cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
SEJARAH MUNCULNYA PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL DI INDONESIA 1970-2015 Samsudin Samsudin; Nina Herlina Lubis
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.946 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.522

Abstract

Kemajuan yang dicapai oleh negara Barat dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi, berakar pada trilogi liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Atas dasar itulah, beberapa tokoh Islam Indonesia ingin memajukan umatnya dengan trilogi tersebut. Dalam perjalanannya, tokoh Islam seperti Nurcholish Madjid dan Ulil Abshar menuai kritik dari Rasjidi dan Atiyan Ali.  Puncaknya adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa mengharamkan Islam liberal. Bagaimana gambaran sejarah masuk Islam liberal di Indonesia? Mengapa terjadi polemik Islam liberal di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, metode yang digunakan adalah metode sejarah, meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, sejarah Islam liberal di Indonesia terbagi ke dalam empat tahap, yaitu: Tahap awal ketika masih menyatu dengan pemikiran neo-modernisme. Kedua, pembentukan enam paradigma Islam liberal. Ketiga adanya kritik dan evaluasi pemikiran Islam liberal. Kemudian sebab terjadinya polemk pemikiran Islam liberal disebabkan oleh perbedaan paradigma berfikir dan metodologi memahami ajaran Islam dalam melihat realitas yang terjadi di masyarakat pada masa kontemporer. The progress achieved  by Western countries in the fields of science, technology and economics is rooted in liberalism, pluralism and secularism. For this reason, some Indonesian Muslim intellectuals want to reform their people accordingly. However, in working with these modern ideas, the polemics arose as those Muslim scholars such as Nurcholish Madjid and Ulil Abshar were criticized by Rasyidi and Atiyan Ali. This caused the MUI to issued a fatwa forbidding Liberal Islam. This study addressed two questions: How did liberal Islam come to Indonesia? Why did liberal Islam polemic occur in Indonesia? The method employed in this study is historical method which is comprised of heuristics, criticism or analysis, interpretation, and historiography.  The result of the study shows that the history of liberal Islam in Indonesia was developed into four stages. First, when the thought of liberal Islam was still integrated with neo-modernism. Second, the establishment of six liberal Islam paradigms. Third, the emergence of criticism and evaluation toward it. Fourth, the polemic of liberal Islamic thought was caused by different paradigms and methodology in understanding the teaching of Islam that is compatible with the needs of contemporary society.
PERGURUAN SILAT BANDRONG RENGGONG AMPEL DI KABUPATEN SERANG Euis Thresnawaty S
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.104 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.165

Abstract

AbstrakPencak silat merupakan seni bela diri yang berakar dari budaya asli bangsa Indonesia. Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-15 di Nusantara. Demikian pula halnya pencak silat Banten Bandrong, mulai dikenal seiring dengan berdirinya kerajaan Islam Banten. Saat ini silat asli Banten mulai kurang diperhatikan keberadaannya. Salah satu sebab ditinggalkannya seni dan budaya pencak silat asli Banten ini karena manajemen perguruan silat yang masih bersifat seadanya, padahal transformasi pengelolaan dari metode tradisional ke arah yang lebih modern mutlak diperlukan seiring dengan perkembangan zaman. Atas dasar itu, maka dilakukan penelitian mengenai Perguruan Silat Bandrong Renggong Ampel di Kabupaten Serang dengan tujuan mengungkapkan latar belakang perjalanan sejarah serta dinamika perkembangannya. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan melakukan wawancara. Pada kenyataannya dengan pengelolaan yang terorganisasi silat bandrong yang merupakan seni asli Banten ini dapat lebih dikenal oleh masyarakat luasAbstractPencak silat is a kind of martial art that has root in original culture of Indonesia. Its development and spreading were historically recorded when the ulamas (Islamic scholars) influence it along with the spreading of Islam in the Archipelago during 15th century. Pencak silat Bandrong became familiar along with the establishment of the Islamic Kingdom of Banten. Today it is gradually abandoned due to mismanagement in the organization, whereas it is necessary to transform traditional management into modern one. Based on this fact the author conducted this research in order to reveal the background of its historical course and dynamics of its development. History method andinterview were used in the research. In fact, good management could make Bandrong martial art more familiar to society.
LEMBAGA ADAT DI KASEPUHAN CIPTA MULYA DESA SINAR RESMI KECAMATAN CISOLOK KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT Ria Andayani Somantri
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.888 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.281

Abstract

AbstrakPenelitian tentang Lembaga Adat di Kasepuhan Cipta Mulya, Kampung Cipta Mulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat bertujuan untuk mengetahui hal yang mendasari lembaga adat itu terbentuk,termasukjuga struktur lembaga adat Kasepuhan Cipta Mulya. Penelitian tersebut bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan teknik pengamatan; dan wawancara mendalam kepada sejumlah informan, yang ditentukan melalui metode snowballing. Data sekunder didapat melalui studi literatur yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga adat di Kasepuhan Cipta Mulya mengacu pada aturan-aturan warisan leluhurnya yang terkristalkan dalam lembaga adat yang disebut kasepuhan. Struktur organisasi lembaga adat kasepuhan tergambarkan dalam hierarki yang didasarkan pada penguasaan tentang adat isitiadat setempat. Hierarki tersebut terdiri atas ketua adat, baris sesepuh, dan warga Kasepuhan Cipta Mulya. AbstractThis research aims to investigate the reason for the establishment of this institution, including its structure. This is a descriptive-analytical research usingqualitative approach. The author compiled primary and secondary data as well.Primary data are obtained through observation and in-depth interview with someinformants using snowballing method. Bibliographic study is conducted to getsecondary data to analyse research question. The result is, that the customary institution in Kasepuhan Cipta Mulya is referred to the rules inherited from their ancestors and crystallized in the form of customary institution called kasepuhan. The structure of the Kasepuhan is based on the ability of person in mastering adat (custom) rules. Hierarchically, it consists of ketua adat (the chief), baris sesepuh (the elders), and warga (the people) of Kasepuhan Cipta Mulya.
POTENSI DISINTEGRASI DAN RASA NASIONALISME MASYARAKAT KABUPATEN NATUNA budiana setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.6 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.526

Abstract

Kabupaten Natuna merupakan salah satu wilayah terluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sehingga dianggap mempunyai potensi disintegrasi. Terlebih, Malaysia pernah mengklaim bahwa Natuna seharusnya masuk kedalam wilayahnya. Permasalahan dalam tulisan ini adalah: (1) Bagaimana rasa nasionalisme masyarakat Natuna? (2) Adakah potensi disintegrasi masyarakat Natuna, untuk memilih menjadi bagian dari Malaysia? (3) Bagaimana upaya pemerintah untuk menjaga Natuna agar tidak terlepas dari NKRI? Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan rasa nasionalisme dan potensi disintegrasi masyarakat Natuna serta upaya pemerintah untuk menjaga Kabupaten Natuna sebagai wilayah kedaulatan NKRI. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedekatan geografis, ekonomi, dan sosial budaya dengan Malaysia, tidak menyebabkan rasa nasionalis me masyarakat Natuna rendah dan berkeinginan untuk disintegrasi. Meskipun demikian, apabila pemerintah kurang memperhatikan kesejahteraan masyarakat, potensi  disintegrasi tersebut dapat meningkat. Natuna Regency is one of outermost areas of the Republic of Indonesia that is considered to have disintegration potential. Moreover, Malaysia once claimed that Natuna should have entered to its territory. The problems in this paper are: (1) What about spirit of nationalism of people in Natuna is that geographically, economically and socio-cultural are closer to Malaysia than Indonesia? (2) Is there a potential for Natuna people to disintegrate themselves and choose to become a part of Malaysia? (3) What is government's effort to protect Natuna from being separated from the Unitary State of the Republic of Indonesia? The aims of this paper are to gauge the factors that determine the sense of nationalism and potential disintegration of Natuna community and to estimate the government's efforts to safeguard it as a part of its territory. This paper is qualitative research with data collection techniques through in-depth interviews, observations, and literature studies. The results show that the geographical, economic and socio-cultural proximity to Malaysia do not cause the Natuna people’s nationalism to be waning or want to disintegrate. However, if the government does not pay attention to people's welfare, potential for disintegration can increased dramatically.
PASANG-SURUT RELASI TIONGHOA-JAWA DI SURAKARTA: STUDI KASUS ETNIS TIONGHOA DI KAMPUNG BALONG Musa - Pelu; Hieronymus Purwanta
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.552 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.539

Abstract

Demografi multikultural membuat Surakarta rapuh secara sosial dan juga rentan terhadap konflik etnis, terutama di antara orang Tionghoa dan Jawa. Sebagian besar konflik disebabkan oleh persaingan ekonomi yang mengakibatkan kekecewaan dan kecemburuan sosial di antara kelompok etnis Jawa terhadap etnis Tionghoa. Berdasarkan permasalahan tersebut, pertanyaan penelitian yang diajukan adalah model interelasi multi-etnis apa yang dapat mengakhiri konflik? Untuk menjawab pertanyaan, penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan tiga langkah, yaitu studi pendahuluan, pengembangan model dan evaluasi model. Studi pendahuluan dilakukan untuk mengumpulkan informasi komprehensif terhadap konflik etnis dengan menggunakan metode wawancara mendalam. Tahap pengembangan model dilakukan dengan menyusun model interelasi multi-etnis. Tahap terakhir adalah evaluasi. Hasil dari penelitian ini membuktikkan model  interelasi multietnis dengan pendekatan budaya dan hubungan yang harmonis antara Tionghoa dan Jawa mendukung kegiatan ekonomi di  Surakarta, khususnya  bidang industri dan perdagangan.  Due to its multicultural demographics, Surakarta is socially fragile and also vulnerable to ethnic conflict, especially between Chinese and Javanese. Economic competition results in most conflicts that lead to a situation of social disappointment and social jealousy among the Javanese ethnic groups towards the Chinese. Based on these problems, the research question raised is what multi-ethnic interaction model can conclude the conflict? To answer the question, this research employs a Research and Development (R&D) approach with three steps, namely a preliminary study, model development and model evaluation. The preliminary study was conducted to gather comprehensive information on ethnic conflicts using in-depth interviews. The model development stage was carried out by developing a multi-ethnic interaction model. The last step is evaluation. The results of this study proved that the multi-ethnic interaction model with a cultural approach and harmonious relations between the Chinese and Javanese could support economic activities in Surakarta, especially in the fields of industry and trade.
ORANG SUNDA PERANTAU; TINJAUAN DALAM CARITA PANTUN Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.388 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.566

Abstract

Orang Sunda cenderung dikenal sebagai masyarakat yang tinggal di pedalaman/dataran tinggi. Masyarakat Sunda adalah salah satu etnis yang ada di Nusantara, dan termasuk etnis kedua terbesar jumlah penduduknya setelah etnis Jawa. Masyarakat Sunda dapat dikatakan merupakan penduduk yang tinggal di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Ciri umum masyarakat Sunda adalah berbahasa Sunda dan memiliki budaya Sunda. Penelitian ini ingin membuktikan, apakah benar orang Sunda itu perantau? Artikel ini membatasi objek penelitian pada carita pantun Sunda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan carita pantun, dapat diperoleh kesimpulan bahwa para tokoh utama dalam cerita melakukan perjalanan (merantau) dengan berbagai tujuan, yaitu mencari wilayah untuk mendirikan kerajaan baru, mencari pendamping hidup (istri), menyelamatkan dari penculikan, dan peperangan untuk memperluas kekuasaan kerajaan.    Sundanese tend to be known as people living in hinterland as well as highland region. They are an ethnic group native to Indonesia. As ethnic group, they are Indonesia's second most populous ones, after the neighboring Javanese. They have traditionally been concentrated in the provinces of West Java and Banten. Their general characteristics include Sundanese language and culture. The research aims to prove whether Sundanese carried on a wanderer tradition. The journal focuses on Carita Pantun as its research object.  A descriptive analytic with a qualitative approach has been used as the basic method of the research. In reference to Carita Pantun, it leads to a conclusion that the main characters in Carita Pantun wander for purposes, that is, managing to establish a new kingdom, looking for a life companion, escaping from kidnappers, and serving a war of expanding empire.
PIIL PESENGGIRI: POLITIK IDENTITAS KOMUNITAS LAMPUNG Zainal Arifin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.67 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.591

Abstract

Provinsi Lampung adalah salah satu cerminan wilayah multikultural yang ada di Indonesia. Multikultural yang ada di wilayah Lampung tidak bisa dilepaskan dari terbukanya komunitasnya dalam menerima kehadiran etnis lain di wilayahnya, yang tertuang dalam nilai-nilai budaya piil pesenggiri yang mereka miliki. Akan tetapi, piil pesenggiri pula sering diklaim sebagai penyebab konflik yang sering melibatkan orang Lampung. Ini menunjukkan ada paradoks cara pandang dalam memahami piil pesenggiri sebagai identitas orang Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualittif dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi, yang ditujukan untuk membantah klaim bahwa konflik yang sering terjadi di wilayah Lampung, disebabkan karena menguatnya piil pesenggiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa piil pesenggiri sebagai identitas, justru mampu menciptakan harmoni dengan etnis lain. Melalui kasus komunitas Lampung di Way Kanan, mekanisme politik pengorganisasian identitas (politik identitas) tersebut, komunitas Lampung justru mampu menguatkan identitas piil pesenggiri-nya, sekaligus mampu menciptakan harmoni di tengah masyarakatrnya. Lampung Province is a reflection of multicultural region in Indonesia. Multiculturalism in the region is related to the openness of the community in accepting the presence of other ethnic groups in the region. The principle of openness is contained in the values of the piil pesenggiri as as a part of their culture. But on the other hand, the piil pesenggiri was also often claimed as a cause of conflict involving frequently Lampungnese. This situation ilustrated the existence of paradoxes of perspective in understanding the piil pesenggiri as Lampung people's identity. The research employs a qualitative approach with interview and observation data collection techniques. The research purposes is to obtain findings to refute the claims of the piil pesenggiri as trigger of frequent conflict in Lampung. The results of the study demonstrates the facts contradicting the claims. The piil pesenggiri as identity actually was even able to create harmony with other ethnic groups. In the case of the Lampungnese community in Way Kanan, through the political mechanism of organizing identity (politics of identitiy), the Lampungnese community was able to strengthen the identity of the piil pesenggiri while at the same time being able to create harmony in the community.
Tinjauan Buku: Art, Trade, and Cultural Mediation in Asia Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.173 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.609

Abstract

PEMBREDELAN SURAT KABAR PIKIRAN RAKJAT TAHUN 1965 Trisna Awaludin Harisman; Raden Muhammad Mulyadi; Widyo Nugrahanto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.728 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.528

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang pembredelan surat kabar Pikiran Rakjat pada 1965 setelah munculnya peraturan bagi pers untuk berafiliasi dengan partai atau organisasi politik tertentu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah kritis yang terdiri dari empat tahapan kerja: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada awal tahun 1965, kegiatan pers surat kabar Pikiran Rakjat sempat diberhentikan oleh pemerintah disebabkan terlambatnya surat kabar ini untuk terlibat dalam aktivitas politik. Pada 24 Maret 1966 atas dorongan Pangdam Siliwangi para wartawan yang di wakili Sakti Alamsyah sepakat untuk melakukan kerjasama untuk menerbitkan surat kabar Angkatan Bersenjata Edisi Jawa Barat. Belum setahun surat kabar ini terbit, Kementeriaan Penerangan mencabut kembali peraturan tentang afialiasi dalam dunia politik. Kondisi ini menyebabkan pada 24 Maret 1967 surat kabar Angkatan Bersenjata Edisi Jawa Barat berubah nama menjadi Harian Umum Pikiran Rakjat dibawah pemimpin umum redaksi yaitu Sakti Alamsyah.    The purpose of this study is to determine the background to the banning of the Pikiran Rakjat Newspaper in 1965. The ban came after the government issued a regulation of requiring the press to be affiliated with certain political parties or organizations. This study uses a critical historical research method consisting of four stages of work, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results of this study show evidence that in the beginning of 1965 the government banned the newspaper because it was considered too late to engage in political activity. At the instigation of Commander of Military Regional Command/Siliwangi, it was on 24 March 1966 that journalists represented by Sakti Alamsyah agreed to cooperate in publishing Angkatan Bersenjata Newspaper West Java edition. However, when it was not yet a year old, the Ministry of Information revoked the regulations on obligating the press to affiliate with the political world. It was on March 24, 1967 that Angkatan Bersenjata Newspaper West Java edition consequently changed its name to Harian Umum Pikiran Rakjat and was operated under the editor-in-chief Sakti Alamsyah.
KEHIDUPAN DAN AKTIVITAS BUDAYA BAHARI MASYARAKAT NELAYAN NAGARI AIRHAJI KABUPATEN PESISIR SELATAN Sri Haryati Putri; Gusti Asnan; Muhammad Nur
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.268 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.553

Abstract

 Tulisan ini membahas tentang beragam budaya atau tradisi lokal yang dilakukan oleh masyarakat pesisir. Tradisi yang dilakukan selalu berhubungan dengan kehidupannya sebagai seorang nelayan dan umumnya dilakukan di tepi pantai, tidak jauh dari tempat aktivitas sehari hari. Menggunakan metode penelitian kebudayaan, tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas akan budaya maritim yang dimiliki oleh masyarakat pesisir di Nagari Airhaji. Budaya yang konon berasal dari zaman nenek moyang masih dilaksanakan hingga kini oleh masyarakat nelayan di Nigari Airhaji. Kebiasaan tersebut menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat pesisir di nagari Airhaji yang membedakannya dengan masyarakat daerah Darek atau daerah pedalaman lainnya. Dengan adanya budaya bahari, dapat turut melestarikan kebudayaan atau tradisi lokal, juga dapat membuat masyarakat peduli dan menjaga kekayaan alam, karena semua budaya atau tradisi yang dipraktikkan selalu berhubungan dan bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur dan menghormati laut dengan beragam ritual yang telah dilakukan. The paper discusses on how coastal communities to carry out their traditions. The traditions always related to the lives of fishermen. They usually carried those out in foreshore. The paper uses research methods such as Cross-Cultural Research Methods for the reason that the maritime cultural life of Nagari Airhaji coastal communities could be more widely known. The fishermen community in Nagari Airhaji keep managing to carry the maritim culture out as their heritage. It characterizes the coastal community of Nagari Airhaji and distinguishes them from the Darek communities and the other inland areas communities. The existence of maritime culture, which is always purposed to express gratitude and to honor the sea through variuous ritulas, has encouraged positively the preservation of culture and tradition and also has driven the community to consider and protect more the natural resources.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue