cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
ISSN : 23557206     EISSN : 25988190     DOI : -
Journal of Meteorology Climatology and Geophysics (Journal of MKG) is a scientific journal as a means of communication to report the results of research in the field of meteorology, climatology, air quality, geophysics, environment, disaster, and related instrumentation. This scientific journal is published every four months of the year.
Arjuna Subject : -
Articles 107 Documents
ANALISIS KONDISI ATMOSFER MCC (MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX) DI JAKARTA (STUDI KASUS 24 SEPTEMBER 2016) Fatmasari, Devi; Swastiko, Wishnu Agum; Ismail, Prayoga
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.85 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i2.43

Abstract

Mesoscale Convective Complex (MCC) merupakan gugusan awan konvektif berskala meso. Pada 24 September 2016 terbentuk MCC di wilayah Jakarta dengan masa hidup dari pukul 09.00 hingga 12.00 UTC. Fenomena MCC tersebut menghasilkan hujan yang berlangsung cukup lama dan bersifat terus-menerus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi atmosfer saat terjadinya MCC di Jakarta pada 24 September 2016. Dengan menggunakan metode berupa analisis dinamika atmosfer menggunakan data reanalisis ERA Interim berupa parameter vortisitas, divergensi, dan kelembaban vertikal. Kemudian analisis streamline, analisis fenomena meteorologi, analisis parameter konvektif dengan menggunakan data sounding Stasiun Meteorologi Cengkareng, dan analisis citra satelit Himawari. Dari analisis streamline terdapat area tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah selatan Jawa. Berdasarkan analisis yang dilakukan, maka didapatkan vortisitas lapisan 500 mb pada pukul 06.00 UTC bernilai negatif yang mengindikasikan adanya sirkulasi siklonik pada troposfer bagian tengah, divergensi lapisan 850 mb pada pukul 06.00 UTC bernilai negatif mengindikasikan terdapat aliran konvergensi di troposfer bagian bawah. Kelembaban udara vertikal pada pukul 06.00 UTC bernilai tinggi yaitu berkisar 80-100%. Pada 24 September 2016 terpantau MJO fase 5 yang mengindikasikan wilayah Indonesia mendapat pasokan uap air hangat dan lembab, berkombinasi dengan indeks Dipole Mode yang bernilai negatif kuat yang mengindikasikan adanya konvergensi di Samudera Hindia sebelah barat Indonesia terjadi karena suhu muka laut lebih hangat. Parameter konvektif yaitu LI, KI, SWEAT dan CAPE menunjukkan angka yang mengindikasikan adanya aktivitas konveksi dikarenakan keadaan amosfer yang labil. Semua kondisi tersebut mendukung terbentuknya sistem konvektif berskala meso berupa MCC, yang dapat diamati pada citra satelit Himawari dari pukul 09.00-12.00 UTC yang memperlihatkan adanya gugusan awan Cumulonimbus dengan suhu puncak -80 0C dan berdiameter sekitar 200 km, yang bercampur dengan awan jenis lain. Sehingga, MCC tersebut tergolong pada MCS kategori beta.
IDENTIFIKASI TRAJEKTORI DEBU VULKANIK LETUSAN GUNUNG GAMALAMA DENGAN HYSPLIT DAN METODE RGB PADA CITRA SATELIT HIMAWARI 8 Ryan, Muhammad; Pratama, Khafid Rizki
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.957 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i2.44

Abstract

Kejadian letusan gunung berapi di wilayah Indonesia mengakibatkan dampak yang signifikan terhadap kondisi atmosfer khususnya sebaran debu vulkanik. Adanya sebaran debu vulkanik ini sangat membahayakan dalam dunia penerbangan. Jika dideteksi ada sebaran debu vulkanik pada rute penerbangan, bisa menyebabkan pengalihan rute penerbangan dan penutupan bandara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi trajektori debu vulkanik letusan gunung Gamalama pada tanggal 3 Agustus 2016. Dalam identifikasi debu vulkanik menggunakan model numerik Hysplit dan metode RGB pada citra satelit Himawari 8 dengan kanal IR2, IR4 dan VIS. Keluaran model pada Hysplit merupakan sistem pemodelan untuk menghitung trajektori parsel udara sederhana dengan pedekatan Lagrangian dan metode Eulerian. Hasil model Hysplit menghasilkan trayek sebaran debu vulkanik gunung Gamalama kearah tenggara hingga selatan pada level permukaan dan kearah barat laut pada level ketinggian maksimum 60000 feet dengan konsentrasi partikel mencapai sekitar >1000 mg/m2. Hasil identifikasi citra satelit Himawari 8 dengan metode RGB menggunakan gabungan 3 variasi citra kanal menunjukkan sebaran debu vulkanik mengarah kearah barat laut dengan luasan partikel yang hampir menutupi sebagian wilayah Ternate. Perbandingan terhadap model Hysplit dan metode RGB pada citra satelit Himawari 8 menghasilkan output yang hampir sama. Hal ini dikarenakan hasil metode RGB citra satelit jam 15.00 UTC pada wilayah tersebut terjadi pertumbuhan awan dan gangguan sekitar sehingga tertutup awan dan sulit untuk mendeteksi sebaran debu vulkanik.
RANCANG BANGUN SISTEM PERINGATAN DINI BANJIR BERBASIS SENSOR ULTRASONIK DAN MIKROKONTROLER SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN BANJIR Umari, Citra; Anggraini, Eci; Muttaqin, Rofif Zainul
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.173 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i2.45

Abstract

Peristiwa banjir yang terjadi seringkali menimbulkan permasalahan yang dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit nilainya. Tidak adanya sistem peringatan dini saat bencana banjir membuat masyarakat menjadi kurang waspada. Pada penelitian ini dirancang sistem deteksi banjir yang bekerja secara otomatis dengan cara mengetahui ketinggian (level) permukaan air. Sistem pemantauan ketinggian permukaan air ini dilakukan dengan mengimplementasikan sensor ultrasonik berbasis mikrokontroler yang akan mengetahui ketinggian permukaan air yang dibuat pada level-level tertentu. Apabila ketinggian air mencapai batas tertentu sistem akan membunyikan buzzer yang akan memberikan peringatan kepada sekitarnya. Sistem ini terhubung dengan LCD yang akan menampilkan data ketinggian air dan ditampilkan secara realtime pada komputer. Dengan adanya peringatan tersebut, masyarakat dapat lebih waspada terhadap bencana banjir yang terjadi.
PENDUGAAN KARAKTERISTIK AWAN BERDASARKAN DATA SPEKTRAL CITRA SATELIT RESOLUSI SPASIAL MENENGAH LANDSAT 8 OLI/TIRS (STUDI KASUS: PROVINSI DKI JAKARTA) Kristanto, Yudha; Agustin, Tiara; Muhammad, Fadhlil Rizki
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.899 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i2.46

Abstract

Pendugaan karakteristik awan wilayah sangat penting bagi keilmuan atmosfer. Penelitian ini menerapkan interpretasi digital dan visual dalam menentukan karakteristik awan wilayah Jakarta menggunakan data penginderaan jauh satelit. Data diperoleh dari satelit pengindera sumberdaya alam seri Landsat terbaru yaitu Landsat 8 OLI/TIRS. Data masukan yakni spectral radiance dari citra satelit kanal tampak mata 4 dan 5, kanal 6 inframerah dekat, serta kanal inframerah termal 10 dan 11. Interpretasi awan menggunakan kanal tampak mata 4 dan 5, kanal 6 inframerah dekat Landsat 8 OLI untuk mengidentifikasi kelas awan yang dihasilkan melalui klasfikasi citra secara terbimbing. Kanal inframerah termal digunakan untuk menduga suhu permukaan awan dan suhu daratan di bawah awan. Data suhu awan dan suhu permukaan daratan dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik awan berdasarkan ketinggian menggunakan persamaan dry adiabatic lapse rate. Karakteristik awan berdasarkan ketebalan, volume, dan massa air yang terkandung pada awan diturunkan dengan persamaan saturated adiabatic lapse rate. Setelah sampel awan dikelompokkan berdasar ketinggian yang sama, interpretasi selanjutnya dilakukan dengan interpretasi visual untuk menentukan karakteristik awan berdasarkan bentuk menggunakan kombinasi kanal 4, 5, dan 6 Landsat 8 OLI. Analisis karakteristik awan menggunakan wilayah DKI Jakarta dengan musim penghujan dari data bulan Januari dan bulan Agustus untuk mewakili musim kemarau. Hasil analisis karakteristik awan di wilayah DKI Jakarta saat musim penghujan didominasi oleh bentuk awan yang heterogen, mulai dari awan rendah hingga tinggi. Berbeda dengan musim penghujan, tutupan awan pada musim kemarau didominasi oleh bentuk awan yang homogen yaitu awan rendah di atas wilayah DKI Jakarta. Informasi tutupan awan dan perbedaannya pada kedua musim di DKI Jakarta ini dapat menjadi gambaran secara umum kondisi cuaca di wilayah tropis dengan tingkat evaporasi tinggi maupun wilayah tropis di pesisir pantai. Kajian awan dapat dimanfaatkan dalam bidang hidrometeorologi seperti pendugaan pola cuaca dan pola curah hujan wilayah, serta peringatan dini terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi.
KATARA: MODEL HIDROLOGI BERBASIS AGEN (AGENT- BASED MODELLING) UNTUK ANALISIS BANJIR DI DAS CILIWUNG Condro, Aryo Adhi; Widagdo, Ilham Bayu
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 3 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.691 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i3.47

Abstract

Agent-Based Modelling (ABM) merupakan sebuah metode yang dapat menjelaskan sistem secara kompleks dengan sebuah agen yang berperan sebagai individu atau objek yang memiliki orientasi dan aksi tertentu dalam mempengaruhi lingkungan model. KATARA merupakan model hidrologi yang dikembangkan berbasis metode ABM tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah membangun model KATARA dan mengaplikasikanya dalam analisis banjir di DAS Ciliwung. Model KATARA ini dibangun dengan resolusi spasial sebesar 100 x 100 m dan dijalankan dalam skala temporal harian. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data spasial dalam format ASCII (data tutupan lahan dan data model elevasi) dan data tabular dalam format CSV (i.e.parameter tutupan lahan, parameter cuaca, dan parameter sifat tanah). Interaksi permukaan dengan atmosferdiadopsi berdasarkan konsep dari GenRiver yang mampu menjelaskan proses dinamika hidrologi dengan baik(process based). Air hujan yang menjadi limpasan akan berperan sebagai agen dan mengalir sesuai topografi (patch) yang dilewatinya sehingga sebaran spasial air permukaan dapat terdeteksi secara eksplisit (spatially-explicit). Hasil simulasi model KATARA sesuai dengan tujuan utama pembangunan model, yaitu dapat menjelaskan dinamika interaksi antara atmosfer dan permukaan (process based), dan output model dapat dipahami secara spasial (spatially-explicit). Analisis temporal dan spasial pada hasil simulasi model juga mempunyai similaritas yang tinggi dengan data observasi lapang.
PEMANFAATAN TEKNIK RGB PADA CITRA SATELIT HIMAWARI-8 UNTUK ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER KEJADIAN BANJIR LAMPUNG 20 - 21 FEBRUARI 2017 Paski, Jaka Anugrah Ivanda; Sepriando, Alpon; Pertiwi, Dyah Ajeng Sekar
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 3 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.46 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i3.48

Abstract

Teknik RGB (Red-Green-Blue) merupakan salah satu teknik intepretasi citra satelit dengan mengombinasikan beberapa kanal secara tumpang tindih warna merah, hijau dan biru untuk menyajikan informasi yang lebih mudah dipahami. Teknik RGB dapat digunakan dalam kajian analisis cuaca, terutama untuk mengidentifikasi kondisi khusus seperti bencana hidrometeorologi. Kejadian banjir pada tanggal 20 - 21 Februari 2017 yang merendam sekurangnya 7 kabupaten dan 1 kota di Provinsi Lampung yang dindikasikan terjadi karena hujan ekstrim yang merata di wilayah Lampung. Hasil pelaporan curah hujan di stasiun Klimatologi Masgar terukur 107.0 mm/hari, Pos Pengamatan Politeknik Negeri Lampung terukur 159.6 mm/hari dan Pos Pengamatan Kemiling Bandar Lampung terukur 154.0 mm/hari dimana curah hujan termasuk dalam kategori hujan sangat lebat BMKG (> 100 mm/hari). Hasil analisis kondisi regional menunjukan adanya tekanan udara rendah di barat lampung dan daerah konvergensi serta shearline di Lampung bagian barat dan tengah. Analisis citra satelit menunjukan adanya kumpulan awan dengan suhu puncak yang sangat dingin, teknik RGB menggunakan identifikasi mikrofisis atmosfer pada malam hari (Night Microphysics) dan sebaran massa udara (Air Mass) menunjukan adanya proses mikrofisis yang intensif serta aliran massa udara penyebab awan hujan yang tumbuh dan meluas di wilayah Lampung sebelum dan saat terjadinya banjir. Hasil produk olahan HCAI (Highresolution Cloud Analysis Information) menunjukan awan didominasi oleh awan Comulonimbus (Cb) dan awan konvektif padat (Dense Cloud).
ANALISIS SIKLON TROPIS NOCK-TEN BERBASIS DATA SATELIT HIMAWARI Ismail, Prayoga; Hidayat, Nizar Manarul; Siadari, Ejha Larasati
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 3 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.078 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i3.49

Abstract

Siklon tropis Nock-Ten yang melintasi Filipina pada 25-26 Desember 2016 termasuk dalam kategori super taifun. Dalam skala meteorologi, siklon tropis termasuk dalam fenomena berskala sinoptik. Dampak yang ditimbulkan dapat memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah Indonesia, terutama siklon tropis yang terbentuk di perairan Samudera Pasifik Barat Daya dan Samudera Hindia sebelah utara Australia. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemantauan aktivitasnya karena berpengaruh pada dinamika atmosfer yang memicu angin kencang dan tumbuhnya awan hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan, pergerakan, danintensitas Taifun Nock-Ten dengan menggunakan data satelit Himawari 8 kanal IR1. Metode yang digunakan berupa analisis indeks konvektif dengan menggunakan data TBB (Temperature of black body) sebagai suhu puncak awan dan metode pengamatan visual berbasis teknik Dvorak untuk memantau pertumbuhan dan pergerakan siklon, dan untuk mendapatkan T-Number yang dapat digunakan untuk memprakirakan intensitasnya berupa kecepatan angin maksimum dan tekanan minimum pusat siklon. Berdasarkan analisis suhu puncak awan dari siklon tropis Nock-Ten didapatkan nilai indeks konvektif yang tinggi yaitu berkisar dari 49.9 hingga 74.4. Siklon tropis Nock-Ten memiliki masa hidup 8 hari, terbentuk di Samudera Pasifik sebelah utara Papua berupa MCS (Mesoscale Convective System) pada 20 Desember 2016 yang berpropagasi ke barat dan punah pada 28 Desember 2016. Intensitas maksimum terjadi pada 25 Desember 2016 pukul 00.00 UTC dengan T-Number mencapai 7.0 dengan nilai prakiraan kecepatan angin maksimum mencapai 140 knots dan tekanan udara minimum mencapai 898 hPa, setara dengan siklon tropis kategori 5 skala Saffir-Simpson.
KAJIAN WAKTU HIDUP DAN PERGERAKAN AWAN KONVEKTIF BERBASIS CITRA RADAR DAN MODEL ECMWF Anggoro, Mochammad Donny; Pramujo, Bagus
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 3 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1297.296 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i3.50

Abstract

Awan sebagai aktor dalam dinamika atmosfer, penting untuk dipahami terutama awan konvektif. Data radar digunakan untuk menunjukkan karakteristik awan konvektif yang menghasilkan hujan es dan hujan lebat dengan metode digitasi dan metode life history. Nilai VIL maksimum dari studi kasus hujan es di Bogor adalah 45 kg/m2, reflektivitas maksimum sebesar 65 dBz mencapai ketinggian 9 km pada jam 15.12 WIB. Three Body Scatter Spike (TBSS) muncul sebagai penanda akan terjadinya proses hujan es. Pertumbuhan awan konvektif yang menghasilkan hujan es 5 Juli 2016 di Bogor terjadi selama 140 menit. Tahap cumulus terjadi selama 33 menit, tahap matang terjadi selama 80 menit, dan tahap dissipasi terjadi selama 27 menit. Awan konvektif bergerak dari arah Tenggara-Selatan disebabkan oleh faktor regional dengan kecepatan 12-18 knot. Kelembapan udara 85-90% berada di lapisan 840 mb-810 mb. Nilai VIL maksimum dari kasus hujan lebat adalah 5 kg/m2 dan reflektivitas maksimum sebesar 58 dBz. Pertumbuhan awan konvektif yang menghasilkan hujan lebat 16 Februari 2016, terjadi selama 220 menit. Tahap cumulus terjadi selama 30 menit, tahap matang terjadi selama 150 menit, tahap dissipasi terjadi selama 40 menit. Awan konvektif bergerak dari arah Barat Laut yang disebabkan oleh faktor regional dengan kecepatan 5-10 knot. Kelembapan udara lebih dari 95% berada di lapisan 400 mb-200 mb.
PROYEKSI KESESUAIAN AGROKLIMAT TANAMAN PADI BERDASARKAN SKENARIO REPRESENTATIVE CONCENTRATION PATHWAYS (RCP)4.5 DAN RCP8.5 DI PROVINSI JAWA TIMUR Marsitha Barung, Femmy; Suwandi, Suwandi
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 3 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.511 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i3.51

Abstract

Untuk menyediakan dukungan sains melawan dampak dari perubahan iklim, analisis kesesuaian iklim hingga masa depan perlu dilakukan agar perencanaan penanaman padi di Jawa Timur terencana dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kesesuaian agroklimat tanaman padi menggunakan skenario RCP4.5 dan RCP8.5 dengan model CSIRO resolusi 25 km dengan periode sekarang (baseline) tahun 1996-2005 dan periode proyeksi, yaitu Future 1 (2021-2030) dan Future 2 (2031-2040). Data observasi yang digunakan adalah curah hujan bulanan untuk menentukan tipe iklim Oldeman, suhu udara rata-rata bulanan, dan ketinggian tempat pada setiap titik pengamatan yang mewakili ZOM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibawah skenario RCP4.5 pada Future 1, faktor iklim tidak menjadi hambatan bagi petani karena didominasi oleh S1 sedangkan pada Future 2 dan dibawah skenario RCP8.5 pada kedua periode, faktor iklim menjadi halangan bagi petani sehingga memerlukan tambahan masukan baik irigasi maupun teknologi pada kedua periode di masa depan karena terdapat penambahan kondisi S3 dan N.
PROTOTIPE WIND TUNNEL SEBAGAI KALIBRATOR ANEMOMETER PROTOTYPE WIND TUNNEL AS CALIBRATOR ANEMOMETER Maulana Aliva, Muhammad Reza; Nugroho, Hapsoro Agung
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 3 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.153 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i3.52

Abstract

Informasi kecepatan angin merupakan salah satu parameter yang diperlukan BMKG yang diukur dengan menggunakan anemometer. Oleh karena itu diperlukan kalibrasi terhadap anemometer agar menghasilkan data kecepatan angin yang tepat dan akurat dengan menggunakan wind tunnel. Wind tunnel atau terowongan angin adalah suatu alat untuk melakukan studi dan penelitian mengenai interaksi antara gerakan udara dengan benda-benda yang ada didalam aliran udara. Wind Tunnel dalam kalibrasi perlatan meterorologi adalah alat kalibrator untuk kecepatan angin yang dapat menghasilkan angin laminar yang kecepatannya dapat dikontrol sehingga dapat digunakan untuk kalibrasi sensor kecepatan angin. Penelitian ini dilakukan untuk perancangan prototipe wind tunnel, dimana profil kecepatan angin diukur untuk mengetahui intensitas turbulensi dengan mengendalikan kecepatan motor kipas pada wind tunnel. Perancangan prototipe ini bertujuan untuk menunjang kegiatan belajar praktek kalibrasi peralatan meteorologi di STMKG agar taruna/i mengetahui proses kalibrasi anemometer menggunakan wind tunnel. Wind tunnel hasil rancangan dan implementasi memiliki panjang total 150 cm dengan intensitas tubulensi antara 3.11 % sampai 6.55 %. Anemometer Casella dengan nilai koreksi 0.05 m/s setelah proses kalibrasi digunakan sebagai standar dalam melakukan proses kalibrasi.

Page 4 of 11 | Total Record : 107