cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
DAMPAK KAPITALISME PERKEBUNAN TERHADAP PERUBAHAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT DI KAWASAN SUBANG 1920-1930 Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.84 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.187

Abstract

AbstrakSektor perkebunan memiliki peran yang besar dalam dinamika masyarakat Indonesia sejak masa kolonial hingga sekarang. Dengan kata lain, sejarah Indonesia  tidak dapat dipisahkan dari sektor perkebunan. Keterkaitan itu yang mencuatkan pandangan bahwa sejarah kolonialisme Barat di Nusantara tidak lain adalah sejarah perkebunan. Hal tersebut tergambarkan dalam kenyataan, bahwa selama lebih dari satu abad, perkebunan menjadi aspek terpenting pada masa penjajahan. Berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia tumbuh sebagai konsekuensi logis kehadiran perkebunan. Berkembangnya industri perkebunan mengubah segi-segi kehidupan masyarakat secara mendasar dengan masuknya faktor produksi, seperti tanah, tenaga kerja, dan modal. Di kawasan Subang, sejak awal abad ke-19, berdiri tanah partikelir Pamanukan dan Ciasem yang kemudian mengembangkan berbagai perkebunan besar yang berorientasi ekspor. Sejumlah perkebunan mengalami perkembangan yang pesat di bawah kepemimpinan Hofland di pertengahan abad ke-19 sampai paruh pertama abad ke-20. Penelitian yang mempergunakan metode sejarah ini bertujuan menjelaskan keberadaan industri perkebunan dalam konteks perubahan kebudayaan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat setempat yang hidup dalam tradisi agraris tradisional  harus beradaptasi dengan ekonomi perkebunan. Selain itu, para pendatang yang berasal dari berbagai daerah juga memberi corak yang khas dalam perubahan budaya masyarakat. Budaya masyarakat yang terikat dengan ekonomi subsistensi berubah menjadi ekonomi uang sehingga terjadi perubahan kebudayaan. AbstractPlantage sector has a great influence on the dynamics of Indonesian society since the colonial era until now.  With other words, the history of Indonesia cannot be divided with plantage sector.  Colonialism in Nusantara was affected by the history of the plantage history itself. For more than one century, plantage became the most important thing in colonialism era.  Economic and social reality in Indonesia grows up as logical consequences of plantage appearance.  The dynamics of plantage sector has changed the society, especially with the entry of productions factor, such as land, labor, and capital.  In Subang area, since the beginning of the 19th century, pop out the private land of Pamanukan and Ciasem which branching out big company of plantation and focused on export.  Number of plantage faced rapidly grow in the middle of 19th until beginning of 20th century under the hand of Hofland as the leader.  The purpose of the research is to describe the existences of plantage industry in the context of culture changed in society.  The result of the research show us that the society who lived in traditional agrarian must adapt with the plantage economics.  Besides that, comers from many areas also influenced the changing of cultural society.  The culture of the society which bound up with the economy has changed become capitalist economy, in such a way changed the culture itself.
POLITIK DAN PERDAGANGAN KOLONIAL BELANDA DI PONTIANAK Hasanuddin Hasanuddin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.45 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.73

Abstract

AbstrakPontianak mendapat perhatian kolonial Belanda setelah Inggris melakukan perdagangan di Kalimantan Barat. Persaingan dagang antara Belanda dan Inggris membawa pengaruh bagi perdagangan di Pontianak. Kemajuan perdagangan menarik perhatian kolonial Belanda untuk menguasai Pontianak. Kolonial Belanda membatasi kekuasaan Sultan Pontianak melalui perjanjian-perjanjian membawa dampak sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Eksploitasi kolonial Belanda melahirkan perubahan-perubahan baru dalam hubungan kekuasaan kongsi-kongsi Cina dan monopoli perdagangan di Pontianak. Kolonial Belanda semakin mempertegas kekuasaannya di Pontianak setelah Inggris mengesahkan James Brooke sebagai wakil pemerintahannya di Kalimantan Utara. Terdapat interelasi yang dinamis antara perubahan struktur politik dan ekonomi terhadap perubahan sosial masyarakat di Pontianak. Hubungan komunikasi melalui jaringan perdagangan antarpulau telah mendorong para pedagang sebagai komunitas baru membentuk dan mendirikan perkampungan suku bangsa di Pontianak. Hubungan yang dinamis antara Pontianak dengan daerah-daerah di Kalimantan Barat terutama Sambas, Mempawah, Landak, Sanggau, Sintang, Matan, dan Sukadana telah membawa kemajuan politik dan ekonomi Pontianak sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan Residen Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu studi pustaka dengan mengumpulkan data-data sejarah, dengan menguraikan suatu peristiwa ke dalam bagian-bagiannya dalam rangka memahami kebijakan politik dan perdagangan kolonial Belanda di Pontianak. Abstract Pontianak had an attention of Dutch colonial after British trade in West Kalimantan. Trade competition between the Netherlands and the United Kingdom had an impact on trade in Pontianak. The pprogress attract the attention of Dutch colonial to master Pontianak. The Dutch Colonial control the power of the Sultan of Pontianak through agreements and bring the impact in the social, political, economic, and cultural. Dutch colonial exploitation brought changes in the power relations of chinesse allied and the monopoly of trade in Pontianak. The Dutch colonial emphasized rule in Pontianak after United Kingdom endorses James Brooke as a representative government in North Kalimantan.There is a dynamic interrelation changes in political and economic that brought change social structures in Pontianak. The communication links through a network of inter-island trade has prompted traders as new communities formed and founded the settlement of ethnic groups in Pontianak. The dynamic relationship between Pontianak and West Kalimantan areas such as Sambas, Mempawah, Landak, Sanggau, Sintang, Matan, and Sukadana has brought political and economic progress.And declared Pontianak as a center of commerce and government Resident West Kalimantan. This study uses the history of the literature by collecting historical data, describing an event into its parts in order to understand the political and trade policies of the colonial Dutch in Pontianak.
WAYANG GOLEK DARI SENI PERTUNJUKAN KE SENI KRIYA (Studi tentang Perkembangan Fungsi Wayang Golek di Kota Bogor) Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.562 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i2.239

Abstract

AbstrakWayang golek adalah suatu jenis seni pertunjukan tradisional yang telah menjadi bagian dari jati diri orang Sunda. Perkembangan dunia hiburan yang kini lebih didominasi oleh jenis-jenis kesenian modern, telah mengakibatkan semakin langkanya pertunjukan kesenian wayang golek dipergelarkan.Dalam pada itu, perkembangan dunia pariwisata telah menciptakan karya baru bagi wayang golek, yaitu sebagai barang souvenir. Maka fungsi wayang golek pun berkembang dari seni pertunjukan menjadi seni kriya. AbstractWayang golek is one of traditional entertaining art and it has become identity of Sundanese people. The growth of modern entertainmen, which more dominated by a modern art, it caused events of traditional art such as wayang golek is more dificult to find.Mean while,growing of tourism industry has made a new change for wayang golek. In this case wayang golek has become a souvenier. So, there is a change of wayang golek function from entertaining art to be handycraft. 
TRADISI LISAN DAN IDENTITAS BANGSA: STUDI KASUS KAMPUNG ADAT SINARRESMI, SUKABUMI Yeni Mulyani Supriatin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.981 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.155

Abstract

Abstrak    Tradisi lisan adalah warisan leluhur yang banyak menyimpan kearifan lokal, kebijakan, dan filosofi hidup yang terekspresikan dalam bentuk mantera, pepatah-petitih, pertunjukan, dan upacara adat. Tradsi lisan, yang terdapat di Nusantara, sekaligus juga menyimpan identitas bangsa karena pada tradisi lisan terletak akar budaya dan akar tradisi  sebagai subkultur atau kultur Indonesia. Beberapa isu penting yang menghadang Indonesia saat ini, yakni kemiskinan, ketimpangan sosial, identitas, dan nasionalisme. Salah satu upaya penguatan identitas dan ideologi nasionalisme adalah dengan jalan memberikan perhatian yang lebih pada pembangunan dan pengembangan budaya. Dalam kaitan itu, makalah ini mengangkat kasus kampung adat di Sinarresmi, Sukabumi, yang memperlihatkan bagaimana komunitas adat di kampung tersebut mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari sumber daya alam yang ada di kampung tersebut. Mereka mengelola alam tanpa merusak alam, secara ekonomi bisa menafkahi diri mereka dari alam di lingkungan tersebut dengan pranata sosial yang berjalan harmonis.Penelitian ini menerapkan teori yang berkaitan dengan tradisi lisan yang dikemukakan, antara lain oleh Walter J. Ong, Vansina,  dan Ikram, sedangkan metode yang digunakan adalah metode modern yang dipaparkan oleh Danandjaja. AbstractOral tradition is the heritage of the many stores local knowledge, wisdom, and philosophy of life is expressed in the form of incantations, proverbs-proverb, performances and ceremonies. Oral tradition , contained in the archipelago, as well as keep the identity of the nation because the oral tradition is cultural roots and the roots of the tradition as a subculture or culture of Indonesia. Some of the important issues facing Indonesia today, namely poverty, social inequality, identity, and nationalism. One of the efforts to strengthen the identity and ideology of nationalism is by giving more attention to the construction and development of culture. In that regard, this paper raised the case of indigenous villages in Sinarresmi, Sukabumi, which shows how the indigenous communities in the village is able to meet the daily living needs of the natural resources that exist in the village. They manage nature without destroying nature, can economically provide for themselves from the natural environment with a harmonious social order. This study applies the theory of oral traditions relating to the proposed, among others, by Walter J. Ong, Vansina, and Ikram, while the methods used are modern methods presented by Danandjaja.
PERANAN KIAI DAN PESANTREN CIPARI GARUT MENGHADAPI DI/TII (1948-1962) Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.547 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.205

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan mengungkap peranan salah satu pesantren bersejarah di Garut Jawa Barat, yaitu Pesantren Cipari. Pesantren ini sejak awal perkembangannya memang lekat dengan perjuangan kebangsaan. K.H. Yusuf Tauziri dan beberapa kiai lainnya memimpin gerakan Sarekat Islam di Garut tahun 1920 hingga 1930-an. Ujian kesetiaan terhadap Republik terjadi ketika gerakan DI/TII di tahun 1948 melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Pihak pesantren dengan tegas mendukung pemerintah, sebagaimana terepresentasikan dalam sikap pemimpinnya, K.H. Yusuf Tauziri. Maka, konflik antara pihak pesantren dan pasukan DI/TII tidak terhindarkan. Tulisan ini sebagian besar berasal dari kesaksian lisan tokoh-tokoh Pesantren Cipari dan sumber tertulis lainnya. Memahami kiprah Pesantren Cipari berarti pula memahami perjuangan kebangsaan secara keseluruhan, khususnya pada masa konflik sosial setelah kemerdekaan.AbstractThis article aims to reveal the role of one of the historical pesantren in Garut West Java, that is Pesantren Cipari. This Pesantren since beginning of its the development is closely related to the struggle of nationalism. K.H. Yusuf Tauziri and some other kiai leads movement Sarekat Islam in Garut in 1920 until 1930s. Examination of fidelity to the Republic occurred when movement DI/TII in 1948 to fight against the government. Pesantren Cipari firmly supports the government, as in the attitude of the leaders, K.H. Yusuf Tauziri. Thus, the conflict between Pesantren Cipari and forces DI/TII inevitable. This paper is largely derived from oral testimony of Pesantren Cipari leaders and other written sources. Understanding the role of Pesantren Cipari also means understanding the nationalist struggle as a whole, especially during social conflicts after independence.
MASKULINITAS BARU DALAM IKLAN KOSMETIK KOREA: ETUDE HOUSE DAN TONYMOLY Ezzah Fathinah; Aquarini Priyatna; Muhamad Adji
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1181.436 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.3

Abstract

Penelitian ini membahas maskulinitas dalam iklan produk kecantikan korea Etude House dan TonyMoly. Iklan-iklan ini menampilkan laki-laki cantik yang merawat diri dan mementingkan penampilan. Laki-laki tersebut ditampilkan ramah dan membawa atribusi ‘cantik’, yang digemari serta diidolakan beberapa kelompok perempuan tertentu di Indonesia. Hal ini sangat berbeda dengan konsep maskulinitas yang menjadi standar ideal konstruksi sosial budaya di Indonesia, yang cenderung kaku, kuat dan otoriter. Artikel ini berargumentasi bahwa kecenderungan itu juga dipengaruhi media, salah satunya iklan, sehingga representasi serta opini publik mengenai maskulinitas hegemonik terrekonstruksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Barthes, dengan mengkaji tanda-tanda pada iklan di dalam data tekstual mau pun visual. Dari data yang dianalisis, ditemukan adanya maskulinitas baru yang bersifat lebih cair, di mana laki-laki tidak harus mengikuti standar ideal maskulinitas hegemonik.Kata kunci: maskulinitas, laki-laki, iklan, kosmetik.
EKS TAPOL PKI DAN KONTROL PEMERINTAH: Studi pada Komunitas Tapol PKI Moncongloe Sulawesi Selatan (1979-2003) Taufik Ahmad
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.382 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.96

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menjelaskan kontrol pemerintah dan politik resistensi tahanan politik Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca pembebasan dengan mengambil kasus pada komunitas tahanan politik Moncongloe di Sulawesi Selatan. Metode yang dipergunakan adalah metode sejarah, dengan tahap; pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber mencakup kritik eksteren yang menyangkut otentisitas atau keabsahan sumber dan kritik interen yang menyangkut kredibilitas atau bisa tidaknya sumber dipercaya, interpretasi atau penafsiran atas data, dan yang terakhir adalah penyajian kisah sejarah atau historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasca pembebasan, persoalan komunitas tahanan politik Moncongloe tidak berakhir. Mereka dihadapkan pada kontrol pemerintah melalui perangkat konstitusi dan penjurusan negatif pada diri tahanan politik sebagai orang “tidak bersih lingkungan”. Akibatnya, melahirkan sebuah komunitas yang terpinggirkan dalam bidang sosial, politik dan ekonomi. Setelah reformasi, ruang perjuangan eks tahanan politik mulai terbuka lebar dengan berdirinya berbagai organisasi-organisasi yang memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini diabaikan oleh pemerintah. AbstractThis study aims to explain the control of the government and political resistance performed by post-released prisoners of Partai Komunis Indonesia (PKI). This is a case study of the Moncongloe community of political prisoners in South Sulawesi. The author conducted history method, covering heuristics (collecting sources), source criticism (including external criticism concerning the authenticity or validity of sources as well as internal criticism regarding the credibility of the sources, and interpretation of the data), and historiography (the presentation the story). The results showed that the issue of Moncongloe political prisoners has not come to an end even though they have already been released. The post-released prisoners are facing the government control through the constitution and negative image on political prisoners as not having "clean environment". As a result, they are socially, politically and economically marginalized. After the reform, they had a wide opportunity to struggle because there were many organizations established to fight for the rights of those who have been ignored by the government.
PERKEMBANGAN ETNOPRENEURSHIP DI GARUT 1945-2010 Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.704 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.262

Abstract

AbstrakSemangat kewirausahaan dalam konteks kesukubangsaan masih sedikitmendapat perhatian. Minimnya perhatian tersebut terbatas pada etnis-etnis tertentusaja yang dikenal memiliki jiwa etnopreneurship. Penelitian ini berupaya memberikangambaran bahwa dinamika internal sukubangsa Sunda yang tinggal di Garutmemperlihatkan wataknya yang entrepreneurship. Selama ini Garut lebih banyakdikenal sebagai wilayah dengan kekayaan alam yang potensial sehingga menjadidaerah tujuan wisata yang penting. Selain itu, kekayaan kuliner juga sudah menjadipengetahuan bersama masyarakat Jawa Barat pada khususnya. Sementara itu,pengembangan sumber daya manusia dalam konteks kultural jarang diungkap.Kekhasan ekonomi kreatif di daerah ini terletak pada spesialisasi profesi masingmasingdesa. Meski masih terlalu dini, agaknya konsep one village, one product (satukampung, satu produk) cukup tepat ditempatkan dalam konteks kewirausahaan diGarut. Tradisi merantau secara terbatas menunjukkan karakter khas masyarakat diwilayah Garut. Ada yang menetap dalam waktu yang cukup lama di wilayah lain.Akan tetapi, sebagian terbesar kembali pada waktu-waktu tertentu, bahkan menjadicomutter secara intensif.Penelitian ini mencakup tiga bidang usaha yang berbeda, yaitu usaha batikgarutan, industri kulit Sukaregang, dan tukang cukur Banyuresmi. Ketiga objektelitian tersebut dipetakan menurut dua kategori: kota-desa, surplus-minus. Sumberprimer berasal dari wawancara lisan dengan para informan yang terlibat denganaktivitas kewirausahaan. Sementara itu, sumber sekunder dari literatur. Kajianmengenai semangat kewirausahaan dalam konteks kesukubangsaan menjadi pentingdi tengah usaha untuk mengembangkan local genious di bidang ekonomi kreatif.AbstractThe paper was based on the fact that exposing cultural context of humanresources is not common in our country. This research tries to describe the greatentrepreneurship of the Sundanese of Garut. They used to wander about (merantau)and commute very intensively to trade to other cities or regions. The uniqueness ofthe city is that every village has its own specialty. This research covers three kindsof business: batik garutan (a kind of batik with spesific motifs of Garut), leatherindustry in Sukaregang and barbers of Banyuresmi. Data were collected throughinterviews and bibliographic studies. The author came into conclusion that the study need forof entrepreneurship (in ethnical context) is very important in developing local geniusin creative economy.
JEJAK KEPEMIMPINAN ORANG SUNDA: PEMAKNAAN AJARAN DALAM NASKAH CARITA PARAHYANGAN (1580) Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.294 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i2.178

Abstract

AbstrakNaskah Carita Parahiyangan  ditulis sekitar tahun 1580 M merupakan kelompok naskah sejarah.  Penelitian yang didasarkan pada kajian sejarah tentu sudah dilakukan yang kemudian memunculkan nama raja,  kerajaan  dan masa kekuasaannya.  Berbeda dengan itu, penelitian atas naskah - yang akan dilakukan ini -  tidak pada eksistensi kerajaan, melainkan terfokus pada ajaran kepemimpinannya. Apa yang mendasari keberhasilan dan keruntuhan sebuah kerajaan? Adakah ajaran yang   menjadi pegangan dalam membangun masyarakatnya. Pengkajian ajaran kepemimpinan dalam teks naskah Carita Parahiyangan menggunakan kajian anaslisis isi mengingat teks merupakan deskripsi naratif. Di samping itu, digunakan pula metode intertekstual  yakni menelusuri teks dari teks naskah lain yang sezaman atau yang ada sebelumnya. Dalam hal ini adalah naskah Siksakandang Karesian dan naskah Amanat (dari) Galunggung.  Hasil yang diperoleh adalah  pemerintahan kerajaan itu terkait dengan ajaran yang dipegangnya. Baik buruknya seorang raja (pemimpin) sangat erat dengan ketaatan, kepatuhan atau pelanggaran terhadap ajaran. Ajaran yang muncul pada masa kerajaan Sunda adalah sebagaimana terdapat dalam ajaran Siksakandang karesian dan Amanat dari Galunggung. AbstractCarita Parahyangan is a historical script, written about 1580 BC.  The research based on the study of history would have done by another researcher which is raising the name of the king, kingdom, and power.  Differently, this study of the manuscript - which will be done – is not on the existence of the kingdom, but rather focused on the teaching of leadership.  What constitutes success and collapse of an empire does? Are there any teachings of the grip in a building community? This research focused on teaching leadership in the Carita Parahiyangan manuscript uses study of the text which is considering the text is narrative description. In addition, the intertextual method is also used to search a text of the other contemporary manuscript text or previously exist.  In this case the previous manuscripts are Siksakandang Ngkaresian and Amanat (from) Galunggung.  The result of this study is the Kingdom is related to the holding of the teaching.  Pros and cons of a king (leader) are very close with the obedience, compliance or violation of the tenets.  The tenets which is appeared in the era of Sundanese kingdom is like what it has been founded in the tenets of Siksakandang Ngkaresian and Amanat dari Galunggung manuscript.
PERWATAKAN MANUSIA BERDASARKAN HARI LAHIR DALAM NASKAH RASPATIKALPA Lilis Restinaningsih, Undang A. Darsa, dan Titin Nurhayati Ma’mun
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.515 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.64

Abstract

AbstrakRaspatikalpa merupakan naskah Merapi-Merbabu yang menjadi koleksi dari PNRI yang tergolong naskah jamak dengan 16 judul naskah yang sama dan satu judul berbeda yaitu Basundarikalpa.Naskah ini berasal dari abad 16-18 dan memiliki sistem aksara dan bahasa yang unik.Raspatikalpa memuat perwatakan manusia berdasarkan saptawara.Penelitian secara filologis harus dilakukan agar naskah Raspatikalpa dapat dibaca oleh masyarakat luas.Prinsip edisi teks naskah Raspatikalpa dilakukan dengan menggunakan prinsip kerja metode landasan (legger).Hasil penelitian menunjukan naskah Raspatikalpa dengan nomer koleksi 131 merupakan naskah dasar edisi teks.secara pragmatik raspatikalpa pada masanya berfungsi sebagai falsafah hidup; bagian dari religiusitas; bagian dari proses inisiasi; dan sebagai jimat. Raspatikalpa is the Merapi-Merbabu’s manuscript that became a PNRI collection of manuscripts which can only be classified as plural with 16 titles the same script and a different title that comes from Basundarikalpa centuries. The text was made at sixteenth to eighteenth centuries and has a script system and unique language. Raspatikalpa containing the human disposition by Saptawara. The philological research must be done so that the text can be read widely by the public of Raspatikalpa. The principal edition of the manuscript text Raspatikalpa done by use the Working Principle Grounding Method (Legger). The results show that the Raspatikalpa manuscript collection at number 131 is the basic text edition. Pragmatically, Raspatikalpa serves as a philosophy of life in his time; part of religiosity; part of the initiation process; and as a talisman.

Page 7 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue