cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
PEMIKIRAN SYEKH NAWAWI AL-BANTANI DAN RELEVANSINYA DI ERA MODERN Ahmad Wahyu Hidayat
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1012

Abstract

Abstract This research elaborates the education in accordance to Sheikh Nawai Al-Bantani. This research used library research with analytical study method. Analytical Studies used are analytical content and analytical descriptions of education according to Sheikh Nawai Al-Bantani. The results can be seen from the ideas of Shaykh Nawawi Al-Bantani which includes: 1. The Existence of the Universe, 2. Human Potential, 3. Human Existence, 4. Educational Objectives and 5. The principles of Islamic educational activities. Islam in Indonesia will certainly be able to develop meaningful indigenous Islamic traditions, which will be truly Islamic and creative. There were signs that contain an expectation for the future in dynamic educational and intellectual activities based on the development of Islamic school and universities in Indonesia.Keywords : Biography, Education, Relevance. AbstrakPenelitian ini menjelaskan konsep pemikiran pendidikan menurut Syekh Nawawi al-Bantani. Penelitian ini menggunakan data kepustakaan dengan metode analisa konten dan analisa deskripsi tentang pendidikan menurut Syekh Nawawi al-Bantani. Hasil temuanya bisa dilihat dari ide-ide pemikiran pendidikan Syekh Nawawi al-Bantani yang meliputi: 1. eksistensi alam semesta, 2. potensi-potensi Manusia, 3. eksistensi manusia, 4. tujuan Pendidikan dam 5. prinsip-prinsip aktivitas pendidikan Islam. Pemikiran al-Bantani dapat berkontribusi dalam perkembangan tradisi Islam pribumi yang bermakna, yang akan benar-benar bersifat Islami dan kreatif.  Terdapat tanda-tanda yang mengandung harapan bagi masa depan aktivitas pendidikan dan intelektual yang dinamis didasarkan pada perkembangan sekolah dan universitas-universitas Islam yang berkembang di Indonesia.Kata Kunci: Biografi, Pendidikan, Relevansi. 
WARNA DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF FAKHR AL-DIN AL-RAZI Khairunnas Jamal; Najamuddin Siraj Harahap; Derhana Bulan Dalimunthe
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1368

Abstract

Abstract: Colour has a very important role in human communication with the outside world, even more in the function of memory and brain development. Therefore, comprehension and recognition of an event is strongly influenced by the colours which exist. The focus of this research is the thematic character. It is a discussion that takes a certain theme in the Qur'an and will only be limited by mufassir (a figure). By conducting research on the figures of his work, taking his thoughts and understanding comprehensively, namely Imam Fakhr al-Din al-Razi. A step that will be taken is to collect the verses of the Qur’an which talks about colour, then thoroughly explore how the interpretation is made by Imam al-Razi related to these verses.Keywords: Colour, interpretation. Fakhr al-Din al-Razi  Abstrak: Warna memiliki peran yang sangat penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, terlebih lagi dalam fungsi daya ingat, dan perkembangan otak. Oleh karena itu, pemahaman dan pengenalan sebuah peristiwa sangat dipengaruhi oleh warna yang ada. Fokus kajian penelitian ini adalah tematik tokoh, tematik tokoh merupakan pembahasan yang mengambil tema tertentu dalam Al-Qur’an kemudian hanya akan dibatasi oleh mufassir (tokoh). Dengan cara melakukan penelitian tokoh dari karyanya, mengambil pemikiran dan pemahamannya secara komprehensif, yaitu Imam Fakhr al-Din al-Razi. Langkah yang akan dilakukan adalah dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai warna, kemudian mengupas tuntas bagaimana penafsiran yang dilakukan oleh Imam al-Razi terkait ayat-ayat tersebut.Kata Kunci: Warna, Tafsir, Fakhr al-Din al-Razi
RELIGIOUS PLURALISM IN BALI PREMODERN AND CONTEMPORARY PERSPECTIVES Mark Woodward
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1017

Abstract

AbstractThis paper describes two modes of civic religious pluralism in Bali. The first is adaptive pluralism in which elements of Islam were incorporated into pre-modern Balinese states.  Analysis focuses on the way in which Gusti Ayu Made Rai, an eighteenth-century Balinese princess became Raden Ayu Siti Khotijah, one Indonesia’s few widely recognized female Muslim saints. This leads to an alternative reading of Balinese religious history, countering the view that it is a static monolithically Hindu tradition. Rather than turning inward as the surrounding areas embraced Islam, Balinese kingdoms included Muslims and Islam in scared narratives and geographies.  Today this integrative strategy functions only at the local level. Pilgrimage to her grave by Indonesian Muslims integrates Hindu Bali into Indonesian society defined in terms of the national ideology Pancasila. The establishment of Pancasila as a hegemonic symbology has led to a new form of parallel pluralism in which all religions are subject to state regulation.Keywords: Bali, Hinduism, Islam, Female Saints, Pluralism, State Symbologies AbstrakMakalah ini menggambarkan dua bentuk keragaman beragama masyarakat di Bali. Yang pertama adalah  keragaman adaptif di mana unsur-unsur Islam tergabung dalam kerajaan pra-modern Bali. Analisa berfokus pada saat di mana Gusti Ayu Made Rai, seorang puteri kerajaan Bali abad kedelapan belas menjadi Raden Ayu Siti Khotijah, salah seorang wanita Muslim yang dianggap wali di Indonesia. Hal ini mengarah kepada wacana alternatif tentang sejarah agama orang Bali, yang berlawanan dengan pandangan yang meyakini bahwa Bali merupakan tradisi Hindu yang statis secara monolitis. Alih-alih menutup diri saat wilayah-wilayah di sekitarnya memeluk Islam, kerajaan-kerajaan Bali merangkul kaum Muslim dan ajaran Islam dalam kisah-kisah dan kawasan-kawasan sakral. Saat ini strategi integratif tersebut hanya berfungsi di tingkat lokal. Para peziarah Muslim Indonesia ke makam Sang Puteri menyatukan Bali Hindu ke dalam masyarakat Indonesia mempertegas ideologi nasional Pancasila. Pembentukan Pancasila sebagai sebuah simbologi hegemoni telah mengarah kepada bentuk baru keragaman paralel di mana semua agama tunduk kepada peraturan negara.Kata Kunci: Bali, Hinduisme, Islam, Wali perempuan, Keberagaman, Simbol-simbol Negara.
IDEOLOGI KOMUNIS DALAM PERSPEKTIF AL -QUR’AN (ANALISIS PENAFSIRAN AYAT-AYAT BERNUANSA KOMUNIS) Qois Azizah Bin Has; Nugraha Andri Afriza; Anton Widodo
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1141

Abstract

Abstract: The rise of the issues in circulation regarding the rise of communist ideology lately was sufficient to ignite the ideology of war in the society. The Qur'an as the main doctrines and references of Muslims in all aspects of the complex life, of course have the thematic verses to be used as a foundation describing the related things about sosisal life, politics and power. One of them is about this communist ideology. It is as if the communist ideology existed in the Qur'an. And make interconnectivity between human ideology with instructions Qur'anic must be done by Muslims. This idea arises from the phenomena that occur in the community and then interpreted for easy understanding of society. Hermenutika-Phenomenology is used to study the verses of the Communist Quran. Unfortunately, the communist-held ideology was propagated and imposed on the multitude using methods deemed inhuman; Violent slaughter, murder, abduction and others. This is what makes the ideology claimed by Marx as a revolutionary ideology, thus becoming a cursed ideology. The fatal mistake in Communist ideology is its application by the people in it. As Islam as a religion that Rahmatan Li al-'lamin becomes corrupted due to his false interpretation. In general, this communist ideology is contrary to the Qur'an.Keywords: Hermeneutics, Phenomenology, Communist Ideology. Abstrak: Maraknya isu-isu yang beredar perihal kebangkitan ideologi komunis akhir-akhir ini cukup untuk menyulut perang ideologi di lapisan masyarakat. Al-Qur’an sebagai doktrin dan rujukan utama umat Islam dalam segala aspek kehidupan yang kompleks, tentu memiliki ayat-ayat tematik guna dijadikan landasan yang menerangkan tentang hal-hal yang berkaitan tentang kehidupan sosisal, politik dan kekuasaaan.salah satunya tentang ideology komunis ini. Seolah-olah ideologi komunis ada dalam Al-Qur’an. Dan menjadikan interkoneksitas antara ideologi manusiawi dengan petunjuk Qur’ani harus di lakukan oleh umat Islam. Ide ini muncul dari fenomena-fenomena yang terjadi dimasyarakat kemudian ditafsirkan agar mudah dipahami masyarakat. Hermenutika-fenomenologi digunakan untuk mengkaji ayat Al-Qur’an bernuansa komunis ini. Sayangnya, Ideologi yang diusung komunis disebarkan dan dipaksakan kepada khalayak ramai menggunakan metode yang dianggap tak manusiawi; kekerasan pembantaian, pembunuhan, penculikan dan lain-lain. Penghalalan segala cara tersebutlah yang membuat ideologi yang diklaim oleh Marx sebagai ideologi revolusioner, justru menjadi ideologi terkutuk. Kesalahan fatal dalam ideologi komunis adalah penerapannya oleh orang-orang yang ada di dalamnya. Sebagaimana Islam sebagai sebuah agama yang Rahmatan li al-‘lamin menjadi rusak karena interpretasi penganutnya yang salah. Secara umum ideologi komunis ini bertentangan dengan al-Qur’an.Kata Kunci: Hermeneutika, Fenomenologi, Ideologi Komunis.
TAFSIR KONTEMPORER ATAS “AYAT PERANG” Q.S. AL-TAUBAH (9): 5-6: PERSPEKTIF HERMENEUTIKA JORGE J.E. GRACIA Ulummudin Ulummudin
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1013

Abstract

AbstractThis paper focuses on Q.S. al-Taubah (9): 5-6 often used as a justification of violence in the name of religion. The author argues a comprehensive understanding is needed to better understand these verses, exploring the meaning of the verses through Gracia’s method of hermeneutics. The method utilizes both textual and non-textual perspective in reading the verses. Textual perspective implies using three function, namely historical, meaning, and implicative function. The non-textual perspective involves historical, political, psychological approach, etc. Historical function of these verses is related to Hudaibiyah agreement which was violated by people of Quraisy in Mecca, leading to conflict and war situation. Meanwhile, its meaningful function could possibly tell us that war is the last option to end the chaos for the sake of peace and freedom of expression. Next, the verses implicative function is to keep a peace among human being regardless of their ethnic, culture, and religion. Meanwhile, non-textual perspective for Indonesian context is an advice to obey and be loyal toward Pancasila. Refusing Pancasila as a principle of Indonesia is deemed as destroying the agreement which has been signed.Key Words: Interpretation; war verses; Gracia’s Hermeneutics. AbstrakTulisan ini mengkaji tentang Q.S. al-Taubah (9): 5-6. Ayat ini sering digunakan sebagai justifikasi terhadap kekerasan atas nama agama, sehingga diperlukan pemahaman yang memadai. Metode yang digunakan untuk memahaminya adalah hermeneutika Gracia. Metode tersebut meniscayakan adanya pembacaan tekstual dan non-tekstual. Pembacaan tekstual dapat dilakukan melalui penjelasan terhadap tiga fungsi yakni historis, makna, dan implikasi, sedangkan non-tekstual dapat melibatkan pendekatan sejarah, politik, psikologi, dll. Analisis fungsi historis ayat ini berkaitan dengan perjanjian Hudaibiyah yang dilanggar oleh kaum musyrikin Quraish Mekah, sehingga situasi kembali ke dalam peperangan. Sementara, fungsi maknanya adalah perang sebagai jalan terakhir untuk mengatasi kekacauan demi meraih kedamaian dan kebebasan berekspresi. Selanjutnya, fungsi implikasinya ialah kewajiban untuk hidup rukun dan menjaga perdamaian antar manusia walaupun berbeda etnis, budaya, dan agama. Sementara itu, untuk pembacaan non tekstual dalam konteks keindonesiaan, ayat ini memberikan himbauan untuk setia terhadap Pancasila. Penolakan terhadap Pancasila berarti melanggar perjanjian yang telah disepakati.Kata Kunci : Tafsir; ayat perang; hermeneutika Gracia.
SEJARAH KAMPUNG PONDOL DAN KOMUNITAS EKSIL MUSLIM DI KOTA MANADO Roger Allan Christian Kembuan
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1370

Abstract

Abstract: This research discusses the process of forming and developing of Pondol village in Manado as a location for exile along with the Dutch colonial government policy that placed exiles who came from several sultanates in Java in the Manado Residency during the 19th century. The discussion includes, first, the background of the exile of the Javanese aristocrats in Manado. Second, the process of establishing Pondol as a location for exile and its development during the XIX century, and third, the adaptations made by the exiles to adjust to their exile and the impact of their arrival on the Manado-Minahasa community. The historical method is used in this research, using colonial archives from the XIX century which are stored in the National Archives of the Republic of Indonesia, and local sources, especially manuscripts stored by their descendants in Manado and Java. The findings in this study are; Kampung Pondol was formed due to the isolation of Kanjeng Ratu Sekar Kedaton and Pangeran Suryeng Ingalaga and some of his followers originated from political intrigue that occurred in the Sultanate of Yogyakarta. Second, the reason why Kampung Pondol was chosen as the new location for exile by the Dutch colonial government for Javanese royal officials was different from the exile of other figures in Tondano and Tomohon. Third, the form of adaptation carried out by the exiles in Kampung Pondol Manado was marriage with women from Manado and relationships with Dutch people who lived around them.Keywords : Exile, Javanese Noble, Pondol Village, Adaptation. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang proses terbentuk dan perkembangan kampung Pondol di Manado sebagai lokasi pengasingan seiring dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menempatkan para eksil yang berasal dari beberapa kesultanan di Jawa di Karesidenan Manado pada sepanjang abad 19.  Pembahasannya meliputi; Pertama, Latar belakang pengasingan para bangsawan Jawa di Manado. Kedua, proses terbentuknya Pondol sebagai lokasi pengasingan dan perkembangannya selama abad XIX, dan Ketiga, adaptasi yang dilakukan para eksil untuk menyesuaikan diri di pengasingan serta dampak kedatangan mereka pada masyarakat Manado-Minahasa. Metode sejarah dipergunakan dalam penelitian ini, dengan mempergunakan sumber Arsip Kolonial kurun waktu abad ke XIX yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia,  dan sumber lokal terutama manuskrip yang tersimpan oleh keturunannya di Manado dan Jawa. Temuan dalam penelitian ini adalah; Kampung Pondol terbentuk karena Pengasingan Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan Pangeran Suryeng ingalaga dan beberapa pengikutnya berawal dari intrik politik yang terjadi di Kesultanan Yogyakarta. Kedua, alasan Kampung Pondol dipilih sebagai lokasi baru pengasingan Pemerintah Kolonial Belanda bagi pembesar kerajaan Jawa yang berbeda lokasi dengan pengasingan tokoh-tokoh lainnya di Tondano dan Tomohon. Ketiga, bentuk adaptasi yang dilakukan oleh para eksil di Kampung Pondol Manado dilakukan pernikahan dengan wanita dari Manado dan relasi dengan orang-orang Belanda yang tinggal disekeliling mereka.Kata Kunci : Eksil, Bangsawan Jawa, Kampung Pondol, Adaptasi.
PARADIGMA TAFSIR ADIL GENDER PADA AKUN INSTAGRAM @MUBADALAH.ID Yuliana Jamaluddin; Siti Aisa
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v8i1.2277

Abstract

 Abstract: The Instagram account @mubadalah.id is one of the accounts that actively colors the contestation of religious understanding on social media, especially Instagram. This Instagram account actively campaigns the gender equality within religious interpretations, which are built on a methodological basis called qiro'ah mubadalah, which was popularized by KH. Faqihuddin Abdul Kodir. Qira'ah mubadalah is a method of interpreting the Qur’an that emphasizes the aspect of mutuality, and places women and men as equal subjects addressed by religious texts, including the Qur’an. The researcher took several content samples from Instagram feeds and analyze them using interpretation analysis together with gender analysis. The selected content explicitly explains the understanding of the verses of the Qur’an that are closely related to gender issues. Based on the results of the research, it can be concluded that the paradigm of fair gender interpretation in the Instagram account @mubadalah.id has 3 basic principles, namely: interpretation of the Qur’an must benefit all parties, interpretation of the Qur’an must not perpetuate the objectification of gender certain conditions, and the interpretation of the Qur'an encourages the division of gender roles in life in an equitable manner. Keywords: Social media, Interpretation, Gender Equality, Instagram account @mubadalah.id Abstrak: Akun instagram @mubadalah.id adalah salah satu akun yang secara aktif mewarnai kontestasi pemahaman keagamaan di media sosial, khususnya instagram. Akun instagram ini secara aktif menyuarakan tafsir keagamaan yang berkeadilan gender, yang dibangun atas pijakan metodologis yang disebut qiro’ah mubaadalah, yang dipopulerkan oleh KH. Faqihuddin Abdul Kodir. Qira’ah mubadalah adalah suatu metode penafsiran al-Qur’an yang menekankan pada aspek kesalingan, dan mendudukkan perempuan dan laki-laki sebagai subjek setara yang dituju dan disapa oleh teks keagamaan, termasuk di dalamnya al-Qur’an. Peneliti mengambil beberapa sampel konten dari feed instagram untuk kemudian dianalisis secara mendalam menggunakan analisis tafsir yang dibarengkan dengan analisis gender. Konten yang dipilih secara eksplisit menjelaskan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang erat kaitannya dengan isu gender. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa paradigma tafsir adil gender dalam akun instagram @mubadalah.id memiliki 3 prinsip dasar, yaitu: penafsiran al-Qur’an harus membawa kemaslahatan bagi semua pihak, penafsiran al-Qur’an tidak boleh melanggengkan objektivikasi terhadap gender tertentu, dan penafsiran al-Qur’an mendorong pembagian peran secara adil gender dalam kehidupan. Kata Kunci: Media sosial, Tafsir, Keadilan Gender, Akun Instagram @mubaadalah.id
CULTURAL IDENTITY OF DIASPORIC JAVANESE MUSLIMS OF PONOROGO IN MALAYSIA: CONTINUITY AND CHANGE Arik Dwijayanto; Yusmicha Ulya Afif
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v8i1.2460

Abstract

Abstract: This research seeks to explain the cultural changes and identity in diasporic experience among Javanese Muslims of Ponorogo in Johor, Malaysia. Stuart Hall's perspective on cultural identity and diaspora stress that these are significant concerns for anyone struggling the identity. This paper also examines the notions of a homeland the Javanese Muslims of Ponorogo diaspora in Johor, Malaysia, has held over the past 110 years. What do these notions entail, which developments were essential to their continuity and change, and in what way are current notions of a homeland related to the present-day status and position of the Javanese Muslims of Ponorogo the local society? The cultural changes of the Ponorogo Muslims diaspora in Johor maintained their cultural identity and social harmony with the local society. This research aims to look further at the negotiation process of cultural identity among Ponorogo Muslims in their tradition. The tradition is a cultural dialectics of Javanese and Malay culture. Even these traditions are dynamically changing to be simplified, the essence of their cultural tradition is not affected. Internally, in Johor, sometimes there are other traditions, but they do not take their Javanese identity off. Key Words : Identity, Tradition, Ponorogo Muslims. Abstrak: Penelitian ini berusaha menjelaskan perubahan budaya dan identitas dalam pengalaman diaspora di kalangan Muslim Ponorogo di Johor, Malaysia. Dalam perspektif Stuart Hall tentang identitas budaya dan diaspora menekankan bahwa hal ini menjadi perhatian penting bagi siapa pun yang berupaya untuk mempertahankan identitas tersebut. Tulisan ini juga mengkaji konstruksi gagasan ‘tanah air’ bagi diaspora Muslim Ponorogo di Johor, Malaysia, selama 110 tahun terakhir. Apa yang terkandung dalam gagasan-gagasan tersebut dan bagaimana perkembangan bagi kesinambungan dan perubahannya, serta dengan cara apa gagasan-gagasan tentang tanah air terkait dengan status dan posisi kaum Muslim Jawa Ponorogo saat ini dalam masyarakat setempat? Perubahan budaya diaspora Muslim Ponorogo di Johor mempertahankan identitas budaya dan keharmonisan sosial mereka dengan masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat lebih jauh proses negosiasi identitas budaya umat Islam Ponorogo dalam tradisinya. Tradisi tersebut merupakan dialektika budaya dari budaya Jawa dan Melayu. Bahkan tradisi-tradisi ini secara dinamis berubah menjadi disederhanakan, esensi tradisi budaya mereka tidak terpengaruh. Secara internal, di Johor, terkadang ada tradisi lain, tetapi tidak menghilangkan identitas Jawanya. Kata Kunci : Identitas, Tradisi, Muslim Ponorogo.
RELIGIOUSTY AND ISLAMIC NORMATIVISM IN PORNOGRAPHY AS A SOCIAL PHENOMENON Muhammadong Muhammadong
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v8i1.2518

Abstract

Abstrac: This article is to find out in the study of Islamic normativism about pornography as a social phenomenon caused by technological advances and the development of social media in people's lives. In the Islamic view, pornography is certainly strictly prohibited because it has an impact on moral decadence for the perpetrator. In Islamic studies, there is no clear mention of pornography because what is explained is only the issue of aurat and the consequences of adultery behavior that can damage the cultivation of life if not anticipated. Analysis of pornography in the current context must get answers from religious teachings so that the problems faced can be solved humanely so that the interpretation developed is not based on assumptions but through Islamic normative studies. Keywords: Reinterpretation, Islamic, Pornography, Social Media, TechnologicalAbstrak: Artikel ini untuk mengetahui dalam kajian normativisme Islam soal pornografi sebagai sebuah fenomena sosial yang diakibatkan salah satunya karena kemajuan teknologi dan perkembangan media sosial dalam kehidupan masyarakat. Dalam pandangan Islam, pornografi tentu sangat dilarang karena berdampak pada dekadensi moral bagi pelakunya. Dalam kajian keislaman tidak disebutkan secara jelas tentang pornografi  karena yang dijelaskan hanya persoalan aurat dan akibat yang ditimbulkan dari perilaku perzinahan yang dapat merusak tatanam kehidupan apabila tidak diantisipasi. Analisis tentang pornografi dalam konteks kekinian harus mendapat jawaban dari ajaran keagamaan agar persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan secara manusiawi sehingga interpretasi yang dikembangkan bukan atas dasar asumsi akan tetapi melalui kajian normatif keislaman. Kata Kunci: Reinterpretasi, Islam,  Pornografi, Media Sosial, Tekhnologi
THE SHIFT OF ISLAMISM INTO NEOFUNDAMENTALISM AND ITS IMPACT ON ISLAMIC POLITICAL DYNAMICS Ella Susila Wati; Yuli Imawan; Eri Rahmawati
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v8i1.2318

Abstract

 Abstract: This article discusses the shift from Islamism to Neo-fundamentalism. Where the term Islamism here is often referred to as Political Islam. Islamism is a movement that makes Islam the basis of its struggle, including organizing the government. Islamism aims to revive Islamic law. But this reemergence of Islamism is not an emergence by Faith but by political claims. Islamism here longs for a historical revival and the glory of Islam, but this endeavor is a fabricated tradition. The emergence of Islamism in Islamic politics is a response to the existence of modernity understood as Western and foreign because it fails to fulfill Islamic interests as understood by Islamism. This failure of Islamism led to a shift towards Neo-fundamentalism towards the end of the 1980s. The neo-fundamentalism movement is very anti-Western. However, militant Islamic groups that previously fought for Islamic revolution shifted to be involved in re-Islamization from below.Key Words: Muslim Brotherhood, Islamism, Olivier Roy, Neofundamentalism