cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
FUNGSI SENI GEMBYUNG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PANJALU KABUPATEN CIAMIS Endang Supriatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.61 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.230

Abstract

AbstrakGembyung sebagai kesenian buhun yang menjadi sebuah seni pertunjukan di Panjalu, hingga kini tetap bertahan dengan ciri ketradisionalannya. Bersama dengan pelaksanaan Upacara Nyangku maupun peringatan Maulid Nabi Saw. atau pada acara hiburan pada saat khitanan anak, Gembyung tampil bersahaja. Namun demikian, penampilannya tetap menyampaikan makna baik melaui gerak, lagu, gending musik, maupun sesajennya bahwa hidup akan terus bergerak seiring berlangsungnya sang waktu. Bagi masyarakat Panjalu, Seni Gembyung tidak hanya sebuah ungkapan ekspresi keindahan, namun lebih dari itu, Gembyung memiliki makna kecintaan serta penghormatan kepada asal-usul leluhur mereka. Tulisan ini berupaya mengupas fungsi Seni Gembyung pada masyarakat Panjalu. Ada dua bagian yang dibahas, pertama gambaran sosial budaya masyarakat Panjalu tempat kesenian ini tumbuh. Kedua, menjelaskan Seni Gembyung, mulai dari perkembangannya, lagu dan teknik pementasan, fungsi dan peranan kesenian ini pada masyarakat pendukungnya. Serta, upaya masyarakat Panjalu memelihara Seni Gembyung agar tidak tergerus oleh seni modern yang semakin deras berupaya menggeser seni lokal. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. AbstractGembyung is a kind of traditional performance art in Panjalu that has a long history. Along with Nyangku ceremony or commemoration of Maulid Nabi Saw. (the birth of prophet Muhammad Saw.), or celebration after a child has circumsized, gembyung is played in a very plain way. The mystical music and the fragrance of the offerings accompanied the dancers in expressing their respect to the ancestors. This paper tries to reveal the function of gembyung art in the society of Panjalu. There are two parts to be discussed: firstly, the description of sociocultural setting of Panjalu society where the art has been developed. Secondly, explanation of gembyung art, beginning with the development, the songs, and the performance techniques. A descriptive method and qualitative approach were conducted in this paper.
STRATEGI KOLABORASI DALAM SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL DI KABUPATEN SUBANG Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.701 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.146

Abstract

Abstrak Kesenian tradisional memegang peranan dalam pencirian dan menjadi kekhasan suatu daerah. Bagi wilayah administratif yang menjadi cikal bakal suatu kesenian daerah tentu saja tidak sulit untuk menyebut istilah kesenian khas dan menjadi milik daerah tersebut. Lain halnya dengan wilayah administratif yang tidak memiliki kesenian daerah sehingga akan berusaha menciptakan sebuah kesenian untuk dijadikan sebagai kesenian khas bagi daerahnya. Beruntunglah bagi Kabupaten Subang yang menjadi cikal bakal beberapa kesenian yang terlahir dan besar di daerahnya. Tidak hanya sampai disitu, Pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional tampak serius dilakukan. Hal tersebut terlihat dari papan nama berbagai kesenian (tradisional) di beberapa ruas jalan dalam wilayah Kabupaten Subang. Seiring berjalannya waktu tampak jelas terlihat adanya perubahan dalam pernak pernik atau tahapan pertunjukan pada beberapa seni pertunjukan tradisional. Kondisi tersebut pada akhirnya mengundang keingintahuan mengenai strategi kolaborasi apa yang membuat seni pertunjukan tradisional masih tetap diminati masyarakat Subang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis yang didukung dengan data lintas waktu baik dari sumber sekunder maupun dari pernyataan informan mengenai seni pertunjukan tradisional di Kabupaten Subang. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kolaborasi yang dilakukan meliputi kolaborasi lintas waktu dan lintas ruang yang masih dibatasi oleh seperangkat aturan agar kolaborasi tidak melenceng dari identitas ketradisionalannya.AbstractTraditional arts play a role in the characterization of a region. The Regency of Subang became the pioneer for inventing and creating some traditional arts. They were born and grew in the area, and their preservation and development are seriously taken into consideration. It is evident that some changes occurred over time, for example in the accessories or phase of performances at several traditional performing arts. ThisNaskah Diterima: 28 Februari 2013Naskah Disetujui: 2 April 2013condition makes the author curious about the strategy of collaboration that makes the people of Subang interested in traditional performing art. The author conducted descriptive analytical method supported by cross-time data either from primary or secondary sources. The result shows that the strategy of collaboration across time and space in traditional performing
PENCAK SILAT AMENG TIMBANGAN DI JAWA BARAT: HUBUNGAN ANTARA AJARAN DAN GERAK AMENG TIMBANGAN Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.139 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.337

Abstract

Pencak silat Ameng Timbangan diciptakan R. Moezni Anggakoesoemah bersumber pada ajaran Timbangan. Ajaran Timbangan bukanlah petunjuk teknis untuk melakukan jurus tertentu, melainkan ajaran kerohanian Islam. Di dalamnya dibahas mengenai trilogi Islam, yaitu Iman-Islam-Ihsan. Ajaran ini menjadi jiwa dalam gerak lahiriah  Ameng Timbangan.  Masalahnya bagaimana teks ajaran itu menjelma menjadi gerak Ameng Timbangan. Tujuan penelitian adalah menjelaskan  teks ajaran Timbangan menjadi gerak Ameng Timbangan. Adapun metodenya digunakan metode deskripsi,yang menggambarkan data apa adanya. Bentuk Ajaran Timbangan disusun dalam bentuk puisi dan prosa yang disebut teks Naskah Timbangan, karena itu digunakan pula metode analisis isi.Teknik penelitiannya wawancara mendalam dan partisipasi (ikut serta latihan Ameng Timbangan). Simpulannya Ajaran Timbangan berisi pelajaran rohani, sedangkan Ameng Timbangan menitikberatkan pada  pelajaran lahiriah.  Pengolahan lahiriah dalam bentuk olah raga dan olah rasa memberikan ruang untuk membangkitkan kemampuan dan kekuatan naluri beladiri. Hubungan keduanya merupakan hubungan kesatuan yang saling melengkapi.  Pencak Silat Ameng Timbangan created by R. Moezni Anggakoesoemah derived from the teachings called Timbangan. The Sci-op Teachings are not technical guidelines for performing a specific moment, but rather the spiritual teaching of Islam, discussed about the Islamic trilogy, namely Iman-Islam-Ikhsan. It is this doctrine which then becomes the soul or spirit in the outward motion called Ameng Timbangan. The main problem is how the text containing the teachings is transformed into a motion called Ameng Timbangan. The main purpose of the study is to explain the text of the Timbangan teaching to the motion of Ameng Timbangan. In order to achieve these objectives the writer used description method, which describes the data. Forms of AjaranTimbangan are arranged in the form of poetry and prose called script of Naskah Timbangan, then used the method of content analysis. The research technique are in-depth interview, and participation (participate in Ameng Timbangan training). The conclusion are the Doctrine and Ameng Timbangan is a unity. The Timbangan Teachings contain spiritual lessons while Ameng Timbangan focuses on outer lessons. External processing in the form of sports and taste provide space to awaken the ability and strength of martial instinct. Their relationship is a complementary relationship.  
FUNGSI NGAROT UNTUK MASYARAKAT LELEA Ria Intani Tresnasih dan Lasmiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.637 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.52

Abstract

AbstrakNgarot merupakan upacara yang memiliki keterkaitan dengan masalah pertanian.Upacara ini terdapat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu.Upacara ngarot diikuti oleh generasi muda dan berlangsung dari tahun ke tahun tanpa putus. Keikutsertaan generasi muda serta keberlangsungan upacara ini memunculkan pertanyaan apa yang menjadi tujuan upacara, seperti apa bentuk dari upacara ngarot, dan apa sesungguhnya fungsi dari upacara ngarot itu untuk generasi muda khususnya dan masyarakat Lelea pada umumnya. Sehubungan dengan pertanyaan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan upacara, bentuk dari upacara ngarot, dan fungsi upacara itu bagi generasi muda khususnya dan masyarakat Lelea pada umumnya. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara ngarot menjadi wadah untuk mempersatukan pemuda Lelea, menjadi wadah untuk melekatkan rasa gotong royong antarpemuda Lelea, dan mengajarkan pemuda untuk hidup mandiri dengan mendayagunakan potensi desanya. Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian adalah bahwa upacara ini tidak lain sebagai sarana sosialisasi kepada generasi muda Lelea, agar mereka senantiasa dapat mencintai desanya. AbstractNgarot is a ritual that has been linked to farming problems. This ritual occurs in Lelea village, District of Lelea, Indramayu. Ngarot ceremony followed by the younger generation and continuosly lasts from a year to a year. The participation of the younger generation as well as the sustainability of this ceremony raises the question on what the purpose of the ceremony is, what Ngarot is, and what the real function of the Ngarot ceremony is for the younger generation in particular and Lelea society in general. In connection with these questions, this study aims to determine the purpose of the ceremony, the form and ritual of ngarot ceremony is for the younger generation, in particular and Lelea society, in general. It is descriptive study with the qualitative approach. The results showed that Ngarot ceremony of Lelea is a means to unite the Lelea youth, become a means to attach a sense of mutual cooperation among the Lelea youth, and teaches youth to be independent by empowering the potential of the village. The conclusion that can be drawn from the research is this ceremony was seen as a means of socialization to the younger generation of Lelea, so they can always love the village.
BUDAYA PRASEJARAH PADA BUKIT KERANG PANGKALAN, AKAR PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DI PESISIR TIMUR PULAU SUMATERA Ketut Wiradnyana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.463 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.221

Abstract

AbstrakUpaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan Pluralisme dan multikulturalisme di pesisir timur Pulau Sumatera dapat dilakukan dengan penyebarluasan hasil penelitian arkeologis. Metode penelitian arkeologis yang holistik dalam satu kawasan yang disertai pemanfaatan hasil penelitian arkeologis di kawasan lainnya melalui perbandingan data di antaranya akan memberikan informasi proses plural dan multikultural yang telah terjadi pada suatu masyarakat. Akar pluralisme dan multikulturalisme dari sejak masa prasejarah terungkap melalui hasil penelitian di Situs Bukit Kerang Pangkalan yang menunjukkan adanya migrasi yang disertai tiga budaya besar yang berlangsung di daerah tersebut yakni budaya prahoabinh, hoabinh dan pasca hoabinh. Data arkeologis pada situs-situs di sekitar Bukit Kerang Pangkalan menunjukkan adanya migrasi kelompok manusia beserta budayanya dari budaya besar lainnya, seperti budaya Neolitik dengan kapak persegi dan gerabahnya dan budaya Dongson dengan artefak perunggunya. AbstractDisseminating the result of archaeological research in the east coast of Sumatera would make a better understanding of pluralism and multiculturalism. A holistic archaeological approach and a comparative study were conducted in this research. We came into conclusion that the root of pluralism and multiculturalism traced back to prehistoric times was revealed through our research in the bukit kerang (kitchen midden) of Pangkalan. From this site we know that there was a human migration that brought three great cultures to the site: the pre-hoabinhian, the hoabinhian, and the post-hoabinhian cultures. Archaeological records from the vicinity has shown us that there were migrations of another human group who brought neolithic culture as well as bronze artifacts of Dongson culture.
SEJARAH SOSIAL KABUPATEN LEBAK Adeng .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.71 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.137

Abstract

AbstrakTulisan mengenai Sejarah Sosial Daerah Kabupaten Lebak menggambarkan kehidupan masyarakat yang mencakup aspek geografi, pemerintahan, penduduk, budaya sinkretisme dan masyarakat adat, budaya, dan pendidikan. Untuk merekontruksi kembali menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahap, yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiogarfi. Lebak menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Banten dan masyarakatnya menganut ajaran agama Islam. Pada abad ke-19 terjadilah perubahan politik di daerah tersebut. Perubahan itu seiring dengan semakin meluasnya kekuasaan Belanda di wilayah Banten yang ditandai oleh penghapusan Banten tahun 1808 oleh Daendels. Perkembangan selanjutnya pada masa pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811-1816), Banten dibagi menjadi empat daerah setingkat kabupaten, yaitu: Kabupaten Banten Lor, Banten Kulon, Banten Tengah, dan Banten Kidul. Setelah kekuasaan dipegang kembali oleh Belanda, maka wilayah Banten dibagi menjadi 3 kabupaten yaitu: Kabupaten Serang, Caringin, dan Lebak. Perubahan berikutnya terjadi pada tanggal 14 Agustus 1925, Lebak menjadi sebuah kabupaten otonom. Kemudian, pada tahun 1950 mengenai pembentukan daerah-daerah dalam lingkungan Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Lebak dimasukkan ke dalam 25 Daerah Tingkat II di provinsi tersebut. Pada tahun 2003 Kabupaten Lebak menjadi bagian dari Provinsi Banten. Penduduk Kabupaten Lebak dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang signifikan, begitu pula di bidang sosial budaya dan pendidikan berkembang cukup dinamis.AbstractThis study illustrates aspects of community life in Kabupaten Lebak in the 19th century. Then, Lebak was part of the Sultanate of Banten and most of the people embraced Islam. In the 19th century Lebak faced a political change due to the expanding power of theDutch in Banten. Daendels eliminated the Sultanate of Banten in 1808. During the reign of Lieutenant Governor-General Thomas Stamford Raffles (1811-1816) Banten was divided into four districts: Banten Lor (Northern Banten), Banten Kulon (Western Banten), Banten Tengah (Central Banten), and Banten Kidul (Southern Banten). When the Dutch regained its power in Banten, the region was divided into three disctricts: Serang, Caringin, and Lebak. In August 14, 1925 Lebak became an autonomous district. In 1950 District of Lebak was part of 25 districts in the Province of West Java, and since 2005 the district became part of the Province of Banten. Today, the population of Lebak has been increasing significantly every year and the educational and socio-cultural life has been developed quite dynamically. To reconstruct this history the author conducted method in history: heuristic, criticism, interpretation, and historiography.
EKOFEMINISME DAN GERAKAN PEREMPUAN DI BANDUNG Aquarini Priyatna; Mega Subekti; Indriyani Rachman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.473 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.5

Abstract

AbstrakDengan menggunakan perspektif ekofeminisme, tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan kegiatan dan aktivisme gerakan perempuan di Bandung yang fokus pada persoalan lingkungan. Subjek penelitian adalah tiga perempuan yang terlibat aktif dalam komunitas lokal di Bandung dalam kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif dari hasil wawancara dan observasi langsung. Hasilnya didapatkan bahwa alih-alih menempatkan tiga perempuan itu sebagai objek, kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga memicu mereka untuk berperan sebagai subjek yang sadar lingkungan. Ketiganya menunjukkan bahwa pengalaman domestik/feminin sebagai ibu dan istri membuat mereka bergerak untuk mengatasi dan memperbaiki lingkungan yang ada di sekitar mereka. Meskipun acapkali dianggap sebagai sesuatu yang sederhana dan bersifat lokal, kegiatan dan aktivisme yang mereka lakukan bersama komunitasnya dapat dikategorikan sebagai sebuah gerakan ekofeminisme. Tidak saja karena posisi dan status mereka sebagai ibu rumah tangga akan tetapi juga karena kegiatan dan aktivisme itu mampu berdampak pada kelestarian lingkungan.AbstractBy using ecofeminism perspective, this paper aims to describe the activity and activism of women's movement in Bandung that focuses on environmental issues. The subjects of this research are three women who pioneered environmental movements in urban communities in Bandung in their capacity as housewives. This research uses qualitative methods that produce descriptive data from interviews and direct observation. The results of research reveals that despite positioning themselves as objects, their status as housewives and their domestic/feminine roles have enabled them to act as environmentally conscious subjects. Though often regarded as simple and local, their activities and activism can be categorized as an eco-feminist movement. Not only because of their position and their status as housewives but also because of the activities and activism have obviously a direct positive impact on environmental sustainability and improvement, particularly in the area where they live.
HUMA ORANG BADUY DALAM PEMBENTUKAN SIKAP SWASEMBADA PANGAN Yudi Putu Satriadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.794 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.119

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran budaya lokal dalam mendukung program ketahanan pangan. Penelitian dilakukan di daerah Baduy menggunakan metoda survei, observasi, wawancara mendalam dan analis deskriptif. Fokus kajian dilakukan terhadap huma sebagai sumber penghasil pangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa huma sebagai sumber penghasil pangan diatur pengelolaannya mengikuti adat yang dilestarikan dengan  beberapa kriteria yaitu mempertahankan tata ruang melalui pembatasan perubahan tata guna lahan; memerhatikan  waktu yang diperlukan   untuk pengembalian status nutrisi lahan dan optimasi komponen biotik dan abiotik untuk mendukung produksi; mempertahankan komponen ekosistem untuk mendukung produktivitas huma, meminimalisasi biaya produksi melalui pembatasan pengolahan lahan, tidak merokok, mengurangi pembicaraan yang tidak produktif, lebih mengefisienkan waktu kerja, serta mengatur peruntukan padi dan beras dengan pengaturan pendistribusian yang ketat.  Penelitian ini memberikan 3 rekomendasi yaitu (i) kearifan lokal tetap dipertahankan dengan memerhatikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung swasembada pangan; (ii) menyesuaikan daya dukung lingkungan dengan program eksploitasi;  (iii)  menyusun tata ruang berdasarkan potensi penggunaan lahan dan kajian sosial budaya.  AbstractThis study aims to assess the role of local culture in supporting security programs of food self-supporting in the Baduyarea.  This research conducted a survey method, observation, in-depth interviews and descriptive analysis. This study focusonhuma as a source of food to meet the needs of the family. The results showed that the huma as a source of food is set to follow the traditional management preserved with some criteria.They are: maintaining spatial through the restrictions on land use changing, paying attention to the time required for returning the nutritional status of the land and optimizingthe biotic and abiotic components to support production, maintaining ecosystem components to support huma productivity, minimizing production costs through restrictions on land management, not smoking, reducing unproductive talks, being more efficient in working time, as well as regulating the allotment of rice and rice with a tightdistribution. This study provides three recommendations: (i) local knowledge is maintained by taking into account the advancement of science and technology to support food self-sufficiency; (ii) adjusting the carrying capacity of the environment to the exploitation program; (iii) developing spatial based on potential land use and socio-cultural studies.
TAHULI DAN TAHUDA: TRADISI LISAN DAN PEMBENTUK KARAKTER BANGSA DI MASYARAKAT GORONTALO Salmin Djakaria
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.632 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.32

Abstract

 AbstrakSastra dan tradisi lisan selalu memiliki pengaruh tersendiri dalam pola pikir setiap individu, tidak terkecuali sastra dan tradisi lisan Tahuli dan Tahuda di Gorontalo, warisan sastra sebagai pembentuk karakter bangsa, meskipun dalam lingkup lokalitas kedaerahan. Tujuan dari kajian ini untuk menunjukkan bahwa sastra dan tradisi lisan dapat menjadi salah satu alternatif wadah untuk pembentukan karakter bangsa. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analisis. Hasil dari kajian ini menujukkan bahwa sastra dan tradisi lisan menjadi salah satu pendukung pembentukan karakter bangsa di masyarakat Gorontalo yang sesuai dengan pedoman “Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah”. Kata Kunci: Sastra, Tradisi Lisan, Pembentukan Karakter Bangsa AbstractLiterature and oral tradition has always had its own influence in the mindset of each individual, is no exception literature and oral tradition Tahuli and Tahuda in Gorontalo, the literary heritage as forming the character of the nation, although within the scope of regional locality. The purpose of this study to show that literature and oral tradition can be an alternative container to the formation of national character. This paper uses a descriptive-analytic methods. The results of this study showed that literature and oral tradition became one of supporting the establishment of a national character in society in accordance with guidelines Gorontalo society  “Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah”.Keywords: Literature, Oral Tradition, National Character
MENGAIL DI AIR KERUH: GERAKAN PKI DI SULAWESI SELATAN 1950-1965 Taufik Ahmad
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.988 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i2.201

Abstract

AbstrakArtikel ini dimaksudkan untuk menjelaskan gerakan PKI di Sulawesi Selatan tahun 1950 sampai 1965. Pokok persoalan dalam penelitian ini adalah bagaimana dinamika gerakan PKI di tengah buruknya situasi politik dan keamanan regional? Apakah terdapat interelasi hubungan yang dinamis dan saling memberi pengaruh antara PKI dengan kelompok politik lainnya? Bagaimana PKI mengimbangi kekuatan-kekuatan lokal sehingga mampu bertahan sebelum kehancurannya tahun 1965? Penelitian ini penting untuk melihat perubahan dan hubungan kekuasaan di tengah dinamika politik di daerah Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah kritis dengan melakukan analisis sumber dokumentasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa munculnya pemberontakan DT/II Kahar Muzakkar dan Permesta memengaruhi ritme gerakan PKI. PKI tidak dapat mengembangkan organisasinya di daerah pedalaman karena penetrasi DI/TII di daerah pedalaman menyebarkan agitasi bahwa PKI anti agama. Sementara di daerah kota, PKI mendapat tantangan dari militer dan elit birokrat yang umumnya dikuasai oleh bangsawan. Akibatnya, PKI gagal mendapatkan dukungan di Sulawesi Selatan pada pemilu 1955. Setelah DI/TII dan Permesta ditumpas gerakan PKI berkembang pesat dan mendapat dukungan luas dari para petani. Terdapat interelasi hubungan yang dinamis, berfluktiatif, saling memberi pengaruh antara PKI dengan kelompok politik lain dari satu periode ke periode lainnya.   AbstractThis article is intended to explain PKI movement in South Sulawesi in 1950 – 1965.  The main subject in this research is to know how the dynamics of the movement of the PKI in the middle of the bad political situation and regional security.  Is there any dynamic interrelation relationship and mutual influence between the PKI with other political group? How does PKI offset local forces so that they can withstand before its destruction in 1965? This reasearch is important to overview the changes and the power relations in the middle of dynamics politics of South Sulawesi.  The research method that is used in this rearch is critical history method with doing documentation source analysis and in depth interview.  The result found that the rebellion of DT/II of Kahar Muzzakars and Permesta affected the rhytm of PKI movement.  PKI could not evolve the organization in rural areas because of the penetration of DI / TII in the countryside that was spreading anti-religious agitation of PKI.  Meanwhile in the city, PKI got challenged from the military and elite bureaucrats who were generally dominated by nobles.  As a result, PKI failed to gain support in the South Sulawesi in 1955 elections. After DI / TII and Permesta exterminated, the PKI movement was growing rapidly and had a wide support from the peasants.  There is a dynamic relationship interrelation, fluctuating, mutual influence between PKI with other political groups from one period to another period.

Page 8 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue