cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
SEJARAH PEMBUATAN DAN MAKNA SIMBOLIK PAKAIAN ADAT MUNA La Ode Dinda; Aman Aman; johan setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.532 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.536

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: menjelaskan asal-usul pakaian Adat Muna, menggambarkan proses pembuatan pakaian Adat Muna, menjelaskan fungsi pakaian Adat Muna, menjelaskan makna simbolik pakaian Adat Muna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Sumber yang digunakan merupakan data lapangan melalui participant observation sebagai data primer, dan sumber kepustakaan sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Asal-usul pakaian Adat Muna sudah lama dikenal oleh masyarakat Muna dan kerajinan ini merupakan salah satu kreativitas mereka yang digunakan dalam acara-acara tertentu, (2) Proses pembuatan pakaian Adat Muna terdiri dari proses menghani/kasoro dan Proses menenun, (3) Pakaian Adat Muna memiliki fungsi etik, estetik, religius, sosial, dan (4) Makna simbolik pakaian Adat Muna yaitu: (a) Mahkota yang berwarna putih dan merah mengandung arti sebagai simbol kesucian dan keberanian (b) Warna sarung yang berwarna biru mengandung arti kepatuhan.The objectives of this study are: to describe the origin of Muna traditional clothes, to describe the process of making Muna traditional clothes, to explain the functions of Muna traditional clothes, to explain the symbolic meaning of Muna traditional clothes in people's lives. The method used in this researchis descriptive qualitative method with a historical approach. Data collection techniques are carried out through field observation and interviews as primary source and document study as secondary source. The results of the study show that: (1) The origins of Muna traditional clothes have long been known by the Muna community and that this craft is one of their creative manifestations used in certain events, (2) The process of making Muna traditional clothes consists of the process of  menghani/kasoro and the process of weaving, (3) The functions of Muna traditional clothes have ethical, aesthetic, religious, social dimension, and (4) Symbolic meaning of Muna Traditional namely: (a) White and red crowns  mean as a symbol of chastity and wealth, (b) Blue sarong means obedience.
EKSISTENSI PARTAI INDONESIA RAYA (PARINDRA) DI KALIMANTAN SELATAN, 1935-1942 Wajidi Wajidi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1970.912 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.80

Abstract

AbstrakParindra merupakan organisasi pergerakan berpusat di Jawa yang mempunyai cabang organisasi di Kalimantan Selatan. Peranannya di Kalimantan Selatan belum banyak dipublikasikan. Atas dasar alasan itulah, maka kajian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui persebaran organisasi Parindra di Kalimantan Selatan; (2) mengetahui perjuangan Parindra di Kalimantan Selatan; (3) mengetahui tindakan Pemerintah Hindia Belanda terhadap Parindra di Kalimantan Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah (historical research) dengan menggunakan sebagian besar data primer yakni memoar para pelaku sejarah dari anggota perintis kemerdekaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa asal mula Parindra di Kalimantan Selatan adalah organisasi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) yang dibentuk pada tahun 1930. Karena berfusinya PBI dengan Budi Utomo dan organisasi lainnya di pulau Jawa menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) di tahun 1935 maka dengan sendirinya PBI di Kalimantan Selatan menjadi Parindra. Perjuangan Parindra di Kalimantan Selatan di antaranya: duduk dalam keanggotaan dewan legislatif (Raad), mendirikan Rukun Tani, Koperasi, Rukun Pelayaran Indonesia (Roepelin), dan Lumbung Padi, Mendirikan organisasi Keputrian, Kepanduan Surya Wirawan, dan Sekolah Parindra, menulis artikel politik dan mengeluarkan mosi menentang peraturan kerja paksa (erakan, rodi). Pemerintah Hindia Belanda menghadapi perjuangan Parindra dengan cara melakukan tindakan pengawasan, pelarangan, dan pembubaran rapat serta penangkapan dan pemenjaraan aktivis Parindra di Kalimantan Selatan. AbstractParindra is a Java-based movement organizations that have branch organization in South Kalimantan. Its role in South Kalimantan has not been widely publicized. Based on that reasons, the study aims are to: (1) determine the distribution of Parindra organization in South Kalimantan; (2) determine Parindra struggle in South Kalimantan; (3) determine the action of Dutch East Indies government against Parindra in South Kalimantan. This research is the historical research by using most of the primary data that the perpetrators of historical memoirs of pioneering independence members. The results show that the origin of Parindra in South Kalimantan is the organization Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) was formed in 1930. Since the fusion of PBI with Budi Utomo and other organizations on the island of Java, Indonesia Raya became a Party (Parindra) in 1935 then by itself PBI in South Kalimantan into Parindra. Parindra struggle in South Kalimantan include: sitting in the membership of the legislative council (Raad), established the Pillars of Farmers, cooperatives, Pillars Shipping Indonesia (Roepelin), and Lumbung Padi, Establishing keputrian organization, Scouting Surya Wirawan, and School Parindra, write political articles and issued a motion against the labor regulations (erakan, forced labor). Dutch East Indies government facing Parindra movement with perform acts of supervision, prohibition and dissolution of the meeting as well as the arrest and imprisonment of activists Parindra in South Kalimantan.
MITOS OHEO DAN ASAS HUBUNGAN DALAM KONSEP O RAPU Menguak Posisi Perempuan dalam Keluarga Suku Tolaki Heksa Biopsi Puji Hastuti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.856 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.181

Abstract

AbstrakMitos Oheo adalah kisah tentang salah satu versi asal-usul suku Tolaki. Sumber mitologi yang diperoleh dari orang-orang tua suku Tolaki ini memuat kisah Oheo dan Anawaingguluri yang dalam salah satu buku sumber dikatakan sama dengan Putri Wekoila, seorang perempuan yang menjadi cikal bakal suku Tolaki. Meskipun mitos Oheo sudah tidak sekuat dulu diyakini oleh suku Tolaki, mitos ini memuat hal-hal yang pada akhirnya menjadi acuan aturan adat yang sudah ditetapkan. Penelitian difokuskan pada salah satu aspek aturan adat suku Tolaki, yaitu konsep o rapu. Penelitian ini bertujuan mengungkap asas hubungan dalam konsep o rapu yang terepresentasi dalam mitos Oheo. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian budaya, khususnya teori intertekstual. Hasil analisis menunjukkan bahwa di dalam mitos Oheo terdapat representasi asas hubungan meowali, meo’ana meo’ana, meo’ina meo’ana, dan mbeo’ana. Pembahasan hasil analisis diarahkan pada hubungan representasi konsep o rapu di dalam mitos dengan posisi perempuan di dalam keluarga suku Tolaki. Dari hasil dan pembahasan diketahui bahwa perempuan dalam keluarga suku Tolaki berada pada posisi terhormat dikaitkan dengan proses perawatan anak sebagai regenerasi keluarga, tidak tabu berada pada wilayah kerja nondomestik, dan posisi yang berhak mendapat perlindungan dari anggota keluarga laki-laki. AbstractOheo myth is one of the stories versions of Tolaki tribe.  The ancient mythology of ancient Tolaki’s tribe tell about the story of Oheo’s and Anawaingguluri and it is same with the Princess of Wekoila, the pioneer woman of Tolaki’s tribe. Eventhough the myth is not strong as before, the myth contains the rule of thier custom.  This research focused on one of the rule aspect of Tolaki’s tribe, which is o rapu concept.  The purpose of this research is to reveal the relations of o rapu representations concept in Oheo myth.  Qualitative method is used in this research and cultural studies as an approach, especially intertextual theory.  The result of the research describes that in Oheo myth contained of principal representations of meowali, meo’ana meo’ana, meo’ina meo’ana, and mbeo’ana. The discussion of the research is directed to the relations concept of o rapu representation in myth and with women positions in the Tolaki’s tribe.  From the finding and the discussion, it was found that women position in Tolaki tribe family is in the honorable position, it can be seen in the nursing/care process, domestics area is not taboo, and has the right in patronage from male family members.
NILAI BUDAYA ARSITEKTUR MASJID SANG CIPTA RASA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT Suwardi Alamsyah P.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.351 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.214

Abstract

AbstrakMasjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun atas prakarsa Sunan Gunung Jati, sekira tahun 1498-1500 Masehi yang pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan seorang arsitek bernama Pangeran Sepat dari Majapahit bersama pembantunya dari Demak dan Cirebon. Pembangunan masjid ini terlahir dari rasa dan kepercayaan untuk mengagungkan Sang Khalik dan untuk membangun rasa keagungan. Arsitektur bangunan masjid ini, dibangun dengan memadukan unsur-unsur budaya pra Islam, baik bentuk, struktur dan ragam hiasnya, walau tidak secara langsung, tetapi tetap mempertahankan tata nilai yang ada sepanjang perjalanan sejarahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami peranan masyarakat di dalam mempertahankan arsitektur masjid serta fungsi simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat serta hubungannya dengan arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa. Metode penelitian ini didasarkan pendapat yang dikemukakan Winarno Surakhmad (1985:139), bahwa: suatu cara yang digunakan untuk menyelidiki dan memecahkan masalah yang tidak terbatas pada pengumpulan data, melainkan meliputi analisis dan interpretasi sampai pada kesimpulan yang didasarkan atas penelitian tersebut. AbstractBetween 1498-1500 Sunan Gunung Jati had a mosque built in Cirebon and he named it Masjid Agung (Great Mosque) Sang Cipta Rasa. The construction was led by Sunan Kalijaga, and the architect was Pangeran (Prince) Sepat of Majapahit with the help of his assistants from Demak and Cirebon. The architecture of the mosque is a mixture of pre-Islamic elements in terms of structure, form, and motifs of decoration. The research tried to dig a depth understanding about the role of the society in preserving the mosque archtecture and to study the function of symbols used in the society in accordance with the mosque architecture.
REPRESENTASI GAYA HIDUP DAN TRADISI MINUM KOPI DALAM KARYA SASTRA Muhamad Adji; Lina Meilinawati Rahayu
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.869 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.523

Abstract

Artikel ini bertujuan menunjukkan bagaimana minum kopi sebagai tradisi dan gaya hidup ditampilkan dalam karya sastra. Objek penelitian ini adalah cerpen berjudul “Filosofi Kopi” karya Dee (Dewi Lestari). Cerpen ini membicarakan budaya minum kopi pada masyarakat urban dan masyarakat rural di Indonesia. Dalam artikel ini digunakan teori representasi Stuart Hall. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) cerpen “Filosofi Kopi” menampilkan budaya minum kopi dalam dua representasi,  yaitu kopi sebagai gaya hidup dan kopi sebagai tradisi. (2) Representasi minum kopi sebagai gaya hidup diperlihatkan dari cara kaum urban memproduksi citra tertentu melalui aktivitas minum kopi. Sementara itu, minum kopi sebagai tradisi diperlihatkan dari cara masyarakat rural memaknai kopi sebagai bagian yang melekat dalam kehidupan keseharian mereka yang sederhana. Teks cerpen ini juga menunjukkan keberpihakan secara ideologis terhadap citra minum kopi sebagai tradisi, sebagai wacana yang perlu disuarakan di tengah masifnya citra minum kopi sebagai gaya hidup. This article aims to show how drinking coffee as a tradition and lifestyle is featured in literary works. The object of this research is a short story entitled "Philosophy of Coffee" by Dee (Dewi Lestari). This short story discusses the culture of drinking coffee in both urban and rural communities in Indonesia. Using Stuart Hall's theory of representation with descriptive analytical method the results of the study concluded that: (1) the short story "Philosophy of Coffee" displays the culture of drinking coffee in two representations, namely coffee as both a lifestyle and a tradition. (2) Representation of drinking coffee as a lifestyle is shown in the way urbanites produce certain images through coffee drinking activities. Meanwhile, drinking coffee as a tradition is shown by the way rural people interpret coffee as an inherent part of their simple daily lives. The text of this short story also shows ideological leaning towards the image of drinking coffee as a tradition, as a discourse that needs to be voiced in the midst of the massive image of drinking coffee as a lifestyle.
PERTUKARAN SOSIAL DALAM TRADISI PANTAWAN BUNTING PADA SUKU BANGSA BESEMAH DI KOTA PAGARALAM PROVINSI SUMATERA SELATAN Rois Leonard Arios
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.597 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.537

Abstract

Tulisan ini bertujuan menganalisis proses pertukaran sosial yang terjadi pada tradisi pantawan bunting pada suku bangsa Besemah di Kota Pagaralam. Tradisi ini merupakan bagian dari upacara perkawinan di mana pengantin (bunting) menghadiri undangan para kerabat dan tetangga untuk menikmati hidangan makanan dan minuman sehari sebelum acara sedekahan. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualiatatif dengan data utama diperoleh melalui wawancara, pengamatan, dan studi literatur. Berdasarkan analisa data disimpulkan bahwa pemberian makanan dan minuman kepada pengantin (bunting) merupakan proses timbal balik antarkedua belah pihak. Si pemberi (tuan rumah) tidak berharap  akan mendapatkan balasan finansial melainkan berupa keterlibatan si pengantin dalam aktivitas adat keluarga si pemberiThis paper aims to analyze the process of social exchange that occurs in the tradition of pantawan bunting in the besemah ethnic groups in the City of Pagaralam. This tradition is part of a wedding ceremony where the bride and groom (bunting) attend the invitation of relatives and neighbors to enjoy food and drink a day before the almsgiving event (sedekahan). The study was conducted with qualitative research methods with main data obtained through interviews, observations, and literature studies. Based on the analysis of the data it was concluded that the invitation to enjoy meals to the bride and groom (bunting) was a reciprocal process between the two parties. The giver (host) does not expect to get a financial reward but rather encourages the bride's involvement in the traditional activities of the giver's family.
PERKEMBANGAN KESENIAN GONDANG DI KECAMATAN PAGERAGEUNG KABUPATEN TASIKMALAYA Enden Irma R.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.869 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i3.257

Abstract

AbstrakJawa Barat, salah satu provinsi di Indonesia yang cukup kaya dengan kesenian tradisional dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Salah satu kesenian tersebut adalah Seni Tradisional Gondang yang tetap terpelihara keberadaannya di wilayah Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.Secara historis, Seni Gondang dikembangkan di daerah Jawa Barat       oleh para le-luhur pesyiar agama Islam. Salah satu contoh dari tokoh tersebut adalah Kangjeng Syeh Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Bentuk seni ini digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama Isam  di daerah Jawa Barat.Pola pertunjukan Kesenian Gondang dari dahulu sampai sekarang sudah banyak mengalami perubahan. Pada mulanya pertunjukan Kesenian Gondang hanya menggunakan lisung dan halu serta pakaian yang dikenakan oleh para pemainnya pun sangat sederhana dan tidak disertai dengan gerak tari lainnya. Adapun pada saat ini Kesenian Gondang itu selain ada penambahan waditra (alat),  juga pakaian para pemainnya pun dikemas lebih menarik disertai dengan gerak tari yang indah. AbstractWest Java is one Provinces in Indonesia which is rich of traditional arts with various kinds and shapes. One of the arts is traditional Gondang which is still preserved in Pagerageung Sub District of  Tasikmalaya in West Java.Historically, the art was developed by Moslem ancestors in West Java. One of the example is Geat Syech Syarif Hidayatullah or mostly well known as Sunan Gunung Jati. Such kind of art is used to spray Islam in West Java.The pattern of Gondang art is changing most of the time. To begin with, Gondang show was only using lisung and halu. Beside, the players use very asample cloth and without any movments. But at the present time, there are some additional tools, and the players used interesting clothes and danced beautifully.  
PELUANG DAN TANTANGAN ORANG ASLI PAPUA MENGHADAPI PERKEMBANGAN INDUSTRI DI KABUPATEN TELUK BINTUNI Arie Januar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.911 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.511

Abstract

Industrialisasi dalam dekade terakhir telah menjadi isu yang sangat hangat di Indonesia, khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni. Perkembangan industrialisasi yang  terjadi di Bintuni telah menyebabkan perubahan pada aspek kehidupan orang asli, baik itu sosial, budaya, maupun ekonomi, sehingga untuk menghadapi sebuah perubahan mereka harus membuat strategi agar tetap eksis dalam melangkahi pembangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang peluang dan tantangan orang asli Papua menghadapi perkembangan industri di Teluk Bintuni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengunaan pendekatan ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena yang ada secara detail dan mendalam dari proses perubahan sosial yang terjadi di Bintuni. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perkembangan industrialisasi yang terjadi di Bintuni secara umum telah melampaui pelbagai aspek di dalam kehidupan orang asli. Perubahan ini dibuktikan dengan berkembangnya pola pikir, pola konsumsi, dan peralihan mata pencaharian dari petani dan nelayan ke sektor yang lebih luas.   Industrialization in the last decade has become a very salient issue in Indonesia, especially in the Teluk Bintuni Regency. The development of industrialization that occurred in Bintuni has caused changes in the lives of indigenous people, be it social, cultural, or economic aspects. So to face a change they must make a strategy to continue to exist in accordant with the development plan. The purpose of this study is to describe the opportunities and challenges of indigenous Papuans in facing industrial development in Bintuni Bay. This research uses a qualitative approach. The use of this approach aims to explain the phenomena in great detail. The results of this study indicate that the development of industrialization that occurred in Bintuni in general has influenced various aspects in the lives of indigenous people. This change is evidenced by the development of mindset, consumption patterns, and the shifting livelihoods from farmers and fishermen to the broader sector.
BETUTU BALI : MENUJU KULINER DIPLOMASI BUDAYA INDONESIA I Made Purna; kadek dwikayana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.338 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.478

Abstract

Etnis Bali yang beragama Hindu, telah memiliki sumber daya budaya berupa kuliner tradisional betutu dari bahan ayam dan bebek. Kuliner betutu dimasak dengan bumbu “jangkep” (lengkap). Kuliner ini pada awalnya difungsikan sebagai makanan persembahan terhadap Ida Hyang Widhi Wasa/Tuhan Hyang Maha Esa, dan hasil persembahannya disantap bersama-sama. Namun, perkembangan selanjutnya difungsikan sebagai hidangan kaum raja-raja dan keluarganya, dan kebutuhan sosial. Dalam menghadapi politik  global dan pariwisata, maka Betutu difungsikan sebagai kebutuhan biologis anggota masyarakat secara umum, pariwisata dan diplomasi. Tujuan dari penulisan artikel ini (1) melestarikan kuliner Betutu Bali (2) mempopulerkan kuliner Betutu sebagai media identitas, toleransi (kerukunan, keharmonisan) antar umat beragama, etnis dan bangsa. Artikel ini menggunakan konsep kuliner, gastro diplomasi dan teori fungsional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik sampling menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan kuliner Betutu dapat diterima oleh semua kalangan dengan terbukti dapat ditemukan atau disajikan di hotel-hotel berbintang, restauran, dijual di warung-warung makanan dengan omset yang selalu meningkat.Hindus Balinese ethnic has cultural resources in the form of betutu, a traditional culinary from chicken and duck. Betutu is cooked with "jangkep" (complete) spices. This food was originally functioned as a food offering to Ida Hyang Widhi Wasa (Hyang the One God), and the results of her offerings were eaten together. However, further developments functioned as a dish for the kings and their families, and social needs. In the face of global politics and tourism, Betutu functioned as the biological needs of community members in general, tourism and diplomacy. The purpose of writing this  are (1) preserving Betutu Bali culinary (2) popularizing Betutu culinary as a medium of identity, tolerance (harmony) between religious and ethnic groups. This article uses concepts such as culinary, gastro diplomacy and functional theory. This study uses descriptive qualitative methods with sampling techniques like purposive sampling and snowball sampling. The results of this study show that Betutu culinary can be accepted by all people, proven to be found or served in starred hotels, restaurants, sold in food stalls with an ever-increasing turnover.
UPACARA SEBA PADA MASYARAKAT BADUY Endang Supriatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.506 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.160

Abstract

AbstrakDesa Kanekes adalah salah satu desa di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Propinsi Banten. Sebagian besar tanahnya merupakan dataran tinggi yang bergunung dengan lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai dan hulu-hulu sungai yang mengalir ke sebelah utara. Bagian tengah dan selatan desa merupakan hutan lindung atau hutan tutupan yang oleh penduduknya, yaitu Orang Baduy, sangat dijaga kelestariannya. Seba merupakan sebuah tradisi yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Baduy sebagai wujud nyata tanda kesetiaan dan ketaatan kepada penguasa. Seba itu sendiri merupakan peristiwa dalam untaian adat masyarakat Baduy yang dilakukan seusai upacara Kawalu dan Ngalaksa. Upacara Seba mereka laksanakan melalui persiapan yang matang serta berpedoman pada peraturan adat. Orang yang berperan  melakukan Seba adalah kepercayaan Puun atas nama warganya untuk memberikan laporan kepada Pemerintah sekaligus menjembatani komunikasi. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif, yaitu mendeskripsikan secara rinci fenomena sosial tertentu. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Yaitu pendekatan yang menggambarkan persoalan manusia dan kebudayaannya yang kompleks dan menyeluruh. AbstractSeba (giving tribute) ceremony is performed every year by the Baduy of Desa (village) Kanekes, district of Leuwidamar, regency of Lebak, the Province of Banten. It is a manifestation of signs of loyalty and obedience to the ruler. It is a part of a series of customary ceremony that is carried out by the Baduy after Kawalu and Ngalaksa ceremonies. Puun (the chief) gives authority to a member of his community to perform seba to deliver report to government and to bridge communication between them. This is a descriptive-qualitative research. It is hoped that the author could describe a more detailed information concerning certain social phenomenon such as seba.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue