cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
BUDAYA KHATAMAN AL-QUR?AN DI KALANGAN MUHAMMADIYAH M. Yaser Arafat; Siti Mupida; Dwi Abu Taukhid
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.1931

Abstract

Abstract; This article aims to describe the khataman Al-Qur?an among the Muhammadiyah community. Khataman Al-Qur?an is one of the various forms of Islamic culture at Indonesia which often held by Muslims who are attached to accomodative towards local culture, and non puritan. This study will examine the culture of khataman Al-Qur?an among the Muhammadiyah, an Islamic organization at Indonesia wich is know to be closely associated with puritanism. The data were abtained by observation, interview, and literature review. This study found that khataman Al-Qur?an among Muhammadiyah is a new culture. Khataman Al-Qur?an takes the form in the implementation of the Al-Qur?an recitation worship which only ?started? in the last two decades. Validity of this culture is still being debated in Muhammadiyah. Usually, the khataman Al-Qur?an is held in the authority of Muhammadiyah. Meanwhile, khataman Al-Qur?an among Muhammadiyah community is very quiet from the influence of local culture. However, Muhammadiyah actually made a new khataman Al-Quran culture that corresponds to the times, such as khataman in the context of birthdays.Keywords: Khataman Al-Qur?an, Muhammadiyah, New Culture.Abstrak; Artikel ini berbicara tentang budaya khataman Al-Qur?an di kalangan warga Muhammadiyah. Khataman Al-Qur?an merupakan satu di antara berbagai bentuk kebudayaan Islam di Indonesia. Hanya saja, khataman Al-Qur?an sering diadakan oleh kalangan umat Islam yang lekat dengan sikap akomodatif terhadap budaya lokal alias non-puritan. Penelitian ini akan mengkaji budaya khataman Al-Qur?an yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam di Indonesia yang dikenal lekat dengan identitas puritanisme. Data dalam penelitian ini didapatkan dengan metode observasi, wawancara, dan tinjauan kepustakaan. Penelitian ini menemukan bahwa khataman Al-Qur?an di kalangan warga Muhammadiyah masih termasuk budaya baru. Di kalangan warga Muhammadiyah, khataman Al-Qur?an mengambil bentuk dalam pelaksanaan ibadah pembacaan Al-Qur?an yang baru ?dimulai? sekitar dua dekade terakhir. Biasanya khataman Al-Qur?an digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun Muhammadiyah atau lembaga pendidikan yang berada di bawah otoritas Muhammadiyah. Sedangkan bentuk budaya khataman warga Muhammadiyah sangat sepi dari pengaruh budaya lokal.Kata kunci: Khataman Al-Qur?an, Muhammadiyah, Budaya Baru.?
FATWA JIHAD DAN RESOLUSI JIHAD: HISTORISITAS JIHAD DAN NASIONALISME DI INDONESIA Juma' Juma'
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.2187

Abstract

Abstract;The arrival of allies in post-independence Indonesia raised concerns among the founding fathers and kiai of re-colonization. One of the responses to the arrival of the allied troops came from Nahdlatul Ulama (NU), which is known for its jihad fatwas and resolusi jihad. The resolusi jihad became NU's national ijtihad in order to prevent re-colonization in Indonesia (defensive jihad). This call calls on the official government of Indonesia to carry out an armed struggle, as well as calling on all people to jihad fi sabilillah. The resolusi jihad is an anti-colonial nationalism that was born out of a burst of love for an independent Indonesia, the arrival of allies, and the Orange Hotel incident. The spirit of nationalism coupled with the precarious condition of the nation gave birth to the jihad fi sabilillah movement. The principle of love for the motherland and jihad to defend an independent country is fardhu ain, obligatory for every Muslim. This spirit of jihad and nationalism swelled among students and fighters for peace against allies, colonialists, for the sake of upholding the sovereignty of the Republic of Indonesia.Keywords: Resolusi Jihad, nationalisme of jihad, anti-colonialismAbstrak; Kedatangan sekutu di indonesia pasca kemerdekaan memunculkan kekhawatiran di kalangan pendiri bangsa dan kiai akan terjadinya penjajahan kembali. Respon atas kedatangan tentara sekutu salah satunya hadir dari Nahdlatul Ulama (NU), yang dikenal dengan fatwa jihad dan resolusi jihad. Resolusi jihad menjadi ijtihad kebangsaan NU demi menghalau terjadinya penjajahan kembali di Indonesia (jihad defensive). Seruan ini menghimbau pemerintah resmi Indonesia untuk melakukan perjuangan bersenjata, sekaligus menghimbau seluruh rakyat untuk jihad fi sabilillah. Resolusi jihad merupakan nasioanlisme anticolonial yang lahir dari letupan kecintaan terhadap Indonesia merdeka, kedatangan sekutu, dan insinden hotel oranje. Semangat nasionalisme yang dibarengi dengan kondisi bangsa yang genting melahirkan gerakan jijhad fi sabilillah. Prinsip cinta tanah air dan jihad membela negara merdeka menjadi fardhu ain, wajib bagi setiap muslim. Semangat jihad dan nasionalisme ini menggelembung di kalangan santri dan pejuang untuk berperangan melawan sekutu, pejajah, demi tegaknya kedaulatan negara republik Indonesia.Keywords: Resolusi Jihad, Jiihad Nasionalisme, anti-kolonialisme
PRAKTEK TRADISI SESAJEN MENJELANG PANEN ANTARA WARGA PETANI NAHDLATUL ULAMA DAN MUHAMMADIYAH DESA KRAI LUMAJANG Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rahtih
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.1602

Abstract

Abstract; Offerings are part of the existing tradition and are often practiced by the Indonesianpeople. One of them is the practice of ritual offerings before harvest in Krai Village, Kec. Yosowilangun Kab. Lumajang East Java. Organizationally, some are associated with NU and some are Muhammadiyah. In religious beliefs, there is an intersection between offerings and religious teachings. However, people who are affiliated with NU and Muhammadiyah have different responses to this religious belief. Therefore, it is necessary to investigate the perception and impact of practicing and leaving this offering practice. This type of research is descriptive qualitative. The way it works is to find and collect data by means of interviews, observations and documentation. This type of research is categorized as phenomenological research. This is because the object of this research is an event that occurs in the community. The research findings show that there are differences in perceptions between NU and Muhammadiyah farmers. NU farmers practice offerings before harvest and are perceived as respect, while Muhammadiyah farmers reject the tradition of offerings. However, both of them can carry out social harmony without being disturbed by differences in perceptions about offerings.?Keywords: offerings, harvest, NU and Muhammadiyah, Lumajang.?Abstrak;Sesajen merupakan bagian tradisi yang ada dan sering dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia. Salah satunya praktek ritual sesajen menjelang panen di Desa Krai Kec. Yosowilangun Kab. Lumajang Jawa Timur. Masyarakat di Desa ini, mayoritas beragama Islam. Secara keorganisasisan, sebagian berasosiasi NU dan sebagian lainnya Muhammadiyah. Dalam keyakinan keberagamaan terdapat persinggungan antara sesajen dan ajaran agama. Namun, terhadap akidah keagamaan tersebut disikapi berbeda oleh masyarakat yang berafiliasi dengan NU dan Muhammadiyah. Oleh karena itu perlu penelusuran tentang persepsi dan dampak atas mengamalkan dan meninggalkan praktek sesajen ini. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Cara kerjanya adalah mencari dan mengumpulkan data dengan cara wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian fenomenologi. Sebab, objek penelitian ini merupakan kejadian yang terjadi di tengah masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara petani warga NU dan Muhammadiyah. Petani warga NU mengamalkan sesajen menjelang panen dan dipersepsikan sebagai penghormatan, sedangkah petani warga Muhammadiyah menolak tradisi sesajen. Namun, keduanya bisa menjalankan kerukunan sosial kemasyarakatan tanpa diganggu oleh perbedaan persepsi tentang sesajen.?Kata Kunci: sesajen, panen, NU dan Muhammadiyah, Lumajang.
ABDULKARIM SOROUSH: THE THEORY OF THE CONTRACTION AND EXPANSION OF RELIGIOUS KNOWLEDGE AND THE CHALLENGE OF CONTEMPORARY ISLAMIC THOUGHT Bekti Khudari Lantong
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.2240

Abstract

Abstract: This article elaborates the theory of the contraction and expansion of religious knowledge (qabd wa bast-i ti?urik-i syari?at: nazariyah-i takamul-i ma?rifat-i dini), introduced by one of the greatest Muslim thinkers in contemporary era, who is popularly known as Abdolkarim Soroush. Soroush?s religious thought and insight has its own perspectives and characteristics. His assumptions and approaches absolutely differ from, either Iranian previous thinkers and scholars in particular, or Islamic scholars in general. In assessing his thought in the light of the efforts of the religious revivalists (muhiyan-i din) of the last century, Soroush emphasizes that his idea, the theory of the contraction and expansion of religious knowledge, provides a solution to the unresolved puzzle that all previous Muslim scholars and thinkers were faced with, that is, ?to reconcile change and immutability; eternity and temporality; the sacred and the profane.? Nevertheless, he claims neither perfection nor finality for his approach, for he believes that no one can have the final word and conclusion in the tremendous task of religious revivalism. In this sense, Soroush actually eager to criticize the idea of ?wilayatul faqih? and its immutability within Shi?ite Imamah?s doctrine. He also rejects the idea of a theocratic state in Iran, and promotes the concept of a religious democratic state, which he thinks it is the most ideal model for a modern democratic state. Method used in this study is documentation by referring and selecting Soroush?s important works and writings, together with other witings by other writers and critics.Key Words: Abdulkarim Soroush, Theory of Contraction and Expansion of Knowledge, Religious Knowledge, Contemporary Islamic ThoughtAbstrak: Artikel ini mengelaborasi teori tentang penyempitan dan perluasan pengetahuan keagamaan (the theory of the contraction and expansion of religious knowledge) yang diperkenalkan oleh salah seorang pemikir Muslim terkemuka di era kontemporer ini, yang lebih dikenal dengan nama Abdulkarim Soroush. Pemikiran dan ide keagamaan Soroush mempunyai karakteristik dan perspektif yang unik. Asumsi dan pendekatan yang dia gunakan sangat berbeda, baik dengan para sarjana dan pemikir Iran sebelumnya pada khususnya, maupun dengan para sarjana Muslim pada umumnya. Dalam memposisikan pemikirannya di tengah arus pemikiran para tokoh revivalis abad ke-19, Soroush menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa teorinya ?the contraction and expansion of religious knowledge? atau ?teori tentang penyempitan dan perluasan pengetahuan keagamaan? memberikan sebuah solusi terhadap kebuntuan pemikiran yang tidak dapat dipecahkan oleh para pemikir Muslim sebelumnya, yaitu ?mencari titik temu antara sesuatu yang berubah (change) dengan yang tidak berubah (immutability); antara yang abadi (eternity) dengan yang sifatnya sementara (temporality); dan antara yang sakral (sacred) dengan yang sifatnya duniawi (profane). Namun demikian, Soroush menyadari bahwa pendekatan yang dia tawarkan tidaklah sempurna dan juga belum final, karena dia meyakini bahwasanya tidak seorang pun yang mempunyai kesimpulan yang final terkait dengan revivalisme keagamaan. Dalam hal ini, Soroush sebenarnya lebih tertarik untuk mengkritisi konsep ?wilayatul faqih? dan sakralitasnya dalam doktrin Shiah Imamiyah di Iran. Dia juga menolak gagasan tentang negara Teokratik di iran, dan memperkenalkan konsep tentang Negara-Demokratik-Relijius, yang menurutnya merupakan model yang paling ideal bagi negara demokrasi moderen. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode dokumentasi, yaitu dengan merujuk dan memilih karya-karya utama yang ditulis oleh Soroush sendiri dan juga karya-karya lain yang terkait dengan, maupun yang mengkritik pemikiran Soroush.Kata Kunci: Abdulkarim Soroush, Teori Penyempitan dan Perluasan Pengetahuan, Pengetahuan Keagamaan, Pemikiran Islam Kontemporer??
AKOMODASI KULTURAL DALAM RESOLUSI KONFLIK BERNUANSA AGAMA DI INDONESIA Zaenuddin Hudi Prasojo; Mustaqim Pabbajah
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1131

Abstract

Abstract: Ethnic and religious diversity in Indonesia have become not only a wealth but in the same time also a threat to the country. They have also become the sources of cultural diversity as cultural assets that need attention. In fact, these cultural assets have potentials in the emergence of social and religious conflicts. This article suggests important findings carrying three main issues in looking at conflicts in the name of religion. With qualitative data analysis, the three main issues are collaborated. First, the conflict that took place in Indonesia tends to occur in three forms including; communal conflicts, sectarian conflicts and political installation conflicts. Second, conflict in the name of religion is triggered by several factors including lacking of understanding of the cultural, ethnic and religious diversities in Indonesia. Third, cultural accommodation by looking at the potential of local wisdom has been evidence to offer useful, needed alternatives in solving conflicts that occur in the community. This work recommends that it is necessary to deepen and disseminate all parties in empowering the potential of local culture in Indonesia. Keyword: Accomodation, Culture, Religion, Conflict Resolution Abstrak: Keragaman etnis dan agama di Indonesia merupakan kekayaan sekaligus sebagai ancaman bagi negara ini. Keragaman etnis dan agama menghasilkan keragaman budaya yang merupakan aset kultural serta perlu mendapatkan perhatian. Aset kultural tersebut berpotensi besar dalam kemunculan konflik sosial maupun agama. Artikel ini menawarkan temuan penting mengenai tiga isu utama dalam melihat konflik atas nama agama. Dengan analisis data kualitatif, ketiga isu utama tersebut dielaborasi. Pertama, konflik yang berlangsung di Indonesia cenderung diperlihatkan dalam tiga bentuk antara lain: konflik komunal, konflik sektarian, dan konflik eskalasi politik. Kedua, faktor konflik agama dipicu beberapa faktor yang meliputi masih minimnya pemahaman realitas keragaman suku, etnis, dan agama di Indonesia. Ketiga, akomodasi kultural dengan melihat potensi kearifan lokal telah mampu dijadikan sebagai perangkat penyelesaian permasalahan konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Rekomendasi artikel ini adalah diperlukan pendalaman dan sosialisasi semua pihak dalam memberdayakan potensi budaya lokal di Indonesia. Keyword: Akomodasi, Kultural, Agama, dan Resolusi Konflik
KONSEP IJMA’ DALAM USHUL FIQH DAN KLAIM GERAKAN ISLAM 212 Chamim Tohari
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1009

Abstract

AbstrackThis research discusses about the results of ijtima 'ulama issued some time ago ahead of the 2019’s presidential elections in Indonesia and afterward. This research aims to answer the following problems: (1) Are the decisions of ijtima 'ulama claimed to be the result of ijma' in line with the concept of ijma’ in ushul fiqh? (2) How were the decisions of ijtima' they claimed as the result of ijma' viewed according to the concept of fatwa in Islamic law? The research used a descriptive analitical method where the author in this study analyzes the data obtained and then interpreted them based on the perspective of the ijma’ theory. The results of this research are: (1) The agreements produced by ijtima' ulama regarding their political choices fail to be categorized as ijma’ results because the decisions do not meet to the ijma requirements in ushul fiqh. Namely; not being produced by the mujtahid ulama. Further, the decisions made are not related to Islamic law (such as taklifi laws), and the decisions do not reflect the political views of prominent ulamas (moslem scholars) in Indonesia, especially in the world. (2) The decision of ijtima’ ulama is also not worth mentioning as a fatwa which is one form of Islamic law, because there is no a clear legal basis in their ijtihad method, or scientific analysis. Finally, their ijtima’s result does not come out from the competent and qualified people having authority in the field of law. Key Words: Ijma’, Ijtima’, Ijtihad, Politic, 212.AbstrakPenelitian ini membahas tentang hasil keputusan ijtima’ ulama yang dikeluarkan beberapa waktu lalu menjelang pelaksanaan pemilu di Indonesia dan sesudahnya. Penelitian ini difokuskan untuk menjawab beberapa permasalahan berikut ini: (1) Apakah keputusan ijtima’ ulama yang diklaim sebagai hasil ijma’ tersebut sejalan dengan konsep ijma’ dalam ilmu ushul fiqh? (2) Bagaimana keputusan ijtima’ ulama yang diklaim sebagai hasil ijma’ tersebut apabila dilihat menurut konsep fatwa dalam hukum Islam? Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan jawaban dari dua pertanyaan tersebut. Adapun metode penelitian yang penulis gunakan adalah deskriptif kualitatif dimana penulis dalam penelitian ini hendak melakukan analisis data yang diperoleh dan kemudian melakukan penafsiran terhadap objek penelitian berdasarkan perspektif ilmu ushul fiqh. Hasil penelitian ini adalah: (1) Kesepakatan yang dihasilkan oleh ijtima’ ulama tentang pilihan politik mereka tidak dapat dikategorikan sebagai hasil ijma’ karena keputusan tersebut tidak memenuhi persyaratan-persyaratan ijma’ dalam ilmu ushul fiqh, seperti tidak diputuskan oleh para ulama yang telah mencapai derajat sebagai mujtahid, keputusan yang dihasilkan tidak berkaitan dengan hukum Islam (seperti hukum-hukum taklifi), serta keputusan tersebut tidak mencerminkan representasi pandangan politik para ulama terkemuka di Indonesia, lebih-lebih di dunia. (2) Keputusan ijtima’ ulama juga tidak layak disebut sebagai fatwa yang mana merupakan salah satu bentuk hukum Islam, karena tidak adanya landasan hukum yang jelas, metode ijtihad, apalagi analisis ilmiah. Selain itu keputusan tersebut juga tidak keluar dari orang yang layak dipandang sebagai orang yang berwenang atau mumpuni untuk memutuskan hukum.Keywords: Ijma’, Ijtima’, Ijtihad, Politic, 212.
BUSANA MUSLIMAH DAN DINAMIKANYA DI INDONESIA Hanung Sito Rohmawati
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1151

Abstract

Abstract: Muslimah fashion has become a tren and debate in Muslim society. Amid its growing popularity, some Muslims consider jilbab is the Muslimah fashion in accordance with Islamic sharia. Some other Muslims consider jilbab is only  an Arab tradition and a cultural issue so that this group considers women not required to wear jilbab. The author focuses on the concept of Muslim fashion, the history of Muslimah dress, the pros and cons of Muslimah fashion and the phenomenon of Muslimah fashion in Indonesia. This research shows that Muslimah fashion in it varieties is a symbol of religiosity for its users. The use of Muslimah clothing is interpreted as one of the observances of Muslim women in practicing their religion, covering their “aurat.” Key Words: Muslimah Clothes, Headscarves, Prohibitions and Coercion in Muslimah ClothingAbstrak: Tren berbusana muslimah merupakan salah satu fenomena dalam masyarakat Muslim. Sebagian muslim menganggap berbusana muslimah harus sesuai syari’at Islam. Sebagian muslim yang lain menganggap persoalan busana muslimah hanyalah tradisi Arab dan merupakan persoalan budaya sehingga kelompok ini menggap wanita tidak wajib mengenakan busana muslimah. Atas dasar inilah penulis tertarik untuk meneliti tentang konsep busana muslimah, sejarah busana muslimah, pro-kontra busana muslimah dan Fenomena busana muslimah di Indonesia. Penelitian ini menunjukan bahwa busana muslimah merupakan simbol religiusitas bagi penggunanya. Penggunaan busana muslimah dimaknai sebagai salah satu ketaatan muslimah dalam menjalankan agamanya, menutup aurat. Kata Kunci: Busana Muslimah, jilbab, larangan dan paksaan berbusana muslimah
LEGITIMASI KEKERASAN DALAM IDEOLOGI KEAGAMAAN: VARIAN DAN TIPOLOGI Musdalifah Dachrud; Rahman Mantu
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1014

Abstract

Abstrak Dalam konteks sosial agama tidak semata dimaknai sebagai ritus liturgi, doa dan pengamalan mistik yang bersifat personal dan unik, namun agama juga hadir dengan fungsi manifest dan latent yang kadang tidak dikehendaki oleh pemeluknya sendiri. Di satu sisi, agama dapat menjadi sarana integrasi sosial, mengikat solidaritas sesama penganutnya dalam jamaah, gereja, sangha, dan komunitas-komunitas keagamaan. Akan tetapi para penganut agama punya problem yang cukup mendasar ditengah-tengah kemajemukan. Problem itu adalah ketidaksiapan untuk berbeda. Ini disebabkan oleh berbagai hal diantaranya; sejarah dan karakter masing-masing orang, jenis kelamin, serta pandangan hidup yang termasuk didalamnya adalah pemahaman keagamaan. Aksi-aksi kekerasan atas nama agama yang sering terjadi dikarenakan adanya orang atau kelompok-kelompok yang merasa terusik dengan orang atau kelompok lain yang berbeda. Namun beberapa indikasi terjadinya clash ini bukan hanya soal agama ada faktor lain, tapi paper ini akan membatasi masalah dengan inti pembahasan pada soal bagaimana keterkaitan antara pemahaman keagamaan dengan tindak kekerasan atas nama agama dari sisi historisnya, pengertian dan pengelompokkan pemahaman keagamaan, serta jenis-jenis kekerasan melalui data hasil riset yang tujuannya untuk melihat apa hubungan antara pemahaman keagamaan dengan tindak kekerasan atas nama agama.Kata Kunci : Legitimasi dan Kekerasan, Ideologi, Agama, Varian dan Tipologi Abstract:In the social context, religion is not merely interpreted as liturgical rites, prayers and mystical practices that are personal and unique, but religion also comes with manifest and latent functions that are sometimes not desired by the adherents themselves. On the one hand, religion can be a means of social integration, binding the solidarity of fellow adherents in the congregation, church, sangha, and religious communities. However, adherents of religion have a pretty basic problem in the midst of pluralism. The problem is not being ready to be different. This is caused by various things including; the history and character of each person, gender, and view of life included in it is religious understanding. Acts of violence in the name of religion that often occur due to the presence of people or groups who feel disturbed by different people or groups. However, some indications that this clash is not just a matter of religion, there are other factors, but this paper will limit the problem with the core discussion on how the relationship between religious understanding and violence in the name of religion in terms of its historical, understanding and grouping of religious understanding, as well as the types violence through research data whose purpose is to see what is the relationship between religious understanding and violence in the name of religion.Keywords: Legitimacy and Violence, Ideology, Religion, Variants and Typology.
ORGANISASI KEAGAMAAN DAN PENANGANAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT): Studi tentang Peran Biro Nuurus Sakiinah dalam KDRT di Yogyakarta Rahmania Nader Wambes; Mega Hidayati; Aris Fauzan
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1374

Abstract

Abstract: Domestic violence (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) is understood as violence related to gender. This concept refers to the subordinative position because the relationship between men and women reflects powerless and powerful or the inequality of power between the two. This paper aims to understand how the Nuurus Sakiinah Bureau owned by 'Aisyiyah and Nasyi'atul' Aisyiyah Yogyakarta Special Region handles domestic violence cases in Yogyakarta and analyze the weaknesses and strengths of handling these cases. This type of research is qualitative with interview data collection methods and secondary data documentation. The findings of this study explain that there are four types of domestic violence cases that have been handled by the Nuurus Sakiinnah Family Consultation Bureau, namely psychological violence, economic neglect; physical and verbal abuse. Therefore, the handling given varies according to the case that occurs. For cases of Psychic violence, the Bureau tends to provide counseling and self-reinforcement. For cases of economic neglect, the Bureau deals with economic independence counseling and training. For cases of Physical and Verbal violence, counseling and self-strengthening are usually given to face the next life and therapy if needed. Meanwhile, the absence of open houses, difficulties in mediation, and the absence of complete counseling data to support administration are the weaknesses of this bureau. However, this Bureau makes victims who have successfully passed the treatment process as volunteers to deal with other victims and also provides spiritual counseling, legal assistance and follow-up therapy when the victim is still in need.Keywords: Domestic Violence, ‘Aisyiyah Nasyi’atul, ‘Aisyiyah, Nuurus Saqinnah Bureau. Abstrak: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dipahami sebagai kekerasan yang berhubungan gender. Konsep ini mengacu pada posisi subordinatif karena relasi antara laki-laki dan perempuan mencerminkan powerless dan powerful atau ketimpangan kekuasaan antara keduanya. Tulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana Biro Nuurus Sakiinah milik ‘Aisyiyah dan Nasyi’atul ‘Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta menangani kasus KDRT di Yogyakarta serta menganalisa kelemahan dan kelebihan dari penanganan kasus tersebut. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode pengambilan data wawancara dan data sekunder dokumentasi. Temuan penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat empat jenis kasus KDRT yang telah ditangani oleh Biro Konsultasi Keluarga Nuurus Sakiinnah, yaitu kekerasan Psikis, penelantaran ekonomi; kekerasan fisik dan kekerasan verbal. Oleh karena itu, penanganan yang diberikan berbeda-beda sesuai dengan  kasus yang terjadi. Untuk kasus kekerasan Psikis, Biro cenderung memberikan konseling dan penguatan diri. Untuk kasus penelantaran ekonomi, Biro menangani dengan konseling dan pelatihan kemandirian ekonomi. Untuk kasus kekerasan Fisik dan Verbal biasanya diberikan konseling dan penguatan diri untuk menghadapi kehidupan selanjutnya serta pemberian terapi jika diperlukan. Sementara itu belum adanya rumah singgah, kesulitan dalam mediasi, serta belum adanya kelengkapan data konseling untuk menunjang administrasi menjadi kelemahan biro ini. Namun, Biro ini menjadikan korban yang telah berhasil melewati proses penanganan sebagai volunteer untuk menangani korban yang lain dan juga pemberian konseling spiritual, pendampingan ke jalur hukum dan terapi lanjutan ketika korban masih membutuhkan.Kata Kunci: KDRT, ‘Aisyiyah, Nasyi’atul ‘Aisyiyah, Biro Nuurus Sakiinah
REINTERPRETASI DAKWAH ISLAM UNTUK MENGATASI PROBLEM-PROBLEM KEMANUSIAAN Zaenal Muttaqin
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1132

Abstract

Abstract: Most muslims still understand da’wa in its literal meaning, namely spreading Islam and adding to the quantity of Muslims. In a more current plural environment, this understanding sometimes creates tensions and even conflicts with other religious believers. In addition to abiding to its principles which includes wisdom, good examples and better argument, Muslims also should reinterpret da’wa in a way it constitutes a common call for universal good. By doing so, the da’wa is more about spreading the values of Islam and implementing them in the broader context. This paper elaborated the reinterpretation of Islamic da’wa and its contextualization to help overcoming common humanity problems, such as poverty, gender inequality, climate change, among others.Keywords: Islamic da’wa, Reinterpretation, Contextualization Abstrak: Sebagian besar umat Islam masih memahami dakwah secara literal, yaitu usaha untuk menyebarkan Islam dan menambah jumlah populasi umat Islam. Dalam lingkungan yang semakin plural sekarang ini, pemahaman tersebut kadang-kadang menimbulkan ketegangan dan bahkan konflik dengan penganut agama lain. Selain berpegang pada prinsip-prinsip dakwah yaitu dilakukan secara bijaksana, mengedepankan contoh yang baik dan melakukan perdebatan yang argumentative, umat Islam perlu menafsirkan ulang dakwah sebagai upaya untuk menyeru kepada kebajikan universal. Dengan upaya reinterpretasi tersebut, dakwah dimaksudkan sebagai upaya untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan menerapkannya dalam konteks yang lebih luar. Artikel ini mengelaborasi upaya reinterpretasi dakwah Islam dan kontekstualisasinya dalam rangka membantu menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan, seperti kemiskinan, kesenjangan gender, perubahan iklim, dan lain-lain. Kata kunci: Dakwah Islam, Reinterpretasi, Kontekstualisasi 

Page 10 of 16 | Total Record : 151