cover
Contact Name
muhammad ikhsan
Contact Email
ichsan@uwgm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmm.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jalan KH. Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan, Kota Mataram - NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri)
ISSN : 25988158     EISSN : 26145758     DOI : 10.31764/jmm.v4i2.1962
Core Subject : Education,
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) is a journal published by the Mathematics Education Departement of Education Faculty of Muhammadiyah University of Mataram. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) aims to disseminate the results of conceptual thinking and ideas, especially the results of educational research and technology to be realized in the community, including (1) Fields of science, applied, social, economic, cultural, health, ICT development, and administrative services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and religious technology (3) Teaching and empowering communities and communities of students, youth, youth and community organizations on an ongoing basis
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,539 Documents
EDUKASI ENTREPRENEURSHIP URBAN FARMING KEPADA MASYARAKAT DI DESA SAMPORA Riana Magdalena Silitonga; Valencia Catheryn Wilianto; Jennifer Angel Gala
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.39964

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan socio-entrepreneurship melalui praktik urban farming sebagai upaya pemberdayaan masyarakat perkotaan. Latar belakang kegiatan ini adalah meningkatnya keterbatasan lahan, ketahanan pangan yang rendah, serta tingginya angka pengangguran di wilayah urban. Oleh karena itu, program ini mengintegrasikan konsep kewirausahaan sosial dengan praktik pertanian perkotaan untuk menciptakan peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan, pendampingan, serta praktik langsung urban farming menggunakan teknik hidroponik dan vertikultur. Peserta kegiatan berjumlah 40 orang yang berasal dari komunitas masyarakat perkotaan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta sebesar 78% terkait konsep socio-entrepreneurship dan praktik urban farming. Program ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan kemandirian ekonomi serta kesadaran lingkungan masyarakat.Abstract: This community service initiative aims to develop social entrepreneurship through urban farming as a means of empowering urban communities. The initiative was prompted by increasing land scarcity, low food security, and high unemployment rates in urban areas. Therefore, this program integrates the concept of social entrepreneurship with urban farming practices to create economic opportunities while raising environmental awareness. Implementation methods included training, mentoring, and hands-on urban farming using hydroponic and vertical farming techniques. There were 40 participants from urban communities. An evaluation was conducted through pre- and post-tests to measure improvements in participants’ understanding and skills. The results showed a 78% increase in participants’ understanding of the concepts of social entrepreneurship and urban farming practices. This program had a positive impact on enhancing the community’s economic self-reliance and environmental awareness.
EFEKTIVITAS PENYULUHAN AGROFORESTRI JAMBU METE BERBASIS PERHUTANAN SOSIAL DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS KELOMPOK TANI HUTAN Nusrah Rusadi; Sutan Sahala Muda Marpaung; Marlin Marheani Pe
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40567

Abstract

Abstrak: Kelompok Tani Hutan (KTH) Fetomnasi menghadapi berbagai kendala dalam pengembangan agroforestri berbasis perhutanan sosial, antara lain keterbatasan pengetahuan mengenai pengelolaan agroforestri, pengelolaan lahan kering, pengolahan hasil, dan penguatan kelembagaan kelompok. Kegiatan pengabdian bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman anggota kelompok terkait pengembangan agroforestri jambu mete berbasis perhutanan sosial. Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi program dan penyuluhan kepada 23 anggota KTH Fetomnasi di Kabupaten Kupang. Materi yang diberikan meliputi pengembangan agroforestri jambu mete, pengelolaan lahan kering, pengolahan hasil, peningkatan nilai tambah produk, serta penguatan kelembagaan kelompok. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai peserta dari 80,9 pada saat pre-test menjadi 92,2 pada saat post-test atau meningkat sebesar 14,0%. Sebanyak 69,6% peserta mengalami peningkatan nilai dan tidak terdapat peserta yang mengalami penurunan nilai. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan efektif dalam meningkatkan kapasitas peserta dalam pengelolaan agroforestri berbasis perhutanan sosial.Abstract: The Forest Farmer Group (KTH) Fetomnasi faces various in developing social forestry-based agroforestry systems, including limited knowledge of agroforestry management, dryland management, post-harvest processing, and institutional strengthening. This community service program aimed to improve the knowledge and understanding of group members regarding the development of chasew agroforestry under a social forestry scheme. The program was implemented through program orientation and extension activities involving 23 members of KTH Fetomnasi in Kupang Regency. The training materials covered cashew agroforestry development, dryland management, post-harvest processing, value-added product development, and strengthening farmer group institutions. Evaluation was conducted using pre-test and post-test instruments. The results showed that the average participant score increased from 80.9 in the pre-test to 92.2 in the post-test, representing a 14.0% increase. A total of 69.6% of participants archieved higher scores after the training, while no participant experienced a decline. These findings indicate that the extension activities were effective in enhancing participants’ capacity for managing social forestry-based agroforestry. 
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS URBAN FARMING MELALUI TRANSFORMASI LAHAN TIDUR MENJADI KEBUN HORTIKULTURA PRODUKTIF Gamaruddin Gamaruddin; Andi Lopa Ginting; Jony Puspa Kusuma; Soraya Habibi; Esti Kurniawati Mahardika
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40444

Abstract

Abstrak: Keterbatasan lahan di kawasan perumahan perkotaan sering kali memicu munculnya lahan tidur yang tidak terkelola dan mengalami degradasi fungsi lingkungan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberdayakan warga melalui penerapan konsep urban farming dengan mentransformasi lahan tidur menjadi kebun hortikultura produktif. Metode pelaksanaan program meliputi sosialisasi, pelatihan pembuatan media tanam organik dengan pendekatan learning by doing, pembangunan greenhouse, penanaman komoditas hortikultura, serta pendampingan intensif kepada 25 kepala keluarga sebagai mitra. Evaluasi program dilakukan melalui pengukuran tingkat pemahaman warga serta pemantauan pertumbuhan tanaman secara berkala. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kapasitas hardskill warga yang sangat signifikan; pemahaman pembuatan media tanam organik meningkat dari 32% menjadi 92%, dan keterampilan perawatan harian naik dari 45% menjadi 93%. Selain itu, program ini berhasil membangun unit rumah kaca (3,5 × 6 meter) dan memproduksi sayuran daun cepat panen seperti kangkung (panen 21-25 hari) serta sawi hijau dengan persentase pertumbuhan mencapai 93-95%.Abstract: Land constraints in urban residential areas often lead to the emergence of unmanaged dormant land and degradation of environmental function. This Community Service Activity (PKM) aims to empower residents through the application of the concept of urban farming by transforming sleeping land into productive horticultural gardens. The program implementation method includes socialization, training on making organic planting media with a learning by doing approach, greenhouse construction, planting horticultural commodities, and intensive assistance to 25 heads of families as partners. The evaluation of the program is carried out through measuring the level of understanding of residents and monitoring plant growth periodically. The results of the activity showed a very significant increase in the capacity of residents' hard skills; Understanding of making organic growing media increased from 32% to 92%, and daily maintenance skills increased from 45% to 93%. In addition, this program has succeeded in building a greenhouse unit (3.5 × 6 meters) and producing fast-harvesting leafy vegetables such as kale (harvest 21-25 days) and mustard greens with a growth percentage of 93-95%.
PEMANFAATAN PRODUK ECO-ENZYME PADA KELOMPOK WANITA TANI NELAYAN PULAU PARI Nurul Khotimah; Nurul Nisa'a Amin; Rahmania Ratih Maharsi; Tuty Maria Wardiny; Endang Indrawati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40859

Abstract

Abstrak: Limbah rumah tangga, khususnya limbah organik merupakan salah satu masalah lingkungan yang perlu segera ditangani. Salah satu alternatif penanganan limbah organik tersebut adalah pembuatan eco-enzyme yang merupakan cairan hasil fermentasi dari bahan-bahan organik. Eco-enzyme dapat digunakan sebagai pembersih, antiseptik, pestisida alami, pupuk, serta penjernih air. Selain itu, eco-enzyme juga dapat dimanfaatkan dalam produk-produk rumah tangga lainnya seperti sabun mandi, shampoo, dan deterjen. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk melatih masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani Nelayan di Pulau Pari yang berjumlah 30 orang dalam pemanfaatan produk dari eco-enzyme yang dihasilkan dari limbah organik rumah tangga. Pengabdian diawali dengan penyuluhan terkait lingkungan dan penanganan limbah, serta manfaat limbah yang selama ini belum diketahui. Kegiatan selanjutnya adalah workshop pembuatan eco-enzym serta pendampingan dalam pemanfaatannya. Keberhasilan program diukur berdasarkan peningkatan pengetahuan, keterampilan pembuatan sabun, dan kesiapan peserta mengadopsi produk. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengetahuan peserta mengenai pemanfaatan eco-enzyme meningkat dari 75% menjadi 83%, keterampilan membuat sabun secara mandiri meningkat dari 10% menjadi 60%, dan kesiapan memanfaatkan atau memasarkan produk meningkat dari 50% menjadi 73%. Sabun eco-enzym yang telah diproduksi telah dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat, bahkan telah ditawarakan sebagai oleh-oleh kepada wisatawan. Selanjutnya, diperlukan program PkM lanjutan untuk mengoptimalkan pemanfaatan dan pemasaran sabun eco-enzyme.Abstract: Household waste, particularly organic waste, is one of the environmental problems that requires immediate attention. One alternative approach to managing organic waste is the production of eco-enzyme, a liquid obtained through the fermentation of organic materials. Eco-enzyme can be used as a natural cleaner, antiseptic, pesticide, fertilizer, and water purifier. In addition, it can also serve as a raw material for various household products, including soap, shampoo, and detergent. This Community Service Program aimed to enhance the capacity of the Women Farmers and Fishers Group on Pari Island, consisting of 30 participants, in utilizing eco-enzyme produced from household organic waste to develop value-added household products. The program began with educational sessions on environmental issues, organic waste management, and the potential benefits of organic waste, followed by a workshop on eco-enzyme utilization and hands-on assistance in producing eco-enzyme-based soap. Program effectiveness was evaluated based on improvements in participants' knowledge, soap-making skills, and readiness to adopt the product. The evaluation results showed that participants' knowledge of eco-enzyme utilization increased from 75% to 83%, the proportion of participants able to independently produce eco-enzyme soap increased from 10% to 60%, and their willingness to utilize or market the product increased from 50% to 73%. The eco-enzyme soap produced has been utilized for household and community activities and has also been introduced as a local souvenir for tourists visiting Pari Island. To ensure the sustainability of the program, further community service initiatives are recommended to strengthen the utilization, business development, and marketing of eco-enzyme-based products.
PELATIHAN BAGI PELAKU EKONOMI KREATIF DI ERA INDUSTRI 4.0: URGENSI PENGUASAAN TEKNOLOGI AI UNTUK KETAHANAN EKONOMI Ade Yusuf Mujaddid; Arief Darmawan; Muhammad Rosyid Ridho
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.39708

Abstract

Abstrak: Transformasi digital di sektor UMKM Kecamatan Mijen Kota Semarang masih berada pada tahap awal, di mana 72% pelaku ekonomi kreatif belum pernah menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Keterbatasan literasi digital dan ketergantungan pada metode promosi konvensional menghambat daya saing mereka di era Industri 4.0. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan kapasitas teknis, kreativitas, dan daya saing pelaku ekonomi kreatif melalui pemanfaatan teknologi AI untuk efisiensi produksi dan optimalisasi pemasaran digital. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) yang meliputi tahap diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, serta refleksi. Pelatihan dilaksanakan pada 18 Oktober 2025 dengan metode praktik langsung (hands on training) bagi 40 pelaku usaha ekonomi kreatif yang mencakup empat subsektor utama: kuliner (12 orang), kriya (8 orang), fashion (13 orang), dan jasa pariwisata (7 orang). Sistem evaluasi diukur secara spesifik menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test untuk menilai pemahaman kognitif (regulasi, fitur, dan prompting AI), serta lembar observasi psikomotorik berbasis skala Likert guna menilai indikator keterampilan teknis dan efisiensi waktu produksi karya. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman konseptual AI peserta secara klasikal hingga mencapai 88%. Sebanyak 75% peserta memenuhi kriteria keberhasilan praktik dengan sukses memproduksi aset digital secara mandiri (poster, katalog, dan video promosi) menggunakan Canva AI, Gemini, ChatGPT, dan CapCut AI. Pelatihan ini berhasil mentransformasi mindset digital dan mendorong kolaborasi strategis antar-subsektor ekonomi kreatif di Kecamatan Mijen.Abstract: Digital transformation within the Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) sector in Mijen District, Semarang City, remains in its infancy, with 72% of creative economy actors having never utilized Artificial Intelligence (AI)-based applications. Limited digital literacy and a heavy reliance on conventional promotional methods hinder their competitiveness in the Industry 4.0 era. This community service initiative aims to enhance the technical capacity, creativity, and competitiveness of creative economy actors by leveraging AI technology for production efficiency and digital marketing optimization. The approach employed was Participatory Action Research (PAR), encompassing diagnosis, planning, implementation, and reflection stages. The training was conducted on October 18, 2025, utilizing a hands-on training method for 40 creative economy entrepreneurs across four main subsectors: culinary (12 participants), crafts (8 participants), fashion (13 participants), and tourism services (7 participants). The evaluation system was explicitly measured using pre-test and post-test questionnaire instruments to assess cognitive understanding (AI regulations, features, and prompting), alongside a Likert scale-based psychomotor observation sheet to evaluate technical skill indicators and the time efficiency of content production. The program successfully increased the participants' classical conceptual understanding of AI to 88%. Furthermore, 75% of the participants met the practical success criteria by independently producing digital assets (posters, catalogs, and promotional videos) using Canva AI, Gemini, ChatGPT, and CapCut AI. This training successfully transformed digital mindsets and fostered strategic collaboration among creative economy subsectors in Mijen District.
PENYULUHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN DETEKSI DINI PENYAKIT HIPERTENSI KRISIS PADA MASYARAKAT DI NONTHABURI THAILAND Ayu Prameswari Kusuma Astuti; Heri Ridwan; Ria Inriyana; Iis Aisyah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.41142

Abstract

Abstrak: Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular utama yang menyebabkan kerusakan organ serta kematian di dunia. Thailand merupakan salah satu negara dengan kasus hipertensi tinggi dengan kesenjangan yang nyata antara tingkat kesadaran, kepatuhan, dan kontrol tekanan darah yang masih kurang. Diaspora Indonesia di Nonthaburi memiliki kerentanan tinggi terhadap kondisi ini akibat kurangnya pengetahuan dan hambatan akses terhadap sistem layanan kesehatan lokal. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan membekali kelompok rentan migran menjadi komunitas yang berdaya serta mampu melakukan deteksi dini hipertensi secara mandiri dan berperan sebagai Community First Responder di lingkungannya. Penyuluhan dilakukan dengan metode ceramah yang dikombinasikan dengan demonstrasi interaktif serta praktik langsung pada 30 orang komunitas diaspora Indonesia di Nonthaburi Thailand. Evaluasi program dilakukan melalui metode pre-post test menggunakan Self Care for Hypertension Patients (SC-HI V3.0) yang terdiri dari 24 item soal. Analisis data dilakukan dengan uji wilcoxon Signed-Rank Test karena nilai normalitas data menujukan data tidak berdistribusi normal (p<0,05). Hasil analisis menujukan nilai p- value (p < 0,0001) dan rata-rata peningkatan pengetahuan sebesar 59,47% secara keseluruhan yang artinya ada perbedaan yang signifikan pada nilai pengetahuan peserta mengenai perawatan diri pada hipertensi sebelum dan sesudah penyuluhan. Kesimpulannya penyuluhan hipertensi berhasil meningkatkan pemahaman dan pengetahuan peserta dari komunitas diaspora Indonesia di Thailand mengenai penyakit hipertensi.Abstract: Hypertension is a major cardiovascular disease leading to end-organ damage and global mortality. Thailand exhibits a high prevalence of hypertension cases, characterized by a significant gap in awareness, medication adherence, and inadequate blood pressure control. The Indonesian diaspora in Nonthaburi is highly vulnerable to this condition due to a lack of health knowledge and barriers to accessing the local healthcare system. This community service program aims to enhance the knowledge of this vulnerable migrant group, equipping them to become an empowered community capable of independently conducting early detection of hypertension and serving as Community First Responders within their environment. The intervention utilized health education lectures combined with interactive demonstrations and hands-on practice, involving 30 members of the Indonesian diaspora community in Nonthaburi, Thailand. Program evaluation was conducted using a one-group pre-test and post-test design, utilizing the 24-item Self-Care of Hypertension Inventory (SC-HI V3.0). Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed-Rank Test, as the normality test indicated a non-normal data distribution (p < 0.05). The analysis revealed a statistically significant difference in the participants' knowledge regarding hypertension self-care before and after the educational intervention (p < 0.0001), with an overall average knowledge increase of 59.47%. In conclusion, the health education program effectively improved the understanding and knowledge of hypertension among the Indonesian diaspora community in Thailand.
KONSERVASI HABITAT KELELAWAR MELALUI EDUKASI DAN PENANAMAN MANGROVE DI KAWASAN PESISIR Suhartono Suhartono; Sri Ade Putra; Nurman Nurman; Muhammad Isbahuddin; Muhammad Agusfartham Ramli
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40436

Abstract

Abstrak: Degradasi lahan mangrove mengancam habitat bersarang kelelawar buah, yang diperparah oleh kesenjangan antara pemahaman teoretis dan pengalaman praktis mahasiswa kehutanan. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran konservasi flora dan fauna, serta kemampuan teknis mahasiswa dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan experiential learning yang mencakup kegiatan pendidikan lingkungan, observasi ekosistem, serta penanaman mangrove. Peserta kegiatan ini sebanyak 30 mahasiswa dari HIMA Sylva Indonesia (PC) Universitas Sulawesi Barat. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan kapasitas yang nyata dan terukur secara kuantitatif pada para peserta. Berdasarkan hasil evaluasi, rata-rata tingkat kompetensi peserta sebelum kegiatan (pre-test) berada pada skor 49 dan mengalami peningkatan substansial menjadi 97,3 setelah menyelesaikan seluruh rangkaian program (post-test). Capaian ini menunjukkan peningkatan nilai absolut sebesar 48,3 atau ekuivalen dengan lonjakan persentase kompetensi sebesar 98,60%. Secara spesifik, mahasiswa mengalami peningkatan soft skill berupa kesadaran kritis terhadap perlindungan lingkungan, khususnya kelestarian hutan mangrove sebagai ekosistem satwa liar, serta hard skill teknis dalam praktik silvikultur restorasi mangrove.Abstract: The degradation of mangrove land threatens fruit bat nesting habitats, a problem exacerbated by the gap between theoretical understanding and practical experience among forestry students. This community service initiative aims to enhance students’ knowledge, raise their awareness of flora and fauna conservation, and improve their technical skills in preserving coastal ecosystems. The implementation method utilised an experiential learning approach, encompassing environmental education activities, ecosystem observation, and mangrove planting. The participants comprised 30 students from HIMA Sylva Indonesia (PC) at the University of West Sulawesi. The results of the community service programme demonstrated a tangible, quantitatively measurable increase in participants’ capacity. Based on the evaluation results, the average competency level of participants prior to the programme (pre-test) was 49 and increased substantially to 97.3 after completing the programme (post-test). This achievement represents an absolute increase of 48.3, equivalent to a 98.60 per cent rise in competency. Specifically, the students demonstrated improvements in soft skills, such as critical awareness of environmental protection—particularly the conservation of mangrove forests as wildlife ecosystems—as well as hard technical skills in the practice of mangrove restoration silviculture.
PENERAPAN TEKNOLOGI TERAPAN MESIN SEALER CUP UNTUK MINUMAN JAMU HERBAL PADA UMKM ALENK JAYA Pongky Lubas Wahyudi; Mulyanto Nugroho; Dian Setiya Widodo; Ichlas Wahid; Ahmad Jabir
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40468

Abstract

Abstrak: UMKM Alenk Jaya yang bergerak di bidang minuman herbal masih melakukan pengemasan secara manual sehingga kualitas kemasan kurang higienis, kurang menarik, dan kapasitas produksi terbatas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kualitas pengemasan, kapasitas produksi, dan daya saing produk melalui penerapan mesin cup sealer. Metode yang digunakan meliputi observasi, sosialisasi, pelatihan pengoperasian dan perawatan mesin, serta pendampingan. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan metode pre-test dan post-test berbasis observasi langsung terhadap 6 anggota UMKM. Indikator evaluasi keterampilan meliputi kemampuan menyiapkan mesin cup sealer, menjalankan proses sealing, dan perawatan sederhana mesin. Setiap indikator diberi skor 1 apabila peserta mampu melakukan dengan benar dan mandiri, serta skor 0 apabila belum mampu, kemudian dihitung menggunakan rumus jumlah skor diperoleh dibagi skor maksimal dikalikan 100%. Hasil observasi menunjukkan keterampilan peserta meningkat dari 41,7% menjadi 91,7% setelah pelatihan dan pendampingan. Kapasitas pengemasan berdasarkan rata-rata jumlah produk yang dikemas per hari, yaitu meningkat dari 80 cup/hari menjadi 250 cup/hari atau sebesar 212,5%, sehingga program dinilai berhasil meningkatkan keterampilan, kualitas kemasan, dan produktivitas UMKM.Abstract: Alenk Jaya MSME, which operates in the herbal beverage sector, still handles packaging manually, resulting in packaging that is less hygienic, less attractive, and limited in production capacity. This community service activity aimed to improve packaging quality, production capacity, and product competitiveness by applying a cup sealer machine. The methods used included observation, socialization, training on machine operation and maintenance, and mentoring. The activity evaluation used pre-test and post-test observations of 6 MSME members. Skill evaluation indicators included the ability to prepare the cup sealer machine, carry out the sealing process, and perform simple machine maintenance. Each indicator was scored 1 if the participant performed it correctly and independently, and 0 if they were not yet able to do so; the total score was divided by the maximum score and multiplied by 100% to obtain the percentage score. The observation results showed that participants’ skills increased from 41.7% to 91.7% after training and mentoring. Packaging capacity, measured as the average number of products packaged per day, increased from 80 cups/day to 250 cups/day, or by 212.5%, indicating that the program successfully improved the MSME's skills, packaging quality, and productivity.
PENDAMPINGAN PENCATATAN AKUNTANSI PADA UMKM PEPAYA LOKAL DI DESA PAGERJURANG Sri Sumaryati; Asri Diah Susanti; Elvia Ivada; Sudiyanto Sudiyanto; Astuning Saharsini; Indra Faisal Rizki Mufid; Lies Nurhaini
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40375

Abstract

Abstrak: Pelaku UMKM Olahan Pepaya (OPA) di Desa Pagerjurang masih menghadapi kendala dalam pengelolaan keuangan, terutama belum sistematisnya pencatatan transaksi, belum adanya pemisahan keuangan usaha dan pribadi, serta terbatasnya pemanfaatan teknologi digital. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM dalam menerapkan pencatatan keuangan berbasis digital lewat aplikasi Buku Warung. Program dilaksanakan melalui workshop, pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan yang melibatkan 20 peserta. Efektivitas program dievaluasi menggunakan observasi, wawancara, dan angket berisi 20 pertanyaan yang mengukur empat indikator, yaitu pemahaman pentingnya pencatatan keuangan, kemampuan menggunakan aplikasi Buku Warung, kemampuan menyusun laporan keuangan sederhana, dan pemahaman pemisahan keuangan usaha dan pribadi. Hasil evaluasi memperlihatkan peningkatan pemahaman pentingnya pencatatan keuangan dari 30% menjadi 85%, kemampuan menggunakan aplikasi Buku Warung dari 20% menjadi 80%, serta kemampuan menyusun laporan keuangan sederhana dari 15% menjadi 75%. Program ini berhasil meningkatkan literasi keuangan dan kompetensi digital pelaku UMKM sehingga mendukung pengelolaan usaha yang lebih terencana dan berkelanjutan.Abstract: SMEs producing processed papaya products in Pagerjurang Village continue to face challenges in financial management, particularly due to unsystematic transaction recording, the lack of separation between business and personal finances, and the limited use of digital technology. This community service program aimed to enhance the capacity of SME owners to implement digital financial recordkeeping through the Buku Warung application. The program was carried out through workshops, training sessions, hands-on practice, and mentoring involving 20 participants. Its effectiveness was evaluated using observations, interviews, and a 20-item questionnaire measuring four indicators: understanding the importance of financial recordkeeping, the ability to use the Buku Warung application, the ability to prepare simple financial statements, and understanding the separation of business and personal finances. The evaluation results showed that participants' understanding of the importance of financial recordkeeping increased from 30% to 85%, their ability to use the Buku Warung application improved from 20% to 80%, and their ability to prepare simple financial statements increased from 15% to 75%. The program successfully improved the financial literacy and digital competencies of SME owners, thereby supporting more effective, well-planned, and sustainable business management.
OPTIMALISASI URBAN FARMING MELALUI PELATIHAN HIDROPONIK UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN KELUARGA DI KAWASAN PERKOTAAN Ignasia Germania M. Rada; Kurniawan Andrianto; Bistok Hasiholan Simanjuntak; Antonius Novianto
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.41046

Abstract

Abstrak: Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan keluarga. Kampung Pancuran, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kota Salatiga, telah memiliki fasilitas greenhouse dan instalasi hidroponik, namun pemanfaatannya belum optimal akibat keterbatasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam budidaya hidroponik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan budidaya hidroponik sistem Nutrient Film Technique (NFT). Metode yang digunakan meliputi persiapan, penyuluhan, pelatihan praktik, pendampingan serta evaluasi. Mitra kegiatan adalah 10 ibu rumah tangga. Materi pelatihan mencakup penyemaian benih, pindah tanam, pemberian nutrisi AB MixMix, pemantauan pH dan electrical conductivity (EC), serta penyusunan kalender tanam. Evaluasi dilakukan menggunakan pre–test, post–test, dan kuesioner kepuasan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 76,39% pada pre–test menjadi 100% pada post–test, dengan peningkatan rata-rata sebesar 23,61%. Evaluasi kepuasan juga menunjukkan respons yang positif, dengan seluruh peserta menyatakan setuju atau sangat setuju terhadap materi, metode pelatihan, serta pendampingan yang diberikan. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam budidaya hidroponik sistem NFT serta mendorong pemanfaatan lahan terbatas secara produktif untuk mendukung ketahanan pangan keluarga di area kawasan pengabdian. perkotaan.Abstract: Limited land availability in urban areas has become one of the main challenges in achieving household food security. Pancuran Village, Kutowinangun Lor Subdistrict, Salatiga City, already has a greenhouse and hydroponic facilities; however, their utilization has not been optimal due to the community’s limited knowledge and skills in hydroponic cultivation. This community service program aimed to improve community capacity through training on the Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic system. The program consisted of preparation, counseling, hands-on training, mentoringand evaluation, involving 10 housewives as participants. The training covered seed germination, transplanting, AB MixMix nutrient application, monitoring of pH and electrical conductivity (EC), and crop scheduling. Evaluation was conducted using pre-testPre - tests, post-testPost-test, and participant satisfaction questionnaires. The results showed that participants’ average knowledge increased from 76.39% in the pre-testPre-test to 100% in the post-testPost-test, representing an average improvement of 23.61%. The satisfaction evaluation also indicated positive responses, with all participants expressing agreement or strong agreement regarding the training materials, implementation methods, and mentoring provided. The program successfully improved participants’ knowledge and practical skills in NFT hydroponic cultivation while encouraging the productive use of limited urban land to support household food security.