cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 159 Documents
NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER (NPD) DALAM RIWAYAT PROFETIK Siti Maemunah; Muhammad Asgar Muzakki
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2951

Abstract

Abstract: This article discusses narcissistic behavior in practicing religion as contained in prophetic history. The theme of narcissism amidst the prominence of social media can be said to be always relevant and evergreen, because narcissistic disorders can penetrate all groups. Including people who are labeled pious and diligent in worship. Interestingly, people with NPD even existed in the time of the Prophet, complete with characteristics and indicators of narcissism from modern psychology. Feeling the most right, the most entitled, arrogant, is indeed part of the “adab” chapter which is the main focus of the Islamic taching. So the Prophet taught us a way - or at least one way - to mentally forge a way to ward off the NPD disorder. Through interdisciplinary analysis that combines psychological and historical approaches, this research examines hadiths related to the NPD theme using a thematic-contextual study model. This research aims to contribute to a deeper understanding of narcissistic behavior in a religious context and offers potential solutions to reduce these tendencies.Key Words : Disorder, narcissism, humilityAbstrak Artikel ini membahas tentang perilaku narsistik dalam beragama yang termuat dalam riwayat kenabian. Tema narsisme di tengah prominennya media sosial boleh dibilang selalu relevan dan evergreen, karena gangguan narsistik bisa mempenetrasi semua kalangan. Termasuk orang yang dilabeli saleh dan rajin beribadah sekalipun. Menariknya, pengidap NPD bahkan sudah ada di zaman Nabi lengkap dengan karakteristik dan indikator narsisme dari psikologi modern. Merasa paling benar, paling berhak, angkuh, memang bagian dari bab adab yang menjadi sorotan utama agama Islam. Maka Nabi pun mengajarkan cara –atau sekurang-kurangnya salah satu cara untuk menempa mental guna menepis gangguan NPD tersebut. Melalui analisis interdisipliner yang menggabungkan pendekatan psikologi dan sejarah, penelitian ini meneliti hadis-hadis berkaitan dengan tema NPD dengan model kajian tematik-kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang perilaku narsistik dalam konteks agama dan menawarkan solusi potensial untuk mengurangi kecenderungan tersebut.Kata Kunci : Gangguan, narsisme, kerendahan hati.
SOLIDARITAS MEKANIK KOMUNITAS TIONGHOA DAN JAWA DALAM MEMPERTAHANKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA M. Sauki
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3081

Abstract

Abstract: The nuances of Chinese customs and Javanese customs are very visible on a board that shows Chinese and Javanese writing (mandarin and ha na ca ra ka). Coexistence like this happened decades ago, when ethnic Chinese people came to Kediri and formed an area around the city center. Some even call it Cino Jowo (Javanese Chinese). Although they are of Chinese descent, they were born and lived in Java (Kediri). In general, there are two conditions for creating social interaction, namely, social contact and communication. The results of this study show that social solidarity and the first social interaction between ethnic Chinese and the Javanese people of Kediri City, especially in the area near the pier, occur in the form of labor. The Chinese employed the local community to help with their work, transporting and unloading the new ethnic Chinese goods from the Port of the Brantas River. This pattern of organic solidarity then spills over into mechanical solidarity. When social interaction between them increases, it indirectly fosters harmony between religious communities. Keywords: Social facts, Social solidarity, Inter-ethnic harmony Abstrak : Nuansa adat Tionghoa dan adat Jawa sangat terlihat di sebuah papan yang menunjukan tulisan Tionghoa dan Jawa (mandarin dan ha na ca ra ka). Hidup berdampingan seperti ini sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, ketika masyarakat etnis Tionghoa datang ke Kediri dan membentuk wilayah di sekitar pusat kota. Bahkan ada yang menyebutnya Cino Jowo (Cina Jawa). Meskipun mereka keturunan Tionghoa, akan tetapi mereka lahir dan tinggal di Jawa (Kediri). Secara umum ada dua syarat untuk menciptakan interaksi sosial yaitu, pertama kontak sosial dan komunikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa solidaritas sosial dan interaksi sosial pertama kali antara etnis Tionghoa dengan Masyarakat Jawa Kota Kediri khususnya di wilayah dekat dermaga terjadi dalam bentuk tenaga kerja. Orang-orang Tionghoa mempekerjakan Masyarakat sekitar untuk membantu pekerjaanya, mengangkut serta membongkar dagangan etnis cina yang baru datang dari Pelabuhan Sungai Brantas. Dari pola solidaritas organic ini kemudian merembah ke solidaritas mekanik. Ketika interaksi sosial diantara mereka semakin meningkat, secara tidak langsung menumbuhan keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Kata Kunci: Fakta Sosial, Solidaritas Sosial, Kerukunan Antar Etnis
KAMPUNG JAWA TONDANO DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI RUANG Anindya Puspita Putri; Henki Riko Pratama
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3111

Abstract

Abstract : The interaction between humans and the environment creates a cultural landscape which is a concrete manifestation of human adaptation to the environment. This research discusses Kampung Jawa Tondano in the scope of spatial archeology. Kampung Jawa Tondano is a famous historical settlement in Minahasa Regency, North Sulawesi. This village was founded by Kiai Mojo and his followers when they were exiled in Tondano. This research aims to look at the spatial dynamics and cultural continuity of Kampung Jawa Tondano from a spatial archaeological perspective. Most villages in Indonesia are created from cultural patterns. The character of a village based on Muslim residents and becoming a center for spreading religion is called an Islamic Village or Kauman. Kauman is not applied in the Kampung Jawa Tondano, the term kauman does not appear in the spatial expression in this village. The condition of exile status of minority community groups in Kampung Jawa Tondano is certainly a reason for not emphasizing religious aspects compared to tribal identity. Other components of the settlement in Kampung Jawa Tondano that have a relationship with Islamic and Javanese culture are the Al-Falah Mosque building and the Kiai Mojo Complex Tomb. The mosque building adopts the concept of a traditional Javanese mosque building. The placement of the Kiai Mojo Complex Tomb on a hill is evidence of the continuity of Javanese culture.Key Words : Settlement, Spatial Archaeology, Kampung Jawa Tondano, CultureAbstrak : Interaksi antara manusia dengan lingkungan menciptakan bentang budaya (cultural landscape) yang merupakan kenampakan konkrit dari hasil adaptasi manusia terhadap lingkungan. Kajian ini membahas tentang Kampung Jawa Tondano dalam lingkup arkeologi ruang. Kampung Jawa Tondano merupakan permukiman bersejarah yang terkenal di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Kampung ini didirikan oleh Kiai Mojo dan pengikutnya ketika diasingkan di Tondano. Penelitian ini bertujuan melihat dinamika keruangan dan kesinambungan budaya Kampung Jawa Tondano dalam perspektif arkeologi ruang. Kebanyakan kampung di Indonesia tercipta dari corak budaya. Karakter kampung yang didasari oleh penduduk beragama Islam dan menjadi pusat penyebaran agama disebut sebagai Kampung Islam atau Kampung Kauman. Penyebutan nama Kampung Kauman tidak diterapkan di Kampung Jawa Tondano, sebutan kauman tidak tampak dalam ekspresi ruang di kampung ini. Kondisi status pengasingan dari kelompok masyarakat minoritas di Kampung Jawa Tondano tentunya menjadi alasan untuk tidak menonjolkan aspek religi dibandingkan identitas kesukuan. Komponen permukiman lainnya di Kampung Jawa Tondano yang memiliki relasi dengan budaya Islam dan Jawa adalah bangunan Masjid Al-Falah dan Kompleks Makam Kiai Mojo dan pengikutnya. Bangunan masjid mengadopsi konsep bangunan masjid tradisional Jawa. Penempatan Kompleks Makam Kiai Mojo dan pengikutnya di atas bukit merupakan bukti adanya kesinambungan budaya Jawa. Kata Kunci : Permukiman, Arkeologi Ruang, Kampung Jawa Tondano, Budaya
GREEN-DEEN IN THE QUR'AN: A STUDY OF TAFSIR AL-IBRīZ THE WORK OF BISRI MUSTHOFA Mutma'inah Mutma'inah; Ahmad Azis Abidin; Fadiah Qothrun Nada; Thiyas Tono Taufiq
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2803

Abstract

Abstract: Environmental damage in Indonesia is very critical so that it needs to be handled through various approaches, one of which is through reunderstanding religious texts. This article examined Bisri Musthofa's interpretation of the ecological verses in Tafsīr al-Ibrīz by exploring the concept of green-deen contained in it. This research was qualitative research by using content analysis methods with green-deen concept of Ibrahim Abdul Matin as an approach. This research found that the concept of green-deen in the book of Tafsīr al-Ibrīz includes four things: First, Allah Ta’ala dewe kang mengerani lan nguwasani alam kabeh iki, God as the owner of the whole nature and only God has dominion over it; Second, sejatine kedadiane langit bumi saisine, gulir gumantine bengi lan rino iku kabeh dadi tondo tumerap wong-wong kang podo anduweni akal nuduhake kekuasaane Allah Ta’ala, the whole creation of natures and everythings that happen in it are signs of Allah that shows God's power over the intelligent. Third, Allah Ta’ala manggonake marang siro kabeh ana ing bumine Allah Ta’ala, Allah appointed man as a khalīfah and placed them on earth to serve, take care and guard His earth. Fourth, Embo’iyo umat-umat sakduruunge sira kabeh iku ono kang anduweni agomo, kang gelem nyegah sangking nggawe kerusakan ana ing bumi, people of any religion are obliged to prevent destructions happen on Allah's earth.Keywords: Ecology; Green-Deen; Ulama Nusantara; InterpretationAbstrak: Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia sudah sangat kritis sehingga dibutuhkan penanganan melalui berbagai pendekatan, salah satunya melalui pemahaman ulang teks keagamaan. Artikel ini mengkaji penafsiran Bisri Musthofa terhadap ayat-ayat ekologi dalam kitab Tafsīr al-Ibrīz dengan menggali konsep green-deen yang ada di dalamnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis data (content analysis) dengan menggunakan konsep green-deen Ibrahim Abdul Matin sebagai pendekatan. Penelitian menemukan bahwa konsep green-deen dalam kitab tafsir al-Ibrīz meliputi empat hal; Pertama, Allah Ta’ala dewe kang mengerani lan nguwasani alam kabeh iki, Allah sebagai pemilik alam seisinya dan hanya Allah yang berkuasa atasnya; Kedua, sejatine kedadiane langit bumi saisine, gulir gumantine bengi lan rino iku kabeh dadi tondo tumerap wong-wong kang podo anduweni akal nuduhake kekuasaane Allah Ta’ala, penciptaan alam seisinya serta segala yang terjadi di dalamnya adalah ayat Allah yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi orang berakal. Ketiga, Allah Ta’ala manggonake marang siro kabeh ana ing bumine Allah Ta’ala, Allah menunjuk manusia sebagai khalīfah yang ditempatkan di bumi untuk melayani, mengurus dan menjaga bumi Allah SWT. Keempat, Embo’iyo umat-umat sakduruunge sira kabeh iku ono kang anduweni agomo, kang gelem nyegah sangking nggawe kerusakan ana ing bumi, manusia yang beragama haruslah mencegah terjadinya kerusakan di bumi Allah.Kata Kunci: Ekologi; Green-Deen; Nusantara’s Ulama; Tafsir
GREEN-DEEN IN THE QUR'AN: A STUDY OF TAFSIR AL-IBRīZ THE WORK OF BISRI MUSTHOFA Mutma'inah, Mutma'inah; Abidin, Ahmad Azis; Nada, Fadiah Qothrun; Taufiq, Thiyas Tono
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2803

Abstract

Abstract: Environmental damage in Indonesia is very critical so that it needs to be handled through various approaches, one of which is through reunderstanding religious texts. This article examined Bisri Musthofa's interpretation of the ecological verses in Tafsīr al-Ibrīz by exploring the concept of green-deen contained in it. This research was qualitative research by using content analysis methods with green-deen concept of Ibrahim Abdul Matin as an approach. This research found that the concept of green-deen in the book of Tafsīr al-Ibrīz includes four things: First, Allah Ta’ala dewe kang mengerani lan nguwasani alam kabeh iki, God as the owner of the whole nature and only God has dominion over it; Second, sejatine kedadiane langit bumi saisine, gulir gumantine bengi lan rino iku kabeh dadi tondo tumerap wong-wong kang podo anduweni akal nuduhake kekuasaane Allah Ta’ala, the whole creation of natures and everythings that happen in it are signs of Allah that shows God's power over the intelligent. Third, Allah Ta’ala manggonake marang siro kabeh ana ing bumine Allah Ta’ala, Allah appointed man as a khalīfah and placed them on earth to serve, take care and guard His earth. Fourth, Embo’iyo umat-umat sakduruunge sira kabeh iku ono kang anduweni agomo, kang gelem nyegah sangking nggawe kerusakan ana ing bumi, people of any religion are obliged to prevent destructions happen on Allah's earth.Keywords: Ecology; Green-Deen; Ulama Nusantara; InterpretationAbstrak: Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia sudah sangat kritis sehingga dibutuhkan penanganan melalui berbagai pendekatan, salah satunya melalui pemahaman ulang teks keagamaan. Artikel ini mengkaji penafsiran Bisri Musthofa terhadap ayat-ayat ekologi dalam kitab Tafsīr al-Ibrīz dengan menggali konsep green-deen yang ada di dalamnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis data (content analysis) dengan menggunakan konsep green-deen Ibrahim Abdul Matin sebagai pendekatan. Penelitian menemukan bahwa konsep green-deen dalam kitab tafsir al-Ibrīz meliputi empat hal; Pertama, Allah Ta’ala dewe kang mengerani lan nguwasani alam kabeh iki, Allah sebagai pemilik alam seisinya dan hanya Allah yang berkuasa atasnya; Kedua, sejatine kedadiane langit bumi saisine, gulir gumantine bengi lan rino iku kabeh dadi tondo tumerap wong-wong kang podo anduweni akal nuduhake kekuasaane Allah Ta’ala, penciptaan alam seisinya serta segala yang terjadi di dalamnya adalah ayat Allah yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi orang berakal. Ketiga, Allah Ta’ala manggonake marang siro kabeh ana ing bumine Allah Ta’ala, Allah menunjuk manusia sebagai khalīfah yang ditempatkan di bumi untuk melayani, mengurus dan menjaga bumi Allah SWT. Keempat, Embo’iyo umat-umat sakduruunge sira kabeh iku ono kang anduweni agomo, kang gelem nyegah sangking nggawe kerusakan ana ing bumi, manusia yang beragama haruslah mencegah terjadinya kerusakan di bumi Allah.Kata Kunci: Ekologi; Green-Deen; Nusantara’s Ulama; Tafsir
The Assimilation of Islamic Culture into Local Beliefs in The Sangihe Islands Yusuf, Nasruddin; Yasin, Yasin; Mash'ud, Imam; Ilahude, Ridwan
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i2.3168

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the process of cultural assimilation occurring between Islamic teachings and the local belief system of Masade in the Sangihe archipelago. Utilizing a qualitative approach, the research explores how the interaction between these two religious traditions results in changes in the practices and cultural identity of the local community. The findings indicate that although the adherents of Masade are divided into three groups (Hadun, Hamadun, and Mangkung) with differing practices, they maintain harmonious relationships and mutual respect, creating a new culture that emerges from the integration of elements from both belief systems. This research highlights the importance of tolerance and adaptation in the assimilation process, as well as its impact on social diversity within the community, contributing to the understanding of the dynamics of intercultural interactions..Key Words: Intercultural Interaction, Identity Formation, Social DiversityAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses asimilasi budaya yang terjadi antara ajaran Islam dan kepercayaan lokal Masade di kepulauan Sangihe. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana interaksi antara dua tradisi keagamaan ini menghasilkan perubahan dalam praktik dan identitas budaya masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun penganut Masade terbagi dalam tiga golongan (Hadun, Hamadun, dan Mangkung) dengan praktik yang berbeda, mereka tetap menjaga hubungan harmonis dan saling menghormati, menciptakan budaya baru yang merupakan hasil dari penggabungan elemen-elemen dari masing-masing kebudayaan. Penelitian ini menyoroti pentingnya toleransi dan adaptasi dalam proses asimilasi, serta dampaknya terhadap keberagaman sosial di masyarakat, memberikan kontribusi pada pemahaman tentang dinamika interaksi antarbudaya.Kata Kunci : Interaksi Antarbudaya, Pembentukan Identitas, Keberagaman Sosial
SOLIDARITAS MEKANIK KOMUNITAS TIONGHOA DAN JAWA DALAM MEMPERTAHANKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA Sauki, M.
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3081

Abstract

Abstract: The nuances of Chinese customs and Javanese customs are very visible on a board that shows Chinese and Javanese writing (mandarin and ha na ca ra ka). Coexistence like this happened decades ago, when ethnic Chinese people came to Kediri and formed an area around the city center. Some even call it Cino Jowo (Javanese Chinese). Although they are of Chinese descent, they were born and lived in Java (Kediri). In general, there are two conditions for creating social interaction, namely, social contact and communication. The results of this study show that social solidarity and the first social interaction between ethnic Chinese and the Javanese people of Kediri City, especially in the area near the pier, occur in the form of labor. The Chinese employed the local community to help with their work, transporting and unloading the new ethnic Chinese goods from the Port of the Brantas River. This pattern of organic solidarity then spills over into mechanical solidarity. When social interaction between them increases, it indirectly fosters harmony between religious communities. Keywords: Social facts, Social solidarity, Inter-ethnic harmony Abstrak : Nuansa adat Tionghoa dan adat Jawa sangat terlihat di sebuah papan yang menunjukan tulisan Tionghoa dan Jawa (mandarin dan ha na ca ra ka). Hidup berdampingan seperti ini sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, ketika masyarakat etnis Tionghoa datang ke Kediri dan membentuk wilayah di sekitar pusat kota. Bahkan ada yang menyebutnya Cino Jowo (Cina Jawa). Meskipun mereka keturunan Tionghoa, akan tetapi mereka lahir dan tinggal di Jawa (Kediri). Secara umum ada dua syarat untuk menciptakan interaksi sosial yaitu, pertama kontak sosial dan komunikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa solidaritas sosial dan interaksi sosial pertama kali antara etnis Tionghoa dengan Masyarakat Jawa Kota Kediri khususnya di wilayah dekat dermaga terjadi dalam bentuk tenaga kerja. Orang-orang Tionghoa mempekerjakan Masyarakat sekitar untuk membantu pekerjaanya, mengangkut serta membongkar dagangan etnis cina yang baru datang dari Pelabuhan Sungai Brantas. Dari pola solidaritas organic ini kemudian merembah ke solidaritas mekanik. Ketika interaksi sosial diantara mereka semakin meningkat, secara tidak langsung menumbuhan keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Kata Kunci: Fakta Sosial, Solidaritas Sosial, Kerukunan Antar Etnis
Digital-Based Religious Moderation: Analyszing Ustadz/Kyai’s Dakwah Content on Youtube Shofiyuddin, Haris; Alindah, Lutfiyah; Juma’, Juma’
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i2.3273

Abstract

Abstract: YouTube serves as a media platform that offers not only knowledge and education but also a means for sharing religious content. However, not all religious content on YouTube conveys messages of religious moderation. There is a substantial amount of content that promotes rigidity and violence in understanding religion, potentially influencing individuals' religious attitudes. This study aims to explore religious moderation within the da'wah content of ustadz or kyai on Youtube. This qualitative research employs Van Dijk's discourse analysis approach. The study reveals that the da'wah content by Hanan Attaki, Adi Hidayat, Khalid Basamalah, and Gus Miftah predominantly incorporates pillars of thought by connecting the meanings of verses, hadiths, or historical contexts. The pillars of action are exemplified through acts of tolerance and wisdom in dealing with differences. The implementation of these pillars of religious moderation in their da'wah content is primarily confined to national commitment and the strengthening of tolerance.Keyword: moderation, Youtube, ustadz/kyai Abstrak: Youtube merupakan sebuah media platform yang tidak hanya menyuguhkan seputar pengetahuan atau pendidikan, tetapi juga sebagai sarana sharing agama. Namun, tentu tidak semua konten YouTube agama mengandung pesan-pesan moderasi beragama. Ada banyak konten YouTube yang justru menyuguhkan kekakuan dan kekerasan dalam memahami agama. Sehingga, akan berpengaruh terhadap sikap beragama seseorang. Dalam hal ini, penelitian ini berusaha memotret moderasi beragama dalam konten dakwah ustadz atau kyai di YouTube. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana Van Dijk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten dakwah yang disampaikan oleh Hanan Attaki, Adi Hidayat Khalid Basamalah, dan Gus Miftah lebih banyak menerapkan pilar pemikiran, yaitu dengan mengkaitkan makna ayat, hadist, atau bahkan sejarah. Sedangkan pilar perbuatan lebih pada percontohan hablum minannas, baik bersikap toleransi maupun bijak dalam perbedaan. Adapun implementasi dari pilar-pilar moderasi agama dalam konten dakwah ini adalah pada batas komitmen bernegara dan penguatan toleransi semata.Kata Kunci: Moderasi, Youtube, ustadz/kiai
KAMPUNG JAWA TONDANO DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI RUANG Putri, Anindya Puspita; Pratama, Henki Riko
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3111

Abstract

Abstract : The interaction between humans and the environment creates a cultural landscape which is a concrete manifestation of human adaptation to the environment. This research discusses Kampung Jawa Tondano in the scope of spatial archeology. Kampung Jawa Tondano is a famous historical settlement in Minahasa Regency, North Sulawesi. This village was founded by Kiai Mojo and his followers when they were exiled in Tondano. This research aims to look at the spatial dynamics and cultural continuity of Kampung Jawa Tondano from a spatial archaeological perspective. Most villages in Indonesia are created from cultural patterns. The character of a village based on Muslim residents and becoming a center for spreading religion is called an Islamic Village or Kauman. Kauman is not applied in the Kampung Jawa Tondano, the term kauman does not appear in the spatial expression in this village. The condition of exile status of minority community groups in Kampung Jawa Tondano is certainly a reason for not emphasizing religious aspects compared to tribal identity. Other components of the settlement in Kampung Jawa Tondano that have a relationship with Islamic and Javanese culture are the Al-Falah Mosque building and the Kiai Mojo Complex Tomb. The mosque building adopts the concept of a traditional Javanese mosque building. The placement of the Kiai Mojo Complex Tomb on a hill is evidence of the continuity of Javanese culture.Key Words : Settlement, Spatial Archaeology, Kampung Jawa Tondano, CultureAbstrak : Interaksi antara manusia dengan lingkungan menciptakan bentang budaya (cultural landscape) yang merupakan kenampakan konkrit dari hasil adaptasi manusia terhadap lingkungan. Kajian ini membahas tentang Kampung Jawa Tondano dalam lingkup arkeologi ruang. Kampung Jawa Tondano merupakan permukiman bersejarah yang terkenal di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Kampung ini didirikan oleh Kiai Mojo dan pengikutnya ketika diasingkan di Tondano. Penelitian ini bertujuan melihat dinamika keruangan dan kesinambungan budaya Kampung Jawa Tondano dalam perspektif arkeologi ruang. Kebanyakan kampung di Indonesia tercipta dari corak budaya. Karakter kampung yang didasari oleh penduduk beragama Islam dan menjadi pusat penyebaran agama disebut sebagai Kampung Islam atau Kampung Kauman. Penyebutan nama Kampung Kauman tidak diterapkan di Kampung Jawa Tondano, sebutan kauman tidak tampak dalam ekspresi ruang di kampung ini. Kondisi status pengasingan dari kelompok masyarakat minoritas di Kampung Jawa Tondano tentunya menjadi alasan untuk tidak menonjolkan aspek religi dibandingkan identitas kesukuan. Komponen permukiman lainnya di Kampung Jawa Tondano yang memiliki relasi dengan budaya Islam dan Jawa adalah bangunan Masjid Al-Falah dan Kompleks Makam Kiai Mojo dan pengikutnya. Bangunan masjid mengadopsi konsep bangunan masjid tradisional Jawa. Penempatan Kompleks Makam Kiai Mojo dan pengikutnya di atas bukit merupakan bukti adanya kesinambungan budaya Jawa. Kata Kunci : Permukiman, Arkeologi Ruang, Kampung Jawa Tondano, Budaya
Appreciate but not Acknowledge: (State Construction Towards Religion and Regulations with Discriminatory Nuances) Indara, Rona; Mantu, Rahman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i2.3432

Abstract

Abstract: The meaning and recognition of religions in Indonesia are closely related to politics. Political sentiment during the transition of power from the old order to the new order affects how the State interprets religion in the constitution. Especially during the New Order period, minority religions or beliefs received discriminatory treatment, this fact was evidenced by various regulations that were impartial and protected minority religions and until now these policies continue to be used. The state, in this case, the government is intensively campaigning for the idea and practice of diversity, tolerance, and religious moderation, along with which there are many cases of violence and discrimination based on religious backgrounds. Using a socio-juridical approach, the author then found many regulations related to religion and beliefs that are still discriminatory and do not protect all citizens of the nation, as mandated by the 1945 Constitution.Keywords: Religion, Regulation, Discrimination, Diversity, Government.Abstrak : Pemaknaan dan pengakuan Agama-agama di Indonesia sangat berkait erat dengan Politik. Sentimen politik saat peralihan kekuasaan dari orde lama ke orde baru berpengaruh terhadap bagaimana Negara memaknai Agama di dalam konstitusi. Terlebih di masa Orde baru agama atau kepercayaan minoritas mendapatkan perlakuan yang diskriminatif, fakta itu dibuktikan dengan berbagai macam regulasi yang tidak berpihak dan melindungi agama minoritas dan sampai sekarang kebijakan-kebijakan tersebut terus digunakan. Negara dalam hal ini pemerintah sedang gencar mengkampanyekan gagasan dan praktik kebhinekaan, toleransi, serta moderasi beragama, seiring dengan itu muncul banyak kasus kekerasan dan diskriminasi berlatar belakang agama. Dengan menggunakan pendekatan sosio-yuridis penulis kemudian menemukan  banyak regulasi-regulasi berkaitan dengan agama dan kepercayaan yang masih bernuansa diskriminatif dan tidak melindungi segenap warga bangsa, sebagaimana amanat UUD 1945.Kata Kunci: Agama, Regulasi, Diskriminatif, Kebhinekaan, Pemerintah.