cover
Contact Name
Darnoto
Contact Email
darnoto@unisnu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
tarbawi@unisnu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. jepara,
Jawa tengah
INDONESIA
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 20883102     EISSN : 2548415X     DOI : -
Core Subject : Education,
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam p-ISSN: 2088-3102; e-ISSN: 2548-415X is an journal published by the Faculty of Tarbiyah and Education Science Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara. The journal focuses its scope on the issues of Islamic education. We invite scientists, scholars, researchers, as well as profesionnals in the field of Islamic education to publish their researches in our Journal.
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
A SOCIOLINGUISTIC CONTEXT ANALYSIS OF SPEECH ACTS ILLOCUTIONARY FORCES Haryanto Haryanto
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.61 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v10i2.183

Abstract

ABSTRACTThis paper is aimed at analyzing the components of situational context of ??speech event?, which are grouped in word ??SPEAKING?? by Dell Hymes (1972). It is summed up from an acronym of the components like: Setting, Scene, Participants, Ends, Act Sequence, Key Instrumentality, Norms, and Genres. It is a Case Study among the Activist Students of in Campus.Keywords : Speech Acts, Illocutionary Forces, locution, Illocution, Perlocution ABSTRAKPaper ini bertujuan untuk menganalisa komponen-komponen konteks situasi ??kejadian tutur?, yang terangkum dalam kata ??SPEAKING?? oleh Dell Hymes (1972). Singkatan kata ini merupakan rangkuman dari komponen-komponen seperti: Latar, Layar, Peserta, Hasil, Rangkaian Tutur, Instrumen Kunci, Norma-norma, dan Jenis Tutur. Tulisan ini adalah sebuah studi kasus diantara para aktivis mahasiswa di kampus.Kata-kata Kunci : Tindak Tutur, Dorongan Lokusi, Illokusi, Perlokusi
Living Aswaja Sebagai Model Penguatan Pendidikan Anti Radikalisme di Pesantren Ach Rofiq
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.919 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v16i1.997

Abstract

Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang fokus pada studi doktrin Islam. Namun, oleh sebagian pihak, pesantren dituduh sebagai pusat pendidikan Islam radikal yang mempelajari doktrin Islam secara eksklusif dan kaku. Tetapi Pesantren mengklaim diri bahwa dia adalah lembaga yang melarang radikalisme dan menghindari terorisme dan  kekerasan. Pesantren mengajarkan doktrin Ahlussunnah wa al -Jama'ah sebagai sarjana teologi Islam moderat yang mengacu pada al -Qur'an, hadits, dan buku-buku sarjana Islam tradisional dan meneruskan tradisi mereka sampai sekarang. Artikel ini akan menjelaskan model pendidikan deradikalisasi di pondok pesantren   annuqayah dengan living Aswaja dengan fokus masalah, menjelaskan kontribusi Living Aswaja sebagai model pendidikan Islam moderat untuk menghindari radikalisme di Annuqayah Boarding School. Artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mendapatkan deskripsi Living Aswaja sebagai model pendidikan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa Living Aswaja adalah salah satu pendidikan Islam moderat yang dianut dalam gaya hidup sehari-hari Kiai dan Santri sebagai manifestasi pengajaran kitab-kitab karya sarjana Islam tradisional. Kiai dan para santri menerapkan ajaran Ahlussunnah wa al-Jama'ah dalam pemikiran dan tindakan seperti moderat (tawassut), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan keadilan (ta'adul). Model pendidikan deradikalisme mulai menganut budaya kehidupan sehari-hari baik secara lisan maupun praktis.
PERSPEKTIF ISLAM TENTANG DEMOKRATISASI PENDIDIKAN Noor Rohman
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.19 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v11i2.216

Abstract

ABSTRAKSebagaimana diyakini oleh umat Islam, bahwa Islam adalah agama yang sarat dengan ajaran yang bernilai dan bermanfaat bagi kehidupan manusia dan kelangsungannya, sebagai bagian dari rahmatan lil-'alamien. Di antara yang terpenting adalah komitmen Islam terhadap pelaksanaan pendidikan. Berkaitan dengan upaya peningkatan aspek pendidikan, secara rasional, tidak seorangpun di dunia ini yang tidak menyetujui, mulai lapisan masyarakat kelas bawah hingga ke lapisan yang paling tinggi, yakni para pemegang pemerintahan.Perhatian Islam secara serius terhadap aspek pendidikan dapat diketahui secara pasti dalam lembaran-lembaran perjalanan sejarahnya. Hal ini dapat diketahui dari adanya kegiatan-kegiatan pembelajaran dari sejak munculnya Islam di Madinah di masa Nabi Muhammad SAW. Tradisi keilmuan ini berlanjut secara estafet mulai dari generasi Nabi-Sahabat, Tabi'ien, Tabi'it-Tabi'ien dan seterusnya. Di antara yang paling menonjol dan dicatat oleh tinta emas para sejarawan adalah kegiatan keilmuan (pendidikan) di zaman Kekhalifahan Abbasiyah di Timur (Baghdad) dan Kekhalifahan Islam di Barat (Spanyol). Pada masa-masa ini lahirlah banyak ilmuwan, seperti lbnu Sina, lbnu Rusyd dan lain-lainnya. Mengapa gerakan keilmuan (pendidikan) pada masa itu dapat berlangsung sedemikian hebat? Tentu banyak jawaban yang dapat dikemukakan. Di antaranya ialah karena adanya perintah mencari ilmu atas setiap muslim, baik yang tersirat maupun yang tersurat, yang termaktub dalam Kitab Suci Al-Qur'an dan al-Hadits. Hal ini, secara sadar yang didasari dengn keimanan yang kuat, telah diterjemahkan oleh para penguasa pemerintahan Islam dengan menyuruh setiap warga negaranya, tanpa diskriminasi, untuk belajar dan mereka (para penguasa) dengan penuh komitmen menyediakan berbagai kemudahan untuk para pembelajar.Kata kunci : Islam, Demokratisasi, Pendidikan56 IJurnal Tarbawi Vol. II. No. 2. Juli - Desember 2014ABSTRACTAs believed by Muslims, that Islam is a religion that is loaded with valuable teachings and beneficial to human life and its sustainability, as part of rahmatan lil-'alamien. Among the most important teachings is the Islamic commitment to the implementation of education. In connection with efforts to improve the educational aspect, rationally, no one in this world who does not approve, starting from the lower class to the highe ststratum, namely the rulers of government.The very serious concern of Islam to the educational aspect can be known with certainty in the pages of its history. It can be seen from the presenceof the teaming activities since the advent of Islam in Medina at the time of Prophet Muhammad SAW. The scientific tradition then continued in estafette from the generation of Prophet-Companions, Tabi'ien (the followers), Tabi'it-Tabi'ien (the followers of the followers) and so on. Among the most prominent and recorded by historians in gold ink is the scientific activities (education) at the time of the Abbasid Caliphate in the East (Baghdad) and the Islamic Caliphate in the West (Spain). In this period many scientists emerged, such as lbn Sina (Avicenna), lbn Rushd (AvetTOes) and others.Why movement of science (education) at that time could take place so great? Certainly there are a lot of answers that can be proposed. Among them is because of the religious command on every Muslim to seek knowledge, either expressed or implied, as contained in the Holy Book (Al-Qur'an) and Hadith. It is, consciously based with strong faith, has been translated by the rulers of the Islamic governments by asking every citizen, without discrimination, to team, and they (the authorities) with a full commitment to provide various facilities for learners.Keyword: Islam, Democratization, Education
COMPARING COMMUNICATIVE TECHNIQUE WITH EXPLANATION TECHNIQUE IN TEACHING GRAMMAR Haryanto Haryanto
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.994 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v11i1.190

Abstract

ABSTRACT:There are some techniques of teaching grammar (English Grammar. Two of them are communicative and explanation techniques. Both communicative technique and explanation one can be used to present the materials likes poems, songs, poetry, map, and picture. Each has strength and weakness. By using communicative one the class becomes interesting and the student will not get bored. Whereas, by using the explanation one the student will get bored as well the teacher. However, it is the matter of the fact that based on the data of test result by the students, the result of explanation technique is better than communicative one.Key Words: Grammar, communicative, explanation, technique, teachingABSTRAK:Ada beberapa cara (teknik) pengajaran tata bahasa (English Grammar). Dua dianataranya adalah teknik komunikatif dan teknik penjelasan. Baik teknik komunikatif maupun penjelasan dapat digunakan untuk menyampaikan bahan tentang permainan, lagu, puisi, petadaan gambar. Masing-masing cara tadi memiliki kelemahan dan kelebihan Dengan teknik yang komunikatif kelas menjadi menyenangkan dan mahasiswa tidak bosan. Sedangkan dengan teknik menerangkan mahasiswa akan cepat merasa bosan, begitu juga dengan dosennya. Tetapi berdasarkan hasil data test mahasiswa, teknik menerangkan lebih bagus daripada teknik komunikatif.Kata kunci: Grammar, komunikatif, penjelasan, teknik, pengajaran
Theoretical Framework, Falsafah dan Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Manajemen Pendidikan Nur Khoiri
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.237 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v16i1.1004

Abstract

Tulisan ini merupakan refleksi pemberdayaan bagi pengelola pendidikan dalam menerapkan kebijakan kurikulum pendidikan bagi anak inklusi. Tantangan dan hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi menjadi tanggung jawab bersama yaitu pemerintah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Karena itu diperlukan pengelolaan yang komprehensif mulai dari kurikulum, pendidik, tenaga kependidikan, dan sarana prasarana sekolah. Kurikulum di sekolah inklusi harus memperhatikan kebutuhan dasar anak yang beraneka ragam, tidak bisa disamakan kemampuan anak regular dengan anak berkebutuhan khusus sehingga perencanaan pembelajaran yang disusun oleh guru harus dapat mengakomodir hal tersebut.
KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT IBNU ??ARABI Zubaidi Zubaidi
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.668 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v10i2.184

Abstract

ABSTRAKTujuan utama pendidikan dalam Islam adalah membentuk akhlak mulia dalam diri peserta didik. Mengingat begitu pentingnya posisi akhlak/karakter tersebut, maka studi ini bertujuan untuk membahas konsep pendidikan akhlak menurut seorang tokoh besar Islam. Sedangkan tokoh yang dipilih penulis dalam studi ini adalah seorang tokoh Tasawuf, yakni Ibnu Arabi. Kajian ini berusaha untuk menggali pemikiran tokoh klasik tersebut terkait dengan konsep akhlak dan relevansinya terhadap pendidikan karakter khususnya di Indonesia.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah hermeneutika. Kemudian analisis yang digunakan adalah content analysis. Teks primer yang dikaji di sini adalah kitab Tahzib al-Akhlaq. Sedangkan teks sekundernya adalah beberapa karya orang lain tentang pemikiran Ibnu ??Arabi.Hasil kajian terhadap beberapa teks terkait adalah bahwa manusia, khususnya peserta didik, harus menggunakan akal dan hatinya sehingga bisa terbedakan dengan binatang. Dengan tuntunan ajaran dari Tuhan, peserta didik bisa berakhlak mulia, baik dalam hubungannya dengan Tuhannya maupun dengan sesama.Kata-kata kunci: pendidikan Islam, akhlak, akal, Ibnu ??Arabi.  ABSTRACTThe main purpose of education in Islam is to mold noble character of student. Due to this urgent position of that character, so this study is aimed at discussing the concept of character education according to a great Islamic scholar. The scholar chosen by the writer here is a well- known Sufi in Islamic history, namely Ibnu Arabi. This study tries to explore Ibnu Arabi??s thought related to character concept and its relevance to character education especially in Indonesia.The research type used here is library research. The approach of analysis used is hermeneutics. Technically, it uses content analysis. The primary text analyzed here is Tahzib al-Akhlaq. The secondary is some other scholars?? works about the thought of Ibnu ??Arabi.The result of study on some text related is that human, especially students must use their aql and heart so that they can be differentiated to animals. With the teachings from God, students can have noble character, both in relation to God and also to fellow-being.Keywords: Islamic education, character, aql, Ibnu ??Arabi.
Desain Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Sindangsari Al-Jawami Cileunyi Bandung Dalam Menghadapi Generasi Milenial Haidir Ali; Ibrahim Aji; Muhammad Hilmy Ghazali
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.207 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v16i1.998

Abstract

Pada arus modernisasi, pesantren menghadapi beberapa penghambat terkait segi kepemimpinan pesantren yang masih bersifat yang sentralistik dan hierarkis yang berpusat pada satu orang Kiai; kedua, terdapat kelemahan pada bidang metodologi. Tujuan penelitian ini untuk memperkenalkan desain pendidikan islam di Pondok Pesantren Sindangsari Al-Jawami Cileunyi Bandung dalam menghadapi generasi milenial. Hadirnya sistem pendidikan pada pondok pesantren modern, merupakan keniscayaan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Sistem ini dianggap tepat bagi dunia pesantren masa kini untuk mempersiapkan anak didiknya menjadi pribadi yang siap menghadapi tuntutan zaman. Di sisi lain, beberapa pesantren masih mempertahankan gaya tradisional, atau yang dikenal dengan istilah pesantren salaf. Pesantren salaf masih eksis hingga kini karena pertama, peran kiai sebagai penentu kebijakan di pesantren. pondok pesantren Sindangsari Al-Jawami Cileunyi Bandung telah dibuat sedemikian rupa agar dapat menjawab tantangan era milenial. Kehawatiran akan dekadensi moral generasi ini ditawarkan solusinya dengan mempertahankan gaya pembelajaran salafi yang menekankan pada sikap penghormatan kepada guru, sehingga internalisasi nilai-nilai akhlak menjadi tersampaikan dengan baik. Terdapat program khusus di pesantren ini yaitu Corp Dakwah Santri Al-Jawami (CDSA), karya nyata santri, peringatan hari besar, Islam, musyawarah santri, dan Ekstrakurikuler. Maka dari itu untuk peserta didik generasi net ini harus memiliki kemampuan khusus agar tidak tertinggal dari orang-orang lain.
MENGEMBANGKAN KECERDASAN SPIRITUAL MELALUI RUKUN IMAN DAN RUKUN ISLAM Akhirin Akhirin
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.795 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v10i2.179

Abstract

ABSTRAKKecerdasan Spiritual (SQ) adalah inti kecerdasan kita, kecerdasan ini membuat kita mampu menyadari siapa kita sesungguhnya. SQ berfungsi mengembangkan diri kita secara utuh karena kita memiliki potensi. SQ dapat dijadikan pedoman saat kita berada diujung masalah eksistensial yang paling menantang dalam hidup berada diluar yang diharapkan dan dikenal, di luar aturan- aturan yang telah diberikan, melampaui pengalaman masa lalu, dan melampaui sesuatu yang kita hadapi. SQ memungkinkan kita untuk menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan interpersonal serta menjembatani kesenjangan antara diri sendiri dan orang lain. Disini dijabarkan tentang cara membangun kecerdasan spiritual serta bagaimana mengaktualisasikannya beradasarkan enam rukun iman dan rukun Islam.Kata-kata Kunci: kecerdasan, spiritual, rukun iman, rukun islam ABSTRACTSpiritual Quotient (SQ) is the core of our intelligence which makes us always understand who really we are. SQ is aimed at improving ourselves integrally. It can be used as the device to handle existential matters in life which are so challenging. The problems beyond our mind, beyond existed rules, and beyond past experiences could be handled well if we use it. SQ also makes us possible to unite intrapersonal and interpersonal things. That??s why it could dilute discrepancy between our self and others. So here, in this writing, will be the explanation about how to build spiritual intelligence and how to actualize it based on six Iman pillars and five Islam pillars.Keywords: intelligence, spiritual, Iman pillars, Islam pillars.
KURIKULUM VISIONER BAHASA ARAB (MAHAROH KALAM) UNISNU JEPARA Muhammad Natsir
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.619 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v11i2.217

Abstract

ABSTRAKBahasa Arab IV (kompetensi kepribadian/Religius) adalah salah satu mata kuliah pada program studi Pendidikan Agama Islam, substansi mata kuliah ini adalah melatih kemahiran berbicara Bahasa Arab. Tetapi dalam prakteknya kurikulum belum diimplementasikan secara maksimal, sehingga perlu untuk dievaluasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui substansi dan sistematika kurikulum Bahasa Arab IV Prodi PAI di Unisnu Jepara dan untuk mengukur validitas implementasi kurikulum Bahasa Arab IV Prodi PAI di UNISNU Jepara. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, jenis rancangan penelitian berupa studi kasus. Peneliti berusaha mencari data, menganalisis, memotret, dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. Pengumpulan data bersifat triangulasi, yaitu menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara gabungan/simultan. Analisis data bersifat induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori. Setelah data terkumpul, diteliti dan dianalisa kemudian dievaluasi dan selanjutnya kurikulum dikembangkan dan disusun menjadi kurikulum Visioner. Selanjutnya agar tujuan dan target dari kurikulum tersebut dapat dicapai maka seharusnya didukung dengan perangkat kurikulum dan pirantinya yang sesuai dan representatif.Kata kunci : Substansi, Sistematika, Kurikulum Visioner, Bahasa ArabABSTRACTArabic IV (personaVReligious competence) is one of the subjects in the study program of Islamic education, the substance of this course is to train the skill to speak Arabic. But in practice, the curriculum has not been implemented maximally, so it needs to be evaluated. The purpose of this study is to determine the substance and systematic of the Arabic IV70 I Jurnal Tarbawi Vol. II. No. 2. Juli - Desember 2014curriculum of Islamic Education UNISNU Jepara and to measure the validity of the Arabic language curriculum which is implemented in UNISNU Jepara. This study used a qualitative descriptive approach; case study research design. Researchers was trying to find data, analyze, and construct a social situation under study becomes more clear and meaningful. The collection of data is triangulation, which uses a variety of data collection techniques. Inductive data analysis is based on the facts that found in the field and then constructed a hypothesis or theory. Once the data is collected, researched and analyzed then evaluated and further developed and structured curriculum into the curriculum Visionary. Furthermore, for the goals and targets of the curriculum can be achieved then it should be supported by the curriculum and appropriate appliancesand representative.Keyword: substance, systematic, visionary curriculum ,Arabic
PENDIDIKAN BERWAWASAN FEMINISME ; DALAM QS. AL-AHZAB (33): 53, 59 DAN AN-NUR (24): 31 Muhammad Nashrul Haqqi
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.385 KB) | DOI: 10.34001/tarbawi.v11i1.191

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini berupaya menemukan suatu pembacaan yang holistik dan proporsional terhadap QS. al-Ahzab (33): 53, 59 dan an-Nur (24): 31, yang ditujukan untuk mengurai indikasi ketidaksesuaian (mismatch) di  antara ketiga ayat tersebut atas eksistensi perempuan. Tidak hanya dalam aras pemahaman atau pengungkapan nilai-nilai objektif, tetapi juga pada aspek penerapan dalam realitas dan berbagai konteks yang melingkupi. Dalam upaya   itu   terungkap   bahwa    platform   etika    atau  moralitas  serta perlindungan  bagi  laki-laki  dan  perempuan   secara berimbang dalam segala bentuk interaksinya adalah nilai fundamental QS. al-Ahzab (33): 53, 59 dan an-Nur  (24): 31, yang dapat diterapkan sesuai dengan  norma, budaya dan tradisi yang ada. Seharusnya perempuan dapat lebih memiliki hak kebebasan dan perlindungan untuk mengaktualisasikan dirinya dalam berbagai aspek kehidupan. Namun di sisi lain,  ketimpangan, kekerasan dan pelecehan seksual masih terjadi karena  kompleksitas kondisi yang tidak hanya terkait dengan pelaku dan   korbannya, melainkan juga melibatkan  keluarga,  lingkungan,  masyarakat,  pendidikan  dan  kondisi sosial-ekonomi  yang  melingkupi.  Di sanalah adagium universalitas  al- Qur??an sebagai basis yang melandasi pendidikan Islam itu kemudian diuji, karena jika dipahami secara holistik, QS. al-Ahzab (33): 53, 59 dan an-Nur (24):  31 itu  justru menegaskan upaya pembebasan  terhadap  segala bentuk belenggu terhadap perempuan.Kata Kunci: al-Qur??an, feminisme, ketimpangan, pendidikanABSTRACTThis paper attempts to read QS. al-Ahzab (33): 53, 59 and an-Nur (24): 31 holistic and proportionate. The goal is to parse indication of a  mismatch between the verses in contemporary women??s reality. Not only in the area of understanding or disclosure of objective values, this paper also attempt to uncover aspects of the application of these verses in reality and various sorrounding contexts. In that effort, it was revealed that the platform of ethics or morality as well as protection for both men and women equally in all forms of interaction is a fundamental value of QS. al-Ahzab (33): 53, 59 and an-Nur (24): 31. The values can be applied in accordance  with the norms, culture and traditions. It should be more women have the right to freedom and protection to actualize herself in various contexts of life. But on other hand, inequality, violence and sexual harrasment still occur due the complexity of the condition which is not  only related to the offender and the victim, but also involves to the family, neighborhood, community, education and socio-economic conditions. That??s where the universality of al-Qur??an as the basic of  Islamic education was tested, because if It is understood in a holictic manner, It actually confirms QS. al-A hzab (33): 53, 59 and an-Nur (24): 31 leberation efforts against all forms of shackles on women.Keywords: al-Qur??an, feminism, imbalance, education

Page 8 of 19 | Total Record : 189