cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pendekar.ummat@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram Jln. KH. Ahmad Dahlan, No. 1, Pagesangan, Kota Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter
ISSN : -     EISSN : 26151421     DOI : 10.31764/pendekar
Core Subject : Education,
Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter adalah jurnal yang dikelola oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) yang secara khusus menerbitkan hasil penelitian dosen, mahasiswa semester akhir termasuk guru sekolah maupun kegiatan penelitian ilmiah lainnya di bidang pendidikan. Adapun cakupannya meliputi hasil penelitian di bidang matematika dan ilmu alam, teknologi informasi dalam pembelajaran, sosio geografis, agama dan budaya, bahasa dan sastra, serta humaniora. Terbit dua kali setahun yakni bulan April dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 355 Documents
Pengaruh Media Digital Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Mahasiswa dalam Kehidupan Sehari-hari melalui Analisis Kontekstual Nur Haliza; Pitria Hardayani; Sari Vianti; Saptiana Sulastri
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.39171

Abstract

Abstract: This study examines the influence of digital media on the use of Indonesian in everyday life using a contextual analysis approach. The method employed is qualitative descriptive research through a literature review, which involves examining various journals, books, and previous studies related to language use on digital platforms such as WhatsApp, TikTok, and Instagram. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, which comprises three stages: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results indicate that digital media influence language practices through increased use of abbreviations, slang, code-mixing, and foreign terms in daily communication. Informal language varieties tend to be used more dominantly because users prioritize efficiency, practicality, and social closeness. However, the continuous use of non-standard language has the potential to affect proficiency in formal Indonesian, particularly among college students and the younger generation. Therefore, digital literacy and language awareness have become essential needs in the digital age.Abstrak: Penelitian ini mengkaji pengaruh media digital terhadap penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pendekatan analisis kontekstual. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan, yakni menelaah berbagai jurnal, buku, serta penelitian terdahulu terkait penggunaan bahasa pada platform digital seperti WhatsApp, TikTok, dan Instagram. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital memengaruhi praktik berbahasa melalui meningkatnya penggunaan singkatan, bahasa gaul, campur kode, serta istilah asing dalam komunikasi sehari-hari. Ragam bahasa informal cenderung lebih dominan digunakan karena pengguna mengutamakan efisiensi, kepraktisan, dan kedekatan sosial. Namun, penggunaan bahasa nonbaku secara terus-menerus berpotensi memengaruhi kemampuan penggunaan Bahasa Indonesia formal, khususnya pada kalangan mahasiswa dan generasi muda. Oleh sebab itu, literasi digital dan kesadaran berbahasa menjadi kebutuhan penting di era digital. 
Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Sosial melalui Program Koin infaq di MTs Hasan Kafrawi Mayong Jepara Jamal Lutfi; Taufiqurrahman Taufiqurrahman
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.40327

Abstract

Abstract: Character education has become an important focus in strengthening educational quality as it emphasizes not only academic achievement but also students’ social development. One emerging approach is school-based philanthropy programs that provide students with direct social experiences. This study aims to analyze the implementation of the Koin Infaq Program as a medium for developing students’ social care character in an Islamic junior secondary school. The study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings reveal that the Koin Infaq Program functions not merely as a school philanthropy activity but also as a mechanism for internalizing social care values through habituation, active student participation, school collaboration, and teacher role modeling. The program contributed to the development of empathy, social responsibility, and sharing behavior among students. Although challenges remain in maintaining participation consistency and deepening value internalization, reflective and participatory strategies strengthened the effectiveness of character education.Abstrak: Pendidikan karakter menjadi salah satu fokus penting dalam penguatan kualitas pendidikan karena tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan sikap sosial peserta didik. Salah satu pendekatan yang berkembang adalah melalui program filantropi berbasis sekolah yang memberikan pengalaman sosial secara langsung kepada siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Program Koin Infaq sebagai media pembentukan karakter peduli sosial siswa di sebuah madrasah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Koin Infaq berfungsi tidak hanya sebagai kegiatan filantropi sekolah, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai kepedulian sosial melalui pembiasaan, keterlibatan aktif siswa, kolaborasi sekolah, dan keteladanan guru. Program ini berkontribusi terhadap peningkatan empati, tanggung jawab sosial, serta kebiasaan berbagi pada peserta didik. Meskipun menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi partisipasi dan pendalaman makna kegiatan, sekolah mampu mengembangkan strategi reflektif dan partisipatif untuk memperkuat efektivitas pendidikan karakter.
Variasi Bahasa Melayu Dialek Kapuas Hulu pada Mahasiswa UPGRI Pontianak Fitri Wulansari; Emelda Ariyanti; Salma Salma; Nesya Exleria; Agasta Mardela
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.39854

Abstract

Abstract: This study aims to describe the linguistic variation of the Kapuas Hulu Malay dialect used by students of the English Language Education Study Program at Universitas PGRI Pontianak as a form of sociolinguistic identity in higher education. The background of this research is the limited studies examining the use of the Kapuas Hulu Malay dialect in academic settings, particularly in multilingual interactions among students. This research employed a qualitative descriptive approach with an ethnography of communication method. Data were collected through participatory observation, speech recording, and in-depth interviews with two students who are native speakers of the Kapuas Hulu dialect. Data analysis followed the interactive model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the linguistic variations occur at the phonological, lexical, and syntactic levels, along with phenomena of code-switching, code-mixing, and language interference in both formal and informal communication. The use of the dialect functions as a marker of social and cultural identity as well as an adaptive communication strategy within the academic environment. Therefore, the Kapuas Hulu Malay dialect remains actively used and plays an important role in students’ communication practices in higher education.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi bahasa Melayu dialek Kapuas Hulu yang digunakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Pontianak sebagai bentuk identitas sosiolinguistik dalam konteks pendidikan tinggi. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada terbatasnya kajian mengenai penggunaan dialek Melayu Kapuas Hulu di lingkungan akademik, khususnya dalam interaksi mahasiswa pada situasi multibahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi komunikasi. Data dikumpulkan melalui teknik observasi partisipatif, perekaman tuturan, dan wawancara mendalam terhadap 2 mahasiswa yang merupakan penutur asli dialek Kapuas Hulu. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi bahasa yang ditemukan mencakup aspek fonologis, leksikal, dan sintaksis, serta terdapat fenomena alih kode, campur kode, dan interferensi bahasa daerah dalam komunikasi formal maupun informal. Penggunaan dialek tersebut berfungsi sebagai penanda identitas sosial dan budaya sekaligus sebagai strategi komunikasi adaptif dalam lingkungan akademik. Dengan demikian, dialek Melayu Kapuas Hulu tetap eksis dan memiliki peran penting dalam dinamika komunikasi mahasiswa di perguruan tinggi.
Antecedents of Willingness to Communicate in Online ESP Conversation Classes: A Cognitive, Affective, and Situational Perspective Susilawati Susilawati; Suwantica Kusumandari; Arrizqi Ramadhan
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.39596

Abstract

Abstract: Communication studies students are required to develop effective oral communication skills in English for Specific Purposes (ESP) courses to support academic and professional readiness, including in online learning environments. Although previous studies have explored willingness to communicate (WTC) in ESP and English as a Foreign Language (EFL) contexts, limited attention has been paid to communication studies students and online ESP conversation classes. This qualitative case study explores the cognitive-linguistic, affective, and situational antecedents shaping WTC among 45 communication studies students at a university in Central Jakarta. Data were collected through open-ended questionnaires. In cognitive-linguistic readiness, the students demonstrate awareness of the importance of English communication and employ cognitive strategies such as planning and lexical preparation, although some speaking elements are still developing. Affective factors, including speaking enjoyment and topic interest, as well as situational factors comprising supportive lecturer feedback and instructional clarity, stimulate the students' WTC. The study further suggests that the online learning environment functions as a space that shapes speaking readiness. The study recommends incorporating more authentic professional communication activities in ESP online classrooms to strengthen students’ employability skills.Abstrak: Mahasiswa jurusan studi komunikasi dituntut untuk mengembangkan keterampilan komunikasi lisan yang efektif dalam mata kuliah Bahasa Inggris untuk Tujuan Khusus (ESP) guna mendukung kesiapan akademis dan profesional, termasuk dalam lingkungan pembelajaran daring. Meskipun studi sebelumnya telah mengeksplorasi kesediaan untuk berkomunikasi (WTC) dalam konteks ESP dan EFL, perhatian yang diberikan kepada mahasiswa jurusan studi komunikasi dan kelas percakapan ESP daring masih terbatas. Studi kasus kualitatif ini mengeksplorasi anteseden kognitif-linguistik, afektif, dan situasional yang membentuk WTC di antara 45 mahasiswa jurusan studi komunikasi di sebuah universitas di Jakarta Pusat. Data dikumpulkan melalui kuesioner terbuka. Dalam kesiapan kognitif-linguistik, mahasiswa menunjukkan kesadaran akan pentingnya komunikasi bahasa Inggris dan menerapkan strategi kognitif seperti perencanaan dan persiapan leksikal, meskipun beberapa elemen berbicara masih dalam tahap perkembangan. Faktor afektif, termasuk kesenangan berbicara dan minat terhadap topik, serta faktor situasional yang meliputi umpan balik dosen yang mendukung dan kejelasan instruksional, menstimulasi WTC mahasiswa. Studi ini lebih lanjut menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran daring berfungsi sebagai ruang untuk membentuk kesiapan berbicara. Studi ini merekomendasikan memasukkan lebih banyak aktivitas komunikasi profesional yang otentik di kelas daring ESP guna memperkuat keterampilan kerja mahasiswa.
E-Modul Kesehatan Sekolah Berbasis Pop-Up Story Animation terhadap Sikap Peduli Kesehatan Siswa SD di Daerah Tertinggal Septi Aprillia; Dian Permatasari Kusuma Dayu
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.39780

Abstract

Abstract: The low level of health awareness attitudes among elementary school students in underdeveloped areas has become a critical issue affecting the implementation of clean and healthy living behaviours in school environments. Limited availability of engaging and contextual learning media has resulted in suboptimal health education practices. This study aimed to examine the effect of a Pop-Up Story Animation–Based School Health E-Module on the health awareness attitudes of elementary school students in underdeveloped areas. The research employed a quantitative method with a quasi-experimental design. The research subjects consisted of 60 fifth-grade students, divided into an experimental group and a control group. Data were collected through health awareness attitude questionnaires, observations, and documentation. The collected data were analysed using descriptive and inferential statistical techniques, including normality tests, homogeneity tests, and an independent sample t-test. The results revealed a significant difference in students’ health awareness attitudes between the group taught using the Pop-Up Story Animation–Based E-Module and the group receiving conventional instruction. Therefore, it can be concluded that the Pop-Up Story Animation–Based School Health E-Module is effective in improving the health awareness attitudes of elementary school students in underdeveloped areas. These findings imply that the integration of interactive digital learning media can serve as an innovative solution to enhance the quality of health education in elementary schools, particularly in underdeveloped regions.Abstrak: Rendahnya sikap peduli kesehatan siswa sekolah dasar di daerah tertinggal menjadi permasalahan yang berdampak pada perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah. Keterbatasan media pembelajaran yang menarik dan kontekstual menyebabkan pembelajaran kesehatan belum berjalan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan E-Modul Kesehatan Sekolah berbasis Pop-Up Story Animation terhadap sikap peduli kesehatan siswa sekolah dasar di daerah tertinggal. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental. Subjek penelitian berjumlah 60 siswa kelas V, yang terdiri atas kelas eksperimen dan kelas kontrol. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket sikap peduli kesehatan, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t (independent sample t-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada sikap peduli kesehatan siswa antara kelas yang menggunakan e-modul berbasis Pop-Up Story Animation dan kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa E-Modul Kesehatan Sekolah berbasis Pop-Up Story Animation efektif dalam meningkatkan sikap peduli kesehatan siswa sekolah dasar di daerah tertinggal. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa pemanfaatan media digital interaktif dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan di sekolah dasar, khususnya di wilayah tertinggal.
Penggunaan Media Civic Dart Berbasis Game Edukatif sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan Pembelajaran Pendidikan Pancasila pada Murid Kelas X TKR SMKN Suhari Suhari; Alif Bima Kusuma; Aprilia Indi Prastika; Hanifah Agustina; Lennin Kartika Eka Santosa Putri; Vemy Indah Sari; Yusuf Setyoko
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.40016

Abstract

Abstract: The low level of student engagement in Pancasila Education learning in Class X TKR at SMKN serves as the background of this study, with only 25–30% of students actively participating. This study aims to describe the implementation, analyze the improvement in student engagement, and identify the supporting and inhibiting factors in the use of Civic Dart media based on educational games. A qualitative case study approach was employed, involving 36 students as research subjects. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and subsequently analyzed using the interactive model proposed by (Miles et al., 2014). The findings indicate that implementation proceeded systematically across three phases and elicited positive responses from students. Student learning engagement increased significantly from 28.3% to 72.5%, particularly in the verbal, mental, and emotional dimensions. Supporting factors included institutional support and teacher openness, while inhibiting factors encompassed time management constraints and participation disparity among students. It is concluded that Civic Dart is effective in enhancing student engagement in Pancasila Education learning at the vocational secondary school level.Abstrak: Rendahnya keaktifan murid dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas X TKR SMKN menjadi latar belakang penelitian ini, dengan hanya 25-30% murid yang aktif berpartisipasi. Penelitian bertujuan mendeskripsikan implementasi, menganalisis peningkatan keaktifan, dan mengidentifikasi faktor pendukung serta penghambat penggunaan media Civic Dart berbasis game edukatif. Pendekatan kualitatif studi kasus digunakan dengan 36 murid sebagai subjek. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model interaktif (Miles et al., 2014). Hasil penelitian menunjukkan implementasi berlangsung sistematis melalui tiga fase dengan respons positif. Keaktifan belajar meningkat signifikan dari 28,3% menjadi 72,5%, terutama pada dimensi lisan, mental, dan emosional. Faktor pendukung meliputi dukungan institusional dan keterbukaan guru, sedangkan faktor penghambat mencakup manajemen waktu dan disparitas partisipasi. Disimpulkan bahwa Civic Dart efektif meningkatkan keaktifan pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMK.
The Effect of ZEP Quiz on Critical Thinking Skills of Culinary Vocational School Students Pandhu Wiseno Wahyu Aji; Lismi Animatul Chisbiyah; Erna Tungga Dewi
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.39792

Abstract

Abstract: The integration of gamification-based interactive media into vocational education has become increasingly critical as conventional instructional approaches continue to fall short in fostering higher-order thinking skills among Generation Z learners. The study aims to examine the impact of ZEP Quiz interactive learning media on the critical thinking skills. A Mixed Methods approach with Sequential Explanatory design was employed. Mixed Methods integrating quantitative data from pre-tests, post-tests, and questionnaires with qualitative data from classroom observations and in-depth interviews. Respondents comprised 33 Grade X Culinary students in the Basic Culinary subject, Even Semester 2025/2026. Results showed a mean pretest score of 58.2 rising to 79.6 posttest, with an average N-Gain of 0.51 (moderate category). The critical thinking questionnaire yielded 81.2% and student response questionnaire 83.7%, both in the excellent category. Qualitative findings revealed that ZEP Quiz's immediate feedback and point-based competition features significantly enhanced students' analytical and evaluative capacities. ZEP Quiz is concluded to be an effective learning medium for improving critical thinking skills in culinary education.Abstrak: Penelitian bertujuan mengkaji dampak penerapan media pembelajaran interaktif ZEP Quiz terhadap keterampilan berpikir kritis. Latar belakang penelitian didasari kondisi pembelajaran kuliner konvensional yang belum optimal dalam mendorong keterlibatan aktif dan pengembangan kemampuan kognitif tingkat tinggi siswa. Penelitian menggunakan pendekatan Mixed Methods dengan rancangan Sequential Explanatory. Mixed Methods mengintegrasikan data kuantitatif dari pretes, postes, dan kuesioner dengan data kualitatif dari observasi kelas dan wawancara mendalam. Responden 33 murid kelas X Program Keahlian Kuliner pada mata pelajaran Dasar-Dasar Kuliner, Semester Genap 2025/2026. Hasil rerata skor pretes 58,2 meningkat menjadi 79,6 pada postes, dengan rerata N-Gain 0,51 (sedang). Kuesioner keterampilan berpikir kritis menghasilkan persentase 81,2% dan kuesioner respons murid mencapai 83,7%, keduanya berkategori sangat baik. Temuan kualitatif mengungkap fitur umpan balik segera dan sistem kompetisi berbasis poin ZEP Quiz secara signifikan mendorong kapasitas analitis dan evaluatif siswa. Disimpulkan bahwa ZEP Quiz efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada konteks pendidikan kuliner. 
Implementasi Program Adiwiyata untuk Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan Siswa: Studi Kasus di SD Negeri Ledug Anisa Anggun Kinasih; Badarudin Badarudin
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.40092

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the implementation of the Adiwiyata Program at Ledug Public Elementary School, the forms of students' environmental awareness, as well as supporting and inhibiting factors. The study population was the entire school community, with a sample of 5 informants (principal, class teacher, Adiwiyata teacher, DUJO students, and parents) selected purposively. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the program implementation runs through four main pillars and has succeeded in developing students' environmental awareness as reflected in increased understanding, attitudes, motivation, and environmentally friendly behavior. Supporting factors include the principal's leadership, parental participation, and mutual cooperation, while inhibiting factors are budget limitations, minimal teacher training, and misalignment of school and home values. The implications of the study indicate a significant influence of parental leadership and participation on the program's success. These results can be an alternative for Adiwiyata-based elementary schools in strengthening participatory aspects, improving administration, and strengthening communication with parents.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Program Adiwiyata di SD Negeri Ledug, bentuk kepedulian lingkungan siswa, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Populasi penelitian adalah seluruh warga sekolah, dengan sampel 5 informan (kepala sekolah, guru kelas, guru pengampu Adiwiyata, siswa DUJO, dan orang tua) yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan implementasi program berjalan melalui empat pilar utama dan berhasil mengembangkan kepedulian lingkungan siswa yang tercermin dalam peningkatan pemahaman, sikap, motivasi, dan perilaku ramah lingkungan. Faktor pendukung meliputi kepemimpinan kepala sekolah, partisipasi orang tua, dan gotong royong, sedangkan penghambatnya adalah keterbatasan anggaran, minimnya pelatihan guru, dan ketidakselarasan nilai sekolah dengan rumah. Implikasi penelitian menunjukkan pengaruh signifikan kepemimpinan dan partisipasi orang tua terhadap keberhasilan program. Hasil ini dapat menjadi alternatif bagi sekolah dasar berbasis Adiwiyata dalam penguatan aspek partisipatif, perbaikan administrasi, dan penguatan komunikasi dengan orang tua. 
Peningkatan Literasi Ilmiah Menggunakan LKM Berbasis Etnobotani Tanaman Edamame Kabupaten Jember pada Pembelajaran IPA SMP Iftitah Aristanti; Dyah Astiari Rizky; Rif’ati Dina Handayani; Susiani Susiani
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.39852

Abstract

Abstract: The low scientific literacy of Indonesian students, as reflected in PISA results, represents a fundamental challenge in science education. This Classroom Action Research (CAR) study aims to improve junior high school students’ scientific literacy through the implementation of an ethnobotany-based Student Worksheet (LKM) centered on locally cultivated edamame plants from Jember Regency, integrated within the Project-Based Learning (PjBL) model. Employing the Kemmis and McTaggart cyclical design, the study was conducted in Class IX B of SMP Negeri 4 Jember involving 32 students across two action cycles. Data were collected through scientific literacy tests, LKM products, structured activity observation sheets, and poster assessment rubrics. Data were analyzed using descriptive quantitative techniques, encompassing mean score calculation, classical mastery percentage, and inter-cycle comparative analysis to evaluate the effectiveness of instructional improvements between cycles. Results revealed substantial gains across all indicators: the mean scientific literacy test score rose from 75.00 (Cycle I) to 97.5 (Cycle II), with classical mastery reaching 96.78%. The mean LKM score increased from 71.9 to 92.1, and the mean student activity score improved from 74.1 to 86.3. These findings confirm that integrating hyperlocal cultural knowledge through an ethnobotany-based edamame worksheet within the PjBL framework effectively strengthens students’ capacity to explain phenomena scientifically, the primary competency domain of scientific literacy in the PISA 2025 framework.Abstrak: Rendahnya literasi sains siswa di Indonesia, yang tercermin dari hasil PISA, menjadi permasalahan mendasar dalam pendidikan IPA. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi sains siswa SMP melalui penerapan Lembar Kerja Murid (LKM) berbasis etnobotani tanaman edamame Kabupaten Jember yang diintegrasikan dengan model Project-Based Learning (PjBL). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini menggunakan desain siklus Kemmis dan McTaggart, dilaksanakan di kelas IX B SMP Negeri 4 Jember dengan 32 siswa sebagai subjek penelitian dalam dua siklus tindakan. Data dikumpulkan melalui tes literasi sains, produk LKM, lembar observasi keaktifan terstruktur, dan rubrik penilaian poster. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif, meliputi perhitungan rata-rata skor, persentase ketuntasan, dan analisis komparatif antarsiklus untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan tindakan yang diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada seluruh indikator: rata-rata skor tes literasi sains meningkat dari 75,00 (Siklus I) menjadi 97,5 (Siklus II), dengan ketuntasan klasikal mencapai 96,78%. Rata-rata skor LKM meningkat dari 71,9 menjadi 92,1, dan rata-rata keaktifan siswa meningkat dari 74,1 menjadi 86,3. Temuan ini membuktikan bahwa integrasi kearifan lokal spesifik melalui LKM berbasis etnobotani edamame dalam kerangka PjBL secara efektif meningkatkan kemampuan siswa dalam menjelaskan fenomena secara ilmiah sebagai domain kompetensi utama literasi sains dalam kerangka PISA 2025.
Penerapan Model Case Based Learning untuk Mengatasi Ekslusivitas Sosial dan Meningkatkan Kemampuan Kognitif Murid pada Materi Perwujudan Gotong Royong dalam Ekonomi Pancasila Ridwan Agus Saputra; Soviyah Tri Meylianah; Imroatul Muthfiroh; Ika Rizki Nur Anggraeni; Monica Rachmawati; Tri Widya Mayasari; Akhmad Qomaru Zaman; Nurus Sulhah
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i2.40008

Abstract

Abstract: This study is motivated by the phenomenon of social exclusivity in a Grade X class of a senior high school, where students tend to form closed peer groups (circle) based on shared backgrounds, negatively affecting cognitive performance, learning engagement, and classroom climate. The study aims to describe the implementation of the Case Based Learning (CBL) model based on the Deep Learning approach in addressing social exclusivity and improving students' cognitive abilities. This research employs the Classroom Action Research (CAR) method using the Kemmis & McTaggart model conducted in three cycles. Research subjects comprised 34 students of one Grade X class. Data were collected through a social interaction observation sheet, HOTS-based cognitive tests, and individual exit tickets, and were analyzed using a mixed-methods approach: quantitative data were analyzed descriptively (percentage, mean, and gain score), while qualitative data were analyzed using the Miles and Huberman model (data reduction, data display, and conclusion drawing). Success was indicated by two criteria: a cross-group interaction index of at least 65% and cognitive mastery of at least 75%. Results demonstrated significant improvement: the cross-group interaction index increased from 28% in the initial condition to 71% in Cycle III, surpassing the target, and cognitive mastery improved from 34% to 81%, also surpassing the target. These findings imply that Deep Learning-based CBL can simultaneously serve as a pedagogical strategy for dismantling exclusive peer boundaries and an instructional design for strengthening higher-order thinking skills, offering teachers a replicable model for addressing similar social-cognitive challenges within the Kurikulum Merdeka framework.Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena ekslusivitas sosial di salah satu kelas X SMA, di mana murid cenderung membentuk kelompok tertutup (circle) berdasarkan kesamaan latar belakang, yang berdampak pada menurunnya kemampuan kognitif, keterlibatan belajar, dan iklim kelas yang tidak kondusif. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan penerapan model Case Based Learning (CBL) berbasis pendekatan Deep Learning dalam mengatasi ekslusivitas sosial dan meningkatkan kemampuan kognitif murid. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Subjek penelitian adalah 34 murid kelas X. Data dikumpulkan melalui lembar observasi interaksi sosial, tes kognitif berbasis HOTS, dan exit ticket individu, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan mixed methods: data kuantitatif dianalisis secara deskriptif (persentase, rata-rata, dan gain score), sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan). Keberhasilan tindakan ditetapkan berdasarkan dua indikator, yaitu indeks interaksi lintas kelompok minimal 65% dan ketuntasan kognitif minimal 75%. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan: indeks interaksi lintas kelompok meningkat dari 28% pada kondisi awal menjadi 71% pada siklus III, melampaui target yang ditetapkan, dan ketuntasan kognitif meningkat dari 34% menjadi 81%, juga melampaui target. Temuan ini berimplikasi bahwa CBL berbasis Deep Learning dapat sekaligus berfungsi sebagai strategi pedagogis untuk meruntuhkan batas kelompok sosial yang eksklusif dan sebagai desain pembelajaran untuk menguatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, sehingga dapat dijadikan acuan bagi guru dalam mengatasi tantangan sosial-kognitif serupa di kelas dalam kerangka Kurikulum Merdeka.