cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pertanian Agros
Published by Universitas Janabadra
ISSN : 14110172     EISSN : 25281488     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Pertanian Agros (JPA) is published by Faculty of Agriculture, Janabadra University and the Agribusiness Association of Indonesia (AAI). It available online supported by Directorate General of Higher Education - Ministry of Research, Technology, and Higher Education- Republic of Indonesia JPA is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research from all area of agriculture science fields such as crops, horticulture, fisheries, animal husbandary, and forestry.
Arjuna Subject : -
Articles 1,386 Documents
PENGARUH MULSA PLASTIK HITAM PERAK DAN BERBAGAI PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH DI TANAH GAMBUT Noviandry Isnaini; Radian Radian; Iwan Sasli
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2869

Abstract

The study aims to determine the interaction and individual effects of silver black plastic mulch and organic fertilizers on the growth and yield of shallots on peat soil. The research was carried out on land located in Kubu Raya Regency, West Kalimantan using a factorial randomized block design method. The first factor was silver black plastic mulch treatment (without mulch and using mulch), the second factor was organic fertilizer treatment (without organic fertilizer, chicken manure, cow manure, goat manure, petroganic fertilizer, and biogreen fertilizer) each combination treatment was repeated 3 times. The results showed that the use of silver black plastic mulch and organic fertilizers individually and interactively had not optimally affected the growth and yield of shallots on peat soil. The use of silver black plastic mulch was able to increase the number of leaves per clump and the number of tillers per clump. The use of petroganic fertilizers can increase plant height with the highest yields. INTISARIPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi maupun secara individu dari perlakuan mulsa plastik hitam perak dan pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah pada tanah gambut. Penelitian dilaksanakan pada lahan yang terletak di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat menggunakan metode rancangan acak kelompok faktorial. Faktor pertama yaitu perlakuan mulsa plastik hitam perak (tanpa mulsa dan pemakaian mulsa), faktor kedua yaitu perlakuan pupuk organik (tanpa pupuk organik, pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing, pupuk petroganik, dan pupuk biogreen) masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak dan pupuk organik secara individu dan secara interaksi belum berpengaruh secara optimal terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah pada tanah gambut. Penggunaan mulsa plastik hitam perak mampu meningkatkan pertambahan jumlah daun per rumpun dan jumlah anakan per rumpun. Penggunaan pupuk petroganik mampu meningkatkan tinggi tanaman dengan hasil yang tertinggi.
ANALISIS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI GOGO AROMATIK LOKAL DENGAN APLIKASI KOMPOS JERAMI PADI PADA SISTEM PERTANAMAN LORONG DAN MONOKULTUR Muhammad Kadir; Rajony Aty; Syamsia Syamsia
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2901

Abstract

Aromatic upland rice is currently planted with an Alley Cropping system to get around land limitations. To compare how the growth and production response compared to the monoculture system on the application of composted organic fertilizer, a field experiment was conducted to evaluate and analyze the effect of various doses of composted organic fertilizer on the growth and production of local aromatic upland rice grown in Monoculture and Alley Cropping systems. The experiment was conducted in a Randomized Complete Block Design (RCBD) to test four doses of compost fertilizer, namely 0, 4, 8, and 16 tons/ha, respectively, in both cropping systems. The results showed that the analysis of growth and generative components of local aromatic upland rice with Alley Cropping and Monoculture cropping systems were better in the application of compost 15 tons per hectare. The highest average yield of local aromatic upland rice when compared between Alley Cropping and Monoculture planting is still the highest Monoculture system with the average Dry grain weight per hectare with 15 tons/ha Compost in this experiment which is 4,141.61 kg of grain/ha while planting the Alley Cropping system only produces an average of 917.69 kg/ha. INTISARIPadi gogo Aromatik saat ini banyak ditanam dengan sistem Alley Cropping menyiasati keterbatasan lahan. Untuk membandingkan bagaimana respon pertumbuhan dan produksi dibandingkan dengan sistem monokultur pada pengaplikasian Pupuk organic Kompos, maka  sebuah Percobaan lapangan dilakukan untuk mengevaluasi dan menganalisis pengaruh berbagai dosis pupuk organik kompos terhadap pertumbuhan dan produksi padi gogo aromatic lokal yang ditanam pada sistem Monokultur maupun Alley Cropping. Percobaan dikakuakn dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) untuk menguji Empat dosis pupuk kompos yaitu 0, 4, 8, dan 16 ton/ha, masing-masing pada kedua sistem pertanaman. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan dan Komponen generatif padi gogo aromatik lokal dengan sistem pertanaman Alley Cropping maupun Monokultur yang lebih baik  adalah pada aplikasi kompos 15 ton per hektar. Rata-rata produksi padi gogo aromatik lokal tertinggi jika dibandingkan antara pertanaman Alley Cropping dan Monokultur yang trtinggi masih ssitem Monokultur dengan rata-rata bobot gabah Kering per hektar dengan aplikasi kompos jerami padi sebanyak 15 ton/ha pada percobaan ini yaitu 4.141,61 kg gabah/ha sementara penanaman sistem Alley Cropping hanya menghasilkan rata-rata 917.69 kg.
KELAYAKAN USAHATANI WORTEL DI DESA CINTA RAKYAT KECAMATAN MERDEKA KABUPATEN KARO Emma Indah Permata Sari br Purba; Yuliawati Yuliawati
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2879

Abstract

One of the products that significantly contributes to the regional income of Karo Regency is carrots. Carrots are produced in Cinta Rakyat the village which is located in Karo Regency's Merdeka District. Farmers need costs to use production factors in carrying out their farming activities, while carrot prices have decreased since 2016. The purpose of this study is to analyze the cost, revenue, income and feasibility of carrot farming in Cinta Rakyat village, Merdeka District, Karo Regency.Research respondents determined by purposive sampling with the number of farmers of 57 respondents Data collection was carried out by interviews using questionnaires. Data analysis techniques using of the feasibility analysis of BEP price, BEP product, R/C, and B/C. The results showed:carrot farming costs amounted to IDR 17.069.020/ha/MT, consisting of fixed costs IDR  3.978.538/ha/MT and variable costs and 13.090.482/ha/MT. Revenue amounted to Rp 48.282.615/ha/MT and revenue IDR 31.213.595/ha/MT. The feasibility of carrot farming can be seen from the BEP products 6.828 kg, BEP price of IDR 884/kg, R/C of 2.83 and B/C of 1.83 so that carrot farming in Cinta Rakyat Village is feasible.INTISARI Wortel merupakan salah satu komoditas yang memberikan kontribusi penting bagi perekonomian daerah Kabupaten Karo. Desa Cinta Rakyat salah satu desa yang terletak di Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo yang memproduksi wortel. Dalam melakukan kegiatan usahatani wortel, petani memerlukan biaya untuk penggunaan faktor produksi, sedangkan harga wortel mengalami penurunan sejak tahun 2016. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan dan kelayakan usahatani wortel di desa Cinta Rakyat Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo. Responden penelitian ditentukan secara purposive sampling dengan jumlah petani sebesar 57 responden Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan perhitungan analisis kelayakan usahatani BEP harga, BEP produk, R/C, dan B/C. Hasil penelitian menunjukkan: biaya usahatani wortel sebesar Rp 17.069.020/ha/ MT, terdiri dari biaya tetap Rp 3.978.538/ha/MT dan biaya variabel Rp 13.090.482/ha/MT. Penerimaan sebesar Rp 48.282.615/ha/MT dan pendapatan Rp 31.213.595/ha/MT. Kelayakan usahatani wortel terlihat dari BEP produk 6.828 kg, BEP harga sebesar Rp 884/ kg R/C sebesar 2,83 dan B/C sebesar 1,83 sehingga usahatani wortel di Desa Cinta Rakyat layak untuk diusahakan 
PENGARUH PUPUK HAYATI MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA GALUR PADI BERAS HITAM PADA SISTEM IRIGASI AEROBIK Friska Pebrianingsih; Wayan Wangiyana Wayan Wangiyana; Uyek Malik Yakop
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2886

Abstract

This study aimed to determine the effect of the application of mycorrhiza biofertilizers on growth and yield of several promising lines of black rice in aerobic irrigation systems. The experiment was carried out from September 2021 to January 2022 in Ombe Baru Village (West Lombok), which was arranged according to a Split Plot design with three blocks and two treatment factors, namely black rice promising lines (G3, G6 and G9) as the main plots, and application of mycorrhiza biofertilizers (M0= without mycorrhiza, M1= with mycorrhiza) as the subplots. Data were analyzed using the Analysis of Variance (ANOVA) and Tukey's HSD at 5% significance level using the CoStat for Windows program. The results showed that G9 showed higher growth rate of leaf number, growth rate of tiller number and grain yield than the G3 and G6 lines, while application of mycorrhiza biofertilizers only significantly increased panicle number per clump, weight of dry straw per clump, weight of 100 filled grain, filled grain number per clump, and grain yield per clump but reducing the percentage of unfilled grain number. Based on the interaction effect, the application of mycorrhiza biofertilizers only significantly increased the growth rate of leaf number, growth rate of tiller number, and dry straw weight in G9 but not in the G3 and G6 promising lines.INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk hayati mikoriza terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa galur harapan padi beras hitam pada sistem irigasi aerobik. Percobaan dilaksanakan pada bulan September 2021 sampai Januari 2022 di Desa Ombe Baru (Lombok Barat), yang ditata menurut Split Plot design dengan tiga blok dan dua faktor perlakuan, yaitu galur padi beras hitam (G3, G6 dan G9) sebagai petak utama, dan aplikasi faktor pupuk hayati mikoriza (M0 = Tanpa Mikoriza, MI = dengan Mikoriza) sebagai anak petak. Data dianalisis dengan Analisis Keragaman (ANOVA) dan uji BNJ (Tukey’s HSD) pada taraf nyata 5% menggunakan program CoStat for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa G9 menunjukkan laju pertumbuhan jumlah daun, laju pertumbuhan jumlah anakan dan hasil gabah lebih tinggi dibandingkan dengan G3 dan G6, sedangkan aplikasi pupuk hayati mikoriza hanya signifikan meningkatkan jumlah malai per rumpun, berat jerami kering per rumpun, berat 100 gabah berisi, jumlah gabah berisi per malai, dan hasil gabah per rumpun tetapi menurunkan persentase jumlah gabah hampa. Berdasarkan pengaruh interaksi faktor perlakuan, aplikasi pupuk hayati mikoriza hanya signifikan meningkatkan laju pertumbuhan jumlah daun, laju pertumbuhan jumlah anakan, dan berat jerami kering pada galur G9 tetapi tidak pada G3 dan G6.  
ANALISIS PERTUMBUHAN DAN EKONOMI KACANG HIJAU DENGAN KERAPATAN SHELTER JAGUNG MANIS BERBEDA DI LAHAN PASIR PANTAI Dwi Astutik; Devi Devi; Prapto Yudono; Sriyanto Waluyo
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2884

Abstract

Mung beans was plants that have great level adaptation from the lowlands with high salinity up to the highlands. Mung bean demand is significantly higher than production. This research aimed to determined the effect of growth and economic analysis of mung bean plants with shelter plants. The research was conducted in coastal sandy land, Samas, Bantul, DIY in August until November 2016. The research design was Factorial Multilocation (Overside) Design. The factor was sweet corn as a shelter plant (S) consisting of 3 levels and mung bean cultivar (V) consisted of 2 levels. First factors was sweet corn as a shelter plant (S) i.e  without sweet corn shelter (S0), sweet corn shelter with 30x40 cm spacing (S1), sweet corn shelter 15x40 cm spacing (S2) . The second factor was mung bean cultivars i.e: Vima 1 (V1) and local Purworejo (V2). The data analyzed by analysis of Variant at 95% level with DMRT test. Shelter increased plant growth rate, net assimilation rate and seed weight per hectare and economical analyzed. Cultivars Vima 1 had seed weight per hectare was greater than local Purworejo cultivars.INTISARIKacang hijau termasuk tanaman yang memiliki tingkat adaptasi tempat yang sangat baik mulai dari dataran rendah dengan salinitas tinggi sampai dataran tinggi. Kebutuhan kacang hijau cukup tinggi dibandingkan dengan produksinya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tanaman shelter terhadap analisis pertumbuhan dan ekonomi tanaman kacang hijau. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian pasir pantai, Samas, Bantul, DIY pada bulan Agustus sampai November 2016. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Faktorial Multilokasi (Overside). Penggunaan jagung manis sebagai tanaman shelter (S) terdiri dari 3 taraf sebagai faktor utama dan kultivar kacang hijau (V) terdiri dari 3 taraf sebagai faktor kedua. Faktor pertama yang digunakan adalah penggunaan jagung manis sebagai tanaman shelter (S) yaitu: tanpa shelter jagung manis (S0), penggunaan shelter jagung manis jarak 30x40 cm (S1), penggunaan shelter jagung manis jarak 15x40 cm (S2). Faktor kedua adalah kultivar kacang hijau yaitu: kultivar Vima 1 (V1) dan Kultivar lokal Purworejo (V2). Data yang diperoleh akan dianalisis dengan Analisis of Variant pada tingkat kepercayaan 95% dan dilakuan uji lanjut DMRT. Penggunaan shelter meningkatkan laju pertumbuhan tanaman, laju asimilasi bersih berat biji per hektar dan pendapatan petani. Kultivar Vima 1 memiliki berat biji per hektar lebih besar dibandingkan kultivar Lokal Purworejo.  
PERAN USAHA TERNAK SAPI BAGI PENDAPATAN MASYARAKAT URBAN DI KECAMATAN SALAHUTU PROVINSI MALUKU Muhammad Rivaldi Tuwainella; Michel Johan Matatula; Jomima Martha Tatipikalawan
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2880

Abstract

The purpose of this study was to examine the socio-economic status of cattle breeders, the contribution of cattle breeding businesses to family income and the factors that influence contribution. The method for determining the sample villages was by purposive sampling based on the largest population of cattle. A total of 60 farmer respondents were taken based on the criteria of having kept cattle for at least 3 years and had carried out marketing. Descriptive data analysis, economic calculation, income contribution and multiple regression analysis to see the factors that influence the contribution of beef cattle business income. The results showed that the breeders were still of productive age, some of them had their main livelihood as cattle breeders, good education level: from middle to high school, minimal non-formal education, raised cattle with the aim of increasing income and savings, the average cattle ownership was 3.58 ±2.10 tails (household scale), traditionally reared without cages for >5 years. The income contribution from the cattle business is 72.02% (business branch). The income contribution from the cattle business is significantly influenced by cattle ownership and other income.INTISARITujuan dari penelitian ini adalah mengkaji status sosial ekonomi peternak sapi,  kontribusi usaha  peternak sapi terhadap pendapatan keluarga dan faktor-faktor yang mempengaruhi kontribusi. Metode penentuan desa sampel secara puposive sampling berdasarkan populasi sapi terbanyak. Sebanyak 60 responden peternak diambil berdasarkan kriteria telah memelihara sapi minimal 3 tahun dan telah melakukan pemasaran. Analisis data secara deskriptif, perhitungan ekonomi, kontribusi pendapatan dan analisis regresi berganda untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kontribusi pendapatan usaha sapi potong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak masih berusia produksi, sebagian bermata pencaharian pokok sebagai peternak sapi, tingkat pendidikan baik: dari menengah sampai atas, minim pendidikan non formal, memelihara ternak sapi dengan tujuan menambah pendapatan dan tabungan, rata-rata kepemlikan ternak sapi 3,58±2,10 ekor (skala rumah tangga), yang dipelihara secara tradisional tanpa kandang dengan lama pemeliharaan >5 tahun. Kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi sebesar 72,02% (cabang usaha). Kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi secara signifikan dipengaruhi oleh kepemilikan ternak sapi dan pendapatan lainnya.
ANALISIS RISIKO PRODUKSI, HARGA, DAN PENDAPATAN USAHATANI KENTANG DI DESA NGADUMAN, KABUPATEN SEMARANG Gregorius Adi Nugroho Saputro; Tinjung Mary Prihtanti
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2906

Abstract

Ngaduman Village, Getasan District, Semarang Regency, located at an altitude of 1800 meters above sea level, is a center for vegetable crops. Farmers in Ngaduman Village plant potatoes in April with a monoculture cropping system. This study aims to analyze the risk level of production, price, and income in potato farming, and to find out the efforts made by farmers in dealing with production, price, and income risks in potato farming. The data used are primary and secondary data, the data collection technique is a survey through interviews. The sampling technique uses a purposive sampling method, with a total sample of 30 farmers. Production, price and income risk analysis techniques use the Coefficient of Variation (CV), while the efforts made by farmers to overcome risks use a qualitative descriptive approach. The coefficient of variation (KV) which shows the risk of potato production is below 1, meaning low risk, where the KV of potato production is 0.3. The coefficient of variation (KV) indicating the risk of potato prices is 0.03. The coefficient of variation (KV) of potato farming income risk is 0.55. To deal with production risks, it is necessary to spray pesticides regularly to minimize pest and disease attacks and include a planting season schedule with reference to weather changes. Meanwhile, to deal with price risk, farmers carry out price comparisons and sell to collectors at the most appropriate price and face income through efforts to reduce production costs, including through the use of their own manure and utilizing the remaining harvest as seeds for the next planting season.INTISARI Desa Ngaduman Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang berada di ketinggian 1800 mdpl merupakan sentra tanaman sayuran. Petani di Desa Ngaduman menanam kentang pada bulan April dengan sistem tanam monokultur. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat risiko produksi, harga, dan pendapatan usahatani kentang, serta mengetahui upaya yang dilakukan petani dalam menghadapi risiko produksi, harga, dan pendapatan dalam berusahatani kentang. Data yang digunakan data primer dan sekunder, teknik pengambilan data adalah survei melalui wawancara Teknik pengamblian sampel menggunakan metode purposive sampling, dengan total sampel 30 petani. Teknik analisis risiko produksi, harga, dan pendapatan menggunakan Coefficient of Variation (CV), sedangkan upaya yang dilakukan petani mengatasi risiko menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Koefisien Variasi (KV) yang menunjukkan risiko produksi kentang dibawah 1, artinya risiko rendah, dimana KV produksi kentang 0,3. Koefisien Variasi (KV) yang menunjukkan risiko harga kentang 0,03. Koefisien Variasi (KV) risiko pendapatan usahatani kentang 0,55. Untuk menghadapi risiko produksi maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida secara berkala untuk meminimalisir serangan hama dan penyakit serta memuat penjadwalan musim tanam dengan acuan perubahan cuaca. Sedangkan untuk menghadapi risiko harga, petani melakukan perbandingan harga dan menjual kepada pengepul dengan harga yang paling sesuai dan menghadapi pendapatan melalui upaya menekan biaya produksi, antara lain melalui pemakaian pupuk kandang sendiri dan memanfaatkan sisa panen sebagai bibit untuk musim tanam selanjutnya.
DAMPAK SISTEM BUDIDAYA TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L.) TERHADAP RESIDU PESTISIDA PROFENOFOS, INDEKS KERAGAMAN DAN KEPADATAN POPULASI MIKROBA TANAH Caroline Veda P; Hudaya Mulyana; Roni Assafaat Hadi; R. Wahyono Widodo
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2852

Abstract

The application of synthetic pesticides to prevent the growth of pests and diseases frequently becomes polemic because of the impact that caused soil health issues.  This research aims to determine the soil’s biological conditions in different cultivation systems.  Data retrieval had taken at CV. Bumi Agro Tech and FamOrganic.  The research was held from May 2022 until October 2022 and used qualitative methods such as interviews and laboratory analyses.  The result shows that Profenophos with an analyte level under 0,0500 ppm is not polluting both soil samples in different cultivation systems.  The organic cultivation system had a diversity index higher than the conventional one, even though qualitatively both samples were categorized as medium level by Shanon-Wiener Classification.  The amount of soil microbes in an organic cultivation system is higher than in a conventional cultivation system -- differences in colonies formed as many as 383,4996 colonies.INTISARIPenggunaan pestisida kimia seringkali menjadi polemik karena dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan tanah.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi biologis tanah dengan sistem budidaya berbeda.  Penelitian dilaksanakan di CV. Bumi Agro Tech dan FamOrganic.  Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Mei 2022 hingga Oktober 2022.  Metode yang digunakan adalah metode kualitatif berupa wawancara serta analisis laboratorium.  Hasil penelitian menunjukkan kedua lahan dengan sistem budidaya berbeda tidak tercemar profenofos dengan kadar analit dibawah LoQ yaitu 0.0500 ppm.  Indeks keragaman mikroba keduanya menunjukkan kriteria sedang sesuai dengan rumus Shanon-Wiener, dengan nilai keragaman lebih tinggi pada tanah sistem budidaya organik.  Jumlah populasi pada tanah organik jauh lebih banyak dengan selisih koloni terbentuk sebanyak 383,4996 koloni.
ANALISIS HUBUNGAN WUJUD FISIK, KEHANDALAN, DAYA TANGGAP, EMPATI, DAN JAMINAN DENGAN MINAT KUNJUNG KEMBALI WISATAWAN PADA AGROWISATA JOLLONG DI KABUPATEN PATI Prima Handa Lestari; Bayu Nuswantara
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.2902

Abstract

In Agrotourism, there must be an increase and decrease in the interest of returning tourists. To overcome these problems, efforts are being made to improve the quality of services in agrotourism. This study has one goal, namely: to analyze the relationship between the dimensions of service quality which includes: physical form, reliability, responsiveness, empathy, and assurance with the interest of returning tourists in Jollong Agrotourism, Pati Regency. This study uses a non-probability sampling approach with a purposive sampling method of 60 respondents. The data analysis technique used is Spearman Rank Correlation Test. The results showed that: The variables of physical form (X1), reliability (X2), responsiveness (X3), empathy (X4), and assurance (X5) were very positively related to the interest in revisiting Jollong Agrotourism tourists.INTISARI Pada Agrowisata pasti mengalami kenaikan dan penurunan minat kunjung kembali wisatawan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, upaya yang dilakukan ialah meningkatkan kualitas pelayanan pada Agrowisata. Dalam penelitian ini mempunyai satu tujuan yaitu: menganalisis hubungan antara dimensi kualitas pelayanan yang meliputi : wujud fisik, kehandalan, daya tanggap, empati dan jaminan dengan minat kunjung kembali wisatawan di Agrowisata Jollong Kabupaten Pati. Penelitian ini menggunakan pendekatan non-probability sampling dengan metode purposive sampling sebanyak 60 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Variabel wujud fisik (X1), kehandalan (X2), daya tanggap (X3), empati (X4), dan jaminan (X5) sangat berhubungan positif dengan minat kunjung kembali wisatawan Agrowisata Jollong.
ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI CABAI MERAH (Studi Kasus di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi) Annisa Lulu; Hamidah Hendrarini; Prasmita Dian Wijayati
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i2.3009

Abstract

 Banyuwangi Regency is the largest chili producer in East Java. Songgon District as one of the areas for the development of various chili plants in synergy with farmers and the Ministry of Agriculture. Sragi Village is an area with more potential for a program to develop various chili plants. It experienced an increase in red chili production in 2019, while other villages experienced stable production figures. Even so, Sragi Village experienced a continuous decline in red chili production and produced the lowest red chili compared to other villages in 2021, namely 0.5 tons. The purpose of this study was to determine: (1) The income level of red chili farming in Sragi Village, Songgon District, Banyuwangi Regency. (2) Feasibility of red chili farming in Sragi Village, Songgon District, Banyuwangi Regency. (3) Factors influencing red chili production in Sragi Village, Songgon District, Banyuwangi Regency. The type of research used in this research is a case study. The sampling technique in this study was carried out using the probability sampling method on 101 red chili farmers. The results of the study show that: (1) The income level of red chili farming in Sragi Village, Songgon District, Banyuwangi Regency is not classified as low. The average red chili farmer's land area is 0.16 ha and the production yield per harvest season is 69,200 kg/harvest season with an average of 1,384 kg/harvest season and the selling price is IDR 35,000/kg. The average total cost incurred IDR 37,562,833/harvest season. The average income received is IDR 2,422,000,000/harvest season with an average of IDR 48,440,000/harvest season. The average income received is IDR 10,877,167/harvest season. (2) Red chili farming in Sragi Village, Songgon District, Banyuwangi Regency is feasible. (3) Factors that influence the production of red chili farming in Sragi Village, Songgon District, Banyuwangi Regency include land area, seeds, fertilizers, pesticides, and capital. The factors that do not affect the production of red chili farming are laborINTISARIKabupaten Banyuwangi merupakan produsen cabai terbesar di Jawa Timur. Kecamatan Songgon sebagai salah satu kawasan untuk pengembangan aneka tanaman cabai dengan sinergi bersama para petani dan Kementerian Pertanian. Desa Sragi merupakan kawasan lebih berpotensi untuk program pengembangan aneka tanaman cabai mengalami penambahan angka produksi cabai merah pada tahun 2019, sedangkan desa lain mengalami kestabilan angka produksi. Walaupun demikian, Desa Sragi mengalami penurunan produksi cabai merah berkelanjutan dan memproduksi cabai merah paling rendah dibandingkan desa lain pada tahun 2021 yaitu 0,5 ton. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui: (1) Tingkat pendapatan usahatani cabai merah di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. (2) Kelayakan usahatani cabai merah di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi cabai merah di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode probability sampling terhadap 101 petani cabai merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat pendapatan usahatani cabai merah di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi tidak tergolong rendah. Rata-rata luas lahan petani cabai merah 0,16 ha dan hasil produksi per musim panen sebesar 69.200 kg/musim panen dengan rata-rata 1.384 kg/musim panen dan harga jualnya Rp 35.000/kg. Total biaya rata-rata yang dikeluarkan Rp 37.562.833/musim panen. Penerimaan rata-rata yang diterima Rp 2.422.000.000/musim panen dengan rata-rata Rp 48.440.000/musim panen. Pendapatan rata-rata yang diterima Rp 10.877.167/musim panen. (2) Usahatani cabai merah di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi layak diusahakan. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi usahatani cabai merah di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi meliputi luas lahan, benih, pupuk, pestisida, dan modal. Faktor faktor yang tidak berpngaruh terhadap produksi usahatani cabai merah yaitu tenaga kerja.

Page 69 of 139 | Total Record : 1386