specific room forexhibiting its collections. The museum has not given information that explain the collection supported buy a complete story constituent on every aspect, which are natural aspects, man aspects, historical aspects, and activity aspects that have to be included in each displayed collection. The museum has not taken advantages of knowledge and technology to support the management of museum to be more creative in exhibiting the collections.
Uga Bandung Pengetahuan Orang Sunda dalam ramalan dan Antisipasi terhadap Perubahan Fenomena Alam Nandang Rusnandar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.718 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.265

Abstract

AbstrakPenelitian mengenai Uga Bandung Pengetahuan Orang Sunda dalam“ramalan” dan ”Antisipasi” terhadap Perubahan Fenomena Alam, bertujuan untukmendeskripsikan Uga Bandung yang beredar di masyarakat Bandung. Metode yangdipergunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Datadiperoleh melalui wawancara mendalam dan penggunaan dokumen. Uga Bandungmendeskripsikan perjalanan dan perkembangan sebuah kota yaitu Kota Bandungsebagai pusat orientasinya yang pada akhirnya menjadi Bandung heurin ku tangtung.Uga Bandung pun di dalamnya mengungkapkan nilai-nilai dalam bentuk simbolsebagai antisipasi terhadap fenomena perubahan alam, sehingga perubahan itu dapatdikendalikan sesuai dengan situasinya. AbstractUga Bandung describes the progress and development of the city of Bandung from thevery beginning until today’s populous city. Uga Bandung contains certain values in theform of symbols for anticipating the change in nature. The main goal of this researchis to describe Uga Bandung that are vastly known among the people of Bandung. Theauthor conducted descriptive analytical method and qualitative approach. Data wereobtained through in-depth interview and secondary sources.
GEDUNG MERDEKA SEBAGAI OBJEK WISATA DI KOTA BANDUNG Nandang Firman Nurgiansyah; Miftahul Falah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.924 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.351

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan upaya yang diperlukan bagi pengembangan fungsi Gedung Merdeka sebagai objek wisata. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, yang terdiri dari tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, Gedung Merdeka belum dimanfaatkan secara optimal sebagai daya tarik wisata dan kurangnya fasilitas wisata di gedung tersebut. Gedung Merdeka memiliki daya tarik sebagai benda cagar budaya yang bernilai historis dan terdapat Museum KAA di salah satu bagian gedungnya. Museum tersebut mengoleksi dan memamerkan benda dan foto yang berkaitan dengan Konferensi Asia Afrika. Selain itu, sarana wisata yang perlu ditambah seperti cafetaria, coffee shop, tempat duduk dan bersantai untuk wisatawan dan ruangan audio visual yang lebih menarik. Oleh sebab itu, perlu optimalisasi fungsi komplek Gedung Merdeka sebagai daya tarik wisata. The thesis It aims to explain the efforts need for the development function of Gedung Merdeka as tourist attraction. The thesis uses the history research methods, which of heuristic, critic, interpretation, and historiography. Based on theresearch results, problems encountered the building that is not used optimally as a tourist attraction, the lack of tourist facilities in the building. Gedung Merdeka has an attraction as a cultural heritage object of historical value and there is KAA Museum in one part of the building. The museum collects and exhibits objects and photos related to the Asian African Conference. In addition, tourist facilities that need to be added such as cafeteria, coffee shop, seating and relax for tourists and audio visual space more attractive. Therefore, it needs to optimize complex functions the Gedung Merdeka as a tourist attraction.
ORGANISASI SOSIAL PADA MASYARAKAT GIRI JAYA PADEPOKAN DESA GIRI JAYA KECAMATAN CIDAHU KABUPATEN SUKABUMI Ria Andayani Somantri
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.219 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.233

Abstract

AbstrakPenelitian tentang organisasi sosial pada masyarakat Giri Jaya Padepokan di Kabupaten Sukabumi bertujuan untuk mengetahui dasar-dasar pembentukan dan struktur organisasi sosial pada masyarakat tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi, dengan pendekatan kualitatif melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Dari penelitian tersebut diperoleh gambaran bahwa organisasi sosial pada masyarakat Giri Jaya Padepokan mengacu pada satu tatanan lama warisan leluhur atau lembaga adat yang masih digunakan sampai saat ini. Sekalipun tidak ada nama lokal bagi lembaga adat tersebut, struktur lembaga adatnya cukup jelas dan sederhana. Struktur lembaga adat itu terdiri atas ketua adat, sesepuh adat (wakil ketua adat, juru kunci, amil, tokoh seni, tokoh agama, paraji, koordinator warga, dan tokoh masyarakat), serta warga Giri Jaya Padepokan yang disebut jamaah. AbstractThis paper is about social organization of the community of Giri Jaya Padepokan in Sukabumi. The aim of the study is to examine some basis for the function of the structure of social organization in the community. The author used descriptive method and qualitative approach. Data were collected through interviews and observations. The author came into conclusion that the community of Giri Jaya Padepokan is still preserving the structure of social organization inherited from their ancestors. The institutions in question are ketua adat (the chief), sesepuh adat (the elders), juru kunci (the locksmith), amil (a person who collects charity for religious purposes), and other public figures such as art and political figures, paraji (midwives), a coordinator for people, and the people of Giri Jaya Padepokan itself called jamaah.
BALLA LOMPOA DI GOWA (Kajian Arsitektur Tradisional Makassar) Raodah Raodah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.109 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.149

Abstract

AbstrakPenelitian mengkaji arsitektur tradisional Makassar rumah adat Balla Lompoa, bekas istana Raja Gowa. Rumah adat itu berlokasi di Kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Arsitektur rumah adat Balla Lompoa berbentuk rumah pang-gung, mencerminkan bentuk kebudayaan masa lampau. Tujuan penelitian, mengung-kapkan bentuk dan fungsi ruang, struktur bangunan, ragam hias, kosmologi dalam arsitektur Balla Lompoa. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bentuk dan fungsi bangunan  Balla Lompoa  terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian atas disebut loteng atau pammakang, bagian tengah merupakan badan rumah disebut kale balla, dan bagian bawah atau kolong yang disebut passiringan. Arsitekturnya menganut falsafah sulapa appa yang menggambarkan segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk segi empat. Falsafah tersebut direfleksikan pada areal tanah, tiang rumah, jendela dan ruangan.  AbstractThis paper is a result of my research on traditional architecture of adat house Balla Lompoa, former palace of the King of Gowa. It is located in the city of Sungguminasa, Residence of Gowa, South Sulawesi. Balla Lompoa is a rumah panggung (house on stilts) that reflects cultural forms of the past. The aim of the study is to reveal form and function of the rooms, building structure, ornaments, and cosmology in the architecture. This is a descriptive research with qualitative approach. Data was compiled through observation, interviews, and bibliographic study. The result finds that the form and function of Balla Lampoa consist of three parts: upper part is called loteng or pammakang, middle part, which is the body of the house, called kale balla; and the lower part called passiringan. The house conveys philosophical value called sulappa appa, describing that perfect life of a human being is in the form of square. It is applied to the land are, house posts, windows, and rooms.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue