cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
TARI GENDING SRIWIJAYA: MORALITAS DALAM REFLEKSI HISTORIS CIVIL SOCIETY Yoan Mareta; Sariyatun Sariyatun; Leo Agung Sutimin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.707 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.485

Abstract

Tari Gending Sriwijaya adalah tari tradisional yang mengandung unsur budaya Palembang di setiap bagiannya. Setelah memicu kontroversi kontemporer yang menganjurkan penghapusan tari Gending Sriwijaya, tulisan ini hadir sebagai ungkapan kritis menolak konsepsi tersebut. Pentingnya warisan budaya dalam konteks kebudayaan haruslah disajikan sebagai acuan edukasi sebab kehadirannya merupakan bentuk historical value. Tujuan penulisan ini adalah kajian tari Gending Sriwijaya berfokus pada tafsir gerak yang diperagakan oleh penari melalui metode penelitian fenomenologi, guna mencari nilai moralitas yang terkandung dalam gerak tari dan mencari refleksi historis civil society dalam orientasi nilai. Hasil pembahasan: 1) Historisitas tari Gending Sriwijaya; 2) Tafsir gerak tari Gending Sriwijaya dalam kajian nilai moralitas; 3) Nilai refleksi historis civil society. Tari Gending Sriwijaya sebaiknya menjadi orientasi logis dalam pengejawantahan tari sebagai refleksi nilai historis, sebab kebutuhannya menyokong adab generasi mendatang yang berkontribusi terhadap kesuksesan visi civil society.Gending Sriwijaya dance is a traditional dance that contains elements of Palembang culture in every part of it. After triggering a contemporary controversy that advocated the abolition of the Gending Sriwijaya dance, this paper came as a critical expression of rejecting the claim. The importance of cultural heritage must be presented as an educational reference because its presence is a form of historical value. The purpose of this writing is the study of Gending Sriwijaya dance which focuses on interpretations of motion that are exhibited by dancers through phenomenology research methods, in order to find the moral values contained in dance movements and seek historical reflection of civil society. Results of discussion: 1) The historicity of the Gending Sriwijaya dance; 2) The moral values contained in the motions of the Gending Sriwijaya dance; 3) Historical reflection values of civil society. Gending Sriwijaya dance should be a logical orientation in the embodiment of dance as a reflection of historical value because its usefulness as a support for future generations of who will contribute to the success of vision of civil society.
IDENTITAS ETNIS TIONGHOA PADANG MASA PEMERINTAH HINDIA BELANDA Erniwati Erniwati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.033 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.482

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang identitas etnis Tionghoa yang ada di Padang pada masa Pemerintah Hindia Belanda. Mengkonstruksi identitas etnis Tionghoa di Padang menggunakan metode sejarah melalui studi pustaka dan arsip dengan menelusuri sumber-sumber berupa buku, arsip Pemerintah Hindia Belanda, dokumen perkumpulan sosial, budaya, dan pemakaman Heng Beng Tong serta Hok Tek Tong. Data yang diperoleh kemudian dikritik dan dikronologiskan untuk menghasilkan karya historiografi. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa identitas etnis Tionghoa di Padang masa Pemerintah Hindia Belanda dipengaruhi oleh penataan masyarakat di daerah koloni oleh pemerintah Hindia Belanda dengan menerapkan sistem pemukiman (wijkenstelsel), pembagian masyarakat melalui Indische Staatregeling serta berbagai aturan lainnya. Penerapan sistem tersebut membentuk identitas etnis Tionghoa di Padang di mana secara politis berada di bawah kontrol Pemerintah Hindia Belanda, namun secara social dan budaya masih berorientasi kepada kebudayaan Tionghoa.This article aims to explain the Chinese in Padang during the Dutch East Indies government. Constructing a Chinese identity in Padang use historical methods through library studies and archives by tracing sources such as books, Dutch East Indies government archives, documents on social and funeral associations Heng Beg Tong and Hok Tek Tong. The data obtained, critical and chronologist to produce historiography works. The findings of this article indicate that the ethnic Chinese identity in Padang during the Dutch East Indies government by implementing settlement system (wijkwnstelsel), classification of communities through the Indische Staatregeling and other rules. The implementation of the system formed a Chinese ethnic identity in Padang where it was politically under the control of the Dutch East Indies government, but socially and culturally still oriented to Chinese culture.
UPACARA BARITAN PADA MASYARAKAT BETAWI DI JAKARTA TIMUR Ria Andayani Somantri dan Nina Merlina
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.868 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i3.170

Abstract

AbstrakPenelitian Upacara Baritan pada Masyarakat Betawi di Jakarta Timur (Suatu Kajian tentang Pembentukan Solidaritas) dilakukan untuk menjawab masalah pokok yang dibahas dalam penelitian, yakni tentang bagaimana gambaran mengenai pelaksanaan upacara baritan dan proses pembentukan solidaritas yang terjadi pada masyarakat Betawi di Kampung Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Pelaksanaan upacara tradisional baritan, yang bersifat kolektif di wilayah perkotaan seperti Jakarta yang kental dengan individualistis, merupakan suatu kenyataan yang kontradikif. Dengan alasan itulah, dipandang perlu melakukan penelitian terhadap pelaksanaan upacara baritan dalam kaitannya dengan pembentukan solidaritas pada masyarakat Betawi di Kampung Setu. Metode  penelitian yang digunakan adalah etnografi yang terfokus pada upacara baritan pada masyarakat Betawi di Kampung Setu, Jakarta Timur. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, observasi atau pengamatan, dan wawancara kepada sejumlah informan. Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh data yang menggambarkan adanya pembentukan solidaritas melalui upacara tersebut. Sumber solidaritas adalah keyakinan dan kepercayaan masyarakat Betawi di Kampung Setu untuk menghormati leluhur mereka, seperti yang diamanatkan oleh salah satu leluhur mereka, yakni Aris Wisesa. Wujud solidaritas dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya kesadaran untuk bersama-sama melaksanakan upacara baritan; sumbangan gagasan, tenaga, dan materi yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara baritan, serta kehadiran dalam pelaksanaan upacara baritan.   AbstractResearch on Baritan ceremony was conducted to answer the fundamental question: how the process of Baritan ceremony and solidarity formation that occurs in the Betawi people in Setu Village, District Cipayung, East Jakarta. Baritan traditional ceremony  which is held collectively by a people in urban areas such as Jakarta with a strong individualistic atmosphere, is a something contradictory. For that reason, it is necessary to do research on the implementation of Baritan ceremony. The method used is an ethnographic study that focused on baritan ceremony at Kampung Betawi Setu, East Jakarta. The data collection techniques that used are literature studies, observation, and interviews to a number of informants. Based on the study, we obtained data that describing the formation of solidarity through the ceremony. Solidarity can be formed due to the Betawi people in Setu Village honor their ancestor, as mandated by one of their ancestors, Aris Wisesa. Solidarity form in baritan ceremony is an awareness to jointly implement of Baritan ceremony; contribution of ideas, energy, materials and attendance at the ceremony.
“NEGERI REMPAH-REMPAH” DARI MASA BERSEMI HINGGA GUGURNYA KEJAYAAN REMPAH-REMPAH Fadly Rahman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.093 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.527

Abstract

Artikel ini membahas kedudukan rempah-rempah sebagai bagian penting dari sejarah Indonesia dengan mengkajinya dari perspektif sejarah total. Komoditas seperti cengkeh dan pala yang dihasilkan di Kepulauan Maluku pada masa lalu pernah dihargai tinggi dalam ekonomi global. Eksplorasi pelayaran dari berbagai penjuru dunia demi mencari rempah-rempah lantas menciptakan “Jalur Rempah” yang menjadikan nusantara sebagai poros ekonomi global. Selain berpengaruh besar terhadap berbagai unsur kehidupan dalam lingkup global, eksplorasi rempah-rempah telah memicu temuan penting dalam bidang ilmu pengetahuan, mulai dari Itinerario karya kartografi oleh Jan Huygen van  Linschoten hingga Herbarium Amboinense karya botanikal oleh Rumphius. Akan tetapi di balik itu, rempah-rempah memicu terjadinya praktik eksploitasi alam. Dengan menggunakan pendekatan sejarah total sebagaimana diterapkan oleh Fernand Braudel, artikel ini menyajikan  hubungan sejarah, politik dagang, budaya, alam, dan ilmu pengetahuan di balik eksplorasi dan eksploitasi rempah-rempah di Nusantara.       This article discusses spices as an important part of Indonesian history through the lens of total historical perspective. In the past, commodities such as cloves and nutmegs which grew in Moluccas Island have been highly valued in global economic trade. Sea voyage exploration from all over the world in quest of spices has created the “Spice Route” that makes nusantara became the axis of global economy. Besides very influential on so many aspects of life in global scope, the exploration of spices was also engendering the important discovery in scientific field ranging from from Itinerario, a cartographical work of Jan Huygen Linschoten to Herbarium Amboinense, a botanical work of Rumphius. Nevertheless, the exploration was also encourages the exploitation of nature. By applying total history approach as applied by Fernand Braudel, this article try to trace the connection of history, trade politics, culture, nature and science behind the story of exploration and exploitation of spices.  
KEARIFAN EKOLOGI DALAM TRADISI BUBUR SURO DI RANCAKALONG KABUPATEN SUMEDANG Nunung Julaeha; Didin Saripudin; Nana Supriatna; Leli Yulifar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.281 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.538

Abstract

Tradisi Bubur Suro di Rancakalong Kabupaten Sumedang merupakan kearifan lokal sebagai wujud syukur masyarakat kepada Sang Pencipta serta memiliki fungsi dalam menjaga dan memelihara kesinambungan alam (suistainability). Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai kearifan ekologi yang terdapat dalam tradisi Bubur Suro. Masalah penelitian dirumuskan dalam dua pertanyaan penelitian yaitu: (1) Bagaimanakah proses pelaksanaan tradisi Bubur Suro? (2) Nilai-nilai kearifan ekologi apa yang terdapat dalam tradisi Bubur Suro? Metode penelitian adalah deskriftif kualitatif dengan model etnografi. Hasil yang diperoleh menunjukkan terdapat nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi Bubur Suro yang berhubungan dengan upaya masyarakat dalam menjaga kesinambungan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan sang pencipta. Upaya menjaga kesinambungan alam tampak dalam memelihara keanekaragaman hayati (sarebu rupa), kesinambungan (babasan sarereaeun), hidup hemat dan sederhana (konsep patih goah), hidup tertib dan teratur (tataliparanti, dawegan dipares), gotong-royong serta simbol kersa nyai  sebagai bentuk perlindungan terhadap tanaman lokal.  The Bubur Suro tradition in Rancakalong Sumedang is one of the local wisdoms which has a function as an expression of the gratitude of the people to the Creator for mantaining the suistainabality of the cosmos. This research's aims is to identify the values of ecological wisdom contained in Bubur Suro tradition. The problem is formulated into two research questions, namely: (1) How is the Bubur Suro tradition being perfomed? (2) What ecological wisdom values are found in it? The method used is descriptive qualitative method with ethnografic model. The results show that there are local wisdom values in the Bubur Suro tradition which was related to humans efforts to maintain the sustainability of harmonious relationship among fellow human beings, nature, and the Creator. Efforts to preserve the sustainability of nature are evident in maintaining biodiversity (sarebu form), sustainability (babasan sarereaeun), frugal and simple living (patih goah), well-ordered living (tataliparanti, dawegan dipares), mutual cooperation and the symbol of kersa nyai as a form of  protection of local plants.
PENGOBATAN ALTERNATIF PENYAKIT TULANG STUDI KASUS KEARIFAN LOKAL PARA TERAPIS PENYAKIT TULANG DI WILAYAH JAWA BARAT Mumuh Muhsin Zakaria; Dade Mahzuni; Ayu Septiani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.931 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.544

Abstract

Penelitian tentang pengobatan alternatif penyakit tulang ini dilakukan dengan tujuan, pertama, untuk mengungkap faktor-faktor  yang menjadi alasan pengobatan alternatif penyakit tulang masih sangat diminati oleh masyarakat; kedua, menjelaskan kearifan lokal yang digunakan oleh  para terapis penyakit tulang dalam praktik pengobatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal para terapis penyakit tulang di wilayah Jawa Barat. Pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian lapangan adalah terungkapnya alasan masyarakat masih menggunakan jasa pengobatan tradisional. Alasan itu meliputi alasan praktis, ekonomis, berdaya guna, dan berhasil guna. Selain itu, terungkap juga kearifan lokal yang diwujudkan dalam cara penanganan pasien. Simpulannya adalah pengobatan alternatif penyakit tulang bukan lagi sebagai alternatif tetapi menjadi pilihan utama dan pertama. Oleh karena itu, kearifan lokal yang berkait dengan hal itu perlu diwariskan kepada generasi berikutnya dan sekaligus disistematisasi secara metodologis.This research aims to study why alternative medicine for bone disease is still in great demand by the public and to explain the local wisdom used by therapists for bone disease in West Java. This study uses a descriptive-qualitative method. Data collection is carried out through field studies, interviews, and literature studies. The results show that efficaciousness of its treatment are the reasons why the appeal for alternative medicine for bone disease aren’t declining, besides it having practical and economic advantages. In addition, local wisdom in handling patients plays an important part in its success. The conclusion is that alternative treatments for bone disease are no longer an alternative but they are becoming the first and foremost choice. Therefore, its local wisdom needs to be passed on to the next generation and at the same time methodologically systematized.
AKTOR DI BALIK SELEMBAR BATIK (Studi Kasus di Lembur Batik Cimahi) Ria Intani Tresnasih
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.306 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.343

Abstract

Batik adalah selembar kain yang dibuat secara ditulis, dicap, atau penggabungan antara keduanya. Dulu, ketika batik hanya diproduksi untuk lingkungan keraton, pembuatnya masih terbatas. Manakala batik keluar dari lingkungan keraton, pembuat batik meluas. Itu dulu, zaman di mana orang masih memiliki banyak waktu luang dan jenis pekerjaan belum beragam. Saat ini apabila di antara sejumlah orang masih ada yang mendedikasikan dirinya untuk menggeluti batik sebagai pengrajinnya, tentu ada alasan yang melatarinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara perekrutan pengrajin, pengetahuan membatik, kondisi pengrajin, serta konsep kerja pengrajin. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan hasil penelitiannya dituangkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dedikasi menjadi pengrajin batik dilatari oleh rasa tanggung jawab dan kecintaan yang mendalam dengan dunia perbatikan. Dapatlah disimpulkan bahwa tanpa adanya keterlibatan hati, sulit bagi seseorang untuk dapat bertahan menjadi pengrajin. Mengingat, banyak jenis pekerjaan lain yang besaran penghasilannya lebih menjanjikan.  Batik is a cloth made in written, printed, or a combination between the two. In the past, when batik was only produced for the palace, the makers were still limited. Another case with when batik came out of the palace, batik makers were expanding. That was then, an era where people still had a lot of spare time and the type of work had not been varied. Today, if among a number of people consist of people who dedicate themselves as batik craftsmen, absolutely there is a reason behind of it. This study aims were to determine how the recruitment, knowledge, the condition, and working concept of batik craftsmen. This study uses qualitative research and the findings are  outlined descriptively. The results shows that the dedication of batik craftsmen is backed by a sense of responsibility and a deep love with the world of batik. It can be concluded that without the involvement of their love, it is difficult for a person to be able to survive into a batik craftsman. Bearing in mind,there are many other types of work that have more promising incomethe amount of income is more promising. 
BUDAYA SIRIH PINANG DAN PELUANG PELESTARIANNYA DI SUMBA BARAT, INDONESIA Arief Dwinanto; Rini S. Soemarwoto; Miranda Risang Ayu Palar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.951 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.543

Abstract

Sirih pinang dalam tulisan ini mengacu pada sirih (Piper betle L), pinang (Areca catechu L) dan kapur; serta praktik mengunyahnya. Di berbagai daerah di Indonesia, budaya sirih pinang dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya mulai pudar. Namun di Sumba, masyarakatnya masih menanam sirih – pinang dan memanfaatkan sirih pinang dalam kesehariannya, menggunakannya pada praktik ritual, dan acara seremonial. Penelitian ini membahas budaya sirih pinang di Sumba Barat. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara mendalam dan kajian pustaka. Kajian ini menemukan bahwa sirih pinang di Sumba Barat memiliki beragam fungsi sosial, budaya, ekonomi dan pengobatan. Sirih pinang menjadi simbol penting dalam budaya Sumba. Hal ini terkait erat dengan tatanan yang memengaruhi kehidupan orang Sumba, yaitu kepercayaan Marapu, tempat tinggal (rumah: uma ; dan kampung: wano), serta ikatan kekerabatan (kabisu). Sirih pinang sebagai sumber daya budaya tak benda berpotensi untuk dapat dilindungi dalam kerangka pelestarian budaya melalui sistem perlindungan hukum sumber daya budaya takbenda, yaitu melalui ranah warisan budaya takbenda (WBTB) di Indonesia. Sirih pinang refers to the material (betel nut, areca nut, lime) and its practice of chewing it. Sumbanese, plant and use sirih pinang in their daily lives, and use it in ritual practices and ceremonial events. In various regions in Indonesia, sirih pinang tradition and it’s cultural values began to fade, therefore efforts to preserve sirih pinang tradition are needed. This study uses a qualitative approach. Data collection is carried out through observation, interviews, and literature studies. The results found that sirih pinang has a variety of social, cultural, economic, and medicinal functions. It has become an essential symbol in sumbanese culture. The symbol is related to the system that affects the lives of sumbanese, namely Marapu's beliefs, kampung (village) or uma (rumah) and kabisu (kinship system). In the intellectual property rights system, sirih pinang can be categorized as an intangible cultural resource that can be protected, utilized and developed within the framework of cultural preservation. One of the opportunities of the effort to preserve the intangible cultural resources is through the recognition and acknowledgement of sirih pinang as a shared intangible cultural heritage (ICH) in Indonesia.
Ekspresi Perempuan Dalam Batik Pesisir Indramayu Arief Dwinanto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.8 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.570

Abstract

SEJARAH PESANTREN MIFTAHUL HUDA MANONJAYA TASIKMALAYA Adeng Adeng
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4008.327 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.269

Abstract

AbstrakPondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam secara tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, pondok pesantren tradisional berubah menjadi pondok pesantren modern dengan tidak meninggalkan agama sebagai pijakan. Salah satunya pesantren tradisional yang berkembang menjadi pesantren modern adalah Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap sejarah perkembangan Pesantren Miftahul Huda. Pengungkapan sejarah Pesantren Miftahul Huda dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yaitu: heuristik, kritik, intepretasi, dan historiografi. Dengan demikian, pondok pesantren sekarang ini tidak hanya mengajarkan ilmu keagamaan saja tetapi ilmu pengetahuan dan masalah keduniawian. Oleh karena itu, pondok Pesantren Miftahul Huda mempunyai tiga peranan penting, yaitu: sebagai lembaga pendidikan Islam, pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan masyarakat.  AbstractPondok Pesantren ia as an Islamic educational institution that lives and grows within a society. As the time goes by pesantren gradually left its traditional style behind, turning into a more modern one without leaving religion as the basis of their educational system. One of which is Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. This research tries to study the history of the Pesantren by using methods used in history: heuristics, critique, interpretation, and historiography. The result is that today pesantren is also teach general sciences as well as religious ones. Therefore Pesantren Miftahul Huda has three important roles: as Islamic educational institution, as a place for developing social and human resources.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue