cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Volume 5 Nomor 2 September 2022" : 20 Documents clear
Ekspresi Enzim 1 Alfa-Hidroksilase Plasenta yang Rendah sebagai Faktor Risiko Terjadinya Preeklamsia Berat Florencia Desiree; I Wayan Artana Putra; I Wayan Megadhana; Anak Agung Ngurah Anantasika; Made Darmayasa; I Gde Sastra Winata
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.399

Abstract

Abstrak Tujuan: Untuk mengetahui ekspresi enzim 1-alfa-hidroksilase (CYP27B1) pada plasenta yang rendah sebagai faktor risiko terjadinya preeklamsia (PE) berat.Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus-kontrol yang tak berpasangan, dengan total sampel 44 kasus dan kontrol. Sampel berupa plasenta yang diproses secara imunohistokimia, untuk melihat ekspresi enzim berdasarkan histoscore kumulatif (H-score) sebagai ekspresi rendah (H-score <200) atau ekspresi tinggi (H-score >200). Regresi logistik ganda digunakan untuk memperkirakan rasio odds yang disesuaikan (OR) dengan interval kepercayaan 95% (95% CI).Hasil: Ekspresi enzim 1alfa-hidroksilase plasenta yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya PE berat sebesar sembilan kali lebih tinggi dibandingkan dengan ekspresi enzim 1-alfa-hidroksilase yang tinggi pada plasenta (OR 9,148; IK05% 2,072-40,386, p=0,002).Kesimpulan: Ekspresi rendah 1alfa-hidroksilase plasenta meningkatkan risiko terjadinya PE berat.Low Expression of 1 Alpha-Hydroxylase Enzyme in The Placenta as Arisk Factor for Preeclampsia with Severe FeaturesAbstractObjective: This study aims to determine the low expression of the 1-alpha-hydroxylase (CYP27B1) enzyme in the placenta as a risk factor for severe preeclampsia (PE).Methods: This study is an unpaired case-control study, with a total sample of 44 cases and controls. Samples were placentas that were immunohistochemically processed, to see enzyme expression based on the cumulative histoscore (H-score) as low expression (H-score <200) or high expression (H-score >200). Multiple logistic regression was used to estimate the adjusted odds ratio (OR) and 95% confidence interval (95% CI).Results: Low placental 1-alpha-hydroxylase expression was a risk factor for severe PE which was nine times higher than placental 1-alpha-hydroxylase expression (OR 9,148; 05% CI 2.072-40,386, p=0.002).Conclusions: Low placental 1alpha-hydroxylase expression increases the risk of severe PE.Key words: 1aplha-hydroxylase, expression, placenta, risk factor, severe preeclampsia
Infeksi Luka Operasi pada Kanker Ginekologi Siti Salima; Kemala Isnainiasih Mantilidewi; Ali Budi Harsono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.425

Abstract

Infeksi luka operasi (ILO) merupakan infeksi pada area operasi yang terjadi dalam waktu 30 hari setelah intervensi bedah. Menurut World Health Organization (WHO), ILO merupakan jenis infeksi nosokomial yang paling sering terjadi pada negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan insidensi 11,8 episode per 100 prosedur bedah.1 Infeksi luka operasi dilaporkan terjadi pada 2.6-4.3% pasien yang menjalani operasi.2 Insidensi ILO setelah histerektomi bervariasi mulai dari 1.7-11% tergantung pendekatan operasi, indikasi operasi, dan penggunaan antibiotik profilaksis
Profil Klinikopatologi Pasien Tumor Trofoblas Gestasional yang Dilakukan Operasi di RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017-2020 Aviscena Fahmi Ali; Dodi Suardi; Hermin Aminah Usman; Gatot Nyarumenteng Adhipurnawan Winarno; Andi Kurniadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.381

Abstract

Tujuan: Mengetahui proporsi klinis dan histopatologi pasien tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasiMetode: Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif, dengan pengambilan data menggunakan total sampling. Kriteria inklusi adalah Pasien tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasi dengan data lengkap.Hasil: Total 27 kasus, didapatkan bahwa pasien tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasi sebagian besar memiliki kategori usia ≥40 tahun (59,26%), paritas multipara (66,67%), kehamilan sebelumnya mola (66,67%), interval dengan kehamilan sebelumnya >12 bulan (55,56%), kadar β-hCG sebelum operasi 103 -<104 mIU/ml (40,74%), ukuran tumor terbesar ≥5 cm (88,89%), lokasi metastasis tidak ada (74,07%), jumlah metastasis 0 (74,07%), kegagalan kemoterapi agen multipel (74,07%), jenis operasi histerektomi (96,30%), kadar β-hCG setelah operasi <103 mIU/ml (77,78%),  dan gambaran histopatologi koriokarsinoma (88,89%). Diskusi: Penelitian ini didapatkan bahwa seluruh pasien tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasi memiliki skor FIGO/WHO ≥7 yang berarti berisiko tinggi.Kesimpulan: Kasus-kasus tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasi pada penelitian ini sebagian besar memberikan profil klinis berupa multipara, jenis kehamilan sebelumnya mola, dan kegagalan kemoterapi agen multipel dengan jenis histopatologi koriokarsinoma.Profile Clicopathological of Gestational Trophoblastic Neoplasia Patients Who Underwent Surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2017–2020AbstractObjective: Knowing the clinical and histopathological proportion of gestational trophoblastic neoplasia patients who underwent surgery.Methods: This study uses a descriptive study design and the data collection using total sampling. The inclusion criteria gestational trophoblastic neoplasia patients who underwent surgery with complete data.Result: : A total of 27 cases, it was found that the most GTN patients who underwent surgery had an age category of 40 years (59.26%), multiparity (66.67%), previous molar pregnancies (66.67%), intervals with previous pregnancies >12 months (55.56%), β-hCG levels before surgery 103 -<104 mIU/ml (40.74%), the largest tumour size 5 cm (88.89%), no metastatic site (74.07 %), failure of multiple agent chemotherapy (74,07%), hysterectomy surgery (96.30%), β-hCG level after surgery <103 mIU/ml (77.78% ), and histopathological features of choriocarcinoma (88.89%).Discussion: In this study, it was found that all gestational trophoblastic neoplasia patients who underwent surgery had a FIGO/WHO score ≥7 which means high risk.Conclusion: The gestational trophoblastic neoplasia cases that underwent surgery in this study presented a clinical profile of multiparity, previous molar pregnancy, and failure of multiple agent chemotherapy with histopathological type of choriocarcinoma.Key words: Profile, gestational trophoblastic neoplasia, operation
Korelasi Asupan Vitamin C dan vitamin D dengan Kadar Timbal Ibu Hamil Preeklamsia Anggun Hatika Riska; Yusrawati Yusrawati; Efrida Efrida
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.430

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui korelasi asupan vitamin C dan vitamin D dengan kadar timbal ibu hamil preeklampsia.Metode: Studi analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini yaitu 33 orang ibu hamil preeklampsia bertempat tinggal radius ≤10 km, dan 33 orang ibu hamil preeklampsia bertempat tinggal radius >10 km dari PT. Semen Padang. Penelitian dilakukan di RSUD Rasidin, RSPTM Unand, RS. Hermina, RS. Tentara Reksodiwiryo, RS. Ibnu Sina, dan RSUP Dr. M. Djamil Padang pada bulan Mei 2021-Februari 2022. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa asupan vitamin C memiliki korelasi negatif yang sangat kuat dengan kadar timbal ibu hamil preeklamsia yang bertempat tinggal radius ≤10 km dari pabrik PT. Semen Padang (r=-0,872, p=0,000), sedangkan asupan vitamin C tidak berkorelasi dengan kadar timbal ibu hamil preeklamsia yang bertempat tinggal radius >10 km dari pabrik PT. Semen Padang (r=-0,049, p=0,785). Asupan vitamin D dengan kadar timbal ibu hamil preeklamsia yang bertempat tinggal radius ≤10 km dan >10 km dari pabrik PT. Semen Padang masing-masing memiliki korelasi negatif yang kuat dan sedang (r=- 0,696, r=-512, p=0,000, p=0,002).Kesimpulan: Terdapat korelasi asupan vitamin C dan vitamin D dengan kadar timbal ibu hamil preeklampsia setelah dikontrol variabel cofounding (radius tempat tinggal, status merokok, dan lingkungan tempat tinggal).Correlation of Vitamin C and Vitamin D Intake with Lead Levels in Pregnant Women with PreeclampsiaAbstract Objective: This study aims to determine the correlation between the intake of vitamin C and vitamin D with lead levels in  pregnant women with preeclampsia.Method: This research is a correlative analytic study with a cross-sectional. The sample of this study was 33 preeclampsia pregnant women living in a radius of ≤10 km, and 33 preeclampsia pregnant women residing in a radius of >10 km from PT. The research was conducted at Rasidin Hospital, RSPTM Unand, RS. Hermina, RS. Tentara Reksodiwiryo, RS. Ibnu Sina, and RSUP Dr. M. Djamil Padang in May 2021-February 2022. Results: Vitamin C intake has a very strong negative correlation with lead levels of preeclampsia pregnant women who live within a radius of ≤10 km from the Semen Padang Factory (r=-0.872, p=0.000), while vitamin C intake is not correlated with the lead levels of preeclampsia pregnant women who live in a radius of >10 km from the Semen Padang Factory (r=-0.049, p=0.785). Vitamin D intake with lead levels of preeclampsia pregnant women who live in a radius of ≤10 km and >10 km from the Semen Padang Factory each has a strong and moderate negative correlation (r=- 0.696, r=-512, p=0.000, p=0.002).Conclusion: There is a correlation between vitamin C and vitamin D intake and lead levels of preeclampsia in pregnant women after controlling for confounding variables (radius of residence, smoking status, and living environment).Key words : Lead, Vitamin C intake, Vitamin D intake, Preeclampsia.
Profil Penderita Kanker Endometrium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Tahun 2017-2020 Siti Salima; Andi Kurniadi; Gatot N.A. Winarno; Dodi Suardi; Hanifah Nurisa Putri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.386

Abstract

Tujuan: Mengetahui profil penderita kanker endometrium.Metode: Penelitian metode deskriptif dengan menggunakan data sekunder. Kriteria inklusi penelitian yaitu pasien dengan diagnosis kanker endometrium dilihat berdasarkan hasil histopatologi.Hasil: Distribusi pasien mayoritas berusia >50 tahun (62,0%), berasal dari Kota/Kabupaten Bandung (32,5%), memiliki indeks massa tubuh 18,5-22,9 kg/m2 (27,0%), multipara (36,5%), status postmenopause (59,0%), memiliki usia menarche ≥12 tahun (88,0%), tidak memiliki riwayat diabetes mellitus (66,0%) dan hipertensi (27,0%), terdiagnosis ketika stadium I (47,5%), dengan derajat diferensiasi baik/grade I (31,0%) dan tipe I endometrioid adenocarcinoma (82,5%). Terapi yang paling sering adalah tindakan operasi (50,0%) dengan tipe pembedahan histerektomi total dan salfingooforektomi bilateral (44,21%).Kesimpulan: Pasien kanker endometrium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode tahun 2017-2020 ditemukan paling banyak berusia >50 tahun, dari Kota/Kabupaten Bandung, indeks massa tubuh normal, multipara, postmenopause, usia menarche ≥12 tahun, tidak ada riwayat DM dan hipertensi, terdiagnosis pada stadium I dengan tipe I endometrioid adenocarcinoma dan derajat diferensiasi baik (grade I), serta dilakukan tindakan operasi dengan tipe pembedahan histerektomi total dan salfingooforektomi bilateral.Profile of Endometrial Cancer Patients in Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital Bandung in 2017–2020AbstractObjective: Identifying the profile of endometrial cancer patientsMethods: This research used descriptive method by collecting secondary data. The inclusion criteria was patients with endometrial cancer diagnosis based on the histopathological results.Results: In this research, the majority of patients were aged >50 years (62,0%), came from Bandung City/Regency (32,5%), with body mass index of 18,5-22,9 kg/m2 (27,0%), multiparous (36,5%), postmenopause (59,0%), menarcge age of  ≥12 years (88,0%), no history of diabetes mellitus (66,0%) and hypertension (27,0%), diagnosed at stage I (47,5%), with histopathological results well differentiated/grade I (31,0%) and type I endometrioid adenocarcinoma (82,5%). Surgery (50,0%) with the type of total hysterectomy and bilateral salpingoophorectomy (44,21%) was the most common treatment.Conclusion: In 2017-2020, endometrial cancer patient in Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital Bandung were mostly found in the aged of >50 years, came from Bandung City/Regency, normal body mass index, multiparous, postmenopause, menarche age of ≥12 years, no history of diabetes mellitus and hypertension, diagnosed at stage I with histopathological result type I endometrioid adenocarcinoma and well differentiated (grade I), and the treatment was surgery with the type of total hysterectomy and bilateral salpingoophorectomy.Key words: Endometrial cancer, profile, risk factor
Relationship between Blood Lead Levels and Nitric Oxide (NO) Levels in Preeclampsia Rina Oktaviana; Yusrawati Yusrawati; Arni Amir
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.423

Abstract

Objective: This study aims to determine the relationship between blood lead levels and NO levels in preeclampsia.Methods: This research applied analytical survey research with a cross-sectional design. Moreover, the samples were 99 pregnant women, 33 with normal pregnancies, 33 with preeclampsia living >10km from Semen Padang factory, and 33 with preeclampsia who lived ≤10km from Semen Padang factory. Spearman correlation test and logistic regression analysis is used for data analysis.Result: The result of this study shows that the blood lead level median in preeclampsia ≤10km is 26.23 g/dL, and the lead level median in preeclampsia >10km is 23.52 g/dL. Meanwhile, the NO level median in preeclampsia ≤10km is 22.50µmol/L and NO level median in preeclampsia >10km is 28.00µmol/L. There is a relationship between blood lead levels and NO levels in preeclampsia ≤10km, with r-value = -0.601 and p-value <0.001, in preeclampsia >10km, there is no relationship with p-value >0.500 and the strength of the correlation is fragile. In addition, the results of multivariate analysis of reduced levels of NO in preeclampsia with high blood lead levels are two times compared to preeclampsia with normal blood lead levels with 95% CI (0.652-6.362) after being controlled by distance of residence, smoking status and living environment variables.Conclusion: there is a relationship between blood lead levels and NO levels in preeclampsia.Hubungan Kadar Timbal dengan Kadar Nitric Oxide (NO) pada Ibu Hamil PreeklampsiaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar timbal dengan kadar Nitric Oxide (NO)  pada ibu hamil preeklampsia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik, dengan rancangan cross sectional. Sampel diteliti sebanyak 99 orang ibu hamil, 33 orang ibu hamil normal dan 33 orang preeklampsia yang tinggal yang tinggal radius >10km, dan 33 orang preeklampsia yang tinggal radius ≤10km. Kadar timbal diperiksa menggunakan metode AAS dan Kadar Nitric Oxide (NO)  diperiksa menggunakan metode ELISA. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman dan analisis regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian ini median kadar timbal pada preeklampsia ≤10km adalah 26,23 µg/dL, dan median kadar timbal preeklampsia >10km adalah 23,52 µg/dL. Median kadar Nitric Oxide (NO)  preeklampsia ≤10km adalah 22,50µmol/L, median kadar Nitric Oxide (NO) preeklampsia >10km adalah 28,00µmol/L. Terdapat hubungan kadar timbal dengan kadar Nitric Oxide (NO) pada preeklampsia ≤10km, diperoleh nilai r = -0,601 dan nilai p < 0,001, pada preeklampsia  >10km tidak terdapat hubungan dengan nilai p > 0.500 dan kekuatan korelasi sangat lemah. Hasil analisis multivariat penurunan kadar Nitric Oxide (NO) preeclampsia yang memiliki kadar timbal tinggi adalah 2 kali dibandingkan ibu hamil preeclampsia dengan kadar timbal normal dengan 95% CI (0.652-6.362) setelah dikontrol variabel jarak tempat tinggal, status merokok dan lingkungan tempat tinggal.Kesimpulan: Terdapat hubungan kadar timbal dengan kadar Nitric Oxide (NO)  pada ibu hamil preeklampsia.Kata kunci: Timbal, Nitric Oxide, Preeklampsia
Evaluation of Pelvic Floor Muscle Strength and Anal Spinchter Defects in Women Post Repair Obstetric Anal Spinchter Injuries Sarnisyah Dwi Martiani; St. Nur Asni; Abdul Rahman; Muh. Firdaus Kasim; Trika Irianta; Eddy Tiro
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.385

Abstract

Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi defek sfingter ani dan disfungsi otot dasar panggul pada perempuan pasca repair trauma sfingter ani obstetri.Metode: Analitik observasional yang dikembangkan dengan desain kohort prospektif. Perempuan yang mengalami Repair Trauma Sfingter Ani Obstetri pada Bulan Januari 2020-Juni 2021 di beberapa RS jejaring Makassar dinilai defek pasca repair dan keluhan subjektif menggunakan USG Transperineal (Alpinion cube 5 dengan probe transvaginal), Skor Wexner, Numeric Pain Rating Scale dan Perineometer (Peritron 9300 V) yang dilakukan dalam 3 kali pengukuran yaitu pada bulan 1, 3 dan 6 pasca repair. Data diuji menggunakan Mann-Whitney test, Cochrane dan Independent T test. Data diolah menggunakan SPSS 24.Hasil: Dari 51 sampel yang dilakukan pemeriksaan, didapatkan rata-rata usia 27.82±4.04 tahun dengan rerata IMT 24.52±4.31 kg/m2. Sampel didominasi oleh primipara sebanyak 41(80,4%). Rerata berat bayi 3312.75±424.24 gram. Terdapat 5 (9,8%) Pasien yang mengalami defek pasca repair, rerata skor wexner pada sampel dengan defek sfingter ani 1.60±1.14 pada bulan pertama, terdapat perbedaan yang signifikan pada dispareunia (p<0.05) dengan rerata 3.33±1.15 pada sampel dengan defek sfingter ani pada bulan keenam. Tampak peningkatan rerata skor kekuatan otot panggul pada perempuan tanpa defek sfingter ani. Kesimpulan: Gejala subjektif dapat ditemukan pada perempuan tanpa defek sfingter ani. Peningkatan kekuatan otot dasar panggul dapat terjadi seiring bertambahnya waktu pasca repair.Evaluation of Pelvic Floor Muscle Strength and Anal Sphincter Defects in Post Obstetric Anal Sphincter Injuries Repair WomenAbstractObjectives: The goal of this study was to look at anal sphincter deficiencies and pelvic floor muscle dysfunction in women who had obstetric anal sphincter injuries and had them repaired.Methods: Analytical was created as an observational study with a cohort prospective design. Women who underwent OASIS Repair in multiple Makassar hospitals between January 2020 and June 2021 were assessed subjectively using Transperineal Ultrasound (Alpinion cube 5 ultrasound with transvaginal probe), Wexner Score, Numeric Pain Rating Scale, and Perineometer (Peritron 9300 V) at 1, 3, and 6 months after repairs. The data was analyzed using the Mann-Whitney test, Cochran test, and Independent T test in SPSS 24. Result: The average age of the 51 samples that underwent the assessment was 27.82.04 years, with a mean BMI of 24.524.31 kg/m2. Up to 41 percent of the sample was dominated by primiparas (80.4 percent ). The average infant weighs 3312.75424.24 grams. There were 5 (9.8%) patients who had a defect after repair, with an average score of 1.601.14 on the first month and a significant difference in dyspareunia (p0.05) with a mean of 3.331.15 on the sixth month in the sample with anal sphincter defect. In women who do not have an anal sphincter dysfunction, there is an average increase in look strength of the pelvic muscle.Conclusion: Women without an anal sphincter abnormality had subjective complaints. With more time passed after surgery, the pelvic floor muscle may improve.Key words: pelvic floor, OASIS, Wexner score, Anal Sphincter defect, Transperineal ultrasound
Defisiensi Mikronutrisi (Zat Besi, Magnesium, Zinc, Kalsium, Vitamin D, Asam Folat, Vitamin C, Vitamin E, dan Omega 3) pada Preeklamsia Muhammad Ilham Aldika Akbar; Bayu Agung Sangkara Putra
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.432

Abstract

Preeklamsia masih menjadi penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal neonatal di Indonesia. Preeklamsia disebabkan oleh multifaktorial yang ujungnya akan berakhir dengan terjadinya disfungsi endotel vaskular dan manifestasi klinis sistemik. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan masalah besar yang terkait dengan nutrisi. Tingginya angka stunting dan malnutrisi pada anak-anak, remaja, dan ibu hamil merupakan masalah nasional yang menjadi perhatian utama. Defisiensi nutrisi khususnya mikronutrisi ditunjukkan dari berbagai penelitian memiliki kaitan dengan terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Pada artikel ini kami akan membahas mengenai peran dan keterkaitan mikronutrisi (Zat besi, magnesium, zinc, kalsium, vitamin C, D, E, dan DHA) dengan terjadinya preeklamsia. AbstractIn Indonesia, preeclampsia continues to be the leading cause of maternal and infant morbidity and mortality. A complex etiology for preeclampsia led to vascular endothelial dysfunction and a widespread clinical presentation. Indonesia is a developing nation with significant nutrition-related issues. The key cause for concern is the high rate of stunting and malnutrition in children, adolescents, and pregnant women. Micronutrient deficits in particular have been linked to the development of hypertensive disorders in pregnancy. In this post, we will discuss about how micronutrients like iron, magnesium, zinc, calcium, and the vitamins C, D, E, and DHA might affect in the development of preeclampsia.
Perbandingan Inkontinensia Urin Ibu Hamil Aterm Primigravida dan Multigravida Berdasarkan QUID (Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis) dan Faktor Risiko yang Berpengaruh Annisa Tasya Fiscarina; David Lotisna; Irnawaty Bahar; Maisuri Tajuddin Chalid
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.401

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inkontinensia urin pada ibu hamil primigravida dan multigravida aterm berdasarkan kuisioner Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) dan faktor risiko yang berpengaruh. Metode : Penelitian ini menggunakan metode case control  analitik observasional untuk melihat pengaruh faktor risiko terhadap inkontinensia urin pada primigravida dan multigravida dan kemudian dilanjutkan dengan metoda survei secara cross-sectional untuk melihat perbandingan inkontinensia urin pada primigravida dan multigravidaHasil: Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian inkontinensia urin adalah ibu dengan adanya riwayat inkontinensia sebelum kehamilan (p=0,003), pendidikan (p=0,032), kategori pekerjaan (p=0,012), dan umur (0,003). Dari analisis regresi logistik menunjukkan faktor yang paling berpengaruh adalah Inkontinensia sebelum kehamilan dengan Risk ratio (RR) 15,750. Tidak didapatkan adanya hubungan bermakna antara paritas  primigravida dan multigravida terhadap jenis inkontinensia urin (P=0,671).Kesimpulan: Pada Primigravida faktor risiko yang mempunyai hubungan terhadap terjadinya inkontiensia urin adalah Indeks Massa Tubuh dan Taksiran berat janin. Pada Multigravida faktor risiko yang mempunyai hubungan terhadap terjadinya inkontiensia urin adalah Indeks Massa Tubuh dan riwayat inkontinensia sebelum kehamilan. Tidak  ada  hubungan bermakna antara paritas  primigravida dan multigravida terhadap jenis inkontinensia urin.Comparison of Urinary Incontinence in Primigravida and Multigravida Pregnant Women Based on QUID (Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis) and Influential Risk FactorsAbstractObjective: This study aims to analyze urinary incontinence in primigravida and multigravida term pregnant women based on the Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) questionnaire and the risk factors that influence it.Method: This study used an observational analytical case control method to see the effect of risk factors on urinary incontinence in primigravida and multigravida and then continued with a cross-sectional survey method to compare urinary incontinence in primigravida and multigravida.Results: Risk factors associated with the incidence of urinary incontinence are mothers with a history of incontinence before pregnancy (p=0.003), education (p=0.032), occupational categories (p=0.012), and age (0.003). Logistic regression analysis showed the most influential factor was pre-pregnancy incontinence with RR 15,750. There was no meaningful association between primigravida parity and multigravida to the type of urinary incontinence (P 0.671).Conclusion: In Primigravida, the risk factors that have an association with urine inconsistency are body mass index and fetal weight estimate. In Multigravida risk factors that have an association with the occurrence of urine inconsistencies are body mass index and history of incontinence before pregnancy. There is no meaningful relationship between primigravida parity and multigravida to this type of urinary incontinence.Key words: Urinary incontinence, Primigravida, Multigravida, Hamil aterm, QUID, cough test
Hubungan antara Obesitas dengan Faktor Luaran Bayi pada Preeklamsia Berat Arifa Rakhmana Abdullah; Johanes Cornelius Mose; Yudi Mulyana Hidayat
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.427

Abstract

Tujuan: Membandingkan luaran berat badan dan panjang badan lahir bayi serta lama perawatan antara kelompok obesitas dan tidak obesitas pada penderita preeklamsia berat.   Metode: Desain penelitian menggunakan metode cohort retrospective dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Populasi penelitian adalah ibu hamil penderita preeklamsia berat yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin pada periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2019, dengan teknik pengambilan sampel purposive dan didapatkan total 86 sampel.Hasil: Nilai rata-rata berat lahir kelompok obesitas secara signifikan (P 0.00) lebih berat 908.13 gram dibandingkan kelompok tidak obesitas (95% CI 513.81;1302.46 gram) dan nilai rata-rata panjang badan kelompok obesitas secara signifikan (P 0.00) lebih panjang 4.23 cm  dibandingkan kelompok tidak obesitas (95% CI 1.49;6.48 cm).  Nilai tengah lama perawatan kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan signifikan (P 0.48) dimana pada kelompok tidak obesitas, lama perawatan 4 hari sedangkan kelompok obesitas 5 hari. Kesimpulan:  Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap luaran bayi berupa berat lahir dan panjang badan lahir bayi antara kelompok obesitas dan tidak obesitas pada penderita preeklamsia berat, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap lama perawatan antara kelompok obesitas dan tidak obesitas pada penderita preeklamsia berat.Comparison of Neonatal Outcomes and Length of Stay Based on Obesity Status in Severe PreeclampsiaAbstractObjective: To compare the outcome of neonatal birth weight and length as well as the length of stay between the obese and non-obese groups in patients with severe preeclampsia.Methods: This study used a retrospective cohort method and secondary data from medical record.. The population in this was 2055 pregnant women with severe preeclampsia who gave birth at the General Hospital Dr. Hasan Sadikin period January 1st, 2015 to December 31st, 2019.  The sample in this study uses purposive sampling method and the total sample is 86 samples. Result: The results showed that the mean birth weight of the obese group was significantly (P 0.00) heavier 908.13 grams compared to the non-obese group (95% CI 513.81; 1302.46 grams) and the mean birth length of the obese group was significantly (P 0.00) longer 4.23 cm compared to the non-obese group (95% CI 1.49; 6.48 cm). The median length of stay between the two groups did not show a significant difference (P 0.48), in the non-obese group, the length of stay was 4 days while the obese group was 5 days.Conclusion: There was a statistically significant difference in neonatal outcomes in terms of birth weight and birth length between the obese and non-obese groups in patients with severe preeclampsia, but there was no statistically significant difference in the length of stay between the obese and non-obese groups in patients with severe preeclampsia.Key word : Obesity, neonatal outcomes, length of stay, severe preeclampsia

Page 1 of 2 | Total Record : 20