cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
TRADISI MENDIRIKAN IMAH GEDE DAN RUMAH WARGA DI KASEPUHAN SINAR RESMI KABUPATEN SUKABUMI Nandang Rusnandar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.034 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.87

Abstract

AbstrakSalah satu komunitas adat Kasepuhan Sinar Resmi yang berada di Kabupaten Sukabumi, banyak melakukan ritual. Dan salah satu ritus yang dilakukannya adalah ritus dalam mendirikan rumah dan rumah adat. Tradisi ritus ini dilakukan dari sejak awal pembangunan hingga selesai mendirikan rumah, sehingga pembangunan dapat terselesaikan dengan baik dan keluarga yang akan menghuni rumah tersebut dapat hidup dengan selamat. Pembangunan sebuah rumah tak lepas dari ritus yang secara adat selalu dipatuhi dan dilaksanakan dengan benar, hal tersebut sangat erat kaitannya dengan sistem kepercayaan yang mereka anut. Hal itu dilaksanakan, karena mereka takut akan melanggar pamali. Demikian pula rumah dan pola perkampungan yang ada di Kasepuhan Sinar Resmi erat hubungannya dengan alam sekitar, sehingga rumah dapat dianalogikan sebagai ‘mikro kosmos’ atau bumi ‘makro-kosmos’ yang berarti alam semesta. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritus tradisi mendirikan rumah dan rumah adat merupakan kearifan tradisional yang mampu memberikan keharmonisan antara manusia dengan alamnya dan keharmonisan kehidupan sosialnya. AbstractOne of the indigenous communities of Kasepuhan Sinar Resmi are in Sukabumi performed many ritual. One rite is a rite in setting up homes and custom homes. This tradition carried on since the beginning of construction till finished, so the building can be resolved properly, and the families who will inhabit the house can live safely. Build a house could not be separated from the customary rite which implemented properly, it is very closely related to the belief system that theypossessed. They do that thing because they fear would violate the taboos (pamali). Similarly, the house and the existing settlement pattern in the Kasepuhan Sinar Resmi closely related to the environment, so the house can be analogized as 'micro cosmos' or the earth 'macro-cosmos' which means as a universe. This research is descriptive with qualitative approach. The results showed that the rite tradition and building a custom house is a traditional wisdom that is able to provide harmony between human and nature and the harmony of social life.
STRUKTUR SOSIAL, POLITIK, DAN PEMILIKAN TANAH DI PRIANGAN ABAD KE-19 Mumuh Muhsin Z.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.343 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.253

Abstract

AbstrakAbad ke-19 bagi Priangan khususnya dan Pulau Jawa umumnya merupakanmomen penetrasi kolonial yang sangat intens. Hal ini dilakukan melalui pelibatanhampir sebagian besar komponen masyarakat dalam mengusahakan tanamankomersial yang laku di pasar internasional, seperti nila, kopi, teh, dan kina. Gunamengoptimalkan pencapaian target-targetnya, pemerintah kolonial melakukanrekayasa tatanan sosial dan politik masyarakat pribumi. Pola rekayasa sosial politikyang dilakukannya tidak selalu tetap. Perubahan selalu dilakukan atas nama dan demikepentingan pemerintah kolonial yakni mendapatkan keuntungan ekonomi sebesarbesarnyabagi kesejahteraan negeri induknya, Kerajaan Belanda.Mobiltas sosial terjadi semakin dinamis, baik yang bersifat vertikal maupunyang horizontal. Hal itu terjadi terutama setelah dibuka peluang bagi pribumi untukmemasuki sekolah. Munculnya elit baru hasil dari sistem pendidikan ini berefek padaperubahan-perubahan sosial. Satu sisi ketidakmungkinan kelompok sosial menengah(priyai rendah) masuk birokrasi pemerintah berakhir sudah. Pola rekruitmen pegawaipemerintah bukan lagi didasarkan pada faktor “darah” (geneologis), tapi faktorkemampuan dan prestasi yang direpresentasikan dalam bentuk ijazah. Sisi lain,secara kuantitas muncul elit-elit baru di tengah-tengah masyarakat. Artinya juga,konsekuensi dari perubahan sosial seperti itu, kekuatan politik yang semula hanyaterpusat pada elit tradisional mengalami pemudaran karena semakin terbagi denganelit-elit baru. Tidak hanya terhadap aspek sosial dan politik penduduk pribumi, tetapipengaturan-pengaturan mengenai tataguna tanah pun senantiasa dilakukan. Tanahsebagai faktor produksi yang cukup penting mesti direkayasa sedemikian rupa demikepentingan pemerintah kolonial. Kombinasi dari politisasi aspek sosial, politik, danpertanahan tak pelak lagi telah menguntungkan pemerintah kolonial.AbstractIn 19th century, Priangan – and Java in general – faced an intensive colonialpenetration. The Dutch colonial government forced people to cultivate some crash crops which were highly demanded in international market, such as nila (IndigoferaL), quinine (Chincona spp.), tea (Camellia sinensis) and coffee (Coffea). The colonialgovernment constructed social and political structue among native Indonesians inorder to gain their goals and targets. Land, as an important factor of productions hadto be reformed for the sake of the colonial government. Land reform was established,allowing new elites to emerge. These new elites had changed traditional socialstructure, making traditional elites less powerful among their society.
SANG KURIANG UTUY T. SONTANI DAN MITOSNYA DALAM PERSPEKTIF SASTRA BANDINGAN Yeni Mulyani Supriatin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.659 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i3.169

Abstract

AbstrakSang Kuriang karya Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai drama fenomenal dalam sejarah sastra drama Sunda. Drama yang ditransformasi dari legenda Sangkuriang itu dikritisi sebagai drama yang paling inovatif jika dibandingkan dengan Sangkuriang pengarang lain. Artikel ini bertujuan menggali dan menelusuri makna  drama Sang Kuriang karya Utuy Tatang Sontani dalam perspektif sastra bandingan. Topik utama dalam artikel ini berkaitan dengan pemikiran Sang Kuriang dengan mengangkat beberapa masalah (1) bagaimana pemikiran Sang Kuriang dalam menghadapi ketidakadilan? (2) bagaimana makna drama Sang Kuriang jika dibandingkan dengan mitosnya? Metode penelitian menerapkan teknik penelitian perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Utuy dalam drama Sang Kuriang telah berhasil “menghidupkan” kembali tokoh lama, Sang Kuriang yang telah menjiwainya dengan pikiran dan paham baru. Sang Kuriang karya Utuy tampil dengan versi dan makna baru yang berbeda dengan mitosnya. Sang Kuriang, drama dalam bentuk libretto karya Utuy Tatang Sontani dalam khazanah sastra drama Sunda ditempatkan sebagai drama Sunda pascakemerdekaan. Abstract            The Kuriang works Utuy Tatang Sontani regarded as phenomenal drama in the history of Sundanese literature. The Drama which transformed from the Sangkuriang legend, was criticized as the most innovative drama than other Sangkuriang author. This article aims to explore and discover the meaning of the Kuriang drama works Utuy Tatang Sontani in the perspective of comparative literatur. The main topic in this article related to the Kuriang's thought to raise the issue of (1) how the Kuriang thinking in the face of injustice? (2) how to play the Kuriang significance when compared to the myth? This research used the techniques of comparative research. The results showed that the Kuriang Utuy drama has managed to "revive" the old figure back, the Kuriang that has been animating with new thoughts and understanding. The Kuriang Utuy works performed with the new versions and different meanings to the myth. Utuy Tatang Sontani's  works, The Kuriang drama in the form of the libretto was the literary treasures of drama Sundanese post-independence .
RASINAH: MAESTRO TARI TOPENG INDRAMAYU Lasmiyati .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.773 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.110

Abstract

AbstrakRasinah adalah maestro yang peduli pada kesenian tradisional Topeng Indramayu. Ia lahir dari keluarga seniman, ayahnya seorang dalang wayang kulit dan ibunya seniman ronggeng. Ia penari topeng yang handal. Kiprahnya di dunia topeng dikenal ke mancanegara. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui siapakah Rasinah dan bagaimana kiprahnya sebagai penari topeng di Indramayu. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh informasi bahwa Rasinah lahir di Pamayahan Lohbener Indramayu tanggal 5 Januari 1929. Ia dalang topeng turunan dari neneknya. Ayahnya merupakan dalang wayang kulit dan dalang topeng, ibunya seniman ronggeng. Ia belajar menari topeng sejak usia tiga tahun. Tahun 1960-an Rasinah mengalami masa kejayaan, namun tahun 1970-an, ia mengalami masa surut seiring penggemar tari topeng beralih ke jenis kesenian organ tunggal dan tarling. Tahun 1994 ia bertemu Endo Suanda, kiprahnya sebagai penari topeng kembali bangkit. Ia dipromosikan tampil di beberapa negara. Sabtu 15 Maret 2008 Rasinah mewariskan Topengnya kepada cucunya, Aerli Rasinah. Tanggal 7 Agustus 2010 Rasinah meninggal dunia. Ia mendapat penghargaan sebagai penari dan pelestari Topeng Indramayu, di antaranya Lifetime Achievement dalam Festival Topeng Nusantara 2010. AbstractRasinah was a maestro who has great concern about Indramayu traditional arts of Tari Topeng or the Mask Dance. She was born into an artist family. Her father was a puppets shadow play master and her mother was a Ronggeng dancer. She is a brilliant Topeng dancer. Her role in Tari Topeng known in foreign countries. This research was conducted to find out who Rasinah is, and what her role in the development of Topeng dance of Indramayu. This research used historical method, which consist of four phases: heuristics, critics, interpretation, and historiography. Rasinah was born in Pamayahan Lohbener Indramayu, January 5, 1929. Her mastery of Topeng dance she inherited from her grandmother. Rasinah has learned dance since 3 years old. The 1960s witnessed the heyday of her performance. However, one decade later her reception declined. People more interested in Tarling and organ tunggal instead of Topeng dance. After Rasinah met Endo Suanda in 1994, her role in Topeng dance started again. She promoted by Endo Suanda to perform in the couple of countries. Rasinah officially bequeath her role in Topeng dance to her granddaughter, Aerli Rasinah on March 15, 2008. On August 7, 2008, Rasinah passed away. She received an award as a dancer and conservationist of Topeng Indramayu in Topeng Festival Nusantara 2010. 
SEJARAH KERAJAAN SUMEDANG LARANG Euis Thresnawaty S.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3912.064 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.276

Abstract

AbstrakMenelusuri sejarah keberadaan sebuah kerajaan merupakan salah satu upaya melakukan revitalisasi dengan semangat reformasi dengan mengambil hal-hal yang baik dan membuang yang buruk. Kerajaan dalam sejarah bangsa Indonesia menyimpan cerita kejayaan dengan berbagai pencapaian keunggulan budaya. Hal ini dapat menjadi pelajaran dan sumber kearifan di dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar itu maka dilakukan penelitian  mengenai sejarah Kerajaan Sumedang Larang dengan tujuan untuk mengungkap proses berdiri dan berkembangnya. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah. Ternyata Kerajaan Sumedang Larang memiliki catatan sejarah yang cukup panjang, karena mengalami tiga masa dalam catatan sejarahnya, yaitu saat didirikan masa klasik menjadi kerajaan bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran, menjadi kerajaan Islami dan merdeka, serta menjadi kabupaten di bawah Kerajaan Islam Mataram.   AbstractTracing the history of a kingdom is one of the efforts  to revitalize the spirit of good old things and abandoning bad ones. In the history of Indonesian people kingdoms have contributed to the glorious story of the people’s cultural achievements. We can learn our lessons from the old wisdoms for the benefit of our lives today. Based on this point of view, the author has conducted a research on the Kingdom of Sumedang Larang in order to know its process of esblishment and development. History method is used in this research. Actually, Sumedang Larang had a quite long records of history because it had witnessed three periods of time: a) as a vassal of the Sunda Kingdom of Pajajaran in its classical period; b) as an independent Islamic kingdom, and c) as a kabupaten (regency) under the Islamic Kingdom of Mataram. 
SEJARAH SENSOR FILM DI INDONESIA Masa Hindia Belanda dan Pendudukan Jepang (1916 – 1945) Heru Erwantoro
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.134 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.192

Abstract

AbstrakBanyak persoalan di dunia perfilman Indonesia, salah satunya masalah penyensoran. Untuk menemukan akar permasalahan mengenai sensor film dilakukan penelitian sejarah dengan menggunakan metode sejarah. Dari penelitian ini didapatkan bahwa landasan (motif, tujuan, ideologi) yang berbeda yang diterapkan dalam penyensoran mengakibatkan hasil yang berbeda. Pada masa Hindia Belanda, dihasilkan film-film lokal yang bergenre Hollywood penuh dengan adegan seksual dan kekerasan. Film yang demikian itu, sebagai hasil dari politik pemerintah penjajahan Hindia Belanda yang menjadikan film sebagai media untuk merusak mentalistas rakyat Hindia Belanda. Sedangkan pada masa pendudukan Jepang, pemerintah sangat berkepentingan untuk mendapat dukungan dari masyarakat luas guna kepentingan perang melawan Sekutu. Maka, dihasilkanlah film-film dokumenter yang berbasiskan ilmu pengetahuan sebagai media propaganda yang dapat memaksimalkan mobilisasi rakyat. Kedua pemerintahan itu tidak bermaksud membangun dunia perfilman di Hindia Belanda, mereka hanya menggunakan film untuk kepentingannya masing-masing. AbstractThere are many problems in Indonesian film cinema, which one is censorship. For found to root of the censorship film problems done by history research with history method. From result of this research, we founded that different basic of motivation, goal, and ideology which applicated in censorship to result in different produc too. Era Ducth Indies, produced local films with Hollywood genre full of sexual and violence. Those films as produc from political colonial Hindia Belanda which films as media for disturbed mentality of Hindia Ducth people. Whereas era Japanese, the government needs support from the people for war winning versus America. So that, era Japanese occupation produced documenter films which siences based as propaganda media which can be maxima mobilization the people. Two of government not means to develop films sector, they use film only for interesting by self.
SASADU: ARSITEKTUR TRADISIONAL JAILOLO HALMAHERA BARAT Mezak Wakim
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1395.028 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.78

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji arsitektur tradisional masyarakat Jailolo, yakni rumah adat sasadu. Rumah adat ini merupakan tempat dilaksanakannya ritual masyarakat Jailolo Halmahera Barat. Rumah adat sasadu berlokasi di Desa Taraudu, Kabupaten Halmahera Barat. Konstruksi rumah adat sasadu didirikan langsung di atas tanah. Bangunan ini berbentuk bidang geometris empat persegi panjang yang mencerminkan bentuk kebudayaan masyarakat Jailolo pada masa lalu. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap bentuk dan fungsi ruang, struktur bangunan, ragam hias, dan kosmologi dalam asrsitektur sasadu. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil peneltian menunjukkan bahwa bangunan sasadu berbentuk bidang geometris empat persegi panjang yang terbagi atas susunan antara lain (1) Ruang tengah; (2) Ruang samping, dengan susunan konstruksi atas terdiri atas atap samping dengan kemiringan rendah berpaut pada pinggir atas ruang tengah yang bersudut atap lancip. Letak bangunan arah timur-barat. Sasadu terdiri atas susunan atas dengan kemiringan rendah memiliki atap tengah berbentuk segi tiga sama kaki yang tinggi lancip. Dapat disimpulkan bahwa sasadu memiliki tipologi geometris dalam bentuk empat persegi, dengan susunan atap lancip berbentuk segi tiga dan hiasan najung perahu pada kedua puncak ujung bubungan yang mencerminkan falsafah hidup masyarakat Jailolo pada umumnya. AbstractThis study examines the traditional architecture of Jailolo society, namely custom house Sasadu. This house is a ritual execution of public Jailolo West Halmahera. Sasadu custom house is located in the village Taraudu, West Halmahera. Sasadu custom house construction erected directly on the ground. The building shaped are rectangular field of geometric shapes that reflect the culture of the people Jailolo in the past. The purpose of this study is to reveal the shape and function space, structure, decoration, and cosmology in Sasadu architecture. The method of the research is descriptive with qualitative approach. Data collection techniques such as interviews, observation, and literature. Research findings show that the building of Sasadu are geometric shaped rectangular field that is divided into the composition include (1) Living room; (2) side room, with a composition consisting of a roof construction on the side with the lower slope of the interlock on the upper edge of the angled roof of the living room taper. The layout of the building are east-west direction. Sasadu consists of arrangement on the lower slope of the roof of the center has an isosceles triangular taper high. It can be concluded that Sasadu have geometric typology in the form of a square, with a pointed roof arrangement and triangular decoration najung boat on both ends of the ridge crest which reflects the philosophy of life of Jailolo society in general.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PETILASAN SUNAN KALIJAGA DAN TAMAN KERA DI KOTA CIREBON Hermana .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.381 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.244

Abstract

AbstrakSunan Kalijaga merupakan salah seorang wali penyebar Agama Islam di Pulau Jawa. Dia adalah seorang wali yang sangat konsern terhadap budaya asli Nusantara. Keberadaan petilasan Sunan Kalijaga dan Taman Kera di daerah Cirebon mempunyai persepsi bagi masyarakat pendukungnya, baik dilihat dari segi sosial maupun dari segi ekonominya. Peziarah yang datang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda satu sama lainnya, mulai dari hanya sekedar mengiirim do’a kepada para arwah orang yang meninggal, sampai pada keinginan untuk mengubah taraf hidup secara ekonomis. Para Pejiarah mempunyai pandangan bahwa mengunjungi Petilasan akan mendapatkan barokah para wali. Hal ini menjadi suatu kenyataan bahwa dari waktu ke waktu pejiarah terus bertambah. Masyarakat dapat mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sifat, tingkah laku dan kegigihan Sunan Kalijaga dalam memperjuangkan keyakinannya, dalam menyebarkan Ajaran Islam di Nusantara. AbstractSunan Kalijaga was one of Islam spreader in the island of Java. He was interested in the aboriginal cultures of Indonesian archipelago and made them his own concern. Petilasan (feature) of Sunan Kalijaga and Taman Kera (the garden of apes) are socially and economically important for followers of Sunan Kalijaga. There are many pilgrims coming to these sites, hoping to get blessings from the wali (holy person) either by praying for the deads or asking a better life. These pilgrims are increasing over times. They think that by visiting these sites they will have something to learn from Sunan Kalijaga especially in the way he did in disseminating Islam di Java.
REGENERASI TOPENG RANDEGAN Ria Intani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.391 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i3.12

Abstract

Topeng Randegan is one of the types of art that developed in the village of Randegan, both West and East Randegan, Jatitujuh District, Majalengka Regency. Topeng Randegan in the village of East Randegan is "a continuation" of the topeng beber that develops the village of Beber, Ligung District, Majalengka regency. The research on this art is to know how the regeneration of the TopengRandegan. In case that there is only one maestro of Topeng Randegan in Randegan East Village and have entered the old age, so it is assumed that Topeng Randegan is endangered.  This study uses qualitative method and the research findings are outlined descriptively. The results show that there is only one studio that develops Topeng Randegan. Thus,Topeng Randegan attempts to sustainability, and passes on to the younger generation through non-formal education (courses). But, it is unfortunate that the learners come only in short-term period. They learn dance Topeng Randegan not for a purpose or goal as a dance artist, caused by school work. Therefore, the learning process is instant, andthe result is only for performing.
PENANAMAN NILAI BUDAYA MELALUI PERMAINAN ANAK DI KABUPATEN GARUT Enden Irma Rachmawaty
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.943 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.211

Abstract

AbstrakPenelitian yang berjudul Penanaman Nilai Budaya melalui Permainan anak di Kabupaten Garut ini, bertujuan mengkaji nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan. Pengakajian nilai-nilai budaya ini menggunakan metode deskriptif analisis. Apabila kita amati tentang jenis-jenis permainan anak dewasa ini, keberadaannya sudah kurang diminati bahkan kurang mendapat perhatian dari masyarakat pemiliknya, namun bila kita mendalami unsur-unsur yang terkandung dalam permainan anak-anak tersebut, banyak sekali nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal yang tertanam dalam permainan anak, nilai budaya tersebut salah satunya adalah bentuk ketahanan budaya. Selain itu dalam permainan anak-anak itu banyak sekali nilai-nilai pembelajaraan yang bersifat demokratis (keadilan dan penerapan sanksi bagi yang melanggar) dan untuk belajar memulai kehidupan sosial anak (nilai untuk kerjasama dan menumbuhkan hasrat untuk berpikir dan berstrategi) dan belajar menjadi seorang pemimpin. AbstractThis research entitled The Cultivation of Cultural Values through Childs Games in Garut District, aims to to examine the culture values contained that contained in child and. This culture values research is using an deskriftif analysis method. If we watch about the recent child games, its existance is alreadylossing the interst from its onner, but if we explore deeper the contained element on these chil games, there lot of philosphical values and the local wisdom embendded on it. And one of them is culture resilience. Aside from these child games have a lot of democratically learning values (justice and purishmaeat for the the ones who discovery) and to start the social living (cooperative values and growing ambition’s to think and to from strategies) and also to learn to be a team leader.

Page 9 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue