cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
ISSN : 23557206     EISSN : 25988190     DOI : -
Journal of Meteorology Climatology and Geophysics (Journal of MKG) is a scientific journal as a means of communication to report the results of research in the field of meteorology, climatology, air quality, geophysics, environment, disaster, and related instrumentation. This scientific journal is published every four months of the year.
Arjuna Subject : -
Articles 107 Documents
RELOKASI DAN KLASIFIKASI GEMPABUMI UNTUK DATABASE STRONG GROUND MOTION DI WILAYAH JAWA TIMUR Mahendra, Rian; Supriyanto, FNU; Rudyanto, Ariska
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan database strong ground motion merupakan bagian penting dalam perkiraan tingkat bencana seismik. Ground Motion Prediction (GMPE) membutuhkan database gempabumi yang akurat untuk mendapatkan hasil yang optimal. Relokasi terhadap database gempabumi diharapkan mampu memberikan parameter lokasi dan magnitude gempa yang lebih baik. Metode Double Difference dipilih sebagai metode dalam relokasi lokasi episenter dan kedalaman. Parameter lain yang digunakan dalam database ground motion adalah tipe gempabumi, yaitu interface, intraslab, dan crustal. Klasifikasi tipe gempabumi dilakukan dengan melihat posisi hiposenter terhadap model slab subduksi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kejadian gempabumi dengan batasan wilayah 6° – 12° LS dan 106° – 118°BT dan M ≥ 5 pada periode 2009- 2015. Melalui relokasi dengan Double Difference diperoleh nilai Root Mean Square yang lebih kecil dibandingkan sebelum relokasi, sehingga parameter gempabumi yang diperoleh bisa dikatakan lebih baik. Klasifikasi tipe gempabumi dengan cara manual menunjukkan bahwa sebagian besar gempabumi di database merupakan gempabumi intraslab. Kata Kunci: Double Difference, Intraslab, Interface, Crustal
PERANCANGAN PERALATAN UNTUK PENGUKURAN RADIASI GELOMBANG PENDEK MATAHARI Sashiomarda, Jihand Aulia; Prabowo, Djoko
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radiasi matahari merupakan salah satu parameter yang penting dalam pengukuran kenaikan pengaruh aktivitas manusia terhadap atmosfer oleh Global Atmosphere Watch (GAW) dikarenakan semakin tinggi potensi pemanasan global. Radiasi matahari dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu radiasi gelombang pendek dan radiasi gelombang panjang. Dalam penelitian ini dirancang dan dibuat Sistem Monitoring Radiasi Gelombang Pendek Cahaya Matahari yang terdiri dari komponen radiasi secara global dan radiasi secara difusi. Sensor utama yang digunakan adalah Termopile yang akan mengukur intensitas radiasi gelombang pendek cahaya matahari. Sensor pelengkap yang digunakan adalah sepasang Light Dependent Resistor (LDR) yang digunakan untuk solar tracker untuk menggerakkan shadow band pada komponen radiasi secara difusi. Hasil pengukuran dari alat ini berupa tegangan yang diolah dan dikonversi oleh mikrokontroller ATMega2560 menjadi satuan radiasi matahari Watt/m2 dengan menggunakan nilai sensitifitas yang diperoleh dari kalibrasi pyranometer standar di laboratorium kalibrasi BMKG. Hasil pengukuran diuji dengan pyranometer di Stasiun Klimatologi Semarang dengan metode korelasi sederhana untuk mengetahui tingkat kedekatan antara dua alat tersebut. Kata kunci : Radiasi Matahari, Gelombang Pendek, Pyranometer, Termopile,
KAJIAN GANGGUAN CUACA PADA KEJADIAN HUJAN LEBAT DI BATAM (Studi Kasus Tanggal 19 Desember 2014) Prakoso, Adhitya; Kristianto, Aries
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memasuki bulan Desember curah hujan di Pulau Batam mengalami masa puncak. Kejadian hujan lebat yang terjadi di Batam pada tanggal 19 Desember 2014 telah menyebabkan banjir dan menimbulkan kerugian materi lainnya. Curah hujan yang melebihi 100 milimeter di suatu wilayah, memberikan indikasi adanya faktor gangguan cuaca signifikan yang berperan dalam pembentukan suatu sistem awan konvektif yang besar dan luas. Analisis cuaca skala regional dan lokal dilakukan untuk mengidentifikasi gangguan cuaca yang berperan pada kejadian tersebut. Berdasarkan hasil olahan data observasi curah hujan, data udara atas Changi Singapura, satelit MT-SAT, dan data reanalisis Era Interim ECMWF, hujan lebat tanggal 19 Desember 2014 disebabkan karena adanya gangguan pada pola angin di sekitar Kalimantan yang dikenal dengan sebutan Borneo Vortex. Hujan lebat ini juga didukung oleh aktifnya aliran seruak dingin dari daratan Asia. Kata kunci : hujan lebat, Borneo Vortex, monsun dingin Asia
SIMULASI ANGIN LAUT TERHADAP PEMBENTUKAN AWAN KONVEKTIF DI PULAU BALI MENGGUNAKAN WRF-ARW (Studi Kasus 20 Februari 2015) Yushar, Rahma Fauzia; Hariadi, FNU
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tanggal 21 Februari 2015, berdasarkan laporan BPBD Bali telah dilaporkan bahwa terjadi banjir di wilayah Denpasar. Pulau Bali merupakan pulau berbatasan langsung dengan laut. Hal ini mempengaruhi kondisi cuaca di Pulau Bali karena adanya sirkulasi diurnal angin laut dan angin darat karena adanya perbedaan panas antara lautan dan daratan yang mempengaruhi pertumbuhan awan hujan yang dapat menyebabkan banjir. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah simulasi kejadian angin laut dan angin darat serta komparasi antara keluaran WRF dengan data observasi. Parameter yang dikeluarkan adalah RH, angin, CAPE, dan hujan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa sirkulasi angin laut dan angin darat tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan awan konvektif di daerah Bali dilihat dari jam aktif angin laut dan masih perlu adanya uji parameterisasi lebih lanjut untuk daerah Bali. Kata Kunci: Angin Laut, WRF
KARAKTERISTIK GELOMBANG LAUT DIPERAIRAN KEPULAUAN RIAU Saputro, Hari; Mulsandi, Adi
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informasi meteorologi kelautan dan Informasi klimatologi kelautan berupa gelombang laut sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam aktifitas pelayaran Kepulauan Riau merupakan salah satu jalur pelayaran yang cukup ramai. Berbagai kegiatan ekonomi antar pulau bahkan antar negara sebagian besar mengandalkan transportasi laut yang melintasi kepulauan Riau. Untuk menggambarkan karakteristik gelombang, BMKG menggunakan parameter gelombang signifikan dan maksimum. Oleh karena itu dalam penelitian ini karakteristik gelombang di wilayah kepulauan Riau juga digambarkan dengan menggunakan parameter yang sama yaitu gelombang signifikan dan maksimum. Parameter gelombang yang disajikan dalam penelitian ini dihasilkan dari model gelombang windwave. Untuk mengetahui karakteristik gelombang secara musiman, simulasi gelombang disajikan secara bulanan. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa, karateristik gelombang di kepulauan Riau berkaitan dengan pola angin musiman. Pada saat masa peralihan (SON) ratarata tinggi gelombang lebih tinggi dibanding pada saat monsun Asia dan Australia (DJF dan JJA). Pada saat masa peralihan (SON), puncak rata-rata gelombang tertinggi terjadi pada bulan Oktober bisa mencapai 5 meter. Sedangkan pada monsun Asia, puncak rata-rata gelombang tertinggi terjadi pada bulan Desember yang mencapai 3.5 meter, dan pada monsun Australia, puncak rata-rata gelombang tertinggi terjadi pada bulan Juli yang mencapai 2.5 meter. Kata kunci : Kepulauan Riau, Gelombang Laut, Monsun
ANOMALI SINYAL SEBELUM GEMPABUMI CILACAP (Mw 6.7 SR) 2011 YANG TERDETEKSI OLEH SUPERCONDUCTING GRAVIMETER DAN BROADBAND SEISMOMETER (LHZ) Rachmadi, Fajar P; Yusuf, Mahmud
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan nilai gravity terkadang terlihat sebelum terjadinya gempabumi signifikan. Dengan menggunakan rekaman 1 SG dan 2 Broadband Seismometer (LHZ), kami meneliti gempabumi di Cilacap (Mw 6.7) pada tahun 2011. Pengaruh pasang surut dihilangkan terlebih dahulu dari rekaman asli SG untuk mendapatkan nilai residual gravity. Selanjutnya seismometer (LHZ) harus diturunkan terhadap waktu untuk mendapatkan unit yang sama dengan SG yakni satuan percepatan. Dengan mengaplikasikan fungsi spectrogram pada Matlab 2013 untuk residual gravity dari SG dan seismometer setelah diturunkan terhadap waktu, didapatkan anomali sekitar 6 jam sebelum terjadinya gempabumi tersebut. Frekuensi dari anomali yang terekam oleh SG memiliki rentang antara 0.01 Hz hingga 0.20 Hz. Frekuensi ini berasosiasi dengan akumulasi stress dari nukleasi gempabumi utama. Dari lain aspek, frekuensi anomali yang terekam oleh Seismometer (LHZ) yakni sekitar 0.1 Hz – 0.45 Hz. Kami berkesimpulan bahwa SG dapat merekam informasi signifikan dari sumber gempabumi dalam mendeteksi anomali sinyal sebelum gempabumi utama. Kata Kunci : Superconducting Gravimeter, Prekursor, Gempabumi
FORMULA EMPIRIS PENENTUAN MAGNITUDO MENGGUNAKAN TIGA DETIK PERTAMA GELOMBANG P (STUDI KASUS STASIUN CISI, GARUT – JAWA BARAT) Himawan, Azhari; Marsono, Agus; Muzli, M
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi bencana gempabumi. Salah satu wilayah yang cukup rawan adalah Jawa Barat. Wilayah ini tercatat beberapa kali diguncang gempabumi yang cukup besar. Penentuan magnitudo dengan menggunakan fase awal gelombang diperlukan untuk membangun Earthquake Early Warning System (EEWS) di Indonesia. Studi ini menganalisis waveform gempa yang tercatat di stasiun Cisomped (CISI). Waveform kecepatan difilter dengan variasi cut-off yang nilainya 0,05; 0,075; 0,1; 0,5; dan 1 Hz, dan diintegrasi untuk mendapat sinyal displacement. Magnitudo dihitung dengan menggunakan amplitudo maksimum tiga detik pertama (MPd). Studi ini menghasilkan rumusan formula penghitungan MPd untuk tiap-tiap cut-off. Untuk gempa besar, dengan menggunakan variasi cut-off tersebut dihasilkan nilai MPd yang mendekati magnitudo (MCat) yang dikeluarkan GFZ untuk cut-off 0,05; 0,075; dan 0,1 Hz. Untuk cut- off 0,5 dan 1 Hz menghasilkan nilai yang jauh berbeda dengan selisih mencapai 0,9. Sedangkan untuk gempa kecil menghasilkan nilai MPd yang bervariasi. Kata kunci : magnitudo, filter, cut-off, tiga detik
RANCANG BANGUN ALAT PENGUKUR SUHU, KELEMBABAN DAN TEKANAN UDARA PORTABLE BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA16 Putera, Augsto Pramana; Toruan, Kanton Lumban
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengamatan parameter cuaca adalah aktifitas rutin bagi para observer, baik dengan alat-alat konvensional ataupun secara otomatis dengan bantuan alat digital. Masing-masing metode pengamatan mempunyai kelemahan dan kelebihannya tersendiri. Alat otomatis mempermudah pengamat dalam pengumpulan data, terutama saat melakukan pengamatan diluar taman alat dan berpindah lokasi. Alat portable memiliki kelebihan dalam ukuran dan efektifitas penggunaan tanpa mengurangi keandalan seperti alat-alat konvensional. Dalam penelitian ini dirancang dan dibuat sebuah alat portable pengukur suhu, kelembaban dan tekanan udara. Keluaran dari alat ini adalah pembacaan suhu, kelembaban dan tekanan udara secara realtime yang ditampilkan di LCD dengan pewaktuan dari RTC dan dapat dikirim ke komputer untuk keperluan penyimpanan data. Kata kunci: ATMega16, sensor, cuaca, portable
ANALISIS VERTICAL WIND SHEAR DAN BUOYANCY TERHADAP PERTUMBUHAN AWAN CUMULONIMBUS DI STASIUN METEOROLOGI JUANDA SURABAYA Zakir, Achmad; Hakim, Oky Sukma
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vertical wind shear dan buoyancy adalah faktor ilmiah meteorologi yang terkait dengan pertumbuhan awan konvektif seperti awan cumulonimbus, jenis awan ini umumnya membahayakan khususnya bagi keselamatanpenerbangan. Vertical wind shear diidentifikasi pada lapisan atas dan lapisan bawah yang dikorelasikan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus kemudian disimulasikan dengan dengan menggunakan data hasil olahan citra radar. Untuk menggetahui keterkaitan antara vertical wind shear dan buoyancy terhadap pertumbuhan awan Cumulonimbus dilakukan penelitian pada tahun 2014 di stasiun meterorologi Juanda Surabaya.. Hasil penelitian ini menunjukan hubungan vertical wind shear dan buoyancy terhadap pertumbuhan awan Cumulonimbus adalah linear positif. Hasil kombinasi vertical wind shear dan buoyancy memberikan hubungan yang lebih baik terhadap pertumbuhan awan Cumulonimbus. Identifikasi secara spasial menunjukan vertical wind shear dan pertumbuhan awan Cumulonimbus terbentuk pada lokasi yang presisi, dengan kenaikan intensitas yang sebanding.
ANALISIS TRANSPORT UAP AIR DI KUPANG SAAT TERJADI SIKLON TROPIS NARELLE Dewi, Aprilia Mustika; Kristianto, Aries
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia yang terletak di daerah ekuator antara 70 lintang Utara dan 100 lintang Selatan jarang dilewati oleh siklon tropis namun Indonesia terkena dampak saat siklon tropis terjadi baik di Belahan Bumi Selatan (BBS) dan Belahan Bumi Utara (BBU). Perairan selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan lintasan dari siklon tropis Narelle yang berdampak langsung terhadap intensitas curah hujan. Salah satu unsur dari pembentukan awan dan hujan yaitu dipengaruhi oleh pergerakan transpor uap air. Saat siklon tropis Narelle bergerak mendekati wilayah NTT tercatat curah hujan di Kupang mencapai 193 mm. Analisis yang dilakukan yaitu meliputi distribusi uap air dihitung pada lapisan 1000-300 mb, 1000-700 mb, 700-500 mb dan 500 -300 mb, analisis total colom water, analisis suhu puncak awan secara spasial dan temporal, analisis vertikal velocity, relative humidity dan divergensi dari model reanalisis ECMWF. Berdasarkan analisis data-data yang dilakukan kenaikan curah hujan di Kupang terjadi saat siklon tropis Narelle tumbuh pada kategori tekanan rendah di laut Timor , dan saat kecepatan angin rata-rata maksimumnya sebesar 23 knot memberi dampak terhadap kenaikan intensitas curah hujan karena pusaran siklonik dengan intensitas uap air yang tinggi dan bergerak ke barat mendekati Kupang.

Page 2 of 11 | Total Record : 107