cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 201 Documents
KEMATIAN DAN PERASAAN KEHILANGAN: KONSTRUKSI IDENTITAS QUEER DALAM EMPAT KARYA YOSHIMOTO (Death And Sense of Loss: Queer Identity Construction in Four Yoshimoto’s Works) syukur, andi abd khaliq; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.193-210

Abstract

Empat novelet Yoshimoto, yaitu Kitchen (1988), Moonlight Shadow (1988), Hardboiled (2001), dan Hardluck (2001) menghadirkan kematian dan perasaan kehilangan di awal narasi. Kematian dan perasaan kehilangan membuka probabilitas baru sebagai bagian konstruksi identitas queer, seperti kematian sebagai pemutusan matrix heteroseksual, perasaan kehilangan sebagai perubahan identitas gender, penerimaan orang asing sebagai anggota keluarga, hubungan bersifat inses, homoseksualitas perempuan, transgenderisme, dan perubahan peran dalam anggota keluarga. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis cara kematian dan perasaan kehilangan membuka probabilitas identitas queer dalam narasi Yoshimoto. Sedangkan untuk melihat bentuk identitas queer, penelitian ini menggunakan teori performativitas dari Butler untuk menunjukkan ketaksaan identitas gender dan seks.Hasil penelitian menunjukkan kematian dapat membuka probabilitias yang mengarah pada penghadiran identitas queer dan performativitas identitas queer menyajikan performativitas tokoh yang terus-menerus berubah, bergerak, dan tidak memiliki pusat.Abstract: Four novelettes of Yoshimoto’s, which are Kitchen (1988), Moonlight Shadow (1988), Hardboiled (2001), and Hard Luck (2001) bring death and sense of loss in the beginning of the narrative. The death and sense of loss give new probabilities as parts of the queer identity constructions, for instance the death as the partition of the heterosexual matrix, the loss feelings as a gender identity alteration, agree to accept foreigners as members of the family, the relationship tend to be incest, female homosexuality, transgenderism, and change the family members role. This study conducted to analyze the way of death and loss feelings give probabilities of queer identity in the Yoshimoto’s narration.As for seeing theshape ofqueeridentity, The research applies Butler’s thinking on gender performativity to analyze how ambiguous sexual and gender identities are presented. The research finds that the probabilityof deathcanopen upleads toqueeridentity and  the analysis of queer identity’s performativity on character’s performativity in the novelettes renders it possible for sexual and gender construction to be constantly changing and everlastingly displaced performances.
PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM LEGENDE TELUK WANG: PERSEPSI GENDER (Women’s Struggle in the Legend of Teluk Wang: Gender Perception) Nazurty, Nazurty
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.31-46

Abstract

Salah satu bentuk sastra daerah Melayu Jambi adalah Legende Teluk Wang. Legende itu merupakan sastra lisan yang sangat menonjol dalam kehidupan masyarakat sebagai alat untuk mengungkapkan isi hati, menyampaikan maksud atau pikiran, dan menyampaikan suatu keadaan atau situasi yang menurut tradisi budaya harus disampaikan. Legende itu, melalui peran para tokohnya menggambarkan kehidupan perempuan yang berbeda dengan kehidupan perempuan dalam budaya Melayu Jambi jika dipandang dari sisi gender. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perjuangan perempuan dalam Legende Teluk Wang yang dipandang dari sisi gender dan dikaitkan dengan budaya Melayu Jambi. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis) dan pendekatan semiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk memperjuangkan dan mengambil suatu keputusan yang penting, yaitu  ikut merintis dan menentukan perkampungan baru; kedua, laki-laki dan perempuan  bermitra dalam menjalankan perekonomian keluarga; ketiga,  laki-laki dan  perempuan mendapat bekal ilmu yang sama dari orang tuanya, seperti mendapat ilmu silat; dan keempat, perempuan dipandang sejajar dengan kaum laki-laki. Dengan demikian, perempuan diberi peran dan kedudukan  yang sama dengan kaum laki-laki dalam Legende Teluk Wang.Abstract:One form of Jambi Malay’s  literature is the  legend of  teluk Wang. The legend is an oral literature that is very prominent in public life as a tool to confide, to convey intentions or thoughts, and to express a condition or situation based on cultural traditions that must be delivered. The Legend through the role of the characters depicts different women’s lives  from their lives in Jambi Malay culture when viewed from the side of gender.  Therefore, this study attempts to reveal the struggle of women in the legend of  Teluk Wang  viewed from the side associated with gender and Jambi Malay culture. This qualitative study employs content analysis method and semiotic ap- proach. The results indicate four findings: first, the female got the same chance to fight on impor- tant decision, e.g. taking a part in  pioneering and determining new settlements; Second, men and women worked together as partners  in running the family economy; Third men and women got the same knowledge from their parents, i.e. having martial arts; fourth, women were equally treated to men. In conclusion, in legend of Teluk Wang women   had the same role and position as men. Key words: The legend of Teluk Wang, women’s struggle, gender perception
GUMPALAN KRITIS ATAS TELAAH SASTRA: SEBUAH RESENSI Nurfaidah, Resti
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2010.v3i1.82-92

Abstract

ANALISIS PUISI “JIKA PADA AKHIRNYA” KARYA HUSNI DJAMALUDDIN DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIKA (The Analysis of Poetry Entitling “Jika pada Akhirnya” By Husni Djamaluddin By Using Semiotic Approach) Adri, Adri
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.105-115

Abstract

Pemberian makna terhadap sebuah puisi membutuhkan kecakapan tersendiri. Salah satu di antara sekian banyak pendekatan dalam mengungkap makna puisi adalah pendekatan semiotik. Pada intinya, pendekatan ini merupakan upaya mengungkap keseluruhan tanda yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembacaan puisi secara heuristik dan hermeneutik, makna ikonitas, indeksitas, simbol, serta relevansi puisi dengan ajaran agama Islam. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik inventarisasi, baca simak, dan pencatatan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa makna puisi dapat diungkapkan dengan pendekatan semiotik. Puisi ini mempunyai relevansi dengan ajaran Islam.Abstract:Making appreciation on a poetry needs specific skill. One of the approaches used to uncover the meaning of poetry is semiotic approach. Basically, the application  of this approach is a way to get  meanings implied in it. This research is intended to describe poetry reading  heuristicly and hermeneuticly. It also tries to find out icon meaning, index, symbol, and poetry’s relevance with Islamic teaching. The method used is descriptive qualitative by using inventory technique, silent reading, and noting technique. The result of the research shows that meaning of poetry can be uncovered by using semiotic approach. This poetry has relevance with sufistic teaching.
REPRESENTASI NAGA PADA TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL GELANG GIOK NAGA (The Representation of Dragon of Women Character in Gelang Giok Naga) Nurfaidah, Resti
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i1.45-57

Abstract

Naga merupakan hewan yang paling istimewa di antara kedua belas simbol hewan dalam penanggalan Cina. Jika binatang lain masih dapat dilihat dalam kehidupan nyata, naga merupakan hewan yang imajiner. Namun, naga dianggap sebagai sumber peruntungan yang luar biasa. Tahun naga dianggap sebagai tahun keberuntungan. Hanya saja, keberuntungan tersebut tidak lantas mengundang risiko kehancuran yang tidak kalah dahsyatnya. Novel Gelang Giok Naga  mengungkapkan representasi keagungan naga pada serangkaian tokoh perempuan. Perempuan-perempuan yang digambarkan dalam novel tersebut adalah perempuan yang pada awalnya mampu meraih keberuntungan dengan caranya sendiri, tetapi dalam kurun waktu tertentu mendapati kehancuran. Makalah berikut, dengan penggunaan teori representasi dari Stuart Hall, memaparkan representasi naga pada beberapa tokoh perempuan dalam novel Gelang Giok Naga. Tokoh perempuan itu dianggap merepresentasikan karakter naga dengan segala konsekuensinya.Abstract:Dragon is the most special animal among  twelve symbolical animals in the Chinese calendar. If other animals are found in the reality, the dragon is only  found in an imaginary world. However, it is considered as a source of the incredible fortune. The year of the dragon is considered a lucky year. Nevertheless, the luck  does not mean to give an incredible risk. Gelang Giok Naga novel reveals the representation of the dragon greatness on its female characters. The women in the novel are those  who initially got their great fortune in their own way, yet in the end they got  a certain period of  falling. The paper, applying the theory of the Stu ar t Ha ll ’s  repres en ta ti on , presents the dragon  representation on those female characters in in the novel. The women character is considered representing the dragon character with its consequences.
Abstrak Bahasa Inggris Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2016.v9i2.%p

Abstract

Abstrak Bahasa Inggris Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2014.v7i1.%p

Abstract

UGA SEBAGAI MEMORY KOLEKTIF MASYARAKAT SUNDA (Uga Sunda Community as a Collective Memory) Rusnandar, Nandang
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.55-67

Abstract

Uga merupakan salah satu tradisi lisan masyarakat Sunda, di dalamnya terkumpul segenap memori kolektif. Analisis terhadap uga meliputi nilai-nilai dalam bentuk simbol yang tersirat di dalamnya. Uga mampu meramalkan perubahan sosial sesuai dengan zamannya. Apabila dilihat dari orientasi waktu, uga dapat  menunjukkan: (1) tercipta dan dituturkan pada masa lampau; (2) dituturkan pada masa lampau dan terjadi pada waktu lalu; (3) dituturkan pada masa lampau dan sekarang (sedang terjadi); (4) dituturkan pada masa lampau, ramalan untuk masa yang akan datang. Fungsi uga di samping memprediksi ia juga harus dijadikan sebagai alat antisipasi tentang sesuatu yang bakal terjadi di waktu yang akan datang.Abstract:Uga is one of Sundanese oral tradition containing most collective memory. Analysis of the Uga includes the values in the form of symbols that implied in it. It  is able to predict social change in accordance with its time when viewed from the orientation of time. It  can  show that (1) it could be created and spoken in the past; (2) it was spoken and taken place in the past;(3) it was spoken in the past and is still being used now; (4)  it was spoken in the past and predictions for the future. Besides its functions to predict the social change, it  can serve as a tool in anticipation of something that might happen in the future.
Petunjuk Penulisan Metasastra Vol 8, No 2, Desember 2015 mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.%p

Abstract

TEORI SOSIAL PIERRE BOURDIEU DAN SUMBANGANNYA TERHADAP PENELITIAN SASTRA (Pierre Bourdieu's Social Theory and Its Contribution Toward Literary research) Hidayat, Sarip
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2010.v3i1.43-52

Abstract

Sastra sering dipandang sebagai cerminan masyarakat. Maka, penelitian sastra juga membutuhkan berbagai teori yang berhubungan dengan perilaku masyarakat. Salah satu teori yang dapat digunakan untuk kerja penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Penekanan utama Bourdieu adalah upaya membongkar relasi-relasi kuasa yang ada dalam masyarakat. Ia kemudian memperkenalkan konsep habitus, field, dan kapital untuk membongkar relasi-relasi kuasa tersebut. Dalam tulisan ini akan diuraikan secara garis besar mengenai konsep-konsep tersebut agar diperoleh gambaran sebagai upaya penerapan teori ini dalam karya sastra.