cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
SISTEM GOTONG ROYONG PADA MASYARAKAT BADUY DI DESA KANEKES PROVINSI BANTEN Ria Andayani Somantri
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.416 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.128

Abstract

AbstrakSistem Gotong-royong pada Masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Provinsi Banten merupakan uraian tentang aktivitas gotong-royong yang hidup pada masyarakat Baduy di Banten. Aktivitas tersebut  tercermin dalam tradisi nyambungan, yakni  kebiasaan masyarakat Baduy mengirim atau menyumbang sesuatu kepada warga yang sedang menyelenggarakan hajatan atau pesta dengan sistem timbal balik (resiprositas); tradisi liliuran,  yakni kebiasaan masyarakat Baduy yang lebih mengarah pada arisan tenaga untuk menyelesaikan suatu kegiatan atau pekerjaan; tradisi dugdug rempug, yakni kegiatan gotong-royong yang dilandasi keinginan spontanitas untuk membantu dan menolong  pihak-pihak yang membutuhkan bantuan dan pertolongan mereka; dan tradisi tunggu lembur, yakni aktivitas sekelompok orang Baduy yang secara bersama-sama melakukan kegiatan menjaga lembur ’kampung’ dari berbagai kemungkinan yang akan membahayakan keamanan kampung tersebut berikut isinya. Tradisi nyambungan, liliuran, dugdug rempug, dan tunggu lembur masih bertahan sampai sekarang, karena dipandang mampu mengatasi sejumlah persoalan, yang intinya membutuhkan suatu kerja sama antarsesama warga Baduy. AbstractThis research aims to describe some Baduy traditions that still exist today, which called nyambungan (giving donation to someone who has celebration), liliuran (collecting human resources to build something), dugdug rempug (spontaneous act to help others), and tunggu lembur (guarding their village from unexpected danger). They are all based on gotong-royong (working together to help each other). Theses traditions are preserved because they are considered solutions for many of their social problems. 
MUSIK, MEDIA, DAN KARYA : PERKEMBANGAN INFRASTRUKTUR MUSIK BAWAH TANAH (UNDERGROUND) DI BANDUNG (1967-1990) Teguh Vicky Andrew; Riama Maslan Sihombing; Hafiz Aziz Ahmad
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.722 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.18

Abstract

AbstrakTren musik populer dari tahun ke tahun semakin mengguntungkan aliran musik bawah tanah (underground). Infrastruktur musik yang mandiri dan fleksibel, baik dalam tataran produksi, distribusi, dan konsumsi, menjadi kunci sukses aliran musik bawah tanah. Hal ini berlaku pula di Bandung. Namun pencapaian musik bawah tanah saat ini sebenarnya telah dirintis sejak 1970. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba menelaah rintisan infrastruktur musik bawah tanah yang memiliki kontribusi bagi generasi sekarang. Untuk itu, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah dengan pisau analisis skena musik dan musik bawah tanah. Berdasarkan telaah yang dilakukan, infrastrukstur musik yang dibangun pada periode 1967-1990 tidak saja terkait dengan aliran dan grup musik belaka, tetapi juga beragam media (cetak dan radio) dan album independen. Infrastruktur ini kemudian dijadikan model dan dikembangkan dalam sistem yang lebih kompleks sesuai dengan tren musik bawah tanah di Bandung.Kata kunci: skena, musik, bawah tanah, infrastruktur AbstractPopular music trend from year to year more prospering for underground music. Independent and flexibel musical infrastructure, in term of production, distribution, and consumption, becomes key success for underground music. This also applies in Bandung. However, the current achievement of underground music acctually was began since 1970. Therefore, this research tries to analyze infrastructure formation in underground music that has contributed for the current generation. For that reason, this research was conducted by using historical method with music scene and underground music concept. Based on the analysis, the musical infrastructure that built in 1967-1990, not only related to the genre and music grup, but also various media (print and radio) and independent album. The infrastructure subsequently became raw model and developed in more complex system in accordance with the underground music trend in Bandung.Keywords : scene, music, underground, infrastructure
TIPOLOGI RUMAH TRADISIONAL KAMPUNG WANA DI LAMPUNG TIMUR Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.505 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.101

Abstract

AbstrakTipologi rumah tradisional Kampung Wana merupakan gambaran mengenai bentuk, denah, tata ruang yang tercermin melalui kebudayaan masyarakat Kampung Wana terhadap lingkungan alam dan sosialnya. Dalam konteks itu, tipologi rumah tradisional di Kampung Wana terkandung aspek kosmologis berupa adaptasi terhadap lingkungan alam dan nilai-nilai yang memiliki makna sebagai pengatur kehidupan masyarakat untuk menciptakan tertib sosial. Namun, dalam perkembangan teknologi dan kemajuan zaman bukan tidak mungkin arsitektur rumah tradisional khususnya mengenai tipologi dan bentuk rumah tersebut mengalami perubahan, jika demikian bagaimana prospek tipologi rumah tradisional pada masyarakat di Kampung Wana ke depan manakala mereka tetap bertahan, ataupun sebaliknya, bagaimana mereka merespon perubahan itu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan merupakan penelitian etnografi. Bila dilihat dari kedalaman analisisnya, maka jenis penelitian bersifat deskriptif, yakni menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Penelitian deskriptif menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta mengenai populasi atau bidang tertentu, dalam hal ini tentang tipologi arsitektur rumah tradisional pada masyarakat Kampung Wana. Adapun pengambilan data melalui observasi, wawancara mendalam pada sejumlah informan, dan studi pustaka. Untuk pengambilan gambar, dilakukan foto dan membuat sketsa atau denah rumah. AbstractThe typology of traditional house of Kampung Wana is the image of shape, plans, and lay-out depicted through the culture of Kampung Wana society towards their natural and social environment. They contain cosmological aspects such as adaptation to the natural environment and the values that control the lives of the people in creating social order. However, the development of technology and the progress of the times have given way to changes in the architecture of Kampung Wana’s traditional houses. Would they be preserved or how do they endure in such changes? The author conducted qualitative approach and this is an ethnographic research. From the depth of the analysis this is a descriptive research that is analyzing and presenting data systematically in order to make it easy to be understood and to be concluded. Descriptive research describes facts concerning certain population or field systematically andaccurately. Data were obtained through observation, in-depth interviews with a number of informants and bibliographic study as well. The author also took picture and made sketches of the house plans.
EKSISTENSI DAN STRATEGI ADAPTASI KOMUNITAS ADAT DI JAWA BARAT Toto Sucipto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1479.172 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.267

Abstract

AbstrakDi Jawa Barat terdapat komunitas adat yang konsentrasi warganya tersebar dibeberapa pemukiman yang disebut kampung atau kampung gede (kampung induk).Secara umum dapat diungkapkan bahwa warga komunitas adat yang ada di Jawa Barattersebut mendukung kebudayaan Sunda, yaitu yang sehari-harinya mempergunakanbahasa Sunda dan merupakan masyarakat terbuka yang mudah sekali menerimapengaruh dari luar, tetapi juga kemudian menyerap pengaruh itu sedemikian rupasehingga menjadi miliknya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah wargakomunitas adat di Jawa Barat yang termasuk pendukung kebudayaan Sunda ini mudahmenerima pengaruh luar seperti masyarakat Sunda umumnya? Kajian menarik tentangkomunitas adat antara lain mencuatkan kenyataan bahwa warga komunitas adat selaluberupaya patuh terhadap kasauran karuhun (perkataan/wasiat para leluhur) sehinggadinamika kebudayaan mereka agak sulit terdeteksi dengan mudah. Komunitas adatberusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan berupaya mempertahankankondisi lingkungan alamnya dengan tetap mentaati aturan adat warisan para leluhursehingga setiap komunitas adat memiliki ciri khas yang membedakannya denganmasyarakat lain. Para pendahulu mereka (leluhur) mengembangkan aturan-aturanadat yang direalisasikan pada beberapa tabu/pamali/larangan/buyut. Aturan-aturanadat tersebut mempunyai makna atau fungsi yang sangat luas. Aturan tersebut jugaberfungsi sebagai mekanisme kontrol dalam kebudayaan yang menahan dilakukannyaeksploitasi alam secara semena-mena, membuat masyarakat tetap sederhana, tidakhidup berlebihan, dan tetap memegang prinsip kebersamaan sehingga keseimbanganlingkungan, baik fisik maupun sosial, dapat dipertahankan. Mekanisme itu diselimutidengan sanksi moral, sehingga keadaan lingkungan relatif stabil dalam jangka wakturelatif lama.AbstractThere are many adat communities in West Java which concentrated in clusterscalled kampung or kampung gede (main village). Generally, those adat communitiesare part of Sundanese culture and use Sundanese language in their daily life. They alsoopenly received external influences and absorb them as their own. This research triesto seek whether these communities can easily receive those external influences likeany other Sundanese. This actually would be interesting because adat communitiesare usually obedient to the rules made by their ancestors, especially some taboos. Therules have vast meaning and funtions. They are important in controlling the use ofnatural resources, and teach the community to live in a modest life. The conclusion isthat the rules are still important in today’s life as well as for the future
PESINDO ACEH 1945-1952: ORGANISASI NASIONAL DI TINGKAT LOKAL Sudirman Sudirman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.617 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.183

Abstract

AbstrakPenelitian berjudul “Pesindo Aceh 1945-1952: Organisasi Nasional di Tingkat Lokal” membahas Pesindo Aceh. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan mengapa muncul Pesindo di Aceh sehingga menjadi kekuatan politik dan peranannya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk pengumpulan data digunakan metode sejarah. Penggunaan metode sejarah dimaksudkan supaya mendapatkan data yang akurat. Melalui metode sejarah dilakukan studi secara mendalam sehingga diperoleh pemahaman yang menyeluruh dan akurat tentang Pesindo. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosial-politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tarik elit Aceh bergabung ke dalam Pesindo karena asas kedaulatan rakyat yang ditawarkannya. Masyarakat bergabung ke dalam Pesindo yang sosialisme bukan berarti fundamen orientasi politik elit Aceh yang terikat kepada nilai atau simbol suku, kekerabatan, dan agama menjadi hilang. Kekhawatiran bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) akan mengambil alih Pesindo sebagai wadah organisasinya di Aceh merupakan bagian dari alasan diterimanya Pesindo di Aceh. Pesindo berperan aktif  dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia.  AbstractThe research entitles “Pesindo Aceh 1945-1952: Organisasi Nasional di Tingkat Aceh” discussed Pesindo Aceh.  The purpose of the research is to explain the reason of Pesindo existences in Aceh that become one of the political powers and role in defending Indonesia Republic independence.  In collecting the data this research uses historical method in getting the accuracy of the data.  Through this method, we can gain the comprehensive and understanding, also accurate data about Pesindo.  The technique of collecting the data is through an in depth interview and library research.  This research also uses the socio-politics approach.  The result of the research found that tractive power of Aceh politicians which joined with Pesindo because they offer the principle of society sovereignty in Aceh.  The society merge with Pesindo which has the socialism principle is not because the Aceh elite politicians have bounding orientations in tribe, kinship, and religions will vanish, but the main purpose is worried of PKI (Indonesia Communist Party) will take over Pesindo as an Political Organizations in Aceh.  Pesindo have a great role in defending the Indonesian independence, especially in the era of revolutions. 
MENGGALI NILAI-NILAI LUHUR MASYARAKAT MASA LALU DARI TINGGALAN BUDAYA MATERI Studi Kasus Media Pengagungan Arwah Leluhur Lutfi Yondri, Nina Herlina Lubis, dan Mundardjito
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.465 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.69

Abstract

AbstrakBerdasarkan hasil penelitian tentang tinggalan budaya materi dan tradisi budaya yang terkait dengan pengagungan arwah leluhur atau yang sering disebut dengan istilah pengagung arwah leluhur yang telah dilakukan oleh para prasejarawan selama ini, merupakan refleksi dari nilai-nilai masyarakat yang pernah berkembang pada masa lalu. Temuan tersebut dijadikan sebagai sumber data. Data tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif menggunakan pendekatan semiotika. Tulisan ini bertujuan mengelaborasi berbagai nilai lama yang tercermin dari tinggalan budaya materi dan tradisi yang disimpulkan pernah berkembang di tengah masyarakat pengagung arwah leluhur. Nilai-nilai tersebut antara lain semangat persatuan, kepemimpinan, gotong royong, dan sikap toleransi dalam kepercayaan. Bila hal ini disosialisasikan kembali di tengah masyarakat sekarang tentunya akan dapat memberikan sumbangan yang sangat positif bagi masyarakat. AbstractThis study is based on the results of research on the remains of cultural material and traditions associated with the glorification of ancestors or often referred to as the adoration of ancestors that have been done by the pre-historian over the years. It is as a reflection of the values of the community once developed in the past. The findings are used as the data source. The data is then qualitatively analyzed using a semiotic approach. This paper aims to elaborate the various old value that is reflected from the remains of cultural material and tradition that ever developed in the adorer ancestral spirits society. The values include the spirit of unity, leadership, mutual cooperation, and tolerance in the trust. If these values are re-socialized in society now, it will certainly be able to provide a very positive contribution to society.
FUNGSI UPACARA PERTANIAN PADA MASYARAKAT GURADOG KABUPATEN LEBAK Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.429 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.235

Abstract

AbstrakMayoritas masyarakat Guradog adalah petani. Sehari-hari mereka teguh menjalankan tradisi warisan leluhurnya, antara lain melaksanakan upacara pertanian. Tujuan dari upacara tidak lain memohonkan keselamatan dalam kegiatan bertani, mulai dari kegiatan bertanam hingga panen. AbstractThe major part of Guradog society are farmer. They keep doing their ancestors inheritance tradition daily. For example in implementing the agriculture ceremony. The purpose of this ceremony is supplicating safety in farming activity, starting from planting until harvesting.
PERKOTAAN KOLONIAL PADA ABAD XIX - XX, DI KOTA SERANG, BANTEN; KAJIAN ARKEOLOGI-HISTORIS Lia Nuralia
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.506 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.151

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan memberi gambaran tentang perkotaan kolonial di Kota Serang pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda (Abad XIX-XX), dilihat dari perspektif arkeologis dan historis. Dengan menggunakan metode penelitian arkeologi (survei permukaan) dilengkapi dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara (sejarah lisan), dapat diketahui bahwa pada masa kolonial Belanda telah terjadi perubahan wilayah permukiman di Kota Serang yang cukup pesat dan siginifikan, sehingga penting diungkapkan ke permukaan. Perubahan terjadi terutama dalam pembagian wilayah perkotaan dan fungsi bangunan. Secara umum wilayah permukiman di Kota Serang ketika itu terbagi ke dalam 3 bagian wilayah, yaitu: pemukiman, perkantoran, dan perdagangan. Pembagian ini sebagai hasil kajian melalui bangunan lama periode kolonial dan tinggalan budaya materi lainnya yang masih ada sekarang. Seiring dengan pembagian wilayah tersebut, juga telah terjadi perubahan bentuk dan gaya arsitektur bangunan menjadi bergaya Indis atau pencampuran antara gaya Eropa dan gaya lokal. Hal ini tampak pada bentuk bangunan tinggi, dinding tebal, bentuk atap joglo, memiliki teras atau koridor di sepanjang bangunan atau pada sebagian luar bangunan. Selain perbahan secara fisik, perubahan non fisik juga terjadi ditandai dengan adanya perubahan pola sikap atau perilaku. Masyarakat Kota Serang menjadi lebih terbuka terhadap masuknya unsur budaya asing. Juga lebih toleran terhadap perbedaan kebiasaan antar etnis yang beragam dalam masyarakat heterogen. AbstractThe aim of this research is to describe the colonial urban in Serang, Banten during the Dutch colonial era (19th – 20th century), based on historical remains and material culture as well. By conducting archaeological method (surface survey) and interview (oral history) it is found that there was a rapid and significant change in residence areas then, especially in zoning the urban areas and function of buildings. Generally, Serang was divided into three zones: residential, office, and commercial. Along with that zoning, there were also changes in the architecture of buildings, combining both local and European styles, called Indische style. It is seen in the form of high-rise buildings, thicker walls with joglo style for the roof, terraces or corridors along the building or outside the building. Beside physical changes, there were also non-physical changes in term of behavioural patterns. The inhabitants of the city became more open to foreign culture and more tolerant in building relationship with other heterogeneous ethnic groups.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JATIGEDE DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.697 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.60

Abstract

AbstrakPengobatan tradisional merupakan salah satu alternatif pengobatan bagi masyarakat baik di perkotaan maupun desa. Begitu pula pada masyarakat Jatigede, kabupaten Sumedang. Padahal peralatan canggih dan jenis obat-obatan moderen semakin banyak dan lengkap. Hal inilah yang menarik untuk mengkaji tentang pengobatan tradisional pada masyarakat Jatigede, kabupaten Sumedang. Permasalahannya adalah apa alasan memilih obat tradisional? Bagaimana caranya? Apa bahan-bahannya? Dan penyakit apa yang dapat disembuhkan dengan obat tradisional? Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan jelas tentang pengobatan tradisional pada masyarakat Jatigede. Penelitian dibatasi pada pengobatan tradisional melalui oral. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Penelitian didahului studi pustaka, pengambilan data (observasi dan wawancara), klasifikasi data, analisis dan pelaporan. Kesimpulannya, pengobatan tradisional bagi masyarakat Sunda di Jatigede merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindarkan karena faktor alam yang mendukung, keamanan (efek samping), harga murah, mudah didapatkan dan sederhana membuatnya. AbstractTraditional medicine is an alternative treatment for people in both urban and rural. Similarly, in Jatigede, Sumedang regency, even though there are more complete and advanced equipment and types of modern medicine. It is interesting to investigate about the traditional medicine in Jatigede, Sumedang regency. The issue is what is the reason behind the traditional medicine choosing? How to conduct the traditional medicine? What are the ingredients? And what diseases can be cured by traditional medicine? This study aims to get acomplete and clear picture of the Jatigede traditional medicine. The study was confined to the oral traditional treatment. This study used a qualitative approach with descriptive method. It is preceded by research literature, data collection (observation and interview), data classification, analysis and reporting. In conclusion, the traditional treatment for the Sundanese people in Jatigede is a necessity that cannot be avoided because of supporting natural factors, security (side effects), the cheap price, the availability and the simple making.
UPACARA PERKAWINAN ADAT SUNDA DI KECAMATAN CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.969 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.226

Abstract

AbstrakUpacara perkawinan adat Sunda lazimnya disebut Upacara Nikahkeun (dalam bahasa Sunda halus) atau Ngawinkeun (dalam bahasa Sunda kasar), yang artinya menikahkan atau mengawinkan. Nikah atau kawin mengandung arti bersatunya dua insan (laki-laki dan perempuan) yang disahkan secara agama dan oleh negara untuk hidup sebagai suami istri. Atau dengan kata lain, nikah adalah kesepakatan dua insan yang berlainan jenis untuk mengadakan ikatan guna membentuk keluarga atau rumah tangga untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendokumentasikan salah satu jenis upacara tradisional yang ada di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat agar orang Sunda, terutama generasi mudanya dapat mengetahui, memahami, dan menyayangi budaya sendiri. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa upacara-upacara baik yang dilakukan sebelum acara pernikahan (Ngalamar, Ngeuyeuk Seureuh, Seserahan) maupun setelah pernikahan (Sawer, Ninjak Endog, Buka Pintu, Ngunduh Mantu) masih tetap dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Bandung. AbstractThis research is a case study about Sundanese traditional wedding ceremony that implemented in Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. The purpose of the research is to make a documentation of it. It is very important to make such a documentation in order to make young generation know and appreciate their own culture. A qualitative method was conducted and the data were collected through observation, interview, and bibliographical study. The author came into conclusion that the people of Cicalengka remain preserving their traditional wedding ceremony, either the one that must be done before the akad nikah (the wedding pledge) or the ones that following it.

Page 10 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue