cover
Contact Name
Rina Setiana
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.keperawatan@ui.ac.id
Editorial Address
Faculty of Nursing, Universitas Indonesia, Indonesia
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 14104490     EISSN : 23549203     DOI : https://doi.org/10.7454/jki
Core Subject : Health,
Focus and Scope Jurnal Keperawatan Indonesia (JKI, or Nursing Journal of Indonesia) contributes to the dissemination of information related to nursing research and evidence-based study on urban nursing issues in low-middle income countries. The scope of this journal is broadly multi-perspective in nursing areas such as Nursing Education, Clinical Practice, Community Health Care, Management and Health System, Health Informatics, and Transcultural Nursing, with a focus on urban nursing issues in low-middle income countries. JKI is committed to communicating and being open to the discussion of ideas, facts, and issues related to health across a wide range of disciplines. The journal accepts original research articles, synthesized literature, and best practice reports or case reports that use the quantitative, qualitative, or mixed-method approach. JKI adheres to journalistic standards that require transparency of real and potential conflicts of interest that authors and editors may have. It follows publishing standards set by the International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE), the World Association of Medical Editors (WAME), and the Committee on Publication Ethics (COPE). Letters and commentaries about our published articles are welcome. All submitted contributions will undergo a blind peer-review process according to appropriate criteria.
Articles 640 Documents
Tinjauan Teori Keperawatan Kesehatan Kerja Henny Permatasari
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 13 No 2 (2010): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v13i2.240

Abstract

AbstrakPopulasi pekerja adalah salah satu kelompok dalam masyarakat yang sangat rentan mengalami penurunan derajat kesehatan akibat sakit atau mengalami kecelakaan kerja. Tempat kerja memiliki faktor heatlth hazards yang berdampak terhadap tingginya angka kesakitan dan kematian bagi pekerja. Upaya meningkatkan derajat kesehatan dan perlindungan terhadap pekerja dilakukan oleh perawat kesehatan kerja melalui upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier yang dilakukan dengan menggunakan strategi intervensi keperawatan komunitas dengan berbagai pendekatan. Tulisan ini bertujuan memberikan pemahaman terhadap konsep Keperawatan Komunitas pada Agregate Pekerja, meliputi antara lain; Pengertian dan Tujuan Keperawatan Kesehatan Kerja, Pekerja Sebagai Aggregates, Peran dan Fungsi Perawat Kesehatan Kerja, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Pekerja, Strategi Intervensi Keperawatan Kesehatan Kerja, Level dan Bentuk Intervensi Keperawatan Kesehatan Kerja, serta, Teori dan Model yang dapat diaplikasikan dalam Pelayanan Keperawatan Kesehatan Kerja. AbstractWorkers was a population aggregate who were being exposed to work related health hazards. Maintaining the health of the workers was an important role of occupational health nursing. The nurse work cooperatively with the worker, the worker’s family, the workplaces and the community as well. The practice of occupational health nursing is focused on the promotion of health in the workplaces by used variety strategies of primary, secondary and tertiary level of preventions. The purpose of this scientific paper work were to give a deep understanding in conceptual, theoretical on Occcupational Health Nursing and the worker aggregates as well. This paper also contain the whole topics such as: worker as population aggregate, nursing role in occupational health, types of occupational hazards and associated health effects, level of prevention, use the Occupational Health Nursing Model to explain work- health interactions.
DUKUNGAN ATASAN DAN TEMAN SEJAWAT MEMENGARUHI EKSPEKTASI PERAWAT DALAM PENERAPAN JENJANG KARIR Tuti Afriani; Rr. Tutik Sri Hariyati; Dewi Gayatri
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 20 No 2 (2017): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v20i2.516

Abstract

Abstrak Masalah utama yang dihadapi perawat di Indonesia adalah masalah kualitas sumber daya manusia.Sistem jenjang karir merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dukungan atasan dan teman sejawat ekspektasi perawat dalam penerapan jenjang karir di rumah sakit. Desain penelitian menggunakan korelasi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 145 perawat di salah satu rumah sakit Kabupaten Bogor Jawa Barat dengan teknik simple random sampling.Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Berganda. Terdapat hubungan dukungan atasan (p value = 0,000) dan dukungan teman sejawat (p value = 0,023) dengan ekpektasi perawat terhadap penerapan jenjang karir di rumah sakit. Dukungan atasan (OR = 3,806) dan jenis kelamin (OR = 2,278) merupakan faktor yang paling dominan dengan ekspektasi perawat. Penelitian ini merekomendasikan agar pimpinan rumah sakit mendukung sistem jenjang karir dan memotivasi perawat meningkatkan kompetensi melalui sistem jenjang karir sehingga ekspektasi perawat meningkat terhadap manfaat dari sistem ini.Kata kunci: dukungan atasan, dukungan teman sejawat, ekspektasi, jenjang karir perawat.AbstractThe main problem faced by nurses in Indonesia is a nursing quality. Nursing Clinical Ladder System (CLS) is one way to improve the quality of nurses in providing nursing care. This study is aimed to identify superiors and peers support affecting nurses’ expectations towards the implementation of nursing clinical ladder system. This research is using Cross Sectional descriptive correlation and simple random sampling technique, and has involved 145 nurses at one hospital in Kabupaten Bogor Jawa Barat. Data were analyzed by Chi-Square test and Multiple Logistic Regression. There is found a significant relationships between leader’s support (p= 0,000) and colleagues’ support (p= 0,023) and the nurses' expectations towards the implementation of CLS. The leader support (OR= 3,806) and the gender factor (OR=2,278) are the dominant factors of nurses’ expectation. It is recommended that hospital leaders support CLS and motivate nurses to improve their competence through this system so that CLP will increase the nurses’ expectation to the benefits of CLS.                Keywords: superiors support, peers support, expectation, nursing clinical ladder system, 
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Fatigue Pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Rumentalia Sulistini; Krisna Yetti; Rr. Tutik Sri Hariyati
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 15 No 2 (2012): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v15i2.30

Abstract

Chronic Kidney Disease merupakan kumpulan sindrom klinik dengan penurunan fungsi ginjal progresif. Prevalensi fatiguetinggi pada pasien hemodialisis. Penelitian ini bertujuan menjelaskan faktor yang berhubungan dengan Fatigue pada pasienyang menjalani hemodialisis. Desain penelitian analitik observasional. Teknik non probability sampling. Hasil penelitian tidakada hubungan tingkat fatigue dengan pekerjaan (p= 0,732; α= 0,05), status dukungan (p= 0,679; α= 0,05), jenis kelamin (p=0,914; α= 0,05), frekuensi (p= 0,676; α= 0,05), jarak fasilitas (p= 0,149; α= 0,05), komplikasi (p= 0,062; α= 0,05), merokok(p= 0,062; α= 0,05), alkohol (p= 0,075; α= 0,05), riwayat penyakit (p= 0,42; α= 0,05), dan status nutrisi (p= 0,168; α= 0,05).Ada hubungan tingkat fatigue dengan latihan fisik (p= 0,027; α= 0,05), lama menjalani hemodialisis (p= 0,019; α= 0,05), kadarhemoglobin (p= 0,029; α= 0,05), penghasilan (p= 0,07; α= 0,05), dan pendidikan (p= 0,040; α= 0.05). Faktor dominan adalahpenghasilan. Perawat hemodialisis diharapkan memonitoring fatigue, memberikan pendidikan kesehatan tentang latihan fisikdan memberikan asuhan keperawatan holistik.
MENGENAL ANALISIS KETAHANAN (SURVIVAL ANALYSIS) Dewi Gayatri
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 9 No 1 (2005): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v9i1.158

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengenalkan analisis ketahanan yang dikembangkan pertama kali oleh astronom Inggris, yaitu Edmund Halley. Analisis ini menjadi salah satu alat penting dalam statistik vital dan ilmu aktuarial serta ilmu lainnya. Tulisan ini memperkenalkan tentang istilah dan metode yang digunakan dalam analisis ketahanan beserta contoh aplikasinya dalam penelitian kesehatan. AbstractThis article aims to introduce survival analysis which has been developed by Edmund Halley- an English astronomer. Survival analysis plays a vital role in vital statistic, actuarial science and many other sciences. Furthermore, this article will discuss the terminology and method that are used in survival analysis with its’ applications in health research.
Efektivitas Kompres Iodine Terhadap Zona Hambat Staphylococcus Aureus Pada Ulkus Diabetikum Asep Kuswandi; Kusmiyati Kusmiyati; Holikin Holikin
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 16 No 3 (2013): November
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v16i3.323

Abstract

AbstrakUlkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes melitus dan menjadi penyebab amputasi kaki. Infeksi pada ulkus tersebut umumnya disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Salah satu teknik pencegahan amputasi kaki diabetes adalah perawatan ulkus. Berbagai jenis bahan kompres ulkus diabetikum yang telah dikenal selama ini adalah:kompres madu, gula, Iodine, dan NaCl 0,9%. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas bahan kompres ulkus terhadap daya hambat Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen in vitro menggunakan satu faktor perlakuan yaitu zona hambat bahan kompres terhadap Staphylococcus aureus pada ulkus diabetikum. Enam jenis bahan yang diuji adalah aquadest, gula, Iodine 10%, campuran gula dan Iodine 10 %, madu, dan NaCl 0,9 %. Eksperimen dilakukan sebanyak 10 kali untuk mengetahui rerata luas daya hambatnya selama 24 jam. Sampel diambil dari ulkus diabetikum. Staphylococcus aureus diisolasi dari ulkus tersebut untuk eksperimen dengan berbagai bahan kompres ulkus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona hambat madu rata-rata sebesar 0,4 mm, gula 3,0 mm, aquadest 0,0 mm, NaCl 0,9% 0,0 mm, Iodine 10% 8,3 mm dan campuran gula-Iodine 6,0 mm. Zona hambat terluas dihasilkan dari uji menggunakkan Iodine 10% (8,3 mm). Sementara campuran gula Iodine 10% menghasilkan zona hambat seluas 6 mm dan gula menghasilkan 3 mm. Penelitian ini merekomendasikan jika ditemukan Staphylococcus aureus maka dilakukan kompres Iodine 10% dengan kasa steril. Penelitian selanjutnya dengan metode in vivo perlu dilakukan untuk mengetahui efektifitas cairan Iodine pada ulkus diabetikum.Kata Kunci: kompres ulkus, staphylococcus aureus, ulkus diabetikum, zona hambatAbstractEffectivity of Iodine Compress to Blocking Zone of Staphylococcus aureus in Diabetes Ulcers. Diabetic foot ulcers is one of diabetes chronic complications that might lead to leg amputations. Staphylococcus aureus is known as the cause of infection in diabetic foot ulcers. One of techniques to prevent diabetic foot amputations is wound care. Various materials are known to be used to compress diabetic foot ulcers. These include of using honey, sugar, 10% of Iodine and 0.9% of NaCl. This study aimed ttify to identify the effectiveness of various wound care materials to block Staphylococcus aureus. This is an in vitro experiment study to investigate the effetiveness of six wound care materials used to wounds compress: distilled water, sugar, 10% of Iodine, a mixture of sugar and Iodine, honey and 0.9% of NaCl. Experiments were carried out in 10 times to determine the average size of block area in 24 hours. Staphylococcus aureus were isolated and soiled with various wound compressss materialls. The results showed that honey produced 0.4 mm of a blocking zone, 3.0 mm for glucose, 0.0 mm for distilled water, 0.0 mm for 0.9% of NaCl, 8.3 mm for 10% of Iodine, and 6.0 mm for mixed-Iodine Sugar. Ten percents of Iodine produced the widest zone to block Staphylicoccus aureus. This study recommends of apllying a 10% of Iodine compress if there is a positive culture of Staphylococcus aureus. A further in vivo study is a necessity to investigate the effectiveness of Iodine to diabetes foot ulcers.Keywords: blocking zone, diabetic foot ulcers, Staphylococcus aureus, wound compress
Latihan Pernapasan Diafragma Meningkatkan Arus Puncak Ekspirasi (APE) dan Menurunkan Frekuensi Kekambuhan Pasien Asma Dian Kartikasari; Ikhlas Muhammad Jenie; Yanuar Primanda
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 22, No 1 (2019): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v22i1.691

Abstract

 Salah satu penatalaksanaan asma yaitu latihan pernapasan diafragma yang dapat meningkatkan fungsi paru pasien asma. Tujuan penelitian untuk menguji pengaruh latihan pernapasan diafragma terhadap peningkatan Arus Puncak Ekspirasi (APE) dan penurunan frekuensi kekambuhan pasien asma. Penelitian true experiment pretest-posttest with control group melibatkan 28 subyek penelitian secara random. Subyek dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol melalui randomisasi sejumlah 14 orang untuk masing-masing kelompok. Pengukuran APE menggunakan peak flow meter dan frekuensi kekambuhan dicatat dengan lembar catatan observasi. Hasil penelitian terdapat perbedaan yang signifikan rerata selisih APE kelompok intervensi (mean 126,43±22,05 L/menit) dan kelompok kontrol (mean 52,14±56,45 L/menit) dengan p 0,001, serta terdapat perbedaan yang signifikan rerata selisih frekuensi kekambuhan kelompok intervensi (mean 1,29±0,61) dan kelompok kontrol (mean 0,79±0,57) dengan p 0,038. Latihan pernapasan diafragma menjadi pertimbangan dalam penatalaksanaan pasien asma. Kata kunci: arus puncak ekspirasi, asma, frekuensi kekambuhan, latihan pernapasan diafragma  AbstractEffect of Diaphragmatic Breathing Exercises on Peak Expiratory Flow Rate (PEFR) Enhancement and The Mild-Moderate Asthma Patients’ Relapse Frequency Reduction. One of the management of asthma is diaphragmatic breathing exercises that could improve lung function of asthma patients. The objective of the study was to examine the effect of diaphragmatic breathing exercises on Peak Expiratory Flow Rate (PEFR) and decreased frequency of mild-moderate asthma relapse on the patients. True experiment method pretest-posttest with control group was applied in this study with involved 28 random research subject. Subjects were divided into intervention groups and control groups through randomization of 14 people for each group. PEFR measurements using peak flow meter and relapse frequency were recorded with an observation note sheet. There was a significant difference of difference PEFR mean between intervention groups (mean 126.43±22.05) and control group (mean 52.14±56.45) with p 0.001. There was a significant difference of difference mean frequency between intervention group (mean 1.29±0.61) and control group (mean 0.79±0.57) with p 0.038. Diaphragmatic breathing exercise is a consideration in the management of asthma patients.Keywords: asthma, diaphragmatic breathing exercises, frequency of recurrence, peak expiratory flow rat
Pengalaman Lanjut Usia Mendapatkan Dukungan Keluarga Nuurhidayat Jafar; Wiwin Wiarsih; Henny Permatasari
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 14 No 3 (2011): November
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v14i3.62

Abstract

Lanjut usia mengalami proses penuaan yang mempengaruhi fungsi fisik dan psikososial. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran pengalaman lanjut usia terhadap dukungan keluarga di panti wredha AB. Penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif fenomenologi deskriptif menggunakan wawancara mendalam dan catatan lapangan. Alasan lansia di panti digambarkan dengan tema keinginan personal dan kelemahan struktur kekuatan keluarga. Masalah yang dialami lansia digambarkan dengan tema masalah fisik dan masalah psikososial. Dukungan yang diterima digambarkan dengan tema sumber dukungan dan jenis dukungan. Makna dukungan digambarkan dengan tema kesenangan batin. Harapan lansia digambarkan dengan tema mempertahankan hubungan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar program promosi dan preventif bagi lanjut usia.
Factors Associated with Depressive Symptoms Among Community-Dwelling Older People in East-Coast Malaysia Siti Suhana Zakaria; Siti Nur Illiani Jaafar; Muhammad Kamil Che Hasan; Nik Noor Kaussar Nik Mohd Hatta; Wan Nor Aliza Wan Abdul Rahman
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 26 No 3 (2023): November
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v26i3.1073

Abstract

Older people are increasing in number globally, and they are likely to have mental health problems, including depression. In this population, the risk of having depressive symptoms is very high due to multidimensional factors, but these symptoms are often undertreated. This study aimed to determine the prevalence and associated factors of depressive symptoms among community-dwelling older people living on the East Coast of Malaysia. A cross-sectional study was conducted in several areas of the state of Terengganu based on multilayered stratified sampling. A total of 240 participants were randomly selected. Several instruments were employed, such as the Geriatric Depression Scale, University of California Los Angeles Loneliness Scale, Pittsburgh Sleep Quality Index, Elderly Cognitive Assessment Questionnaire, Multidimensional Scale of Perceived Social Support, Duke University Religion Index, Barthel Modified Index, and Instrumental Activities of Daily Living Scale. The prevalence of depressive symptoms was 24.6%. The results of the multivariate logistic regression model also revealed that being a single elderly (adjusted odd ratio [aOR] = 4.42; Confidence Interval [CI] = 1.22; 15.96), poor social support (aOR = 3.06; CI = 1.18; 7.93), loneliness (aOR = 21.11; CI = 9.87; 45.18), impaired functional status (aOR = 3.39; CI = 1.22; 9.39), impaired instrumental function (aOR = 6.09; CI = 1.95; 19.0), and having asthma (aOR = 14.14; CI = 2.83; 70.5) were associated with depressive symptoms. Thus, screening older people during primary care is needed for early detection of depression and initiation of community-based interventions to address the psychological aspects of this disorder. Keywords: aging, community dwelling, depression, elderly, factor, mental health Abstrak Faktor-Faktor yang Berkaitan dengan Gejala Depresi pada Kalangan Lansia di Pantai Timur Malaysia. Jumlah penduduk lanjut usia di seluruh dunia semakin meningkat, dan mereka cenderung mempunyai masalah kesehatan mental, termasuk depresi. Pada populasi ini, risiko terjadinya gejala depresi sangat tinggi karena faktor multidimensi, namun gejala tersebut seringkali tidak tertangani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala depresi di kalangan lansia yang tinggal di Pantai Timur Malaysia. Sebuah studi cross-sectional dilakukan di beberapa wilayah negara bagian Terengganu berdasarkan multilayered stratified sampling. Sebanyak 240 peserta dipilih secara acak. Beberapa instrumen yang digunakan antara lain Geriatric Depression Scale, University of California Los Angeles Loneliness Scale, Pittsburgh Sleep Quality Index, Elderly Cognitive Assessment Questionnaire, Multidimensional Scale of Perceived Social Support, Duke University Religion Index, Barthel Modified Index, dan Instrumental Activities of Daily Living Scale. Prevalensi gejala depresi adalah 24,6%. Hasil multivariate logistic regression model juga mengungkapkan bahwa menjadi lansia tunggal (adjusted odds ratio [aOR] = 4,42; Confidence Interval [CI] = 1,22; 15,96), dukungan sosial yang buruk (aOR = 3,06; CI = 1,18; 7,93), kesepian (aOR = 21,11; CI = 9,87; 45,18), gangguan status fungsional (aOR = 3,39; CI = 1,22; 9,39), gangguan fungsi instrumental (aOR = 6,09; CI = 1,95; 19,0), dan menderita asma (aOR = 14,14; CI = 2,83; 70,5) berhubungan dengan gejala depresi. Oleh karena itu, memeriksa lansia selama perawatan utama diperlukan untuk deteksi awal depresi dan inisiasi intervensi berbasis komunitas yang dapat mengatasi aspek psikologis dari gangguan ini. Kata Kunci: depresi, faktor, kesehatan mental, lansia, penuaan, tempat tinggal komunitas
Aspek Psikososial Pasien dengan Stoma : Gambaran Umum Budi Anna Keliat
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 1 No 4 (1998): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v1i4.85

Abstract

Perubahan struktur tubuh pada klien yang mempunyai stoma akan mempengaruhi semua spek kehidupannya baik secara individu maupun supra sistemnya. Perawat bersama klien, keluarga, sistem pendukung dan anggota tim kesehatan secara terintegrasi dapat membuat strategi sehingga stoma bukan menjadi masalah kesehatan yang mengerikan, tetapi menjadi masalah yang dapat dihadapi. Melalui upaya keperawatan yang optimal, diharapkan klien dengan stoma dapat menikmati kehidupannya dengan sejahtera dan tetap produktif. The change of client’s structure with stoma will affect all aspects of individual’s life and supra system. Nurse, client, family, support system and other health professions, working collaboratively to make a stoma not as a treating thing but as a solvable problem. With the optimal nursing intervention, client with stoma can still has a high quality of life and enjoy his live prosperously and productively.
Kejadian Kaki Diabetik Pasien Diabetes Melitus Berdasarkan Faktor yang Berkontribusi Septi Kurniasari; Elly Nurachmah; Dewi Gayatri
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12 No 3 (2008): November
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v12i3.213

Abstract

AbstrakKaki diabetik merupakan komplikasi yang sangat menakutkan bagi pasien DM karena risiko amputasi yang sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian kaki diabetik pada pasien DM. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pengumpulan data secara cross sectional. Sampel sebanyak 136 pasien DM yang mempunyai kelainan bentuk kaki dan luka kaki. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan senam kaki, perawatan kaki, kepatuhan dalam pencegahan luka, kontrol gula darah, pengetahuan, dan diet dengan kejadian kaki diabetik. Analisis multivariat menunjukkan hanya ada 3 variabel yang merupakan faktor paling berkontribusi yaitu senam kaki, kepatuhan dalam pencegahan luka, dan pengetahuan. Rekomendasi hasil penelitian ini adalah melakukan konseling dan senam diabetes secara rutin. AbstractFoot problems in diabetes is one the most frightening complications for diabetic patients because of the possibility of amputation. The purpose of this study was to analyze the factors which contribute to foot problems. This research was an analytic descriptive research with cross sectional method design. The sample used for this study was 136 diabetic patients who suffered from foot problems or deformities. The result from bivariate analysis showed that there was a relationship between foot exercise, foot care, compliance in preventing foot injury, control of blood glucose level, patient’s knowledge, and diet with the incidence of foot problems. Whilst the multivariate analysis showed there were only 3 variables which contributed to this incidence. They were foot exercise, compliance in preventing foot injury and patient’s knowledge. This study recommended to have a routine counseling and diabetic exercise regulary.

Filter by Year

1997 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 28 No 3 (2025): November Vol 28 No 2 (2025): July Vol 28 No 1 (2025): March Vol 27 No 3 (2024): November Vol 27 No 2 (2024): July Vol 27 No 1 (2024): March Vol 26 No 3 (2023): November Vol 26 No 2 (2023): July Vol 26 No 1 (2023): March Vol 25 No 3 (2022): November Vol 25 No 2 (2022): July Vol 25, No 1 (2022): March Vol 25 No 1 (2022): March Vol 24, No 3 (2021): November Vol 24 No 3 (2021): November Vol 24, No 2 (2021): July Vol 24 No 2 (2021): July Vol 24 No 1 (2021): March Vol 24, No 1 (2021): March Vol 23 No 3 (2020): November Vol 23, No 3 (2020): November Vol 23 No 2 (2020): July Vol 23, No 2 (2020): July Vol 23, No 1 (2020): March Vol 23 No 1 (2020): March Vol 22 No 3 (2019): November Vol 22, No 3 (2019): November Vol 22 No 2 (2019): July Vol 22, No 2 (2019): July Vol 22, No 1 (2019): March Vol 22 No 1 (2019): March Vol 21 No 3 (2018): November 2018 Vol 21 No 2 (2018): Juli Vol 21 No 1 (2018): Maret Vol 20 No 3 (2017): November Vol 20 No 2 (2017): Juli Vol 20 No 1 (2017): Maret Vol 19 No 3 (2016): November Vol 19 No 2 (2016): Juli Vol 19 No 1 (2016): Maret Vol 18 No 3 (2015): November Vol 18 No 2 (2015): Juli Vol 18 No 1 (2015): Maret Vol 17 No 3 (2014): November Vol 17 No 2 (2014): Juli Vol 17 No 1 (2014): Maret Vol 16 No 3 (2013): November Vol 16 No 2 (2013): Juli Vol 16 No 1 (2013): Maret Vol 15 No 3 (2012): November Vol 15 No 2 (2012): Juli Vol 15 No 1 (2012): Maret Vol 14 No 3 (2011): November Vol 14 No 2 (2011): Juli Vol 14 No 1 (2011): Maret Vol 13 No 3 (2010): November Vol 13 No 2 (2010): Juli Vol 13 No 1 (2010): Maret Vol 12 No 3 (2008): November Vol 12 No 2 (2008): Juli Vol 12 No 1 (2008): Maret Vol 11 No 2 (2007): September Vol 11 No 1 (2007): Maret Vol 10 No 2 (2006): September Vol 10 No 1 (2006): Maret Vol 9 No 2 (2005): September Vol 9 No 1 (2005): Maret Vol 8 No 2 (2004): September Vol 8 No 1 (2004): Maret Vol 7 No 2 (2003): September Vol 7 No 1 (2003): Maret Vol 6 No 2 (2002): September Vol 6 No 1 (2002): Maret Vol 5 No 2 (2001): September Vol 5 No 1 (2001): Maret Vol 2 No 8 (1999): Desember Vol 2 No 7 (1999): September Vol 2 No 6 (1999): Mei Vol 2 No 5 (1998): Oktober Vol 1 No 4 (1998): Juli Vol 1 No 3 (1997): Desember Vol 1 No 2 (1997): Juli Vol 1 No 1 (1997): Januari More Issue