cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
DAKWAH SIMBOLIK HIJRAH DAN MODERASI ISLAM DI MEDIA ONLINE Muhamad Fahrudin Yusuf
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1010

Abstract

Abstract "Hijrah" with all its symbolic identities today is one of the most contemporary Islamic issues. This research aims to describe and analyze the meaning of "hijrah" ideologically. This research focuses on the discourse of "hijrah" through the representation of the news of "hijrah" photos of the artists and the supplementary news in online media such as "Kapanlagi.com" and "kiblat.net". The method used in this research is discourse analysis. Technique of analyzing the data used in this research is semiotic analysis. The result of data analysis showed that the meaning of "hijrah" is still symbolic, namely professional change, the change of name and performance. In addition, online media have not fully supported the Islamic moderation movement.Key Word: Hijrah, Meaning, Ideology, Islamic Moderation. Abstrak “Hijrah” dengan segala identitas simboliknya dewasa ini menjadi salah satu isu Islam kontemporer terhangat menghiasi ruang media. Untuk tujuan mendeskripsikan dan menganalisis makna “hijrah” secara ideologis, penelitian ini memfokuskan diri wacana “hijrah” melalui representasi pada berita foto “hijrah” artis dan berita pelengkapnya yang ada di media online “kapanlagi.com” dan “kiblat.net”. Menggunakan analisis wacana sebagai metode penelitian dan analisis semiotika sebagai metode analisis data, didapati hasil bahwa makna “hijrah” menurut media online masih bersifat simbolik, yaitu perubahan profesi, perubahan nama dan penampilan. Artinya, media online belum sepenuhnya mendukung gerakan moderasi Islam.Kata kunci: Hijrah, Makna Simbolik, Ideologi, Moderasi Islam. 
CULTURAL DAKWAH AND MUSLIM MOVEMENTS IN THE UNITED STATES IN THE TWENTIETH AND TWENTY-FIRST CENTURIES Mark Woodward
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1252

Abstract

Abstract: There have been Muslims in what is now the United States since tens of thousands were brought as slaves in the 18th and early 19th centuries. Very few maintained their Muslim identities because the harsh conditions of slavery. Revitalization movements relying on Muslim symbolism emerged in the early 20th century. They were primarily concerned with the struggle against racism and oppression. The Moorish Science Temple of American and the Nation of Islam are the two most important of these movement. The haj was a transformative experience for Nation of Islam leaders Malcom X and Muhammad Ali. Realization that Islam is an inclusive faith that does not condone racism led both of them towards mainstream Sunni Islam and for Muhammad Ali to Sufi religious pluralism.Keywords: Nation of Islam, Moorish Science Temple, Revitalization Movement, Malcom X, Muhammad Ali. Abstract: Sejarah Islam di Amerika sudah berakar sejak abad ke 18 dan awal 19, ketika belasan ribu budak dari Afrika dibawa ke wilayah yang sekarang bernama Amerika Serikat. Sangat sedikit di antara mereka yang mempertahankan identitasnya sebagai Muslim mengingat kondisi perbudakan yang sangat kejam dan tidak memungkinkan. Di awal abad 20, muncul-lah gerakan revitalisasi Islam. Utamanya, mereka berkonsentrasi pada gerakan perlawanan terhadap rasisme dan penindasan. The Moorish Science Temple of American dan the Nation of Islam adalah dua kelompok terpenting gerakan perlawanan tersebut. Perjalanan ibadah haji memberikan pengalaman transformatif bagi pimpinan kedua kelompok gerakan tersebut, yaitu Malcom X dan Muhammad Ali. Pemahaman Islam yang inklusif yang tidak sejalan dengan rasisme mendekatkan mereka dengan ajaran-ajaran mainstream Islam sunni, dan (terutama) Muhamad Ali yang condong ke pluralisme ajaran kaum Sufi.Kata Kunci: Nation of islam, Moorish Science Temple, Gerakan revitalisasi, Malcom X, Muhammad Ali.
ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION, STUDENT ACTIVITY AND INTOLERANCE IN STATE SENIOR HIGH SCHOOLS IN YOGYAKARTA Aniek Handajani; Noorhaidi Hasan; Tabita Christiani
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1015

Abstract

Abstract Several studies show the presence of intolerance and Islamist attitudes strengthened among teachers and students. However, studies on ‘radicalization’ process among teenagers at school are still limited. We address the issue by analyzing intolerance tendency, examining the religious education at school and revealing the shift of intolerance tendency among students. By conducting mixed methods research in three public schools, this study uncovers seven factors that cause the shift of intolerance tendency: First, stakeholders formulate school vision which endorses religious tolerance in public schools. Second, the school policies that support pluralism and tolerance towards other differences in the school environment. Third, government and school leaders conduct training to provide teachers with knowledge to counter radical teachings. Fourth, teachers integrate local wisdoms in their teaching materials. Fifth, the student activities, particularly Islamic religious activities, which accommodate pluralism and endorse tolerance towards different religions, ethnics and cultures. Sixth, the supervision of books and materials from the internet that contain radical doctrines by parents and teachers. Seventh, involving Islamic mainstream organizations in countering radical ideology and mitigating intolerance in public schools. Regarding Islamist movements at schools, we suggest that religious education, if properly formulated can be used to counter Islamist radicalism at school effectively.Key words: Intolerance, Islamist movements, Radical ideology, Religious, Education AbstrakBeberapa studi menunjukkan adanya intoleransi dan sikap Islamis yang menguat di kalangan guru dan siswa. Akan tetapi penelitian mengenai proses 'radikalisasi' di kalangan remaja di sekolah masih terbatas. Kami menyikapi masalah ini dengan menganalisa kecenderungan intoleransi dan meneliti pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Dengan memakai metode gabungan di tiga sekolah umum, studi ini mengungkap adanya penurunan kecenderungan intoleransi pada tahun 2017 - 2018. Penelitian ini mengungkap enam faktor yang mempengaruhi penurunan intoleransi agama di kalangan siswa. Pertama, para pemangku kepentingan merumuskan visi sekolah yang mendukung toleransi beragama. Kedua, kebijakan sekolah yang mendukung pluralisme dan toleransi terhadap agama lain di sekolah.  Ketiga, pemerintah dan pimpinan sekolah mengadakan pelatihan bagi para guru untuk memberikan pengetahuan dalam rangka mengatasi paham radikal. Keempat, guru mengintegrasikan kearifan lokal dalam bahan ajar mereka. Kelima, kegiatan siswa terutama kegiatan Kerohanian Islam, yang mengakomodasi keberagaman dan mendukung toleransi terhadap berbagai agama, etnis, dan budaya. Keenam, pengawasan buku dan bahan dari internet yang mengandung doktrin radikal oleh orang tua dan guru. Ketujuh, melibatkan organisasi mainstream Islam dalam melawan ideologi radikal dan memitigasi intoleransi di sekolah umum. Sedangkan mengenai gerakan Islamis di sekolah, kami berpendapat bahwa pendidikan agama jika diformulasikan dengan benar dapat dipakai untuk melawan radikalisme di sekolah secara efektif.Kata kunci: Intoleransi, Gerakan Islamis, Ideologi radikal, Pendidikan Agama
TIPOLOGI DAN SIMBOLISASI RESEPSI AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA RAWALO BANYUMAS Akhmad Roja Badrus Zaman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1375

Abstract

Abstract: The Qur'an is actually a holy book that contains moral teachings to guide man to the straight path. Only, when the Qur'an in consumption by the public, the book is undergoing a paradigm shift so treated, diresepsi, and expressed vary according to the knowledge and belief respectively. The expression, of a concrete indicator that the Koran is a holy book that is always in tune with the situation and the condition (s}a>lih{ li kulli zama>n wa maka>n). The reception-style models and even now continues to be expressed and preserved by a large family of Miftahul Huda Islamic Boarding School Rawalo Banyumas. This study aims to find out the reception of the Qur'an in the boarding school, as well as trying to understand the meaning inherent in it. This study was designed with qualitative method and included in the research field. In obtaining the data, the researchers use an instrument that is in-depth interviews, observation, and study of the relevant documents. The analysis used by researchers is, as submitted by Mohd. Soehadha, ie the reduction of data, display of data, and conclusion. In clarifying the validity of the data, researchers conducted the extension of participation, and triangulation of sources and methods. From the research conducted, the results obtained are: (1) diversity reception of the Qur'an in Miftahul Huda Islamic Boarding School Rawalo Banyumas, among others: (a) reception exegesis of the Qur'an in the recitation Book Jalalain; (b) the aesthetic reception of the Qur'an contained in calligraphy at the hostel students and ndalem caregivers; (c) functional reception of the Qur'an manifested in the tradition of the reading of Al-Wa> qi'ah and Ya>si>n; and (d) reception eternalitas Qur'an embodied in various practices of preservation of the Qur'an, such as deposit bi al-naz{ri and bi al-hifz{i, sima'an, and mura> ja'ah. (2) The meanings inherent in the diversity reception, among others: objective meaning, the meaning of expressive and documentary meaning. Objective meaning conclude that behavioral diversity reception in the boarding school is as a symbol of obedience and reverence to the rules cottage. Expressive meaning is as a form of internalization yourself with positive things through the process of learning the Qur'an continuity and meaning to his documentary is a form of local contextualization of the cultural system overall.Keywords: Reception, Al-Quran and Miftahul Huda Islamic Boarding school.Abstrak: Al-Qur’an sejatinya merupakan kitab suci yang berisi ajaran-ajaran moral sebagai huda—petunjuk—bagi manusia ke jalan yang benar. Hanya saja, ketika Al-Qur’an sampai dan dikonsumsi oleh masyarakat, kitab suci tersebut mengalami pergeseran paradigma sehingga diperlakukan, diresepsi, dan diekspresikan secara berbeda-beda sesuai dengan pengetahuan dan ideologinya masing-masing. Fenomena tersebut nampaknya dapat dijadikan indikator konkret bahwasannya Al-Qur’an merupakan kitab suci yang senantiasa relevan dengan segala situasi dan kondisi (s}a>lih{ li kulli zama>n wa maka>n).  Ragam resepsi tersebut bahkan kini terus diekspresikan dan dilestarikan oleh keluarga besar Pondok Pesantren—kemudian disebut Ponpes—Miftahul Huda Rawalo Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam resepsi Al-Qur’an di Ponpes tersebut, serta berusaha memahami makna yang melekat di dalamnya. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode kualitatif dan termasuk dalam jenis penelitian lapangan (field research). Dalam memperoleh data, peneliti menggunakan berbagai instrument, seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi atau studi atas dokumen terkait. Analisis yang peneliti gunakan adalah sebagaimana yang disampaikan Mohd. Soehadha, yaitu dengan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Di dalam mengklarifikasi keabsahan data, peneliti melakukan perpanjangan keikutsertaan, serta triangulasi sumber maupun metode. Dari penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa: (1) ragam resepsi Al-Qur’an yang ada di Ponpes tersebut antara lain: (a) resepsi eksegesis; (b) resepsi estetis; (c) resepsi fungsional; dan (d) resepsi eternal. Resepsi eksegesis mewujud dalam kajian kitab tafsir Jalalain, resepsi estetis mewujud dalam kaligrafi di asrama dan ndalem pengasuh, resepsi fungsional mewujud dalam pembacaan surat-surat “idaman,” dan resepsi eternal terejawantahkan dalam pelbagai praktik preservasi Al-Qur’an, seperti setoran bi al-naz{ri dan bi al-ghaib, sima’an, dan mura>ja’ah. (2) Makna-makna yang melekat dalam ragam resepsi tersebut, antara lain: makna objektif, makna ekspresif, dan makna dokumenter. Makna objektif menyimpulkan bahwa ragam perilaku resepsi di ponpes tersebut adalah sebagai simbolisasi kepatuhan dan ketakziman terhadap peraturan pondok. Makna ekspresifnya adalah sebagai wujud internalisasi diri dengan hal-hal positif melalui proses pembelajaran Al-Qur’an yang berkelanjutan, dan makna dokumenternya adalah sebagai bentuk kontekstualisasi lokal dari sistem kebudayaan yang menyeluruh.Kata Kunci: Resepsi, Al-Qur’an, dan Ponpes Miftahul Huda Banyumas.
ABDURRAHMAN WAHID’S CONTRIBUTION FOR INTER-RELIGIOUS DIALOGUE IN INDONESIA Achmad Munjid
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1134

Abstract

Abstract: By understanding the historical development of inter-religious dialogue in Indonesia and its global setting since 1970s from rhetoric strategy to meaningful encounter, this paper seeks to situate important contribution of Abdurrahman Wahid’s legacy besides those of other key figures in the field. The paper will critically analyze how and why Abdurrahman’s ideas and works in inter-religious dialogue are intertwined with his family and personal biography, socio-political context of the New Order and after and his traditionalist Muslim background. In particular, Abdurrahman’s reinterpretation of Islamic texts, doctrine and tradition will be discussed in the light of his vision for Indonesian democracy. His notion of religious pluralism, tolerance, peaceful co-existence, mutual understanding, and indigenization of Islam will be explained as intellectual and political enterprises by which he navigates and challenges all forms of injustices especially created by the New Order’s politics of fear, exploitation of anti-Communist sentiment, ethnicity, religion, race and inter-social groups (SARA) and developmentalist ideology under Suharto’s presidency. His engagement in inter-religious dialogue will be read against the developing context of the New Order’s post-1965 politics of religion to the 1990s re-Islamization, the persistent growth of Islamic sectarianism, exclusivism, and identity politics that eventually results in interreligious tension and mutual suspicion, especially between Muslims and Christians. The paper seeks to understand how and why Abdurrahman Wahid as a prominent leader of Muslims as majority group explores inter-religious dialogue as a means by which religious communities are supposed to contribute and work together in overcoming common problems faced by the society. His commitment for and advocacy of the local culture, tradition, minority rights, and Islamic inclusivism will be understood as his struggle as statesman, religious leader, public intellectual and social activist for the creation of equality and justice for all citizens and human dignity in accordance with Islamic teaching and principles of democracy.Keywords: Inter-religious Dialogue, Religious Pluralism, Indigenization of Islam, Islamic Sectarianism, Identity Politics, Democracy. Abstrak: Dengan memahami perkembangan historis dialog antar-agama di Indonesia serta latar globalnya sejak 1970-an dari strategi retoris menjadi perjumpaan yang bermakna, paper ini akan menempatkan sumbangan warisan Abdurrahman Wahid bersama para tokoh kunci lainnya dalam bidang ini. Secara kritis paper ini akan menganalisis bagaimana dan kenapa gagasan serta karya Abdurrahman Wahid dalam dialog agama terjalin erat dengan biografi pribadi dan keluarganya, konteks sosial-politik Orde Baru dan sesudahnya serta latar belakang Islam tradisional yang menjadi basisnya. Secara khusus, penafsiran ulang Abdurrahman Wahid terhadap teks, doktrin, dan tradisi akan didiskusikan dalam kaitannya dengan visinya tentang demokrasi Indonesia. Pengertiannya tentang pluralism agama, toleransi, hidup berdampingan secara damai, saling memahami, dan pribumisasi Islam akan dijelaskan sebagai ihtiar intelektual dan politisnya yang dengan itu ia melakukan navigasi dan menggugat segala macam bentuk ketidakadilan khususnya yang muncul sebagai akibat dari politik ketakutan Orde Baru, eksploitas terhadap sentiment anti-Komunis, SARA dan ideologi pembangunan selama masa Suharto. Keterlibatannya dalam dialog antar-agama akan dibaca dalam kaitannya dengan perkembangan konteks politik agama pasca-1965 yang dilakukan Orde Baru hingga re-Islamisasi 1990an dan kian mengerasnya Islamisme, ekslusivisme serta politik identitas yang akhirnya mengakibatkan ketegangan hubungan antar-agama dan saling curiga, khususnya antara Muslim dan Kristen. Paper ini berusaha untuk memahami bagaimana dan mengapa Abdurrahman Wahid sebagai pemimpin terkemuka Islam sebagai kelompok mayoritas mengeksplorasi dialog antar-agama sebagai sarana bagi komunitas agama untuk berkontribusi dan bekerjasama satu sama lain dalam mengatasi problem bersama yang dihadapi masyarakat.  Komitmen serta pembelaannya terhadap budaya lokal, tradisi, hak-hak minoritas dan inklusivisme Islam akan dipahami sebagai bagian dari perjuangannya sebagai seorang negarawan, pemimpin agama dan intelektual publik serta aktivis sosial dalam upaya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi setiap warga negara serta martabat bagi semua manusia sesuai dengan ajaran Islam dan prinsip-prinsip demokrasi.Kata kunci: Dialog Antar-agama, Pluralism Agama, Pribumisasi Islam, Sektarianisme Islam, Politik Identitas, Demokrasi.
MODERASI ISLAM PENCANTUMAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN DI KOLOM KTP/KK DALAM NALAR MAQASID Hamka Husein Hasibuan
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1011

Abstract

Abstract This article analyzes the decision of the Constitutional Court (MK) which rules that Penghayat Kepercayaan (the indigenous believers) has the right to include their credentials on their Identity (KTP) and Family Cards (KK). Using the “maqasid” approach, this article provides alternative answers, mediating the accepting and rejecting parties. The moderation of Islam is concluded, when the maqasid is used as reasoning sources in seeing things which bridges between texts and the reality besides considering the reasonality. By using the Jasser Auda’s maqasid paradigm, the paper concludes that inclusion of the local faith as their religious identity on the state documents is a part of development and human rights in the nation-state framing. Keywords:  Identity, indigenous believer, Maqasid, MK, and Human Right.Abstrak Artikel ini menganalisis Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Pencantuman Penghayat Kepercayaan di kolom KTP/KK dengan menggunakan konsep maqasid. Dengan pendekatan maqasid, artikel ini memberikan jawaban alternatif, sebagai sintesis antara pihak yang menerima dan pihak yang menolak. Moderasi Islam itu tampak, ketika maqasid digunakan sebagai nalar dalam melihat sesuatu, yang bisa mendialogkan antara teks dengan realitas yang berkembanga dengan tetap berpegang kepada kekuatan nalar. Dengan menggunakan paradigma maqasid Jasser Auda, maka pencantuman itu merupakan bagian dari development (pembangunan) dan human right (hak insani). Kedua poin ini diletakkan dalam kerangka nation-state.Keyword: Identitas, Penghayat, Maqasid, MK, dan Human Right.
IMPLEMENTASI Al-MASYAQQOH Al-TAJLIBU Al-TAISYIIR DI TENGAH PANDEMI COVID-19 Sahari Sahari
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1367

Abstract

Abstrac: The purpose of this study is to explain the meaning of “al-masyaqqoh al-tajlibu al-taisyiir”, the implementation of these principles during the Covid-19, to find out the understanding of the Manado people about these principles and finally to describe the response of the Manado Muslim community to the MUI fatwas, especially Friday prayers. 'at the time of the Covid-19 pandemic. The research used an exploratory case study method and the research approach was qualitative. The informants who were interviewed were 15 people from 5 mosques consisting of imams, ta'mir, and congregation of mosques, interviews were conducted by telephone, because they were worried about contracting the virus when interviewing face to face. Research results: People are still not familiar with the rules of al-masyaqqoh al-tajlibu al-taisyiir, what they know is the term 'emergency', but the term emergency is too narrow and has very limited meaning, which is only limited to life-threatening things that result. by the absence of food. In practice, al-masyaqqah must be adapted to the conditions and situations, at least there are two conditions, namely al-masyaqqah al-'Azhimmah, and al-masyaqqah al-Khafifah. Regarding the MUI fatwa, there are agree and disagree in the community, some have responded positively and some have refused.Key words: Understanding, Perception, Al-Masyaqqoh Al-Tajlibu Al-Taisyiir, MUI Fatwa, Covid-19 Pandemic. Abstrak:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan makna al-masyaqqoh al-tajlibu al-taisyiir, implementasi kaedah tersebut pada masa pandemi covid-19, mengetahui pemahaman masyarakat Manado tentang kaedah tersebut dan yang terakhir  untuk mendeskripsikan respon masyakat muslim Manado terhadap fatwa MUI khususnya shalat jum’at di masa pendemi covid-19. Penelitian menggunakan metode studi kasus eksplorasi dan pendekatan penelitiannya menggunakan kualitatif. Informan yang diwawancarai sebanyak 15 orang dari 5 mesjid terdiri dari imam, ta’mir, dan jama’ah masjid, wawancara dilakukan melalui telepon, pertimbangannya karena kekhawatiran terjangkit virus apabila wawancara dengan tatap muka. Hasil penelitian:  Masyarakat masih belum mengenal kaedah al-masyaqqoh al-tajlibu al-taisyiir, yang mereka tau adalah istilah ‘darurat’, tetapi istilah darurat pun terlalu sempit dan sangat terbatas dimaknainya, yaitu hanya terbatas pada hal-hal yang mengancam jiwa yang diakibatkan oleh ketiadaan makanan. Dalam prakteknya, al-masyaqqah harus disesuaiakan dengan kondisi dan situasi, minimal ada dua keadaan yakni al-masyaqqah al-‘Azhimmah, dan al-masyaqqah al-Khafifah. Terkait dengan fatwa MUI terjadi pro dan kontra di masyarakat ada yang menanggapi positif dan ada yang menolak.Kata Kunci: Pemahaman, Persepsi, Al-Masyaqqoh Al-Tajlibu Al-Taisyiir, Fatwa MUI, Pandemi Covid-19.
ASMA BARLAS DAN GENDER PERSPEKTIF DALAM PEMBACAAN ULANG QS. AN-NISA/4:34 Nuril Fajri
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1016

Abstract

AbstractGender discussion will always seem appealing from an Islamic perspective. Before Islam came, the pattern of life of Arab society was very prone to social conflict. Islam came to improve the human life with the spirit of justice, liberation, anti-oppression, and anti-discrimination. The culture of patriarchy that was once heavily rooted turned out to affect on the interpretation of Qur'anic verses done by the mufassirūn (Comentators on the Qur’an), especially during the Classic era, the interpretation ignored the Women's interests, so the difference between men and women is very noticeable. Islam recognizes the distinction but does not make it a discrimination. This can be seen from the perception and review of women such as women are considered weak, passive, more precious than men, emotional, and so forth. While in the study of religion, women are always used as the weak in various fields, such as of the concept of nusyudz, polygamy, witness adultery, inheritance treasures, reward and threats of torment, Shari'ah and so forth. In this case, through her concept of "recital of the Qur'anic texts, Asma Barlas appears to be one of the contemporary feminist figures who want to improve the order of the interpretation of religious texts that is overwhelmed by gender bias. This includes Hadith interpretation which is framed against the patriarchal ideology, thus raising the spirit of liberation among women and uphold the perspective of egalitarianism in the recitation of the verses of the Qur'an. Using the historical facts and hermeneutics, this paper elaborates the meaning of qawwᾱm in the QS. 4:34. in more gendered perspective according to Barlas.Keywords: Qur'an, Patriarchy, Gender, Feminist, Asma Barlas AbstrakPembahasan gender akan senantiasa tampak menarik dilihat dari perspektif Islam. Sebelum Islam datang, pola kehidupan masyarakat Arab saat itu sangat rawan akan konflik dan juga perpecahan umat. Islam datang untuk memperbaiki tatananan kehidupan tersebut dengan semangat keadilan, pembebasan, anti-penindasan, dan anti diskriminasi dalam memperlakukan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Budaya patriarki yang dulunya sangat kental ternyata sangat berpengaruh pada produk tafsir al-Qur’an, terutama yang dihasilkan oleh mufassir era klasik yang secara tidak sadar, penafsirannya kurang mengakomodir kepentingan perempuan, sehingga perbedaan antara laki-laki dan perempuan sangat terlihat. Islam mengakui akan adanya perbedaan (distinction) akan tetapi tidak menjadikan itu sebagai sebuah pembedaan (discrimination). Hal ini dapat dilihat dari persepsi dan kajian tentang perempuan seperti perempuan dianggap lemah, pasif, akalnya lebih sedikit dibanding laki-laki, emotional, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam kajian agama, perempuan selalu dijadikan sebagai objek dari berbagai sisi, seperti konsep nusyudz, poligami, saksi zina, harta warisan, pahala dan ancaman siksaan, syari’at dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Asma Barlas muncul sebagai salah satu tokoh feminis kontemporer yang ingin melakukan reinterpretasi teks-teks agama yang bias gender yaitu dengan konsep pembacaan ulang terhadap teks-teks al-Qur’an dan juga hadis, yang mana penafsiran-penafsiran sebelumnya didominasi oleh ideologi patriarki. Hal ini dilakukan untuk memunculkan semangat pembebasan terhadap perempuan dan menjunjung perspektif egalitarianisme dalam pembacaan kembali ayat-ayat al-Qur’an. Dengan menggunakan metodologi sejarah dan hermeneutik, salah satu yang dikritik oleh Asma Barlas ialah makna qawwᾱm dalam QS. 4:34.Kata kunci: Al-Qur’an, Patriarki, Gender, Feminis, Asma Barlas
Manajemen Strategi Pendidikan Pemilih KPU Provinsi Sulawesi Utara Dalam Meningkatkan Partisipasi Pemilih Pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Tahun 2020 Zainudin Pai
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.2307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis perencanaan dan implementasi manajemen strategi pendidikan pemilih KPU Sulawesi Utara pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Tahun 2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam konteks strategi pendidikan pemilih KPU Sulawesi Utara menggunakan dua bentuk sosialisasi yaitu sosialisasi tatap muka dan media daring/media sosial.This study aims to describe and analyze the planning and implementation of the management of the KPU North Sulawesi voter education strategy in the 2020 Governor and Deputy Governor Elections. This research uses a qualitative approach with observation, interview and documentation methods. In the context of the voter education strategy, the North Sulawesi KPU uses two forms of socialization, namely face-to-face socialization and online media/social media.Kata Kunci : Manajemen Strategi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Pemilih.
الأغراض البلاغية في التشبيهات النبوية من الأحاديث الصحيحة Fatkhul Ulum
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1138

Abstract

 مستخلص البحث :ويهدف هذا البحث إلى كشف أغراض التشبيه التي تتضمن في أحاديث النبي ﷺ الصحيحة، مع إظهار فصاحة لسانه، وروعة تعبيره، والكشف عن أسراره. والأحاديث التي هي موضوع البحث مأخوذة من كتاب اللؤلؤ والمرجان فيما اتفق عليه الشيخان. وهذا البحث يعتبر البحث المكتبي الذي  يعتمد على المنهج الوصفي التحليلي.ومن نتائج هذا البحث أن التشبيه في الأحاديث النبوية  تحتوي على معظم أغراض التشبيه في علم البلاغة؛ وهي بيان إمكان وجود المشبه، وبيان حاله، وتقرير حاله، وبيان مقداره، وتحسين المشبه وتقبيحه. الكلمات المفتاحية: التشبيه، الحديث, البلاغةAbstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap maksud dan tujuan dari gaya bahasa al-Tasybih (agrad al-Tasybih) yang terkandung didalam hadis-hadis nabi ﷺ yang sahih, serta menonjolkan keindahan bahasa, kefasihannya dan untuk mengetahui  rahasia yang terkandung didalam setiap ungkapannya. Hadis-hadis yang menjadi Obyek didalam penelitian ini diambil dari kitab al-Lukluk wa al-Marjan fima ittafaqa ‘alaihi al-Syaikhan.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (dirasah maktabiyah) dengan pendekatan deskriptif analitis  (al-Manhaj al-Washfi al-Tahlili).Hasil dari penelitian ini, bahwa gaya bahasa al-Tasybih didalam hadis-hadis nabi ﷺ  mencakup sebagian besar tujuan- tujuan al-Tasybih di dalam ilmu al-Balagah;  yaitu pernyataan tentang kemungkinan keberadaan musyabbah, pernyataan tentang keadaan musyabbah, penegasan akan keadaan musyabbah, pernyataan akan jumlahnya, dan pernyataan untuk memperindah musyabbah atau memburukkannya. Kata Kunci: Tasybih, Hadis, Balagah

Page 11 of 16 | Total Record : 151