cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
ISSN : 23557206     EISSN : 25988190     DOI : -
Journal of Meteorology Climatology and Geophysics (Journal of MKG) is a scientific journal as a means of communication to report the results of research in the field of meteorology, climatology, air quality, geophysics, environment, disaster, and related instrumentation. This scientific journal is published every four months of the year.
Arjuna Subject : -
Articles 107 Documents
KAJIAN POTENSI ENERGI ANGIN DI WILAYAH KALIMANTAN BARAT Setiawati, Firsta Zukhrufiana; Hajar F, Auliyaa; Wandayantolis, Wandayantolis
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki banyak sumber energi alternatif, salah satunya adalah angin. Energi angin dipandang sebagai salah satu energi alternatif yang layak dikembangkan untuk mendudukung kebutuhan listrik Kalimantan Barat yang semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi energi angin sebagai pembangkit listrik di wilayah Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode pembagian distribusi frekuensi arah dan kecepatan angin yang kemudian dihitung potensi energi anginnya berdasarkan data observasi manual UPT BMKG wilayah Kalimantan Barat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan metode tersebut, dapat disimpulkan bahwa syarat untuk menghasilkan potensi energi angin dengan kecepatan angin ratarata harian >2.5 m/s tidak terpenuhi. Namun dengan kecepatan angin rata-rata harian yang dihasilkan, masih dapat menghasilkan daya listrik sebesar 290.6 - 2614813.9 Watt day/year dan dapat diaplikasikan untuk penguunaan beberapa peralatan rumah di kabupaten/kota, Mempawah, Kubu Raya dan Ketapang provinsi Kalimantan Barat.
DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX (MCC) DI INDONESIA SELAMA PERIODE MJO MENGGUNAKAN CITRA SATELIT Muhlis, Ahmad; Mulsandi, Adi
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu jenis MCS yang terbesar adalah Mesoscale Convective Complex (MCC). Identifikasi MCC dilakukan dengan menggunakan citra satelit infra merah sesuai dengan kriteria dari Maddox (1980) serta Miller dan Fritsch (1991). Penelitian dilakukan selama satu periode MJO meliputi fase 1 sampai 8 pada 17 Januari hingga 16 Februari 2017. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik MCC yang terjadi di wilayah Indonesia serta distribusi spasial dan temporal dari MCC selama periode MJO berlangsung. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa MCC muncul sepanjang fase MJO dengan kemunculan terbanyak pada fase kedua. Keberadaan MJO yang aktif turut mendukung terbentuknya awan bakal MCC, namun mengalami penurunan saat terjadi El-Nino. Kontribusi MCC terhadap hujan dilihat dengan membandingkan sebaran MCC dengan data GsMap. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa MCC mendukung terjadinya hujan lebat baik pada studi kasus di Lampung maupun selama periode MJO di wilayah Indonesia. Secara umum MCC terjadi pada malam hingga pagi hari dan mencapai fase punah pada siang hingga sore hari dengan pergerakan dominan kearah Barat Daya hingga Barat.
PENENTUAN KARAKTERISTIK RESONANSI BANGUNAN DI SEKOLAH TINGGI METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN Ifantyana, Indri; Rudyanto, Ariska
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor yang dapat digunakan untuk memperkirakan bahaya gempa bumi terhadap suatu bangunan adalah mengetahui nilai resonansi bangunan. Nilai resonansi bangunan dapat ditentukan dengan cara melakukan pengukuran mikrotremor untuk mendapatkan nilai frekuensi natural bangunan dan tanah di bawahnya yang kemudian dapat dihitung nilai resonansinya. Pengukuran mikrotremor telah dilakukan pada 4 bangunan di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG). Bangunan yang diteliti memiliki ketinggian yang bervariasi antara 2 hingga 3 lantai, yang terdiri dari bangunan B1, B2, B3, dan B4. Pengukuran dilakukan pada bagian struktur bangunan yang berbeda (struktur pojok dan tengah). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik resonansi antara bangunan dengan tanah di bawahnya. Peralatan yang digunakan adalah seperangkat seismometer Lennartz Mark 3D dengan durasi rekaman selama 1 jam. Metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) digunakan untuk mengolah dan menganalisis data mikrotremor pada tanah dan selanjutnya dilakukan analisis spektrum untuk mendapatkan karakteristik nilai frekuensi natural tiap komponen pada masing-masing bangunan. Secara umum, nilai resonansi paling tinggi diperoleh pada bangunan B2. Resonansi rendah hingga sedang terdapat pada bangunan B1. Sedangkan bangunan B3 dan B4 memiliki karakteristik yang hampir sama dengan nilai resonansi rendah dan tinggi.
TELEMETRI NIRKABEL DATA SUHU, KELEMBAPAN, DAN TEKANAN UDARA SECARA REALTIME BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA328P Khafid Dwicahyo; Hariyanto Hariyanto; Bowo Prakoso
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36754/jmkg.v4i1.39

Abstract

This research uses a wireless telemetry system to measure temperature, humidity, and air pressure, equipped with data recorder, the measurement results can be displayed on LCD screen. Wireless telemetry system divided into two parts: transmitter and receiver. Transmitter unit consists of sensor SHT11, sensor BMP280, ATmega328P microcontroller, RTC, SD Card and RF transmitter module. The receiver unit consists of RF receiver and data processor by the acquisition section which is complemented with data recorder database. The result of the research shows that measuring devices performed well in full outdoor testing without hindrance on maximum distance of 200 m, with the fastest time is 2 seconds of receiving data. In semioutdoor testing with walls hitch, known the maximum distance is 100 m, with the fastest time for receiving data at 2 seconds. Temperature correlation value of R2 = 0.973, humidity of R2 = 0.875, and the air pressure of R2 = 0.924, it shows strong correlation between the standard tool to tool design with straight lines are linear.
FENOMENA KABUT ASAP DITINJAU DARI DATA LUARAN MODEL ARPEGE SYNERGIE (Studi Kasus Tanggal 25 dan 28 Februari 2014, Riau) Damayanti, Mentari Ika; Suyatim, FNU
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 1 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3022.479 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v3i1.4

Abstract

Salah satu kejadian cuaca ekstrim yang marak terjadi dalam kurun waktu terakhir adalah bencana asap akibat kebakaran hutan yang menimbulkan kerugian terutama di wilayah Riau. Untuk melihat bagaimana pergerakan atmosfer secara vertikal dan horizontal yang menyebabkan terjadinya kabut asap di wilayah Riau dapat digunakan model cuaca yang menggunakan perhitungan numerik. Salah satu model cuaca yang digunakan BMKG adalah ARPEGE Synergie yang memiliki beberapa parameter seperti stabilitas udara (KI, SI dan CAPE), kecepatan vertikal dan angin permukaan. Dengan melihat pola sebaran secara spasial menggunakan metode Spline dari ketiga unsur tersebut dapat dilihat apakah unsur atmosfer yang dipengaruhi atau mempengaruhi kabut asap pada bulan Februari 2014. Secara menyeluruh hasil luaran ARPEGE Synergie dapat menggambarkan kondisi atmosfer saat terjadi kabut asap. Terdapat adanya inversi dari kecepatan vertikal mulai lapisan 950 mb sampai 500 mb dan kondisi cuaca cenderung stabil diikuti dengan angin kencang di pesisir timur Provinsi Riau yang menuju ke arah barat dan barat daya. Kata kunci : ARPEGE Synergie, kabut asap, stabilitas, kecepatan vertical
KAJIAN INDEKS STABILITAS ATMOSFER TERHADAP KEJADIAN HUJAN LEBAT DI WILAYAH MAKASSAR (STUDI KASUS BULAN DESEMBER 2013 – 2014) Nurrohman, Faqih; Tjasyono, Bayong
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1959.112 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v3i2.19

Abstract

Hujan lebat merupakan fenomena cuaca yang dapat menimbulkan resiko bagi kehidupan manusia seperti banjir. Hujan lebat disebabkan oleh ketidakstabilan atmosfer. Untuk mengetahui stabil atau labilnya kondisi atmosfer dapat menggunakan cara analisis indeks stabilitas udara. Menganalisis indeks stabiltas udara dapat membantu dalam memprediksi peluang terjadinya hujan lebat. Dalam kasus kejadian hujan lebat di wilayah Makassar pada tanggal 22 dan 23 bulan desember 2013, 5, 6, dan 29 desember 2014, 17 dan 25 desember 2015 dilihat dari indeks SI, LI, SWEAT, CAPE pada jam 00 UTC dan 12 UTC pada umunya kondisi atmosfer labil. Walaupun dalam beberapa kejadian nilai SI menunjukan kondisi atmosfer stabil dan CAPE berada pada nilai potensi konvektif lemah. Dari pantauan citra satelit MTSAT pada saat kejadian menunjukkan tutupan awan tebal di wilayah Makassar pada waktu kejadian hujan. Kata Kunci: Hujan lebat, Indeks Stabiltas Udara (SI, LI, SWEAT, CAPE).
ANALISIS ANOMALI IONOSFER SEBELUM GEMPABUMI BESAR DI JAWA DENGAN MENGGUNAKAN DATA GPS TEC Subakti, Hendri; Ratri, Aldilla Damayanti Purnama; Muslim, Buldan
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.673 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i1.38

Abstract

Anomali ionosfer sebagai akibat dari aktivitas gempabumi merupakan suatu fenomena yang kini banyak diteliti dalam penelitian seismo-ionospheric coupling. Umumnya,variasi ionosfer akibat gempabumi lebih lemah daripada gangguan yang dihasilkan oleh sumber yang berbeda, misalnya badai geomagnetik. Namun, gangguan badai geomagnetik menunjukkan perilaku yang lebih global, sedangkan anomali seismo-ionosfer hanya terjadi secara lokal. Ini menunjukkan bahwa aktivitas gempabumi merupakan suatu hal yang unik sehingga banyak penelitian yang dilakukan agar bisa memberikan peringatan dini sebelum terjadi gempabumi. Salah satu penelitian yang banyak dikembangkan saat ini adalah pendekatan seismo-ionospheric-copuling. Penelitian ini menghubungkan antara keadaan di lithosfer-atmosfer dan ionosfer sebelum dan saat gempabumi terjadi. Tulisan ini memilih total electron content dalam arah vertikal (VTEC) di ionosfer sebagai parameternya. Total Electron Content (TEC) adalah kandungan elektron total dalam kolom vertikal (silinder) berpenampang seluas 1 m2 sepanjang lintasan sinyal perangkat GPS yang dilalui di lapisan ionosfer pada ketinggian sekitar 350 km. Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari LAPAN dengan mengidentifikasi sinyal abnormal melalui metode statistika, diperoleh adanya anomali di ionosfer yang ditandai dengan penurunan kandungan elektron sebesar 1 TECU di ionosfer sebelum gempabumi terjadi. Penurunan nilai VTEC ini tidak berasosiasi dengan badai magnetik sehingga diindikasikan sebagai prekursor gempabumi. Hal ini diperkuat dengan Dst Index yang tidak menunjukkan adanya gangguan magnetik.
PEMANFAATAN DATA MODEL GLOBAL, CITRA SATELIT, DAN DATA OBSERVASI UDARA ATAS UNTUK IDENTIFIKASI KEJADIAN PUTING BELIUNG DAN WATERSPOUT DI KUPANG – NTT (STUDI KASUS TANGGAL 14 JANUARI 2011 DAN 18 JANUARI 2012) Fishwaranta, Alexandra; Kade Wida, Dewa Ayu; Fachrurrozi, Muhammad
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.061 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i2.40

Abstract

Memasuki bulan hujan sering terjadi cuaca buruk di Kupang ? Nusa Tenggara Timur. Salah satunya bulan Januari dimana posisi Matahari berada di Belahan Bumi Selatan. Cuaca buruk yang sering terjadi adalah angin kencang dan hujan lebat. Namun di bulan Januari 2011 terjadi fenomena cuaca puting beliung dan di bulan Januari 2012 terjadi fenomena cuaca waterspout. Perbedaan antara puting beliung dan waterspout yakni pada tempat terjadinya. Puting beliung yang terjadi di tanggal 14 Januari 2011 menyebabkan kerugian materi sedangkan pada fenomena waterspout pada tanggal 18 Januari 2012 tidak menyebabkan kerugian materi sebab terjadi di Perairan sebelah Utara Pantai Pasir Panjang hingga Pantai Lasiana. Pentingnya pemanfaatan data observasi udara atas, data citra, dan data analisis model guna untuk mendapatkan data akurat dan tepat dalam memberikan informasi cuaca kepada masyarakat. Adanya indikasi terjadi angin kencang, tercapainya suhu konvektif, dan ketidakstabilan atmosfer dapat dilihat dari analisa data udara atas radiosonde Stasiun Meteorologi El Tari Kupang. Dalam citra satelit juga dapat terlihat dari keadaan tutupan awan dan timeseries suhu puncak awan pada waktu sebelum dan sesudah kejadian. Serta pada data model global didapat hasil output parameter suhu permukaan, kelembapan, kecepatan angin permukaan, dan vortisitas yang mendukung dalam prakiraan dan analisis fenomena cuaca buruk yang terjadi. Didapatkan hasil kesimpulan bahwa ketiga data tersebut mampu menginterpretasikan dengan baik kondisi alam dengan keadaan yang sebenarnya
ANALISIS PENGARUH IOD DAN ENSO TERHADAP DISTRIBUSI KLOROFIL-A PADA PERIODE UPWELLING DI PERAIRAN SUMBAWA SELATAN Putra, Dimas Pradana; Amin, Tamima; Asri, Devina Putri
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.703 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i2.41

Abstract

Perairan Sumbawa Selatan merupakan salah satu perairan di Indonesia yang mempunyai potensi perikanan yang sangat besar. Perairan laut Sumbawa termasuk ke dalam wilayah Lesser Sunda Seascape yang berada pada segitiga karang dunia (The Coral Triangle) yang memiliki biodiversitas laut tertinggi dan habitat bagi 76 % spesies terumbu karang di dunia, dengan kondisi perairan yang tenang serta arus yang relatif stabil sehingga berpotensi memiliki diversitas laut yang besar. Namun, potensi itu belum dimanfaatkan dan dikelola secara optimal oleh masyarakat nelayan lokal. Hal ini dibuktikan dengan area potensi budidaya laut seluas 57.245 hektar, tetapi yang dimanfaatkan hanya 16.715 hektar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh IOD dan ENSO terhadap distribusi klorofil-A pada periode upwelling di Perairan Sumbawa Selatan. Penelitian ini menggunakan data suhu permukaan laut (SST), IOD, ENSO, dan konsentrasi klorofil-A pada periode upwelling (Agustus-November) tahun 2001-2010. Metode yang digunakan yaitu metode korelasi yang diolah menggunakan Microsoft Excel dan analisis eksploratif. Berdasarkan hasil analisis, pada saat periode upwelling (Agustus-November), ketika suhu permukaan laut (SST) mengalami peningkatan sebaliknya pada konsentrasi klorofil-A yang mengalami penurunan. Nilai suhu permukaan laut (SST) tertinggi pada tahun 2010 dan terendah pada tahun 2007. Konsentrasi klorofil-A tertinggi pada tahun 2004 dan terendah pada tahun 2010. Nilai suhu permukaan laut (SST) tertinggi yaitu 28,52?C, hal ini berkaitan dengan fenomena la nina dan IOD negatif yang terjadi pada tahun 2010. Nilai suhu permukaan laut (SST) terendah yaitu 27,43?C pada tahun 2007, tetapi hal ini tidak dipengaruhi oleh IOD dan ENSO. Besar kecilnya nilai suhu permukaan laut (SST) maka akan mempengaruhi intensitas upwelling dan konsentrasi klorofil-A.  
PRAKIRAAN HUJAN LEBAT MENGGUNAKAN MODEL WRF-ARW DI PALANGKA RAYA (STUDI KASUS 3 JUNI 2016) Swastiko, Wishnu Agum; Rifani, Achmad
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.495 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i2.42

Abstract

Kejadian hujan lebat sering terjadi di wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Stasiun Meteorologi Palangka Raya mencatat nilai hujan akumulasi hasil observasi yang tercatat pada tanggal 4 Juni 2016 sebesar 296 mm jauh melebihi ambang batas ekstrem BMKG untuk curah hujan yang hanya 50 mm/hari. Kejadian hujan ekstrem ini akan disimulasikan menggunakan WRF-ARW dengan 20 skema kombinasi skema parameterisasi konvektif cumulus-mikrofisis-PBL. Mengingat kondisi fisis atmosfer di daerah tropis sangat bervariasi maka penelitian menggunakan model Weather Research and Forecasting-Advanced Research WRF (WRF-ARW) untuk mengetahui kondisi atmofer pada saat kejadian hujan ekstrem. Data yang digunakan merupakan data awal Global Forecast System (GFS) dari NCEP-NOAA dengan resolusi temporal 3 jam. Verifikasi data curah hujan simulasi menunjukkan bahwa skema parameterisasi KF-Lin-MYJ memiliki nilai verifikasi relatif lebih baik di dalam mewakili kejadian hujan ekstrem tersebut. Hasil verifikasi dilakukan dengan melihat nilai hits dan success ratio dari skema tersebut per setiap threshold. Berdasarkan hasil analisis dari output skema terpilih, diketahui bahwa kondisi atmosfer di atas wilayah Palangka Raya cukup basah yang ditunjukan dengan nilai kelembaban udara per lapisan serta adanya konvergensi yang mendukung pembentukan awan-awan konvektif.

Page 3 of 11 | Total Record : 107