cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
TANJUNGPURA LAW JOURNAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
DUKUNGAN NORMATIF BAGI PEKERJA PEREMPUAN DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA: UU KETENAGAKERJAAN HINGGA UU CIPTA KERJA
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol 10, No 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.93962

Abstract

This article analyses the existence of normative support for women workers with family responsibilities in Indonesian labour law. The social structure of Indonesian society still views the function of family care as the responsibility of women. Therefore, working women are burdened with dual functions as workers and holders of care responsibilities. Both functions can lead to discrimination in the workplace for women workers. Normative support to protect these female workers is critical to note. The analysis was carried out by examining the regulations in the Manpower Act and the 2023 Job Creation Act. The analysis results show that the Acts contain several articles that provide normative support for women workers with family responsibilities, although they are not yet comprehensive and firm. First, this support is reflected in the regulations that require employers to consider the needs of workers and their families, both in employment relationships and in social security. Second, some provisions prohibit layoffs based on family responsibilities. In addition to these explicit regulations, several provisions can be implicitly interpreted as normative support for women workers with family responsibilities"”first, special regulations on reproductive health protection. Second, provisions mention the involvement of family or heirs in employment rights. Third, the recognition of significant events involving workers"™ families. However, existing regulations are still inadequate in providing comprehensive normative support for women workers with family responsibilities. Indonesia should immediately ratify the International Labour Organization Convention Number 156 to strengthen such protection.
PERBANDINGAN KETENTUAN TINDAK PIDANA PERZINAAN PASAL 284 KUHP LAMA DAN PASAL 411 KUHP NASIONAL
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol 10, No 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.104282

Abstract

Abstract TThe regulation of adultery as a criminal offense in Indonesian criminal law has undergone a fundamental transformation with the enactment of Law Number 1 of 2023 on the Criminal Code. For more than a century, adultery was regulated under Article 284 of the old Criminal Code, a legacy of Dutch colonial law grounded in the Continental European legal tradition. This provision narrowly defined adultery as a violation of marital fidelity and classified it as an absolute complaint offense. Social, cultural, and religious developments within Indonesian society have increasingly challenged the relevance of such a colonial-oriented regulation. This study aims to examine and compare the provisions on adultery under Article 284 of the old Criminal Code and Article 411 of the new Criminal Code, as well as to analyze their relevance to the development of Indonesia’s national criminal law. This research employs a qualitative method with a normative juridical approach through library research on statutory regulations and relevant legal literature. The findings indicate that Article 411 of the new Criminal Code expands the concept of adultery by framing it as a violation of social morality, no longer limited to individuals bound by marriage. This shift reflects a transformation from an individualistic colonial criminal law paradigm toward a national criminal law system rooted in Pancasila values and Indonesia’s socio-cultural characteristics. By maintaining adultery as a complaint-based offense, the new Criminal Code seeks to balance the protection of public morality with respect for individual privacy and human rights. This reform signifies Indonesia’s commitment to developing a contextual, sovereign, and value-based national criminal law system. Abstrak Pengaturan tindak pidana perzinaan dalam hukum pidana Indonesia mengalami perubahan mendasar seiring disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Selama lebih dari satu abad, ketentuan perzinaan diatur dalam Pasal 284 KUHP lama yang merupakan warisan hukum kolonial Belanda dan berlandaskan paradigma hukum Eropa Kontinental. Rumusan tersebut memandang perzinaan secara sempit sebagai pelanggaran terhadap kesetiaan dalam ikatan perkawinan dan menempatkannya sebagai delik aduan absolut. Perkembangan nilai sosial, agama, dan budaya masyarakat Indonesia mendorong perlunya pembaruan norma hukum pidana yang lebih mencerminkan jati diri bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ketentuan tindak pidana perzinaan dalam Pasal 284 KUHP lama dan Pasal 411 KUHP baru serta mengkaji kaitannya dengan pembangunan hukum pidana nasional Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan dan literatur hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasal 411 KUHP baru memperluas cakupan perzinaan dengan menempatkannya sebagai pelanggaran terhadap kesusilaan sosial, tidak lagi terbatas pada status perkawinan pelaku. Perubahan tersebut mencerminkan pergeseran paradigma dari hukum pidana kolonial yang individualistik menuju hukum pidana nasional yang berlandaskan nilai Pancasila dan karakter masyarakat Indonesia. Dengan tetap mempertahankan mekanisme delik aduan, KUHP baru berupaya menyeimbangkan perlindungan moral publik dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pembaruan ini menegaskan arah transformasi hukum pidana nasional Indonesia menuju sistem hukum yang mandiri, kontekstual, dan berkeadilan.
PROSPEK DAN TANTANGAN TABUNGAN PERUMAHAN RAKYAT DI BATAM: PERAN NEGARA DALAM MENJAMIN HAK PERUMAHAN RAKYAT
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol 10, No 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.94624

Abstract

Abstract The Public Housing Savings Program (Tapera) is a government instrument aimed to fulfill the right to adequate housing in Indonesia which is also aligned with the principle of sustainability in Sustainable Development Goal (SDG) 11. This research explores the prospects and challenges of Tapera in Batam City through a normative juridical methods with the combination of empirical data from interviews findings. The research analyzes the legal framework of Tapera as regulated in Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2024 and its allignment with SDG 11's goal of creating sustainable cities. Findings revealed several implementation challenges such as public distrust due to corruption risks to financial burdens for participants. This research highlights the critical needs for policy transparency and enhanced community participation. A key contribution of this research lies in its integration of welfare state theory with SDG implementation, particularly in the context of urban housing policy in areas with high migration. The results of this research shows that the Tapera program offers innovative solutions through various payment schemes to help Low-Income Communities (MBR) to obtain decent housing trough Home Ownership Loan (KPR), Home Construction Loan (KBR), and Home Renovation Loan (KRR), but on the other hand the program it still faces significant obstacles such as mismatch between housing supply and demand, public skepticism, and inefficiencies in fund management. Interviews results also reflect a predominantly negative view of the program. From the perspective of welfare state theory, Tapera represents a manifestation of the government’s responsibility to ensure citizens' right to housing and improve social welfare. This research also provides suggestions regarding reassessment of the Tapera financing scheme, reconsideration of the program’s financial burden, rebuilding public trust, and simplifying fund disbursement procedures. Abstrak Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) merupakan instrumen pemerintah dalam memenuhi hak atas perumahan yang layak di Indonesia yang juga sesuai dengan prinsip keberlanjutan pembangunan Sustainable Development Goal (SDG) 11. Penelitian ini mengkaji mengenai prospek dan tantangan Tapera di Kota Batam dengan menggunakan metode yuridis normatif dengan kombinasi data empiris dari hasil wawancara. Penelitian menganalisis kerangka hukum Tapera berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2024 dan kesesuaiannya dengan tujuan SDG 11 tentang kota berkelanjutan. Temuan mengungkap berbagai tantangan implementasi seperti ketidakpercayaan masyarakat akibat risiko korupsi hingga beban finansial bagi peserta. Penelitian ini kebutuhan kritis atas pentingnya transparansi kebijakan, dan penguatan partisipasi masyarakat. Penelitian memberikan kontribusi baru dengan menghubungkan teori negara kesejahteraan dengan implementasi SDGs melalui analisis kebijakan perumahan di kawasan urban dengan migrasi tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program Tapera menawarkan solusi inovatif melalui berbagai skema pembayaran untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) memperoleh hunian yang layak dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Bangun Rumah (KBR), atau Kredit Renovasi Rumah (KRR), namun di sisi lain program ini juga menghadapi berbagai tantangan seperti kesenjangan antara ketersediaan dan permintahan perumahan, adanya resistensi masyarakat, beban bagi pemberi kerja, ketidakpercayaan masyarakat, dan juga sistem pengelolaan dana yang belum optimal. Hasil wawancara dengan responden menunjukkan pandangan negatif terhadap program ini. Berdasarkan analisa dengan menggunakan teori negara kesejahteraan, program ini adalah salah satu bentuk dari peran pemerintah dalam memenuhi hak atas perumahan rakyat untuk menyejahterakan rakyat. Penelitian ini memberikan saran terkait peninjauan kembali terhadap skema pembiayaan tapera, pertimbangan kembali untuk beban dari program, pembangunan kepercayaan masyarakat, dan penyerdehananaan proesdur pencairan dana.
PENILAIAN KEAHLIAN SEBAGAI KONTRIBUSI MODAL NON-TUNAI DALAM PERUSAHAAN TERBATAS DI INDONESIA (UNDANG-UNDANG NO. 40/2007)
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol 10, No 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.94156

Abstract

Abstract. This study examines the legal problem concerning the valuation of expertise as a form of non-cash capital contribution in Indonesian Limited Liability Companies under Law Number 40 of 2007. The absence of explicit regulation regarding expertise as capital creates legal uncertainty, particularly in determining fair value and ensuring objectivity in valuation. This research aims to analyze the normative framework governing non-cash capital contributions and to formulate a legal construction for valuing expertise within corporate law. This study employs doctrinal legal research using statutory and conceptual approaches. The findings reveal that expertise may be interpreted as an intangible asset under the phrase “other forms of capital,” yet the lack of standardized valuation methods and limited definition of independent experts creates potential conflicts of interest and legal uncertainty. This article proposes a reformulation of legal provisions, including explicit recognition of expertise as capital, standardization of valuation methods, and institutional mechanisms to ensure objectivity and legal certainty Abstrak Studi ini meneliti permasalahan hukum terkait penilaian keahlian sebagai bentuk kontribusi modal non-tunai dalam Perseroan Terbatas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007. Ketiadaan regulasi eksplisit mengenai keahlian sebagai modal menciptakan ketidakpastian hukum, khususnya dalam menentukan nilai wajar dan memastikan objektivitas dalam penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerangka normatif yang mengatur kontribusi modal non-tunai dan merumuskan konstruksi hukum untuk menilai keahlian dalam hukum perusahaan. Studi ini menggunakan penelitian hukum doktrinal dengan pendekatan statutori dan konseptual. Temuan menunjukkan bahwa keahlian dapat diinterpretasikan sebagai aset tak berwujud dalam frasa "bentuk modal lainnya," namun kurangnya metode penilaian yang terstandarisasi dan definisi ahli independen yang terbatas menciptakan potensi konflik kepentingan dan ketidakpastian hukum. Artikel ini mengusulkan reformulasi ketentuan hukum, termasuk pengakuan eksplisit keahlian sebagai modal, standardisasi metode penilaian, dan mekanisme kelembagaan untuk memastikan objektivitas dan kepastian hukum
BRIDGING LAW AND PRACTICE: REFRAMING DISABILITY RIGHTS IN INDONESIAN FAITH-BASED CHILD PROTECTION THROUGH MAQASID AL-SHARIAH
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol 10, No 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.93021

Abstract

Abstract This study examines the implementation of disability protection within a faith-based institution in Bananul Amanah Madiun Foundation, addressing a critical gap between normative legal frameworks and their practical realization in institutional care settings. It asks how disability laws are operationalized in practice and how maqāṣid al-sharīʿah can strengthen disability rights analysis beyond formal legal compliance. Using a qualitative socio-legal case study, the research draws on fieldwork conducted over three months involving eighteen participants, including administrators, caregivers, educators, parents, and children, supported by observations and institutional document analysis. The findings reveal a hybrid and adaptive model in which legal norms, religious values, and institutional practices interact dynamically. While the institution demonstrates strong commitment to safeguarding life, dignity, and basic welfare, implementation remains partial due to structural constraints such as limited resources, weak coordination, and insufficient professional capacity. The analysis shows that maqāṣid al-sharīʿah provides a systematic ethical framework that deepens rights-based evaluation by linking protection of life, intellect, and dignity to concrete institutional practices. This study contributes theoretically by integrating maqāṣid with socio-legal analysis to explain the gap between law and practice in disability protection. It implies that strengthening inclusive welfare systems in Muslim-majority contexts requires combining normative frameworks with institutional capacity building and integrated governance strategies. Abstrak Penelitian ini mengkaji implementasi perlindungan penyandang disabilitas pada institusi berbasis keagamaan, Yayasan Bananul Amanah Madiun, dengan menyoroti kesenjangan kritis antara kerangka hukum normatif dan realisasinya dalam praktik layanan kelembagaan. Pertanyaan penelitian ini meliputi: bagaimana regulasi disabilitas dioperasionalisasikan dalam praktik serta bagaimana maqāṣid al-sharīʿah dapat memperkuat analisis hak-hak disabilitas melampaui kepatuhan hukum formal. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus sosio-legal kualitatif, penelitian ini didasarkan pada kerja lapangan selama tiga bulan yang melibatkan delapan belas partisipan, termasuk pengelola, pengasuh, pendidik, orang tua, dan anak-anak, yang didukung oleh observasi serta analisis dokumen institusi. Temuan penelitian menunjukkan adanya model hibrida dan adaptif, di mana norma hukum, nilai-nilai keagamaan, dan praktik kelembagaan berinteraksi secara dinamis. Meskipun institusi menunjukkan komitmen yang kuat dalam melindungi kehidupan, martabat, dan kesejahteraan dasar, implementasinya masih bersifat parsial akibat kendala struktural seperti keterbatasan sumber daya, lemahnya koordinasi, dan kurangnya kapasitas profesional. Analisis ini menunjukkan bahwa maqāṣid al-sharīʿah menyediakan kerangka etis yang sistematis untuk memperdalam evaluasi berbasis hak dengan mengaitkan perlindungan jiwa, akal, dan martabat dengan praktik kelembagaan konkret. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis melalui integrasi maqāṣid dengan analisis sosio-legal untuk menjelaskan kesenjangan antara hukum dan praktik dalam perlindungan disabilitas. Implikasinya, penguatan sistem kesejahteraan inklusif di konteks negara mayoritas Muslim memerlukan integrasi antara kerangka normatif, penguatan kapasitas kelembagaan, dan strategi tata kelola yang terkoordinasi.

Page 12 of 12 | Total Record : 115