cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pendekar.ummat@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram Jln. KH. Ahmad Dahlan, No. 1, Pagesangan, Kota Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter
ISSN : -     EISSN : 26151421     DOI : 10.31764/pendekar
Core Subject : Education,
Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter adalah jurnal yang dikelola oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) yang secara khusus menerbitkan hasil penelitian dosen, mahasiswa semester akhir termasuk guru sekolah maupun kegiatan penelitian ilmiah lainnya di bidang pendidikan. Adapun cakupannya meliputi hasil penelitian di bidang matematika dan ilmu alam, teknologi informasi dalam pembelajaran, sosio geografis, agama dan budaya, bahasa dan sastra, serta humaniora. Terbit dua kali setahun yakni bulan April dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 366 Documents
Penggunaan Kaidah Kebahasaan dalam Teks Pidato melalui LKPD Siswa SMP Maria Elvina Andriani; Eti Ramaniyar; Dini Hajjafiani
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i3.41300

Abstract

Abstract: Mastery of linguistic rules is important in writing speeches because it affects the clarity of idea presentation, while students’ difficulties in applying these rules need to be described as a basis for strengthening their learning. This study aims to describe students’ difficulties in using linguistic rules in speech texts through worksheets completed by eighth-grade students. This study employed a qualitative descriptive method with data collection techniques involving interviews and documentation. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions/verification. The analysis focused on three aspects of language rules: word choice, effective sentences, and spelling. The results of the study indicate that students still experience difficulties in all three aspects. Based on a summary of the findings, the most common difficulties were found in the aspect of spelling, with 217 instances, followed by word choice with 110 instances, and effective sentences with 103 instances. The findings of the study indicate the need to strengthen practice-based learning through student worksheets to improve mastery of linguistic rules in writing speech texts.Abstrak: Penguasaan kaidah kebahasaan penting dalam penulisan teks pidato karena memengaruhi kejelasan penyampaian gagasan, sedangkan kesulitan siswa dalam menerapkannya perlu dideskripsikan sebagai dasar penguatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan siswa dalam penggunaan kaidah kebahasaan pada teks pidato melalui lembar kerja peserta didik di kelas VIII. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Analisis difokuskan pada tiga aspek kaidah kebahasaan, yaitu diksi, kalimat efektif, dan ejaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa siswa masih mengalami kesulitan pada ketiga aspek tersebut. Berdasarkan rekapitulasi temuan, kesulitan paling banyak ditemukan pada aspek ejaan sebanyak 217 temuan, diikuti diksi sebanyak 110 temuan, dan kalimat efektif sebanyak 103 temuan. Temuan penelitian menunjukkan perlunya penguatan pembelajaran berbasis latihan melalui LKPD untuk meningkatkan penguasaan kaidah kebahasaan dalam penulisan teks pidato.
The Effect of Daily Activity Habituation on Student Independence Zulfa Muflihah; Santi Lisnawati
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i3.41580

Abstract

Abstract: Previous studies have examined habituation in relation to religious character, discipline, and learning independence, but studies specifically examining the effect of daily habituation activities on student independence at the Madrasah Tsanawiyah level remain limited. This study aimed to analyze the effect and contribution of daily habituation activities on the independence of eighth-grade students at MTs Al-Ahsan Kota Bogor. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The population consisted of 36 students, all of whom were selected as research samples using a saturated sampling technique. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed using validity, reliability, normality, homogeneity, Pearson Product-Moment correlation, and simple linear regression tests with the assistance of IBM SPSS Statistics version 26. The results showed that daily habituation activities had a positive and significant effect on students' independence, with a correlation coefficient of 0.604 and a significance value of 0.000 (<0.05). The R Square value of 0.365 indicated that daily habituation activities contributed 36.5% to the variation in students' independence, while the remaining 63.5% was associated with other factors not analyzed in this study. Therefore, daily habituation activities can serve as one strategy to support the development of students' independent character.Abstrak: Penelitian sebelumnya telah mengkaji pembiasaan dalam kaitannya dengan karakter religius, kedisiplinan, dan kemandirian belajar, namun penelitian yang secara khusus mengkaji pengaruh pembiasaan kegiatan harian terhadap kemandirian siswa pada jenjang Madrasah Tsanawiyah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dan kontribusi pembiasaan kegiatan harian terhadap kemandirian siswa kelas VIII di MTs Al-Ahsan Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian berjumlah 36 siswa, seluruhnya dijadikan sampel penelitian menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert dan dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, normalitas, homogenitas, korelasi Pearson Product-Moment, serta regresi linier sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan kegiatan harian berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemandirian siswa, dengan koefisien korelasi sebesar 0,604 dan nilai signifikansi 0,000 (<0,05). Nilai R Square sebesar 0,365 menunjukkan bahwa pembiasaan kegiatan harian memberikan kontribusi sebesar 36,5% terhadap variasi kemandirian siswa, sedangkan 63,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dengan demikian, pembiasaan kegiatan harian dapat menjadi salah satu strategi untuk mendukung pengembangan karakter mandiri siswa.
Efforts to Increase Student Motivation and Learning Achievement through Wordwall Media-Assisted Problem Based Learning Model in Social Science Learning in Elementary School Firyal Fatwa Inayah; Pamujo Pamujo
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i3.40528

Abstract

Abstract: The low motivation and learning achievement of grade IV elementary school students in the science subject is the background of this study. This research aims to improve students’ motivation and learning achievement through the application of the Problem Based Learning model assisted by Wordwall media. This research is a Class Action Research (PTK) with the Kemmis and McTaggart models which is carried out in two cycles, each consisting of the stages of planning, implementation of actions, observation, and reflection. The research subjects amounted to 21 grade IV students of SD Negeri 2 Karangnangka. Data was collected through observation, questionnaires, tests, interviews, and documentation, then analyzed using quantitative descriptive and qualitative descriptive techniques. The results of the study showed that the completeness of student learning achievement increased from 61.90% in the first cycle to 83.33% in the second cycle. Students' learning motivation has also increased, as shown by the average percentage of learning motivation from 64.28% in the first cycle to 88.69% in the second cycle. This improvement shows that the application of the Problem Based Learning model assisted by Wordwall media is able to increase student involvement during learning so that it has an impact on increasing motivation and learning achievement. Thus, the Problem Based Learning model assisted by Wordwall media can be used as an effective learning alternative to improve the quality of social studies learning in elementary schools.Abstrak: Rendahnya motivasi dan prestasi belajar siswa kelas IV sekolah dasar pada mata pelajaran IPAS menjadi latar belakang penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa melalui penerapan model Problem Based Learning berbantuan media Wordwall. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 21 siswa kelas IV SD Negeri 2 Karangnangka. Data dikumpulkan melalui observasi, angket, tes, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan prestasi belajar siswa meningkat dari 61,90% pada siklus I menjadi 83,33% pada siklus II. Motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan, ditunjukkan oleh rata-rata persentase motivasi belajar dari 64,28% pada siklus I menjadi 88,69% pada siklus II. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning berbantuan media Wordwall mampu meningkatkan keterlibatan siswa selama pembelajaran sehingga berdampak pada meningkatnya motivasi dan prestasi belajar. Dengan demikian, model Problem Based Learning berbantuan media Wordwall dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di sekolah dasar.
Exploring Environmental Character through Elementary Students' Lived Experiences in the Adiwiyata Program Muhammad Zulfa Isnaini; Titik Lina Widyaningsih
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i3.41302

Abstract

Abstract: This study explores how fourth-grade students develop environmental character through the Adiwiyata Program in elementary schools. This study adopted a qualitative phenomenological approach. All fourth-grade students were observed to select information-rich participants through sampling. The final participants consisted of one Adiwiyata coordinator and three students representing different levels of environmental character. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation; interview data were analyzed using thematic analysis; The reliability of the findings was reinforced through triangulation and member checking. Students develop an environmentally conscious character through experiences and concrete actions to preserve the environment. Unlike previous research that emphasized program outcomes, this study explains how students internalize environmental values and apply them in sustainable actions through their life experiences. The findings suggest that environmental education is more effective when schools embed environmental values in daily learning experiences and provide ongoing opportunities for students to practice environmental responsibility.Abstrak: Penelitian ini mengkaji bagaimana siswa kelas empat mengembangkan karakter peduli lingkungan melalui Program Adiwiyata di sekolah dasar. Studi ini menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif. Seluruh siswa kelas empat diamati untuk memilih partisipan yang kaya informasi melalui proses pengambilan sampel. Partisipan akhir terdiri dari satu orang koordinator Adiwiyata dan tiga orang siswa yang mewakili tingkat karakter peduli lingkungan yang berbeda. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi; data wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik; reliabilitas temuan diperkuat melalui triangulasi dan pemeriksaan oleh partisipan. Siswa mengembangkan karakter peduli lingkungan melalui pengalaman dan tindakan nyata melestarikan lingkungan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih menekankan pada hasil program, penelitian ini menjelaskan bagaimana siswa menginternalisasi nilai-nilai lingkungan dan menerapkannya dalam tindakan berkelanjutan melalui pengalaman hidup mereka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan lebih efektif ketika sekolah menanamkan nilai-nilai lingkungan dalam pengalaman belajar sehari-hari serta memberikan kesempatan berkelanjutan bagi siswa untuk mempraktikkan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Penguatan Nilai Sopan Santun Melalui Strategi Guru Pendidikan Pancasila pada Siswa Sekolah Dasar Jennie Salsabila Arfiyanti; Widya Trio Pangestu; Wulan Ambarwati; Humaira Fauziah
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i3.41992

Abstract

Abstract: Strengthening students’ politeness values from elementary school is important so that the values they understand can be reflected in their daily behavior. This study focuses on describing the strategies implemented by Pancasila Education teachers to strengthen politeness values in elementary school students. A qualitative approach was applied using a descriptive research design. The informants included a fifth-grade Pancasila Education teacher as the main informant and two fifth-grade students as supporting informants. Data were obtained from observations, semi-structured interviews, and documentation, followed by data analysis through reduction, presentation, and conclusion drawing. The validity of the data was examined using triangulation techniques. The results indicate that the teacher applied five strategies, including teacher modeling, habituating polite communication, providing advice and reprimands, conducting discussions, and appreciating students’ positive behavior. These strategies were reflected in students’ habits of using polite language, greeting others, saying expressions such as “excuse me,” “sorry,” “please,” and “thank you,” shaking hands with teachers, and queuing orderly. The study confirms that strengthening politeness values needs to be carried out through learning activities and consistent habituation.Abstrak: Penguatan nilai sopan santun penting dilakukan sejak sekolah dasar agar nilai yang dipahami siswa dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Penelitian ini berfokus pada pendeskripsian strategi yang diterapkan guru Pendidikan Pancasila dalam penguatan nilai sopan santun pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Informan dalam penelitian ini meliputi satu guru Pendidikan Pancasila kelas V sebagai informan utama dan dua siswa kelas V sebagai informan pendukung. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperiksa melalui teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan lima strategi, yaitu memberikan keteladanan, membiasakan komunikasi santun, memberikan nasihat dan teguran, menggunakan metode diskusi, serta memberikan apresiasi terhadap perilaku positif siswa. Strategi tersebut terlihat pada kebiasaan siswa menggunakan bahasa santun, mengucapkan salam, menggunakan ungkapan “permisi”, “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”, berjabat tangan dengan guru, serta mengantre secara tertib. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan nilai sopan santun perlu dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Penerapan Model Value Clarification Technique untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Materi Keberagaman Sosial dan Budaya Kelas IV Sekolah Dasar Wira Kurniawan; Badarudin Badarudin
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 9, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v9i3.40314

Abstract

Abstract: This study aims to improve the critical thinking skills of fourth-grade elementary school students regarding social and cultural diversity through the application of the Value Clarification Technique (VCT. This research is based on the limited integration of value clarification and critical thinking in Pancasila Education in Elementary Schools, as well as the low critical thinking skills of students, which are still in the low category and have not developed optimally. The methodology used was Classroom Action Research (CAR), based on the model by Kemmis and McTaggart. This study was conducted over two cycles, each consisting of two sessions, and included the planning, implementation, observation, and reflection phases. A total of 29 participants in this study were fourth-grade students. Data were collected through observation, interviews, tests, and document analysis. The instruments used included observation sheets for teacher and student activities, as well as essay-based assessment questions based on the five indicators of critical thinking according to Ennis. The research findings indicate that the application of the Value Clarification Technique model was able to improve students' critical thinking skills across all measured indicators. The success of the intervention was demonstrated by an increase in the learning achievement rate from 31.03% in Cycle I to 77.59% in Cycle II, with the final class average score reaching 75.37. This achievement exceeded the established benchmark of 75% by scoring 70. Thus, it can be concluded that the implementation of the Value Clarification Technique (VCT) model is effective in improving the critical thinking skills of fourth-grade students in elementary school.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas IV Sekolah Dasar mengenai keberagaman sosial dan budaya melalui penerapan Value Clarification Technique (VCT). Penelitian ini didasari oleh terbatasnya integrasi klarifikasi nilai dan berpikir kritis pada Pendidikan Pancasila SD, serta rendahnya keterampilan berpikir kritis peserta didik masih berada pada kategori rendah dan belum berkembang secara optimal. Metodologi yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), berdasarkan model Kemmis dan McTaggart. Penelitian ini dilakukan pada dua siklus, masing-masing terdiri dari dua pertemuan, dan mencakup fase perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Sebanyak 29 partisipan pada penelitian ini adalah peserta didik kelas IV. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes, dan analisis dokumen. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi untuk aktivitas guru dan peserta didik, serta pertanyaan penilaian berbasis esai berdasarkan lima indikator berpikir kritis menurut Ennis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Value Clarification Technique mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada seluruh indikator yang diukur. Keberhasilan tindakan ditunjukkan oleh presentase ketuntasan belajar mengalami peningkatan dari 31,03% pada Siklus I menjadi 77,59% pada Siklus II, dengan nilai rata-rata kelas akhir mencapai 75,37. Capaian ini berhasil melampaui indikator keberhasilan klasikal yang ditetapkan 75% dengan memperoleh nilai ≥70. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Value Clarivication Technique (VCT) efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas IV di Sekolah Dasar.