cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
GENERASI PHI: ADAPTABILITAS KARIER, KEMAMPUAN METAKOGNITIF, & DUKUNGAN SOSIAL Lucky Purwantini; Ratna Duhita Pramintari
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.04 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Sebagai remaja, generasi Phi (generasi Z Indonesia) menghadapi dua kali masa transisi, yaitu masa transisi dari sekolah menengah atas ke perguruan tinggi dan masa transisi dari perguruan tinggi ke dunia kerja. Kedua masa transisi ini menimbulkan stres karena generasi Phi diharuskan mengambil keputusan mengenai kariernya, yang merupakan salah satu tugas perkembangan remaja. Dalam mempersiapkan karier, terlebih dalam menghadapi masa transisi kedua, dibutuhkan kemampuan metakognitif dan dukungan dari orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, dan significant other. Penelitian ini ingin mengeksplorasi apakah terdapat hubungan antara adaptabilitas karier dengan kemampuan metakognitif dan dukungan sosial pada generasi Phi yang akan menghadapi masa transisi kedua. Subjek adalah 107 mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir/skripsi. Instrumen penelitian ini terdiri atas Career Adapt-abilities Scale (CAAS), Metacognitive Awareness Inventory (MAI), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Penelitian ini menemukan bahwa kemampuan metakognitif dan dukungan sosial tidak dapat memprediksi adaptabilitas karier pada generasi Phi yang akan menghadapi masa transisi kedua. Kata Kunci: adaptabilitas karier, kemampuan metakognitif, dukungan sosial, generasi phi ABSTRACT As a teenager, generation Phi (generation Z Indonesia) encountered two transition. First, the transition from high school to college. Second, the transition from college to the work. These, two transition are stressful because the generation Phi is required to make career-decisions, which is one of the tasks of adolescent development. In career preparation in the second transition, generation Phi required a metacognitive abilities and support from the closest people such as family, friends, and significant other. This study aims to explore the relationship between career-adapt-ability and metacognitive abilities and social support among the generation Phi who will encounter a second transition period. Subjects are 107 undergraduate students who accomplish their thesis. Instruments of this study are. The Career Adapt-Ability Scale (CAAS), the Metacognitive Awareness Inventory (MAI), and the Multidimensional Scale of Social Perception Support (MSPSS). The study found that metacognitive abilities and perceived social support could not predict career adaptability among generation Phi in their second transition. Keywords: career adaptability, metacognitive abilities, social support, Phigeneration
BIMBINGAN KELOMPOK MENGGUNAKAN TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIK UNTUK MENURUNKAN TINGKAT GLOSSOPHOBIA PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Khairunisa1; Oktafiana Kiranida; Happy Karlina Marjo; Wirda Hanim
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.319 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Salah satu fobia yang dialami Peserta didik adalah Glossophobia. Glossophobia juga disebut dengan kecemasan berbicara di depan umum. Glossophobia merupakan phobia sosial dimana penderita memiliki ketakutan pada situasi sosial yang dapat menyebabkan masalah dalam sekolah atau kehidupan social lainnya (Werhadiantiwi, 2014). Glossophobia terjadi karena pikiran alam bawah sadar mengambil alih tingkat kesadaran seseorang menjadi seakan-akan kondisi yang mengancam nya, sehingga Peserta didik lebih milih untuk menghindar dari situasisituasi yang menurut nya sangat mengancam. Glossophobia ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti kebingungan-kebingungan, tidak tahu ingin berkata apa, gemeteran, dan sebagainya. Peserta didik yang mengalami glossophobia akan mengakibatkan hal-hal yang sangat fatal seperti tidak berkembang secara optimal dan bahkan berkelanjutan hingga dewasa. Dengan demikian, untuk mengurangi tingkat glossophobia yang dialami Peserta didik, guru bimbinngan dan konseling dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling yang berupa bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik desensitisasi sistematis. Teknik desensitisasi sistematis merupakan teknik yang memfokuskan untuk mengurangi tingkat kecemasan atau fobia. Kata Kunci: cognitive behavior theraphy, kematangan karir, konseling kelompok ABSTRACT One of the phobias experienced by students is Glossophobia. Glossophobia is also called public conversation. Glossophobia is a social phobia where sufferers have social problems that can cause problems in school or other social life (Werhadiantiwi, 2014). Glossophobia occurs because the subconscious takes over a person's level of consciousness as if to overcome the one who made it, so that more students choose to avoid changes that are in accordance with their interests. Glossophobia is characterized by existing conflict-like confusion, not knowing what to say, echoing, and so on. Students who improve glossophobia will continue things that are very fatal such as development that is not optimal and even sustainable for adults. Thus, to reduce the level of glossophobia experienced by students, teachers can provide guidance and counseling services that contain group guidance using systematic desensitization techniques. An integrated desensitization technique is a technique that focuses on improving the level of focus or phobia. Keywords: group guidance, systematic desensitization, glossophobia
STRATEGI GURU MENINGKATKAN KEPEDULIAN PESERTA DIDIK TERHADAP KORBAN BULLYING Ujang Khiyarusoleh; Anwar Ardani
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.77 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi guru meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap korban bullying yang bersekolah di SD Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber penelitian ini adalah guru kelas SD Negeri Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2016/2017. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi guru meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap korban bullying SD di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes adalah sebagai berikut: memotivasi, menasehati, bimbingan secara kelompok dan individu, melakukan tindakan pengawasan, memberi peringatan dan hukuman, menjadi tokoh teladan atau panutan, kerjasama dengan orangtua, kerja kelompok, memberikan penghargaan, memasang slogan dan tata tertib di kelas. Kata Kunci: kepedulian, peserta didik, strategi guru ABSTRACT The study aims to find out how the strategy of teacher to improve the careness of learness about bullying victims in the 4th grade SD di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes. This type of this research is qualitative research with case study approach. The source of this research is the teacher of 4th grade Elementary School Bumiayu District, Brebes Regency, in the 2016/2017 school year. Technique of data collection using interviews, observation and documentation. Data analysis techniques use data reduction, data presentation and verification. The results of the study indicate that the teacher’s strategy to improve students’ careness of the 4th grade bullying victims SD di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes as follows: motivating, counseling, grup and individual guidance, taking surveillance, giving warning and punishment, beaing a role model, working withparents, groups, rewarding, show of slogans and order in the classroom. Keywords: careness, learner, teacher strategies
KONSELING KELOMPOK PERSPEKTIF INTEGRATIVE (TEKNIK DISPUTE COGNITIVE & TEKNIK IMAGERI) UNTUK MENCEGAH UPAYA PERCOBAAN BUNUH DIRI SISWA BERASRAMA DI PESANTREN Dwinda Tiara Putri; Rif’ah Purnamasari; Wirda Hanim; Happy Karlina Marjo
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.241 KB) | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

Bunuh diri merupakan masalah serius yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh masyarakat di seluruh dunia. Data yang diberikan dalam WHO: suicide data tercatat 800 orang meninggal dalam kasus bunuh diri dan terjadi setiap 40 detik perorang. Bunuh diri menjadi gejala global dan terjadi di sepanjang perjalan hidup manusia. Hal ini menjadi tanggung jawab negara dikarenakan pemuda adalah penerus dan harapan bangsa, generasi yang akan membangun kejayaan bangsa, perjalanan hidup bangsa ini masih panjang dan sangat membutuhkan peran serta pemuda-pemudi dalam membangun bangsa dan negara. Penelitian ini difokuskan pada perspektif integrative (teknik dispute kognitif dan teknik imageri) untukmencegah upaya tindakan bunuh diri pada siswa berasrama di pesantren. Metode yang akan digunakan adalah menggunakan kajian pustaka dengan memaparkan hasil penelitian terdahulu yang relevan pada penelitian ini. Kata Kunci: bunuh diri, konseling kelompok, perspektif integrative, teknik dispute cognitive, teknik imageri ABSTRACT Suicide is a serious problem that cannot be underestimated by people around the world. Data provided in WHO: suicide data there were 800 people died in suicides and occurred every 40 seconds per person. Suicide is a global symptom and occurs throughout the course of human life. This is the responsibility of the state because the youth is the successor and hope of the nation, a generation that will build the glory of the nation, the life journey of this nation is still long and very much needs the participation of young people in developing the nation and state. This study focused on integrative perspectives (cognitive dispute techniques and imagery techniques) to prevent attempts at suicide in boarding students in boarding schools. The method that will be used is to use literature review by describing the results of previous studies that are relevant in this study. Keywords: suicide, group counseling, integrative perspective, cognitive disputetechnique, imageri technique
MINAT REMAJA TERHADAP PENGGUNAAN BUKU DIARY DAN JOTFORM DALAM KONSELING INDIVIDUAL Theodora Nurmalia; Riska Handayani; Maslikhah; R.A. Murti Kusuma W
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the interest of adolescents in the use of diary and jotform books that support individual counseling. The diary book is one of the media used by guidance and counseling teachers in supporting individual counseling. The diary (diary book) can be used as a trusted place for solving the problems encountered. Jotform application media can facilitate direct interaction and facilitate teacher guidance and counseling in carrying out their duties, utilizing the development of information and communication technology, and facilitate students in writing problems faced directly or online, anytime and anywhere but confidential. The subjects of the study were students of class VIII at one of the State Junior High Schools (SMPN) in Serang Regency, West Java, totaling 30 people. The instruments used in this study were made by researchers. The results showed that 83% thought it was easier to write directly in the diary on personal issues than to fill in a Jotform application. As many as 80% admit that filling out a Jotform application as a fun activity, while 20% admit writing a diary book as a boring activity. 73% considered it more practical to use the Jotform application as a supporting medium in individual counseling. Basically, the media used in individual counseling only helps students in expressing their thoughts, feelings and problems to make it easier, more comfortable, and to maintain their confidentiality. Keyword: diary, individual counseling, jotform, interes ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat remaja terhadap penggunaan buku diary dan jotform yang menunjang konseling individual. Buku diary merupakan salah satu media yang digunakan oleh guru bimbingan dan konseling dalam menunjang konseling individual. Buku harian (buku diary) dapat dijadikan sebagai tempat yang dipercaya dalam penyelesaian masalah yang dihadapi. Media aplikasi jotform dapat memudahkan interaksi secara langsung dan memudahkan guru bimbingan dan konseling dalam menjalankan tugasnya, memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta memudahkan peserta didik dalam menuliskan masalah yang dihadapi secara langsung atau online, kapan dan dimana saja tetapi rahasia. Subjek penelitian yaitu peserta didik kelas VIII pada salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kabupaten Serang, Jawa Barat yang berjumlah 30 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dibuat oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 83% menganggap lebih mudah menuliskan secara langsung pada buku diary mengenai permasalahan pribadi daripada mengisi aplikasi jotform. Sebanyak 80% mengakui bahwa mengisi aplikasi jotform sebagai kegiatan yang menyenangkan, sedangkan 20% mengakui menulis buku diary sebagai kegiatan yang membosankan. Sebesar 73% menganggap lebih praktis menggunakan aplikasi jotform sebagai media pendukung dalam konseling individual. Pada dasarnya, media yang digunakan dalam konseling individual hanya membantu peserta didik dalam menuangkan pikiran, perasaan serta masalah yang dihadapi agar lebih mudah, nyaman, dan tetap terjaga kerahasiaannya. Kata Kunci: buku diary, konseling individual, jotform, minat
PERBEDAAN KUALITAS HIDUP PADA WANITA MENOPAUSE YANG BEKERJA DAN TIDAK BEKERJA Pingkan Evelin Eunike Laritmas; Krismi Diah Ambarwati2
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

ABSTRACT This study is initiated by the importance of the menopause phase for many women, both those who work and those who do not work. This study aims to determine the differences in the quality of life of postmenopausal women who work and postmenopausal women who do not work. This research is a comparative research. The participant used in this study were 30 menopausal women respondents who worked and 30 menopausal women respondents who did not work. The data test method used the WHOQOL-BREF quality of life scale as many as 21 items. WHOQOL-BREF quality of life scale was tested for reliability, a reliability test result of 0.904 so the scale is classified as very reliable. The data analysis technique used the independent sample t-test. Based on the results of the t-test, it was found that the significance (p) of 0.750 was the same as p> 0.05, meaning that there is null hypothesis (H0) is accepted and the working hypothesis (H1) is rejected dan hipotesis kerja. So, was no difference in the quality of life of menopausal women who worked and did not work Keyword: don’t work, menopause, quality of life, work ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi dengan pentingnya fase menopause terhadap banyak wanita, termasuk pada wanita yang bekerja maupun wanita yang tidak bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup wanita menopause yang bekerja dan wanita menopause yang tidak bekerja. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian komparatif. Partisipan dalam penelitian ini adalah 30 wanita menopause yang bekerja dan 30 wanita menopause yang tidak bekerja. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner / skala kualitas hidup WHOQOL-BREF sebanyak 21 aitem. Skala kualitas hidup WHOQOL-BREF diuji reliabilitas, dan hasil reliabilitas sebesar 0,904 sehingga skala tersebut tergolong sangat andal. Berdasarkan hasil uji analisis dengan metode independent sample t-test didapatkan bahwa signifikansi (p) sebesar 0,750 yang sama dengan p > 0,05, artinya hipotesis nol (H0) diterima dan hipotesis kerja (H1) ditolak. Oleh karena itu, tidak terdapat perbedaan kualitas hidup yang signifikan antara kedua kelompok yaitu kelompok wanita menopause yang bekerja dan wanita menopause yang tidak bekerja. Kata Kunci: tidak bekerja, menopause, kualitas hidup, bekerja
HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN BIMBINGAN KARIER DENGAN PENGEMBANGAN POTENSI PESERTA DIDIK DI SMA CAHAYA SAKTI JAKARTA TIMUR Luni Juwita Sari Asi Simarmata; Renatha Ernawati; Ronny Gunawan
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

ABSTRACT This study aims to answer the question whether there is a relationship between providing guidance with the development of self-potential of students at Cahaya Sakti High School. This study uses a quantitative method using a modified Likert model, which is a scale used to measure the provision of career guidance about the phenomenon of self-potential. The sample used in this study is random sampling. The results of the regression analysis showed a value of 0.647, meaning that the relationship between providing career guidance and developing the potential of students was said to be strong. The effective contribution of the variable providing career guidance to self- potential development was 64.7%, while the variance determination was 0.419 or 41.9%. The significance test of this study is 0.000 <0.05, so it is stated that Ho is rejected and Ha is accepted, meaning that the relationship between providing career guidance and developing the potential of students is very significant. While the data analysis for the linear regression line is Ŷ = 12. 349 + 1.052 X, meaning that if the provision of career guidance is enhanced, self-potential development will also increase. Keyword: career guidance, self potential development, students ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan apakah ada hubungan antara pemberian bimbingan karier dengan pengembangan potensi diri peserta didik di SMA Cahaya Sakti. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan modifikasi model Likert yakni suatu skala yang digunakan untuk mengukur pemberian bimbingan karier tentang fenomena potensi diri. Sampel penelitian ini menggunakan random sampling. Hasil analisis regresi menunjukkan nilai sebesar 0.647, artinya hubungan antara pemberian bimbingan karier dengan pengembangan potensi diri peserta didik dikatakan kuat. Sumbangan efektif variabel pemberian bimbingan karier terhadap pengembangan potensi diri sebesar 64,7% sedangkan determinasi variannya sebesar 0.419 atau 41,9%. Adapun uji signifikansi penelitian ini sebesar 0.000<0.05 sehingga dinyatakan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, artinya bahwa hubungan antara pemberian bimbingan karier dengan pengembangan potensi diri peserta didik bersifat sangat signifikan. Sedangkan data analisis untuk garis regresi linear yaitu Ŷ=12.349+1.052X, artinya apabila pemberian bimbingan karier ditingkatkan, maka pengembangan potensi diri juga akan meningkat. Kata Kunci: bimbingan karier, pengembangan potensi diri, peserta didik
HUBUNGAN ANTARA LAYANAN KONSELING INDIVIDU DENGAN TUGAS PERKEMBANGAN SOSIAL PESERTA DIDIK DI SMP NEGERI 49 JAKARTA TIMUR Utari Sabrina A. Hutagalung; Renatha Ernawati; Evi Deliviana
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

ABSTRACT This study aims to see the relationship between individual counseling services and the social development tasks of students in SMP Negeri 49 East Jakarta and to see the extent to which the guidance and counseling teachers function in helping students complete their developmental tasks in the adolescent phase. This type of research is quantitative. The data collection instrument was carried out by giving a questionnaire to all students in class VIII. In the individual counseling service variabel the reliability value is 0.913 and the development task variable is 0.941. The results showed a relationship between individual counseling services and students' social development tasks. However, the relationship between the two variables is very low. This can be seen from the correlation results of 0.076. There are several factors that can determine students' social development tasks, such as motivation from parents and family. Positive support provided by people around them is able to help students complete their development tasks properly. Students need balanced internal and external factors in order to complete their developmental tasks properly. Keyword:developmental assignments, individual counseling services, teenagers ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara layanan konseling individu dengan tugas perkembangan sosial peserta didik di SMP Negeri 49 Jakarta Timur dan melihat sejauh mana fungsi guru Bimbingan dan Konseling dalam membantu peserta didik menuntaskan tugas perkembangannya dalam fase remaja. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Instrumen pengumpulan data dilakukan melalui pemberian kuesioner kepada seluruh peserta didik kelas VIII. Pada variabel layanan konseling individu nilai realibilitas sebesar 0.913 dan variabel tugas perkembangan sebesar 0.941. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara layanan konseling individu dengan tugas perkembangan sosial peserta didik. Walaupun demikian hubungan antara kedua variabel tersebut sangat rendah. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil korelasi sebesar 0.076. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan tugas perkembangan sosial peserta didik, seperti motivasi dari orangtua dan keluarga. Dukungan positif yang diberikan oleh orang-orang sekitar mampu membantu peserta didik dalam menuntaskan tugas perkembangannya dengan baik. Peserta didik membutuhkan faktor dari luar dan dalam diri yang seimbang agar dapat menuntaskan tugas perkembangannya dengan baik. Kata Kunci: tugas perkembangan, layanan konseling individu, remaja
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN PILIHAN KARIER PESERTA DIDIK SMP NEGERI 1 AMBON Coni Kristiani Taihutu; Renatha Ernawati; Eustalia Wigunawati
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the relationship between self-efficacy and career choices in students at SMP Negeri 1 Ambon. This research uses quantitative methods with the type of correlation. The research subjects were 160 students of class IX in SMP Negeri 1 Ambon using random sampling technique. The instruments used in this study were the self-efficacy scale and the career choice scale that had been tested for validity and reliability. The research subjects were 160 students consisting of 94 boys and 66 girls, with an age range of 13 to 15 years. Based on the results of the data description, it is known that the self- efficacy of students is in the medium category with 80 students or 50% of respondents. Whereas for the choice of career students are in the medium category with the number of 81 or 50.6% of respondents. The data analysis technique in this study used parametric inferential statistics. The results showed that self-efficacy correlated with career choice. This can be seen from the correlation coefficient of 0.874 which is included in the very strong category with a significance value of 0.000. This means that there is a very strong and significant relationship between self-efficacy and career choice in grade IX students of SMP Negeri 1 Ambon. The result of simple regression equation analysis is Ŷ = 36,091 + 0,720X. and p-value 0.000 <0.05. Thus, “Self-Efficacy has a positive effect on Career Choice. The more self-efficacy value increases, the career choice value will increase. The results of the coefficient of determination show that the self-efficacy variable contributes to the career choice variable by 76.5% while the remaining 23.5% is another caused that is not included in the study. Keyword: career choice, self-efficacy, students grade IX ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan pilihan karier pada peserta didik di SMP Negeri 1 Ambon. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan jenis korelasi. Subjek penelitian berjumlah 160 peserta didik kelas IX SMP Negeri 1 Ambon dengan menggunakan teknik random sampling. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala efikasi diri dan skala pilihan karier yang sudah teruji validitas dan reliabilitas. Subjek penelitian berjumlah 160 peserta didik yang terdiri dari 94 laki-laki dan 66 perempuan, dengan rentang usia 13 sampai dengan 15 tahun. Berdasarkan hasil deskrisi data diketahui bahwa efikasi diri peserta didik berada pada kateogri sedang dengan jumlah 80 peserta didik atau 50% responden. Sedangkan untuk pilihan karier peserta didik berada pada kategori sedang dengan jumalah 81 atau 50,6 % responden. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan statitiska inferensial parametris. Hasil penelitian menjelaskan bahwa efikasi diri berkorelasi dengan pilihan karier. Hal tersebut dapat dilihat dari koefisien korelasi sebesar 0,874 termasuk dalam kategori sangat kuat dengan nilai signifikansi 0,000. Hal ini berarti ada hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara efikasi diri dengan pilihan karier pada peserta didik kelas IX SMP Negeri 1 Ambon. Hasil analisis persamaan regresi sederhana adalah Ŷ=36,091+0,720X. dan p-value 0,000<0,05. Dengan demikian, “Efikasi Diri berpengaruh positif terhadap Pilihan Karier. Semakin bertambah nilai efikasi diri maka semakin bertambah nilai pilihan karier. Hasil koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel efikasi diri memberikan sumbangan terhadapat variabel pilihan karier sebesar 76,5% sedangkan 23,5% sisanya merupakan sebab lain yang tidak masuk dalam penelitian. Kata Kunci: efikasi diri, pilihan karier, peserta didik kelas IX
PELAKSANAAN MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMA BERDASARKAN LATAR BELAKANG PENDIDIKAN Rif’ah Purnamasari; Herdi
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

ABSTRACT The presence of guidance and counseling services was born from a combination of psychology and education. In practice, this is a pedagogical action that prevents participants in school, whereas counseling is a curative effort that is not carried out by the supervisor and counseling with techniques adapted in science. The combination of these two sciences is a skill and competency that must be mastered by the guidance and counseling teacher not from the educational background of guidance and counseling. Some schools were invited by non Guidande and Counseling graduates who were invited as Guidance and Counseling teachers. In the implementation of the data obtained showed that 74% were high in the implementation of Guidance and Counseling management by pure Guidance and Counseling teachers and 54% by teachers with non-Guidance and Counseling educational backgrounds. In this study, the guidance management played by Counseling and Guidance teachers with a Guidance and Counseling or non-Guidance and Counseling educational background in schools still needs a lot of improvement. The subjects of the study were all Guidance and Counseling teachers with the background of Bachelor Degree of Counseling and Guidance and non-Guidance and Counseling in Babelan District. This research used descriptive quantitative method. The instrument used is the Likert scale model. Data were analyzed using statistics with comparative analysis. Keyword: guidance management and counseling, competency counselors, comprehensive Counseling and Guidence ABSTRAK Hadirnya layanan bimbingan dan konseling terlahir dari perpaduan ilmu psikologi dan pendidikan. Pada pelaksanaannya bimbingan merupakan tindakan pedagogi yang bersifat preventif terhadap indikasi kemungkinan terjadinya suatu permasalahan pada siswa di sekolah, sedangkan konseling adalah upaya kuratif akibat tidak maksimalnya upaya preventif yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dengan teknik-teknik yang diadopsi dalam ilmu psikologi. Perpaduan kedua ilmu ini menjadi keterampilan dan kompetensi yang harus dikuasai oleh guru bimbingan dan konseling meski bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling. Beberapa sekolah ditangani oleh sarjana non Bimbingan dan Konseling yang berperan sebagai guru BK, pada pelaksanaannya data yang diperoleh menunjukan 74% tinggi pada pelaksanaan manajemen BK oleh guru BK murni dan sedang 54% oleh guru berlatar pendidikan non-BK. Pada penelitian ini manajemen bimbingan konseling yang diperankan oleh guru BK berlatar belakang pendidikan BK ataupun non-BK di sekolah masih perlu banyak dilakukan peningkatan. Subjek penelitian adalah seluruh guru BK berlatar belakang S1 BK dan Non-BK Kecamatan Babelan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Instrument yang digunakan yakni skala model likert. Data dianalisis menggunakan statistic dengan analisis komparasi. Kata Kunci: Bimbingan dan Konseling, komprehensi manajemen Bimbingan dan Konseling, kompetensi konselor

Page 3 of 4 | Total Record : 40