cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
TANJUNGPURA LAW JOURNAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 119 Documents
DUKUNGAN NORMATIF BAGI PEKERJA PEREMPUAN DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA: UU KETENAGAKERJAAN HINGGA UU CIPTA KERJA Widiastiani, Nindry Sulistya
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.93962

Abstract

This article analyses the existence of normative support for women workers with family responsibilities in Indonesian labour law. The social structure of Indonesian society still views the function of family care as the responsibility of women. Therefore, working women are burdened with dual functions as workers and holders of care responsibilities. Both functions can lead to discrimination in the workplace for women workers. Normative support to protect these female workers is critical to note. The analysis was carried out by examining the regulations in the Manpower Act and the 2023 Job Creation Act. The analysis results show that the Acts contain several articles that provide normative support for women workers with family responsibilities, although they are not yet comprehensive and firm. First, this support is reflected in the regulations that require employers to consider the needs of workers and their families, both in employment relationships and in social security. Second, some provisions prohibit layoffs based on family responsibilities. In addition to these explicit regulations, several provisions can be implicitly interpreted as normative support for women workers with family responsibilities"”first, special regulations on reproductive health protection. Second, provisions mention the involvement of family or heirs in employment rights. Third, the recognition of significant events involving workers"™ families. However, existing regulations are still inadequate in providing comprehensive normative support for women workers with family responsibilities. Indonesia should immediately ratify the International Labour Organization Convention Number 156 to strengthen such protection.
ANALISIS PERBANDINGAN TINDAK PIDANA PERZINAAN: PASAL 284 KUHP LAMA (WvS) DAN PASAL 411 KUHP NASIONAL Aswandi, Aswandi; Harefa, Safaruddin
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.104282

Abstract

Abstract The regulation of the criminal offense of adultery in Indonesian criminal law has undergone significant changes following the enactment of Law No. 1 of 2023 concerning the Indonesian Criminal Code. Previously, adultery was governed under Article 284 of the old Criminal Code (KUHP), a legacy of Dutch colonial law based on the Continental European legal tradition. This provision narrowly defined adultery as a violation of marital fidelity and classified it as an absolute complaint-based offense. However, shifts in social, cultural, and religious values within Indonesian society have created a need for legal reform that better reflects the nation’s identity. This study aims to compare the regulation of adultery under Article 284 of the old Criminal Code and Article 411 of the new Criminal Code, as well as to examine its implications for the development of Indonesia’s national criminal law system. The research employs a qualitative method with a normative juridical approach through library research of relevant legislation and legal literature. The findings indicate that Article 411 of the new Criminal Code expands the concept of adultery by no longer limiting it to marital status, but defining it as a violation of social morality. Nevertheless, it maintains the complaint-based offense mechanism to balance public moral protection and individual privacy rights. The novelty of this study lies in its clear emphasis on the paradigm shift from a colonial, individualistic criminal law approach to a national criminal law system grounded in Pancasila values, analyzed through a comparative and integrated framework. The study implies that this reform strengthens the transformation of Indonesian criminal law toward a more contextual and nationally rooted legal system, while striving to balance legal certainty, justice, and prevailing social values.   Abstrak Pengaturan tindak pidana perzinaan dalam hukum pidana Indonesia mengalami perubahan signifikan dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab UndangUndang Hukum Pidana. Selama ini, perzinaan diatur dalam Pasal 284 KUHP lama yang merupakan warisan hukum kolonial Belanda dengan pendekatan sempit, yaitu sebagai pelanggaran terhadap kesetiaan dalam perkawinan dan bersifat delik aduan absolut. Perubahan sosial, budaya, dan nilai keagamaan masyarakat Indonesia menuntut adanya pembaruan hukum pidana yang lebih sesuai dengan karakter bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan ketentuan tindak pidana perzinaan dalam Pasal 284 KUHP lama dan Pasal 411 KUHP Nasional serta mengidentifikasi implikasinya terhadap pembangunan hukum pidana nasional Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundangundangan dan literatur hukum terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasal 411 KUHP Nasional memperluas konsep perzinaan dengan tidak lagi membatasi pada status perkawinan, melainkan sebagai pelanggaran terhadap kesusilaan sosial. Meskipun demikian, KUHP Nasional tetap mempertahankan mekanisme delik aduan sebagai bentuk keseimbangan antara perlindungan moral publik dan penghormatan terhadap hak privat individu. Novelty penelitian ini terletak pada penegasan pergeseran paradigma perzinaan dari hukum kolonial yang individualistik menuju hukum pidana nasional yang berlandaskan nilai Pancasila secara komparatif dan terintegrasi. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa pembaruan ini memperkuat arah transformasi hukum pidana Indonesia menuju sistem hukum yang lebih kontekstual, berkarakter nasional, serta berupaya menyeimbangkan kepastian hukum, keadilan, dan nilai sosial masyarakat. 
PROSPEK DAN TANTANGAN TABUNGAN PERUMAHAN RAKYAT DI BATAM: PERAN NEGARA DALAM MENJAMIN HAK PERUMAHAN RAKYAT Rusdiana, Shelvi; Situmeang, Ampuan; Celline, Celline
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.94624

Abstract

Abstract The Public Housing Savings Program (Tapera) is a government instrument aimed to fulfill the right to adequate housing in Indonesia which is also aligned with the principle of sustainability in Sustainable Development Goal (SDG) 11. This research explores the prospects and challenges of Tapera in Batam City through a normative juridical methods with the combination of empirical data from interviews findings. The research analyzes the legal framework of Tapera as regulated in Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2024 and its allignment with SDG 11's goal of creating sustainable cities. Findings revealed several implementation challenges such as public distrust due to corruption risks to financial burdens for participants. This research highlights the critical needs for policy transparency and enhanced community participation. A key contribution of this research lies in its integration of welfare state theory with SDG implementation, particularly in the context of urban housing policy in areas with high migration. The results of this research shows that the Tapera program offers innovative solutions through various payment schemes to help Low-Income Communities (MBR) to obtain decent housing trough Home Ownership Loan (KPR), Home Construction Loan (KBR), and Home Renovation Loan (KRR), but on the other hand the program it still faces significant obstacles such as mismatch between housing supply and demand, public skepticism, and inefficiencies in fund management. Interviews results also reflect a predominantly negative view of the program. From the perspective of welfare state theory, Tapera represents a manifestation of the government’s responsibility to ensure citizens' right to housing and improve social welfare. This research also provides suggestions regarding reassessment of the Tapera financing scheme, reconsideration of the program’s financial burden, rebuilding public trust, and simplifying fund disbursement procedures. Abstrak Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) merupakan instrumen pemerintah dalam memenuhi hak atas perumahan yang layak di Indonesia yang juga sesuai dengan prinsip keberlanjutan pembangunan Sustainable Development Goal (SDG) 11. Penelitian ini mengkaji mengenai prospek dan tantangan Tapera di Kota Batam dengan menggunakan metode yuridis normatif dengan kombinasi data empiris dari hasil wawancara. Penelitian menganalisis kerangka hukum Tapera berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2024 dan kesesuaiannya dengan tujuan SDG 11 tentang kota berkelanjutan. Temuan mengungkap berbagai tantangan implementasi seperti ketidakpercayaan masyarakat akibat risiko korupsi hingga beban finansial bagi peserta. Penelitian ini kebutuhan kritis atas pentingnya transparansi kebijakan, dan penguatan partisipasi masyarakat. Penelitian memberikan kontribusi baru dengan menghubungkan teori negara kesejahteraan dengan implementasi SDGs melalui analisis kebijakan perumahan di kawasan urban dengan migrasi tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program Tapera menawarkan solusi inovatif melalui berbagai skema pembayaran untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) memperoleh hunian yang layak dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Bangun Rumah (KBR), atau Kredit Renovasi Rumah (KRR), namun di sisi lain program ini juga menghadapi berbagai tantangan seperti kesenjangan antara ketersediaan dan permintahan perumahan, adanya resistensi masyarakat, beban bagi pemberi kerja, ketidakpercayaan masyarakat, dan juga sistem pengelolaan dana yang belum optimal. Hasil wawancara dengan responden menunjukkan pandangan negatif terhadap program ini. Berdasarkan analisa dengan menggunakan teori negara kesejahteraan, program ini adalah salah satu bentuk dari peran pemerintah dalam memenuhi hak atas perumahan rakyat untuk menyejahterakan rakyat. Penelitian ini memberikan saran terkait peninjauan kembali terhadap skema pembiayaan tapera, pertimbangan kembali untuk beban dari program, pembangunan kepercayaan masyarakat, dan penyerdehananaan proesdur pencairan dana.
PENILAIAN KEAHLIAN SEBAGAI KONTRIBUSI MODAL NON-TUNAI DALAM PERUSAHAAN TERBATAS DI INDONESIA (UNDANG-UNDANG NO. 40/2007) Immanuel, Beatrice Briliany; Madianingrum, Niken Wahyu; A, Benedicta Ivana
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.94156

Abstract

Abstract This study examines the legal problem concerning the valuation of expertise as a form of non-cash capital contribution in Indonesian Limited Liability Companies under Law Number 40 of 2007. The absence of explicit regulation regarding expertise as capital creates legal uncertainty, particularly in determining fair value and ensuring objectivity in valuation. This research aims to analyze the normative framework governing non-cash capital contributions and to formulate a legal construction for valuing expertise within corporate law. This study employs doctrinal legal research using statutory and conceptual approaches. The findings reveal that expertise may be interpreted as an intangible asset under the phrase “other forms of capital,” yet the lack of standardized valuation methods and limited definition of independent experts creates potential conflicts of interest and legal uncertainty. This article proposes a reformulation of legal provisions, including explicit recognition of expertise as capital, standardization of valuation methods, and institutional mechanisms to ensure objectivity and legal certainty. Abstrak Studi ini meneliti permasalahan hukum terkait penilaian keahlian sebagai bentuk kontribusi modal non-tunai dalam Perseroan Terbatas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007. Ketiadaan regulasi eksplisit mengenai keahlian sebagai modal menciptakan ketidakpastian hukum, khususnya dalam menentukan nilai wajar dan memastikan objektivitas dalam penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerangka normatif yang mengatur kontribusi modal non-tunai dan merumuskan konstruksi hukum untuk menilai keahlian dalam hukum perusahaan. Studi ini menggunakan penelitian hukum doktrinal dengan pendekatan statutori dan konseptual. Temuan menunjukkan bahwa keahlian dapat diinterpretasikan sebagai aset tak berwujud dalam frasa "bentuk modal lainnya," namun kurangnya metode penilaian yang terstandarisasi dan definisi ahli independen yang terbatas menciptakan potensi konflik kepentingan dan ketidakpastian hukum. Artikel ini mengusulkan reformulasi ketentuan hukum, termasuk pengakuan eksplisit keahlian sebagai modal, standardisasi metode penilaian, dan mekanisme kelembagaan untuk memastikan objektivitas dan kepastian hukum
BRIDGING LAW AND PRACTICE: REFRAMING DISABILITY RIGHTS IN INDONESIAN FAITH-BASED CHILD PROTECTION THROUGH MAQASID AL-SHARIAH Fadhilah, Nur; Nurhidayah, Siti; Sa'adah, Mazro'atus
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 1 (2026): VOLUME 10 NUMBER 1, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i1.93021

Abstract

Abstract This study examines the implementation of disability protection within a faith-based institution in Bananul Amanah Madiun Foundation, addressing a critical gap between normative legal frameworks and their practical realization in institutional care settings. It asks how disability laws are operationalized in practice and how maqāṣid al-sharīʿah can strengthen disability rights analysis beyond formal legal compliance. Using a qualitative socio-legal case study, the research draws on fieldwork conducted over three months involving eighteen participants, including administrators, caregivers, educators, parents, and children, supported by observations and institutional document analysis. The findings reveal a hybrid and adaptive model in which legal norms, religious values, and institutional practices interact dynamically. While the institution demonstrates strong commitment to safeguarding life, dignity, and basic welfare, implementation remains partial due to structural constraints such as limited resources, weak coordination, and insufficient professional capacity. The analysis shows that maqāṣid al-sharīʿah provides a systematic ethical framework that deepens rights-based evaluation by linking protection of life, intellect, and dignity to concrete institutional practices. This study contributes theoretically by integrating maqāṣid with socio-legal analysis to explain the gap between law and practice in disability protection. It implies that strengthening inclusive welfare systems in Muslim-majority contexts requires combining normative frameworks with institutional capacity building and integrated governance strategies. Abstrak Penelitian ini mengkaji implementasi perlindungan penyandang disabilitas pada institusi berbasis keagamaan, Yayasan Bananul Amanah Madiun, dengan menyoroti kesenjangan kritis antara kerangka hukum normatif dan realisasinya dalam praktik layanan kelembagaan. Pertanyaan penelitian ini meliputi: bagaimana regulasi disabilitas dioperasionalisasikan dalam praktik serta bagaimana maqāṣid al-sharīʿah dapat memperkuat analisis hak-hak disabilitas melampaui kepatuhan hukum formal. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus sosio-legal kualitatif, penelitian ini didasarkan pada kerja lapangan selama tiga bulan yang melibatkan delapan belas partisipan, termasuk pengelola, pengasuh, pendidik, orang tua, dan anak-anak, yang didukung oleh observasi serta analisis dokumen institusi. Temuan penelitian menunjukkan adanya model hibrida dan adaptif, di mana norma hukum, nilai-nilai keagamaan, dan praktik kelembagaan berinteraksi secara dinamis. Meskipun institusi menunjukkan komitmen yang kuat dalam melindungi kehidupan, martabat, dan kesejahteraan dasar, implementasinya masih bersifat parsial akibat kendala struktural seperti keterbatasan sumber daya, lemahnya koordinasi, dan kurangnya kapasitas profesional. Analisis ini menunjukkan bahwa maqāṣid al-sharīʿah menyediakan kerangka etis yang sistematis untuk memperdalam evaluasi berbasis hak dengan mengaitkan perlindungan jiwa, akal, dan martabat dengan praktik kelembagaan konkret. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis melalui integrasi maqāṣid dengan analisis sosio-legal untuk menjelaskan kesenjangan antara hukum dan praktik dalam perlindungan disabilitas. Implikasinya, penguatan sistem kesejahteraan inklusif di konteks negara mayoritas Muslim memerlukan integrasi antara kerangka normatif, penguatan kapasitas kelembagaan, dan strategi tata kelola yang terkoordinasi.
LEGAL ANALYSIS OF NO QUID PRO QUO PRINCIPLE IN SPONSORSHIP FOR INDONESIAN HEALTHCARE PROFESSIONALS Himawati, Hetsa; Triyana, Heribertus Jaka
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 2 (2026): VOLUME 10 NUMBER 2, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i2.104226

Abstract

Abstract   The Minister of Health Regulation (Permenkes) No. 58/2016 regulates the provision of sponsorship from industry to healthcare professionals to enhance competencies and the quality of health services. In practice, however, sponsorship may compromise the independence of clinical decision-making, particularly in prescribing products manufactured or marketed by the sponsoring company. This article assesses the extent to which Permenkes 58/2016 reflects the principles of justice and utility and examines the adoption of the no quid pro quo doctrine as an ethical constraint for safeguarding professional independence and preventing conflicts of interest in the governance of sponsorship. It complements prior research which predominantly examined sponsorship from the perspectives of gratuities and professional ethics. This study employs a normative juridical method through a review of legislation, legal principles, doctrine, and professional ethics frameworks, accompanied by a systematic analysis of the relationships among healthcare professionals, institutions, and industry. The findings indicate that Permenkes 58/2016 incorporates the principle of justice from the perspective of fair equality of opportunity. Nevertheless, distributive and corrective justice remain incomplete due to the absence of objective selection mechanisms, equitable allocation procedures, and clear limits on sponsorship, as well as the lack of sanctions for healthcare institutions and industry actors. Utility is acknowledged in a utilitarian orientation, but benefits remain concentrated at the individual level and are not sufficiently directed toward broader health-system strengthening. Although no quid pro quo is recognized normatively, it is not supported by a comprehensive conflict-of-interest governance framework, as reflected in PP 28/2024, Permenkes 24/2019, the Government Administration Law, and anti-corruption law. Accordingly, Permenkes 58/2016 should be reformed by ensuring transparent access to sponsorship based on objective selection criteria, defining clear limits and eligibility criteria for sponsorship funding, extending sanctions to all stakeholders, strengthening mechanisms for conflict-of-interest declaration and mitigation, and reorienting sponsorship to support a sustainable healthcare system. Abstrak   Permenkes 58/2016 mengatur pemberian sponsorship dari industri kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas layanan kesehatan. Namun, dalam praktiknya, sponsorship masih berpotensi memengaruhi independensi pengambilan keputusan medis, terutama dalam peresepan produk-produk yang diproduksi atau dipasarkan oleh industri pemberi sponsorship. Artikel ini bertujuan menilai penerapan asas keadilan dan kemanfaatan dalam Permenkes 58/2016 serta mengkaji adopsi doktrin no quid pro quo sebagai pagar etik guna menjaga independensi tenaga kesehatan agar sponsorship dikelola secara adil, bermanfaat, dan bebas dari konflik kepentingan. Penelitian ini berkontribusi dengan menganalisis sponsorship dalam kerangka asas hukum keadilan dan kemanfaatan serta doktrin no quid pro quo, sehingga melengkapi penelitian terdahulu yang umumnya menelaah sponsorship terutama dari perspektif gratifikasi dan etika profesi. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif melalui telaah peraturan perundang-undangan, asas-asas hukum, doktrin, kerangka etik profesi, disertai analisis sistematis atas relasi antara tenaga kesehatan, institusi, dan industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Permenkes 58/2016 telah memuat asas keadilan melalui perspektif fair equality of opportunity. Namun, keadilan distributif dan keadilan korektif belum sepenuhnya terpenuhi karena ketiadaan mekanisme seleksi objektif, prosedur pemerataan, dan batas kewajaran sponsorship, serta belum adanya pengaturan sanksi bagi institusi kesehatan dan industri sebagai aktor dalam skema sponsorship. Asas kemanfaatan telah tercermin dalam pandangan utilitarianisme, tetapi manfaat sponsorship masih dominan pada tingkat individu tenaga kesehatan dan belum diarahkan pada penguatan sistem pelayanan kesehatan secara lebih luas. Prinsip no quid pro quo telah diadopsi secara normatif, namun belum ditopang oleh kerangka tata kelola konflik kepentingan yang komprehensif sebagaimana diatur dalam PP 28/2024, Permenkes 24/2019, UU Administrasi Pemerintahan, dan UU Tipikor. Penyempurnaan Permenkes 58/2016 diperlukan melalui pembukaan akses sponsorship secara transparan dengan kriteria seleksi objektif, penetapan standar kewajaran besaran sponsorship, perluasan sanksi bagi seluruh pemangku kepentingan, penguatan mekanisme deklarasi serta mitigasi konflik kepentingan, serta reorientasi sponsorship agar turut mendukung penguatan sistem pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.
UNILATERALISM AND THE RIO DECLARATION: THE ENDLESS DEBATE ON “TRADE AND ENVIRONMENTAL” LAW Simbolon, Putu George Matthew; Zaki, Muhammad Reza Syariffudin
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 2 (2026): VOLUME 10 NUMBER 2, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i2.105111

Abstract

Abstract   Principle 12 of the Rio Declaration prohibits states from imposing unilateral environmental measures that constitute arbitrary and unjustifiable discrimination or a disguised restriction. The non-binding nature of this principle has triggered WTO disputes on the environment. This dispute is caused by the complaint of the exporting states on the import restrictions imposed for environmental protection. The following research, therefore, questions how states can balance their WTO and environmental obligations. This article answers this question through three layers. The first layer of discussion examines the trade and environmental aspects of the Rio Declaration. The second one examines how international environmental law also obliges cooperation, as does trade law. Finally, the last layer examines the WTO law and the ICJ Advisory Opinion on Climate Change to present the balancing and the importance of cooperation.  The absence of sanctions under the Rio Declaration has led to a prohibition on unilateral environmental measures as a mere political commitment. This endless debate is caused by the provisions under MEAs, which permit unilateralism, although such measures are prohibited under the WTO Agreement and its spirit of international cooperation. To prevent a dispute, states should cooperate in settling environmental issues with transboundary natures. As a recommendation, states should cooperate in multilateral and bilateral platforms related to trade & environment.   Abstrak   Prinsip 12 Deklarasi Rio melarang negara-negara untuk memberlakukan tindakan lingkungan unilateral yang merupakan diskriminasi sewenang-wenang dan tidak dapat dibenarkan atau pembatasan terselubung. Sifat prinsip yang tidak mengikat ini telah memicu sengketa WTO terkait lingkungan hidup. Sengketa ini disebabkan oleh komplain negara eksportir terhadap kebijakan impor mitranya yang ditujukan untuk melindungi lingkungan. Penelitian ini mempertanyakan bagaimana negara-negara dapat menyeimbangkan kewajiban WTO dan lingkungan mereka. Artikel ini menjawab pertanyaan tersebut melalui tiga tahapan. Tahapan pertama meninjau aspek perdagangan dan lingkungan dari Deklarasi Rio. Artikel ini kemudian meninjau kewajiban kerja sama internasional pada perjanjian lingkungan yang memiliki persamaan dengan hukum perdagangan. Terakhir, artikel ini memeriksa hukum WTO dan pendapat hukum ICJ mengenai perubahan iklim dalam mewujudkan keseimbangan dan dalam menjelaskan pentingnya kerja sama. Tidak adanya sanksi dalam Deklarasi Rio telah menyebabkan larangan terhadap tindakan lingkungan unilateral sebagai komitmen politik semata. Perdebatan tanpa akhir ini disebabkan oleh ketentuan dalam MEA yang mengizinkan unilateralisme, meskipun tindakan tersebut dilarang berdasarkan Perjanjian WTO dan semangat kerja sama internasionalnya. Negara-negara perlu bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan hidup yang bersifat lintas batas negara, guna mencegah sengketa. Sebagai rekomendasi, kerja sama mengenai perdagangan dan lingkungan harus dilaksanakan pada level bilateral dan multilateral.
THE CONSTITUTIONALITY OF DIGITAL TRANSFORMATION POLICIES IN THE PERSPECTIVE OF PROTECTING CITIZENS' CONSTITUTIONAL RIGHTS IN INDONESIA Saputri, Ernia Duwi; Lestari, Sely Ayu
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 2 (2026): VOLUME 10 NUMBER 2, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i2.106558

Abstract

Transformasi digital dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia telah membawa perubahan signifikan dalam tata kelola negara, khususnya dalam pelayanan publik, pengelolaan data, dan pengambilan kebijakan. Namun, perkembangan ini juga menimbulkan berbagai persoalan konstitusional yang berkaitan dengan perlindungan hak asasi manusia, pembatasan kekuasaan, serta jaminan kepastian hukum. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konstitusionalitas kebijakan transformasi digital dalam perspektif Hukum Tata Negara Indonesia serta implikasinya terhadap sistem ketatanegaraan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan transformasi digital di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan prinsip-prinsip konstitusionalisme, terutama dalam aspek perlindungan hak privasi, kebebasan berekspresi, dan mekanisme pengawasan kekuasaan. Selain itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk melakukan pembaruan hukum guna menyesuaikan regulasi dengan perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran lembaga negara, harmonisasi regulasi, serta pengembangan kerangka hukum yang adaptif dan berorientasi pada perlindungan hak konstitusional warga negara.
DIGITAL FORENSICS IN UNCOVERING FRAUD PRACTICES BASED ON MONEY LAUNDERING SCHEMES IN DIGITAL FINANCIAL TRANSACTIONS Nurillah, Isma; Banjarani, Desia Rakhma; Siagian, Putri Rumondang; Ervita, Mona
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 2 (2026): VOLUME 10 NUMBER 2, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i2.110950

Abstract

Abstract The development of digital financial transactions has opened up new space for fraudulent practices that no longer stand as a single criminal act, but are often arranged through money laundering schemes to disguise the origin of funds from crimes. In this context, perpetrators use layered accounts, digital wallets, payment gateways, crypto assets, fake identities, and cross-platform fund transfers to break the connection between victims, perpetrators, and fund flows. This study aims to analyze the role of digital forensics in uncovering fraudulent practices based on money laundering schemes in digital financial transactions, especially in tracking digital evidence, reconstructing transaction patterns, and strengthening legal evidence. This research shows that digital forensics plays an important role in uncovering transaction trails, analyzing metadata, tracing inter-account relationships, mapping placement, layering, and integration patterns, and maintaining the integrity of evidence through accountable acquisition, preservation, analysis, and reporting procedures. Digital forensics also helps uncover the construction of fraud disguised through digital financial transactions, so that proof rests not only on the victim's losses, but also on the systematic relationship between fraud modes, fund flows, and attempts to disguise the proceeds of crime. The contribution of this research lies in the argument that digital forensics needs to be placed as a strategic instrument in criminal law enforcement that is integrated with money laundering schemes, as well as as a basis for strengthening regulations, investigative capacity, and the validity of digital evidence-based evidence. Abstrak Perkembangan transaksi keuangan digital telah membuka ruang baru bagi praktik penipuan yang tidak lagi berdiri sebagai tindak pidana tunggal, melainkan sering disusun melalui skema pencucian uang untuk menyamarkan asal-usul dana hasil kejahatan. Dalam konteks tersebut, pelaku memanfaatkan rekening berlapis, dompet digital, gateway pembayaran, aset kripto, identitas palsu, serta transfer dana lintas platform untuk memutus keterhubungan antara korban, pelaku, dan aliran dana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran digital forensik dalam mengungkap praktik penipuan berbasis skema pencucian uang pada transaksi keuangan digital, khususnya dalam pelacakan bukti digital, rekonstruksi pola transaksi, dan penguatan pembuktian hukum. Penelitian ini menunjukkan bahwa digital forensik berperan penting dalam mengungkap jejak transaksi, menganalisis metadata, menelusuri hubungan antar-akun, memetakan pola penempatan , layering , dan integrasi , serta menjaga integritas bukti melalui prosedur akuisisi, preservasi, analisis, dan pelaporan yang dapat dipertanggungjawabkan. Digital forensik juga membantu mengungkap konstruksi penipuan yang disamarkan melalui transaksi keuangan digital, sehingga pembuktian tidak hanya bertumpu pada kerugian korban, tetapi juga pada hubungan sistematis antara modus penipuan, aliran dana, dan upaya penyamaran hasil kejahatan. Kontribusi penelitian ini terletak pada argumentasi bahwa Digital forensik perlu ditempatkan sebagai instrumen strategi dalam penegakan hukum tindak pidana kejahatan yang terintegrasi dengan skema pencucian uang , sekaligus sebagai dasar penguatan regulasi, kapasitas investigasi, dan validitas pembuktian berbasis bukti digital. Kata kunci: Digital forensik, Keuangan Digital, Pencucian Uang, Penipuan.  

Page 12 of 12 | Total Record : 119