cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
MAKANAN TRADISIONAL DI KABUPATEN CIAMIS Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.467 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.142

Abstract

Abstrak             Makanan merupakan kebutuhan yang esensial bagi manusia. Keberadaan makanan  tersebut dibutuhkan sebagai sumber energi dan zat tertentu untuk mengatur proses metabolisme. Eksistensi makanan dalam kehidupan masyarakat tidak terbatas hanya untuk memenuhi kepentingan tersebut. Ada nilai sosial atau makna lainnya yang tersirat di balik rasa, warna, dan bentuk suatu makanan. Wujud akhir dari proses tersebut adalah terciptanya jenis dan bentuk makanan berikut peruntukannya, seperti makanan untuk upacara adat atau kenduri, makanan untuk persembahan kepada entitas supranatural, dan makanan dibuat pada saat-saat tertentu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendokumentasikan jenis-jenis makanan yang ada di kabupaten Ciamis. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi dengan pendekatan kualitatif  melalui pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Respon kebudayaan terhadap kebutuhan dasar berupa makan akan beragam, mengingat beranekanya kebudayaan yang dimiliki manusia. Tidaklah heran jika budaya masyarakat Indonesia di seputar makan pun akan berbeda antara suku bangsa yang satu dan lainnya. Perbedaan pun terjadi pada suku bangsa yang sama, namun menempati lingkungan alam, lingkungan sosial,  dan lingkungan transenden yang berlainan. Dengan demikian perihal makan ini ada di bawah kendali kebudayaan. Beberapa respon kebudayaan di seputar kebutuhan dasar berupa makan di antaranya perilaku makan, cara mendapatkan, mengolah dan  membuat makanan, dan makanan sendiri sebagai hasil dari proses.  Abstract Food is an essential need to human being. It serves energy resources for our body as well as social values reflecting in many kinds of food for different kind of events and situations. This is a cultural respond to the need for food. Every ethnic groups in Indonesia has their own eating habit. It is interesting to know that natural and social environments can affect the habit, even in the same ethnic group. Therefore, culture controls food. It is reflected in eating behaviour, how to get and process food, and the food itself.
TRADISI MENDONGENG SEBAGAI UPAYA PEMBUDAYAAN NILAI-NILAI DALAM KELUARGA DI KELURAHAN CISARANTEN WETAN KECAMATAN CINAMBO KOTA BANDUNG Ria Intani Tresnasih
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.455 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.333

Abstract

Dongeng adalah cerita rakyat yang secara lisan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, pengarangnya anonim, ada dalam dunia khayal atau tidak benar-benar terjadi, dan tidak diketahui secara jelas mengenai tempat dan waktunya. Dongeng merupakan  salah satu media yang sangat  efektif  dalam membentuk karakter anak sejak dini. Namun demikian nilai-nilai dalam dongeng tidak akan tersampaikan apabila dari dongeng-dongeng yang ada tidak pernah didongengkan. Padahal banyak sekali pula manfaat yang didapat dari aktivitas mendongeng. Permasalahannya adalah akankah tradisi mendongeng di rumah-rumah itu sekarang ini masih berlangsung. Sehubungan dengan permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana keberlangsungan dari kegiatan mendongeng di rumah-rumah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paparannya bersifat  deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara tradisi “orang tua” yang gemar mendongeng dengan tradisi mendongeng pada zaman sekarang.The tale is a folktale that is orally inherited from one generation to the next, its author is anonymous, exists in an imaginary or unreal world, and is not known clearly about the place and the time. Tale is one of the media that is very effective in shaping the character of children from an early age. However, the values in the fairy tales will not be conveyed if the tales that have never been told. Though, a lot of benefits also obtained from the activity of storytelling. The problem that still exist, will the tradition of storytelling in these homes be still going on? In connection with these problems, this study aims to see how the continuity of storytelling activities in homes. This study uses a qualitative approach with descriptive arrangemen. The results of the study indicates that there was a correlation between the tradition of "parents" who love storytelling with the tradition of storytelling today.
SENGKEDAN: BENTUK REKAYASA LINGKUNGAN UNTUK PERMUKIMAN DAN PERTANIAN Iwan Hermawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.372 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.92

Abstract

Abstrak Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan pemanfaatan sengkedan oleh masyarakat dalam merekayasa lahan miring untuk memenuhi kebutuhan akan lahan permukiman dan pertanian. Pemanfaatan sengkedan untuk rekayasa lahan miring oleh masyarakat Sunda sudah dilakukan sejak zaman dahulu dan terus berlanjut hingga saat ini. Teknologi tersebut hingga saat ini masih tetap aktual dalam upaya mengelola lahan miring agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan permukiman, pertanian, dan keagamaan. Metode penulisan yang dipergunakan pada tulisan ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penggunaan sengkedan sebagai upaya merekayasa lahan miring merupakan bentuk rekayasa lingkungan oleh masyarakat Sunda dengan tetap mempertahankan keseimbangan alam. Pemanfaatan bagian lereng untuk pemukiman dan pertanian diimbangi dengan mempertahankan bagian puncak sebagai kawasan hutan. Melalui upaya tersebut, daur hidrologi tetap terjaga keseimbangannya, karena ketika turun hujan air masih bisa menyerap ke dalam tanah dan keluar dari dinding teras melalui celah di antara batu. Proses pengelolaan lahan tersebut diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui berbagai ajaran adat dalam bentuk pamali, buyut, tabu atau pantang larang. Perubahan pemanfaatan lingkungan dilakukan dengan tanpa pengrusakan dan keseimbangan ekologi tetap dipertahankan.  AbstractThis paper aims to describe the use of swales by public in manipulating sloping land to meet the demand for land settlement and agriculture. Utilization of swales to sloping land engineering by the Sundanese community has been made since ancient times and continues to this day. The technology is still up to date in an effort to manage the sloping land that can be usedas a land settlement, agriculture, and religious. Writing method used in the study is descriptive qualitative approach. The use of swales is an effort to manipulate the manage slopes form of environmental engineering by the Sundanese community by maintaining the balance of nature. The use of the slope for settlements and agriculture is balanced by maintaining the top as a forest area. Through these efforts, the hydrological cycle is maintained balance, because when it rains the water can still absorb into the soil and out of the walls through the gap between the stone terraces.  The land management processes passed down from generation to generation through a variety of traditional teachings in the form of taboos, great-grandfather, taboo or forbidden abstinence Change of use of the environment without damaging and ecological balance is maintained.
BUDAYA SPIRITUAL SYEKH AULIA ABDUL GOPUR Hermana Hermana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v1i3.258

Abstract

AbstrakKeberadaan makam keramat Syekh Aulia Abdul Gopur sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya dari segi sosial maupun ekonomi. Dari segi sosial kemasyarakatan, mereka mengenal adat istiadat para peziarah, sehingga dapat belajar dan memaknai kehidupan masyarakat pada umumnya. Para peziarah menginginkan perubahan taraf hidup, ketenangan jiwa, dan ini kebanyakan berhasil. Dengan motivasi seperti itu mereka mendatangi tempat keramat tersebut.  AbstractThe available of the Syekh Aulia Abdul Gopur’s holy grave is very influential toward the life of its surrounding community either from social sector or economic sector.From social community sector, the know the custom and behavior of visitor to a grave, so they learn and comprehend the society life. The visitors to a grave who want the charge of standard life, take the pacity of spirit and to develop in economic side or in their sprititual, By its motivision, the arrive that holy place.
KAJIAN KRITIS DAMPAK PERKEMBANGAN PARIWISATA TERHADAP EKSISTENSI BUDAYA SUNDA DI KOTA BANDUNG Bambang Sapto Utomo, Sukarno Wibowo, dan Harry Soeparman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.692 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i3.174

Abstract

AbstrakDewasa ini pariwisata di Kota Bandung terus berkembang dan menunjukkan kontribusinya dalam menyejahterakan masyarakat. Kecenderungan perkembangan pariwisata sekarang ini tidak merujuk pada pelestarian nilai-nilai budaya Sunda, melainkan hanya terkonsentrasi pada industri ekonomi kreatif. Permasalahan ini tentunya dapat mengancam keberadaan pariwisata budaya di mana identitas budaya Sunda pada sektor pariwisata di Kota Bandung mulai ditinggalkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana dampak perkembangan pariwisata terhadap budaya Sunda di Kota Bandung. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Penulis berusaha mengembangkan konsep dan menghimpun fakta dengan cermat mengenai permasalahan eksistensi budaya Sunda. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari observasi, kajian dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menjelaskan bahwa perkembangan pariwisata di Kota Bandung berdampak pada melunturnya pariwisata bernuansa nilai budaya Sunda. Eksistensi budaya Sunda sebagai nilai-nilai yang harus dilestarikan kian kurang dihormati pada sisi esensi sejarah. Hal ini ditandai ketika beberapa pagelaran Sunda tidak lagi menyentuh pemahaman pada nilai-niai yang terkandung pada budaya Sunda. Pagelaran hanya bersifat formalitas, seremonial, dan bermotif ekonomi. AbstractTourism in Bandung continues to grow today and show the contribution to the development of social welfare. However, the development of tourism in Bandung focused on the creative industries, while the Sundanese cultural values tend to be ignored. The main purpose of this research is to determine the impact of tourism development to Sundanese culture in Bandung. This research used descriptive qualitative method, that author are tried to develop concepts and gather facts about Sundanese culture in tourism. Data collection techniques in this research consisted of observation, documentation review, and interviews. The results of this research explains that the development of tourism in Bandung impacted to faded Sudanese cultural values in tourism. On the essence of history, the existence of Sundanese culture as values that should be preserved to be less respected. Indicators of declining respect to the Sundanese culture is the lack of understanding on cultural values which contained in a Sundanese arts performances. Sundanese arts performances just a formality, ceremonial and economically motivated.
PENGOBATAN TRADISIONAL DI KALANGAN ANAK-ANAK (STUDI KASUS DI KECAMATAN SOREANG) Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.906 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.115

Abstract

AbstrakPengobatan tradisional merupakan satu sistem pengobatan yang tata caranya berdasarkan pengetahuan yang didapat secara turun temurun. Pengobatan tradisional tidak saja diperuntukkan guna pengobatan suatu penyakit, melainkan pula mengobati kebiasaan buruk pada anak-anak yang di antaranya adalah menghisap jari dan ketergantungan pada dot, Asi, dan ibunya. Sebagian orang mendapatkan solusinya melalui seorang pengobat tradisional. Pertanyaannya adalah bagaimanakah profil  pengobat yang bersangkutan, bagaimana pengetahuan pengobatan tersebut didapat, bagaimana tata cara pengobatannya, dan mengapa orang memercayai pengobatan tersebut. Pengobatan tradisional, dengan kondisinya yang masih terus “hidup”, tak dapat dinafikan merupakan kekayaan budaya yang memberi kontribusi di bidang kesehatan.  Oleh karena itu bidang pengobatan tradisional perlu mendapatkan perhatian, salah satunya dengan mengkajinya melalui kegiatan penelitian. Tipe penelitian yang digunakan  adalah deskriptif kualitatif. Dengan demikian, dalam pengambilan datanya menggunakan teknik wawancara  dan observasi. Adapun teknik analisis data yang dilakukan adalah analisis kualitatif yang bersifat deskriptif interpretatif. Sampai saat ini pengobatan ini masih berlangsung dengan jumlah konsumen yang fluktuatif dan dari kalangan yang beragam. AbstractTraditional medicine is a knowledge-based operation system of medicine which is gained from generation to generation. Traditional medicine is not only intended to the treatment of a disease, but also to cure the children bad habits, such as licking their fingers and the addiction ofmilk bottle, breast milk, and her mother. Some people get this solution through a traditional healer.The question is how the healers profile is concerned, how medical knowledge is obtained, how the procedures of treatment are, and why people believe in such treatment. Traditional medicine, remains in "alive"condition, cannot be denied asa cultural wealth that contributes in the health field.  Hence the field of traditional medicine needs to be concerned, such as by studying through research activities. This type of research is descriptive qualitative. Thus, in collecting the data, interview and observation techniques are employed. The data analysis technique is interpretative descriptive of qualitative analysis. Until now, this treatment is still in progress with a number ofvolatile and different consumers.
STUDI KEPERCAYAAN MASYARAKAT JATIGEDE Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.204 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i2.197

Abstract

AbstrakMasyarakat Jatigede berada di wilayah administrasi Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. Istilah “masyarakat Jatigede”  merupakan gabungan masyarakat 5 kecamatan yang terkena dampak pembangunan Waduk Jatigede. Nama Jatigede diambil dari salah satu kecamatan dari kelima kecamatan yang terkena dampak. Wilayah ini berada di bawah perbukitan dengan bentuk permukaan yang cekung sehingga memenuhi syarat untuk dijadikan sebuah bendungan raksasa, waduk. Oleh karena posisinya berada di bawah  dengan permukaan yang cukup luas, daerah ini terkenal dengan kesuburannya, baik ditumbuhi dengan berbagai macam tumbuhan tropis maupun dengan tanaman padi yang hijau membentang luas.  Masyarakat Jatigede merupakan  masyarakat agraris yang kesehariannya dominan berkecimpung dalam pertanian, masyarakat ini dalam kehidupan sehari-harinya kental dengan budaya Sunda. Masyarakatnya sejak dulu sampai kini relatif memegang teguh warisan budaya karuhun (leluhur), mulai dari perilaku bertani, daur hidup, kesenian, perilaku berbahasa, dan sebagainya. Penelitian ini dibatasi pada kepercayaan masyarakat Jatigede yang tertuang dalam upacara pertanian, upacara daur hidup, dan ungkapan tradisional. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang kepercayaan masyarakat Jatigede Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. AbstractThe Jatigede society is located under the administration region of Sumedang sub district West Java Province.  The term “Jatigede Society” is a combination of five sub districts which is affected by Waduk Jatigede.  The name of Jatigede is taken from one of the subdistrict name.  The territory is under the valley which have concave surface form and make it eligible to be used as a giant dam, reservoir.  Because of its position, the area is famous for its fertility, either overgrown with a variety of tropical plants or with stretches of green rice plants widely.  Jatigede community is predominantly agrarian society, daily engaged in agriculture, and their life is thick with Sundanese culture. Relatively, since the beginning until now this society upholds cultural heritage (ancestors), ranging from farming behavior, life cycle, arts, language behavior, and so on. This study is limited to Jatigede belief which formed in agricultural ceremonies, life cycle ceremonies, and traditional expressions. The purpose of the study is to get an overview of Jatigede Sumedang belief. This study uses descriptive qualitative approach.
SEJARAH SOSIAL-BUDAYA MASYARAKAT CINA BENTENG DI KOTA TANGERANG Euis Thresnawaty S.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.209 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.83

Abstract

AbstrakTangerang terletak di bagian barat Pulau Jawa, yang merupakan tetangga ibu kota Jakarta. Tangerang, yang semula berada di wilayah Jawa Barat sejak tahun 2000 berada dalam wilayah Provinsi Banten, memiliki banyak keunikan pada masyarakatnya, salah satunya adalah adanya pembauran antaretnis yang berjalan harmonis antara etnis Sunda, Jawa, Melayu, dan Cina. Banyak komunitas etnis Tionghoa di Indonesia, tetapi komunitas etnis Tionghoa yang ada di Kota Tangerang memiliki keistimewaan tersendiri. Mereka yang dikenal dengan sebutan Cina Benteng telah mampu berbaur dengan pribumi secara alami. Etnis Tionghoa yang tinggal di Kota Tangerang hampir seperempat dari keseluruhan jumlah penduduk Kota Tangerang. Oleh sebab itu kebudayaan Tionghoa banyak mewarnai kebudayaan setempat. Mereka memiliki budaya khas tersendiri yang berbeda dengan warga Tionghoa umumnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial budaya masyarakat Cina Benteng pada masa kolonial hingga kemerdekaan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui ternyata ada beberapa perubahan sosial pada masyarakat Cina Benteng, misalnya ketika masa kolonial mereka dapat dikatakan hidup berkecukupan karena mereka dianggap partner dalam berdagang sementara saat ini kehidupan mereka cenderung sangat sederhana. AbstractTangerang is located in the western part of Java Island, which is a neighbor of the capital city of Jakarta. Tangerang, which was originally located in West Java, and since the year of 2000 are in the province of Banten. Tangerang have so many unique in their society, one of is the existence of ethnic intermingling that runs harmony between the ethnic of Sundanese, Javanese, Malay, and Chinese. Many Chinese community in Indonesia, but the Chinese community in the city of Tangerang has its own privileges. They are known as Cina Benteng(Chinese Fortress) has been able to blend in with the natives naturally. Chinese people who live in the city of Tangerang nearly a quarter of the total population of the city of Tangerang Therefore, the Chinese culture has affected much local culture. They have a distinctive culture that is different from the Chinese people in general. This study was conducted to determine how the social and cultural conditions of China Fortress in the colonial period to independence. The method used is the historical method which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. From these results it can be seen apparently there are some social changes in Chinese society Fortress, for example when the colonial period they can be said to live well because they are considered partners in the trade while currently they tend to be very simple life.
PERANAN PEMIMPIN INFORMAL PADA MASYARAKAT GURADOG Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.785 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i2.249

Abstract

AbstrakKebergantungan masyarakat pada pemimpin informal yang berperan sebagai  pemimpin adat, sangat tinggi. Hal itu disebabkan warga masyarakat meyakini, bahwa  pemimpin adat mempunyai kemampuan dan kelebihan tertentu. Masyarakat percaya bahwa kehadiran pemimpin adat dapat memberi ketenangan dan harmoni. Ia dapat merepresentasikan masyarakat untuk berhubungan dengan leluhur. Pemimpin adat merupakan mediator antara masyarakat dengan leluhurnya.Dengan demikian, pemimpin informal/pemimpin adat mempunyai kedudukan dan peran yang penting. Ia bukan sebagai pemimpin adat yang berperan sebagai pemimpin masyarakat dalam hukum adat dan melindungi tradisi leluhur, tetapi juga sebagai figur yang berperan sebagai mediator pemerintah di bidang sosial dan adat. Pemimpin informal dengan peran demikian itu antara lain terdapat pada masyarakat Guradog, Kabupaten Lebak Propinsi Banten. Abstract       People’s  dependency at informal leader who personating leader of custom, is very high. It is caused by society citizen believe, that leader of custom have certain excess and ability. Society believe that attendance of leader of custom can give harmony and calmness. He can give presentation society to deal with ancestor. Leader of custom represent mediator between society with its ancestor.       Thereby, informal leader / leader of custom have an important status and role. He is not only as leader of custom who personate leader of society in customary law and protect ancestor tradition but also as figure which personate government mediator in social area and custom. Informal leader with role that way  for example there are at society of Guradog, Regency of Lebak Province of Banten.
BERTAHANNYA BANGSAWAN LUWU (SUATU ANALISA BUDAYA POLITIK ORANG BUGIS) Rismawidiawati Rismawidiawati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.766 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i3.17

Abstract

This article aims is to explain the reason of aristocratic group of Luwu still survive based on a review of political culture of the Bugis. This article presented in a descriptive analysis through the 4 (four) stages of historical research methods, namely the collection of resources (heuristic), criticism source of data, interpretation, and historiography. In addition, the technique of collecting data through interviews. The results found that the traditional political culture of the Bugis, known as siri 'na pesse make an important contribution to the survival of the aristocratic group of Luwu. This political culture present Tomanurung figure as a forerunner to the whole of kings and nobles in South Sulawesi included in Kedatuan Luwu.  Luwu community believe that the descendants of Tomanurung destined to govern. If the ruling is not a descendant of Tomanurung, Luwu people believe that there will be a problem in the country. Apart from the assumption that the presence of this Tomanurung is a myth and as an invention of politics, the existences this character is the beginning of the birth of rulers / kings. The existence of Kedatuan Luwu which still exist today, although its function is not the same as in the past, as well as the elite dominated by the nobility (andi) Luwu is a picture that people still believe in the presence of royalty as the man who is destined to run the government.

Page 11 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue