cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL UPACARA ADAT NGIKIS DI SITUS KARANGKAMULYAN KABUPATEN CIAMIS Sarip Hidayatloh
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.411 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i1.445

Abstract

Upacara Adat Ngikis adalah upacara adat yang telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Karangkamulyan. Upacara Adat Ngikis adalah salah satu tanda penghormatan terhadap leluhur masyarakat Karangkamulyan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Upacara Adat Ngikis di Situs Karangkamulyan Kabupaten Ciamis. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah  jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Upacara Adat Ngikis sudah dilaksanakan oleh delapan kuncen sejak tahun 1800-an yang terdiri atas 1) Wangsa Di Kara; 2) Karta Wisastra; 3) Haji Jakaria; 4) Jaya; 5) Basri; 6) Eundan Sumarsana; 7) Perdi; 8) Kistia.  Pelaksanaan Upacara Adat Ngikis, meliputi serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dari malam hari sampai dengan siang hari penuh. Kegiatan Ngikis berupa memagari Situs Batu Pangcalikan. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Upacara Adat Ngikis meliputi nilai religi, sosial kemasyarakatan, bahasa, seni, sejarah, budaya, ekonomi, pengetahuan dan pendidikan, etika, estetis , dan silih asah silih asih silih asuh.Ngikis Traditional Ceremony is a traditional ceremony which has been carried out for generations by the Karangkamulyan community. This traditional ceremony is a sign of respect for the ancestors of the Karangkamulyan community. This study aims to determine the values of local wisdom contained in the Ngikis Traditional Ceremony at the Karangkamulyan Site in Ciamis Regency. This study is a type of qualitative research with an ethnographic approach. The Ngikis Traditional Ceremony has been held by around eight caretaker since the 1800s consisting of 1) Wangsa Di Kara; 2) Karta Wisastra; 3) Jakaria Hajj; 4) Jaya; 5) Basri; 6) Eundan Sumarsana; 7) Perdi; 8) Kistia. The procession of the Ngikis Traditional Ceremony, includes a series of activities carried out starting from the night until the afternoon. Ngikis activities include enclosing the Batu Pangcalikan Site or the King's Throne. The values of local wisdom contained in the Ngikis Traditional Ceremony include religious, social, language, art, history, culture, economics, knowledge and education, ethics, aesthetics (beauty), and sharpening each other, love each other, care for each other.
Mengungkap Apa dan Siapa yang Berkontribusi pada Peristiwa Kekerasan Heru Erwantoro
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.896 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.540

Abstract

PERGESERAN MAKNA FILOSOFIS ALUN-ALUN KOTA BANDUNG PADA ABAD XIX – ABAD XXI Miftahul Falah; Agusmanon Yuniadi; Rina Adyawardhina
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1408.66 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.507

Abstract

Sebagai kota yang dibangun dengan mempertimbangkan aspek kosmologis, alun-alun merupakan salah satu elemen pembentuk Kota Bandung sejak menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bandung pada 25 September 1810. Alun-alun Kota Bandung mengalami perubahan fungsi, dari titik batas ruang profan dan ruang sakral menjadi ruang terbuka publik sehingga makna filosofisnya mengalami pergeseran. Untuk memahami perubahan tersebut secara kronologis, dilakukan penelitian historis dengan menerapkan metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perkembangannya, warga Kota Bandung tidak lagi memandang alun-alun sebagai salah satu elemen penyeimbang antara makrokosmos dan mikrokosmos, melainkan sebagai ruang terbuka publik tempat bersosialisasi seluruh warga kota. Fungsi Alun-alun Kota Bandung menunjukkan perubahan, dari sebuah lapangan terbuka dengan fungsi administratif kota tradisional hingga menjadi sebuah taman kota yang menjadi destinasi wisata di pusat kota sehingga memperlihatkan fungsi sosial-ekonomi.As a city that was built which takes the cosmological aspect into consideration, the square is one of the elements that formed the city of Bandung since becoming the capital of Bandung Regency on September 25, 1810. Its changing functions, which were traditionally perceived as a boundary of profane and sacred space into modern public open space, reflected a shifting in philosophical meaning. To understand the changes chronologically, this paper uses historical method which consists of four stages, namely, heuristics, critique, interpretation, and historiography. The results show that gradually the citizens of Bandung no longer look at the city square as one of the elements of the balance between the macrocosm and microcosm, but rather as a place for community gatherings. Its function changes from an open field with the administrative role of the traditional city into a city park that became a tourist destination in the city centre with socio-economic functions.
TATA KRAMA DALAM ADAT ISTIADAT ORANG KATOBENGKE DI KOTA BAU-BAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA Raodah Raodah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.888 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.475

Abstract

Tata krama dalam adat istiadat orang Katobengke mencerminkan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari dalam berinteraksi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk-bentuk tata krama orang Katobengke dalam lingkup keluarga dan masyarakat, serta tata krama dalam berbagai upacara adat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi dengan penentuan lokasi secara purposive, wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara acak dari tokoh adat, parabela, imam kampung, dan warga Katobengke, serta teknik dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa tata krama orang Katobengke sangat dipengaruhi oleh norma adat yang berlaku, dan sesuai tuntunan parabela selaku ketua adat. Bentuk-bentuk tata krama dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari meliputi tata krama dalam menyapa dan bersikap, tata krama duduk, makan dan minum, berpakaian serta berinteraksi dengan masyarakat. Sedang tata krama dalam upacara adat (haruo) meliputi: Tuturangi Lipu Morikana, Posuo, upacara perkawinan, dan beberapa ritual adat yang masih berpegang teguh sesuai ajaran leluhur orang Katobengke.Manners in the customs of the Katobengke people reflect their behavior in daily life. This paper aims to find out and describe the form of Katobengke manners within family and community, as well as manners in various traditional ceremonies. The method used in this study is descriptive with a qualitative approach. Data collection techniques are carried out through field observation by determining the location in a purposive manner, depth interviews with informans randomly selected from traditional leaders, parabela, village priests, and residents of Katobengke, as well as documentation techniques. The results of the study illustrate that manners of Katobengke people are strongly influenced by the custumory norms that apply and in accordance with parabela guidance as customary leader. The forms of manners in society and daily life include manners in greeting and behaving, manners of sitting, dressing, eating and drinking, as well as interacting with community; while manners in traditional ceremonies include Tuturangi Lipu Morikana, Posuo, marriage ceremonies, and some traditional rituals, which still adhere to the ancestors teaching of Katobengke people.           
“ELMU ANYAR” SINGKRETISME DALAM PENYEBARAN AGAMA KRISTEN DI JAWA BARAT PADA ABAD KE-19 DAN AWAL ABAD KE- 20 Raden Muhammad Mulyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.736 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.510

Abstract

Penyebaran Kristen di Jawa Barat menurut para tokoh penyebarnya pada masa Hindia Belanda dapat dikatakan terlambat apabila dibandingkan penyebarannya di wilayah lain di Indonesia. Tulisan ini menjelaskan sinkretisme dalam sejarah penyebaran agama Kristen di Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masyarakat Sunda menjadi tujuan penyebaran agama Kristen sejak pertengahan abad ke-19. Penyebaran agama Kristen tersebut dilakukan ke wilayah-wilayah yang letaknya terpencil dengan membentuk komunitas-komunitas Kristen. Penyebaran agama tersebut salah satunya dilakukan dengan memperkenalkannya sebagai “elmu anyar” (ilmu baru). Penyebaran agama Kristen dilakukan secara perlahan, salah satunya adalah dengan melakukan penyebaran secara tersembunyi. Pada awalnya penyebaran Kristen dilakukan dengan cara melakukan dialog-dialog dalam upaya mencari “elmu” kehidupan yang diwarnai dengan ajaran-ajaran Kristen tanpa menyebutkan bahwa elmu tersebut merupakan ajaran agama Kristen.    The spread of Christianity in West Java during the Dutch East Indies period according to its missionaries can be considered quite late when compared to other regions in Indonesia. This paper examines syncretism in the history of the spread of Christianity in West Java. The research method used in this paper is a historical method consisting of heuristics, criticism, interpretation and historiography. The results of the study show that the Sundanese people became the target of Christian missionaries since the mid-nineteenth century. Missionaries’ activities were sent out to regions that were located in remote areas by forming many Christian communities. One of the methods used for evangelizing was by introducing it as "elmu anyar" (new knowledge). It was carried out slowly and secretly by conducting dialogues as an effort to search secret knowledge of life colored by Christian teachings without mentioning its origin.
MEMPERTAHANKAN TRADISI: STUDI BUDAYA DI KAMPUNG KAUMAN MENARA KUDUS Moh Rosyid
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.073 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.516

Abstract

Artikel ini memotret tradisi di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai Kampung Kauman Menara yang terdiri hanya 3 RT dan 1 RW. Data penduduk Desember 2017 ada 413 jiwa, 127 KK. Data riset ini diperoleh dengan wawancara dan observasi, dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Tradisi khas dilestarikan berupa khoul (perayaan hari wafat) Sunan Kudus tiap 10 Asyura oleh Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) dan warga Kauman dan temu rutin berkala antarwarga. Tata letak kampung padat hunian dan penduduk, bangunan rumah rata-rata ditembok tinggi. Kampung ini tidak dijamah bangunan kolonial Belanda sehingga masuk kategori kampung kuno Islam dengan kekhasan adanya Masjid al-Aqsha Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus. Warganya memiliki kegiatan rutin dalam forum temu warga dalam ikatan kebersamaan berdasarkan usia dan jenis kegiatan yang menu acaranya islami. Warga mempertahankan pantangan terkait penghormatan pada Sunan Kudus. This article portrays Kauman Village of Kudus. The village is the smallest in Kudus city consisting of three RT (neighborhood units) and one RW (community units). The population is 413 people and 127 families. This paper is based on interviews and observations and applying qualitative approach. The special tradition is preserved in the form of khoul (commemoration of Sunan Kudus) every Muharram 10th (Ashura) by the Masjid Menara and Makam Sunan Kudus Foundation (YM3SK) and residents of Kauman. The layout of village dwelling is dense and the average house building is high walled. This village was not touched by Dutch colonial architectures so that it was categorized as a traditional Islamic village with the uniqueness of the Al-Aqsa Mosque, the Kudus Tower and the Sunan Kudus Tomb. Its people have regular activities such as community meeting based on age and various types of Islamic events. Its residents still maintain taboos regarding Sunan Kudus.
SISI LAIN KEHIDUPAN PREANGERPLANTERS: DARI PERBURUAN HINGGA GAGASAN KONSERVASI SATWA LIAR Budi Gustaman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.516 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.505

Abstract

Upaya pelestarian satwa liar telah muncul di Priangan sejak akhir abad ke-19. Munculnya gagasan konservasi satwa liar diawali dari kebiasaan berburu yang dilakukan para tuan kebun teh di Priangan (Preangerplanters). Studi ini mempertanyakan sebab kemunculan gagasan konservasi satwa liar akibat kebiasan berburu yang dilakukan preangerplanters. Penelitian dilakukan dengan metode sejarah dengan memanfaatkan sumber berupa arsip, buku, koran, majalah, dan internet. Temuan utama studi ini ialah kedekatan dengan alam memunculkan kebiasaan berburu sebagai proteksi diri, perlindungan tanaman perkebunan, dan rekreasi. Preangerplanters membentuk perkumpulan berburu bernama venatoria untuk mengontrol perburuan yang tidak terkendali serta berupaya melestarikan hutan Cikepuh sebagai kawasan konservasi. Kesimpulannya ialah gagasan konservasi satwa liar muncul dari ketakutan preangerplanters terhadap kelangkaan satwa buruannya. Wilayah Priangan menjadi salah satu pionir perlindungan satwa liar. Hal yang selama ini terlupakan karena upaya konservasi sangat identik dengan Buitenzorg (Bogor) sebagai poros konservasi alam di Indonesia. Wildlife conservation had emerged in Priangan since the end 19th century. The emergence of wildlife conservation idea begins with hunting habits carried out by tea plantation owners in Priangan (Preangerplanters). This study questions the cause of the emergence of the wildlife conservation idea due to hunting habits. It employs historical method by utilizing sources, such as archieves, books, newspaper, magazine, and internet. Main finding of this study is the proximity to nature led to the habit of hunting as a protection (self-safety and plantation crops), and as a pleasure. Preangerplanters formed hunting’s club called venatoria to control the uncontrolled game and preserve Cikepuh forest. The concludes is  wildlife conservation idea arises from the fear of them in the scarcity of game. Priangan is one of the forgotten pioneers because wildlife conservation refers to Buitenzorg (Bogor) which became center of nature conservation in Indonesia.
POTRET KELUARGA MATRILINEAL MINANGKABAU DALAM DUA NOVEL PENGARANG ETNIS MINANGKABAU Renti Mahkota; Aquarini Priyatna; Sri Rijati Wardiani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.438 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.504

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan perbandingan dan persamaan potret keluarga matrilineal Minangkabau yang ditampilkan dalam dua novel pengarang etnis Minangkabau, yaitu novel Negeri Perempuan karya Wisran Hadi dan novel Aku Tidak Membeli Cintamu karya Desni Intan Suri. Untuk menunjukkan potret keluarga matrilineal Minangkabau dalam dua novel pengarang etnis Minangkabau peneliti menggunakan teori sastra bandingan sebagai landasan dalam penelitian ini. Metode dalam penelitian secara khusus menggunakan metode perbandigan sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan dua bentuk potret keluarga matrilineal di Minangakabau yang ditampilkan dalam kedua novel pengarang etnis Minangkabau. Pertama keluarga yang menganut sistem matriarkal-matrilneal, yaitu pihak perempuan (ibu) yang memegang kekuasaan utama di dalam keluarga. Kedua, keluarga yang menganut sistem patriarkal-matrilineal, yaitu kekuasaan utama dipegang oleh kaum laki-laki. Kekuasaan pada potret keluarga bentuk kedua ini bukan berada di pihak ayah (suami), melainkan berada di pihak mamak (saudara laki-laki ibu).  This study aims at showing the comparison and similarities of Minangkabau matrilineal family presented in two ethnic novels entitled Negeri Perempuan by Wisran Hadi and Aku Tidak Membeli Cintamu by Desni Intan Suri. To discuss the portrait of Minangkabau matrilineal family in these two novels, the researcher used comparative literature theory to frame the study. The present study specifically used the comparative literature method as its research method. Based on the research findings, it was found that there are two types of matrilineal family in Minangkabau presented in both novels. The first type is the family which follows the matriarchal-matrilineal system. This type believes that the women (mother) side takes the main power in their family. The second type is the family which follows the patriarchal-matrilineal system. This system believes that the main power is on the men’s side. The main power in the second system is not actually on the father’s side (husband); however the main power is on the uncle’s side (the mother’s brother).
IDENTITAS ORANG TUGU SEBAGAI KETURUNAN PORTUGIS DI JAKARTA Risa Nopianti; Selly Riawanti; Budi Rajab
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.452 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.490

Abstract

Orang Tugu di Kelurahan Semper Barat merupakan sebuah komunitas keturunan Portugis yang  memiliki akar budaya dan sejarah yang cukup campuran sejak tahun 1661. Mereka berusaha untuk tetap bertahan dengan melestarikan aspek-aspek kebudayaan yang dimilikinya melalui beragam aktivitas dan tindakan-tindakan sosial sebagai upayanya untuk mendapatkan pengakuan akan identitas mereka sebagai Orang Tugu. Penelitian secara kualitatif dengan metode etnografi dan extended case method, digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Paparan data menjelaskan bahwa interaksi sosial Orang Tugu dengan kelompok-kelompok lainnya dilakukan sebagai upaya mereka untuk mempertahankan identitasnya. Hal tersebut memunculkan dua kelompok utama yaitu, kelompok penting (significant others) hubungan di antara mereka didasari oleh adanya kepentingan-kepentingan tertentu yang sifatnya saling menguntungkan, yaitu salah satunya berkaitan dengan eksistensi musik keroncong. Ada pula kelompok umum lainnya (generalized others) hubungan mereka bersifat saling membutuhkan. Kelompok yang dikategorikan dalam hubungan saling menguntungkan adalah pemerintah daerah, komunitas pemerhati budaya dan sejarah, serta penanggap keroncong. Adapun kelompok-kelompok yang dibutuhkan oleh Orang Tugu dalam kehidupan sehari-hari adalah tetangga Betawi, dan jemaat gereja.    The Tugu people in Semper Barat Village are a community of Portuguese descent who has quite mixed cultural and historical roots since 1661. They try to stay afloat by preserving their cultural aspects through various activities and social actions as an effort to get recognition of their identity as Tugu People. Qualitative methods with ethnographic approaches and extended case method are used as tools to collect and analyze data. The results explain that the social interaction of Tugu People with important groups (significant others) is carried out because of the existence of certain interests which are mutually beneficial, but there are also those that are mutually needed, namely those in other general groups (generalized others). Groups that are categorized as mutually beneficial relationships are local governments, cultural and historical observer communities, and keroncong appreciators. The groups needed by Tugu People in their daily lives are neighbors from Betawi ethnic group, and church members.
PEWARISAN NILAI BUDAYA MELALUI PRANATA PENDIDIKAN ADAT DALAM RANGKA MENDUKUNG PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER (PPK) Damardjati Kun Marjanto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.829 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.506

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan proses pewarisan nilai-nilai budaya melalui pranata pendidikan adat; mengungkapkan kendala-kendala dalam proses pewarisan; dan mengetahui peranan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pendidikan adat tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT). Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut: 1) pembelajaran budaya dalam pranata adat di lima lokasi penelitian mendukung penguatan pendidikan karakter terkait dengan nilai-nilai utama program PPK, yakni Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan Integritas; 2) Pembelajaran budaya dilakukan melalui dua cara yakni praktik langsung dan pemberian nasihat, serta aktivitas pembelajaran lebih banyak dilaksanakan di tempat terbuka/alam; 3) Beberapa kendala yang ada dalam kegiatan pranata pendidikan adat adalah masalah dana, regenerasi pengajar, pergeseran nilai dari pelaksanaan pendidikan adat; 4) Dukungan pemerintah daerah secara umum masih minim terhadap pranata pendidikan adat ini. The objective of this research is to study the transmission of cultural values through institution of traditional education; reveal the problems during the transmission process; and identify the role of the local government in the traditional education process. This is a qualitative research. Data was collected through observations, interviews, and focus group discussion. The results of the study were as follow: 1) cultural learning in traditional institutions in five research locations supports the strengthening of character education related to the main values of the PKK program, namely religiosity, nationalism, independency, mutual cooperation, and integrity; 2) Cultural learning is accomplished in two ways namely by direct practice and advice giving, and mostly carried out in open / natural areas; 3) Some of the obstacles that exist in the activities of traditional educational institutions are the problem of funding, teacher regeneration, and the shifting values of the implementation of traditional education; 4) The support of the regional government in general is still minimal for these traditional educational institutions.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue