cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Volume 7 Nomor 3 November 2024" : 32 Documents clear
Rare Case: Tetra-Amelia Syndrome Alifa, Dhara; Aziz, Muhammad Alamsyah; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.694

Abstract

Introduction: Congenital abnormalities are anomalies that become a fear for a family, when a mother experiences pregnancy. Some abnormalities are temporary and can be corrected, while some are permanent and cannot be corrected, so screening at antenatal time is very important.Objective: To explain and analyze a rare case of Tetra-amelia syndrome and how to diagnose it.Case: A 32-year-old woman with a 32-week-old G3P0A2 pregnancy visited the maternal-fetal clinic. According to ultrasound data, a single fetus with a gestational age of 31-32 weeks and a fetal weight of 1837 grams is in breech presentation. Only the proximal components of the arm and leg are formed, leaving the radius bones, ulna, tibia, and fibula unformed. The femur has a length that corresponds to 16 weeks, while the humerus has a length that corresponds to 20 weeks. These findings also revealed a discrepancy in pregnancy age. A tetra-amelia abnormality was discovered at the end of the ultrasound scan. Caesarean section performed on August 6, 2021, at the age of 39 weeks, a baby girl has been born baby girl a baby girl weighing 2300 grams, a body length of 31 cm, with mild asphyxia.Conclusion: During antenatal care, ultrasound on the unidentified distal part of the entire extremity can detect Tetra-amelia syndrome.Kasus Langka: Sindrom Tetra-ameliaAbstrak Pendahuluan: Kelainan bawaan adalah anomali yang menjadi trauma bagi keluarga, ketika seorang ibu mengalami kehamilan. Beberapa kelainan bersifat sementara dan dapat diobati, sementara beberapa bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki sehingga skrining pada waktu antenatal sangat penting.Tujuan: Artikel ini untuk menjelaskan dan menganalisis kasus langka sindrom Tetra-amelia dan cara mendiagnosisnya.Kasus: Seorang wanita berusia 32 tahun dengan kehamilan G3P0A2 berusia 32 minggu mengunjungi klinik fetomaternal. Hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukan janin tunggal dengan usia kehamilan 31 - 32 minggu dan berat janin 1837 gram dalam letak sungsang. Hanya komponen proksimal lengan dan kaki yang terbentuk, sedangkan tulang jari-jari, ulna, tibia, dan fibula tidak terbentuk. Femur memiliki panjang yang sesuai dengan 16 minggu, sedangkan humerus memiliki panjang yang sesuai dengan 20 minggu. Kelainan tetra-amelia dapat dideteksi dengan pemindaian ultrasonografi. Pada tanggal 6 Agustus 2021 presentasi sungsang, dilakukan operasi caesar, lahir bayi perempuan pada usia 39 minggu, berat 2300 gram, panjang 31 cm, disertai asfiksia ringan.Kesimpulan: Pemeriksaan ultrasonografi pada perawatan antenatal dapat mendeteksi sindrom Tetra-amelia, bila bagian distal ekstremitas tidak teridentifikasi.Kata kunci:Sindrom Tetra-amelia, Ultrasonografi, Kelainan Kongenital
Comparison of Pregnancy Outcomes with Autoimmune Rheumatic Disease and Without Autoimmune Rheumatic Disease Sulaiman, Aina Zakia; Pribadi, Adhi; Hamijoyo, Laniyati; Irianti, Setyorini; Rahmadi, Andri Reza
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.724

Abstract

Introduction: It is known that pregnancies with autoimmunity have a higher risk of complications in the mother and fetus compared to pregnancies without autoimmunity. The purpose of this study was to determine the comparison between pregnancy outcomes with autoimmune rheumatic disease and without autoimmune rheumatic disease.Methods: This study is an observational analytic with a retrospective cross-sectional design. Data were obtained from all patients with pregnancy outcomes with autoimmune rheumatic disease and without autoimmune rheumatic disease at Hasan Sadikin Hospital Bandung 1 January - 31 December 2021-2023.Results: During this period, 71 pregnant women were found to be accompanied by autoimmune rheumatic diseases and then data on pregnant women without autoimmune rheumatic diseases were randomly taken as controls. In this study, it was found that pregnant women with autoimmune diseases experienced more neonatal outcomes of stunted fetal growth, namely 11(15.5%) compared to pregnant women without autoimmune rheumatic diseases, namely 2(2.8%) with a p-value of 0.009.Conclusion: This study found that pregnant women with autoimmune rheumatic disease experienced more neonatal outcomes of FGR compared to pregnant women without autoimmune rheumatism.Perbandingan Antara Luaran Kehamilan Dengan Penyakit Rhematik Autoimun Dan Tanpa Penyakit Rematik AutoimunAbstrakPendahuluan: Diketahui bahwa kehamilan dengan autoimun memiliki risiko komplikasi pada ibu maupun janin lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan tanpa autoimun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan antara luaran kehamilan dengan penyakit rematik autoimun dan tanpa penyakit rematik autoimunMetode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain potong lintang retrospektif. Data diperoleh dari seluruh pasien luaran kehamilan dengan penyakit rematik autoimun dan tanpa penyakit rematik autoimun di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 1 Januari – 31 Desember 2021-2023Hasil: Dalam periode tersebut ditemukan 71 orang ibu hamil yang disertai dengan penyakit rematik autoimun kemudian diambil data ibu hamil tanpa penyakit rematik autoimun secara random sebagai kontrol. Pada penelitian ini didapatkan ibu hamil dengan penyakit autoimun lebih banyak mengalami luaran neonatal pertumbuhan janin terhambat yaitu 11(15.5%) dibandingkan ibu hamil tanpa penyakit rematik autoimun yaitu 2(2.8%) dengan p- value0.009.Kesimpulan : Penelitian ini menemukan bahwa ibu hamil dengan penyakit rematik autoimun lebih banyak mengalami luaran neonatal pertumbuhan janin terhambat dibandingkan dengan ibu hamil tanpa rematik autoimun.Kata kunci : Luaran Maternal, Luaran Neonatal, Autoimun 
Calcium Paradox, Vitamin D and Vitamin K2 Mose, Johanes C.
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.757

Abstract

Calsium supplementation during pregnancy is a routine standard practice for antenatal care recommended by WHO, FIGO, POGI as well as Indonesia Ministry of Health. Calcium is one of essential micronutrients needed in human life, especially during pregnancy known for bone and teeth development, prevent osteoporosis, involved in blood coagulation, prevent haemorrhages during pregnancy and post partum periods, muscle contraction, prevent hypertension, preeclampsia, prematurity, IUGR, LBW, stunting, increase immunity, etc.Prevalence of hypocalcemia varies from 60 % to 70.5 % in low-medium income countries (LMIC) and 30 % to 60 % in high income countries (HIC).A systematic review study conducted in 2019 reported a prevalence of low calcium consumption less than 800 mg/day (normal consumption is around 1000-1200 mg/day) was 29 % in HIC and 82 % in LMIC, including Malaysia 377 mg/day and Indonesia < 400 mg/day.Calcium metabolism in human body is very much depend on the normal level of vitamin D, magnesium and parathyroid hormone in blood. Vitamin D is mainly needed for the absorption of calcium in intestine. The combination of vitamin D and calcium supplementation is very much recommended.
Alcohol Abuse in Pregnancy (Case Report) Rahmani, Putri; Arfiantama, M. Ikhsan; Lubis, Ahmad Sofyan; Rahman, Luthfi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.713

Abstract

Introduction: Alcohol abuse is an uncommon but significant health issue among pregnant women in Indonesia. Even minimal alcohol consumption can cause substantial harm to both individuals and society. However, there are currently no national service standards for screening, recording, or counseling regarding alcohol use during pregnancy in Indonesia.Case Report: A 25-year-old woman, gravida 2 para 1 abortus 0 (G2P1A0), at 20-21 weeks of gestation, presented to the emergency room with decreased consciousness after consuming alcohol suspected to contain ethanol. Clinical assessment and laboratory tests indicated that the patient was suffering from metabolic encephalopathy and severe metabolic acidosis. The patient was promptly intubated and resuscitated. Despite receiving intensive care in the ICU, the patient experienced seizures and intrauterine fetal demise (IUFD), followed by spontaneous labor the next day. Unfortunately, the patient’s condition continued to deteriorate, and she succumbed to multi-organ failure due to high blood alcohol concentration on the ninth day of treatment.Conclusion: From the case we can conclude that alcohol use during pregnancy is closely linked to the patient’s psychological condition. To optimize patient care, obstetricians and gynecologists are encouraged to employ routine screening techniques, clinical laboratory tests, brief interventions, and appropriate treatment referrals, one of them is ASSIST by WHO. Unfortunately, many pregnant women in Indonesia lack access to specialist care. Therefore, it is crucial to disseminate information about the health risks associated with alcohol consumption and abortion within informal community sectors to effectively reach vulnerable groups.Penyalahgunaan Alkohol pada Kehamilan (Laporan Kasus)AbstrakPendahuluan: Penyalahgunaan alkohol merupakan masalah kesehatan yang jarang ditemukan pada ibu hamil di Indonesia, meski konsumsi alkohol dalam jumlah berapa pun dapat menimbulkan kerugian besar bagi individu dan masyarakat. Namun, saat ini belum ada standar layanan nasional untuk skrining, pencatatan, dan konseling mengenai penggunaan alkohol pada ibu hamil di Indonesia.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 25 tahun, gravida 2 para 1 abortus 0 (G2P1A0), dengan usia kehamilan 20-21 minggu, datang ke IGD dengan kondisi penurunan kesadaran setelah meminum minuman beralkohol yang diduga mengandung etanol. Pemeriksaan klinis dan hasil laboratorium menunjukkan bahwa pasien menderita ensefalopati metabolik dan asidosis metabolik berat. Pasien segera diintubasi dan diresusitasi. Setelah satu hari perawatan di ICU, pasien mengalami kejang dan intrauterine fetal demise (IUFD), yang kemudian disusul dengan persalinan spontan keesokan harinya. Kondisi pasien terus memburuk selama perawatan dan meninggal pada hari kesembilan akibat kegagalan multiorgan karena tingginya kadar alkohol dalam darah. Hasil alloanamnesis dari keluarga pasien menunjukkan bahwa pasien mengalami tekanan psikologis akibat kehamilan yang tidak diinginkan, yang diduga terkait dengan percobaan aborsi.Kesimpulan: Dalam kasus ini dapat disimpulkan bahwa konsumsi alkohol selama kehamilan erat kaitannya dengan kondisi psikologis pasien. Untuk mengoptimalkan perawatan, dokter obstetri dan ginekologi didorong untuk mempelajari dan menggunakan teknik skrining rutin, tes laboratorium klinis, intervensi singkat, dan rujukan pengobatan yang tepat dengan skrining ASSIST dari WHO. Sayangnya, masih banyak ibu hamil di Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap dokter spesialis. Oleh karena itu, informasi mengenai risiko kesehatan akibat alkohol dan aborsi penting untuk disebarluaskan kepada masyarakat di sektor informal sehingga kelompok rentan dapat dijangkau dengan baik.Kata kunci: intoksikasi alkohol, kehamilan, penyalahgunaan alkohol, aborsi
Professional Atitude Can Cause to Perch Plagiarism Martaadisoebrata, Djamhoer
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.740

Abstract

A calling requiring specialize knowledge and often long and intensive preparation including instruction and skills and methods as well as in the scientific, historical and scholarly principles, underlying such skills and methods, maintaining by force or organization or concern opinion, high standard of achievement and conduct, and committing its members to continue study and to a kind of work which has for prime propose the rendering of public service.
Correlation between Leukocyte Esterase Levels and Pregnancy Latency Interval in Pregnant Women with a History of Preterm Premature Rupture of Membranes Andayani, Aviasti Pratiwi; Bayuaji, Hartanto; Siddiq, Amillia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.681

Abstract

Introduction: Bacterial colonization of the vagina and cervix can lead to intra amniotic infections that increase the risk of chorioamnionitis, premature rupture of membranes, and preterm labor. Leukocyte esterase (LE) is an alternative test that is affordable and easy to perform to predict the risk of preterm labor due to urinary tract infection. We examined the correlation between leukocyte esterase levels and gestational latency interval in pregnant women with preterm premature rupture of membranes.Methods: This study is an observational study with a cross-sectional design from the medical records of singleton pregnancy patients with preterm premature rupture of membranes undergoing conservative treatment at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. Researchers analyzed the difference in mean latency interval and the correlation between leukocyte esterase levels and latency interval. The data processing results regarding the correlation between variables are presented in tables and graphs.Results: Of 101 patients, 76 patients met the inclusion criteria; 26 patients (34%) had negative results for leukocyte esterase examination, while 50 patients (66%) were positive. The average latency period of all patients was 2.16 days. The latency period ≤2 days occurred in 53% of patients, with the shortest latency period found in patients with leukocyte esterase +4 levels (1.5 days). Moreover, the ANOVA test results show that the correlation between the age latency period and leukocyte esterase levels obtained a value of f-ratio =1.44 with a p-value of 0.65, indicating no significant results at p<0.05.Conclusion: This study found no significant correlation between leukocyte esterase levels and the latency interval after preterm premature membrane rupture.Hubungan antara Kadar Leukosit Esterase dan Interval Masa Latensi Kehamilan pada Ibu Hamil dengan Riwayat Ketuban Pecah Dini pada Kehamilan PrematurAbstrakPendahuluan:Penjalaran infeksi bakteri dari kolonisasi bakteri pada vagina dan serviks menyebabkan infeksi intraamniotik yang meningkatkan risiko korioamnionitis, ketuban pecah dini, serta persalinan prematur. Penapisan infeksi saluran kemih (ISK) melalui pemeriksaan kadar leukosit esterase (LE) merupakan alternatif pemeriksaan yang terjangkau dan mudah dilakukan untuk mencegah persalinan prematur. Penelitian ini meneliti hubungan antara kadar leukosit esterase dan masa latensi kehamilan pada ibu hamil dengan ketuban pecah dini <34 minggu.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross-sectional dari rekam medik pasien hamil tunggal dengan ketuban pecah dini <34 minggu yang menjalani perawatan konservatif di RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung. Kriteria eksklusi pada penelitian ini ialah penyulit lain pada ibu dan janin dan pemberian tokolitik. Peneliti menganalisis perbedaan rerata masa latensi serta hubungan kadar leukosit esterase dengan masa latensi kehamilan pada ketuban pecah dini <34 minggu. Hasil olah data mengenai hubungan antar variabel disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.Hasil: Dari 101 pasien, terdapat 76 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, didapatkan hasil pemeriksaan leukosit esterase negatif sebanyak 34% (26 pasien), dan positif pada 66% pasien (50 pasien). Rerata masa latensi dari seluruh pasien ialah 2,16 hari. Masa latensi ≤ 2 hari terjadi pada 53% pasien dengan masa latensi paling singkat didapatkan pada pasien dengan kadar leukosit esterase +4 yaitu 1,5 hari. Pada uji Anova hubungan rerata masa latensi dengan kadar leukosit esterase didapatkan nilai rasio-f = 1,44 dengan nilai p 0.65 yang menunjukkan hasil tidak signifikan pada p<0.05.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada korelasi signifikan antara kadar leukosit esterase dengan lama masa latensi kehamilan setelah ketuban pecah dini <34 minggu.Kata kunci: Infeksi saluran kemih; leukosit esterase; ketuban pecah dini; masa latensi
The Success Rate for Diagnosing Congenital Anomalies During Prenatal Firmansyah, Silva Elifa; Pribadi, Adhi; Pramatirta, Akhmad Yogi; Rachmawati, Anita; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.722

Abstract

Introduction: This study aimed to determine the success of prenatal diagnosis in cases of congenital abnormalities at RSHS Bandung.Methods: This study was descriptive and cross-sectional. We collected data from all neonatal patients with congenital abnormalities who received prenatal care at RSHS Bandung between January 1, 2021, and December 31, 2023. Data processing used Microsoft Excel 16.66.1 and IBM SPSS Statistics.Result: The results show that 59 patients, or 93.6%, had appropriate abnormalities diagnosed, while only 4 patients, or 6.3%, had inappropriate abnormalities.Conclusion: Prenatal diagnosis of congenital abnormalities showed a fairly high concordance value, namely 93.6%.Tingkat Keberhasilan Penegakan Diagnosis Kelainan Kongenital pada saat PrenatalAbstrakTujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan diagnosis prenatal pada kasus kelainan kongenital di RSHS Bandung.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif cross-sectional. Data diperoleh dari seluruh pasien neonatal yang disertai kelainan kongenital pada saat prenatal di RSHS Bandung 1 Januari 2021 – 31 Desember 2023. Pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 16.66.1 dan IBM SPSS Statistics.Hasil: Hasil yang didapatkan yaitu akurasi pasien terdiagnosis sesuai ada kelainan sebanyak 59 atau sebesar 93.6% dan terdiagnosis tidak sesuai ada kelainan sebanyak 4 atau sebesar 6.3%. Kesimpulan: Penegakan diagnosis kelainan kongenital pada saat prenatal menunjukkan nilai kesesuaian yang cukup tinggi, yaitu sebesar 93,6%.Kata kunci: Prenatal, kelanan kongenital,
Comparison of Clinical Characteristics between Pregnant Women Confirmed with Covid-19 with and Without Severe Preeclampsia Pangaribuan, Roma Berlian; Anwar, Anita Deborah; Sasotya, RM Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.701

Abstract

Background:Several clinical studies have reported that COVID-19 was associated with an increased risk of preeclampsia and preeclampsia-like syndrome in infected pregnant women, but the results are still controversial. This study aims to compare the clinical characteristics of pregnant women with confirmed COVID-19 with and without severe preeclampsia.Methods:This retrospective study of pregnant women confirmed for COVID-19 was carried out at RSUP Dr. Hasan Sadikin from April 1st, 2020 to April 30th, 2022. Epidemiological data, clinical features, and laboratory results of subjects with and without severe preeclampsia in pregnant COVID-19 patients were collected and analyzedResults: Eighty-six subjects were in our study, with 42 subjects with severe preeclampsia and 44 subjects without severe preeclampsia. The average age of mothers in this study was 26 years, with a more significant proportion at term. The proportion of primigravida with severe preeclampsia was significantly more than those without severe preeclampsia (71.42% vs 29.54%, p=0.02). There was no significant difference in clinical severity between patients with or without severe preeclampsia (p>0.05). Comparing laboratory parameters showed significant differences in the laboratory characteristics of hemoglobin (28.57% vs 2.2%, p=0.03) and platelets (33.33% vs 4.54%, p=0.02).Conclusion: Our study showed that the clinical characteristics and disease severity were not significantly different. Laboratory markers correlate significantly with the severity of maternal disease, so they can be used as prognostic indicators.Perbandingan Karakteristik Klinis Ibu Hamil Terkonfirmasi Covid- 19 dengan dan Tanpa Preeklamsia BeratAbstrakLatar Belakang: Beberapa studi klinis telah melaporkan bahwa Infeksi COVID-19 dikaitkan dengan peningkatan risiko preeklamsia dan sindroma yang mirip preeklamsia pada wanita hamil yang terinfeksi, tetapi hasilnya masih kontroversial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan karakteristik klinis ibu hamil yang terkonfirmasi COVID-19 dengan dan tanpa preeklamsia berat.Metode: Penelitian secara retrospektif pada ibu hamil positif COVID-19 ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin dari tanggal 1 April 2020 sampai dengan 30 April 2022. Data berupa epidemiologi, gambaran klinis, hasil laboratorium subjek dengan dan tanpa preeklamsia berat pasien hamil COVID-19 dikumpulkan dan dianalisisHasil: Data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini adalah delapan puluh enam subjek yang terbagi atas 42 subjek dengan preeklamsia berat dan 44 subjek tanpa preeklamsia berat. Usia rata-rata ibu dalam penelitian ini 26 tahun, dengan proporsi yang lebih signifikan pada usia kehamilan cukup bulan. Proporsi primigravida dengan preeklamsia berat lebih signifikan dibandingkan dengan tanpa preeklamsia berat (71.42% vs 29.54%, p=0.02). Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada keparahan klinis di antara pasien dengan atau tanpa preeklamsia berat (p>0.05). Perbandingan parameter laboratorium didapatkan perbedaan signifikan pada karakteristik laboratorium hemoglobin (28,57% vs 2.2%, p=0.03) dan trombosit (33.33% vs 4,54%, p=0.02).Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik klinis dan keparahan penyakit tidak berbeda secara signifikan pada kedua pasien. Penanda laboratorium berkorelasi signifikan dengan tingkat keparahan penyakit ibu sehingga dapat digunakan sebagai indikator prognostik.Kata kunci: COVID-19, Karakteristik Klinis , Kehamilan, Preeklamsia Berat
Acute Fatty Liver of Pregnancy: A Rare Case Further Complicated with Disseminated Intravascular Coagulation Junita, Nuria; Bernolian, Nuswil
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.687

Abstract

Introduction: An acute fatty liver of pregnancy is a rare and potentially deadly pregnancy complication. A case of acute fatty liver of pregnancy that is complicated with disseminated intravascular coagulation is hereby presented.Case Report: A 27-years old, 36 weeks pregnant female is presented with jaundice, elevated LDH and liver enzymes, and thrombocytopenia. An emergency obstetric ultrasonography examination found an unremarkable pregnancy without a placental abruption. The patient was managed conservatively and she delivered 6 days after the presentation. The neonate was treated in the neonatal intensive care unit due to a meconium aspiration. The patient suffered from a continued uterine bleeding and she was managed with the Sayeba’s technique. The laboratory work-up showed a disseminated intravascular coagulation with anemia and thrombocytopenia. The patient was treated with a packed red cell and fresh frozen plasma transfusion. The patient required an intensive care treatment. Discussion: An acute fatty liver of pregnancy is a potentially deadly complication of pregnancy and it requires a multidisciplinary, intensive support. The acute fatty liver of pregnancy symptoms are similar to those of a HELLP syndrome. An acute fatty liver of pregnancy requires a prompt delivery followed with a intensive support. Complications of an acute fatty liver of pregnancy include a hepatic failure and a disseminated intravascular coagulation which should be managed accordingly.Conclusion: An acute fatty liver of pregnancy requires a prompt diagnosis and treatment to achieve the best possible maternal outcome.Acute Fatty Liver of Pregnancy: Kasus Jarang Dengan Komplikasi Koagulasi Intravaskular DiseminataAbstrak Pendahuluan: Acute fatty liver of pregnancy adalah komplikasi kehamilan yang langka dan dapat mematikan. Laporan ini memaparkan sebuah kasus acute fatty liver of pregnancy dengan komplikasi koagulasi intravascular diseminata.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 27 tahun, hamil 36 minggu datang dengan icterus, peningkatan kadar LDH dan enzim hati, serta trombositopenia. Pemeriksaan ultrasonografi obstetric di IGD menemukan kehamilan tanpa komplikasi dan tanpa solusio plasenta. Pasien ditatalaksana secara konservatif dan melahirkan 6 hari pasca-perawatan. Neonatus dirawat di ruang rawat intensif karena aspirasi meconium. Pasien mengalami perdarahan uterus dan ditatalaksana dengan kondom Sayeba. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya koagulasi intravaskular diseminata dengan anemia dan trombositopenia. Pasien ditatalaksana dengan transfuse packed red cell dan fresh frozen plasma. Pasien memerlukan perawatan intensif. Pembahasan: Acute fatty liver of pregnancy adalah komplikasi kehamilan yang dapat mematikan dan memerlukan tatalaksana intensif multidisipliner. Acute fatty liver of pregnancy memiliki gejala yang menyerupai sindrom HELLP. Acute fatty liver of pregnancy ditatalaksana dengan melakukan persalinan diikuti dengan terapi intensif. Komplikasi acute fatty liver of pregnancy meliputi gagal hepar dan koagulasi intravascular diseminata yang harus ditatalaksana dengan tepat.Kesimpulan: Acute fatty liver of pregnancy memerlukan diagnosis dan tatalaksana yang cepat untuk meningkatkan luaran maternal.Kata kunci: acute fatty liver of pregnancy, koagulasi intravascular diseminata, komplikasi kehamilan 
Anencephaly with Prior Caesarean Section: A Management Dilemma for Lethal Fetal Condition to Perform Labor Induction Rotinggo, Rico; Siddiq, Amillia; Hidayat, Yudi Mulyana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.756

Abstract

Introduction: A failure of cranial neuropore closure during the third to fourth week of gestation is called anencephaly. It leads to the lack of a significant part of the brain, skull, and scalp. The recommended method of delivery in lethal conditions, such as anencephaly, is vaginal delivery. This case report describes anencephalic pregnancy with a history of prior cesarean section. Labor induction held a dilemma to perform, but cesarean section poses a risk of morbidity to the mother and will not improve fetal outcomes.Case Illustration: A 37-year-old woman, G4P3A0, 26-27 weeks of pregnancy, presented with a planned termination of pregnancy. The patient was known to have congenital malformation and anencephaly. The patient had a history of prior cesarean section. During admission, the patient showed no signs of delivery. The patient was then planned for labor induction with misoprostol 50 mcg on the posterior fornix. The delivery outcome was no uterine rupture or significant bleeding.Conclusion: Vaginal delivery is the first choice for the delivery method in cases with poor prognosis. Avoiding a cesarean section will protect the mother from further morbidity from a cesarean section.Anensefali dengan Riwayat Seksio Sesarea: Dilema Manajemen untuk Kondisi Janin Yang Lethal dalam Melakukan Induksi PersalinanAbstrakPendahuluan: Kegagalan penutupan neuroporus kranial selama minggu ketiga hingga keempat kehamilan disebut anensefali. Kondisi ini menyebabkan hilangnya sebagian besar otak, tengkorak, dan kulit kepala. Metode persalinan yang direkomendasikan dalam kondisi janin yang tidak bisa bertahan hidup, seperti anensefali, adalah persalinan melalui vagina. Laporan kasus ini akan menggambarkan kehamilan dengan anensefali pada pasien dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya. Induksi persalinan menimbulkan dilema untuk dilakukan, namun seksio sesarea meningkatkan risiko morbiditas bagi ibu tanpa memperbaiki hasil pada janin.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 37 tahun, G4P3A0, usia kehamilan 26 - 27 minggu, datang dengan rencana terminasi kehamilan. Pasien diketahui memiliki malformasi kongenital dan anensefali. Pasien juga memiliki riwayat seksio sesarea sebelumnya. Saat masuk rumah sakit, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda persalinan. Pasien kemudian direncanakan untuk induksi persalinan dengan misoprostol 50 mcg yang dimasukkan ke fornix posterior. Hasil persalinan tidak menunjukkan adanya ruptur uterus atau perdarahan yang signifikan.Kesimpulan: Persalinan melalui vagina adalah pilihan pertama untuk metode persalinan pada kasus dengan prognosis buruk. Menghindari seksio sesarea akan melindungi ibu dari morbiditas lebih lanjut akibat seksio sesarea.Kata kunci: Anensefali; Induksi; Letal; Manajemen Persalinan; Riwayat Seksio Sesarea

Page 1 of 4 | Total Record : 32